February 10, 2015

Healer Episode 17 - 2

Sinopsis Healer Episode 17 - 2


Myung Hee bercerita kalau di malam itu, ia hanya berdua dengan Ji Ahn, menunggu kepulangan Gil Ahn. Tiba-tiba Moon Shik menyuruhnya segera pergi karena ada sekelompok orang yang akan menangkapnya. Hanya dengan baju di badan, ia membawa anaknya untuk lari. Tapi para preman itu mengejarnya. 



Ia pun menyuruh anaknya untuk duduk diam di dekat tempat sampah, sementara ia segera berlari beda arah untuk mengalihkan perhatian orang-orang itu.


Myung Hee mengambil foto dan menunjukkan foto Ji Ahn yang cantik pada Young Shin. Young Shin meraba wajah itu, tapi bukan foto dirinya tapi foto Myung Hee. Matanya kembali berkaca-kaca saat memuji, “Ibunya juga cantik.”


Menurut Myung Hee, orang-orang itu mengaku sebagai petani. Orang-orang itu berpikir kalau mereka sedang menggarap negeri ini. Mereka menanam biji-bijian dan mencabut gulma yang merusak lahan pertanian mereka. Dan ketika waktunya tiba, mereka akan memanen hasilnya.


Nafas Myung Hee mulai tak teratur, mata dan mulutnya mulai kaku. Young Shin sadar kalau ini kondisi buruk yang dikatakan ibunya. Buru-buru ia memencet bel dan suster segera muncul, melakukan tindakan agar Myung Hee tak menggigit lidahnya. 

Young Shin menggenggam tangan Myung Hee yang terkepal kaku, air matanya kembali tumpah melihat kondisi ibunya yang mengenaskan.


Ia keluar, memandangi semua kue yang disiapkan ibunya khusus untuk Ji Ahn. Untuk dirinya. Ia mengambil sepotong biskuit dan membungkusnya hati-hati dengan kertas tisu.


Dalam perjalanan pulang, ia menemukan Jung Hoo berdiri di balik pohon, menunggunya. Walau canggung, Young Shin bercerita kalau ia baru saja bertemu ibunya. Dan ibunya berkata kalau sebenarnya dirinya tak pernah dibuang, tapi hilang. “Sepertinya ibu mengalami kecelakaan mobil saat ia pergi setelah menyembunyikanku. Beberapa hari setelah itu, saat ia siuman, ia sudah ada di rumah sakit. Ia tak dapat bergerak, jadi ia tak bisa pergi mencariku.”


Jung Hoo mendengarkan semua dengan sabar.  Menurut Young Shin, ucapan terakhir ibu padanya adalah jangan berbicara, yang membuatnya tak pernah mau bicara saat ia kecil.  Saat ia kecil, ia selalu berpikir kalau ia dibuang, dan itu membuatnya takut. Kalau ia tak tersenyum manis, kalau ia banyak bertanya, mereka akan bosan dan akan membuangnya lagi. 


Jung Hoo menatap Young Shin dan berkata, “Aku tak akan seperti itu.”

Young Shin menarik nafas dalam, “Kalau begitu.. bisakah aku bertanya?” Jung Hoo mengangguk, dan Young Shin bertanya hal yang menjadi tembok dalam hubungan mereka, “Jung Hoo ya.. apakah kau pernah membunuh seseorang?”


Jung Hoo menggeleng. Young Shin tersenyum lega, “Aku sudah menduganya.”


Jung Hoo tersenyum dan menjajari langkah Young Shin. Walau begitu ia ingin membuat pengakuan. Ia menjadi tersangka pembunuhan kemarin malam. Bahkan polisi sudah membuat sketsa wajahnya, yang tak mirip dengan dirinya.

Jung Hoo tak ingin kabur. Yang akan ia lakukan adalah mencari rekaman interogasi ayahnya. Cek, Young Shin akan membantu. Jung Hoo juga akan menemukan orang yang menjebaknya. Cek, yang itu juga. Berikutnya, “Ayahmu.. aku harus menemuinya..”


“Itu.. hmmm..” Ha.. Young Shin tak bisa atau tak berani menjawab.

Jung Hoo mendesah galau. “Itu yang paling susah,” Ia menundukkan kepala, sudah merasa putus asa lebih dulu. 


