April 9, 2015

Unkind Women Episode 8

Sinopsis Unkind Women Episode 8


Ma Ri mengikuti saran Young Soo untuk merekam curhatannya. Namun ia salah kirim file, bukan ke internet melainkan ke Roo Oh yang menggunakan file itu untuk musik pengiring meditasi. Ma Ri segera lari ke studio dan merebut handphone itu dari tangan Roo Oh.




Beberapa murid wanita yang hadir langsung sinis, menuduh Ma Ri melakukan pdkt pada guru mereka. Ma Ri minta maaf, tak berniat melakukan hal itu. Ia meminta Roo Oh untuk menghapus file itu sekarang juga.


Saat itu, Ma Ri tampak tenang. Ia bisa ngobrol santai dengan Roo Oh. Tak nampak sedikitpun kalau pria yang ia bicarakan itu adalah orang yang sedang ia hadapi. Baru setelah ia keluar dari studio, nampak ia menyesali kebodohannya.


Ibu tampak senang dengan makan malam mereka ini. Ia tak menyangka kalau ia bisa duduk semeja dengan Mo Ran. Ia meminta Hyun Jung untuk melupakan pikiran kalau semua pria baik itu sudah habis, jadi Hyun Jung menolak menikah. Pikiran itu sudah kuno.


Ibu juga minta Hyun Sook untuk membuang pikiran kalau hidupnya sudah berakhir, pada anjing tetangga. Hyun Sook menggerutu, “Anjing sebelah sudah pindah rumah minggu lalu.” Haha.. Goo Min memuji mertuanya yang sekarang jadi filsuf dan ibu langsung promosi, “Kau hanya akan menemukan ibu mertua yang filosofis di sini. Tak akan ada di tempat lain.”


Tertular aura gembira dari Ibu, Mo Ran berkata kalau hidup itu penuh misteri. Bisa saja, tiba-tiba Ibu menikah dengan seorang kakek baik di depan makam Chul Hee. Dan.. ibu pun langsung berkerut, tak suka mendengarnya. Sayangnya, Mo Ran tak menyadarinya.


Sedikit petunjuk dari Goo Min tentang pria lain di dekat Ma Ri, membuat Hyun Sook menginterogasi suaminya. Goo Min bercerita tentang guru Kendo yang ia temui di sekitar apartemen Hyun Jung dan sepertinya pria itu pria baik. Hyun Sook tak suka saat mendengar guru Kendo. Ia lebih suka jika Ma Ri dengan Lee Doo Jin, anak dari reporter Lee Moon Soo dan dari keluarga kaya.


Goo Min mengatakan kalau Hyun Sook benar-benar picik. Tapi itu karena Hyun Sook tak ingin menikah dengan pria yang biasa-biasa saja, balas Hyun Sook. Goo Min mengatakan kalau dulu Hyun Sook juga menikahi pria umur 20 tahunan dan tak punya apa-apa. Dengan cuek, Hyun Sook menjawab, “Karena itulah kita tak bahagia.”


Goo Min mengingatkan kenangan bahagia mereka selama ini. Hyun Sook malah menyayangkan kalau Goo Min tak memiliki kenangan seperti itu dengan calon istrinya. Goo Min meneliti wajah Hyun Sook, merasa kalau Hyun Sook sedang cemburu. Hyun Sook membantah hal itu.

Tapi Goo Min tak percaya. Ia merasa harus meloloskan Hyun Sook untuk belajar ke universitas sebelum ia menikah, agar tak mengacaukan upacara pernikahannya. Hyun Sook berjanji untuk menulis surat perjanjian atau mengunci dirinya di rumah saat pernikahan Goo Min, asal tak kuliah. Tapi ia juga minta diberi diskon. Ia minta agar uang yang harus ia bayar bukan 100 juta won, tapi 1 juta won saja.


Haha.. itu diskon atau nodong? Tentu saja Goo Min tak mau. Apapun yang terjadi, ia tetap akan membuat Hyun Sook kuliah agar ia bisa menikah lagi. “Kau harus kuliah.”


Kakek dan aktor gaek itu sudah beristirahat saat hari sudah malam. Tapi Kakek tak bisa tidur karena pasangan di sebelah ruangan mereka membuat ‘keributan’. Yang membuat Kakek tambah marah, ternyata si pria itu menerima telepon dari istrinya di rumah dan berbohong kalau ia sedang lembur.


