February 26, 2015

Secret Door Episode 5

“Kau mau aku membunuhmu?”
Apakah Raja Yeongjo benar-benar akan membunuh Lee Sun?

Jawabannya tidak. Karena perlakuan kasar Lee Sun pada Kepala Polisi Hong ternyata merupakan khayalan Lee Sun saja. Dan saat Raja menegurnya karena terdiam, Lee Sun justru berubah hangat pada lawan politiknya itu. Membuat Raja dan kepala Polisi Hong bertanya-tanya.

Padahal Lee Sun memang hanya bersandiwara di hadapan keduanya. Saat Raja tidak melihat dirinya, senyum Lee Sun seketika hilang, berganti air muka yang serius.


Untuk merayakan kenaikan posisi Kepala Polisi Hong sebagai Byungpan, di Buyongjae pemimpin partai Noron seperti Hakim Hong Bong Han (mertua Lee Sun), Menteri Min Baek sang, Menteri Kim Sang Ro, dan Menteri Kim Taek mengundang Kepala Polisi Hong untuk minum. Mereka senang Kepala Polisi Hong bersama mereka kembali. Apalagi dengan posisi yang cukup tinggi di pemerintahan, Perdana Menteri Kim Taek merasa jalan mereka akan lebih mudah dari sebelumnya. Mereka ingin dengan poisisi itu Kepala Polisi Hong bisa meniadakan hukum Gyunyukbup, hukum yang melindungi rakyat miskin dari wajib militer.


Perdana Menteri mengatakan bahwa Gyunyukbup termasuk salah satu kesalahan Raja dan hukum paling tidak adil sejak negara Joseon didirikan, meski hukum itu diperjuangkan Raja dengan gigih.

“Wajib militer memang seharusnya dlakukan rakyat kelas rendah. Bangsawan seperti kita tidak seharusnya diperlakukan sama (dengan mereka).” tambah Kim Sang Ro.


Parahnya saat hal itu dikonfirmasi ke Raja oleh Menteri Park, Raja mengaku tahu penaikan posisi Kepala Polisi Hong akan membuat partai Noron semakin semena-mena. Raja tahu Perdana Menteri Kim Taek kemudian akan meminta otoritas untuk mengatur pengelolaan sumber daya negara, merombak lebih banyak hukum lagi, dan membuat Noron mengusai negeri. Namun tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang selain menuruti mau mereka. Dan Raja menyalahkan Menteri Park untuk itu, “Jika kau memusnahkan Maenge, yang seperti ini tidak akan terjadi sekarang.”


Menteri Park yang dituduh demikian mengelak. Ia sejak dulu memang tidak setuju menghancurkan Maenge walaupun dokumen yang berisi perjanjian Noron dengan Raja itu seolah merantai Raja untuk bisa memimpin Joseon agar damai dan stabil. Menteri Park beralasan, berapa lama lagi Raja akan menyembunyikan kebenaran.

 

Saat ia melaporkan Maenge terkubur di bawah perpustakaan Seungjeungwon saja, tiba-tiba ada kebakaran di tempat tersebut. Lalu kini, 10 tahun setelah kebakaran Seungjeungwon, sudah dua orang yang terbunuh. Shin Heung Bok dan Heo Jung Woon dibunuh demi menyembunyikan Maenge. Sejarah berharga 400 tahun perpustakaan Seungjungwon juga dibakar demi menghilangkan Maenge.


“Paduka, memiliki pemerintahan yang stabil untuk negeri ini lebih penting daripada melindungi tahta.” Bujuk Menteri Park.

Jadi terlepas dari ada tidaknya Maenge, Menteri Park berharap Raja bisa memimpin dengan bijak walaupun Noron bisa membuangnya.


Namun Raja tidak mau. Ia mengaku membutuhkan posisi untuk mengatur negeri. Toh Lee Sun, putranya belum bisa melawan musuh juga.


Perkataan Raja ini membuat pihak Soron yang lain emosi saja. Jangan-jangan Raja memang berada di pihak Noron sejak awal. Jangan-jangan dalam sup ginseng yang ditawarkan Raja Yeongjo pada Raja Gyunjong, kakaknya, ada racun yang mematikan sehingga setelah meminumnya Raja Gyunjong meninggal. Aih, untuk apa Raja membunuh kakak tirinya agar menjadi Raja dan membunuh rakyatnya yang tidak bersalah?


“Ini akhir dunia.” Keluh Menteri Jo, pemimpin partai Soron.