Young Shin mendekati Jung Hoo dan menyelipkan tangannya ke dalam saku jas Jung Hoo, membuat senyum Jung Hoo muncul merasakan tangan yang menyemangatinya itu.


Moon Shik menemui Tetua yang mengatakan kalau ada sekitar 30 ribu orang hilang dalam 6 tahun terakhir, dan kasus hilangnya mereka akan terhapus setelah 5 tahun berlalu, dengan dinyatakan meninggal. Secara retoris, Tetua bertanya jika Moon Ho yang terkenal itu hilang, bagaimana reaksi masyarakat? Ia menjawab sendiri kalau berita itu paling hanya bertahan selama 2 hari karena berita itu tak menyangkut hidup mereka.


Tetua tak berniat mengganti posisi bakal calon walikota. Ia pun tak ingin kasus lama akan terbuka kembali karena rencana mereka berikutnya baru saja mulai. Ia tak ingin ada yang menjegal mereka dengan kasus-kasus lama mereka. Moon Shik berjanji akan mengurus adiknya dan kasus-kasus seperti itu tak akan terjadi lagi.


Sekretaris Oh melaporkan tentang kedatangan Healer dan sekaligus Young Shin. Ternyata Moon Shik tahu kalau Myung Hee menaruh alat penyadap itu dan menelepon Moon Ho diam-diam. Tapi ia tak mempermasalahkannya. Ia malah menganggap Myung Hee sesaat bersemangat karena memiliki permainan baru. Sekretaris Oh tampak bengong melihat cara berpikir Moon Shik yang malah mengkhawatirkan kesehatan istrinya itu.


Ahjumma membenarkan dugaan Jung Hoo tentang nomor 391 yang adalah nomor kotak abu ayahnya. Dan kita melihat Ahjumma tak hanya bicara pada Jung Hoo saja, tapi juga dengan Young Shin dan Moon Ho. Aww.. anggota gengnya bertambah.


Jung Hoo memutuskan kalau ia akan ke rumah abu. Tentunya bersama dengan Young Shin, karena mereka sedang mojok di bis. Para preman itu masih menguntit mereka. Moon Ho pun menyuruh Young Shin untuk menyingkir saja. “Kau akan membebani Jung Hoo kalau kau pergi bersamanya.”


Young Shin cemberut mendengar saran itu. Tapi Ahjumma berkomentar pendek, “Tidak juga..”, membuat Young Shin tersenyum lebar dan memuji, “Ahjumma memang terbaik!”

Jung Hoo sudah selesai membersihkan data handphone Young Shin. Ahjumma heran melihat betapa kalemnya Jung Hoo dengan orang-orang yang membuntutinya sementara Jung Hoo sekarang adalah buronan. Bagaimana jika orang-orang itu melapor pada polisi?


Jung Hoo pun menyadari, “Ah.. benar juga.” Ia menoleh pada Young Shin dan memberi instruksi, “Chae Young Shin. Jika sepertinya aku akan tertangkap polisi, apapun yang terjadi kau harus pura-pura tak mengenalku.”

Young Shin tersenyum dan mengangguk patuh, “Aku mengerti.” 

Ahjumma langsung membuang headphonenya, mau muntah mendengar perhatian manis Jung Hoo pada pacarnya. Sementara Moon Ho hanya terkekeh geli mendengar percakapan kedua keponakan dan satu bibi itu.


Tawa lepas itu tak luput dari pandangan Min Jae yang datang menemuinya.


Jung Hoo kembali memakai kacamata dan mulai memotret dengan kaca matanya. Ia bertanya apakah Young Shin bisa lari cukup cepat. Young Shin menjawab waktu SMA ia bisa lari 100 meter dalam 17 detik. Jung Hoo memeluk bahu Young Shin dan mengajaknya berjalan ke arah mobil penguntitnya sambil memberitahu cara-cara terbaik dalam membela diri.


Young Shin pura-pura bercermin di mobil, membuat para preman itu memalingkan wajah, tak ingin ketahuan. Hal itu memudahkan Jung Hoo yang menyebar paku payung di bawah mobil itu. Jung Hoo tak berniat untuk menghalangi para preman itu untuk menguntitnya, tapi hanya untuk mengulur waktu sehingga mereka bisa melakukan hal lainnya.


