May 21, 2015

The Girl Who Sees Smells Episode 15

Sinopsis The Girl Who Sees Smells Episode 15


Sementara Detektif Yeh menyelamatkan Yeom Mi, Moo Gak menodongkan pistolnya kea rah Jae Hee. Tapi karena mereka terpisah oleh kaca tebal (anti peluru?), Jae Hee tak takut untuk mundur dan kabur dari perpustakaan.



Mengira kalau Moo Gak harus keluar dari pintu rahasia dan memutar masuk lewat pintu depan yang cukup jauh, Jae Hee menyempatkan diri mengambil barang-barangnya sebelum kabur. Bukannya uang tunai yang diambil, melainkan buku-buku ber-barcode milik korbannya.


Ternyata Moo Gak menyusuri lorong rahasia, tak keluar menuju pintu masuk rahasia, tapi berbelok ke lorong lain, yang berujung di kamar ganti Jae Hee. Ia segera mengejar Jae Hee yang sudah sampai ruang tengah dan ia menembakkan pistol ke atas, membuat Jae Hee sontak berhenti.

Jae Hee berbalik dan bertanya bagaimana Moo Gak dapat menemuikan tempat itu? Ia meminta Moo Gak untuk melepaskan dirinya, tapi Moo Gak malah menyuruhnya diam dan meletakkan tas kemudian tiarap. Jika Jae Hee bicara lagi, ia akan menembaknya.


Jae Hee tak takut dan malah mengungkit kematian adik Moo Gak. Dorr! Peluru panas menyerempet perutnya, membuatnya kaget tapi ia tak mengernyit kesakitan. Setelah sempat terjatuh, ia mengerahkan tenaganya untuk melarikan diri.


Moo Gak tak terburu-buru mengejarnya karena di depan Detektif Ki membawa banyak polisi untuk mengepung Jae Hee. Jae Hee terkejut melihat ia tak bisa kabur lagi dan Moo Gak mendorongnya, membuatnya tersungkur jatuh. Detektif Ki segera memborgolnya.


Moo Gak memeriksa isi tas Jae Hee. Mengagetkan melihat reaksi Jae Hee yang histeris melarang Moo Gak untuk menyentuh buku-buku itu. Ia terus berteriak-teriak pada Moo Gak sampai ia dibawa ke mobil tahanan. Moo Gak memberikan buku-buku itu pada Inspektur Kang dan ikut mengawal Jae Hee di mobil yang sama.


Inspektur Kang telah memanggil ambulans yang segera memberi pertolongan pertama pada Yeom Mi sambil membawanya ke rumah sakit, disertai oleh Cho Rim yang tak mau meninggalkan Yeom Mi.


Semua menunggu di luar ruang perawatan dengan cemas. Untung mereka menyelamatkan Yeom Mi tepat pada waktunya. Telat semenit saja maka nyawa Yeom Mi bisa lewat.

Moo Gak merasa ia tetap tak merasa senang walau Jae Hee sudah ditangkap. Inspektur Kang yang sudah berpengalaman mengatakan kalau hal itu memang wajar dan yang bisa mereka lakukan adalah mengesampingkan perasaan itu dan melanjutkan ke kasus berikutnya.


Cho Rim muncul dari dalam kamar dan mengabarkan kalau Yeom Mi sudah sadar, membuat semuanya lega. Mereka berbondong-bondong menjenguk. Yang ditanyakan oleh Yeom Mi adalah Kwon Jae Hee. Anak buahnya melapor kalau Jae Hee sudah tertangkap dan tindakan Yeom Mi ini sangat berani. Mereka berharap Yeom Mi segera sembuh. Bahkan Detektif Yeoh berjanji untuk mentraktir Yeom Mi di barbecue.


Dokter meminta semuanya untuk keluar ruangan agar Yeom Mi bisa beristirahat. Seperti perawat professional, Cho Rim meneruskan perintah dokter dan ia yang akan menungguinya.Tapi kata dokter, semua harus pergi karena Yeom Mi butuh istirahat. Cho Rim mengangguk tapi dengan mengerucutkan bibirnya, membuat Yeom Mi yang terbaring lemah pun tersenyum.


