May 9, 2015

The Girl Who Sees Smells Episode 12 - 1


Sebelumnya, bisa dibaca di blognya Putri.  Sinopsis The Girl Who Sees Smells Episode 11

Sinopsis The Girl Who Sees Smells Episode 12 - 1



Cho Rim terbelalak ketakutan melihat Jae Hee. Tapi tatapan mata Jae Hee kosong, karena wajah gadis di depannya berubah-ubah. “Choi Eun Seol, kau mengenalku, kan?” Ia membelai rambut Eun Seol sama seperti dulu di Jeju. “Kau pernah melihatku sebelumnya, kan?”


Cho Rim menutup mulutnya, gemetar, sekuat tenaga tak mengeluarkan suara sedikitpun. Matanya menangkap bau Moo Gak dari arah pintu masuk.


Sedetik kemudian lampu mati. Ada seseorang yang mematikan sekering dari luar. Secepat kilat Cho Rim menepis tangan Jae Hee dan berlari menjauh dari bau tubuh Jae Hee yang ia lihat di kegelapan.
Jae Hee hanya bisa meraba-raba dalam kegelapan. Saat lampu menyala kembali, gadis itu sudah hilang. Jae Hee berteriak frustasi.


Moo Gak menarik Cho Rim keluar dan menunggu di samping rumah. Saat Jae Hee muncul dari balik pintu, Moo Gak memukul leher Jae Hee, melumpuhkannya. 


Hampir saja ia menembak Jae Hee yang tak sadarkan diri jika Cho Rim tak mencegahnya, memintanya untuk tak menjadi pembunuh, sama seperti yang dilakukan Jae Hee. 


Mereka kembali masuk ke rumah untuk mencari ayah Cho Rim. Tapi ayah Cho Rim tak ketemu. Mendadak Cho Rim pingsan tak sadarkan diri. Moo Gak panik melihatnya dan segera membawa Cho Rim ke mobil.


Detektif Ki dan Detektif Yeh muncul dan Moo Gak menceritakan apa yang terjadi. Ia akan membawa Cho Rim ke rumah sakit dan meminta mereka untuk mengurus Jae Hee yang tergeletak di depan rumah.


Detektif Ki dan Detektif Yeh menemukan Jae Hee yang baru saja sadar. Dengan nada keras, mereka memberitahu kalau polisi mendapat laporan orang hilang bernama Oh Jae Pyo dan sinyal handphone terakhirnya adalah di rumah Jae Hee.

Dengan tenang Jae Hee mengiyakan hal tersebut, membuat para detektif itu terkejut mendengar Jae Hee begitu mudahnya mengakui hal itu. Oh Jae Pyo sedang beristirahat di kamarnya karena sedikit mabuk. Ia akan membawa Pak Oh keluar menemui para detektif itu tapi melarang mereka masuk rumah karena alasan privacy.

Di dalam, Jae Hee segera meletakkan handphone ayah Cho Rim di lantai, setelah sebelumnya menghapus pesan terakhir pada Cho Rim. Ia juga menyembunyikan jarum suntik dan botol obat (penenang?) ke balik bantal sofa, sepersekian detik sebelum terdengar suara Oh Jae Pyo.


Ayah Cho Rim baru saja sadar dari mabuknya dan terlihat malu karena minum terlalu banyak. Jae Hee berkata kalau ada tamu yang mencari Oh Jae Pyo di luar rumah.


Detektif Ki dan Detektif Yeh sudah tak sabar dan hampir saja mendobrak pintu. Untung belum, karena bukaan pintu itu keluar (sakiiit.. kalo ngedobrak dan susah banget) dan pintu itu sudah terbuka sebelum didobrak. Muncul Oh Jae Pyo yang malu tapi berterima kasih pada para detektif. Anaknya pasti sudah melaporkan dirinya yang menghilang.


Oh Jae Pyo pamit,meninggalkan para detektif dan Jae Hee. Ia tak menyadari kalau dia dikuntit oleh Jae Hee sampai ke rumah. Duh.. semoga saja ia tak sempat melihat Cho Rim di rumah itu.



