March 19, 2015

Unkind Women Episode 3

Sinopsis Unkind Women Episode 3 


Hyun Sook dan Ibu panik melihat Mo Ran terbujur kaku di lantai. Hyun Sook segera memanggil perawat dan menekan dada Mo Ran berkali-kali. Entah caranya benar atau tidak, tapi Mo Ran sadar kembali.


Walau tadi sempat panik, tapi Ibu tetap ketus (tapi sopan). Ibu tak mengijinkan Mo Ran untuk mati agar Mo Ran tahu, bagaimana sakit hatinya Ibu selama ini. Ibu mengembalikan cek itu dan memberitahu kalau Hyun Sook tak membutuhkan uang itu. Haa? Hyun Sook langsung mendelik mendengarnya, tapi Ibu tak memberi kesempatan Hyun Sook untuk protes. Ia menyuruh Mo Ran untuk membeli peti mati paling bagus dengan uang itu.



Hyun Sook berseru, marah pada ibunya. Tapi Mo Ran yang dipenuhi rasa bersalah, hanya diam menunduk dan minta maaf. Ia minta Hyun Sook untuk pergi sebentar, karena ia ingin bicara sebentar dengan Ibu.


Hyun Sook menunggu di luar dengan cemas. Jong Mi yang ditelpon dan dicurhati, menyuruh Hyun Sook untuk tak melepas cek itu.


Ibu berdiri, menunggu Mo Ran bicara. Tapi Mo Ran masih diam. Ia teringat masa lampau. Saat itu ia ada di kereta dan berjalan tergesa-gesa. Wajahnya terlihat panik. Mendadak ada orang yang memberitahu seluruh penumpang kereta kalau ada orang yang jatuh dari kereta. Mo Ran tidak kaget, malah ketakutan yang nampak di wajahnya. Ia berjalan semakin menjauhi kerumunan orang-orang yang ingin melihat ke luar jendela. Ia meremas tangannya, ketakutan.


Sekarang Mo Ran pun meremas-remas tangannya. Ia minta maaf pada Ibu yang tak sepenuhnya memutus hubungan dengan Chul Hee(suami Ibu, pacar Mo Ran). Ibu menuduh Mo Ran yang anak simpanan tapi malah jatuh cinta pada pria yang sudah beristri.

Hyun Sook yang kembali untuk mengawasi cek di meja, membela Mo Ran. Ia berkata kalau Mo Ran hanya mencintai satu pria yiatu tunangannya. Ayahnya sendiri yang mendekati Mo Ran. Ibu menyindir anaknya yang jadi akrab dengan Mo Ran dan menyuruhnya untuk menunggu di luar.

Ibu minta barang-barang suaminya dikembalikan. Tapi Mo Ran berkata kalau ia tak punya satupun barang Chul Hee. Ibu malah terus mengatai Mo Ran yang dicintai suaminya tapi malah tak menyimpan satu barang pun, membuat Hyun Sook gerah. Ia pun menarik ibunya untuk pergi.
Tak disangka, Mo Ran malah jatuh pingsan, mengagetkan mereka berdua.


Rupanya Jong Mi adalah pemilik toko bunga yang mengirimkan karangan bunga ke Hyun Ae. Saat Hyun Ae muncul dan meminta nama pengirim bunga, Hyun Ae memberi kode pada pegawainya untuk menjawab tak tahu. Tapi Hyun Ae, dengan nada sopan tapi aura mendominasi, tahu kalau pegawai itu pasti tahu karena pesanan itu dibuat beberapa hari yang lalu.

Jong Mi pun mengambil alih dan berkilah kalau ia tak bisa mengingat nama semua pemesan karena pesanan bunga mereka sangat banyak. Walau merasa aneh, Hyun Ae pun menerima penjelasan itu dan pergi.


Mo Ran dibawa ke rumah sakit dan dokter bertanya pada Ibu, apakah Ibu adalah kakak Mo Ran yang tinggal di Seoul? Ibu dan Hyun Sook heran mendengar pertanyaan itu.

