June 24, 2015

The Producers Episode 11

Sinopsis The Producers Episode 11 – 1


Secepat Seung Chan mengecup bibir Ye Jin, secepat itu pula ia minta maaf dan melepaskan tali ayunan, membuat Ye Jin hampir terjatuh.  Ye Jin bertanya mengapa Seung Chan minta maaf, “Apa karena kau menciumku atau karena hampir menjatuhkanku?”



Seung Chan tak kunjung menjawab. Akhirnya Ye Jin mengajaknya untuk bicara di tempat lain. Tapi Seung Chan terus diam dan termenung, membuat Ye Jin merasa bisa-bisa orang mengira kalau dialah  yang melakukan sesuatu pada Seung Chan. “Kalau kau akhirnya setakut dan segugup ini, kenapa kau melakukan hal itu?” Ye Jin meminta Seung Chan untuk tenang.


Tapi Seung Chan malah turun dari luncuran dan mendekati Ye Jin. Ia tahu kalau Ye Jin menganggapnya sebagai junior yang masih muda, kadang imut dan selalu patuh pada perintah Ye Jin. Oleh karena itu ia melakukan hal itu tadi untuk menunjukkan pada Ye Jin dan menciptakan kesempatan agar gadis itu dapat melihatnya dengan cara yang berbeda.

Ye Jin menganalogikan ciuman itu sebagai melempar batu dan bertanya jika Seung Chan yang melempar kenapa malah Seung Chan yang panik? Seung Chan menjawab karena ia tak menyangka ia berani melakukannya.  Ye Jin bertanya daripada merusak sesuatu yang sudah stabil dan menciptakan sesuatu yang baru, bukankah lebih baik jika Seung Chan memelihara hubungan yang telah ada?

Seung Chan menyadari hal itu, tapi ia khawatir jika ia terus memelihara, ia akan kehilangan kesempatan. Ia dulu pernah kehilangan kesempatan (dengan Hae Joo), walau ia sebenarnya juga tak ingat hubungan apa yang ia miliki saat itu.


Saat diwawancarai, Ye Jin menjelaskan kalau mendapatkan pengakuan cinta itu seperti bola dilempar padanya. Keputusan ada di tangannya, apakah bola itu dilempar kembali atau ia terima. Dan itu terasa sulit. Bukan karena ia tak pernah ditembak, tapi karena ia sudah lama tak pernah ditembak. Sambil  garuk-garuk tak gatal, ia berkata kalau ia bahkan sudah lupa siapa pria yang terakhir menembaknya.

  
Ye Jin pulang dan mendapati Joon Mo masih belum tidur. Pada Joon Mo ia bertanya  apakah ia selalu bersikap tegar untuk menghindari agar perasaannya tak terluka? Dirinya yang sebenarnya adalah lembut dan hangat, tapi egonya memilih berpura-pura kuat. “Karena ketidakseimbangan keduanya, aku mengalami kesepian. Jadi aku membutuhkan seseorang yang dapat bersamaku dan melindungiku. Apa benar seperti itu?”


Joon Mo menyipitkan mata heran dan meneguk birnya, “Kau ingin ngomong apa sih? Apa kau sedang buat makalah?” Tapi Joon Mo menyadari sesuatu dan menatap Ye Jin,”Apa Baek Seung Chan yang mengatakannya?”

Ye Jin terbelalak dan menutup mulutnya, “Bagaimana kau bisa tahu?” Joon Mo mendengus dan menjawab kalau kalimat itu pantasnya keluar dari mulut Seung Chan. Ye Jin merasa Seung Chan pasti sangat mengenalnya dan jika dipikir-pikir, ucapan Seung Chan itu memang benar.  Ia merasa ia memang berpura-pura kuat.


Sejak awal bekerja, ia adalah satu diantara sedikit wanita yang menjadi PD, dan ia tak ingin diremehkan oleh yang lain, baik artis, manajer ataupun seniornya. Oleh karena itu ia harus menjadi kuat. Begitu juga saat pacaran. Ia bersikap tegar karena ia takut ditolak maka ia selalu berpikiran keliru dan salah paham.

