March 28, 2015

Unkind Women Episode 6

Sinopsis Unkind Women Episode 6


Ma Ri berteriak saat Roo Oh menggebrak pintu. Dahi Roo Oh hampir beradu dengan dahinya. Walau Roo Oh tak menyentuhnya  sedikitpun, nadanya mengancam saat menjelaskan kalau ia tinggal di sini, di apartemen 705 selama 2 bulan terakhir. Ma Ri buru-buru minta maaf dan menawarkan solusi, “Bagaimana kalau kau ganti menamparku?”



Haish.. solusi apaan itu. “Perlihatkan wajahmu,” perintah Roo Oh membuat Ma Ri bingung. “Tadi katanya kau mau kutampar.” Ma Ri buru-buru memejamkan mata dan menyodorkan pipi kanannya, 


Roo Oh kembali berkata, “Aku ini bukan kidal.” Ma Ri sedikit bingung, tapi sadar kalau ia menyodorkan pipi yang salah dan memalingkan wajahnya ke arah sebaliknya. Ha, wajah Ma Ri itu bukan seperti menunggu ditampar, deh.


Roo Oh menatap Ma Ri beberapa saat, membuat Ma Ri mengintip dan bertanya mengapa Roo Oh belum juga menampar. Ia buru-buru memejamkan mata lagi saat Roo Oh mengisyaratkan untuk tutup mata. Dan plak!! Ma Ri kaget, namun pipinya tak panas.


Roo Oh hanya menepuk tangannya sendiri sehingga menimbulkan suara keras. Ia kembali marah, “Kau ini bisa dapat masalah besar kalau kau selalu melakukan apa yang diminta oleh seorang pria. Bahaya, tau!”


Ma Ri membela diri, ia ini sedang minta maaf atas kesalahannya. Tapi Roo Oh memotongnya. Sejak kapan Ma Ri pindah kemari dan apakah mereka akan bertemu setiap hari? Jika ia mengetuk pintu, apa Ma Ri bersedia meminjamkan sedikit nasi untuknya atau hal-hal lainnya?


Ma Ri tersinggung dan berkata kalau ia tinggal di apartemen bibinya selama beberapa hari. Ia hanya berhutang satu tamparan dan ia akan membayarnya saat di studio. Ia berbalik untuk membuka pintu, tapi Roo Oh sudah menutupi panel pintu itu, “Aku belum menerima permintaan maafmu. Ada warung yang jual udon enak di depan. Kau bisa membelikanku semangkuk mie dalam 10 menit. Kalau kau tak mau, ya sudah lupakan saja.”


Roo Oh berbalik dan membuka pintu apartemennya tanpa huru hara karena Ma Ri masih bengong mendengar perintah yang seenaknya itu. Ia sadar setelah Roo Oh masuk apartemennya. Ia menendang pintu apartemen Roo Oh, kesal. “Keluar dan turun sekarang juga!”


Saat Ma Ri keluar gedung, terdengar orang memanggilnya. O oh.. ternyata Ayah menunggunya di bawah untuk memarahi Ma Ri yang kabur dari rumah. Ma Ri menjelaskan kalau Ibu pergi ke sekolahnya hari ini dan berlutut untuk minta jatah kelas. “Semua murid melihatnya dan berpikir kalau aku pasti sudah mulai gila.”

“Apa karena itu kau bilang ibumu gila?” tanya Ayah marah. Ma Ri menjawab, apa Ayah mengira ibunya tidak gila? Tetap saja, menurut Ayah, kalau Hyun Sook adalah ibunya, maka tugas Ma Ri adalah merangkul ibunya.


“Ayah kan sudah mau menikah. Kenapa juga masih peduli?” tanya Ma Ri sinis. Hal itu semakin membuat ayahnya kesal dan menariknya untuk pulang. Ma Ri berteriak, menolak perintah ayahnya. Tapi ayahnya terus menariknya, meminta Ma Ri untuk mengerti semua yang dilakukan Hyun Sook adalah karena cinta.


Pas sekali, saat Ma Ri dan Ayah berbicara tentang cinta, Roo Oh muncul dari gedung. Ditambah dengan ucapan Ma Ri di studio yang mengatakan kalau ia sedang punya masalah, Roo Oh pun menyimpulkan apa yang sedang terjadi. Ia pun berseru, “Ada apa ini?!”


