September 16, 2015

Secret Door Episode 8 - 1


Sebelumnya: Secret Door Episode 7

Secret Door Episode 8


Sementara Shadow alias Kang Pil Jae sedang mempersiapkan maenge untuk diberikan pada Soron, bawahannya justru sudah mendapat berita bahwa ia akan terbunuh malam ini. Dan setelah ia terbunuh, Perdana Menteri mempercayakan penanganan kasus itu pada kepolisian kiri yang dibawahi Byung Joong In. Pemikiran mereka sejalan dengan Noron sehingga Perdana Menteri bisa mempercayai mereka dan tidak cemas.



Untuk urusan ‘penghabisan’ Pil Jae dan perebutan maenge sendiri, Perdana Menteri menyuruh puteranya melaksanakannya.



Sedangkan di pihak lain, Menteri Park menyuruh Chul Joo melakukannya. Ia menekankan Chul Joo harus menemukan pipa cerutunya.


Padahal sekutu Menteri Park di partai Soron, seperti Menteri Lee dan Kepala Shin yang juga mau mendapat maenge memilih menyetujui tawaran Pil Jae dengan membawakannya 10.000 nyang.

Lalu lebih cepat siapa yang sampai tujuan…



Pangeran yang meminta bantuan istana atau para menteri tersebut?


Pil Jae menyembunyikan pipa cerutu yang berisi maenge di balik punggungnya. Ia sudah akan meninggalkan rumahnya ketika jarum beracun putera Perdana Menteri menusuk tengkuknya, membuatnya pingsan.


Saat tersadar dalam posisi telentang, ia tidak bisa berbicara karena mulutnya dibekap dan tidak bisa bergerak karena tangannya diikat. Ia terkejut sekaligus ngeri melihat pria di sampingnya (putera Perdana Menteri) memegang belati, siap melukai tangannya untuk menyakitinya perlahan.


Pria itu memintanya mengangguk jika ia bersedia menyerahkan maenge. Tapi apa daya Pil Jae. Bagaimanalah ia memberitahu maenge ada di balik punggungnya. Pria itu pun menggores telapak tangan Pil Jae, membiarkan darah segarnya mengucur.

Dapatkah kau mengatakan padaku, di mana maenge?

Pertanyaan kedua pria tersebut bahkan hanya bisa dijawabnya dengan mencoba bangkit, bermaksud menunjukkan maenge di punggungnya. Namun sayang sebelum pria itu paham petunjuk Pil Jae, hawa keberadaan Chul Joo mengusik.


Chul Joo masuk ke kamar Pil Jae dan menemukan tetesan darah. Ia yang berhasil menemukan persembunyian pria yang membekap Pil Jae, kemudian bertarung melawan si pria karena mengira pria itu berhasil mendapat maenge. Untung, matanya kemudian tertambat pada pipa cerutu panjang di balik punggung Pil Jae. Secepat mungkin ia raih benda itu dan menyimpannya di balik pakaiannya.



Menyadari benda yang dicarinya itu telah sampai ke tangan orang lain, pria itu langsung membunuh Pil Jae dengan belati kemudian mengejar Chul Joo yang terlebih dahulu pergi usai melihatnya menyelesaikan tugas.


 

Sepeninggal Pangeran, Puteri menghukum Dayang Choi dengan keras. Ia memukul betis dayang yang melayani Pangeran tersebut berkali-kali.

Dayang Kim yang melihat Puteri berlaku tanpa ampun tampak tidak tahan dan menyarankannya berhenti. Orang-orang istana bisa mengiranya meremehkan Pangeran. Puteri lalu beralasan, ia melakukannya karena Dayang Choi tidak bisa mengurus Pangeran. Lihat saja bagaimana Pangeran berani melanggar aturan dengan pergi di momen penting pasangan kerajaan yang telah ditetapkan harinya. Jadi sekarang biar ia yang mengurus Pangeran.


Puteri pun mengulang pertanyaannya pada Dayang Choi, ke mana Pangeran pergi dan ada apa di istana Pangeran sampai Pangeran harus pergi. Tapi Dayang Choi tetap mengaku tidak tahu apa-apa. Inilah yang menyebabkan Puteri terus melanjutkan hukumannya. Puteri tidak akan berhenti sampai Dayang Choi memberitahunya.