Dokter memberitahu kalau operasi Mo Ran sebenarnya berjalan dengan baik. Tapi pasien malah seperti orang putus asa dan tak ingin sembuh, Mo Ran malah tak makan dengan baik. Kadang kala, Mo Ran berkata kalau ia ingin makan masakan kakaknya.


Ibu bergumam, “Gila.” Tapi nampak kekalutan di wajahnya. Maka saat Mo Ran sudah sadar dan minta maaf karena menyusahkan Ibu, Ibu menyuruhnya berdiri dan pergi. “Ayo kita pergi ke rumahku.”


Hyun Sook dan Mo Ran bengong mendengar ajakan Ibu.Tapi Ibu berkata kalau ia akan membawa Mo Ran ke rumah dan memberikan apa yang tak pernah diberikan oleh suaminya. “Bawa semuanya itu ke dalam peti mati cantikmu itu. Dan kau harus tahu bagaimana aku hidup sebelum engkau meninggal.”

Mo Ran tampak shock dan panik. Tapi Hyun Sook berbisik menenangkan, “Mungkin yang Ibu maksud adalah Anda harus datang dan makan.” Aww.. Ibu ini baik banget. Tapi Ibu melanjutkan dengan sinis, “Daripada mati perlahan di rumah, kesepian, bukankah lebih baik membiarkan ucapan pedasku memperpendek hidupmu sekitar 10 harian?”

Mo Ran menyetujui, tapi gantinya cek yang tadi dikembalikan akan ia serahkan lagi pada Hyun Sook. Hyun Sook sudah berbinar-binar, tapi Ibu malah mengatainya, “Kau ini benar-benar sedang dagelan.”
Hyun Sook membawa mereka berdua kembali ke Seoul dan mencoba menghidupkan suasana. Tapi benar-benar garing suasana di mobil karena kedua orang di belakang tetap diam.


Doo Jin diberitahu kalau Ma Ri akan dipekerjakan di stasiun TV mereka, satu tim dengan Doo Jin, karena direksi merasa tersentuh dengan suratnya dan mereka sedang butuh sarjana literatur modern. Temannya menyuruh Doo Jin untuk menelepon Ma Ri dan memberitahu kabar baik ini.

Doo Jin pun menelepon, tapi Ma Ri tak mengangkat, malah menolak panggilan itu. Doo Jin menduga kalau nomor teleponnya pasti sudah disimpan oleh Ma Ri, sehingga ketahuan kalau ia yang telepon. Temannya menggoda, “Astaga, lagi flirting, nih.” Ha. Doo Jin kesal dan menendang temannya.


Ma Ri memang menolak panggilan Doo Jin. Dia sedang sibuk di perpustakaan. Ada SMS masuk dari studio tempat latihan Kendo. Pemberitahuan yang ditujukan untuk semua murid wanita kalau kamar mandi wanita sekarang pindah ke lantai atas, berubah lokasi setelah studio direnovasi. Ada kelas untuk tingkat mahir setiap sore di akhir pekan dan kelas pemula setiap sore di hari kerja.


Baru-baru ini ada murid wanita yang tak sengaja masuk ke tempat mandi pria. Saya tak tahu siapa orangnya, jadi Anda tak perlu khawatir untuk kembali ke studio. Jika Anda tak kembali, saya simpulkan kalau Anda bukanlah murid regular kami. Jadi saya harap Anda datang dan berlatih. Sampai berjumpa lagi di studio, Guru Lee Roo Oh.


Ma Ri bekerja di sebuah café dan saat istirahat, ia bercakap-cakap dengan kedua teman kerjanya yang bekerja di café ini karena terjepit keadaan, sama sepertinya. Satu orang bekerja di sini karena tak lolos training, dari 5 peserta magang hanya 3 orang yang dipilih dan ia tak termasuk yang terpilih. Sedangkan satunya tak lolos wawancara kerja karena badannya yang gemuk.

Ma Ri menyimpulkan kalau dalam dunia kerja itu lebih banyak politiknya daripada mengandalkan kemampuan.


Mereka kembali bekerja, dan ada dua orang pengunjung masuk, salah satunya adalah Roo Oh. Saat Ma Ri menyapa mereka dan memberikan menu, ia langsung menoleh padanya. Roo Oh mengingat suara itu. Suara dosen yang membangunkannya di kelas. Ia juga mengingat wajah itu, wajah yang sedang menangis di café.