Ma Ri menghela nafas, bukan lega, tapi malah khawatir. Benar saja. Roo Oh meminta Goo Min untuk tak memaksa wanita jika tak mau. Ma Ri menyuruh Roo Oh untuk makan udon saja dulu dan jangan mengurusinya. Roo Oh menatap Ma Ri tajam, “Ini urusanku.”


Goo Min mengerutkan kening, bertanya siapa pemuda ini, pada Ma Ri. Tapi Roo Oh memotongnya, bertanya apa hubungan Goo Min dengan Ma Ri. Goo Min menghela nafas dan menjawab, “Aku ini ayah Jung Ma Ri.”

Roo Oh tertawa sinis, “Astagaa… kalau begitu aku ini Pamannya Jung Ma Ri.”


Bwahahaha… Ma Ri benar-benar tutup muka mendengar jawaban Roo Oh. Ayahnya pun kembali menghela nafas. Tapi Roo Oh masih tak sadar dan malah menyuruh Goo Min pergi. Ia menarik Ma Ri ke sisinya.


Goo Min juga menarik anaknya, tak mau kalah, “Aku harus bicara dengan anakku!” Roo Oh kembali menyambar tangan Ma Ri, “Aku juga ingin makan udon dengan keponakanku!”


Goo Min mengajak Ma Ri untuk makan ayam (lahh.. dikata Ma Ri doyan dibujuk dengan makanan?) Ma Ri berteriak dan melepaskan kedua tangan pria itu. Ia menoleh pada Roo Oh dan menjelaskan, “Ia memang benar ayahku. Ia mendapatkanku saat dia berusia 20 tahun.”

Roo Oh terbelalak panik dan buru-buru membungkukkan tubuh dalam-dalam untuk minta maaf. Goo Min bertanya pada Ma Ri, siapa pemuda di depannya ini. Ma Ri tak menjawab. Ia membatalkan acara makan mienya pada Roo Oh dan pada ayahnya, ia mengaku sedang tak ingin bicara pada ibunya hari ini.


Ia pun meninggalkan kedua pria itu. Goo Min berniat mengejar Ma Ri, tapi Roo Oh buru-buru menghalangi Goo Min dan tersenyum sopan, “Abeonim (ayah), ia sedang ingin sendirian, jadi mengapa Anda tak membiarkannya sendiri malam ini?”


Goo Min bertanya apa hubungan Roo Oh dan putrinya. Roo Oh menjawab kalau ia tak ada hubungan. Lalu kenapa ikut campur? Roo Oh menjelaskan kalau ia adalah guru Kendo di tempat Ma Ri berlatih dan ia pikir muridnya sedang ada dalam masalah. Goo Min mengatakan kalau Roo Oh bisa dihukum jika ikut campur tanpa alasan jelas. Roo Oh mengerti kesalahannya. Goo Min pun meminta Roo Oh untuk tak ikut campur lagi dalam kehidupan anaknya.


Roo Oh mengangguk dan meminta maaf lagi atas kejadian hari ini. Ia kembali ke gedung, tapi tak langsung ke apartemennya. Ia mengetuk pintu Ma Ri, berkata kalau ayahnya sudah pergi dan mengucapkan selamat tidur.


Pintu terbuka. Ma Ri minta maaf atas kejadian hari ini dan berjanji akan membelikan udon di lain kesempatan.

Roo Oh sudah tak terlihat marah lagi saat mengingatkan kalau Ma Ri berhutang satu tamparan. Ma Ri memejamkan mata dan menyodorkan wajahnya, “Kalau kau masih marah, kenapa kau tak memukulku sebelum kau pulang?”


Roo Oh mendorong kepala Ma Ri hingga Ma Ri masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu. “Good night,” dan iapun tersenyum.


Aww.. cute.


Ibu bermimpi suaminya kembali ke rumah dengan badan basah kuyup dan duduk di kursi kesayangannya bertanya di mana Mo Ran berada. Mimpi itu terasa sangat nyata sekali. Ibu terbangun dan memeriksa kursi itu. Benar, kursi itu memang basah. Chul Hee memang kembali. Tapi di mana dia?


Mo Ran yang baru keluar dari kamar mandi, melihat Ibu meraba-raba kursi. Ibu melihatnya dan menyuruhnya melakukan hal yang sama, untuk membuktikan kursi itu memang basah. Mo Ran menjawab kalau tadi Asisten Park menumpahkan air dari vas bunga.