Dan meski sakit, Dayang Choi tidak mengerang atau membela diri. Ia menerima pukulan Puteri dengan patuh. Hanya wajahnya yang tidak bisa berbohong, mengeras menahan sakit.  

 

Pangeran tiba di kamar Pil Jae dan menemukannya tak bernyawa bersimbah darah. Ia lantas keluar, meminta pembantu Pil Jae melaporkan pembunuhan yang terjadi. Namun bukannya segera pergi memenuhi perintah, para pembantu yang ketakutan melihat pakaian Pangeran terkena darah Pil Jae (bahkan ada yang berteriak) malah bertanya siapa pria yang menyuruhnya ini.

Baru setelah Pangeran menyebutkan identitasnya, para pembantu berlutut.


“Cepat pergi dan laporkan. Sekarang!” perintah Pangeran.


Pembunuh Pil Jae berhasil menyusul Chul Joo. Chul Joo memanggilnya teman dan pembunuh itu seolah membenarkan, menyebut Chul Joo sebagai satu-satunya yang ia kenal di sana. Namun ia kemudian meminta maaf sebab harus membunuh Chul Joo. Eeeeee…

 

Chul Joo sih pede berkata, walaupun ia melawannya dengan tangan kiri (tangan kanannya memegang maenge), temannya ini bukanlah tandingannya. Tetapi rasa sakit yang tercermin di wajah Chul Joo berkata lain. Temannya yang merupakan Putera Perdana Menteri itu bisa melihatnya dengan jelas, hingga membalas “Kau dapat bertarung dengan tangan kirimu.” :(


Tak berapa lama dari perintahnya untuk melapor, Pangeran dihampiri Kepala Polisi Kiri Byung Joong In. Ia bertanya ada apa karena melihat darah mengotori pakaian Pangeran. Pangeran menjawab dia tidak menyadarinya sebab fokus mencari jenazah. Pangeran balik menanyai Joong In dan beginilah jawab Pak Kepala Polisi Kiri,


“Saya sedang pergi…tetapi saya mendengar teriakan.”


Pangeran jadi heran, pergi dengan orang-orangnya? Biasanya kan kalo Kepala Polisi pergi aka jalan-jalan itu sendirian. Kecuali kalau memang sengaja mau menyelidiki sesuatu gitu… 

Joong In yang tidak ingin dicurigai lebih lama beralasan ada bar besar di dekat sana. Pangeran mengerti, namun menyuruh Byung Joong In pergi. Area ini bukanlah di bawah Kepolisian Kiri, melainkan di bawah Kepolisian Ibu Kota.

Pak Kepala Polisi Kiri tersebut belum mau mengalah, berkata siapa yang peduli dengan area.


Kepala Jo Jae Ho yang datang sesaat kemudian menyahut, bagaimana bisa kau tidak peduli. Haha. Byung Joong In mengkeret, memberi jalan pada Kepolisian Ibu Kota yang menyuruhnya kembali ke tempat mereka.

 

Kepala Jo menanyakan hal yang sama seperti yang ditanyakan Joong In pada Pangeran. Ia bertanya pula apakah Pangeran baik-baik saja. Tapi Pangeran tidak menjawab dan meminta Kepala Jo merentangkan tali di sekitar TKP dan mengambil jenazah untuk diotopsi.


Byung Joong In pergi masih dengan pertanyaan di kepalanya, mengapa Pangeran bisa ada di sana. Ia mencium ketidakwajaran dalam kasus ini.


“Seberapa banyak (informasi) yang Pangeran tahu?” kata Kim Sang Ro cemas setelah mendapat kabar, Soron-lah yang mengurus kasus kematian pengawal Kang Pil Jae alias Shadow.


Tapi Raja bukannya lega mendengar Noron tidak dapat mengambil maenge di tangan Shadow karena Soron bisa menghalangi niatan Noron itu. Raja justru lebih khawatir mendapati kemungkinan Pangeran sedang mencari Maenge. Ia memang beralasan mencari sesuatu di lokasi kejadian.


Duh, benar saja... Pangeran meminta Kepala Jo membawakan semua buku yang ada di sana ke hadapannya. Sayang, malam ini Pangeran tidak juga menemukan apa yang ia cari.


