March 13, 2015

Unkind Women Episode 2

Unkind Women Episode 2 


Kita tak melihat apa yang terjadi dengan Hyun Sook. Yang pasti, setelah itu area makam telah bersih dan menyisakan sebuah karangan bunga yang diletakkan di depan makam.



Akhirnya Jong Mi menceritakan apa yang dilakukan Hyun Sook selama ini. Kehilangan semua uang tabungan ibu dan pergi ke rumah judi untuk mendapatkan uang itu kembali. Ibu putus asa dengan apa yang terjadi padanya, karena sepertinya Hyun Sook juga berhutang ke bank. Ia ingin menjual rumahnya dan kembail ke kampung saja.


Datang lagi sebuah masalah. Ada telepon dari kantor polisi. Ma Ri dan Jong Mi terkejut saat tiba di kantor polisi, mereka melihat tiga anak SMA babak belur yang katanya mereka dipukuli oleh Hyun Sook semalam. Yaikss… kenapa tiba-tiba ibunya seperti itu.


Apalagi anak-anak itu mengatakan kalau Hyun Sook tiba-tiba muncul dan memukuli mereka dengan membabi buta. Dan sayangnya lagi, ada kamera CCTV yang merekam perbuatan Hyun Sook.  Ma Ri pun membawa anak-anak itu ke restoran dan menginterogasi mereka. Akhirnya anak yang badannya paling kecil cerita.



Kita melihat apa yang terjadi saat itu. Anak itu berpapasan Hyun Sook yang hampir mirip dengan gelandangan. Sandal rumah yang dipakai Hyun Sook rusak maka ia pun mengambil lakban yang baru saja ia beli untuk memperbaiki sandal itu. Dengan lakban itu, Hyun Sook memperbaiki sandalnya.


Untuk apa anak-anak membeli lakban malam-malam? Untuk membuat prakarya sekolah? Tidak. Lakban itu digunakan untuk mengikat teman sekolah mereka ke tiang listrik. Belum sempat mereka mem-bully temannya, ada sandal melayang ke kepala mereka. Anak itu segera mengenali sandal berlakban itu, yang sekarang membawa tongkat baseball.


Hyun Sook mirip seperti pembasmi vampire yang mascara dan eyelinernya luntur. Karena anak-anak itu tak mau melepaskan korban, maka Hyun Sook pun langsung menyerang si ketua. Begitulah ceritanya.

Eihh.. kok polisi ga perhatiin ya ada anak yang dibully di kamera? Apa anak-anak itu tak menceritakan semuanya yang tadi kita lihat pada kedua wanita itu?


Ma Ri dan Jong Mi meninggalkan restoran, tak menyadari kalau anak yang dibully itu memperhatikan mereka dari kejauhan dan menyebut nama, “Profesor Jung Ma Ri.”


Saat sedang sekarat, Hyun Sook teringat apa yang diceritakan sahabatnya tentang apa yang terjadi dengan Carrie dia akhir film. Yaitu Carrie meninggal. Saat itu teman-teman Carrie datang ke kuburan dan tiba-tiba sebuah tangan keluar dari kuburan Carrie. Hyun Sook merasa tak akan ada orang yang mengunjunginya saat ia mati nanti. Sahabatnya berkata kalau ia yang akan datang nanti.


Di akhir mimpinya, ia mendengar suara wanita yang lembut bertanya, “Apakah kau baik-baik saja?” Saat membuka mata, ia sudah berada di rumah sakit dan mendengar suara wanita itu lagi. Dokter meyakinkan wanita itu kalau putrinya baik-baik saja. Hyun Sook berkata lirih, “Ibu..”


Ibu merasa semua ini terjadi akibat ia terlalu sombong. Saat Ayah Hyun Jung kabur dengan selingkuhannya dan mendengar kalau suaminya itu tewas kecelakaan, ia merasa semua hal buruk telah berlalu dari hidupnya.  Hyun Jung menyalahkan adiknya, tapi ibu malah mengkhawatirkannya. “Kalau membayangkan bagaimana dia pasti gemetar sendirian setelah kehilangan uang itu..” Ibu menangis, “Kasihan sekali dia.”


Pria di Spanyol, si mantan suami, menelepon Hyun Sook. Ia bermimpi kalau Hyun Sook sedang menangis sendirian di daerah yang sepi dan sekarang ia khawatir. Jika Hyun Sook mengalami kesulitan, ia minta Hyun Sook untuk menghubunginya. Ia akan segera datang.