Ibu terlihat kecewa mendengarnya, ternyata mimpinya tak nyata. Terbata-bata Mo Ran bertanya bagaimana penampilan Chul Hee saat itu. Ibu pun bercerita, tapi mengganti kalimat yang diucapkan suaminya, “Yeobo. Hanya satu kata itu saja.” Sekarang ganti Mo Ran yang terlihat kecewa.


Kakek dan Manager Han pergi menemani aktor lawas ke stasiun TV Doo Jin. Produser sangat senang karena banyak cerita yang bisa digali dan punya firasat kalau tim-nya akan menciptakan sesuatu yang besar. Kakek pun sangat senang meihat hal-hal yang baru seperti ini. Manager Han meninggalkan Kakek untuk membeli kopi.


Hyun Sook pergi menemui kepala sekolah SMA-nya dulu. Kebetulan kepala sekolah itu adalah guru yang baru masuk saat Hyun Sook dikeluarkan. Kepala sekolah itu berjanji untuk mendiskusikan hal ini dengan yang lain. Hyun Sook sangat senang sekali. Kebetulan Hyun Jung telepon dan ingin membagi kebahagiaan itu dengannya.

Tapi Hyun Jung menelepon untuk memarahinya yang pinjam bajunya tapi belum dikembalikan, padahal baju-baju itu dari sponsor. Ia harus mengembalikan sekarang juga.


Hyun Jung pun pergi ke studio dan mengembalikan semua baju itu. Saat keluar ia berpapasan dengan salah satu boyband yang diikuti para fans yang histeris. Dan ia seperti kembali ke masa lalu, melihat dirinya saat remaja berteriak-teriak histeris, sama seperti fans-fans itu.


Tiba-tiba ia mendengar suara dari masa lalu yang memanggil namanya. Ia menoleh berteriak kegirangan, “Guru Han!” Hyun Sook memeluk Manager Han erat.

Whoaa… itu Han Choong Gil-nya Guru Na Mal Nyeon? Sempitnya dunia..


Mereka berbincang-bincang dan Manager Han minta maaf karena saat Hyun Sook dikeluarkan, ia sedang pergi ke pemakaman sepupunya. Hyun Sook bercerita kalau ia ingin membalas dendam pada Guru Mal Nyeon dan baru saja membuat petisi ke sekolah. Ia merasa kalau kejadian itu terus menggerogoti dirinya.

Manager Han mengatakan kalau Guru Mal Nyeon memiliki alasan sendiri, tapi Hyun Sook bisa menghubunginya jika butuh bantuan. “Saat aku melihat idola-idola itu, kadang aku memikirkanmu. Kau memiliki energi yang unik. Menarimu bagus, dan imajinasimu benar-benar di luar nalar. Jika kau lahir di jaman ini, kau pasti sudah menjadi artis dunia yang terkenal.”


Hyun Sook tersipu mendengar pujian gurunya. Ia berjanji akan menelepon Manager Han. Hyun Sook meninggalkan gurunya, berselisih jalan dengan si Kakek yang mencari Manager Han.


Kakek ingin pergi ke sebuat tempat, Ahnguk-dong. Entah mengapa nama itu muncul begitu saja dari benaknya.


Doo Jin melihat Hyun Sook keluar dari gedung dan menyapanya. Hyun Sook senang bertemu dengan Doo Jin karena ia ingin menyampaikan rasa terima kasih pada ayah Doo Jin, yang dulu pernah menulis artikel membelanya. Doo Jin bingung, tapi tak sempat bertanya lebih lanjut karena Hyun Sook sudah berlalu pergi.


Kepala Sekolah menyampaikan petisi ini pada Hyun Ae. Hyun Ae geram membaca semua tuduhan di petisi itu. Ia meminta kepala sekolah untuk mengundang semua guru dan mengadakan dengar pendapat. “Aku ini memang belum sampai pada Guru Sullivan kepada muridnya Helen Keller. Tapi aku bangga berhasil menanamkan harapan dan impian kepada para murid. Aku tak tahan dipermalukan seperti ini.”

Kepala sekolah mencoba menenangkan Hyun Ae. Tapi Hyun Ae bersikeras untuk mengadakan dengar pendapat dalam minggu iini juga.


Hyun Sook dan Jong Mi merayakan kemenangan kecil itu dengan karaokean, seperti saat mereka remaja dulu. Mereka menyanyi dan menari seperti girlband jaman sekarang.