Joon Mo membenarkan hal itu. Ia memberi contoh, saat ia menyarankan untuk menyewakan rumahnya dan tinggal bersamanya. Bagaimana mungkin Ye Jin mengira ia hanya ingin Ye Jin bersih-bersih dan memasak? Jika ia meminta Ye Jin pindah kembali, seharusnya yang harus Ye Jin lakukan adalah percaya sepenuhnya padanya.


“Kau ini benar-benar kurang percaya diri. Kau ini sangat pantas untuk dicintai, tapi kau sendiri yang merasa tak pantas. Kau salah, Tak Ye Jin,” Joon Mo menatap sahabatnya yang tercenung, “Bagaimanapun nilai yang kau berikan pada dirimu sendiri, kau ini jauh lebih baik daripada itu.”

Ye Jin masih terdiam mendengarnya, membuat Joon Mo berseru, “Hei, aku ini punya standar yang tinggi. Aku tak mau sembarang berteman selama 25 tahun.” Ucapan itu membuat Ye Jin sedikit lebih baik dan Joon Mo melanjutkan, “Itu adalah kenyataan yang tak bisa dirubah, dimanapun dan dengan siapa kau berada. Jadi jangan pernah lupa, oke?!”


Seung Chan pulang dan mendapati ibunya masih belum tidur. Ia bertanya sejak kapan Ibu memandang ayahny sebagai seorang pria? Walau merasa pertanyaan itu aneh karena tiba-tiba, Ibu bercerita kalau ia menikah dengan Ayah setelah 6 bulan bertemu. Dan setelah menikah sekian lama, Ibu kadang memandang Ayah sebagai pria tapi kadang juga sebagai musuhnya.

Ayah ternyata bukanlah pria yang dipacari Ibu, yang memberikan kenangan manis pada lagu-lagu favoritnya. Ibu bertanya-tanya, apa yang terjadi jika ia menikahi pria itu.

Seung Chan bertanya, “Jika jalan itu tak ditempuh?” Ibu tak memahami pertanyaan Seung Chan. Seung Chan menjelaskan kalau ada sebuah puisi berjudul itu, tentang sebuah jalan yang tak diambil.


Puisi dari Robert Frost yang berjudul The Road Not Taken. Seung Chan membacakan puisi itu, dan kita melihatnya memandangi fotonya dengan Ye Jin remaja dan foto saat Companye Gathering. Joon Mo berdiri mematung di depan pintu Ye Jin. Ye Jin ada di dalam kamar dan memandang tutup botol yang pernah dibuka oleh Joon Mo saat tangannya terkilir dan mawar putih elektrik dari Seung Chan.


Esoknya adalah hari kepindahan Ye Jin. Ye Jin menatap pintu apartemen yang bertuliskan namanya. Ia kemudian menghapusnya dengan make up remover.


Saat semua barang sudah naik truk, ada tetangga yang menegurnya karena meninggalkan perabot di tempat sampah. Sampah perabot boleh dibuang di hari Kamis saja! Ye Jin tak bisa membuangnya hari ini. Joon Mo tak ingin cari masalah dan hendak mengambil perabot itu, tapi Ye Jin mencegahnya.

Ye Jin meminta ahjumma itu berpikir logis. Ia pindah ke tempat yang jauh, apa mungkin ia harus membawa perabot itu sekarang dan membawanya kembali hari Kamis untuk dibuang? Ahjumma itu tak mau tahu, itu urusan Ye Jin.


Tiba-tiba terdengar suara Ibu Seung Chan, mengagetkan Joon Mo dan Ye Jin. Tapi kali ini Ibu Seung Chan sangat sopan dan malah menegur temannya karena tak pengertian sama sekali. Akhirnya ia menawarkan diri untuk mengurus sampah perabot Ye Jin.


Ibu Seung Chan kepayahan membawa nakas itu ke dalam rumah. Di pintu, ia bertemu dengan Seung Chan yang langsung terburu-buru lari keluar setelah diberitahu kalau ini perabot Ye Jin yang sudah pindah. Ibu hanya bisa melongo melihat anaknya yang meninggalkannya tanpa membantu memasukkan sampah perabot itu.

Yangg… menurut saya, itu perabot masih bagus banget loh.. sayang kalau dibuang.