Hmmm, kalau zaman Joseon saja sudah seperti akhir dunia, zaman ini disebut apa? Zaman ketika manusia bisa saling membunuh, meski hubungan mereka bahkan lebih dekat dari hubungan Raja dan rakyatnya.  #miris


Lee Sun pergi ke perpustakaan untuk mengecek dokumen pengakuan penghianatan Heung Bok. Ia bingung, dari mana pengakuan tersebut muncul jika Jung Woon tidak mengatakan kebenarannya. (Lee Sun berpikir kalau Jung Woon dibunuh karena berbohong mengatakan Heung Bok berhianat. Artinya Heung Bok sebenarnya tidak berhianat. Lalu bagaimana bisa ada surat pengakuan Heung Bok yang berhianat?)


“Bukankah Yang Mulia mengatakan tulisannya sama persis dengan tulisan Shin Heung Bok?”


Klik! Seperti ada lampu yang tiba-tiba menyala di atas kepala Lee Sun, “Sama? Itu mungkin saja.”
Haha, saya suka Penasihat Cha >.<


Lee Sun kemudian mengambil bukti itu dan pengawal mata-mata melaporkannya kepada Perdana Menteri.


“Apakah dia (Lee Sun) menemukan informasi baru?” Perdana Menteri penasaran.


“Setelah kematian Heo Jung Woon, mereka tidak akan bisa menemukan satupun informasi baru.” Jawab si pengawal mata-mata dengan pede.

Menerima jawaban demikian, Kim Taek tetap gelisah. Ia bertanya mengenai gadis yang melaporkan kasus pembunuhan Heung Bok. “Apakah kau  masih tidak bisa menemukannya?”

Si pengawal menjawab ragu, “Anda pikir gadis itu mencurigakan?”


Kim Taek mengutarakan ia tidak tahu pasti. Jadi untuk sekarang, ia menyuruh pengawal mata-mata mengecek apa yang dilakukan Lee Sun. Dan jika ada yang menghalangi jalan mereka, bunuh saja. Tidak peduli siapapun mereka.

“…Namun sebagai seorang pria, jika saya mencegahnya dari berbuat sesuatu yang baik,
saya tidak bisa menyebut diri saya orang tua atau manusia.” –Seo  Gyun

Saya berharap Ji Dam tidak apa-apa. Karena saat Lee Sun meminta izin pada Seo Gyun untuk meminjam kemampuan penyelidikan rahasia putrinya, dia mengatakan akan menjaga Ji Dam  sendiri. 


“…Ji Dam, putrimu, aku akan melindunginya sendiri.”
So Sweet!


Permaisuri Lee Sun di istana rupanya juga ga kalah sweet karena berusaha menutupi kepergian Lee Sun ketika Selir Moon bertanya mengenai keberadaan suaminya itu. “Anda mungkin tidak sempat mendengarnya, tetapi Pangeran baik-baik saja. Jangan menuduhnya dengan prasangka anda. Itu dapat membahayakan bayi dalam kandungan anda.”


Mendengar perkataan tegas dari permaisuri Lee Sun, Putri Hyegyeong, Selir Moon naik darah. Entah sengaja atau tidak, ia mengucapkan kata-kata yang tidak hormat kepada Putri. “Sookui (panggilan untuk Selir Moon)…anda berada di tingkat empat. Sedangkan Putri berada di tingkat pertama. Anda melayani Raja sebagai dayang istana cukup lama tetapi anda lupa tentang Nemyungboo (hierarki antar wanita)?”


Putri Hyegyeong berpesan agar Selir Moon lebih sopan dan belajar kebudayaan istana lebih banyak. Sebab itulah cara untuk bertahan.


Selir Moon pun mengadu kepada Raja Yeongjo. Namun Raja Yeongjo yang tidur di pangkuannya malah tertawa mendengarnya. “Bagaimana kau memilih bertengkar dengannya jika kau tidak bisa menang?”

Selir Moon tidak setuju. Ia merasa tidak terkalahkan karena memiliki Raja. Raja bisa saja memanggil Pangeran sekarang untuk membuktikan Pangeran ada di istana atau tidak.


“Jika dia tidak datang, artinya kau menang?”


Ditanggapi seperti itu, Selir Moon semakin merajuk. Tetapi walaupun sang istri membujuk manja, Raja tidak mau melakukannya. Bukan karena Raja berada di  pihak Putri atau mengira Selir Moon hanya keras kepala saja. Sambil merasakan bayi yang dikandung Selir Moon, Raja beralasan sekarang bukanlah saat yang tepat.