Hyun Jung muncul dan memperkenalkan tutor Hyun Sook. Aww… ini ternyata Jung Goo Min, yang muncul dengan senyum bersahabat. Cakep juga. Tapi menurut Jong Mi, Goo Min jelek sekali, padahal ia sudah meminta Hyun Jung untuk mencari tutor yang cakep agar Hyun Sook bisa fokus dalam belajar. Haha… kebalik nih otak si Jong Mi.


Goo Min langsung berkomentar kalau mereka tak punya sopan santun. Ia meminta mereka menghormati tutor yang sebenarnya adalah juga guru. Ia melempar 2 buku latihan soal ke lantai.


Kenangan itu sekarang membuat mereka tertawa-tawa dan merasa kalau Goo Min dulu lucu sekali. Hyun Sook bahagia sekali karena berhasil memasukkan petisi dan bertemu guru olah raganya kembali.


Tak disangka kalau sang tutor sudah menunggu mereka di rumah, marah pada Hyun Sook karena tak menceritakan semua kericuhan yang telah Hyun Sook buat. Apalagi ibu bersikeras untuk menjual rumah dan tak mau menyentuh uang Mo Ran sedikitpun. Ia masih punya harga diri.

Hyun Sook kaget mendengar keputusan Ibu dan berjanji akan bekerja keras untuk mengembalikan uang Mo Ran asal Ibu tak menjual rumah ini. Tapi Ibu tak mau, tetap pada keputusannya.


Goo Min mengajak istrinya bicara di kamar. Ia memarahi Hyun Sook yang tak menceritakan masalah ini padanya. Tapi ia meminta Hyun Sook tak khawatir karena ia akan mencari solusinya. Hyun Sook hanya perlu belajar.

Hyun Sook mendelik melihat buku-buku yang dibelikan Goo Min. Apa Goo Min tak bekerja? Goo Min berkata kalau ia sudah pindah perusahaan. Hyun Sook paham, pasti canggung rasanya bekerja dalam perusahaan  yang sama setelah menikah nanti. Bukannya menjawab, Goo Min malah menagih uang 100 juta wonnya, membuat Hyun Sook darah tinggi dan mendorong suaminya keluar kamar.


Mereka bertemu dengan Ma Ri yang hendak mengambil buku-bukunya. Melihat ketusnya Ma Ri pada ibunya, Goo Min menyuruh Ma Ri untuk minta maaf. Ma Ri tak mau karena walau ia menyayangi ibuny, ibunya itu juga tak mau minta maaf akan tindakannya yang keterlaluan itu.

Hyun Sook malah membalas pedas, kalau ia sudah tak sayang lagi pada Ma Ri dan menyuruh Ma Ri menghapus namanya di kartu keluarga. Goo Min hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kedua wanita yang sifatnya sama.


Ma Ri melongok ke pojangmacha depan apartemen, pasti mencari Roo Oh. Terdengar suara di belakang, “Apa yang kau lakukan di sini?” Ma Ri terlonjak kaget. Ternyata Roo Oh. Ma Ri bertanya apa Roo Oh sudah makan siang atau belum. Roo Oh heran dan memandang langit. Ini kan sudah waktunya makan malam dan bukannya makan siang.

Ma Ri tersenyum dan menarik tangan Roo Oh, “Aku akan mentraktirmu udon.”


Roo Oh menceritakan kalau Young Soo akhirnya memutuskan untuk belajar kendo dan bekerja paruh waktu , bersih-bersih dan beres-beres ruangan di studio. Ma Ri berterima kasih tapi Roo Oh menyuruh Ma Ri untuk datang setiap hari ke studio untuk berlatih. “Kalau kau jadi malas berlatih, ritme tubuhmu akan terganggu.”

“Apa kau sadar kalau kau ini cerewet sekali?” tanya Ma Ri heran.


“Kau ini adalah guru. Tugasmu sangat penting… jadi aku ingin membantumu,” jawab Roo Oh serius.
Ma Ri agak canggung dikuliahi seperti itu. Untung pesanan udon mereka datang. Ma Ri langsung menyantap udon itu lahap, membuat Roo Oh heran dan berkomentar kalau Ma Ri ini benar-benar kelaparan. Ma Ri menjelaskan kalau ia ini bisa segalanya kecuali satu. Makan sendirian.


Roo Oh kembali mengkuliahi Ma Ri. Memang Ma Ri ini umur berapa sih sampai tidak bisa makan sendiri? Ma Ri menjawab kalau banyak wanita seperti itu. Roo Oh menyuruh Ma Ri untuk berlatih makan sendiri.