Sebelum pergi, Kepala Jo kembali menanyai Pangeran. Mengapa Pangeran di sana malam-malam sendirian dan mengapa ia tidak membiarkan Kepolisian Kiri mengurus kasus ini? Jika memang ada yang diinginkan Pangeran dari dirinya, kepala Jo ingin Pangeran memerintahkannya saja.


Pangeran pun menyambut baik kesediaan Kepala Jo. Ia menyuruh Kepala Jo agar menempatkan hanya orang-orang yang ia percayai di TKP. Yang lain tidak perlu ada di sana. Selain itu, bila selama penyelidikan Kepala Jo menemukan apapun, ia ingin Kepala Jo segera melapor ke istana atau dirinya langsung.


Kepala Jo yang tampak tidak puas dengan jawaban Pangeran lantas mengutus anak buahnya menggeledah rumah untuk mencari buku mencurigakan yang tidak ditemukan Pangeran.  


Ngomong-ngomong cute juga reaksinya Kasim Jang saat melihat darah di pakaian Pangeran :P Kasim Jang memberitahu Pangeran bahwa Ji Dam menunggunya di luar.

“Saya pikir saya tahu siapa yang membunuh Kang Pil Jae.”

Tetapi Pangeran tidak dapat mempercayai apa yang dikatakan Ji Dam. Gurunya, Menteri Park menyewa seorang pendekar untuk pergi ke tempat Pendekar Barat dan membunuh Shadow? Tidak mungkin dia. Menteri Park kan memang bekerja sebagai inspektur rahasia kerajaan. Jadi tidak aneh jika dirinya mengenal pendekar.

 

Mendengar Pangeran seolah melibatkan perasaannya, Penasihat Chae berulang kali mempertegas pernyataan Ji Dam.


Dan Pangeran berulang kali mendebat Penasihat Chae, “Bagaimana kau bisa yakin kalau Shadow adalah Kang Pil Jae?”

“Satu-satunya tindak kriminal yang terjadi di Barat adalah pembunuhan Kang Pil Jae.”

“Bukan guruku. Kalau guruku yang membunuh Kang Pil Jae, artinya dia adalah orang dari semua pembunuhan ini. Dia jugalah yang membunuh Shin Heung Bok. Itu tidak mungkin. Mengapa dia...mengapa dia melakukannya? Dia tidak memiliki motif.”

Penasihat Chae yang merasa tidak bisa setengah-setengah membalas tanggapan Pangeran kemudian menerka, mungkin dokumen berbahaya yang dilihat Shin Heung Bok dan Heo Jung Woon-lah yang jadi motifnya. Hal tersebut tercermin dari perkataan ‘Bunuh Shadow dan bawakan aku pipa rokoknya’. Apa yang ada dalam sana kita tidak tahu. Karena itu, untuk dapat mempercayainya mereka perlu melakukan penggeledahan diam-diam. Karena bila benar Park Moon Soo adalah seorang yang layak dipercaya Pangeran selama ini, tidak akan ada penemuan apa-apa.


Kagum banget deh sama Penasihat Chae! Pangeran sampai menyetujuinya dengan bilang, “Cari di ruang rapatnya dulu.” Ow...>.<

 

Malam ini Ji Dam dan Ayah diminta menginap di rumah Penasihat Chae. Adanya hubungan mereka dengan Na Chul Joo sebagai orang yang mungkin membunuh Kang Pil Jae bisa membuat mereka dalam bahaya. Pangeran minta maaf atas situasi ini.


“...Kau dan Aku akan baik-baik saja. Park Moon Soo dan Na Chul Joo, keduanya akan menjadi orang yang kita percaya,” ujar Pangeran pada Ji Dam.


Gadis itu berkaca-kaca mendengarnya. Mengantar Pangeran pergi dengan hormat.


Perpisahan yang diamati seseorang berpakaian hitam dari jauh.



Di istana, Pimpinan Soron Lee Jong Sung diberitahu Shin Chi Woon bahwa tidak ada yang datang mengambil uang yang mereka siapkan. Mungkin pemilik maenge itu menawarkannya pada orang lain yang begitu menginginkannya seperti mereka. Bisa Noron atau Raja. Jadi, mereka akan mengantarkannya dengan cara yang berbeda, seperti pembunuhan...