 

Di kediamannya, Putri Hyegyeong ternyata juga mencurahkan kegaluannya pada sang Ayah, Hakim Hong Bong Han, “Ada gadis yang mencurigakan di sini tadi malam.”


Mendengarnya, Hakim Hong mengingatkan bahwa prasangka itu dilarang. Pangeran sekarang berusia 20 tahun dan memang tidak dianjurkan baginya untuk mengangkat selir sebelum menjadi Raja. Namun hal tersebut bukanlah kepentingan Putri yang utama.


Putri lalu menceritakan kalau gadis tadi malam adalah orang asing karena ia sendiri yang memilih dayang istana. Sehingga meski Ia tidak hafal nama mereka, ia bisa mengingat wajah mereka. Dan jika kecurigaannya ini benar bahwa Pangeran membawa gadis biasa masuk istana, maka hanya tinggal menunggu waktu sampai Raja tahu apa yang dilakukan Pangeran Lee Sun melalui laporan Selir Moon. Jadi sebelum itu terjadi, Putri harus tahu dulu apa yang dilakukan Pangeran untuk dapat mengambil keputusan yang tepat. Ia meminta ayahnya mencarikan orang kepercayaan yang bisa ia gunakan untuk memata-matai gerak-gerik suaminya. Ckckck sudah ada dua pihak yang penasaran dengan aktivitas Lee Sun.


Ketika Putri membicarakannya, Lee Sun sendiri sedang asyik melihat bagaimana Ji Dam bereksperimen.


“Ini tidak mudah, namun ini bukanlah sesuatu yang mustahil.”

Ji Dam berkata dokumen pengakuan Heung Bok berhianat memang palsu dan kertas yang lapuk tersebut bisa saja dibuat oleh seorang professional.


Setelah diberi tahu Ji Dam siapa saja professional itu, Lee Sun menemukan satu orang yang ia targetkan untuk ditanyai. Yakni Chun Seung Sae, saksi mata yang menyatakan Heung Bok bunuh diri di sumur kerajaan.


O.ow, sayangnya pengawal mata-mata sudah menyuruh Seung Sae meninggalkan kota. Pengawal merasakan firasat yang buruk sehingga ia menyuruh Seung Sae juga menghilangkan semua bukti.


Dan benar saja, malam itu kala tim Pangeran-Ji Dam-Penasihat Cha dan tim Chul Joo-Menteri Park ingin menemuinya, Seung Sae sudah bersiap pergi setelah selesai membakar semua bukti.


Tim Pangeran yang menghadang Seung Sae lebih dulu mendapat serangan misterius. Beruntungnya serangan misterius yang ditujukan kepada Ji Dam tersebut tidak mengenai targetnya. Lee Sun membuktikan perkataannya melindungi Ji Dam, meski justru ia yang tergores panah.


Namun keberuntungan mereka seolah berakhir di situ karena Seung Sae dengan cepat dilumpuhkan oleh panah yang menusuk dadanya.


Lee Sun langsung menghampiri Seung Sae seusai menyembunyikan diri dari pandangan pemanah misterius. Ia menanyakan pada Seung Sae yang masih bernafas, siapa yang menginginkannya mati. Tetapi hanya satu kata “Kang” yang berhasil diucapkan seung Sae sebelum sebuah panah menusuk dadanya lagi. Membunuhnya. Aaaaaaaaaa,

 

Chul  Joo (bersama Menteri Park) yang sebenarnya membutuhkan Seung Sae sebagai satu-satunya orang yang tahu Shadow-kepala pendekar Pedang Barat yang disangka membunuh Heung Bok dan Jung Woon- ikutan gemes juga. Ia bertindak cepat dan sukses menghalangi pemanah misterius melepaskan panahnya ke Ji Dam. Ji Dam selamat kedua kalinya.


Chul Joo lantas bergegas menghalangi pemanah misterius yang bermaksud kabur. Namun pedangnya  hanya bisa mengoyak kain penutup wajah pemanah misterius, sehingga membuat goresan luka.


Pemanah misterius pun tidak lama sudah berada di rumahnya. Dan ternyata dia adalah pengawal mata-mata. Sudah bisa nebak kan?^^



Lee Sun yang masih kesal berlari memburu pemanah misterius. Walaupun ia sempat dicegah penasihat Cha mengingat lukanya masih menganga, Lee Sun tidak merubah niatannya.