Terus terngiang akan cerita mimpi Soon Ok (ibu), Mo Ran teringat saat Chul Hee melamarnya di kereta, lengkap dengan cincin berlian. Ia pun keluar kamar dan menemui Soon Ok.


Asisten Park yang baru saja mengantarkan Mo Ran ke rumah sakit memotret isi buku resep Ibu. Whoaa.. apa yang sedang kau rencanakan, Asisten Park? Ia buru-buru mengembalikan buku itu ke dalam laci saat mendengar suara Ibu yang menanyakan hasil pemeriksaan kesehatan Mo Ran. Ia menjawab kalau Mo Ran sudah kembali sehat.


Mo Ran meletakkan kotak cincin di hadapan Soon Ok. Ia akan segera pulang tapi seharusnya ia sudah memberikan  kotak itu sejak dulu. Soon Ok membuka kotak itu dan Asisten Park terkesiap melihat cincin berlian yang cukup besar di kotak itu. Mo Ran menceritakan kalau Chul Hee melamarnya menggunakan cincin itu tapi segera ditolaknya.Soon Ok bertanya, jika Mo Ran menolaknya, mengapa cincin ini ada pada Mo Ran?


Mo Ran kembali ke kenangan buruknya, saat orang-orang di kereta berteriak karena ada orang jatuh. Kotak cincin itu tertinggal di bangku kereta. Mo Ran berkata kalau ia yang membunuh Chul Hee. Soon Ok histeris dan menyerang Mo Ran dengan pisau dapur.

Mo Ran bergidik pada khayalannya. Ia akhirnya berbohong kalau Chul Hee pergi begitu saja setelah ditolak. Dan ia ingin mengembalikan cincin ini karena ia merasa tak berhak.


Soon Ok menatap cincin itu sejenak, kemudian meminta Asisten Park untuk menalikan cincin itu dengan benang merah. Ia masuk ke kamar dan merogoh kotak cincin dari laci. Berbinar menatap kotak itu, Soon Ok berkata, “Aku tak pernah menyangka kalau aku akan memiliki kesempatan seperti ini dalam hidupku!” Dan ia tertawa kegirangan.


Soon Ok meletakkan kotak itu dan meminta Mo Ran untuk membukanya. Lagi-lagi Asisten Park berteriak kaget karena cincin itu sama persis dengan cincin Mo Ran. Ibu mengatakan kalau ia mendapatkan cincin ini sebagai hadiah natal dari suaminya. Ia meminta asisten Park untuk mengikat cincin ini dengan benang biru dan akan memanggil kedua anaknya, terutama Hyun Jung.

Ia akan mengatakan pada mereka kalau ayah mereka mencintainya dan Mo Ran dengan sama besarnya. Jadi Hyun Jung harus bersikap sopan pada Jang Mo Ran. Mo Ran bingung akan kebaikan hati ibu dan meminta Ibu tak melakukannya. Tapi Ibu bersikeras.


Hyun Sook mengepel kamar Ma Ri sebersih-bersihnya tapi ngomel-ngomel sendiri, masih kesal pada Ma Ri. Ha.. benar-benar aneh. Tapi kekesalannya luntur saat tak sengaja menemukan undangan VIP (yang diberikan oleh Hyun Ae pada Ma Ri di restoran) dengan pesan, “Aku tahu kalau Ibu pasti membersihkan dan mengepel kamarku. Pergilah bersama Bibi Jong Mi.”


Hyun Sook tersenyum bahagia. Ia semakin bahagia saat ada SMS masuk dari kepala sekolah SMA-nya yang akan mengadakan dengar pendapat besok pagi dan mengharap kehadirannya.


Acara itu dipimpin oleh kepala sekolah dan mempersilakan Hyun Sook untuk bicara lebih dahulu. Setelah memberikan pembukaan sedikit, Hyun Sook berkata kalau ia benar-benar tak mencuri scarf itu. Karena itulah ia minta agar keputusan ia dikeluarkan segera dianulir.

Kepala sekolah kemudian memberikan kesempatan pada Hyun Ae untuk bicara. Pada awalnya, Hyun Ae berkata kalau ia merasa sedih atas semua yang terjadi, membuat Hyun Sook berbesar hati. Tapi kemudian ucapan Hyun Ae turun drastis.


