February 11, 2015

Healer Episode 18 - 1

Sinopsis Healer Episode 18 – 1


Bagaimana kaset Joon Seok ada di tangan Moon Ho? Ternyata sebelum Jung Hoo datang ke rumah abu, Dae Young sudah datang lebih dulu dan mengambil kaset rekaman itu, sekaligus menggantinya dengan kotak kaset palsu. Ia membawanya ke kantor Someday News untuk diserahkan pada Moon Ho. Mereka berdua mendengarkan isi rekaman itu.



Moon Ho menelepon Jung Hoo yang masih ada di mobil, memberitahukan isi rekaman itu. Seketika itu juga Jung Hoo nampak tegang, membuat Young Shin menggenggam tangan Jung Hoo yang ada di tongkat perseneling.


“Ayahmu tak pernah menjadi tersangka pembunuhan. Ayahmu ke kantor polisi untuk melaporkan telah terjadi pembunuhan. Temannya, Oh Gil Ahn telah dibunuh oleh orang-orang itu. Ia bahkan memiliki bukti fotonya.” Jung Hoo mendadak menepikan mobilnya, agar bisa mendengar lanjutan ucapan Moon Ho lebih jelas. “Jadi rekaman itu bukan pernyataan tersangka, tapi laporan saksi mata.”


Jung Hoo mendesah, bersyukur berhasil mengangkat beban berat yang selama ini terus disandangnya. Ia menoleh pada Young Shin yang juga tersenyum lega. Moon Ho meminta mereka untuk kembali karena rencana berikutnya terlalu berbahaya untuk mereka. Rekaman ini sudah cukup untuk tayangan mereka. Jung Hoo meminta pendapat Young Shin.


Young Shin mengingatkan ayah kandungnya yang terbunuh dan ayah Jung Hoo yang menjadi tersangka. “Apa kau ingin tahu pendapatku tentang orang-orang yang telah mengacaukan kehidupan kita?” Jung Hoo menjawab penuh semangat, “Kalau begitu kita lakukan sesuai rencana.”


Dan selanjutnya, adalah yang kita lihat di episode sebelumnya, yang berakhir dengan wajah Tetua muncul di website Someday News sebelum ditutupi asisten.


Jung Hoo menyapa Tetua di balik punggung si asisten, “Orang yang wajahnya disembunyikan itu adalah Tetua, kan? Halo, saya dari Someday News. Bisakah saya bertanya sesuatu, Tetua?” Tetua meninggalkan ruangan, membuat Jung Hoo berseru, “Apa itu artinya tidak?”


Pengawal Tetua menangkap Jung Hoo, mengambil kacamata dan dompetnya. Setelah aman, Tetua keluar lagi dan diberitahu kalau pria itu adalah Park Bong Soo, reporter Someday News. Tetua bertanya mana Healer. Ia hanya mau bicara dengan Healer.


Jung Hoo pura-pura takut kalau Tetua akan membunuhnya, “Aku.. aku takut mati. O iya.. ngomong-ngomong apakah Kakek ini adalah Tetua? Apa Kakek yang mengendalikan pembunuh seperti (Sekretaris) Oh Tae Won?”


Tetua bertanya jika itu yang ingin ditanyakan, kenapa Jung Hoo harus menyiarkan wajahnya. Jung Hoo tak punya pilihan lain, karena Tetua selalu membunuh orang yang menghalangi jalannya dan itu tak adil bagi orang lain, “Jadi aku harus mempertontonka wajah Kakek ke semua orang dan menempelkan tanda di sana Awas ada anjing.”


Wajah Jung Hoo kini tak menampakkan rasa takut, walau Tetua mendekatinya dan bertanya siapa sebenarnya dirinya. Jung Hoo menjawab kalau dari sekian banyak orang yang dibunuh Tetua, ada pria bernama Seo Joon Seok, dan dia adalah anaknya, Seo Jung Hoo. “Jadi Kek, kalau Kakek membunuh orang lagi, harusnya Kakek memikirkan anak-anak mereka juga. Kakek tak pernah memikirkan itu, kan?”