“Kirim orang-orang kita kepolisian Kiri dan Kanan. Lihat apakah ada pembunuhan,” seru Menteri Lee akhirnya.


Sementara itu, Raja terlihat senang mengetahui pendekar utusan Menteri Park datang tepat sebelum Pangeran. Padahal karena hal ini Pangeran jadi mencurigai gurunya sendiri. Aih, Raja nggak tahu aja nih gimana perasaan puteranya T.T


Menteri Park telah mendapat pipa rokok Kang Pil Jae yang berhasil dipertahankan Chul Joo susah payah. Sayang, ia baru menyadari Chul Joo sampai terluka dalam usaha merebut pipa rokok tersebut saat Chul Joo menghilang dari kediamannya.


Perdana Menteri menemui puteranya yang hanya bisa membunuh Pil Jae tanpa mampu membawakan maenge. Ia sangat kecewa, namun tetap bersyukur puteranya baik-baik saja. Ia bahkan menyuruh pelayannya untuk menyiapkan air hangat dan menyuruh sang putera istirahat.

“Tidak apa-apa. Kau seharusnya memikirkan hidupmu sebelum memikirkanku,” ujar Perdana Menteri Kim menanggapi kekhawatiran puteranya. Perdana Menteri Kim sebelumnya pernah bilang hidupnya dalam bahaya kalau ia tidak dapat menemukan maenge.  


Putera Perdana Menteri meyakinkan bahwa pasti ada cara untuk menemukan maenge. Perdana Menteri hanya menengadah. Berharapkah?


Chul Joo tidak mampu menahan sakit dari luka sabetan pedang sahabatnya. Ia pun terduduk di tengah perjalanannya kembali ke markasnya di Timur. Malang, sahabat tersebut sudah terlebih dulu membuatnya pingsan sebelum Chul Joo bangkit menghajarnya. Tidaaaaaak!


Pangeran yang sudah berada di ruang pertemuan Menteri Park hanya bisa menunduk dalam ketika Kasim Jang dan Penasihat Chae mulai mencari dokumen berbahaya di ruangan itu.  


Menteri Park sendiri mengecek keberadaan Chul Joo di markas Timur. Guru Pangeran tersebut cemas sekali dia belum kembali, walau anak buah Chul Joo percaya dia baik-baik saja.

“Kami akan mengirim orang untuk mencarinya. Jika sesuatu terjadi, kami akan membiarkan anda tahu. Jadi sebaiknya anda kembali sekarang,” bujuk salah satu anak buah Chul Joo demi menenangkan Menteri Park.


Chul Joo ditahan putera Perdana Menteri dengan kondisi terikat. Ia tetap tidak menjawab pertanyaan mengenai isi pipa rokok yang diambilnya, apakah itu dokumen yang disebut maenge atau bukan, di mana letaknya sekarang.


Setidaknya ia harus bisa melepaskan diri untuk menginformasikan Menteri Park. Kalau lebih lama, akan lebih sulit baginya untuk pergi. Lukanya bisa terinfeksi.

 

O.oh, Kepala Jo terkejut usai membaca catatan pelukis Jung Soo Gyum. Ada apa?

Ada penemuan pastinya. Pangeran saja menemukan novel Heung Bok di lubang tersembunyi lukisan.

Padahal Kasim Jang sudah kasihan pada Pangeran yang sedari tadi tidak bergerak saking gugupnya. Tetapi lihatlah, Pangeran kini sungguh terpaku melihat sendiri ada yang tersembunyi di ruangan Menteri Park.


Penasihat Chae tanpa ba-bi-bu langsung menyarankan Pangeran menahan Menteri Park. Kasim Jang spontan menyikut Penasihat Chae agar berhenti melanjutkan perkataannya. Masa nggak peka sih sama kondisi Pangeran?


Gemetar Pangeran meminta Penasihat Chae untuk mendiamkannya sejenak. Ia butuh waktu. Ia juga tidak ingin mereka mengikutinya. Kedua abdinya tersebut patuh, menatap sendu punggung Pangeran yang tampak rapuh :(

Maaf ya, saya putus di sini...belum sempat lanjut lagi tapi ini udah panjang heheeee

Bersambung ke Secret Door Episode 8 - 2

No comments :

Post a Comment