Di tengah perburuannya, ia bertemu dengan Chul Joo yang mengaku melihat seorang ninja saat lewat di tempat itu.

“Sepertinya kau juga kehilangannya.” Kata Lee Sun membaca wajah Chul Joo.

Melihat bagaimana pemanah misterius bisa mengakhiri pertarungan dengan Chul Joo dan lari, Lee Sun menyimpulkan pemanah misterius ini adalah seorang pro. Ia ingin tahu sesuatu yang istimewa dari pemanah misterius. Semacam petunjuk yang dapat membantu Lee Sun menemukannya.

 

Chul Joo mengulurkan kain sebagai penutup sebagian wajah pemanah misterius itu dan berkata, “Dia seharusnya memiliki luka sekarang…di sekitar mata kirinya.”

Merasa cukup dengan petunjuk Chul Joo, Lee Sun beranjak pergi dengan tak lupa mengucapkan terima kasih.


Ji Dam mengambil kesempatan ini untuk menanyai Chul Joo, “Apakah benar hanya kebetulan? Tempat ini termasuk daerah kekuasaan kelompok Barat dan kau sebagai kepala kelompok Timur kebetulan ada di sini? Apakah kau memintaku mempercayainya?”


Beruntung, Chul Joo yang terdiam tidak dipaksa lebih jauh oleh Ji Dam. Ji Dam memilih mengantar Lee Sun ke tempat penyelidikan rahasianya.


Di sana Ji Dam mendengarkan perseteruan Lee Sun dan Penasihat Cha. Penasihat Cha ingin Lee Sun berhenti saja. Joseon hampir kehilangan nyawa pangerannya. Penasihat Cha menyarankan Lee Sun kembali ke istana agar mendapatkan perawatan tabib. Namun Lee Sun tegas menolaknya. Sebab apabila ia dirawat, orang-orang akan tahu apa yang dilakukannya hari ini dan berakhirlah penyelidikannya. Ia tidak ingin kehilangan lebih banyak orang lagi karena tidak mampu mengungkap konspirasi ini.


“Bagaimana jika ini bukan sekedar teori dan merupakan kenyataan? Mereka tidak peduli dengan nyawa orang-orang. Mereka hanya duduk di istana, bermain politik.” Pangeran Lee Sun mengatakan bahwa setidaknya hidup rakyat harus sama berharganya dengan mereka yang bangsawan. Dengan memberlakukan itulah, mereka pantas memerintah negara.


Speechless sudah sang penasihat mendengar argument dari Pangeran. Ia mengalihkan pembicaraan dengan menyuruh Ji Dam melakukan pertolongan pertama terhadap luka Lee Sun. Ia sendiri tidak tahan melihat sayatan yang cukup panjang di lengan atas pangerannya.

Apalagi Lee Sun ya? Lee Sun terlihat menahan perih saat Ji Dam membasuh lukanya dengan alcohol (?).


“Apakah kau tidak apa-apa?” Tanya Ji Dam cemas.


Lee Sun menjawab dia bisa menerimanya. Tapi dirinya tidak bisa menerima Ji Dam untuk ikut dalam penyelidikannya lebih jauh. Lee Sun menyarankan Ji Dam duduk saja walaupun Ji Dam tetap bersikeras melanjutkan kontribusinya. Ji Dam malah menawarkan diri menjadi umpan agar dapat cepat menemukan mereka. Sigh, kenapa saya yang tersipu ketika Lee Sun mengucapkan ini dengan senyum khasnya?


“Sampai mana batas keberanianmu?”


Ji Dam berkata dia belum mengujinya. Pertanyaan yang biasanya cukup dibalas senyum saja, dijawab Ji Dam dengan cerdas.

Lee Sun kemudian melanjutkan kalau dia berterimakasih kepada Ji Dam yang berani datang sendirian ke istana untuk mengatakan kebenaran dan mau menjadi umpan. Namun Lee Sun tidak bisa kehilangan orang lain lagi.


“Seberapa inginnya aku untuk menangkap mereka, aku tidak bisa membiarkanmu dalam bahaya.” #successfully melted


Sebelum pulang, Lee Sun tidak lupa berpesan agar Ji Dam menjaga diri tetap aman walaupun dia tidak tahu ke mana Ji Dam pindah nantinya. Ji Dam hanya diam memandangi punggung Lee Sun yang pergi ke istana.