Young Shin ternyata ada di luar rumah Tetua bersama polisi. Ia meminta polisi untuk menggeledah rumah Tetua, mencari Jung Hoo. Tapi polisi tak bisa menggerebek rumah orang tanpa alasan. Young Shin panik dan khawatir. Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil gambar polisi dan rumah Tetua, melakukan reportase langsung.


Di studio, para staf kebingungan karena hubungan dengan Jung Hoo terputus. Tak ada cuplikan lain yang bisa disiarkan. Tapi rupanya Redaktur Jang menerima pesan dari Young Shin, yang membuat Moon Ho bersiap, “Kami menerima laporan reporter kami dari depan rumah Tetua. Sepertinya polisi telah tiba di TKP.”


Liputan itu sampai juga di telinga Tetua. Tetua menyuruh anak buahnya keluar dan mengajak Jung Hoo duduk. Ia menyalakan dupa dan menawari Jung Hoo minum. Sudah lama Tetua tak menerima tamu yang masih muda di rumah ini.


Jung Hoo menolak minum dengan orang yang membunuh ayahnya. Tetua pun minum dan berkata kalau semua ini adalah salah paham. “Kami tak pernah membunuh orang” Tapi Jung Hoo mengatakan kalau Tetua menyuruh orang untuk membunuh. Tetua berkilah kalau apa yang mereka lakukan itu pada akhirnya menyelamatkan semuanya.


Jung Hoo heran mendengar Tetua selalu berkata ‘kami’ terus menerus. Memang ada berapa orang mereka itu? Tetua menjawab kalau mereka ada untuk melindungi yang lain, sementara ada pihak lain yang menerima perlindungan mereka. “Anak muda, kau ada di pihak yang mana?”


Jung Hoo merasa pusing, kakek tua itu terlalu banyak bicara. Tetua berkata kalau ia sangat menyukai Jung Hoo dan meminta Jung Hoo untuk berpikir masak-masak dan ia tak mau menunggu terlalu lama.


Jung Hoo akhirnya sadar kalau dupa itu yang membuatnya pusing. Ia segera mematikan dupa itu, tapi terlambat, dupa itu sudah membuatnya pingsan. Samar-samar, ia melihat Tetua tersenyum dan bangkit meninggalkannya.


Dan kita mendengar rekaman kesaksian Joon Seok. Saat itu Joon Seok menceritakan tentang orang-orang yang menyebut dirinya sebagai petani. Bersama Gil Ahn dan Myung hee, ia sudah mengejar orang-orang itu setahun terakhir. Akhirnya mereka mendapat informasi tentang pengiriman barang yang sebelumnya mereka pikir adalah uang kotor.

Para petani itu menganggap Korea sebagai tanah garapan mereka, dengan uang mereka memanipulasi politik dan hukum sesuai keinginan mereka. Kedua detektif itu mendengar kesaksian Joon Seok dengan separuh hati, tak mengerti apa yang dibicarakan Joon Seok.


Young Shin akhirnya masuk tanpa ijin ke rumah Tetua. Tapi rumah itu sekarang sunyi tak ada siapapun. Ia mencari Jung Hoo dan menemukannya besandar lemah tak berdaya. Apa yang terjadi dengan Jung Hoo? Jung Hoo menjawab kalau rasanya ia tak bisa bangun. Young Shin mengeluh, “Setiap aku mencarimu, kau selalu sedang tidur.”


Jung Hoo tersenyum dan berkata kalau Young Shin selalu yang membangunkannya. Young Shin khawatir Jung Hoo dalam pengaruh obat dan mengajaknya ke rumah sakit. Tapi Jung Hoo tak mau. Ia hanya ingin tidur sebentar saja. Ia menarik Young Shin agar duduk sehingga ia bisa bersandar pada Young Shin dan ia memejamkan mata.

