April 10, 2015

Secret Door Episode 6 - 1


Sebelumnya di episode 5

Penyelidikan Pangeran berlanjut. Ia menulis banyak “Hwabootado” (pesan kematian Jung Woon di episode 4) di atas kertas sepagi ini.


Penasihat Cha saja bingung saat mengunjunginya untuk melaporkan asal panah yang menyerang mereka tadi malam.

Mendengar panah tersebut berasal dari perajin senjata di kantor pemerintahan Joseon, Lee Sun memperkirakan pelakunya adalah seorang pegawai pemerintah. Namun Penasihat Cha membalas jika pelaku mungkin mencurinya untuk membingungkan Pangeran. Smart, memikirkan kemungkinan yang lain^^

So, back to Hwabootado yang menjadi satu-satunya kunci menemukan pelaku saat ini.


“Apakah itu sejenis pisau?”

Dengan ragu Lee Sun mengatakan Hwabootado bisa jadi sebuah nama yang terukir di atasnya. Yang jelas, yang memilikinya adalah seorang penjahat dan dia sudah menugaskan seseorang untuk mencari tahu pemiliknya.


Ow, jangan kecewa ya Penasihat Cha kalau Lee Sun sudah menyuruh Dayang Choi lebih dulu :P

Berkedok sebagai seorang yang memesan pisau perak berornamen, Dayang Choi lantas memberikan uang cukup banyak pada perajin besi terbaik di kota untuk mencari tahu Hwabootado.


Di waktu yang bersamaan, Kasim Jang melaporkan ada beberapa bawahan Lee Sun yang mencurigakan karena bawahan ini juga mengambil senjata di tempat yang sama dengan pelaku.

“Bagaimana saya bisa tahu pikiran Paduka?”

Haha, Raja menyuruh Perdana Menteri Kim Taek menghadapnya hanya untuk melempari Perdana Menteri dengan bidak-bidak permainannya. Walaupun perbuatan Perdana Menteri Kim Taek belum terbongkar Lee Sun, Raja tetap merutuk Perdana Menteri yang pura-pura tidak tahu alasannya memanggil petinggi Joseon itu.


 “Seberapa jauh kau akan melanjutkan? Apakah kau senang mengangkat sendiri Raja berikutnya?”

Jelas Perdana Menteri membantah. Tetapi Raja kemudian bertanya kalau bukan karena itu, mengapa Perdana Menteri menyerang putranya. Sebagai bukti ketidaklibatan Perdana Menteri, Raja meminta Perdana Menteri membawakan kepala orang yang menyerang calon Raja berikutnya (Pangeran Lee Sun).


Perdana Menteri yang ngegemesin karena mengaku butuh waktu untuk itu (padahal cepet banget menutupi perbuatan kotornya) tetep keliatan lucu dengan wajah betenya >.<


Pengawal mata-mata suruhan Perdana Menteri, Shadow memerintahkan Byung Joong In dkk mencari Ji Dam. Byung Joong In yang pernah menerima laporan Ji Dam di jembatan Soopogyo berkata dia tidak tahu di mana Ji Dam. Ia seolah menolak sopan tugas yang menurutnya cukup sulit.

Shadow tidak menerima pernyataan Byung Joong In. Kepala Pendekar Barat tersebut mendapat goresan di wajah karena Ji Dam, jadi bila Byung Joong In tidak bisa menemukan Ji Dam...


ia akan mendapati pedang menusuk perutnya.
  
 

Ji Dam sendiri didandani Woon Shim untuk menyamar sebagai gisaeng atas permintaan Ayah. Ayah ingin putrinya tinggal di Buyongjae sementara karena Ayah cemas Ji Dam bisa tertangkap kalau tetap berada di rumah. But….


 Ji Dam is toooooo beautiful to be here, Father.


Woon Shim saja sampai berandai-andai jika benar Ji Dam adalah gisaeng, semua pria kaya akan mengantri di gibangnya.