Ia menendang-nendang dinding kamar pasangan selingkuh itu berkali-kali, walau Manager Han mencoba mencegahnya. Aktor gaek teman Kakek terbangun, dan berteriak ‘Kebakaran! Kebakaran!’ dengan keras.


Hasilnya? Mereka bertiga diusir dari motel itu.


Ibu tak bisa tidur karena memikirkan rencana Goo Min pada Hyun Sook sebelum menikah. Karena risau, ia menemui Mo Ran. Ternyata Hyun Sook juga ada di sana karena sedang memperbaiki pemanas kamar yang rusak. Ibu menawarkan Mo Ran untuk tidur di kamarnya. Whoaa.. Hyun Sook dan Mo Ran bengong melihatnya.


Ibu rupanya masih terganggu akan ucapan Mo Ran yang mendoakan Ibu agar menikah dengan seorang kakek baik. Ia ingin mengajak Mo Ran bicara, tapi  Mo Ran sudah tidur di tempat tidur Ibu yang empuk. Ibu yang tidur di bawah, hanya bisa menggerutu.


Malam-malam, Roo Oh push up untuk menghilangkan pikiran tentang curhatan Ma Ri di rekaman tadi. Tapi suara Ma Ri terus menghantuinya. Ia geram pada pria yang disuka Ma Ri? Siapa pria sialan itu?


Hyun Ae menelepon rumah Soon Ok untuk mendaftar kursus memasak. Asisten Park memberitahu kalau paling cepat bisa mendaftar kursus bulan September. Hyun Ae kaget, dan ia sambil lalu menitipkan ucapan terima kasih pada Ma Ri. Doo Jin yang mendengarnya, heran akan keinginan ibunya yang tiba-tiba ingin memasak.


Kebetulan Ma Ri masuk ke dapur dan mengiyakan saat diberitahu kalau Hyun Ae akan ikut kursus masak. Ia meminta Asisten Park untuk menyelipkan Hyun Ae ke kelompok kursus yang mungkin ada yang kosong. Ternyata ada. Salah satu peserta ada yang pindah ke luar negeri dan Hyun Ae bisa mengisi posisi itu minggu depan. Asisten Park memberikan nomor telepon Hyun Ae agar Ma Ri bisa memberitahukan kabar baik itu langsung.


Ma Ri menelepon Hyun Ae yang sangat senang mendengar kabar baik itu. Kebetulan Hyun Sook juga sedang bersih-bersih gudang a.k.a kamar Mo Ran dan mendengar pembicaraan Ma Ri. Ia sangat gembira mendengar Ma Ri yang sudah dekat dengan ibu Lee Doo Jin. Ma Ri heran mendengar kegembiraan ibunya yang tak biasa itu.

Hyun Sook berkilah kalau ibu Lee Doo Jin berarti istri reporter Lee Moon Soo, tentu saja ia sangat tertarik. Ia berencana untuk memperkenalkan diri pada ibu Lee Doo Jin.


Ma Ri mengambil satu majalah lama dengan foto sampul Leif Garett dan bertanya apakah penyanyi ini yang membuat Hyun Sook dikeluarkan dari sekolah. Hyun Sook langsung merebut majalah itu dengan sayang dan berkata kalau ia menjadi seperti ini karena guru wali kelasnya yang jahat. Karena itulah ia ingin menjadi seorang dosen yang baik.

Mendengar ibu yang sudah mulai bicara menyerempet masalahnya, Ma Ri mengiyakan dan segera kabur.


Yang tertarik akan hubungan Ma Ri dan Doo Jin ternyata tak hanya Hyun Sook saja. Hyun Ae pun bertanya pada Doo Jin tentang ibu Ma Ri. Bahkan ia berencana untuk facial sebagai persiapan bertemu ibu Ma Ri.


Ibu mengajak Mo Ran untuk olah raga, tapi Mo Ran yang masih ngantuk berkata kalau ia akan menyusul. Walau Ibu meragukannya, ternyata Mo Ran muncul juga.


Sambil berolah raga di taman, Ibu bertanya apa maksud Mo Ran malam itu, karena walaupun Chul Hee telah selingkuh, tapi ia tetap mencintai suaminya itu. Ia terus menunggu suaminya sadar dan kembali padanya. Ternyata suaminya lari dengan wanita lain dan ia mendapat kabar kalau suaminya meninggal dalam kebakaran. “Bagaimana mungkin kau bercanda seperti itu?”