Polisi menemukan mereka dan setelah menyadari Jung Hoo baik-baik saja, polisi itupun pergi.


Masih dengan mata terpejam, Jung Hoo bertanya apakah orang tua mereka itu sangat dekat? Young Shin mengiyakan, orang tua mereka berada di pihak yang sama dari awal hingga akhir. Seharusnya Jung Hoo tadi melihat tayangan mereka. Tapi Jung Hoo minta Young Shin menceritakannya saja. Young Shin menoleh, “Tolong ya.. kau ini adalah reporter. Sekali-kali, cobalah menonton berita.”

Tapi Jung Hoo tetap minta Young Shin yang menceritakannya. Young Shin pun menceritakan kejadian tahun 1992.


Moon Shik menyetir, sementara kedua temannya bekerja. Bekerja ini maksudnya memotret truk yang mereka ikuti dan bercanda. Mulanya mereka mengira mereka hanya akan memotret kejadian cuci uang itu dan kembali ke rumah.


Tapi setelah pintu truk terbuka, isi di dalamnya bukanlah uang, melainkan kaleng-kaleng yang tak tahu isinya apa. Kaleng itu ditukar dengan kotak-kotak yang berisi milyaran won. Gil Ahn penasaran, apa isi kaleng-kaleng itu. Joon Seok mencegahnya, tapi Gil Ahn menenangkannya. Orang-orang itu tak mungkin membunuhnya. Ia kan reporter.


Tak sengaja, Joon Seok mundur dan menjatuhkan beberapa drum di belakangnya. Mereka ketahuan! Gil Ahn punya ide. Ia akan mengalihkan perhatian orang-orang itu sementara Joon Seok mengambil salah satu kaleng cat. Tanpa mendengar persetujuan Joon Seok, Gil Ahn pun memunculkan dirinya, sehingga orang-orang itu langsung mengejarnya.


Tak sulit bagi Joon Seok untuk mengambil sekaleng cat dan kabur. Ia segera membawa kaleng itu ke mobil. Pada Moon shik, ia memberitahu kalau ia akan menyusul Gil Ahn.


Alangkah terkejutnya ia melihat Gil Ahn sudah tergeletak bersimbah darah, tak bernyawa. Ia marah dan ingin menghajar orang-orang itu, tapi Moon Shik ternyata menyusulnya dan menahannya. Mereka sendiri dalam bahaya. Joon Seok meronta-ronta, tapi Moon Shik berhasil menariknya. Joon Seok hanya bisa memotret kejadian itu beberapa kali.


Moon Shik berhasil membawa kabur Joon Seok yang meraung meratapi kematian sahabatnya. Tapi para pengejar berhasil mencatat nomor polisinya.


Kembali ke kesaksian Joon Seok, ia mengatakan kalau ia menemukan apa isi kaleng cat itu. Ternyata isinya adalah cat dengan timbal palsu. Cat timbal yang seharusnya bisa mencegah karat, tapi sekarang digunakan untuk tujuan yang sebaliknya. Detektif itu mulai mengerti arah pembicaraan Joon Seok dan mulai mempelajari dokumen yang diserahkan Joon Seok.


Tapi mendadak muncul beberapa orang yang menghentikan penyidikan itu. Dan itu adalah akhir rekamannya.


Joon Seok berkata kalau hidup orang tua mereka sangat melelahkan. “Semuanya sudah berakhir.” Young Shin kaget. Apanya yang selesai? Jung Hoo menjawab, “Tugasku. Guru.. ayahku.. dan dirimu.”


Young Shin mencari wajah Jung Hoo dan meletakkan telunjuk ke kening pemuda itu. “Kerja yang  bagus,” pujinya sambil tertawa kecil. Jung Hoo sekarang tak hanya bersandar, tapi tidur di pangkuan Young Shin. Saat ia tidur ia berpikir (Young Shin:  Memang kau bisa berpikir saat tidur?) dan Jung Hoo bertanya, “Apakah sulit untuk hidup seperti orang lain?”