Moo Gak dan Cho Rim makan malam berdua di rumah. Moo Gak masih merasa gloomy. Walau Jae Hee sudah ditangkap tapi luka yang diderita keluarga korban akan terus terasa. Cho Rim meminta Moo Gak untuk tak memikirkan hal tadi dan meneruskan makan. Tapi baru dua suap, Moo Gak sudah merasa kenyang.


Mulanya Cho Rim heran, makanan apa yangmembuat Moo Gak kenyang. Tapi menyadari bukan itu yang penting, tapi sekarang Moo Gak bisa merasa kenyang? Itu berarti indra perasa Moo Gak sudah kembali lagi! Cho Rim yang merasa senang sekali. Setelah pembunuh ditangkap indra Moo Gak kembali lagi. Ia berharap ingatannya juga akan kembali lagi setelah  ini.


Malamnya, Cho Rim bermimpi tentang ayah ibunya. Seperti terlempar ke masa lampau, ia –yang masih berseragam sekolah- pulang dan melihat ayah ibunya duduk di meja makan dan tersenyum kepadanya. Hanya sesaat karena setelah itu mereka menghilang.


Cho Rim berseru memanggil orang tuanya, tanpa sadar ia memanggil mereka dalam tidurnya, meminta mereka untuk tidak pergi. Moo Gak terbangun mendengar teriakan Cho Rim dan menghampiri tempat tidurnya. Ia menggenggam tangan Cho Rim dan membangunkan gadis itu.


Cho Rim terbangun dan menangis. Moo Gak memeluk Cho Rim yang akhirnya berkata kalau ia bisa mengingat wajah ayah ibunya dan rumahnya. Pembunuh itu, Kwon Jae Hee dan kejadian naas di hari itu. Ia bisa mengingat semuanya. Moo Gak menepuk-nepuk punggungnya  dan berkata kalau semua akan baik-baik saja dan jika ingin menangis, maka menangis sajalah.


Interogasi Jae Hee tak berjalan lancar. Jae Hee menggunakan hak diamnya untuk terus diam tanpa mau mengeluarkan sepatah katapun. Tapi semuanya berubah saat Moo Gak datang dengan membawa buku coklat hasil karya dr. Chun. Tanpa ba-bi-bu, Moo Gak menyiram bensin di sisi atas buku itu dan menyalakan api.

Jae Hee yang mulanya santai dan mengolok-olok, menjadi panik melihat bukunya dibakar. Ia berteriak, memohon agar Moo Gak tak membakar bukunya. Moo Gak malah berkomentar kalau Jae Hee sangat banyak omong untuk ukuran orang yang menggunakan hak diamnya.



Inspektur Kang yang ada di balik ruang interogasi pun juga panik karena yang Moo Gak bakar adalah barang bukti. Tapi Yeom Mi menenangkan karena buku yang dibakar itu hanyalah buku kosong yang ditemukan dirumah Kwon  Jae Hee.


Tapi Jae Hee tak mengetahui hal ini dan terus berteriak-teriak hampir menangis, memohon agar Moo Gak berhenti dan tak membakar buku itu. Saat Moo Gak akan melanjutkan ke buku kedua, Jae Hee berkata kalau ia akan memberi pengakuan.


Yeom Mi tersenyum melihat dari balik kaca. Ia kemudian masuk ke dalam ruangan, mengagetkan Jae Hee yang tak menyangka kalau Yeom Mi masih hidup. Yeom Mi mengambil alih tugas Moo Gak dan meminta Jae Hee menceritakan alibinya dari kasus Joo Mari.


Cho Rim berbenah rumah sebelum kembali ke rumahnya. Moo Gak pulang dan membawakan sesuatu yang ia dapat dari ayah Cho Rim, Detektif Oh. Barang itu adalah fotonya bersama kedua orang tuanya dan cincin kawin ibunya. Rupanya Detektif Oh masih menyimpan semua ini. Ia juga dipinjami buku barcode yang ditulis oleh ibunya sebelum meninggal.



Di buku itu, ibunya menulis putrinya Eun Seol adalah gadis yang baik. Setiap kali ditinggal pergi, Eun Seol mengaku tak pernah takut sendirian karena ia selalu menganggap orang tuanya selalu ada di sisinya. Eun Seol selalu memijati tangan kakinya saat ia pulang kerja. Ia tahu kalau Eun Seol nantinya akan menjadi ibu yang baik karena ia selalu menjadi anak yang baik.