Mo Ran berkata karena itulah ia berharap Ibu bertemu dengan pria baik lainnya. Ibu marah dan menyuruhnya diam. Mo Ran tak akan mengerti karena lukanya ini ratusan kali lebih perih daripada dicampakkan oleh tunangan.


Mo Ran memucat dan bertanya apa yang ibu ketahui tentang perihnya luka dicampakkan oleh tunangannya. “Setelah pertunanganku batal, rasanya aku ingin mencabik-cabik si pengirim surat itu!”


Ibu menatap Mo Ran, tak merasa kasihan. Ibu bahkan berkata kalau semalam, saat ia menawari tempat tidurnya, harusnya Mo Ran menolaknya karena Ibu hanya basa-basi. Ucapan itu membuat Mo Ran menangis kesal. Ia tahu kalau Ibu selalu memaki di belakangnya. Ibu membantah, “Kapan aku memaki di belakangmu? Aku melakukannya di depanmu!”

Hahaha…


Mo Ran mengusap air matanya kesal. “Aku berangkat ke taman ini dengan semangat tinggi. Bahkan aku menyempatkan diri membawa ini,” ia mengeluarkan tongsis (ha..?!) dari tasnya, “Bagaimana mungkin kau mengatakan hal seperti itu padaku?”


Ibu merasa tak enak, tapi tetap tak mau disalahkan. Seperti balon yang mengempis, Mo Ran pun pamit untuk pulang saja. Ibu mencegahnya dan mengajaknya selfie dulu. Mo Ran tak mau, tapi Ibu tahu kalau Mo Ran bahkan memakai make up untuk selfie ini. Mo Ran berkata kalau ia pakai BB cream karena menghindari sinar UV matahari. Hihihi… Ibu kembali membujuknya dan mereka pun selfie.  Hahaha…


Moral Story? Bawalah tongsis karena akan menyelesaikan masalah.


Cuti berakhir, Hyun Jung kembali ke kantor dan disambut oleh penyiar penggantinya, junior yang muncul hanya untuk mengolok secara halus. Bukan Hyun Jung namanya jika tak bisa membalas ucapan juniornya itu. Tapi selebihnya tak ada pekerjaan untuknya, kecuali meminjamkan suaranya untuk mengisi suara, yang biasanya dilakukan oleh pegawai paling junior.


Selanjutnya, program documenter, Suara Keheningan. Selanjutnya, 3 Hari 2 Malam. Selanjutnya, Drama Senin Selasa, A New Man. Selanjutnya.. Selanjutnya.. Sesaat, suara Hyun Jung tercekat karena tak ada pekerjaan lain untuknya selain pekerjaan sukarela seperti ini.

Bekerja tanpa ada pekerjaan, membuat Hyun Jung kembali memikirkan tawaran Moon Gak.


Walau ngidam mie soba, Kakek tak suka akan mie soba yang mereka makan di sebuah restoran. Katanya tak enak, padahal Melihat bagaimana tingginya selera Kakek dan kejadian semalam di motel, Manajer Han dan aktor gaek itu berkesimpulan kalau Kakek pasti berasal dari keluarga kaya dan Kakek pasti sangat setia pada istrinya. 


Hari itu Roo Oh akan pergi melakukan tugas sebagai wasit kendo. Tapi dasi wasitnya ketinggalan di studio, sehingga ia harus mengambilnya dulu. Asisten Roo Oh bertanya mengapa Roo Oh tak minta tolong pacarnya untuk mengambilkan dasinya? Karena ia memang tak punya pacar, jawab Roo Oh.  Pengirim makanan yang dikira pacar oleh Asisten itu sebenarnya adalah ibunya. Tapi hubungannnya dengan ibunya tak harmonis.

Roo Oh heran melihat asistennya masih belum mengajar padahal sudah waktunya. Asistennya menjawab kalau murid-muridnya minta latihan diundur selama 30 menit dan para murid itu sekarang ada di atap gedung.


Penasaran, Roo Oh pun naik ke atap. Di sana ia mendengar para murid wanitanya sedang mengintimidasi Ma Ri, menuduhnya bersikap centil untuk menarik perhatian Roo Oh. Mereka minta Ma Ri untuk pindah studio.