Roo Oh ini walau tinggi besar, tapi tak bisa minum kopi pahit. Walau kata teman Roo Oh, kopi di sini sangat enak, tapi Roo Oh mengernyit merasakan pahitnya kopi Kenya yang disajikan Ma Ri. Ma Ri dan teman Roo Oh bengong melihat Roo Oh menuangkan susu dan masih mengeluh. Ma Ri memberikan gula dan susu lagi, baru setelah itu Roo Oh tersenyum memuji, “Ya. Kopi di sini memang enak.”

Haha.. teman Roo Oh mendumel, “Lain kali aku akan membelikanmu susu coklat saja.” Roo Oh masih menikmati susu kopinya saat mendengar salah satu pengunjung menyapa Ma Ri dengan panggilan Prof. Jung Ma Ri.


Ma Ri sendiri terbelalak mendengar pengunjung yang masih memakai seragam sekolah itu mengetahui jati dirinya dan langsung toleh kiri kanan, berharap tak ada yang mendengar. Ia membawa murid itu ke luar café dan mendengar cerita murid itu. Murid itu adalah korban bully teman-temannya yang tema-temannya itu kemudian dihajar oleh Hyun Sook.


Ma Ri kembali terkejut mendengar ibunya yang telah menyelamatkan murid itu dan menyuruhnya untuk pergi menemui Profesor Jung Ma Ri jika menemui kesulitan. Ibunya meyakinkan murid itu kalau anaknya akan membantu, bahkan memberikan uang pada murid itu. “Kau harus bisa melalui masalah ini. Bahkan jika tak ada orang yang berpihak padamu, janganlah menyerah. Kau tak boleh menjadi orang sepertiku.”


Saat itu, si murid melihat Hyun Sook hanya memakai sandal yang dilakban. Ia pun memberikan sandal yang baru saja ia beli, yang sebenarnya akan ia berikan untuk neneknya.


Ma Ri akhirnya mengerti semuanya. Lantas mengapa murid itu menemuinya? Tak menatap Mari, murid itu menjawab, “Karena aku ingin mati. Aku sudah tak mau hidup lagi, tapi aku kasihan pada nenekku. Jadi aku bertahan dari hari ke hari.”

Ma Ri berkata kalau murid itu, yang bernama Gook Young Soo, sangatlah penting. Sama seperti arti namanya. Ia bisa mendengarkan Young Soo dan menyuruhnya untuk bertemu kembali di tempat ini jam 3 Sabtu sore ini. Young Soo bertanya bagaimana jika ia ingin mati sebelum hari Sabtu tiba? Ma Ri langsung menjitak kepala Young Soo dan berkata, “Jam 3 Sabtu sore. Oke?!” Haha.. Young Soo akhirnya mengiyakan.


Ma Ri pulang ke rumah dan menemukan Ibu dan Neneknya bersama seorang wanita yang bernama Jang Mo Ran. Ma Ri hanya diam tapi mengenali nama itu sebagai nama simpanan kakeknya. Hyun Sook menyuruhnya pulang nanti malam saja dan berpura-pura sibuk sebagai profesor yang populer di kampus. Ma Ri mengangguk dan menghela nafas.


Mo Ran merasa tak enak dengan Ibu yang sibuk menyiapkan kamar untuknya, padahal ia bisa tidur di sofa. Tapi Ibu ternyata berencana membuat Mo Ran tinggal selama beberapa hari di rumahnya. Lusa adalah hari peringatan kematian suaminya. “Mari makan bersama di hari itu, kemudian kau bisa pergi.”

Mo Ran diliputi rasa bersalah namun juga merasakan kehangatan hanya dari mendengar  obrolan Ibu dan Asisten Park yang sibuk memasak. Ia meraba sofa keluarga dan memandangi foto keluarga Kim. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya.