Aku menyayangimu, Eun Seol. Cho Rim menangis membacanya. Moo Gak mengawasi dari jauh, perasaan yang sedari tadi muncul terus mengganggu pikirannya.


Jae Hee menandatangani Berita Acara Perkara. Jae Hee akan diserahkan ke pihak kejaksaan dan menunggu untuk diadili. Moo Gak minta waktu bicara berdua dengan Jae Hee. Yeom Mi tak mengijinkan tapi Moo Gak berkata ia tak akan lama. Walau masih ragu, Yeom Mi akhirnya mengijinkan.


Ketika hanya berdua, ia melepaskan borgol Jae Hee. Ia ingin berkata sesuatu pada Jae Hee karena ini terakhir kalinya mereka akan bertemu. Ini kali terakhir Jae Hee ada di luar penjara. Tapi tidak menurut Jae Hee. Mereka nanti pasti akan bertemu lagi. Moo Gak ingin Jae Hee minta maaf pada orang tua Cho Rim dan adiknya sekarang.


Tapi menurut Jae Hee permintaan maafnya tak akan mampu mengobati perasaan Moo Gak. Perasaan bersalah karena masih bisa hidup sementara yang lain meninggal akan terus bergelayut. Dan permintaan maaf itu tak ada gunanya. “Lebih baik kuceritakan padamu bagaimana perasaanku saat membunuh adikmu.”

Moo Gak memukul perut Jae Heed an berkata kalau pukulan itu untuk adiknya. Dan ia memukul Jae Hee dua kali untuk kedua orang tua Cho Rim.


Teman-teman Moo Gak masuk dan memisahkan keduanya. Sebelum digiring pergi, Jae Hee berkata kalau ia berhutang pada Moo Gak dan ia akan memastikan kalau ia akan membayarnya nanti. Moo Gak sangat geram dan berniat menyusul Jae Hee, tapi Yeom Mi berdiri di depan pintu, menatapnya tajam.


Wartawan mengerumuni Jae He yang masuk mobil tahanan dengan disaksikan oleh Kepala polisi, Inspektur Sa da Inspektur Kang. Kepala polisi memuji keberhasilan Inspektur Kang dalam memecahkan kasus barcode. Tak disangka, Inspektur Kang merendah dan berkata kalau keberhasilan ini adalah hasil kerja Yeom Me dan tim, bukan dirinya sendiri. Tak disangka pula, Inspektur Sa juga memujinya dengan tulus. Kasus pembunuh berantai ini sangat sulit dan Inspektur Kang pantas mendapat pujian.


Berakhirnya kasus ini berarti berakhir pula tim khusus investigasi. Mereka merayakannya dengan makan barbeque dengan Cho Rim ikut bergabung. Yeom Mi mengakui kalau ia tak ingin kembali ke divisi aslinya bertugas. Ia minta maaf pada Inspektur Kang jika selama ini ia tak sopan dan pada Moo Gak karena menyusahkannya dengan menyuruhnya bergabung dalam tim ini. Inspektur Kang tak merasa seperti itu dan Moo Gak juga malah berterima kasih karena diberi kesempatan.


Yeom Mi mulai berkaca-kaca saat berterima kasih pada semua dan akhirnya tak dapat menahan air matanya. Inspektur Kang tersenyum hangat melihat Yeom Mi yang sudah tak seperti Putri Es yang biasa mereka kenal.  Ia mengajak semuanya bersulang dan Yeom Mi berkata kalau ia menyayangi mereka semuua.


Cho Rim sudah kembali ke rumah, tapi kenapa Moo Gak malah ada di rumah Cho Rim? Ia mengajak Cho Rim untuk menemui kedua orang tua Cho Rim dan adiknya. Tidak di Jeju karena ia sudah memindahkan semua abu kerumah abu yang sama di Seoul, sehingga mereka bisa mengunjungi sesering mungkin. Cho Rim sangat senang mendengarnya.


Sebelum pergi ke rumah abu, Moo Gak pergi sendiri ke toko perhiasan untuk membeli cincin. Ehem..