Ma Ri tak mau karena ia suka di sini. Mereka pun minta agar Ma Ri pindah guru,  ikut latihan guru yang lain. Ma Ri juga tak mau, “Bukankah aku berhak memilih kapan waktu latihan yang paling nyaman untukku? Dan aku juga suka cara mengajar Guru Roo Oh yang sangat disiplin dan keras.” Roo Oh tersenyum mendengarnya. Ma Ri bersikap sopan saat pamit karena ia harus kerja part time.

“Hei! Jangan pergi! Kami belum selesai bicara!” bentak si kuncir kuda.


Ma Ri malah menjawab, “Aku sudah mengatakan semua yang harus kukatakan.” Dan Ma Ri pun berjalan pergi. Para gadis itu terbelalak mendengar ucapan Ma Ri yang otoriter. Ma Ri berhenti, berbalik untuk bertanya, “Dan ada apa dengan kelakuan kalian yang kekanak-kanakkan ini? Yang kemarin itu kan nggak sengaja.  Kalian sendiri juga tahu benar kalau Guru Roo Oh itu tak akan melampaui batas yang tak pantas. Kalian ini bukan preman. Ngapain kalian melakukan hal ini?”


Senyum Roo Oh semakin lebar mendengar Ma Ri malah mengkuliahi murid-muridnya, “Walau kita ada di level paling dasar, kita masih tetap di dunia beladiri, kan?” Roo Oh terus tersenyum, tak bisa lebih bangga lagi mendengar Ma Ri berkata, “Kalian ini sedang memakai seragam Kendo. Jaga martabat kita!”


Ia buru-buru menuruni tangga saat menyadari Ma Ri berjalan ke arahnya, meninggalkan para murid wanita yang bengong speechless itu. Ia pun mengikuti Ma Ri, dan aww… senyumnya itu loh. Senyum kagum, bangga dan bahagia.


Ia menjajari Ma Ri yang sedang bercermin di kaca jendela sebuah restoran, mengagetkan gadis itu. Ia mengaku kalau arah halte bisnya sejalan dengan arah Ma Ri berjalan. Kemudian ia mengeluarkan dasi dan meminta Ma Ri untuk mengikatkan dasi itu padanya.

Aww..


Di gang antar dua bangunan, Ma Ri menalikan dasi Roo Oh. Mungkin karena tak terbiasa, Ma Ri tak kunjung berhasil mengikat dasi di leher Roo Oh. Melihat Ma Ri terus berjinjit, Roo Oh pun merendahkan tubuhnya hingga matanya sejajar menatap mata Ma Ri, “Begini lebih baik, kan?”


Ma Ri mengangguk tapi sekarang ia malah menjadi gugup menyadari Roo Oh yang terus menatapnya. Ma Ri berkata kalau dasi Roo Oh ini bentuknya kuno sekali. Roo Oh menjawab kalau dasi itu adalah dasi wasit. Ma Ri mengangguk paham, tapi tetap tak berhasi mengikatkan dasi dengan rapi.


Mendadak Roo Oh menangkap kaki Ma Ri untuk diangkat dan ia dudukkan tubuh Ma Ri ke atas meja. Ma Ri terlalu kaget untuk berteriak, hanya memandang Roo Oh penuh tanya. Roo Oh menjelaskan kalau kakinya pegal.


Jarak mereka semakin dekat. Roo Oh memperhatikan wajah Ma Ri dan akhirnya berkata, “Aku sudah memikirkan tentang ini..” Ma Ri mendongak bingung. Roo Oh sedang memikirkan tentang Ma Ri? Memikirkannya?


Roo Oh mengerutkan kening namun kemudian tertawa geli.  Ma Ri menyuruhnya tak bergerak karena ia hampir selesai. Roo Oh kembali ke posisinya tapi dengan penuh percaya diri, ia mengatakan kalau pria yang sudah punya pacar tapi bersikap baik pada Ma Ri bukanlah pria yang tepat.


Ma Ri mengangguk, berusaha sebaik mungkin menyembunyikan perasaannya. Tapi Roo Oh seakan membuka perasaannya, menatap Ma Ri dalam-dalam berkata kalau seorang pria (dirinya) pasti tahu tentang bagaimana otak pria lain.


Ma Ri diam menyelesaikan dasi yang sekarang terikat rapi. Ia menurunkan kerah dan selesailah tugasnya. Ia turun dari meja dan mengemasi tasnya. Tapi Roo Oh belum selesai bicara, “Tak seharusnya kau percaya pada orang seperti itu. Kau tak perlu jatuh cinta padanya.”