Pada Hyun Sook yang sedang mengepel kamar yang akan ia tempati, Mo Ran menenangkan Hyun Sook kalau ia akan tetap memberikan cek itu. Hyun Sook benci pada dirinya sendiri karena tak bisa mengatakan ‘tak usah dipikirkan’ namun berjanji akan mengembalikan uang itu, “Jadi kumohon sembuhlah, agar saya bisa membayar Anda.”

Mo Ran bertanya-tanya tentang Ma Ri yang masih muda namun sudah jadi profesor. Hyun Sook malu saat mengakui kalau ia menikah muda, saat berumur 19 tahun. Mo Ran tersenyum menenangkan Hyun Sook. Memang kenapa kalau nikah muda.


Saat makan malam, Ibu mempersilakan Mo Ran makan. Ini masakan yang dulu pernah dibawa suaminya, yang katanya untuk bawahan di kantor, tapi ternyata malah dibawa untuk Mo Ran. Hahaha.. kata-katanya nyelekit, tapi wajah ibu tetap ramah. Wajah Mo Ran yang berubah, membuat Hyun Sook tak enak hati dan menegur Ibunya yang masih dendam juga.


Asisten Park mengubah topik dengan memberitahu kalau Jung Goo Min, suami Hyun Sook, akan pulang ke Korea besok. Dengan wajah tak acuh, Hyun Sook berkata Goo Min akan menikah lagi. Ibu kaget mendengarnya. Tapi Asisten Park yang lebih kaget dan tampak tak rela. Ibu meminta Hyun Sook untuk tak menceraikan Goo Min.

Sambil sibukmemandangi makanannya, Hyun Sook berkata kalau mereka sudah hidup layaknya orang bercerai, jadi lebih baik mereka cerai saja. “Ayah Ma Ri sebaiknya mulai hidup baru dengan pasangan yang sepadan.”


Ibu merasa semua ini adalah salahnya. Pernikahan Hyun Sook seperti ini karena Hyun Sook tak tumbuh melihat pernikahan orang tuanya yang bahagia. Ibu tersenyum sopan pada Mo Ran dan mempersilahkan Mo Ran untuk makan. Ha. Bisa dibayangkan perasaan Mo Ran saat itu.


Asisten Park yang masih merasa galau, mengirim SMS pada Ma Ri, memberitahukan kalau ayah Ma Ri akan menikah lagi. Ma Ri membalas pesan itu, berkata kalau semua itu bukan urusannya, tapi ia merasa kasihan pada ibunya.


Lain di SMS, lain di hati. Ma Ri mengerahkan semua perasaannya saat berlatih. Roo Oh yang mengira ia adalah salah satu murid SMA yang memakai pelindung kepala saat berlatih memukul ban langsung memarahinya dan menyuruhnya berhenti. Tapi Ma Ri tak mau berhenti hingga Roo Oh kesal dan memukul pelindung kepalanya dengan pedang kayu.


Bug! Ma Ri pun terjatuh. Melihat wajah feminin di balik pelindung kepala itu, membuat Roo Oh terkejut dan minta maaf. Ma Ri pun tak kalah terkejutnya. Ia segera bangun, namun hampir saja terjatuh lagi jika Roo Oh tak menangkapnya. Roo Oh pun  membantu membukakan pelindung kepala Ma Ri.


Dan ia terpana melihat gadis itu lagi. Tapi ia cepat menguasai keadaan dan mengajak Ma Ri untuk hang out bareng dengan seluruh murid Kendo. Mulanya Ma Ri menolak tawaran itu, sebelum Roo Oh berkata, “Makanlah bersama kami, Profesor.”

Ganti Ma Ri yang terpana mendengarnya, mencoba mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu Roo Oh.


Ma Ri akhirnya ikut makan-makan dengan semua murid Kendo. Ia panik saat salah satu bahan obrolan adalah siapa wanita yang salah masuk ke ruang ganti pria. Untungnya Roo Oh sigap menjawab kalau murid wanita yang dimaksud itu sepertinya tidak datang. Ia mendengar kalau murid itu adalah mahasiswi yang berambut panjang, membuat Ma Ri mengangguk-angguk lega.


Salah satu murid heran pada Roo Oh yang mau mengajar di studio kecil padahal Roo Oh sangat mahir. Roo Oh bercerita kalau dulunya ia adalah anak bengal yang selalu berkelahi tiap hari sampai pihak sekolah ingin ia pindah sekolah saja.