Di hadapan orang tuanya, Cho Rim minta maaf karena telah membuat orang tuanya cemas. Ia meminta agar orang tuanya beristirahat dengan tenang dan berjanji akan hidup dengan baik. Dalam hati, Moo Gak berjanji pada orang tua Cho Rim akan menjaga Cho Rim sampai akhir hayatnya.


Kemudian mereka mengunjungi Eun Seol. Moo Gak memperkenalkan Cho Rim dan Cho Rim minta maaf karena baru datang sekarang. “Aku akan hidup sebaik-baiknya untuk menggantikanmu. Aku minta maaf dan terima kasih.” 


Cho Rim tak sadar meneteskan air mata saat mendengar Moo Gak berbicara pada adiknya. Moo Gak mengusap punggung Cho Rim, menenangkannya.


Setelah itu Moo Gak mengajak Cho Rim menemui seniornya di Jeju yang sekarang bekerja di aquarium raksasa di Seoul. Cho Rim mengiyakan, tapi masih belum bisa membayangkan penampilan Moo Gak dengan baju selam. Menurutnya, Moo Gak lebih keren dengan seragam polisinya. Moo Gak berkata ia sama kerennya dengan baju selam. Tapi Cho Rim merasa Moo Gak boongan. Beneran..


Sayang, Moo Gak tak membuktikan ucapannya. Tapi Cho Rim mengagumi binatang laut di aquarium itu sementara Moo Gak ngobrol dengan seniornya. Seniornya memuji pacar Moo Gak yang cantik, membuat Cho Rim tersipu.

Cho Rim merasa terkesima dengan aquarium dan isinya itu, membuat Moo Gak berkata kalau sepertinya bagus juga menikah di sini. Cho Rim mengiyakan. Pak Gurita nanti yang akan memberkai sementara pengantin nanti bisa bertukar kerang.


“Hmm.. berarti boleh juga, ya?” pancing Moo Gak.


Cho Rim sesaat terdiam, kemudian menyanyi, “Gurita memberkati.. cumi-cumi bermain piano .. dan mereka saling tukar keraaangg…”


Haha.. Moo Gak kesal karena pancingannya tak berhasil, akhirnya ikut menyanyi, “Kita keluar sajaa…”

Percobaan kedua. Saat di café, Moo Gak menyuruh Cho Rim untuk memesankan minuman untuknya sementara ia akan pergi sebentar. Kemana? Kembali ke mobil untuk memeriksa perlengkapan lamarannya.


Cho Rim berseru terkesima saat Moo Gak membuka bagasi mobil. Balon-balon berterbangan, mengangkat spanduk bertuliskan “Maukah kau menikah denganku?” Aww… so sweet… Cho Rim memeluk Moo Gak erat dan berterima kasih.


Muah.. muah.. muah.. Moo Gak memjamkan mata sambil memeluk udara kosong dan menciumnya. Haha.. ternyata masih membayangkan, toh..


Brak! Moo Gak terbangun dari mimpinya karena mendengar suara tubrukan. Dan saat membuka mata, ia panik karena balon-balon dalam bagasi berterbangan. Ternyata ada mobil menabrak belakang mobilnya sehingga bagasinya terbuka. Yahh… gagal, dong..


Moo Gak berteriak frustasi, sementara Cho Rim di dalam tak menyadari kehebohan di luar.


Terus gimana, dong? Moo Gak memutar otak. Saat mereka jalan-jalan di taman, ia menemukan ide. Taman dengan air mancur. Aww… menurutnya, pasti romantis sekali. Ia membayangkan nanti ia akan berlutut dan menyanyi sepenuh hati, separuh ngerock separuh seriosa, dan diakhiri dengan, “Would you marry me?”


Semua orang nanti akan bertepuk tangan sementara ia akan menggenggam tangan Cho Rim dan berkata, “Kau selalu ada di hati.” Cho Rim menangis terharu dan Moo Gak memeluknya. Semua orang menyuruh mereka untuk berciuman ..

Hmm.. Moo Gak cengar cengir membayangkan semua itu jika tak disela oleh Cho Rim yang heran melihat Moo Gak. Apa Moo Gak sedang memikirkan hal yang lucu? Moo Gak segera menyembunyikan cincinnya. Cho Rim mengajak Moo Gak untuk menjauh dari air mancur karena banyak orang.