Hyun Ae berkata kalau ia melihat bagaimana Hyun Sook berasal dari keluarga tak mampu dan tak pintar. Dan itu membuat Hyun Sook harus menimpakan kesalahannya pada orang lain. Ia menyesal tak bisa membantu Hyun Sook memperbaiki sifatnya itu. Ia bahkan telah mengatur tempat duduk berdasarkan rangking, tapi tetap saja tak ada gunanya.  Hyun Sook tetap tak mau belajar giat.

Hyun Sook kaget dengan ucapan Hyun Ae yang tak berhubungan dengan tujuan pertemuan ini. Kepala sekolah pun juga setuju. Dengan wajah lembut, Hyun Ae pun bertanya  apa yang memicu Hyun Sook memberikan petisi ini. Hyun Sook menjawab kalau ia belum bisa melupakan kejadian itu, sehingga ia merasa selalu terintimidasi dan hidup tanpa rasa percaya diri.

“Apa karena itu makanya kau pergi ke rumah judi?” nada Hyun Joon kembali tajam. Ia mengacungkan petisi itu dan menuduh Hyun Sook membuat petisi untuk menuntutnya atau sekolah untuk mendapatkan uang. ”Ataukah ia akan membuat sebuah keributan yang lebih besar lagi?”


Hyun Sook langsung menyela Hyun Ae. Tapi kepala sekolah bertanya apakah Hyun Ae memang berjudi dan dipanggil ke kejaksaan? Hyun Sook mengakui, tapi ia tak melihat ada hubungannya. Kepala sekolah menghela nafas. Ia berdiri dan meminta pendapat para guru.


Di kantor, Ma Ri bertemu dengan Doo Jin. Ia bertanya apa alasan Doo Jin ke kampus saat itu. Mulanya Doo Jin tak mau jujur, tapi akhirnya ia berkata kalau ia tak tenang setelah mendapat SMS dari Jae Kyung. Ma Ri merasa sangat malu karena hal itu, tapi Doo Jin mengatakan kalau anak-anak jaman sekarang sebenarnya tak begitu peduli dengan urusan orang lain.

Doo Jin berkata kalau ia juga bertemu dengan ibu Ma Ri kemarin. Ia mendapat titipan ucapan terima kasih untuk ayahnya, sama seperti Ma Ri sebelumnya. Sebenarnya ada apa?

Ma Ri pun menceritakan semuanya. Bagaimana sekolah menskors ibunya karena menyambut histeris seorang artis Leif Garett dan wajahnya muncul di koran. Semua koran menghujat ibunya dan menganggap ibunya remaja bermasalah, kecuali ayah Doo Jin.

Doo Jin terkejut dan bertanya apakah ibu Ma Ri dibebaskan dari skorsing? Ma Ri menggeleng. Ia merasa sesuatu pasti terjadi setelahnya dan akhirnya ibunya tak bisa lulus.


Hyun Sook terduduk lemas mendengar keputusan para guru yang tidak meluluskan petisinya dan mengaggap petisi itu tak pernah ada.


Hyun Joon sedang bermain golf saat menerima telepon dari Lee Moon Hak yang sedang ada di Namhae, tempat Hyun Joon sekarang berlibur.  Hyun Joon berkata ia tak tertarik untuk menerbitkan buku. Tapi Moon Hak malah mengajaknya untuk bertemu di kota.

Hyun Jung pun menemui Moon Hak yang memilih tempat unik untuk bertemu dan ia tak bisa menyembunyikan keheraannya. Moon Hak duduk bersama ibu-ibu penyelam dan menyajikan kopi bahkan bercanda dengan mereka.


Melihat kehadiran Hyun Jung, ia mengajak minum kopi bersama. Moon Hak mengaku sering ke kota ini karena ada beberapa penulisnya yang tinggal di sini. Ia memberi hadiah buku pada Hyun Jung. Tapi Hyun Jung langsung mengatakan pendiriannya. Ia tak ingin menulis buku. Moon Hak berkata kalau ia tak ingin membuat Hyun Jung menulis. Ia ingin membicarakan hal lain.

Ia tahu kalau Hyun Jung adalah penyiar terbaik, tapi sekarang sudah digantikan dengan penyiar yang lebih muda. Yang perlu dilakukan Hyun Jung saat ini adalah mengisi ulang diri Hyun Jung dengan sesuatu yang lain. Hyun Jung bertanya apa yang dimaksud oleh Moon Hak dengan ‘sesuatu yang lain’. Moon Hak pun menjawab, “Bagaimana kalau kau mengambil cuti selama setahun dan bekerja padaku dengan kontrak satu tahun.”