Untungnya ada guru Bahasa Korea yang mengembalikannya ke jalan yang benar dan menjadi penyelamatnya. Guru itu adalah Guru Oh Se Gyung yang membuka studio Kendo ini. “Karena itulah aku selalu hormat dan menyukai para guru.”  Roo Oh melirik Ma Ri yang langsung mengalihkan pandangannya, dan meneruskan, “Jika aku tak bertemu guru itu, aku mungkin masih ada di dunia hitam.”


Temannya berkomentar kalau dunia hitam cocok dengan Roo Oh, membuat semua tertawa dan mereka bersulang. Ma Ri ikut bersulang dan tertawa geli. Tapi ia buru-buru menghilangkan senyumnya saat menyadari kalau Roo Oh kembali menatapnya.


Aww.. ini Roo Oh apa ya maksudnya? Bahkan Roo Oh pun terang-terangan mengajaknya bicara saat Ma Ri keluar dari Café.  Ma Ri bertanya apa mereka pernah bertemu di kampus? Roo Oh menjawab kalau ia sepertinya melihat Ma Ri saat tidur di kelas dan memberitahu kalau ia yang mengurus klub Kendo di kampus. “Dan aku juga ikut menandatangani petisi tentang pembatalan mata kuliah.”


Walau di mulut Ma Ri berkata tak masalah, tapi wajah Ma Ri mengatakan sebaliknya. Roo Oh pun berkata, “Tersenyumlah, Bu Dosen.” Ma Ri memintanya untuk tak memanggilnya seperti itu di sini. Maka Roo Oh pun mengulang, “Baiklah.. Ma Ri-ssi.” Ma Ri terkejut mendengarnya. Roo Oh kembali tersenyum dan berkata kalau ia harus mengngat semua nama muridnya.


Haha.. Roo Oh ini bisa saja. Saat Ma Ri pamit pergi, Roo Oh memandangi punggung Ma Ri, punggung yang sama dengan saat gadis di kamar mandi pria itu berlari dan senyumnya mengembang.  Aww..


Ibu bicara pada foto suaminya, memintanya datang karena ia telah mengundang pacar suaminya. Haduhhh… Sementara Mo Ran juga menatap foto Chul Hee dan meminta maaf karena ia belum bisa menceritakan apa yang terjadi di malam itu, tapi ia berjanji akan melakukannya sebelum ia mati.


Hyun Ae menemui Moon Suk hanya untuk menerima kabar buruk. Buku Hyun Ae tak akan ia terbitkan, karena isinya hanyalah sampah. Cerita fiksi dan non fiksi itu bisa beda tipis, tapi cerita Hyun Ae ini sangat jahat. Cerita tentang guru serba bisa yang berhasil mengantar murid-muridnya ke unviersitas elit, tapi ia tak mempedulikan murid-murid yang butuh bimbingan, malah hanya berkonsentrasi pada murid-murid terbaiknya. “Cerita itu tak hanya sangat jahat, tapi juga sudah kuno!”


Denga nada lebih tenang, Moon Suk memberitahu kalau Hyun Ae menyodorkan novel itu ke penerbit lain, hasilnya pun juga akan sama. Terang-terangan, Hyun Ae sekarang berkata sinis kalau Moon Suk punya pengaruh besar untuk mencegah karyanya diterbitkan. “Dari awal kau sudah membenciku. Kau pikir aku menikahi suamiku demi harta keluarganya.Kau salah. Aku menikahi seorang duda yang beranak karena aku benar-benar mencintainya.”


Moon Suk mengangguk paham.Tapi ia minta Hyun Ae untuk memisahkan urusan pekerjaan dengan urusan keluarga.  Dan mereka sekarang sedang membicarakan tentang buku. Pegawai Moon Suk muncul membawa beberapa CV. Melihat Moon Suk sibuk menekuni dokumen itu, Hyun Ae pun pergi membawa naskah novelnya.

Hei…kenapa ada CV Hyun Jung di dokumen itu?