Joon Mo dan Ye Jin merasa kagok saat akan berpisah. Ye Jin merasa seperti satu bab dari kehidupannya telah berakhir dan rasanya berbeda dengan yang sebelumnya. Joon Mo merasa Ye Jin berlebihan karena Ye Jin hanya pindah lokasi saja. Tapi ia akhirnya menerima jabat tangan Ye Jin.


Joon Mo terus memandangi truk yang membawa Ye Jin pergi dan Seung Chan ketinggalan beberapa detik, tak sempat melepas Ye Jin. Joon Mo akhirnya menyadari Seung Chan ada di belakangnya. Melihat wajah Seung Chan, Joon Mo meminta Seung Chan untuk tak memasang wajah muram karena Seung Chan masih bisa menemui Ye Jin di kantor dan menyuruhnya pergi kerja.


Yang Mi memasang hasil rating untuk acara kemarin dan mengacuhkan Song Hoon yang mencoba menarik perhatiannya. Joon Mo mengeluh kecewa melihat rating Starwars mencapai 10,1%, “Benar-benar keterlaluan.” Song Hoon yang memandang punggung Yang Mi juga menyetujui ucapan Joon Mo.


Tae Ho mengajak Joon Mo dan Seung Chan makan siang. Di restoran, Joon Mo bertanya langsung pada seniornya, apa yang dibicarakan Tae Ho di ruang Kadep sebelum mengajak mereka makan? Ia tadi melihat Tae Ho tertawa-tawa di sana dan tak percaya saat Tae Ho mengatakan bukan hal besar. Bagaimana mungkin rating acara pilot mencapai 2 digit itu dan bukan hal besar.

Tae Ho berkata kalau ia selalu berada di pihak Joon Mo. 1N2D sudah acara usang, tapi penggantian 1N2D tak mungkin segera terjadi. “Butuh waktu bagi Star Wars untuk ditempatkan di jadwal regular. Dan jika kau bisa mengisi waktu itu hingga nanti, maka..”

Haha.. sama aja atuh. Joon Mo mendelik kesal, “Anda ini keterlaluan!” Tae Ho terdiam, salah bicara. Ia menjelaskan kalau rating 1N2D akan menentukan di 2-3 minggu mendatang dan Joon Mo harus bisa menunjukkan sesuatu yang menjanjikan pada perusahaan agar tidak ikut campur. Jika 1N2D bisa kembali naik, Star Wars akan mencari time slot yang lain karena bukan hanya 1N2D yang berating rendah.


Tae Ho mengambil salah satu daging bakar, tapi Seung Chan dengan cepat mengambilnya. Tae Ho melirik tajam pada Seung Chan, tapi wajah Seung Chan polos. Joon Mo tak melihatnya, sibuk dengan pikirannya sendiri. Tae Ho pun menyuruh Seung Chan mengambilkan pesanan cola-nya.


Seung Chan menuruti perintah atasannya, dan diam-diam mengocok kaleng cola. Tae Ho membuka kaleng dan cola itu muncrat mengotori baju Tae Ho. Joon Mo memandang Seung Chan curiga, tapi Seung Chan tetap berwajah polos sambil menyodorkan tisu ke TaeHo.


PD teman Seung Chan memberikan contoh acara-acara yang pernah berating rendah biasanya membutuhkan oksigen untuk menyelamatkan diri. Dan dikeluarkanlakh ‘masker oksigen’. Contohnya acara Sponge, di saat rating turun selalu mengeluarkan ramen dan pasti menarik perhatian penonton untuk menontonnya.

Acara Vitamin selalu mengeluarkan topik kanker jika rating turun. Lima minggu berturut-turut Vitamin bisa selamat karena menayangkan 5 kanker paling mematikan saat ini. Gag Concert selalu menampilkan komedian Oh Na Mi untuk meningkatkan rating yang jeblok. Orang selalu tertawa melihat Oh Na Mi.

Seung Chan bertanya-tanya apa yang menjadi masker oksigen bagi 1N2D? Pada tim documenter,ia menjelaskan kalau sebagai PD, walau masih baru, ia juga merasa bertanggung jawab dan tak ingin acaranya hancur. Ia ingin ratingnya naik. Tapi ia tak tahu bagaimana menarik orang untuk menonton acara ini.


“Bahkan untuk  menarik perhatian seseorang untuk melihatku saja terasa sulit, apalagi menarik perhatian banyak orang untuk menonton acaraku. Mengejar rating itu sama seperti mendapatkan hati seseorang.”