Sepanjang perjalanan, Roo Oh terus tersenyum dan memegang dasinya, teringat bagaimana Ma Ri mengatakan suka dengan cara mengajarnya dan meminta teman-temannya untuk punya martabat. Aww..


Sementara Ma Ri juga terus memikirkan saat-saat mengikat dasi Roo Oh tadi. Ia jadi tak konsen dengan rekaman antara aktor gaek dan kakek yang hilang ingatan. Teman Doo Jin yang melihat Ma Ri terus memegang kepalanya, mengira Ma Rip using dan langsung memijat kepalanya tanpa ijin. Untung produser langsung menghentikan tindakan baik hati itu. Ma Ri tertarik dengan cerita Kakek yang hilang ingatan dan ingin mengunjungi syuting berikutnya.


Doo Jin menerima telepon dari Moon Hak yang ingin mengatur jadwal pertemuan dengan adik Hyun Jung. Doo Jin pun menelepon Hyun Sook dan mengatur pertemuan mereka selanjutnya. Ia juga memberitahu kalau kakeknya, Lee Moon Hak, ingin menemuinya.


Mendengar nama Lee Moon Hak, Jong Mi mengatakan kalau Hyun Sook memiliki sekutu yang kuat karena Moon Hak adalah orang yang terkenal dan disegani. Hyun Sook merasa ia benar-benar memiliki hubungan khusus dengan keluarga Doo Jin.

Riiiighhhtt..


Jong Mi bertanya apa tujuan akhir dari semua usaha Hyun Sook ini. Hyun Sook menjawab keputusan dia dikeluarkan dari sekolah bisa dicabut kembali dan Guru Na Mal Nyeon meminta maaf secara tulus padanya. Jong Mi meragukan tujuan kedua, tapi tetap menyemangati Hyun Sook. Hwaiting!


Doo Jin mengantar Ma Ri pulang. Mulanya Ma Ri menolak, tapi karena Doo Jin memaksa, ia pun ikut sampai ke stasiun terdekat. Di mobil, Ma Ri bertanya alasan Doo Jin dulu datang ke kampusnya. Doo Jin menjawab kalau sebenarnya ia ingin menemui peraih Nobel dari Inggris yang datang ke kampus Ma Ri, tapi ia malah tertarik pada dosen yang mengadakan pesta jjajjangmyun dan membuat liputannya. “Dosen itu cantik dan katanya populer. Jadi aku tertarik.”


Eih.. Doo Jin kayaknya mancing-mancing Ma Ri, nih. Tapi Ma Ri sepertinya tak sadar hal itu. Ia juga bingung mendengar niat Doo Jin ingin mengunjungi kafe tempatnya bekerja. Untuk apa? “Untuk minum kopi, lah. Masa iya aku ke kafe untuk makan seafood?”

Duh, dan Ma Ri tetap tak ngeh juga akan isyarat Doo Jin.


Siang ini Hyun Sook akan menemui Doo Jin dan Lee Moon Hak. Ia ingin memberi kesan baik, maka ia pergi ke apartemen Hyun Jung, mencari baju yang cocok untuknya. Tak disangka, Hyun Jung pulang cepat.


Tentu saja Hyun Jung marah-marah melihat kelakuan adiknya yang memporakporandakan rumahnya. Hyun Sook memohon agar kakaknya meminjamkan baju yang ia pakai hari ini saja karena ia ada suatu keperluan. Hyun Sook bertanya, keperluan apa? Ia langsung curiga pada adiknya, “Kenapa kau seperti ini? Apa kau tak merasa bersalah sedikitun saat Ibu mengatakan niatnya untuk menjual rumah?”


Hyun Sook tentu saja merasa bersalah. Hyun Jung melarang Hyun Sook melepas Goo Min, karena dengan kemampuan Hyun Sook sekarang, tak ada yang bisa Hyun Sook lakukan. Hyun Sook marah dan Ia memukul kakaknya dengan kotak sepatu. Ia mencopoti semua bajunya dan menggerutu. Hyun Jung sombong sekali dan selalu meremehkannya. 


Hyun Jung yang mengalami persoalan di kantornya tak kuat lagi dan berkata, “Sejak kecil kau selalu membuat masalah. Kau memiliki bayi ketika kau berusia 20 tahun.” Mata Hyun Sook berkaca-kaca mendengar ucapan kakaknya. “Aku terus membaktikan hidupku untuk Ibu. Kuliah di universitas yang bagus dan diterima di perusahaan yang bagus untuk Ibu. Aku harus berusaha dua kali lebih keras untuk menggantikan jatahmu.”