Ayah tahu Ji Dam memang cantik (putrinya siapa? ^^). Ia bahkan sempat tidak bisa mengenali Ji Dam. Jadi hati-hati ya, Ji Dam! Ingat pesan Ayah yang sebenarnya berat meninggalkanmu di sini #cieeee

 

Ji Dam pergi ke kamar Choonwol (gisaeng pacar Jung Woon) sepeninggal Ayah, namun Choonwol tidak ada di sana. Kamarnya berantakan. Ji Dam pun tahu Choonwol diculik. Ia lantas menggeledah laci-laci di kamar Choonwol, mencari sesuatu yang mungkin disembunyikan Choonwol sampai membuatnya diculik.


Benar saja, Ji Dam menemukan buku gambar Heung Bok yang sejak lama dicari Pangeran.


Sementara itu Pangeran sedang mengurus hal lain di istana. Ia memeriksa siapa pengawalnya yang mencurigakan. Pangeran pura-pura mengumpulkan mereka untuk mengetes senapan api yang baru didapatnya dari kantor militer.

Melihat ada pengawal dengan luka di dekat mata kirinya (seperti kata Chul Joo), Pangeran menghampiri si pengawal (yang memang adalah Shadow) dan menanyainya.

 

“Apakah kau berkelahi dengan seseorang tadi malam?”


Shadow mengiyakan bahwa dia memang berkelahi dengan seseorang di gibang tadi malam. Pangeran tidak langsung percaya. Pangeran balik bertanya lokasi gibang tersebut. Wanita-wanita di sana pasti cantik sampai dipertaruhkan dengan pedang oleh Shadow. Skak mat!

  

Dugaan Lee Sun kemudian teruji kala melihat Shadow tidak bisa menembak sasaran. Rekan Shadow bahkan bercerita Shadow memang lebih pintar berkelahi dengan tangan kosong daripada memakai busur dan senjata api.

Jadi ibu jari Shadow yang terkelupas (sampai kehilangan sidik jari) adalah bukti latihan memanahnya yang gagal terus menerus?


Aih, meskipun dia memiliki ciri yang disebutkan Chul Joo, Penasihat Cha berkata kalau luka itu mungkin kebetulan sama. Sebab berbeda dengan si pengawal yang tidak bisa menembak, penyerang mereka tadi malam merupakan penembak jitu.


Kepala Shin Chi Woon dari Soron terkejut dengan pesan misterius yang disampaikan kepadanya.


Pengirim pesan yang ternyata adalah Shadow mengaku memiliki Maenge, dokumen yang berhubungan dengan Noron dan kematian Raja Gyeongjo (kakak Raja Yeongjo, Raja sebelumnya).

Ia lalu pergi menemui Menteri Park (guru Pangeran) untuk mengabarkan hal ini.


Tak ayal Menteri Park sama-sama terkejutnya. Bagaimana mungkin dokumen yang ditutup rapat oleh Noron justru ditawarkan kepada Soron?


Lee Jong Sun yang geram karena Menteri Park tidak memberitahunya sejak awal sehingga menyebabkan banyak pihak Noron terbunuh waktu pemberontakan menentang Raja Yeongjo, berniat akan menyetujui tawaran Shadow dan mendapatkan Maenge untuk membalas dendam.

 

Sedangkan Menteri Park yang tidak ingin membuat api lebih besar, kemudian membicarakan soal Maenge dengan Perdana Menteri Kim. Ia menganjurkan Perdana Menteri memeriksa kembali Maenge di tangannya asli atau tidak. Meski awalnya Menteri Park malah diledek balik oleh Perdana Menteri, Menteri Park meyakinkan dengan bercerita ada seseorang yang membuat kesepakatan dengan dokumen itu sebagai imbalannya.


“Kang Pil Jae!” seru Perdana Menteri. Gemes baru tahu Maengenya tidak asli.