Episode 11 : Memahami Rating


Tim penulis 1N2D kesal karena ruang meeting dipakai oleh tim Star Wars padahal jelas-jelas 1N2D sudah memesan ruang meeting itu. Tim penulis Star Wars yang masih junior mencoba membela diri, tapi kepala tim penulis 1N2D adalah senior mereka yang mulai menceramahi tentang senioritas yang sudah tak diindahkan.


Muncul penulis Starwars yang lebih senior. Tim penulis 1N2D hanya bisa menahan kesal saat senior itu mengatakan kalau program 1N2D akan dihapuskan. Tapi mereka tak bisa apa-apa hingga Seung Chan muncul dan mengatakan kalau keputusan itu belum keluar. 1N2D tentu saja menang karena PD lebih tinggi tingkatannya dari penulis.


Hingga muncul PD Starwars yang lebih senior dari Seung Chan yang langsung mengusir 1N2D karena tim Starwars lebih sibuk. PD Starwars sangat sok sekali namun langsung mengkeret melihat Joon Mo muncul. Jelas Joon Mo paling senior dan ruang meeting menjadi milik 1N2D.


Saat diinterview, Joon Mo menjelaskan tentang jika ini adalah sebuah game, maka indeks kekuasaan yang digunakan adalah rating. Rating acara rendah berarti kekuasaan PD tersebut juga rendah. Jika indeksnya rendah, maka akan terjadi efek domino untuk bawahannya. Mereka tak dihargai, susah meng-casting dan kehiliangan ruang meeting. Bahkan para manajer artis juga tak lagi membelikan makanan untuk PD berating rendah.

Dan jika itu terjadi, maka ide-ide yang muncul akan vulgar karena sudah merasa putus asa. Contohnya di meeting kali ini, ide yang muncul dari bikini, telanjang dada untuk pemain pria hingga tamu dengan tubuh ter-aduhai.

Tapi bagi Joon Mo, ide tersebut tak bisa digunakan karena akan membuat penonton lama lari. Contohnya saja restoran yang membuat menu baru, malah  bisamembuat pelanggan lama pergi. “Untuk menangkap seekor kelinci liar, kau akan kehilangan kelinci yang ada di rumah.”


Mereka pun bertanya pada Seung Chan yang memberi beberapa pilihan. Edisi sahabat (sudah pernah dilakukan), mencebur dalam air (tak mungkin satu jam penuh hanya itusaja) dan kunjungan ke penonton. Ide terakhir itu masuk akal dan bahkan mencapai rating 40%. Salah seorang berceletuk kalau rating mereka selama ini jika digabung juga tak sampai angka 40.

Hahaha… perih banget. Tapi ide itu harus dipersiapkan berbulan-bulan dan mereka tak punya banyak waktu lagi. Mereka semua mendesah kecewa. Back to squre one.


Cindy mengeluhkan bajunya yang sepertinya tidak berkelas dan tidak mahal pada cordi-nya. Dengan takut-takut, cordi menjawab kalau sekarang CEO Byun mengalihkan semua sponsor pada Ji Ni. Bahkan CEO Byun mengancam tak mau menutupi kerugian yang masih mensponsori Cindy karena sebentar lagi Cindy akan mengalami skandal.

Cindy tercenung mendengar bocoran dari cordinya. Tapi ia segera menutupi dengan berkata kalau CEO Byun tak mau memberikan sponsor untuknya, ia akan membeli dengan uangnya sendiri. “Yang aku lindungi sekarang bukanlah uang, tapi citra berkelasku.”


Oppa manajer muncul dan memberikan kabar buruk kalau trending topic nomor 1 sekarang adalah Cindy si gelandangan. Nama Cindy juga muncul di nomor 3 : Penyanyi pengemis Cindy.


Cindy termenung, walau Oppa mencoba menenangkan Cindy walau nama Cindy penuh ejekan, tapi ejekan itu bukan ejekan jahat. Tak ada komentar sadis yang mengomentari Cindy. Semua orang berpikir kalau panggilan itu malah lucu dan cocok untuk Cindy. Cindy masih berpendapat kalau semua komentar itu tetaplah jahat.