Hyun Jung terisak dan menyuruh adiknya pergi.


Memakai baju Hyun Jung, Hyun Sook menemui Lee Moon Hak dan Doo Jin dengan ditemani oleh Jong Mi. Hyun Sook menceritakan semuanya pada mereka dan Lee Moon Hak pun tak setuju dengan perlakuan guru Hyun Sook itu. Doo Jin bertanya, apa yang dilakukan Hyun Jung saat mengetahui masalah Hyun Sook.


Hyun Jung tak bisa melakukan apa-apa karena ia dan kakaknya beda sekolah. Hanya saja saat Hyun Jung tahu kalau buku hariannya dibuang oleh gurunya, Hyun Jung pergi ke tempat sampah sekolah dan terus mencari buku itu. Saat itu Hyun Sook yang sudah putus asa, mengajak kakaknya pulang. Buku hariannya itu hanya berisi cerita-cerita yang malah membuat orang depresi.


Tapi Hyun Jung tak mau. Mereka tak akan pulang sebelum menemukan buku harian itu. Hyun Sook merasa Hyun Jung meremehkannya dan ia mendorong  kakaknya. Kakak beradik itu sempat berkelahi, tapi terhenti karena hujan turun dan Hyun Jung kembali mencari buku itu di tumpukan sampah.


Moon Hak heran, mengapa Hyun Jung bersikeras mencari buku harian Hyun Sook seperti itu? Kata Hyun Jung saat itu adalah, “Satu-satunya hobimu adalah mendengarkan radio dan menulis buku harian. Kau harus menemukannya. Jika kau kehilangan buku itu, kau akan lebih kecewa lagi.”


Hyun Sook masih merasa kakaknya sombong. Tapi rupanya Hyun Jung sejak kecil memiliki tekad yang kuat. Tak mempedulikan ucapan adiknya, Hyun Sook terus mencari dan mencari  di tengah derasnya hujan. Melihat kakaknya yang keras kepala, Hyun Sook mengambil plastik dan memayungi kepala kakaknya.


Dan ketemu! Hyun Sook berhasil menemukan buku harian itu. Hyun Jung memberikan buku itu dan memeluk adiknya penuh kasih sayang.


Moon Hak sangat terkesan mendengar cerita itu. Ia tak menyangka kalau Hyun Jung sudah mengagumkan sejak kecil. Ia bertanya siapa nama guru Hyun Sook itu dan nama sekolah Hyun Sook.
“Guru Na Mal Nyeon dari kelas 10-3 di SMA Putri Jinsun Seoul.”


Keduanya terbelalak mendengar nama itu. Apalagi saat Hyun Sook memberitahu nama guru itu yang telah berubah menjadi Na Hyun Ae.


Hyun Ae mengunjungi rumah Ma Ri dengan membawa buah untuk Guru Kang dan sangat terkesan dengan besarnya rumah Ma Ri. Ia menilai rumah itu bisa dijual lebih dari 1 Milyar Won. Sayang Guru Kang sedang pergi dan Asisten Park meminta Hyun Ae menunggu sebentar.


Hyun Ae melihat banyak majalah dengan foto Leif Garett berserakan di bale-bale, merasa heran akan selera si empunya. Mo Ran yang sedang ada di dapur, mendengar suara tamu dan beranjak keluar.
Hanya menunggu hitungan detik saja, kedua wanita itu akan bertemu.

Komentar :

Uwahhh… apa akan ada jambak-jambakan lagi?


1 comment :

  1. Wuah bak Dee....saya sudah galau nonton episode 13 meski gak ngerti bicaranya apa?????
    Takutnya karena do jin dan lee roo saudara tiri...jangan2 lee roo yang anak kandungnya hyun ae yah????ottokea??? Kan do jin cuma anak tirinya hyun ae meski dia yg tinggal bersama....
    Sepertinya do jin menyukai Mari yah????
    Tp kalau dg do jin saja yg mari tau adl anak tiri hyun ae saja dia jaga sikap...gimana nanti kalau benar lee roo anak kandungnya hyun ae????kasihan Mari dan lee roo donk, dg do jin jg....gara2 satu orang (fuih jd beribet)
    Mana saya suka bgt Ma-roo couple......
    Kamsahamnida bak Dee!
    Keep writing and fighting!

    ReplyDelete