Fiuh, untungnya Putri Hyegyeong tidak tahu apa-apa sebab mata-mata yang diutusnya kehilangan jejak Lee Sun.


Lain halnya dengan pengawal mata-mata yang sekarang tahu bagaimana rupa Ji Dam, gadis yang melapor pada Kepala Polisi Hong. Pengawal mata-mata meminta Perdana Menteri Kim Taek menghentikan penyelidikan Pangeran karena tadi dia diinterupsi ketika akan membereskan Ji Dam. Ia cemas kalau Pangeran sudah menemukan sesuatu tentang Chun Seung Sae, Pangeran akan cepat menemukan kelompok Barat. Berarti Perdana Menteri juga tidak akan selamat.


Diancam si bawahan, Perdana Menteri mencoba menenangkan. Ia tidak merasa khawatir sama sekali. “Kita punya kesempatan lebih (besar) untuk memenangkannya. Mereka punya saksi mata kasus pembunuhan. Dia (saksi mata tsb) tidak melihat wajah sang pembunuh, tetapi kita tahu wajahnya.” Uhhh, tidak bisakah kalian pergi saja kalau kerjaannya cuma menutupi kebenaran dengan membunuh?


Sampai di istana, Pangeran Lee Sun berdebat dengan Penasihat Cha mengenai bagaimana pihak lawan tahu keberadaan mereka. Lee Sun mengira ada penghianat dan Penasihat Cha menyebutkan nama Park Moon Soo sebagai orang yang harus diwaspadai. Tentu saja Lee Sun tidak setuju walaupun selain Penasihat Cha dan Ji Dam, penyelidikan ini memang hanya diketahui Menteri Park-gurunya.


Eeeeeei, Menteri Park nggak cuma tahu tentang penyelidikan Lee Sun kok. Menteri Park bahkan tahu pula kemungkinan Chun Seung Sae pernah menyalin isi Maenge sebelum dia diminta membuat dokumen pengakuan palsu Heung Bok dan Jung Woon.




Semuanya atas permintaan pengawal mata-mata yang entah disuruh oleh Perdana Menteri atau tidak…


Raja Yeongjo yang seperti biasa menunggu Lee Sun di kegelapan kediaman putranya itu, terkejut melihat lengan Lee Sun berdarah. Padahal sebelumnya Lee Sun yang terpana melihat ayah tercinta tidak tidur menunggunya pulang.


Raja sangat cemas (meski Lee Sun berkata lukanya bukan apa-apa) sekaligus gusar, bertanya siapa yang berani menyerang pangerannya.


“Bukan saya yang seharusnya menjawab. Harusnya Ayah.”

Lee Sun balik bertanya siapa orang-orang yang mengancam ayahnya. Apakah orang yang membunuh Heung Bok? Mengapa? Lee Sun terus bertanya karena Raja tidak mengerti maksud Lee Sun.

“Siapa yang mengancam Ayah untuk mengangkat Kepala Polisi Hong menjadi Byungpan?”


Raja Yeongjo yang kemudian mengerti kalau Lee Sun masih belum menerima kesimpulan Kepala Polisi Hong dan menyelidiki kembali kematian Heung Bok, membawa Lee Sun sidak ke tempat Kepala Polisi Hong Gye Hee bekerja, Byungjopanseo. Sesuai dengan posisi Byungpan, kan?^^


Di sana Lee Sun ditunjukkan bagaimana Kepala Polisi Hong teliti memeriksa setiap laporan yang masuk sehingga dapat menemukan adanya korupsi. Kepala Polisi Hong bahkan hafal di mana letak dokumen-dokumen di sana.



Raja yang mengetahui kalau pegawai Byungjopanseo bekerja terus tanpa tidur selama empat hari (Ha?), langsung menyuruh mereka semua pulang dan tidur. Ia tersenyum bangga pada Kepala Polisi Hong. Sedangkan Lee Sun memandanginya tanpa suara. Seneng atau sirik tuh? :P


“Kau bertanya siapa yang mengancamku agar menaikkan posisi Kepala Polisi Hong. Mereka adalah tentara yang melindungi negeri ini dan rakyat di dalamnya. Hong Gye Hee menemukan semua titik terkecil dokumen-dokumen dari Barat Laut selama 4 hari sejak dirinya menjadi Byungpan. Kita membutuhkan seorang pemimpin seperti dirinya di saat kita memiliki sedikit tentara.” Raja Yeongjo menjelaskan.