Tak ada jawaban karena yang tadi ia katakan itu masuk ke kotak suara. Tak tersampaikan juga karena ia menghela nafas dan menghapus pesan itu.


Ma Ri termenung di café, memikirkan ibunya yang lenyap entah kemana. Dan betapa menyebalkannya media sosial. Ia mendapat SMS dari mahasiswanya, “Prof, apakah Anda melihat ini?” Di pesan itu juga ada postingan Instagram seseorang : Dosen yang dipecat setelah menjanjikan A pada seluruh mahasiswa, sekarang sedang mangkal di café,  lengkap dengan foto Ma Ri sedang termenung di café.


Ma Ri segera berbalik menatap satu satu pengunjung café yang sebagian mahasiswa itu dengan curiga. Teringat ucapan dosen yang mengatakan kalau saat ini tak ada murid yang menghormati dosen, membuatnya menangis.


Seseorang yang sedang memesan kopi di kasir melihatnya. Melihat Mari menangis.


Saat Mari beranjak pergi, pelayan memberi segelas kopi yang tak ia pesan. Kata pelayan, kopi itu dari seorang pemuda yang tinggi dan membawa tas besar. Pemuda itu baru saja pergi. Mari segera berlari keluar mencari-cari pemuda yang dimaksud. Tapi tak ada.


Aww.. tapi ternyata yang mengkhawatirkan Ma Ri tak hanya orang itu, tapi juga Lee Doo Jin yang mondar-mandir di tangga kampus, bingung mau melakukan apa. Salah satu mahasiswi yang dulu pernah ia wawancarai berpapasan dengannya dan bercerita kalau semua mahasiswa memutuskan untuk tak mengambil mata kuliah Ma Ri. Doo Jin heran dengan semua mahasiswa yang tak mau protes pada fakultas.


Mahasiswi itu berkata kalau ia bersedia mengorganisir petisi untuk mengembalikan Ma Ri lagi, dengan syarat. Ia ingin menjadi penyiar dan sedang bersiap untuk ujian penyiar. Whoaa.. Doo Jin sampai bengong mendengarnya.

Sementara Ma Ri ke kantor pos untuk mengiriman surat dan mulai mencari ibunya lagi.


Hyun Sook kembali terbangun dan kali ini ada di rumah seseorang. Wanita yang tadi di rumah sakit muncul dan berkata kalau Hyun Sook saat sadar terus mengeluh lapar, jadi ia membawa Hyun Sook pulang kerumah. Ia yang menemukan Hyun Sook terkapar di tanah,  dan telah merobek surat wasiat sekaligus memintanya untuk tak menulis surat wasiat lagi, “Banyak yang salah ejaannya.”

Hyun Sook malu mendengarnya dan berjanji akan membayar semua biaya perawatan. Ia bangkit dari tempat tidur, tapi badannya masih lemah dan ia terjatuh lagi. Wanita itu nampak khawatir dan berkata kalau buburnya sebentar lagi akan matang. Hyun Sook teringat sesuatu dan meminjam komputer.


Di kamar, Ma Ri sedang mencari-cari barang yang mungkin bisa menjadi petunjuk keberadaan ibunya  dan kebetulan neneknya masuk. Ia tertawa melihat foto ibunya dengan sahabatnya. Namun ia bingung melihat sebuah foto, foto kakeknya dan seorang wanita yang bukan Nenek.


Ibu Kang mendelik melihat foto itu dan langsung mengambilnya. Bagaimana mungkin Hyun Sook menyimpan foto ini? Belum juga Ma Ri bertanya lebih jauh, ada notifikasi dari HP Ma Ri, ada email dari ibunya yang mengatakan kalau ia sehat dan menyesal akan semua kejadian ini. Ibunya juga melarangnya untuk memberitahukan hal ini pada ayah Ma Ri.

Ibu Kang menyuruh Ma Ri untuk bertanya pada Hyun Sook. Bukannya tentang uang tabungan yang ludes itu, tapi tentang alasan Hyun Sook yang masih menyimpan foto itu.


Hyun Sook berbicara dengan wanita itu dan akhirnya menyadari kalau wanita itu seperti tak asing baginya, seperti ia pernah melihat wanita itu sebelumnya. Tapi ia tak begitu yakin. Wanita itu hanya tersenyum dan meminta Hyun Sook untuk beristirahat karena sudah malam.