Untunglah Cho Rim harus rawat inap di rumah sakit karena pingsan. Moo Gak, yang menemani Cho Rim di rumah sakit, memberitahu kalau ayah Cho Rim sudah kembali ke rumah. Cho Rim merasa tenang dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi di rumah Jae Hee. Moo Gak bersedia membicarakannya, tapi besok.


“Ia memanggilku Choi Eun Seol.” Ucapan Cho Rim mencegah Moo Gak pergi. “Orang itu, Kwon Jae Hee, memanggilku Choi Eun Seol dan ia bertanya apakah aku mengingatnya.” Cho Rim memperhatikan ekspresi Moo Gak yang berubah dan bertanya, “Jadi ia benar-benar pembunuh berantai itu, kah?”


Moo Gak mengiyakan dan berkata kalau Cho Rim berada dalam posisi yang membahayakan. Tapi Cho rim memberitahukan kalau Jae Hee tadi tak mengenalinya karena Jae Hee mengidap penyakit prosopagnosia. Jae Hee mengenal orang dari suara dan ciri khas tertentu oleh karena itulah ia tadi tak mengeluarkan suara sedikitpun.

Moo Gak memuji Cho Rim yang berpikir cepat walau tetap berkata kalau peristiwa tadi sangat membahayakan. Cho Rim menyadari hal itu. Untungnya tadi Moo Gak datang tepat waktu dan ia berterima kasih. Moo Gak meminta Cho Rim untuk tak mengenakan baju yang tadi ia pakai agar tak dikenali Jae Hee lagi.

Mereka terdiam dan sama-sama berkata kalau ada yang ingin disampaikan.


Duh.. jauh amat kalo mau ngomong. Emang di kamar kurang sepi, ya?


Cho Rim mengakui kalau ia tahu bahwa namanya adalah Choi Eun Seol dan menduga kalau Moo Gak juga sudah mengetahuinya. Matanya berkaca-kaca saat berkata karena ia adalah saksi dan namanya adalah Choi Eun Seol, maka adik Moo Gak tewas dibunuh. “Karena aku, adikmu meninggal. Maafkan aku.”


“Bukan. Bajingan itu telah membunuh adikku. Itu saja,” jawab Moo Gak. Hal itu tak berhubungan dengan Cho Rim, jadi Cho Rim jangan pernah berpikiran seperti itu. Ia menyadari karena alasan itulah Cho Rim minta putus, jadi ia tak mau menerima keputusan itu. “Jangan mengkhawatirkan semua masalah itu. Serahkan saja semuanya padaku. Aku akan terus memberikan cintaku. Dan kuharap kau tetap terus menerimanya.”


Cho Rim meneteskan air mata, tapi ia tetap menggeleng. Ia tak bisa melakukannya karena merasa bersalah. Moo Gak hanya terdiam, termenung saat Cho Rim beranjak meninggalkannya.


Oh Jae Pyo diinterogasi di kantor polisi dan mengakui kalau ia menyembunyikan Cho Rim karena kasihan pada Cho Rim. Ia tak tega melihat Cho Rim yang hilang ingatan, nantinya dipaksa untuk mengingat kenangan yang tak ingin diingat oleh gadis itu. Tapi ia tetap mencari tahu siapa pembunuh berantai itu. Oleh karena itu ia tetap mendapat informasi dari kepala polisi dan ia mendekati Jae Hee karena hal tersebut. Tapi sepertinya ia telah gagal.

Yeom Mi berkata kalau sekarang Jae Hee sudah tahu kalau Eun Seol adalah anak Oh Jae Pyo, jadi Jae Pyo disarankan untuk menghilang sebentar dan mereka akan menyiapkan tempat persembunyian untuk ditinggali sementara.  Oh Jae Pyo meminta Moo Gak untuk menjaga putrinya.