Moo Gak langsung menolak ide itu. “Harus banyak orang!” Cho Rim heran mendengar ucapan Moo Gak yang aneh. Tapi Moo Gak tetap mengajaknya ke dekat air mancur, karena air mancur itu harus dinikmati dari jarak dekat.

Haha.. apa sih, si Moo Gak ini. Alasannya itu loh.. Untung Cho Rim menurut walau sedikit menggerutu.


Belum juga Moo Gak melaksanakan rencananya, ada seorang pria yang menarik pacarnya dekat air mancur dengan membawa buket bunga. Hahaha… Moo Gak udah keduluan. Si pria melakukan semuanya sama persis seperti yang dibayangkan Moo Gak tadi, komplit dengan buket bunga.


Dan menyanyi lagu yang dinyanyikan Jang Dong Gun di All About Eve, tapi dengan suara sumbang. Cho Rim terkesiap dan berkata kalau ia benci dengan pria-pria yang melamar dengan cara seperti itu. Moo Gak kaget mendengarnya. Untung.. untung belum ia lakukan.


Cho Rim terus mengoceh kalau ia kasihan pada gadis itu. Ia tak tahu kenapa pria-pria itu berpikir kalau para gadis senang diperlakukan seperti ini. Hahaha… bisa dibayangkan leganya Moo Gak tak melakukan rencana ketiganya ini. Ia segera mengajak Cho Rim pergi, walau Cho Rim masih ingin melihat kelanjutannya.

Yang ternyata si gadis menggunakan buket bunga itu untuk memukuli pacarnya. LOL. Coba yang nyanyi Yoo Chun, pasti si gadis iyess, deh..


Moo Gak akhirnya membuat rencana baru. Ia memisahkan diri dari Cho Rim dan pergi ke taman bermain. Ia akan menyembunyikan cincin itu di pasir dan pura-pura menalikan tali sepatunya. ‘Tak sengaja’ ia menemukan cincin di dalam pasir.

Waduh.. kayaknya kebayang deh, rencana ini gagalnya dimana.


 Cho Rim datang dengan membawa minum, membuat Moo Gak buru-buru menyembunyikan cincin itu di dalam pasir dan menginjaknya. Moo Gak mengajak Cho Rim mendekati pasir, dan berkata, “Oh.. tali sepatuku lepas.”


Ia menunduk dan membenamkan tangan di pasir. Tapi tak ada cincin di sana! Moo Gak terbelalak panik dan menggeser area pencariannya lebih luas. Cho Rim mengerutkan kening melihat tingkah laku Moo Gak yang antik. Apa yang sedang Moo Gak lakukan?


Moo Gak buru-buru mengambil suatu barang. Penarik tutup kaleng! “Aduh cantiknya! Kurasa mereka masih membuat penariknya seperti ini, ya?” Cho Rim hanya memandang Moo Gak diam, tak terkesan sedikitpun. Moo Gak pun meneruskan aksi mengangkat-angkat pasirnya.

Terus dan terus dan terus.. membuat Cho Rim kesal. Ia terus menunggui Moo Gak yang terus membenamkan tangan ke dalam pasir.


Tak tahan, akhirnya Cho Rim meluap, ngomel. “Sudah, deh! Kau tak mengatakan kenapa kau terus bermain pasir sekarang ini! Ayo pergi!” Moo Gak tak bisa meninggalkan tempat ini, membuat Cho Rim semakin kesal. “Memang kenapa? Kenapa kau tak bisa pergi? Kau hanya perlu menggeser kakimu saja. Benar-benar menyebalkan.”


Moo Gak sudah hampir menangis. Dan tiba-tiba ia mengernyit kesakitan memegang perutnya, “Maaf, Cho Rim. Tapi aku harus pergi ke kamar mandi sebentar. Jangan pergi kemana-mana, ya. Tetap di situ!” Dan ia pun ngibrit pergi.

Haha.. iyalah mules. Saya saja juga mules kali, kalo menghilangkan cincin yang harganya jutaan gitu.

Malam tiba. Moo Gak membawa Cho Rim ke taman yang penuh lampu. Cantik banget tamannya. Tapi Cho Rim sudah tak terkesan sama sekali karena ia bosan dibawa ke banyak taman tanpa tujuan. Tapi Moo Gak bersikeras mengajak Cho Rim kemari karena taman ini berbeda.