Hyun Jung mendapat kabar buruk. Ia diberhentikan menjadi penyiar program yang selama ini ia bawakan, diganti oleh juniornya yang masih muda.  Tak hanya itu, ia harus menelan pil pahit kalau semua keistimewaan yang pernah diterima, hilang begitu saja.


Di saat yang sama, Ma Ri mendapat panggilan dari stasiun TV tempat Hyun Jung bekerja, tempat Doo Jin kerja pula. Ma Ri terkejut saat diberitahu kalau promosi Doo Jin ditahan, malah dimutasi ke divisi pendidikan sebagai peringatan.


Namun yang lebih ingin disampaikan adalah, Ma Ri ditawari untuk bekerja dalam sebuah proyek di stasiun TV itu, Proyek Warisan Masa Depan. Program acara yang mencari bangunan tua atau hal-hal lain di Seoul yang perlu dilestarikan. Setelah melihat contoh acaranya, Ma Ri tertarik untuk bergabung.


Ia tak menyadari kalau acara yang baru saja dilihatnya adalah konser penyanyi bule yang ada ibunya menjerit-jerit histeris.


Saat akan meninggalkan gedung, ia melihat Doo Jin sedang bicara dengan salah satu muridnya di café kantor. Mahasiswi itu segera menghampiri Ma Ri dan cerita kalau ia mengumpulkan petisi yang telah disampaikan ke pihak fakultas. Ia terang-terangan mengatakan kalau ia melakukan itu dengan imbalan Doo Jin mengajari teknik penyiaran agar ia bisa lulus tes pembawa berita nanti. “Ia pasti merasa sangat menyesal karena kejadian itu,” bisiknya.


Doo Jin mendekati mereka dan langsung disemprot oleh Ma Ri, “Kenapa juga kau nego hal beginian dengannya?!” Doo Jin menjawab kalem kalau ia ingin bertanggung jawab akan hal itu. Merasa situasi mulai memanas, si mahasiswi pamit dan melipir pergi.


Doo Jin mencekal tangan Ma Ri dan mengguncang-guncangkannya. Jika Ma Ri ada di posisinya, Ma Ri pasti akan melakukan hal yang sama, pasti ingin menyiarkan hal itu. “Aku merasa tak enak berita itu dipotong oleh breaking news. Tapi jika liputan itu disiarkan secara lengkap, kau pasti sudah ngetop.”


Ma Ri mengerang kesakitan. Doo Jin minta maaf dan melepas cekalannya. Ma Ri berkata kalau ia mendengar kabar mutasi Doo Jin. Karena sekarang mereka sama-sama menjadi korban, maka anggap saja semua impas. Tanpa menunggu jawaban, Ma Ri pergi meninggalkan Doo Jin.


Ditemani Jong Mi, Hyun Sook pergi ke kantor polisi. Untuk kasus penganiayaan murid-murid SMA itu sudah tak masalah karena mereka tak lapor lagi. Tapi untuk masalah judi, Hyun Sook harus menghadap ke kejaksaan karena kasusnya sudah dilimpahkan ke sana.


Jong Mi membelikan tahu putih untuk Hyun Sook makan (tradisi bebas dari kepolisian) dan menceritakan kesannya saat bertemu Hyun Ae.  Jong Mi heran mengapa Hyun Ae melacak pengiriman karangan bunga. Apa Hyun Ae masih mencintai guru olah raga itu? Hyun Sook menggeleng. Ia rasa ada alasan lain yang belum mereka ketahui.

Tapi yang pasti, Hyun Sook akan mengatakan di depan Hyun Ae kalau Hyun Ae itu sangat jahat. Ia sudah mengantongi nomor telepon gurunya itu, dan ia akan menelepon. Hyun Sook menadahkan tangannya, pinjam handphone Jong Mi. Hahaha.. tentu saja Jong Mi menolak dan menyuruh Hyun Sook menelepon melalui telepon umum.  


Hyun Sook tak mau dan mereka terus berdebat sambil tarik-tarikkan handphone. Akhirnya Hyun Sook menang dan mulai menelepon. Tapi ketika nada sambung berganti suara Hyun Ae, Hyun Sook langsung membeku dan memori tentang perlakukan Hyun Ae kembali lagi.