Oh Jae Pyo menemui Cho Rim dan berkata kalau ia akan pergi cukup lama. Ia meminta Cho Rim untuk menuruti perintah polisi yang akan melindunginya.Setelah ayahnya pergi meninggalkannya, Cho Rim berkemas-kemas dan menemui Moo Gak yang sudah menungguinya di luar. Ia menolak tawaran Moo Gak yang ingin mengantarkannya pulang.


Moo Gak tak memaksa dan meminta Cho Rim untuk meneleponnya jika sudah sampai di rumah. Tapi diam-diam ia berjalan mengikuti Cho Rim hingga sampai di depan rumah. Saat Cho Rim sudah masuk ke rumah, ia pergi dengan tenang.


Tapi terdengar suara teriakan histeris dari dalam rumah Cho Rim. Ia bergegas masuk ke rumah dan menemukan rumah Cho Rim yang berantakan. Ia mencari ke luar rumah, tapi tak ada siapapun yang mencurigakan. Siapa yang mengobrak-abrik rumah Cho Rim?


Setelah Cho Rim cukup tenang, Moo Gak memintanya untuk memeriksa apakah Cho Rim kehilangan sesuatu. Dan ternyata benar. Fotonya hilang. 


Moo Gak semakin yakin kalau yang mengobrak-abrik rumah adalah Jae Hee. Ia pun meraih tangan Cho Rim dan mengajaknya pergi. Cho Rim sudah tak bisa tinggal di rumah ini lagi karena bahaya.


Cho Rim tak mau. Tapi Moo Gak bersikeras membawanya pergi. Ia melakukan hal ini karena Cho Rim adalah saksi yang sedang diburu oleh pembunuh, bukan karena hubungan mereka. Cho Rim akhirnya mau pergi.


Di perpustakaan, Jae Hee memperhatikan foto yang barusan ia ambil. Foto Choi Eun Seol. Tapi foto gadis itu masih tak bisa membuatnya mengenali gadis itu. Jae Hee membanting foto itu frustasi. Ia akan mencari cara lain. Ia menandai foto itu dengan menggambar tanda silang dan lingkaran di balik foto itu.


Moo Gak membawa Cho Rim ke rumahnya dan menyuruh gadis itu untuk tinggal di sana. Cho Rim merasa tak enak karena tapi Moo Gak berkata kalau ia akan menginap di rumah temannya yang ada di seberang jalan.


Setelah memberikan banyak pesan dan larangan, tetap selalu mengunci pintu rumah, jangan memberitahu siapapun kalau Cho Rim menginap di rumahnya, jangan membukakan pintu untuk siapapun selain dirinya, bla bla bla.., Moo Gak pun pergi.

Dan kembali lagi. Handphonenya ketinggalan. “Buatlah agar kau betah di sini,” Moo Gak melemparkan senyum sebelum menutup pintu.


Cho Rim akan mulai membereskan barang-barang Moo Gak yang bertebaran. Tapi Moo Gak kembali lagi. Ia buru-buru memasukkan barang-barang yang berceceran itu (termasuk underwear. Ehem..) dan berkata kalau ia akan membawa semuanya ini. “Jangan hanya berdiri, duduklah. Buatlah agar kau betah di sini.”

Setelah itu ia pergi.


Dan kembali lagi. Cho Rim yang akan berganti baju, langsung berhenti. Ternyata Moo Gak balik hanya untuk melarangnya untuk mendekati jendela, karena mungkin ada orang yang akan mengenali Cho Rim dari luar.


Hahaha… haduh.. yang dilakukan Moo Gak ini modus apa, ya? Rasanya nggak ada henti-hentinya Moo Gak balik ke rumah. Dan senyumnya itu loh, saat pamit pergi. Polos banget.



Setelah puas bolak balik ke rumah, Moo Gak sekarang terus menelepon Cho Rim, terus mengingatkannya, “Sudah kubilang kan kalau kau tak boleh mendekati jendela. Aku bisa melihatmu dengan jelas!”