Ibu menatap foto lama itu dan menyobeknya jadi dua. Ia meremas foto wanita itu sedangkan foto suaminya terus ia pandangi. Kemudian Ibu menangis.

Surat yang dikirimkan Ma Ri ternyata ditujukan untuk jajaran direksi stasiun TV tempat Doo Jin bertugas. Surat yang akhirnya dibicarakan di rapat direksi itu berisi tentang liputan Lee Doo Jin yang membuatnya kehilangan pekerjaan, dan meminta hal seperti ini tak terulang kembali.


Surat yang tidak mengancam, tapi efeknya adalah pihak manajemen memutuskan untuk memindahkan Lee Doo Jin ke tim lainnya, tim TF. Walau kecewa, tapi Lee Doo Jin menganggap tim TF juga bagus dan meminta untuk tak dibesar-besarkan. .


Ma Ri membuat papan permintaan petisi yang rencananya akan ia gantung di badan dan ia akan nampang di kampus dengan papan itu. Err.. berani malu? Ma Ri berani. Tapi nyalinya ciut saat sudah di kampus. Ia pun membatalkan rencana itu dan menghancurkan papan itu, merasa tak ada gunanya.


Senior yang menghinanya muncul dan kembali menghinanya. Ma Ri marah dan mengatainya bukan manusia dan bukan guru karena menghina orang yang sedang jatuh.


Hyun Ae pergi menemui penerbit novelnya, Lee Moon Hak yang ternyata adalah paman suaminya. Ia sudah sibuk meminta kenalan-kenalan ngetop Doo Jin untuk menulis kata pengantar dan bahkan sibuk membuat cover bukunya.

Tapi sambil tersenyum, Moon Hak berkata tegas kalau Hyun Ae tak perlu terburu-buru karena ia harus baca naskah itu dulu baru ia bisa memutuskan apakah buku itu layak cetak atau tidak. “Bahkan jika buku itu karya istri keponakanku, buku itu harus cukup bagus untuk layak terbit.”

Hyun Ae mencoba menawar, tapi Moon Hak sudah memutuskan seperti itu. Apalagi Hyun Ae menulis tentang masalah mantan muridnya dan tak bertanya tentang alasan murid itu mencuri. Mungkin murid itu miskin atau dijebak.


Hyun Ae tersenyum palsu, dan saat keluar ruangan ia menggerutu. Pantas saja Moon Hak menjadi bujang lapuk dan menyumpahinya terus seperti itu karena anaknya yang akan  mewarisi kekayaan Moon Hak.


Hyun Sook mulai melakukan rencana balas dendamnya. Dari telepon umum, ia menelepon Jong Mi dan memintanya mengirim karangan bunga ke ballroom Hotel Seoul. Untuk apa? Lihat saja nanti.


Sekarang Hyun Sook diajak jalan-jalan oleh wanita itu ke pinggir pantai. Hyun Sook bertanya tentang kehidupan pribadi wanita itu. Ia tak menikah dan tak punya anak. Dulu ia pernah mencintai seorang pria tapi mereka tak bisa menikah. Keluarga si pria menentangnya karena seseorang mengirim surat pada mereka, memberitahu kalau ia adalah anak seorang selingkuhan.

Ia kemudian menghasilkan uang bermodal warisan ayahnya dan sukses. Ia tak tahu bagaimana pria itu sekarang dan ia tak mau tahu. Ia menawari Hyun Sook untuk tinggal bersamanya selama setahun dan ia yakin kalau Hyun Sook tak akan berniat bunuh diri lagi. Tapi Hyun Sook menolak dan berjanji akan membayar semua kebaikan wanita itu.


Wanita itu tersenyum. “Aku mendengar tentang anak kedua Chul Hee. Seorang penari dengan imajinasi yang unik dan juga keras kepala.” Hyun Sook terbelalak mendengar nama ayahnya disebut. Apakah wanita itu.. ? Mendadak wanita itu terjatuh, semakin mengagetkan Hyun Sook.


Di rumah, lagi-lagi Hyun Sook kaget. Wanita itu memberikan tas berisi baju baru dan cek sebesar 1 milyar won. Ia menyuruh Hyun Sook pulang dan memberikan uang itu pada keluarganya dengan alasan investasinya sudah kembali. Hyun Sook semakin curiga, apakah wanita itu..