Moo Gak meminta parfum Cho Rim untuk dipinjam sebentar. Cho Rim memberikannya dan Moo Gak menyuruhnya tetap berdiri di sana dan jangan bergerak sedikitupun. Ia pun pergi meninggalkan pacarnya untuk menuju ke bagian taman yang lebih tinggi.


Di atas jembatan, ia mulai menyemprotkan parfum ke udara. Menulis dengan parfum, sebuah kalimat yang tak bisa dibaca oleh siapapun bahkan dirinya sendiri.


Sebuah kalimat Maukah kau menikah denganku?  Yang hanya Cho Rim yang bisa melihatnya.

So aww….. Fanny gimana? Kalau saya sih yes.. Nggak tahu deh dengan Mbak Putri.


Cho Rim terkesima melihat tulisan yang makin malam memudar, tapi sudah menancap di hatinya. Ia menatap Moo Gak yang menatapnya cemas kemudian memberikan senyum termanisnya dan membuat tanda O dengan mengangkat kedua tangannya di udara. 


Masih terengah-engah, Moo Gak  menatap Cho Rim tak percaya dan Cho Rim mengangguk, kembali mengiyakan.

 

Moo Gak berlari turun dan memeluk Cho Rim. Dan menciumnya. Sekali, dua kali, tiga kali. Dan memeluknya lagi. Cho Rim melepaskan pelukannya untuk memberikan sesuatu pada Moo Gak. Cincin berlian itu.


Moo Gak kaget. Bagaimana Cho Rim bisa menemukannya? Cho Rim berkata kalau ia menemukannya saat Moo Gak ke kamar mandi. Haha.. Moo Gak memasangkan cincin itu ke jari Cho Rim. Cantik sekali. “Maukah kau menikah denganku?”


Cho Rim mengangguk, bahagia. Moo Gak tak kalah bahagia. Ia kembali mencium Cho Rim. Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali.

Aww.. manisnya mereka berdua. Bisa gak sih kalau minta bungkus?

Jae Hee mendekam di penjara.


Moo Gak masuk ke apartemen yang sekarang ia tinggali sendiri. Ia tak menyadari kalau ada orang bersembunyi di sudut ruang yang kemudian memukulnya hingga terjatuh. Ternyata Jae Hee yang membawa barbell dan dengan kejam berkata, “Sudah kubilang kan kalau satu diantara kita harus ada yang mati.” Dan Jae Hee menghantamkan barbell itu ke Moo Gak.


Cho Rim berteriak dan terbangun dari tidurnya. Ia bermimpi buruk. Tapi mimpi itu tampak nyata.


Moo Gak yang sarapan dengannya berkata kalau mimpi itu kebalikan dari kenyataan. Ia meyakinkan Cho Rim kalau Kwon Jae Hee tak akan bisa keluar dari penjara seumur hidupnya. Cho Rim merasa agak tenang mendengarnya.


Mereka mendapat kabar kalau mobil yang membawa tahanan Kwon Jae Hee jatuh ke sungai Han saat melewati jembatan Bangwha. Seorang saksi melihat kalau sebelum kejadian, ban belakang mobil meletus hingga mobil hilang keseimbangan dan jatuh ke dalam sungai. Ada 5 orang yang mengawal Jae Hee dan belum diketahui keberadaanya. Polisi masih mencoba mengangkat mobil itu dari sungai dengan tim penyelam yang mencari korban yang masih selamat.

Mereka membicarakan kemungkinan hal ini direncanakan oleh Jae Hee. Tapi hal ini terlihat memang kecelakaan. Jae Hee sekarang memang dijadwalkan sedang rekonstruksi kejadian sehingga sering keluar dari penjara. Jae Hee tak bisa mati semudah ini, karena ia harus mendapat hukuman seberat-beratnya. Mereka berharap agar Jae Hee bisa ditemukan.

Tapi setelah 5 hari pencarian, tak kelihatan jejak Jae Hee sedikitpun. Ia dinyatakan tewas dengan 2 polisi lain. Dan seperti itulah kasus Jae Hee berakhir.