Oppa pun menyalahkan Seung Chan yang membuat Cindy menarasikan preview 1N2D seperti itu. Bukankah ia dulu sudah melarang Cindy melakukannya? Tak disangka Cindy membenarkan pendapat Oppa. Semua ini salah Seung Chan dan harusnya ia menuruti omongan Manajer Oppa. Wajah Oppa berbinar karena jarang-jarang Cindy menyetujui pendapatnya.


Cindy memasang muka judes, meyakinkan Oppa kalau ia sangat marah dan harus segera menemui Seung Chan. Ia pun mengirim pesan pada Seung Chan untuk menemuinya. Seung Chan bersedia bertemu.

Cindy langsung menyuruh Oppa untuk bergerak ke Yeouido (kantor KBS), “Aku akan menemuinya dan mengomelinya. Memang siapa dia bisa mengerjaiku seperti ini?” omel Cindy dengan wajah berbinar senang.


Ye Jin masih sibuk pindahan tapi Ye Joon tak bisa membantunya lebih lama lagi karena harus ke kampus. Sementara menunggu truk satu yang belum datang, ia membongkar kardus-kardus yang berisi barang-barang miliknya.

Hmm… kenapa saat melihat kardus-kardus itu saya malah kepikiran Cindy, ya? Cindy pasti senang membongkar dan menata seluruh isi rumah dengan rapi dan teratur.


Tentu saja Cindy tak bisa ikut membongkar karena ia sekarang sedang menunggu Seung Chan di salah satu ruang ganti. Ia juga melarang Oppa untuk masuk ke dalam ruangan saat ia bicara dengan Seung Chan karena ia tak ingin Oppa melihat hal yang parah. “Kau tentu tahu kan bagaimana aku jika sudah marah?”


Oppa tersenyum kegirangan mengetahui Seung Chan akan dimarah-marahi. Ia berjanji akan menjaga pintu dan tak akan membiarkan satu orang pun masuk ke dalam ruangan. Ia senyum-senyum rahasia saat Seung Chan muncul dan berkata, “Cindy benar-benar sangat marah sekarang. Kau sebaiknya waspada. Orang bisa terbunuh hanya dengan kata-kata saja dan kau akan mengalaminya nanti.”


Tentu saja Seung Chan menemui Cindy dengan penuh kecemasan. Cindy menunjukkan handphone, gambar kartun dirinya yang memakai baju pengemis dari internet dan bertanya apa yang akan dilakukan oleh Seung Chan akan hal ini?

Seung Chan berkata kalau ia sendiri juga terkejut, tapi ia merasa kalau julukan yang diberikan pada Cindy itu cute. Cindy tersipu tapi terus mempertahankan pose marahnya. Seung Chan mengerti kalau Cindy amat sangat marah sekarang. “Tapi image yang kau miliki sekarang seperti sudah bisa dijangkau oleh kebanyakan orang, lebih dekat dan familiar..”


“Hmm… Cindy si gelandangan?” sela Cindy tajam. “Cindy si pengemis?” tanya Cindy lebih keras lagi.


Seung Chan meminta Cindy untuk tak marah karena image-nya sekarang adalah image yang hangat dan ramah, dan harusnya Cindy merasa kesan itu terlihat imut. Cindy mencoba menyembunyikan wajahnya yang tersipu karena pujian itu dan menyuruh Seung Chan meneruskan. Seung Chan menambahkan kalau kesan tersebut membuat Cindy kelihatan membutuhkan kasih sayang dan dapat dijangkau, sehingga orang ingin terus dekat dan melihat Cindy tiap hari.

“Dengan menjadi Cindy si gelandangan?” tana Cindy lagi. Seung Chan terdiam dan hanya garuk-garuk kepala. “Tuh kan, kau tak bisa menjawabnya. Bagaimana kau akan bertanggung jawab padaku?” Seung Chan terkejut mendengarnya tapi Cindy berkata sejak awal alasannya masuk acara 1N2D karena Seung Chan. “Sekarang kau menghancurkanku dan kau tak mau bertanggung jawab?”
Seung Chan menggumam tak pasti, “Kau kan tak hancur.”