Wanita itu mengangguk, “Ya. Aku Jang Mo Ran. Wanita yang dicintai oleh ayahmu.” Jadi apakah ayah Hyun Sook adalah pria yang diceritakan tadi? Mo Ran menggeleng, ayah Hyun Sook adalah seorang teman sedaerah yang mencintainya. Dan ia bergantung pada ayah Hyun Sook saat pertunangannya dibatalkan, walaupun ia tahu kalau ayah Hyun Sook sudah menikah.


Hyun Sook mengembalikan uang itu ke atas meja. Ia tak mau menerima uang itu. Ibu sangat merana seumur hidup gara-gara Mo Ran.  Mo Ran berkata umurnya hanya tinggal setahun lagi. Ia merasa ini adalah hukuman baginya yang telah berdosa.  Hyun Sook sedikit tergerak.


Mo Ran memintanya untuk menerima uang itu dan pulang dengan memakai baju sepatu baru. Tapi ia minta Hyun Sook berjanji untuk tak memberitahukan keluarga Hyun Sook tentang keberadaannya. “Ini adalah permintaan terakhirku.”


Mo Ran mengantar Hyun Sook di terminal bis. Melihat Mo Ran menangis melepasnya, Hyun Sook bergumam, “Kau bukan ibu kandungku, kan?”


Setelah ditodong peserta kursus, Ibu menceritakan kelanjutan ceritanya sambil tersenyum. Setelah tahu suaminya menelepon selingkuhannya di hari ulang tahun pernikahan mereka, Ibu membungkus masakan itu dan menyuruh suaminya membawa ke selingkuhannya. Duhh.. baik banget nih, Ibu. Tapi Ibu menjawab kalau sebelumnya ia sudah memasukkan deterjen dan obat pencahar ke makanan itu. Hahaha..


Sudah bisa menebak bunga itu untuk siapa? Benar. Hyun Ae yang akan dianugerahi penghargaan sebagai guru teladan, terkejut dan menelan ludah, khawatir melihat karangan bunga bertuliskan Aku mencintaimu, Guru Olah Raga Han Chong Gil.


Ma Ri mengirimkan surat lamaran dan terus mencari ibunya. Kali ini ia membalas email ibunya, mengancam akan lapor polisi untuk orang hilang jika ibunya tak pulang juga. Tiba-tiba, tak ada angin tak ada hujan, ada sebuah mobil sport mendekatinya. Lee Moon Hak muncul dan mengingatkannya untuk tak berjalan dan meng-sms secara bersamaan. Bahaya. “Orang sepertimu harus tahan banting!” serunya, mengagetkan Ma Ri.


Setelah itu, Moon Hak berlalu pergi. Jiahhh.. aneh banget tuh orang. Ma Ri saja sampai bengong melihatnya. Tapi ia segera melupakan karena muncul sebuah SMS.


SMS dari tempat latihan Kendo-nya  yang meminta seluruh peserta Kendo yang jarang latihan untuk mengambil perlengkapannya. Kesempatan itu digunakan Ma Ri untuk berlatih lagi, melepas stress dan lelah. Selesai berlatih, ia pun bersiap mandi.


Tak disangka ada seseorang yang sudah ada di balik tirai, meminta shampoo. Ma Ri terkejut mendengar suara pria dan berteriak, “Kau itu pria?” Ma Ri langsung panik dan meminta pria itu untuk tak bergerak, “Jangan keluar!”


Pria itu.., sabam yang itu.. terbelalak mendengar suara seorang wanita. Apalagi wanita itu menuduhnya salah masuk ke kamar mandi wanita. Ini kamar mandi pria setelah 3 bulan yang lalu direnov dan kamar mandi wanita ada di lantai atas.


Ganti Ma Ri yang terbelalak, panik dan menyuruh pria itu untuk tak mengintipnya. Tentu saja pria itu tak mau mengintip, malah menyuruhnya segera pergi. Terburu-buru, Ma Ri malah terpeleset jatuh karena menginjak sabun. Ia berteriak kesakitan


Pria itu khawatir mendengar teriakan Ma Ri. Sambil mengaduh-aduh, Ma Ri buru-buru berdiri dan terus melarang pria itu untuk melihat, kalau tidak ia akan panggil polisi.