Karena berhasil memecahkan kasus barcode, seluruh anggota tim investigasi khusus mendapat kenaikan pangkat. Dan kehidupan mereka kembali seperti biasa. Moo Gak menceritakan apa yang terjadi setelah hari itu.


Istri Inspektur Kang melahirkan anak ketujuh.Whoaa.. akhirnya mereka mendapat anak perempuan. Inspektur Kang senang tak terkira.

 

Detektif Ki, yang sedang menyamar menjadi gelandangan, menerima telepon dari Elena Vashilinakova .. atau seperti itulah.. Ia lagi-lagi melarang pacarnya untuk menemuinya karena ia sedang menyamar. Tapi Elena ternyata sudah datang di taman dan berlari memeluk Detektif Ki, “Sayang..”

Detektif Ki akhirnya melanjutkan cinta membaranya dengan Elena. Itu kata-kata Moo Gak, loh.. bukan saya.


Sedangkan Detektif Yeh ternyata adalah anak tunggal seorang konglomerat.  Ayahnya mengancam akan menggunakan tongkat golfnya jika Detektif Yeh tak berhenti, padahal Detektif Yeh bercita-cita menjadi kepala divisi pembunuhan.


Yeom Mi menjadi dosen kriminologi. Dan kita melihat senyum lepas Yeom Mi yang menerima bunga dari mahasiswa pengagumnya, yang saking gugupnya, mahasiswa itu tak melihat bola yang mengarah ke kepalanya dan membuatnya terjatuh.


Sedangkan ia, Moo Gak, mengajukan surat pengunduran diri menjadi polisi karena ia akan kembali menjadi penyelam di seaworld. Dan Cho Rim kembali melawak dan tertawa mendengar lawakannya yang tak lucu.


Moo Gak dan Cho Rim memutuskan menikah bulan depan. Mereka mulai mencari-cari tempat tinggal yang cukup besar bagi mereka. Moo Gak senang karena mereka mendapat diskon 50%, tapi Cho Rim masih tetap menawar, minta diskon lebih banyak.

Cho Rim udah pantes jadi emak-emak. Sukanya nawar. Hihihi..


Mereka akhirnya masuk ke apartemen baru mereka. Yang pertama kali mereka lakukan adalah merekam video untuk menyambut tamu di pernikahan mereka. Cho Rim membuat Moo Gak untuk melakukan berkali-kali karena Moo Gak terlihat ogah-ogahan atau kalau tidak mereka selalu nggak sinkron.

Moo Gak sih mau-mau saja. Apa sih yang nggak buat calon istri?


Hari pernikahan pun tiba. Yeom Mi terlihat sangat whoa.. hingga banyak pria menoleh padanya termasuk bekas anggota timnya. Tapi tentu saja mereka memberi hormat padanya. Bersama-sama mereka pergi ke seaworld karena disitulah tempat pernikahan Moo Gak dan Cho Rim.


Sebelum menikah, mereka berfoto dulu dan.. duh lucu amat sih mereka berdua.

Ae Ri menemani sahabatnya menemui Yeom Mi cs, dan ia langsung naksir dengan Detektif Yeh. Lucunya, salah satu anggota grup Kodok malah ada yang naksir Ae Ri. Lahh.. cinta segitiga dong, ya..


Kepala grup lawak berkata kalau ternyata tujuan Moo Gak ke Seoul itu untuk mencari istri asli Seoul. Dengan gaya lawaknya, Moo Gak mengakui kalau ia memang mencari istri dari Seoul. Tapi ternyata, akhirnya ia malah balik mendapat istri asli Jeju.  Dan wajahnya langsung dramatis saat menggeram khasnya, “Jiyaaaa!!”


Semua tertawa, hanya Cho Rim yang menutup wajah, malu. Kepala grup lawak senang sekali melihat Moo Gak, “Kau lucu sekali. Bergabunglah dengan kami jika kau benci dengan pernikahanmu.” Hahaha.. Cho Rim hanya bisa mendelik pada bosnya. Tentu saja bosnya hanya bergurau.

 

Sementara Cho Rim dan Ae Ri menuju ruang tunggu untuk riasan akhir, teman-teman lama Cho Rim datang. Kta melihat sepasang sepatu menuruni tangga.