Cindy menjelaskan bagaimana sebuah image yang diperoleh saat main di variety show akan menempel lama di benak masyarakat. “Jika kau diperlihatkan bodoh, kau harus berpura-pura tak bisa matematika sederhana. Kalau kau mendapat predikat babi, kau harus makan dengan rakus saat di TV.” Seung Chan membenarkan dengan lemah, membuat Cindy meneruskan, “Karena itu karakter pertamamu sangatlah penting. Dan karakterku adalah gelandangan. Sekarang kemanapun aku pergi apakah aku harus mengemis dan menyedihkan? Wow, kalau aku menjadi dirimu, aku akan benar-benar minta maaf.”


Seung Chan tertunduk dan minta maaf, walau masih merasa kalau julukan itu membuat Cindy terlihat imut. Cindy menerima permintaan maaf Seung Chan dan ia akan memikirkan apa yang harus Seung Chan lakukan untuk menebus kesalahan itu.  “Setelah aku menemukannya, aku akan memberitahukan padamu.”

Cindy memalingkan wajah dan tersenyum samar.


Oppa menunggu-nunggu suara keras yang harusnya ia sudah dengar sekarang. Ia menempelkan telinga di pintu dan terjatuh karena pintu terbuka. Ia bengong melihat Cindy melepas kepergian Seung Chan dengan lembut. Mana marah-marah yang biasanya ditujukan padanya? Haha.. kayaknya saat itu Oppa baru sadar kalau ia tertipu, deh.


Hong Soon menguntit Yang Mi yang sedang ada di café dengan teman-teman kantornya. Ia menelepon Yang Mi, tapi langsung dimatikan saat itu juga. Mengirim pesan Line, tak dilirik sedikitupun oleh wanita itu. Hong Soon benar-benar panik karenanya.


Joon Mo yang sudah pulang kantor tak bisa menghubungi Ye Jin, membuatnya cemas apakah sahabatnya itu sudah selesai pindahannya atau belum. Ternyata Ye Jin masih menunggu satu truk yang belum datang juga.


Dan ketika truk itu datang, si supir tak mau membawakan barang-barang itu ke atas karena ia hanya bertugas untuk mengantarkan saja. Ye Jin paham kalau supir itu minta uang tambahan dan mengeluarkan dompet untuk membayar tambahannya.


Tapi sebuah tangan menghentikannya. Ternyata Seung Chan muncul dan berkata kalau ia akan membantu Ye Jin. Seung Chan bahkan memesan delivery jjajangmyun untuk dibagikan ke tetangga-tetangga Ye Jin. Ye Jin merasa sangat tersentuh dengan kepedulian Seung Chan, membuat Seung Chan tersipu-sipu.


Saat bel berbunyi, Seung Chan membuka pintu, berharap tukang jjajangmyun yang ada di hadapannya. Tapi ternyata bukan. Joon Mo yang ada di hadapannya.


Tambahan :

Ini terjemahan puisi yang dibaca Seung Chan. Saya ambil terjemahannya dari blog ini.

The Road Not Taken karya Robert Frost.  
Dua jalan bercabang dalam remang hutan kehidupan,
Dan sayang aku tak bisa menempuh keduanya
Dan sebagai pengembara, aku berdiri lama
Dan memandang ke satu jalan sejauh aku bisa
Kemana keokannya mengarah di balik semak belukar
Kemudian aku memandang yang satunya, sama bagusnya
Dan mungkin malah lebih bagus karena jalan itu segar,
Dan telah melewatinya, juga telah merudukkan rerumputannya.
Dan pagi itu keduanya sama-sama membentang.
Dibawah hamparan dedaunan rontok yang belum terusik
Oh, kusimpan jalan pertama untuk kali lain!
Meski tahu akan pernah kembali, aku akan menuturkannya sambil berdesah
Suatu saat berabad-abad mendatang, dua jalan bercabang di hutan dan aku..
Aku menempuh jalan yang jarang dilalui dan itu mengubah segalanya.
Selanjutnya : The Producers Episode 11 - 2

5 comments :

  1. Semangat unie satu episode lagi. ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kan ada episode tambahannya...

      Delete
    2. tapi nggak tahu dibikin atau ga sama ahjumma :P

      Delete
  2. makasih sinopnya eonni.semangatya.....semoga sehat selalu^_^

    ReplyDelete
  3. song hoon = hong soon -> mbak dee just typo guys *malah dibuka

    ReplyDelete