Tapi ada masalah. Di luar, murid-murid pria sudah bertelanjang dada, bersiap untuk masuk kamar mandi. Yaikss… Pria itu mulai kesal karena Ma Ri masuk lagi. Ma Ri, kali ini dengan suara pelan memohon, “Tuan.. maukah kau melindungiku? Ada banyak orang.. pria di luar. Aku tak bisa keluar.”  

Pria itu curiga, apa Ma Ri sengaja masuk kemari? Ma Ri terbelalak mendengar tuduhan yang menggelikan itu, “Kau pikir aku gila? Cepatlah dan buat mereka pergi! Aku akan cepat kok ganti bajunya.” Mendengar pria itu hanya menggerutu, Ma Ri mulai membujuk, “Suaramu tak terdengar seperti orang jahat. Ya? Kumohon padamu.”


Pria itu akhirnya luluh juga. Ia pun mengambil handuk dan berjalan keluar dengan membelakangi Ma Ri. Ma Ri sendiri mojok di tak berani melihat, tapi masih tetap berseru, “Cepatlah, atau kupanggil polisi.”

Hahah.. ancamannya kok polisi terus. Emang gimana coba lapornya tanpa dilihat cowok-cowok itu.


Dari panggilan Sabam-nim, kita tahu kalau pemuda itu adalah guru Kendo di tempat latihan, yang punya kuasa di tempat itu. Ia mengajak murid-muridnya untuk pergi sebentar, karena ada masalah di pancuran. Ia tak merinci masalah itu, hanya dengan suara keras ia berseru kalau masalah itu hanya butuh 3 menitan saja, dan  mereka bisa kembali mandi.


Setelah Sabam menggiring semuanya pergi, ia bergegas memakai baju dan terbirit-birit keluar dari tempat latihan. Beberapa saat, Sabam keluar dan masih sempat melihat sosok Ma Ri dari belakang.


Di rumah, Ma Ri langsung masuk selimut, benar-benar malu. “Apa aku harus ke peramal, ya?” Tapi Ma Ri segera melupakan masalahnya saat mendengar suara asisten Park yang mengatakan ibunya sudah kembali.


Dengan penampilan baru, Hyun Sook memberikan cek itu dan semua berteriak kaget melihat nominalnya. Dengan percaya diri, Hyun Sook berkata kalau Ibu bisa membeli tempat baru yang lebih bagus, mengembalikan pinjaman bank. Ibu dan Hyun Jung juga bisa beli baju baru juga dan menyimpan sisanya.

Semuanya tak percaya kalau Hyun Sook mendapatkan uang itu dengan jujur. Tapi Hyun Sook tetap bersikukuh kalau ia mendapat investasinya kembali, bahkan melipatgandakannya. Ia masuk kamar, meninggalkan semuanya yang masih bengong, tak percaya.


Di kamar, ia ingat kalau ia belum memberi kabar Mo Ran. Maka diam-diam, ia pun menelepon wanita itu dari telepon rumah. Haduhh.. memang tak begitu pintar, si Hyun Sook ini. Jelas saja, suara bisik-bisik di ruang tengah membuat Hyun Jung yang belum pulang ke rumah segera merebut telepon itu.


Ia menutup telepon itu dan me-redial nomor itu kembali. Muncul kode telepon 033, nomor daerah Gangneung. Hyun Sook merebut telepon itu dan membantingnya, ketakutan. Semua orang keluar dan bingung apa yang sedang terjadi.Tapi Hyun Jung bisa menebak, membuat Hyun Sook mengaku.


Ibu meraung, menangis menyesali nasibnya yang masih saja dirusuhi oleh selingkuhan itu. Apalagi uang itu pemberian Jang Mo Ran, “Dia pasti merasa bangga saat memberikan uang itu padamu. Ia pasti mengira kau datang untuk memohon!”


Hyun Sook membantahnya. Tapi Ibu tak mendengar dan berkata kalau ia akan menjual rumah ini jadi uang itu bisa dikembalikan padanya. “Lebih baik aku mati kelaparan. Aku tak akan menerima uang Jang Mo Ran.”

Hyun Sook cerita kalau Mo Ran sakit parah dan hanya hidup sampai tahun ini saja.Hyun Jung yang masih sinis, berkata kalau sakit parahnya Mo Ran tak ada hubungannya dengan keluarga mereka. Tapi berita baru itu meredakan tangis Ibu yang memutuskan untuk menemui wanita itu.