Young Shin menaikkan alisnya. “Apakah itu keinginanmu? Hidup seperti orang lain?” Young Shin menatap Jung Hoo dan berkata, “Kalau begitu, ayo dicoba. Hidup seperti orang lain.”


“Kau akan berada di sisiku?” tanya Jung Hoo. Young Shin mengiyakan. Jung Hoo kembali memejamkan mata. Ia tenang karena hanya keberadaan Young Shin yang ia butuhkan. Ia menggenggam tangan Young Shin dan melanjutkan istirahatnya.


Moon Shik makan malam bersama Myung Hee yang mengaku kalau ia melihat siaran Moon Ho. Ia bertanya pada suaminya, seberapa banyak yang sebenarnya Moon Shik ketahui? Seberapa banyak yang Moon Shik rahasiakan darinya?


Moon Shik mengaku tak merahasiakan apapun. Hari itu ia hanya menunggu di dalam mobil dan tiba-tiba Joon Seok menyuruhnya untuk segera melarikan mobil yang langsung ia patuhi. Ia tak berkata apapun walau ia curiga pada Joon Seok. Ia lega karena semua kesalahpahaman telah dijernihkan.


Dari ekspresi wajahnya, terlihat Myung Hee tak puas dengan jawaban Moon Shik, tapi ia tetap menutup mulutnya.


Entah bagaimana bisa Moon Shik menelan sup dan memuji masakan Myung Hee yang menurutnya jempol banget. Ia masih bisa senyum-senyum setelah mengatakan dusta demi dusta dari mulutnya. Bahkan dengan santainya, ia membawa kue-kue ulang tahun Ji Ahn yang dibawa sebagai cemilan ke dalam ruangannya.


Tapi mungkin memang seperti itulah Moon Shik yang memegang ucapan Tetua. Coba pejamkan matamu sekali saja dan buka kembali.Kau akan melihat hal-hal yang tak pernah kau lihat sebelumnya.


Kita pun melihat transformasi Moon Shik. Mulanya Moon Shik muda memberi pernyataan dengan gugup dan tangan gemetar, mengaku melihat semua kejadian itu. Bagaimana Joon Seok membunuh Gil Ahn.


Pernyataan berikutnya, Moon Shik sudah tampak tenang tapi kosong, saat menceritakan bagaimana mereka bertiga mengikuti truk yang mereka pikir membawa uang haram. Saat supir tahu mereka kuntit, si supir langsung kabur. Truk itu membawa 10 milyar won.


Pernyataan ketiga, Moon Shik sudah tampak percaya diri dan lancar menceritakan bagaimana kedua temannya berkelahi memperebutkan uang haram itu, yang mengakibatkan Joon Seok membunuh Gil Ahn. Saat itu ia tak sempat menghentikan Joon Seok. Bahkan tanpa berkedip, Moon Shik mengatakan sumber uang itu adalah dari salah satu partai politik, “Mengerikan bukan? Bagaimana uang bisa merubah seorang teman menjadi pembunuh dan satu lagi menjadi korban.”


Moon Shik yang sekarang mampu menampilkan wajah naif dan makan kue-kue itu tanpa perasaan bersalah sedikitpun.


Sementara itu Young Shin dan ayah membuka biskuit ulang tahun yang tertutup tisu, dan berteriak kecewa karena biskuit itu telah patah jadi tiga. Mereka pun mencicipi biskuit itu dan sama-sama setuju kalau masakan ibu Young Shin itu enak!


Ayah pun mengungkit tentang kapan pemuda itu akan datang? Young Shin pura-pura tak tahu siapa yang dimaksud ayah, karena ia punya banyak pria. Tapi Ayah serius dan memintanya datang. Tanpa basa-basi, Young Shin bertanya, “Apa Ayah ingin memukulinya?”