Hyun Jung tak bisa melakukannya. Karena kalau ia cuti sekarang, pasti akan sulit baginya untuk kembali lagi. Moon Hak berjanji akan membuat kantor Hyun Jung akan menanti-nantikan saat Hyun Jung kembali nanti.


Bujukan Moon Hak tak sampai di sini saja. Walau Moon Hak sudah kembali ke Seoul karena sedang menghadiri jamuan atas pengarangnya yang dinominasikan Nobel, ia tak lupa mengirimkan makan malam untuk Hyun Jung. Hyun Jung membaca pesan Moon Hak, Grup penerbit kami mengadkan pesta malam ini, jadi aku mengirimkan makanan dengan menu yang sama. Dua thun yang lalu ketika kau memandu klub buku tengah malam, katamu kau adalah fans dari pengarang buku ini. Jadi kita ada di acara makan malam yang sama sekarang. Makanlah dengan mengenakan gaunmu.



Aww… Hyun Jung tersenyu membaca pesan itu. Ia mengetuk-ngetuk lobster yang besar itu dan mulai makan dengan lahap.


Hyun Sook mengurung diri di kamar. Saat Jong Mi meneleponnya, ia menjawab pendek dan ketus kalau semuanya tak berakhir baik. Saat menutup telepon, ia melihat kartu nama Doo Jin yang terjatuh. Hyun Sook pun mengirim SMS pada Doo Jin, memberitahukan keinginannya untuk bertemu dengan ayah Doo Jin untuk mengucapkan terima kasih.


Malam itu, Ibu mengundang semua orang, Goo Min bahkan Jong Mi dan pamannya juga diundang Ibu. Jong Mi menemui Hyun Sook dulu dan menghibur sahabatnya.  Ia pun memberitahukan alasannya mengundang mereka semua. Dua cincin yang sama adalah bukti suaminya sama-sama mencintai ia dan Mo Ran, jadi semua harus menghormati Mo Ran.

Hyun Jung yang paling keras menyatakan ketidaksukaannya akan keputusan Ibu. Tapi ibu tak menggubris, malah menyerahkan cincinnya pada Paman Jong Mi untuk dinilai. Paman Jong Mi yang ahli perhiasan langsung mengatakan kalau dengan mata telanjang saja ia tahukalau cincin Ibu ini  berkualitas tinggi.


Ibu pun meminta Mo Ran untuk menyerahkan cincinnya pada Paman Jong Mi. Paman Jong Mi langsung mengatakan kalau cincin Mo Ran bukanlah berlian asli. Semua terkesiap, kecuali ibu yang menyembunyikan senyumnya.


Hahaha… oalahh.. ternyata.. Ibu ini pendendam banget, ya.. Balas dendamnya itu loh.. ngeselin. Sepertinya Ibu sudah tahu deh kedua cincin in.

Mo Ran sampai cegukan mendengarnya. Sementara yang lain, kecuali Hyun Sook, mencoba untuk tidak tertawa. Hyun Jung yang tertawa paling keras, bahkan bertepuk tangan saat Paman Jong Mi mengatakan kalau batu cincin Mo Ran hanyalah batu zircon.

Ibu memasang wajah bingung. “Semua ini tak masuk akal. Jika hal itu terjadi, harusnya cincinnya menggunakan berlian yang lebih mahal. Bagaimna hal ini bisa terjadi?”


Terbata-bata, Mo Ran bertanya apakah benar cincinnya hanya dari zircon? Jong Mi pun mengeluarkan alat canggih yang dibawa Pamannya. Alat yang akan berbunyi jika ujungnya ditempelkan pada berlian asli.

Mo Ran pun mencoba. Tak berbunyi. Dicoba lagi. Masih tak berbunyi. Berkali-kali mencoba, tetap tak ada bunyi. Hahaha… Hampir saja ibu tertawa kalau tak menutup mulutnya. Ia memasang wajah datar dan meminjam alat itu. Dan tentu saja, alat itu langsung berbunyi, bahkan hingga ke level tertinggi.


Hyun Jung menepuk-nepuk lutut Ibu, bangga. Dengan nada biasa, Ibu mengajak semua untuk minum teh. Mo Ran masih tak percaya. Ia membelakangi Ibu dan kembali mencobanya. Tetap tak keluar suara. Ibu sampai menutupi wajahnya biar tak terlihat tertawa.