Eihh.. ? Kedua anaknya bingung dengan keputusan Ibu yang aneh. Tapi Ibu merasa kalau Mo Ran adalah wanita yang pernah dicintai suaminya, jadi ia harus menemui wanita itu sebelum wanita itu mati dan mengembalikan uang itu juga.


Hyun Jung dan Hyun Sook berpandang-pandangan, masih tak mengerti. Tapi keesokan paginya, Hyun Sook tetap mengantarkan ibunya yang memakai hanbok, tampil serapi mungkin, pergi ke Gangneung menemui Mo Ran. Hyun Sook mencoba membujuk ibunya untuk memikirkan rencana ini sehari lagi. Tapi Ibu malah meminta untuk mampir ke toko untuk beli kue tart lebih dulu.


Ibu teringat jaman dulu, saat ia memergoki suaminya membeli kue. Ia tersenyum melihat suaminya baik sekali mau membelikan untuknya. Tapi ia heran melihat suaminya tak berjalan kearah pulang.Ia pun membuntuti suaminya.


Betapa kagetnya ia melihat suaminya masuk ke restoran menemui seorang wanita dan memberikan kue itu padanya. Saat wanita itu pergi ke toilet, ia menghampiri suaminya dan melempar tart itu ke wajah suaminya. Ia keluar dari restoran, menangis.


Yang Ibu sesalkan dari kejadian itu adalah Jang Mo Ran tak sempat mencicipi kue yang dibawa suaminya. Hyun Sook memberitahu kalau mereka sudah sampai.


Hyun Sook masuk ke rumah dengan khawatir. Mo Ran tergopoh-gopoh menemui mereka dan hanya bisa menunduk tak berani menatap Ibu. Hyun Sook minta maaf karena tak bisa menepati janjinya, tapi ia sudah menceritakan bagaimana Mo Ran menyelamatkan nyawanya.


Masih tak berani menatap Ibu, Mo Ran mempersilakan Ibu untuk duduk. Ibu menatap Mo Ran dan mengernyit, mencoba menekan perasaannya. Mo Ran akhirnya memberanikan diri untuk menatap Ibu dan berkata kalau Ibu tampak sama seperti yang dulu. Ia kembali mempersilakan Ibu duduk.


Hyun Sook membimbing ibunya untuk mendekati sofa, mendekati Mo Ran yang masih berdiri menunggu Ibu duduk. Ibu terus menatap Mo Ran yang tetap menunduk. Perasaan yang ia simpan dalam hati terus berkecamuk, semakin lama semakin besar.


Tak tahan dengan perasaan itu, ia berteriak dan menendang dada selingkuhan suaminya itu hingga Mo Ran jatuh terjengkang.


Pingsan tak sadarkan diri.

Atau sudah mati?


Ibu terkejut, berpandang-pandangan panik dengan Hyun Sook yang juga tak kalah paniknya.

Komentar :


Aduhh.. si Ibu ini nggak bisa ditebak apa pikirannya. Walau sudah disakiti, tapi Ibu masih ingin mengunjungi selingkuhan suaminya yang sudah sekarat. Beli kue pula karena merasa bersalah Mo Ran tak sempat mencicipi kue itu. Helloww…  kok bisa-bisanya masih merasa kasihan.

Eh, begitu ketemu, rasa sakit mengalahkan rasa kasihan yang sebelumnya menghampirinya. Seperti kerasukan, Ditendanglah Mo Ran hingga terjatuh. Setelah sadar, Ibu baru sadar pada apa yang telah ia lakukan. Hahaha…haduuhhh..

5 comments :

  1. ternyata begini kalo sutradara mdsy, brain, god of study ketemu sw equator man, when a man loves
    drama keluarga yang ditayangkan di rabu-kamis sukses mengalahkan kmhm yang bertengger di posisi no 1 selama masa 18 episode...
    hihihi, kbs semakin jjang kalo jadi nayangin karyanya kim eun sook yang ada song joong ki dan song hye kyo nya (?) *OOT

    ReplyDelete
  2. Lanjutkan mbak dee,, ^^

    ReplyDelete
  3. Jong Mi.. setia kawan banget sih jadi sahabat :")

    ReplyDelete
  4. Hhaahaha.....
    Saya baru ngerti kenaapa ibu menendang moran...krn nontonnya Langsung ke ep 3, hehehehe...gumapshimnida bak Dee...

    ReplyDelete
  5. Hwhwhw....hahaha..
    Diakhir crt lucu bgt,antara kasihan dan seru

    ReplyDelete