Ayah kali ini mengeluh, kenapa juga Young Shin memilih pria yang lemah, padahal Young Shin ini takut akan kekerasan. “Aku selalu ingin kau memilih pria kuat jadi kau bisa bersembunyi di pelukannya.”

Young Shin mengulum senyum mendengar Ayahnya menggambarkan Jung Hoo sebagai pria lembek. Dan ia tak tahan untuk tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan Ayahnya yang mengira Jung Hoo akan menangis setelah dipukul sekali.


Young Shin mendapat kejutan saat masuk kamar tidurnya. Ada Jung Hoo berdiri di samping tempat tidur, dan membuka tangan, bersiap memeluknya. Eits, Young Shin langsung mendorong Jung Hoo memintanya mundur satu meter darinya. Jung Hoo protes, tapi Young Shin berkata kalau Jung Hoo harus tahu beginilah cara orang lain hidup.


Jung Hoo tersenyum dan menghampiri Young Shin, bersiap memeluknya, “Baiklah, ayo kita ke tempat tidur dan bicara.” Bwahahaha… ini Jung Hoo pengen apa mesum? Dengan sigap Young Shin kembali mendorongnya dan memberitahu bagaimana aturan hidup seperi orang kebanyakan.


“Pertama, saat kau mengunjungi rumah pacarmu, kau harus masuk lewat pintu depan.” Jung Hoo mengerti, dan maju untuk memeluk Young Shin. Young Shin mengangkat tangan, menghentikannya. “Kedua, kalau kau ingin terus pacaran dengan gadis itu, kau harus memperkenalkan dirimu pada ayah gadis itu dan mendapat restu darinya.”


Jung Hoo mengernyitkan kening dan menggaruk rambutnya, “Yang itu.. hmm.. sedikit.. hmm..”

Young Shin kembali melanjutkan aturan ketiganya. “Di hari ulang tahun pacarmu, kau harus membawa hadiah.” Young Shin mengulurkan tangan, menagih. “Dan hari ini adalah hari ulang tahunku.”


Jung Hoo berpikir cepat dan tadaa… Ia melepaskan kalung yang selama ini ia pakai, untuk dihadiahkan pada Young Shin. Young Shin bertanya bukankah hadiah itu harusnya baru dan dibungkus pula. Jung Hoo berkilah kalau kalung ini ada sistem pelacaknya menggunakan GPS.

Tapi hal itu tak membuat Young Shin terkesima, ia malah menyindir, “Cowok ini benar-benar, ya.. Apa kau ingin mengatakan kalau kau akan menguntit pacarmu?”


Haha.. salah omong lagi.. Jung Hoo akhirnya menjelaskan kalau pelacaknya bisa dimati-nyalakan, tergantung situasi. Young Shin tersenyum dan berbalik, mempersilakan Jung Hoo untuk memasangkan di lehernya. Jung Hoo pun mengalungkan hadiahnya dan bonus pelukan dari belakang. Backhug.. aww…


Tapi Young Shin malah menendang kakinya, membuat Jung Hoo merajuk, “Apa kau ini sudah bosan denganku?" Young Shin geli melihat wajah ngambek Jung Hoo dan menggeleng.


Jadi kenapa Young Shin terus menolak Jung Hoo? Young Shin mengingatkan niat Jung Hoo yang ingin mencintai seperti orang lain. Dan yang mereka lakukan selama ini sedikit berbeda dengan orang lain.


Jung Hoo berpikir sejenak dan memutuskan kalau ia akan melakukan semua sesuai urutan seperti orang lain. Ia meminta Young Shin untuk menunggu. Ia akan memberi salam pada ayah Young Shin dan mendapatkan pekerjaan yang memperoleh gaji.


Young Shin pun membuka pintu, tapi Jung Hoo sudah menghilang, keluar lewat jendela. Mulanya mendesah, akhirnya Young Shin menggeleng geli. Tetap saja ada yang tidak berubah.


