April 24, 2015

Secret Door Episode 6 - 2

 

Yang belum baca cerita sebelumnya, bisa klik Secret Door Episode 6 - 1 ya^^




Pangeran menuju tempat Menteri Park sebelum tidur untuk memberikan teh dan meminta tolong kepada gurunya itu agar mengirimkan tabib bagi Ibu Heung Bok. Ia tidak bisa melakukannya. Orang lain bisa mengira dia bersekongkol dengan penghianat, meski Heung Bok bukan penghianat.

Namun Menteri Park berujar dia sudah melakukannya. Dia bahkan berpesan kepada tabib tersebut supaya merawatnya diam-diam. Jadi Pangeran tidak perlu cemas.


Lee Sun sangat berterimakasih kepada gurunya. Menteri Park bahkan memenuhi permintaannya tanpa diketahuinya. Ia tidak akan melupakan kebaikan Menteri Park.

Jadi,


“Apakah penyelidikan Anda masih berlanjut? Apakah Anda tidak berniat menghentikannya? Saya sangat khawatir Anda bisa terluka.”

Menteri Park seolah mengatakan, jika memang Pangeran berterimakasih padanya, bisakah Pangeran berhenti menyelidiki kasus Heung Bok.

Tetapi muridnya itu justru membalas dia akan memberikan teh lagi besok. Dia ingin Menteri Park menjaga diri agar bisa melayani dirinya dan Raja lebih lama. Pangeran tidak ingin Menteri Park memusingkan penyelidikannya. Ia tersenyum memegang tangan gurunya.


Haha, tidak jauh berbeda dengan Lee Sun yang membawakan Menteri Park teh sebagai bentuk perhatiannya, Raja juga mengundang Perdana Menteri Kim Taek ke kediamannya untuk memberikan sup ginseng dengan alasan yang sama. Padahal mah Raja mau mengintimidasi Perdana Menteri saja.  Sup ginseng ini pernah mereka berdua sajikan kepada Raja Gyunjong sebelum wafatnya dan diindikasikan sebagai penyebab kematian Raja.

Perdana Menteri tentu tidak mau menerima.



Raja pun berujar, “Jika kau tidak menginginkannya, lakukanlah pekerjaanmu dengan benar.”

Raja menanyakan mengapa membunuh satu orang saja butuh waktu lama.

Perdana Menteri beralasan dia tidak berencana membunuhnya untuk saat ini. Raja tidak mengerti dan bertanya balik apa maksud Perdana Menteri. Yang ditanya hanya menyarankan Raja tidak boleh menghancurkan (rencana)nya dan menunggu. Ia tidak pernah gagal. Raja tidak bisa berada di tempatnya sekarang bila dia gagal.

Raja meninggikan suaranya meminta penjelasan dan Perdana Menteri menuturkan alasan sebenarnya.


“Apabila saya membunuhnya, Maenge mungkin akan dikirimkan ke Soron.”

Raja tertawa mengulang perkataan Perdana Menteri Kim di hadapan Kepala Kasim. Tapi itu bukan tawa bahagia...


Menteri Park mendatangi Raja yang tengah membersihkan telinganya (kebiasaan Raja Yeongjo saat moodnya buruk). Ia meminta Menteri Park menyelamatkannya dengan membawakannya Maenge. Lagi-lagi Ia berkata membutuhkan Maenge untuk bisa mengatur negeri. Namun Menteri Park tidak mengiyakannya,


“Yang saya bisa lakukan sekarang hanya membawakan Paduka handuk…”

Bener banget ngelesnya! #eh.


Flashback
30 tahun lalu Partai Soron berencana mengucilkan Lee Geum (Raja Yeongjo) yang baru 2 tahun menjadi Putra Mahkota. Soron tidak terima Lee Geum, putra dari dayang pembawa air sampai ke posisi ini. Karena bantuan Noron saja, Lee Geum bisa seperti sekarang. Tapi mereka tidak akan membiarkannya naik tahta. Penerus Raja Gyungjong (kakak Lee Geum) haruslah putranya sendiri mengingat Raja sudah berusia 36 tahun. Kalaupun Raja tidak bisa memiliki putra, Soron sendiri yang akan “membawakan” putranya.