Sayang, alasan tersebut tidak cukup memuaskan Lee Sun. “Apakah itu keputusan yang tepat, Paduka?”

Ditanyai putranya yang keras kepala, Raja jadi penasaran apakah benar Shin Heung Bok meninggal di Jembatan Soopyo (dan bukan di sumur kerajaan seperti yang dikatakan Hong Gye Hee). Lee Sun menjawab dengan yakin karena ada saksi mata yang menyaksikannya.

Raja menanggapi dengan berkata dirinya tidak tahu siapa dan mengapa si pelaku melakukannya. Apalagi mengetahui seorang Hong Gye Hee bisa terlibat di dalamnya. Jikapun ia tahu, Raja tak yakin akan menyerahkan Hong Gye Hee.

Lee Sun pun diam kala ditanya Raja apa yang akan dilakukannya.


Setelah menyuruh Lee Sun duduk di sebelahnya, Raja berkata “Aku mengangkat orang-orang yang aku butuhkan, bukannya mengangkat orang-orang yang sempurna. Itulah kenyataan yang perlu kau pelajari.”

Lalu Raja bertanya lagi apakah Lee Sun mau memecat Kepala Polisi Hong.


Lee Sun menjawab tidak sekarang selama ia belum punya bukti. Untuk itu, Lee Sun akan tetap melakukan penyelidikan sampai ia menemukan orang yang memulai semuanya. Lee Sun bersikeras bahwa pelakunya harus membayar apa yang telah mereka perbuat.

“Mereka yang mengenakan pakaian kesetiaan adalah yang terkuat.”

Raja tampak senang mendengarnya sebab memang begitulah seharusnya. Tapi Raja berpesan agar rencana hebat ini harus dirahasiakan karena dalam aula kerajaan banyak orang licik yang tidak punya kesetiaan sedikitpun. Kapanpun mereka bisa menusuk teman mereka sendiri dari belakang.


Lee Sun baru akan meninggalkan Raja ketika ia mendengar panggilan dari ayahnya itu, “Sun-ah, bila kau menemukan sesuatu yang baru, beritahukan kepadaku lebih dulu. Mungkin ada sesuatu yang bisa aku bantu.”


Yang benar paduka? Kenapa jadi ngeri gitu wajahnya? Apa karena pertanyaan Kepala Kasim?


“Apa yang akan terjadi, Paduka? Shin Heung Bok dan Heo Jung Woon kehilangan nyawa mereka, semua karena Maenge.”


||Hmmm, jadi bagaimana nasib Lee Sun yang semakin dekat dengan Maenge?

Bersambung Secret Door Episode 6

Komentar:

Menarik. Setidaknya sampai episode ini pembangun ceritanya menarik. Entah bagaimana kalau Lee Soon tahu semuanya. Untuk sejenak, saya akan menikmati perannya Lee Je Hoon saja haha.

Pintar, berani, gigih dan baik hati sepertinya menjadi kunci Lee Sun bisa disayangi orang-orang terdekatnya. Lihat saja bagaimana Penasihat Cha, Kasim Jang, dan Dayang Choi mau bekerja sama dengan baik bersama Lee Sun. Mereka mencegah penyelidikan Lee Sun tercium pihak lain dan bersedia menyelamatkan nyawa Lee Sun. Ji Dam yang tidak lama mengenal Lee Sun saja sampai mencemaskannya. So Sweet bener deh.


What a good  chemistry! Terlepas dari usia yang terpaut jauh: 15 tahun, setengah dari usianya Lee Je Hoon…


Raja Yeongjo dan Putri Hyegyeong juga sama.

Walaupun Raja tampak bermuka dua waktu menasihati Lee Sun, ada kalanya Raja terlihat tulus menyatakan perasaan sayangnya. Demikianlah Raja Yeongjo. Ia tidak selalu menampilkan kepura-puraan di hadapan putranya.


Dan siapa yang tahu kalau dengan memata-matai Lee Sun, Putri Hyegyeong akan bisa membantu Lee Sun? Toh mereka berada di perahu yang sama, bukan? Kalau Lee Sun jatuh, Putri Hyegyeong dapat jatuh pula. Jadi sebagai permaisuri, Putri Hyegyeong perlu berusaha membantu Lee Sun keluar dari masalah akibat mengurusi hal yang berbahaya.




Btw, makanan apa yang dimakan Raja di scene terkhir? Nasi campur? Hihihi…

No comments :

Post a Comment