Tetapi Perdana Menteri diminta datang sendiri ke markas Pendekar Barat yang dipimpin Shadow alias Pil Jae itu jika ingin bertemu. Wkwkwk kok atasan mau aja disuruh bawahan?


To The Point, Perdana Menteri meminta Maenge yang asli pada Pil Jae.


Sayangnya Pil Jae dengan berani menyatakan ia akan menjaganya tetap aman di tempatnya. Bukankah kelompok Pendekar Barat dan Noron adalah rekan? Jadi jika Pil Jae punya, Perdana Menteri pasti punya juga.

Atau Perdana Menteri menganggap mereka layaknya ekor yang bisa digunakan kapanpun Perdana Menteri suka dan “dipotong” saat Perdana Menteri tidak membutuhkannya? Jika benar, maka sebaiknya Perdana Menteri mengubah pikirannya sebab Pil Jae tidak ragu mengirimkan Maenge pada Soron.


“Kau benar-benar sesuatu. Aku menyukaimu lagi dan lagi.” ucap Perdana Menteri bangga.

Mmm…Perdana Menteri tampaknya senang berpartner dengan orang yang pintar seperti dirinya.


Woon Shim mengirim seseorang untuk mencari Choonwol di rumah keluarganya, tapi Choonwol juga tidak ada di sana. Ji Dam merasa perlu menemui Pangeran untuk memberitakan ini.



Sayang, kepergian Ji Dam dari Buyongjae dilihat oleh Byung Joong In yang merasa mengenalnya.

Sigh, kalo udah didandanin malah lebih gampang dikenalin…  


Melihat Ji Dam yang lagi-lagi melaporkan perkembangan kasus Jung Woon dan Heung Bok, Pangeran sebenarnya khawatir. Terlalu berbahaya bagi gadis itu.


Namun Ji Dam beralasan meski Pangeran mendorongnya pergi, dia akan tetap dalam pendiriannya. Sebab dia ingin hidup di duna impian Pangeran, negara yang dipimpin seorang Raja yang melayani rakyatnya sama seperti rakyat melayaninya. Di mana nyawa orang lain sama berharganya dengan nyawanya sendiri. Jadi dia tidak akan menyerah.

Pangeran hanya terdiam.


Nama ayah mertua Pangeran, Hong Bong Han ada dalam buku gambar Heung Bok yang dibawa Ji Dam. Nama Hakim Hong berada di lembar yang sama dengan Lee Chun Bo dan Yoo Chuk Gi. Pangeran terkejut, tapi Asisten Cha meyakinkan Pangeran kalau mereka semua memang dari Noron.


Pangeran baru tahu Heung Bok menggambar mereka sebelum meninggal. Padahal Heung Bok berjanji untuk tidak menggambar potret diri orang lain selain Raja dan Pangeran (potret diri Raja biasanya digunakan sebagai pengganti foto untuk mengabadikan wajah Raja). Artinya, Heung Bok punya alasan lain mengapa ia menggambar mereka.

“Mungkin ada pengawal yang membocorkan informasi kita.” ujar Pangeran menyimpulkan.


Penasihat Cha menanggapi, “Bukankah Kasim Jang mengatakan demikian?”

Jadi informasi yang didapat Putri Hyegyeong dari bawahannya, disampaikan ke ayahnya juga? Lee Sun ragu. Tetapi perkataan Penasihat Cha yang mengatakan itu mungkin, apalagi jika Noron memang terlibat, membuatnya berpikir ulang.

“Yang Mulia tidak bisa mengabaikan kalau dia (Menteri Hong) pun anggota Noron.” lagi-lagi Penasihat Cha memberi saran.


Sebelum kembali ke istana, Pangeran tidak lupa berpesan agar Ji Dam berhati-hati tidak menunjukkan wajahnya. Pangeran meminta Kasim Jang mengikuti Ji Dam, memastikannya kembali dengan selamat.


Sedangkan Pangeran sendiri menangkap penguntit yang dikirimkan Putri Hygeyeong.