Mereka berniat membuat peraturan bagi anak Putra Mahkota Geum nanti. Setidaknya setelah mereka mampu menghalangi pengakuan terhadap posisi Lee Geum, dengan sering absen dalam rapat-rapat sang Putra Mahkota.


Tetapi Park Moon Soo tidak turut menjalankan rencana itu. Ia tetap duduk menemani Putra Mahkota Geum.

 

Lee Geum senang tidak ditinggalkan sendiri. Ia berterimakasih pada Park Moon Soo.

Ia yang menjadi Putra Mahkota (pengganti Raja) karena kekuatan Noron, orang-orang pengancam Raja, memang pendosa. Ia merasa pantas ditinggalkan.


Namun meski ia tahu itu, ia tidak bisa mengatakan tidak. Sebab ia ingin hidup dan inilah satu-satunya cara agar dapat bertahan.


Orang-orang yang mengaku akan membantunya sebelumnya justru melakukan pemberontakan dan dibunuh. Bagaimana tidak, kalau menurut Lee Geum ibunya (Choi) adalah pembunuh ibu Raja saat ini (Jang Heee Bin). Lee Geum mengerti ia seharusnya mati sebagai penebus dosa ibunya. Tetapi untuk sekarang, setelah dirinya menjadi Putra Mahkota, Lee Geum hanya bermimpi menjadi Raja yang seharusnya. Jadi dia meminta Park Moon Soo untuk kembali lagi di rapat-rapatnya selanjutnya.

Flashback end.



Menteri Park menanyakan mengapa Raja Yeongjo tidak memintanya 30 tahun lalu ketika Raja masih menjadi Putra Mahkota. Semua belum terlambat saat itu, sehingga Menteri Park tidak akan menolaknya seperti sekarang.


Sambil melanjutkan membersihkan telinganya Raja yang naik darah menjawab, Menteri Park bisa dibunuh oleh Soron dan dirinya sendiri tidak bisa menjadi Raja.

Raja Yeongjo bukan berambisi menjadi penguasa. Hanya saja dengan posisi inilah dia bisa mewujudkan mimpinya. Dimulai dengan mendirikan kerajaan yang kuat, Raja bisa lebih memperhatikan rakyat.

Lantas bagaimana kalau Maenge tiba-tiba muncul sekarang, padahal Raja bahkan belum melakukan apa-apa? Kekacauan yang ditimbulkan Maenge justru akan membuatnya tidak bisa mengurusi rakyat. 


“Aku tidak melakukannya untuk diriku.” Kata Raja meyakinkan. Ia meminta Menteri Park memikirkan rakyat dan tahu apa yang harus dilakukan. Setuju membantunya menghancurkan Maenge atau tidak.


Lucunya, Menteri Park memuji Raja yang memelas di hadapannya sebagai seorang actor yang hebat. Ia tahu ia luluh karena air mata Raja, namun lagi dan lagi ia tetap luluh karenanya.


Ckckck sepeninggal Menteri Park Moon Soo, Raja menunduk di singgasananya. Lemas tanpa sisa air mata yang tadi sempat terurai saat merengkuh sahabat lamanya itu.


Di kamar Pangeran, ada dayang mencurigakan yang mengambil sesuatu dari laci. Ia beralasan hanya menjalankan tugas waktu ditanya Dayang Choi. Padahal ia mencuri pisau Pangeran dan menyerahkannya pada Perdana Menteri.


Perdana Menteri berniat menggunakan pisau tersebut untuk membunuh Ji Dam sekaligus memfitnah Pangeran…


Pangeran sendiri tengah membuka-buka buku gambar Heung Bok yang berfungsi seperti buku harian. Ia tersenyum melihat potret Ji Dam di dalamnya. Teringat Ji Dam  yang menyetujui pemikirannya. Dunia yang sama bagi semua orang.