Ternyata Moo Gak ada di dalam mobil, terus mengawasinya, tak tidur bahkan hingga jam 3 pagi. 


Tapi begitu pula yang dilakukan Cho Rim. Ia juga tak bisa tidur. Ia memakai kaos Moo Gak dan memeluk dirinya sendiri yang diselimuti bau Moo Gak dari kaos itu.


Keesokan paginya, Moo Gak balik lagi ke apartemen, untuk membersihkan diri. Cho Rim masih skeptis mendengar alasan Moo Gak yang tak bisa menggunakan kamar mandi di rumah temannya karena temannya tak mau tagihan airnya melonjak. Tapi ia diam saja.


Mereka keluar rumah bersama. Di lift, salah seorang tetangga memuji mereka sebagai pasangan yang baru saja menikah dan tampak serasi sekali. Ia mendoakan agar mereka selalu bahagia.

Hihihi.. sekalian saja doanya ditambahin, bisa menjadi keluarga sakinan mawaddah warohmah. Cho Rim sudah ingin membantah, tapi Moo Gak yang dari tadi tersenyum-senyum, berterimakasih pada ahjumma itu.


Tapi memang sudah mirip, kok. Bahkan Cho Rim berdiri menunggui Moo Gak yang berpisah jalan, seperti istri yang mengantar suaminya berangkat kantor. *Hahaha… lebay. Alamat digetok sama blogger sebelah, nih..:p*


Cho Rim menemui Yeom Mi. Ia berniat untuk mengambil kembali fotonya yang sekarang ada ditangan Jae Hee. Yeom Mi berpendapat kalau rencana Cho Rim ini sangat berbahaya. Tapi tim Yeom Mi memang berada di jalan buntu. Mereka tak dapat menerbitkan surat penahanan untuk Jae Hee karena alibinya kuat dan JaeHee tak meninggalkan jejak apapun di rumah Cho Rim.


Tentu saja Moo Gak melabrak dan memarahi Cho Rim. Tapi Cho Rim sudah mantap. Ia adalah orang yang paling tepat untuk melakukan hal ini karena Jae Hee tak mencurigainya. Walau tak menyukai ide ini, Yeom Mi harus mengakui kalau pendapat Cho Rim benar. Cho Rim adalah orang yang paling aman untuk mengambil foto itu dan mereka harus segera mengambil foto out sebelum Jae Hee menunjukkan ke orang lain. Dan hari ini adalah saat yang tepat karena syuting dilakukan di rumah Jae Hee.


Moo Gak masih belum bisa menerima ide ini. Tapi ia akan mengijinkan rencana ini jika Cho Rim mau mengikuti instruksinya. Dan jika ia merasa situasi sudah membahayakan, maka Cho Rim harus segera berhenti saat itu juga. Cho Rim berjanji.


Para detektif sudah menyiapkan kamera pengintai yang disembunyikan di dalam sebuah buku, earpiece dan kalung yang mengeluarkan bunyi yang memekakkan telinga jika bandulnya ditekan. Moo Gak masih merasa cemas dan meminta Cho Rim untuk membatalkan rencana itu. Tapi keputusan Cho Rim sudah bulat.

Komentar:


Stop dulu sampai sini, ya.. Saya nggak kuat ngerecapnya. Banyak adegan yang buat dag-dig-dug. Takut, apalagi harus ngerecap malam-malem. Hiiyy…

17 comments :

  1. Polos bngt cee nb fanny..pi bkin ksem-sem...ttpan.a tu loo penuh rasa cinta.ahahaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe mbak fanny di blog sebelah ya? bukan blogger yang dibilangin mbak dee di rekap ini tapi^^
      wajar sih kalo suka ketuker, gaya nulis dan komennya emang hampir sama ala-ala ahjumma gitu...

      Delete
    2. hehe mbak fanny di blog sebelah ya? bukan blogger yang dibilangin mbak dee di rekap ini tapi^^
      wajar sih kalo suka ketuker, gaya nulis dan komennya emang hampir sama ala-ala ahjumma gitu...