Malam itu juga dia pergi ke kediaman permasurinya. Dan Putri menanyainya dingin,


“Mengapa Anda menemui saya tanpa pemberitahuan apapun?”


Pangeran tidak lantas menjawab. Ia memberikan Putri kotak berisi 3 buah norigae (hiasan hanbok) kemudian balik bertanya, apakah Putri menyukainya?

Putri membalas, apakah Dayang Choi yang memilihnya?


Seolah membenarkan, Pangeran bercerita jika menurut Dayang Choi Putri lebih cocok dengan yang seperti ini daripada yang berkilau. Namun Putri justru berkilah. Dia seorang yang akan menjadi Ibu negara ini, jadi mengenakan yang berkilau adalah untuk menunjukkan kalau dialah Ibu negara. Putri tidak bisa menggunakan yang seperti ini. Lagipula daripada menghabiskkan waktu dengan hal-hal tidak berguna (seperti ini maksudnya?), harusnya Pangeran memperhatikan hal lain.

Pangeran pun mengutarakan alasan sebenarnya,


“Karena kau terlihat bosan.” 

Awww, Pangeran peduli…

Sudah sepuluh tahun sejak Putri masuk istana. Pasti itu membosankan dan membuat depresi saja. Apalagi Putri tidak suka bermain. Jadi wajar bila Pangeran meminta Putri mencari kesenangan bagi dirinya.

Tapi Putri beralasan dia tidak datang ke istana untuk piknik dan nada bicara Pangeran berubah. Ia bertanya lagi mengapa Putri tidak mencari sesuatu untuk dimainkan sekarang. Sebab sampai kapan Putri menyuruh seseorang menguntitnya? Bahkan Putri tidak segan menyewa pengawal Pangeran sendiri.


Putri yang sempat tegang mendengar pertanyaan Pangeran, menjawab dengan kesal pula. Ia tidak akan melakukannya bila Pangeran tidak membawa gadis luar ke istana. Kalau Pangeran ingin memiliki selir, Putri meminta Pangeran memilihnya dari dayang istana saja. Jangan membuat kekacauan dengan membawa masuk gadis dari luar.


“Kau bahkan memiliki khayalan seperti itu.”

Ya namanya juga istri, Pangeran...

Pangeran meyakinkan Putri, tidak ada apapun yang terjadi seperti apa yang dipikirkannya. Jadi wajar jika Pangeran meminta Putri fokus pada hal lain dan berhenti memata-matainya. Ini terakhir kali ia meminta kepada Putri dengan baik-baik.


Putri kemudian berdiri, memberi hormat kepada Pangeran yang hendak pergi. Namun sebelum mencapai pintu, Pangeran berbalik.


“Bila kau tidak menyukai norigae, bagaimana dengan garakji (cincin)? Kalau ada sesuatu yang kau sukai, biarkan aku tahu. Aku akan membawakannya untukmu…”


Entah karena melted (seperti saya) atau tidak, Putri tampak berkaca-kaca. Ia mendesah.


Sekeluar Pangeran dari kamar sang permaisuri, ia menyuruh Penasihat Cha (yang menunggunya) memecat pengawal penguntit tadi dan melupakan perihal Putri.


Penasihat Cha tidak langsung setuju, tetapi melihat tatapan serius dari Pangeran, ia akhirnya mengiyakannya.

Dan bagaimana dengan Putri Hygeyeong?


Ia melihat kembali norigae pemberian Pangeran,

“Kau memberikannya tanpa perasaan apapun. Itu tidak berguna.” katanya.

Putri tersenyum kecut menutup kotak tersebut dan saat Dayang Kim menanyakan alasan Putri tidak mengungkapkan perasaannya, ia berkata, “Aku adalah Ibu negeri ini. Aku tidak mengemis kepada Pangeran dengan emosiku. Aku hanya melayaninya…”

Maksudnya mengemis cinta? Sigh, what such a thought T.T

Bersambung ke Secret Door Episode 6-2

No comments :

Post a Comment