Kemudian Pangeran sadar, ada tulisan asing. Tulisan di samping setiap gambar dalam halaman tersebut membuat Pangeran tahu bahwa Hwabootado bukanlah pisau dan dia harus memastikannya di kantor pelukis istana.

Tapi Pangeran, Ji Dam dalam bahaya!

 

Pasukan Byung Joong In akhirya menemukan Ji Dam di gibang T.T

“Saya tidak akan menerima kriminal menjadi gisaeng di tempat saya.”

Saat Woon Shim  mengatakan Ji Dam bukan gadis perpustakaan rahasia  yang mereka cari (pelapor palsu buron yang melaporkan kematian Heung Bok di Soopyo), Joong In justru meminta hal yang mengerikan.

“Kau harus melayaniku hari ini.”
Joong In beranlaogi, jika Ji Dam menolak berarti dia adalah gadis perpustakaan Saecheck. Sebaliknya, Ji Dam seharusnya tidak menolak  jika dia memang seorang gisaeng.

  

Malangnya, Ji Dam mengorbankan dirinya menjadi gisaeng malam itu. Di kamar berdua bersama Joong In, membuat saya dejavu dengan kejadian Chung Jo (Gu Family Book). Please, semoga nggak bernasib sama!!!


Lalu Woon Shim tiba-tiba membuka kamar mereka dan berkata malam ini Buyongjae tu-tup. Yeeeeee


Byung Joong In yang kesal, keluar dan mendapati Pangeran berdiri di hadapannya. LOL padahal dia sudah mengumpat orang yang mengusik rencananya.


“Hengsoo (=bos), rok gadis-gadismu pasti mencurigakan. Kalau tidak, mengapa seorang petugas militer datang ke sini untuk penyelidikan?”

Hihihi, bisa aja nih Pangeran. Nggak lupa juga nyindir Joong In yang nggak langsung pergi. Apa mau ikutan masuk tanyanya. Jiah! Mana mau atuh, kan maluuuuuu >.<


Pangeran kemudian mendapati Ji Dam duduk sendiri, menunduk. Tampak ia masih trauma.



Pangeran pun meminta maaf setelah menanyai keadaannya. Namun Ji Dam tidak menjawab, malah menanyai balik perkembangan penyidikan Pangeran.


Ya ampun, siapa yang nggak melted sama perhatiannya Ji Dam?^^ Pangeran tersenyum menatapnya. Bercerita kalau dia sudah menemukan arti Hwabootado dan meminta Ji Dam pergi ke Dohwaseo dengannya.



Tetapi mereka diserang dalam perjalanan ke sana.


Untung saja ada Chul Joo xD Ji Dam selalu selamat karena kedua pria keren itu. Bikin iri deh…


Tulisan Hwabootado rupanya bisa dibaca Ban Tado atau Ban Chado. Sebuah kode pelukis kerajaan yang diketahui Pangeran dari buku gambar Heung Bok.

“Ada dokumen yang merekam perayaan keluarga kerajaan, disebut Euigye. Gambar di dalamnya disebut Ban Chado.”


Raja bingung, seolah bertanya-tanya bagaimana Ban Chado bisa menyimpan petunjuk Heung Bok.


Apalagi Pangeran dengan mudah mengenali Ban Chado yang dilukis sahabatnya itu. Hey, semuanya terlihat sama -.-


"Penjahatnya..."

Bersambung. Secret Door Episode 7

Komentar:


Penulisnya cerdas :)

Penonton digiring perlahan untuk menemukan petunjuk-petunjuknya. Jadi lebih alami karena jika ditemukan cepat, kasusnya justru akan terasa mudah.

Sayang, tidak semua suka dengan alur lambat seperti Secret Door dengan romance yang cukup minimalis wkwkwk.


Lha kebanyakan pemainnya ahjussi-ahjussi kece sih :P

1 comment :

  1. Halo Pecinta Korea:)

    Perkenalkan, saya Dewi dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi music dn filem menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Oh ya, di sana anda bisa dengan bebas mendowload music, foto-foto, video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    ReplyDelete