Melihat Mo Ran terus mencoba, Paman Jong Mi membesarkan hati kalau batu zirconnya itu juga dari zircon yang berkualitas. Harganya bisa mencapai 195 ribu won. Hyun Jung menunjuk cincin ibunya dan bertanya polos, “Terus.. Kalau cincin ini?”

“Oh.. yang itu sekitar 50 juta won.”


Semua terkesiap, dan Hyun Jung meminta tangan ibunya dan sambil melirik manis pada Mo Ran, ia memasukkan cincin itu ke jari manis Ibu.


Mo Ran masih belum pulih dari perasaan kemarin malam. Hyun Sook mencoba menghiburnya, tapi Mo Ran terus termenung. Ibu keluar kamar, katanya ingin jalan-jalan. Asisten Park berkata kalau angin di luar cukup besar. Apakah Ibu benar-benar ingin pergi?


“Apakah ini karena angin, ya? Aku merasa sedikit pusing dari pagi tadi,” Ibu mengangkat tangan untuk memegang dahinya. Dengan tangan yang bercincin berlian. Bwahahaha… Ibu ini iseng banget, sih..

Hyun Sook bertanya kemana Ibu akan pergi. Sambil memijit-mijit kening dengan tangannya yang bercincin berlian, Ibu mengatakan akan ke toko herbal. Asisten Park menawarkan diri untuk berbelanja untuk ibu. Tapi Ibu menolak. “Aku ingin berjalan-jalan karena ia sedang sakit kepala,” kata Ibu dan kembali memijit-mijit keningnya dengan tangan bercinicn.

Haduhh… si Ibu ini..


Kakek akhirnya sampai di Ahngukdong dengan ditemani Manager Han. Kakek ingin mengeksplorasi daerah itu dengan melihat peta,tapi kacamatanya tertinggal di mobil. Manager Han kembali ke mobil untuk mengambilnya.

Kakek merasa kalau daerah ini ada pabrik beras. Tak ada orang yang bisa ditanyai. Kebetulan ada seorang wanita lewat dan ia menyapanya.


Ibu masih sibuk mengagumi cincinnya saat seorang pria tua memanggilnya. Ketika pria tua itu memanggil lagi, ia berbalik. Angin bertiup cukup kencang hingga menerbangkan koran dan menutupi wajahnya.


Kakek tersenyum geli melihatnya.


Komentar :

Ketemu nggak, ya mereka berdua?

Pengen komentar tentang Ibu yang jahil bin iseng bin usil kalau balas dendam. Ia pasti tahu kalau cincin Mo Ran adalah palsu. Kalau tidak kenapa Ibu bermulut sangat manis pada Mo Ran, padahal tahu sendiri kan betapa sarkastiknya si Ibu ini pada Mo Ran. Dan memang iya. Di episode 7 terungkap kalau Ibu yang menukar cincin itu.

Apa alasannya? Nanti di episode 7 akan terkuak mengapa Ibu menukar cincin itu. Haduhh… 

4 comments :

  1. hore.....yang pertama ngpost coment.....kejahilan ibu benar2 sesuatu.....he...he
    suka ngeliat MA-OH couple....smoga mereka jadian ....eh...apa hyun jung juga bakal jadian ama mon hak?????

    ReplyDelete
  2. Auwwwww.....mbak Dee. Drama ini bikin aku suuuuuuukaaaaa bgt sama Lee Hana dan song jae rim....hadeuh...senyumnya itu loh....perasaan song jae rim lah alasanku nonton drama ini....tapi krn ada do ji won jg sih...dan Lee hana.....(itu mah banyak...)
    Pokoknya kalo nonton drama ini pasti nunggu scene manisnya Mari sama lee roo....
    Hyun Jung sama mon hak .....jg.
    Jadi menyesal gak nonton full dr awal.....dan setelah nonton...pantas rating drama ini tinggi.....kualitas aktingnya , dan complicated masalahnya is the best.....
    Gumapshimnida bak Dee sdh buat sinopnya....
    Ost part 2 nya jg bikin berbunga bunga (hahahahah)
    From madura with saranghae...
    Keep writing and healty.....bak Dee.

    ReplyDelete
  3. Lupa bak dee....itu is Mari nyodorin pipinya kayaknya bukan Minta ditampar deh...(salah ....)
    Kok lebih mirip Minta cium pipi yah...sudah kiri kanan......
    Aktingnya lee Hana...daebak...

    ReplyDelete
  4. Ini mau dilanjutin ga ya rekapnya?

    ReplyDelete