Setelah sadar, ia langsung mematikan handphone. Tapi trauma itu masih terasa. Tiba-tiba handphone Jong Mi berdering. Dari Hyun Ae. Hyun Sook langsung menyerakan handphone itu pada si empunya, memintanya mengatakan salah sambung atau apalah. Alhsill hal itu membuat Jong Mi ngomel-ngomel.


Tapi Jong Mi memang sahabat baik. Memberanikan diri sendiri, ia mengangkat telepon dan berteriak, “Dasar Nyi blorong! Bagaimana kau bisa sangat-sangat juahat?! Sampah kau, Nyi blorong!” teriak Jong Mi puas, membuat Hyun Sook kaget dan mendekatkan telinganya ke handphone.


Bisa diduga reaksi Hyun Ae yang tajam. Siapa yang meneleponnya? Jong Mi langsung merubah suaranya seperti bingung dan berkata kalau ia salah sambung.Dan telepon pun ditutup oleh Jong Mi yang kemudian menoleh sombong pada Hyun Sook, “Aku bisa melakukannya, kan?”, tapi mukanya masih pias.


Hahaha…  


Masa lalu Hyun Sook tak muncul dari Hyun Ae saja. Saat pulang ke rumah, ia menemukan ibunya menggenggm hampir-mantan-suaminya, memohonnya supaya tidak berpisah. Ia dan Goo Min pergi ke sebuah  café unuk berbicara.  Uhh… bentar lagi ada yang akan kena masalah, nih kalau liat cafenya.


Hyun Sook menyelamati  Goo Min atas pernikahannya. Tapi Goo Min berkata kalau ia belum memutuskan menerima atau tidak. Hyun Sook menyuruh suaminya untuk menerima. Jangan hanya sebuh kesalahan kecil yang pernah mereka lakukan saat muda membuat Goo Min tidak bisa bahagia lagi.

Goo Min berkata kalau ia tak pernah merasa tak bahagia. Semua itu hanya pikiran Hyun Sook saja. Tapi Hyun Sook tahu kalau wanita itu sangat sepadan untuk Goo Min. Teman sekerja  di sekolah, yang pernah belajar di luar negeri dan diakui dalam pekerjaannya. Ha, sepertinya Hyun Sook tahu banyak tentang wanita itu. “Kau pasti masih mencintaiku, kan?”


Hyun Sook langsung menyalak, “Ahn Jong yang mengetahui semua itu.” Btw, Ahn Jong Mi selalu dipanggil Ahn Jong saja oleh Hyun Sook. Sebelum mereka selesai berdebat, muncul pelayan yang akan menyajikan kopi.  Ma Ri.


Hyun Sook murka. Ia menghajar anaknya, memukuli pantat dan kakinya. Goo Min mencoba meredam emosi Hyun Sook, tapi tak bisa. Dia tak menyekolahkan Ma Ri sampai S3 hanya untuk jadi pelayan. Hyun Sook memaksa Ma Ri untuk kembali ke kampus dan berlutut memohon ke pihak fakultas.


Tapi Ma Ri tak mau. Ia sudah cukup melakukan semua ini. Menjadi rangking pertama, masuk sekolah terbaik, menjadi mahasiswa terbaik. “Bisakah Ibu memberikanku ruang untuk bernafas?”


Hyun Sook tak bisa memberikan ruang itu karena di luar sana ada ribuan saingan Ma Ri untuk menjadi profesor. Goo Min menarik istrinya dan menyuruh Ma Ri pergi. Hyun Sook terduduk dan sambil terisak, ia berkata tak peduli, “Kau juga pergilah. Aku tak butuh siapapun..” Goo Min menatap wajah istrinya, khawatir.


Di kejaksaan, Hyun Sook akan dibebaskan dengan syarat harus menulis surat permintaan maaf. Maka Hyun Sook pun menulis saya minta maaf. Jaksa menyuruh Hyun Sook untuk menulis lagi dan lagi, hingga akhirnya memberitahu kalau Hyun Sook setidaknya menulis satu halaman penuh tentang permintaan maaf.