      Delete
  2. Mo Gak so sweet deh bkin ku senyum2 sendiri liat tingkah modusnya, bilang ja ga mau pergi mpe bolak-balik ky gtu hahaha....
    & anehnya ku tak bs benci sm Jae Hee walaupun tatapannya serem, tp ganteng..hehe
    tumben nih mba Dee dibikin 2 part
    klo gtu ku tunggu part selanjutnya

    ReplyDelete
  3. Blogger sebeleh itu mksdnya siapa mbk dee yaaa??...oh kyk istri nganter suami? Eehm..mbk dee mw request model barcode kyk apa?/telp jae hee/

    ReplyDelete
    Replies
    1. komen ini nambah bikin ngeri hiiiiiii
      apalagi orang rumah sakit juga
      hati-hati ya mbak dee *saranbuatdirisendiri

      Delete
    2. komen ini nambah bikin ngeri hiiiiiii
      apalagi orang rumah sakit juga
      hati-hati ya mbak dee *saranbuatdirisendiri

      Delete
    3. komen ini nambah bikin ngeri hiiiiiii
      apalagi orang rumah sakit juga
      hati-hati ya mbak dee *saranbuatdirisendiri

      Delete
  4. Waduuu kasian mbak put, endognyajdian lagi, dasar ih si muka datar nan polos yg suka modusin cho rim. Mba titip salam buat si muka cute tp nyeremin tu, bsa bnyakin ga ya sceneny dy, biar tau gitu, knapa dy suka ngebunuhin org.
    Salam

    ReplyDelete
  5. Hadeuh.....siapa???siapa nama blogger yg bakalan ngejitak itu bak dee.....biar saya bilangin bak poetri...(hah??????).pasti sewot abid tug bak poet....untung aja bagian rekapnya waktu is endognya putus....jadilah ia goyang sinchan dg bahagianya....(hahahaha)
    Dibagi 2 part boleh jg bak Dee...biar tambah banyak liat simuka datar penuh modus mogak....yeay!
    Jadi karena alasan tertentu bak dee sementara ngegantiin bak fanny yah?
    Semoga bak fanny diberi ketabahan...amiin.....
    Dan semoga komen yg ini gak masuk lautan spam ...(tto, tto,tto)
    Gak bakalan bosen komen....
    Gumapshimnida bak dee....
    Part selanjutnya...himneyo!

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin
      setau saya sih nggak mbak nur
      entah gimana, pas banget mbak fanny nggak ngerecap minggu ini
      karena urutannya: mbak fanny -> mbak poet -> mbak dee
      jadi kalau episode 11 yang patah hati itu dibikin mbak poet, episode 12 yang menegangkan ini memang udah bagiannya mbak dee...
      dan saya terharu banget waktu tau :')

      Delete
    2. Hehehe...iya yah....saya yg salah.
      Bener ini bagiannya bak Dee...yah.pas bgt.bak fanny ep10.trus sudah itu ep 13 entar..
      Mianamnida.....

      Delete
  6. Ga abis pikir sama polisi yg ngebolehin cho rim ke rumah jae hee... sama aja masukin ke kandang macan... makin nyeremin dramanya...

    ReplyDelete
  7. Psyco yg perfectionist kalah ama penyakitnya sendiri... hehe emg episode nie nyeremin bing bing...

    ReplyDelete
  8. Mogak nya modusnya bnyk bgt, udh cinta mati kynya Samaa cho rim, Haha makin tegang ajaa deh drama nya, Bdw tinggal 4 episode lgi yaa, hohoho bakalan susah move on deh dr couple ini

    ReplyDelete
  9. Liat mogak minum yak**t jadi keinget sama Ligak ( rooftop prince ). Duh... makin cinta nich sama oppa yoochun :)

    ReplyDelete
  10. Biarpun jae hee jahat, tp tetep deh ga bs benci sama jae hee. Wajahx itu lohhh....terlalu ganteng untuk dibenci. Hahahahaha

    ReplyDelete