Jung Hoo memantapkan hati, dengan langkah cepat ia masuk ke café menemui calon mertua. Tapi ia menghentikan langkahnya saat Ayah menoleh dan tatapannya menusuk tajam padanya. Ia bergumam frustasi,  “Uhhh.. ini pasti tak akan berhasil.”


Tergagap, ia mengatakan kalau ia akan kembali lagi.. dan mundur teratur untuk berbalik mengambil langkah seribu.


Tapi baru satu langkah, Jung Hoo berhenti karena di hadapannya sekarang ada Paman eks napi yang baru saja masuk café. Ia terkepung!


Ia mencoba berbalik, tapi Ayah sekarang sedang membungkus tangannya dengan celemek, seperti petinju yang siap bertarung. Berbalik lagi, paman eks napi sedang melemaskan leher dan buku-buku jarinya, bahkan melepas jaketnya, siap menyerang. 

Tergagap, Jung Hoo berkata, “Sebenarnya saya datang untuk memberi salam hormat pada Anda hari ini.”. Tapi ekspresi kedua pria itu tetap tak berubah, membuat Jung Hoo semakin salah tingkah. “Saya .. juga meminta.. restu.. juga.”


Kedua pria itu tak bergerak sedikitpun. Jung Hoo melonggarkan kerah turtleneck yang rasanya juga ikut mencekiknya dan ia mencicit, “Ini.. saya .. minta maaf.”

Komentar :


Hahaha… bisa-bisanya Healer, yang dengan mudahnya melewati penjagaan seluruh penjaga Double S atau anak buah Manajer Ahn, mengkeret karena dua orang tua itu. 

Ini baru dua orang. Padahal Young Shin punya beberapa paman? Empat? Lima? Sepuluh? Matilah.. 

7 comments :

  1. Gomawo sinopnya mbak dee.
    Tadinya ita bener2 ga tertarik sama drama ini. Tapi setelah mbak dee bikin sinopsisnya...
    Jadi keranjingan sm drama ini. Makasih ya mbak.

    ReplyDelete
  2. terxta cowok sepemberani jung hoo,tdk berkutik didpn ayah mertua hhaha...

    ReplyDelete
  3. Yah......Jung ho memang seharusnya takut tuh sama calon mertua...(siapa coba, yg tidak?)...jd moon Shik mmg membunuh Dua sahabatnya ya bak dee, dg menutupi kebenaran plus kesaksian palsu.meski mungkin moon Shik dipukulu dulu sama sama suruhannya tetua.meski semalam sudah nonton episode terakhir...tapi saya tetap menunggu sinop dari bak dee, Gumapshimnida bak dee....jeongmal, kamsahamnida.

    ReplyDelete
  4. Haha apalagi dengan catatan perbuatan romantis krusial jung hoo yang ngekiss young shin di depan mata mereka berdua,rasanya sebagai calon menantu jung hoo perlu dikuliahi dulu soal hubungan orang biasa dari ayah dan paman :p
    Jung hoo-young shin couple ini kayaknya ga mudah dilupain deh
    Terlalu cute wkwkwk young shin malah lebih terlihat dewasa dari jung hoo padahal yang lebih berpengalaman si jung hoo (karena ayah yang keren juga nih^^)
    Btw jadi dejavu sama nemo couple waktu jung hoo yang ngantuk bilang gitu ke young shin...
    Oya soal moon shik,
    karena dramanya juga udah tamat, saya nunggu endingnya saja deh apa maksudnya berbohong selama ini
    Mau menerka takut salah,apalagi kalo swnimnya udah cerita
    Kalo di ending moon shik tidak juga bicara jujur tentang alasannya,barulah saya mengarang cerita *peace
    Thank you mbak dee :)
    Ngebut lagi ya di tengah kemacetan (atau kesibukan?) di jalan hehe

    ReplyDelete
  5. salah satu blog terbaik yang membuat sinopsis drama korea, selalu salut untuk kutudrama,. fighting eonnie :)

    ReplyDelete
  6. di sana Awas ada anjing !!

    I Like it B)

    ReplyDelete