Kejadian itu hampir sama saat SMA dulu. Ia dihukum berdiri di lapangan dengan koran yang memuat fotonya. Guru olah raganya menyuruh Hyun Sook kembali ke kelas karena hukuman itu berlebihan. Tapi setelah itu, Hyun Ae malah menyuruhnya menulis permintaan maaf berkali-kali, karena permintaan maafnya tak tulus. Bahkan Hyun Ae merobek-robek kertas yang sehalaman sudah penuh dengan permintaan maafnya.


Begitu juga jaksa itu. Walau kertas HVS telah penuh dengan tulisan Hyun Sook, tapi Jaksa menyuruhnya mengulang kembali. Air mata menggenang di mata Hyun Sook. Serasa dejavu mendapat hinaan yang sama dengan gurunya dulu.


Dulu ia menangis, bertanya apa yang ia lakukan itu sangat bersalah. Kali ini ia yang merobek-robek kertas itu dan berteriak frustasi, “Apa yang aku lakukan itu sangat salah?!”


Komentar :

Cerita ini bukan hanya bercerita tentang persoalan keluarga wanita-wanita yang unkind. Tapi apa yang terjadi jika seorang anak/murid salah asuh.

Hyun Sook dan Roo Oh sama-sama bermasalah saat SMA. Jika Roo Oh bertemu dengan Guru Bahasa Korea yang mengerti dan bisa mengarahkannya, Hyun Sook bertemu dengan Hyun Ae yang maunya mengurusi anak pintar saja.


Saat dihukum, guru olah raganya sudah mengatakan kalau kesalahan Hyun Sook ini masih tahap wajar. Tapi entah mengapa hukuman Hyun Ae seperti tak ada habisnya. Hyun Ae sudah berburuk sangka terlebih dahulu pada Hyun Sook. Jadi apa yang Hyun Sook lakukan selalu salah.


Lain halnya dengan Roo Oh. Mungkin kelakuan Roo Oh malah lebih keterlaluan dibanding Hyun Sook, karena sekolah sudah angkat tangan dan memintanya pindah sekolah saja. Untung Roo Oh bertemu dengan Guru Oh, yang mengajarinya Kendo, ilmu beladiri sekaligus cara untuk meluapkan emosinya.


Moral storynya? Anak adalah sebuah kertas. Mungkin dalam perjalanan, kertas itu banyak coretan, banyak kesalahan, banyak robekan. Tapi yang harus kita lakukan sebagai orang dewasa adalah merapikan kertas itu kembali, membantu membenahi kesalahan yang sudah tertulis, dan bukan malah membuangnya.


5 comments :

  1. hihihi ngomog-ngomng soal kertas jadi inget pengandaiannya mbak dee di sinopnya nodame...
    kertas partitur, nada yang menyenangakan :p

    ReplyDelete
  2. Nyi blorong ! Astaga Deeeee hahahahaha XD
    setuju banget dengan moral storynya^^ sayangnya dalam kilas balik tidak diperlihatkan bagaimana peran orangtua Hyun Sook ya. Sebenarnya peran orangtua lebih penting dari peran guru apalagi untuk anak remaja seusia Hyun Sook.

    ReplyDelete
  3. Makasih mb Dee,,, semangat y mb untuk update drama ini, I like it, walaupun sebenarnya penasaran sama SJR aja sih.

    kalau liat ada 4 karakter wanita dengan berbeda cerita, jadi ingat Gentleman Dignity. semoga suksesnya sama kaya DG.

    ReplyDelete
  4. Aku sukaaaaaaaa drama ini mirip2 Plus Nine Boys, klo do PNB cowo2 dari 4 beds umur n satu keluarga....

    Lucu liat kelakuan ahjuma ajhuma ini ....

    Dan aku suka Le Ro Oh ....

    ReplyDelete
  5. Umpatan improvnya bakDee....ahjumaaa bgt...
    Bener kata bak fanny..emang di Korea ada nyi blororng....(wkwkwkwk)
    Aish...why SJR soo cute???????
    Padahal waktu jadi UN di MTETS...biasa aja.....hahahaha...gumapshimnida bak Dee....

    ReplyDelete