Acara pernikahan dimulai diawali dengan Detektif Ki yang bicara sebagai MC dan Inspektur Kang yang akan memberkati. Diiringi musik, Moo Gak berjalan masuk ke dalam ruangan.

Cho Rim menenangkan dadanya yang berdebar-debar. Ini saat yang ia nanti-nantikan. Ia mendengar Detektif Ki memanggilnya, sang pengantin wanita, untuk masuk ke dalam ruangan.


Ia beranjak berdiri, namun terhenti karena pintu terbuka dan ia melihat warna bau yang pernah ia lihat sebelumnya. Warna bau yang katanya sudah meninggal.


Orang itu masuk dan Cho Rim menatap orang itu dengan ketakutan yang amat sangat. Rasanya seperti terror saat melihat orang itu bertepuk tanan dan berkata, “Selamat atas pernikahanmu.” Orang itu melepas kacamatanya, “Cho Rim-ssi.”


Detektif Ki terus memanggil  Cho Rim yang tak kunjung datang. Semua merasa cemas. Yeom Mi berinisiatif untuk pergi ke ruangan Cho Rim. Tak ada Cho Rim di sana, hanya ruang pengantin yang berantakan. Ia memberitahukan hal ini pada Moo Gak yang langsung berlari keluar ruangan.



Komentar :

Ngomong-ngomong soal lamaran, untung lamarannya nggak jayus seperti berlutut dan nyanyi itu. Moo Gak terselamatkan oleh pria yang melamar pacarnya itu. Entah Moo Gak emang bisa nyanyi kaya gitu atau nggak. Kadang kan suara yang di otak bisa beda sama di mulut. Jangan-jangan sumbang kaya si cowok tadi.

Dan tentang ending yang menegangkan, semua pasti sudah menduga ending ini. Too good to be true kalau terjadi yang happy-happy di episode 15. Biar bagaimanapun, Jae Hee masih punya orang-orang bayaran yang bisa disuruh melalui pengacaranya.

Jadi sepertinya memang Jae Hee ini tak mungkin bisa dipenjara. Benar kata-kata Moo Gak dulu yang akhirnya dikutip Jae Hee. Satu dari mereka harus mati.


11 comments :

  1. OMG.. tadinya udah nyangka ga akan semudah itu dan ternyata beneerrr... duh tegang banget... salut sama akting jae hee.. evilnya dapet banget...

    ReplyDelete
  2. aaaakkkk kenapa ada jae hee lagi. whoaaa makin penasaran

    ReplyDelete
  3. bener mba, aku juga bisa menebak endingnya,
    kok jaehe mudah banget di tangkap wah bakalan ada apa lagi nih, eh ternyata bener cho rim di culik pas mau nikah pula, masih ada 1 episode lagi ya,
    mba aku penasaran dgn ratting drma ini di sana, tinggi gak sih ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. setau saya sih lebih tinggi dari drama mbc dan masih kurang dari unkind ladies tapi cmiw ya^^

      Delete
  4. peran si ayah cho rim, detektif Oh, sayang amat ya, gak dimunculin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu bisa masuk poin kekurangan drama ini hihihi
      biar nggak keliatan perfect juga :P

      Delete
  5. Moo Gak akhirx menuliskan kata yang hanya bisa di lihat oleh Cho Rim... 😍

    ReplyDelete
  6. Moo Gak berlari turun dan memeluk Cho Rim. Dan menciumnya. Sekali, dua kali, tiga kali


    Cho Rim mengangguk, bahagia. Moo Gak tak kalah bahagia. Ia kembali mencium Cho Rim. Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali.

    Waduh....
    itu kissue Moo Gak beneran lebay
    etapi #Kekinian banget la'an y →☆☆☆ :)))

    *makasih mbak Dee ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, untung aja mbak poetri nggak ngerecap ini...
      bisa keluar asap tuh
      padahal sama-sama pensnya yoochun ckck
      eh, tapi mbak poet udah berpaling ke jae hee kan? *digetokyoochun

      Delete
  7. Yang jadi kejutan adalah detektif Yeh yang ternyata anak tunggal konglomerat....
    Naksir Detektif Yeh aja deh... Hahaha *matre

    ReplyDelete
  8. Ihh...moogak...ngelamun aja alay...lebay....

    ReplyDelete