Young Shin tak terlihat gugup, malah asyik bercermin, bahkan melambaikan tangan saat salah satu preman menatapnya. Menyebar paku sudah selesai dan Jung Hoo menyuruhnya untuk lari. Young Shin pun mengambil ancang-ancang, tapi kemudian berhenti, “Ke arah mana?”

Jung Hoo mendelik dan berbisik, “Menuju ke arah yang sama seperti tadi.” Young Shin pun lari meninggalkan Jung Hoo  yang mengetuk kaca jendela mobil itu. 


Preman itu membuka mobil, dan langsung di foto oleh Jung Hoo. Satu, dua, tiga, empat. Done. Dan Jung Hoo pun lari menyusul Young Shin.


Di pertigaan, Young Shin dihadang sebuah mobil. Ternyata Dae Young yang membukakan pintu yang kemudian langsung meninggalkannya dan posisi kemudi digantikan Jung Hoo yang tanpa menyapa Dae Young langsung membawa mobil itu pergi. Young Shin bengong melihat aksi mereka.


Sementara preman-preman itu sibuk membersihkan paku payung yang bisa membuat mobil bocor, membuat mereka terlambat mengejar Jung Hoo. Manajer Ahn mengantisipasi hal ini dengan mengawasi CCTV sekitar untuk melacak jejak Jung Hoo.


Karyawan Someday heboh melihat kedatangan Min Jae. Redaktur Jang langsung menganggap Min Jae adalah rival karena posisi mereka yang sama. Bukannya bekerja, mereka malah bergosip, bertaruh kalau Min Jae pasti adalah pacar Moon Ho. 


Moon Ho melihat anak buahnya mengintip, langsung menutup tirai ruangan. Hanya Reporter Yeo yang terus bekerja dan berkomentar pendek, “Jelas sekali. Pasti dia pacarnya si bos.”


Kedatangan Min Jae adalah untuk menghalangi niat Moon Ho yang ingin menguak Omega Holdings yang menjadi backing-an Kim Moon Shik. Ia mengaku salah menilai Moon Ho yang dulu ia sebut penakut, hanya maju perang selama Moon Ho tak terluka. Ia malah meminta Moon Ho untuk terus melakukan hal seperti itu, serangan pelan-pelan tapi lama.

Moon Ho berkata kalau akhir-akhir ini ia sangat bersemangat. Dulu,setiap kali ia bangun pagi, ia selalu bertanya, apa ia sanggup bertahan sehari lagi. “Tapi sekarang aku selalu berpikir, apa yang bisa aku lakukan hari ini. Apa yang dikerjakan anak-anak hari ini?” Moon Ho tertawa lepas.


Tapi Min Jae tahu, kalau orang-orang yang mereka hadapi itu di luar kuasa mereka, karena mereka punya akal sehat, sedangkan orang-orang itu tak punya.”Kau tak bisa menang melawan mereka,” kata Min Jae separuh memohon. 


Moon Ho tak bisa melakukan hal itu, “Jadi kami harus menyerah karena tak dapat menang? Aku akan terlihat benar-benar memalukan di depan anak-anak itu. Aku tak bisa melakukannya.”


Young Shin tak merasa cemas dikuntit para preman, tapi malah melakukan analisa detektifnya. Jung Hoo yang menyaksikan itu hanya bisa tersenyum geli, walau tatapannya mengagumi pacarnya yang tak kenal takut. Young Shin heran melihat tatapan aneh Jung Hoo, tapi Jung Hoo hanya tersenyum rahasia.


Dae Young muncul di kantor Someday News, membuat kehebohan kedua. Jung Soo sampai menoleh melihat gadis yang baru dilihatnya sementara para karyawan kembali bergosip melihat Dae Young langsung masuk ke ruangan Moon Ho tanpa permisi, seakan-akan ia adalah pemilik ruangan. 


Reporter Yeo yang sibuk bekerja, tetap memberikan analisanya, “Jelas sekali. Pasti dia pacarnya si bos.”

Hahaha.. haduh.. gini nih kalau anak IT ngasih pendapat. Redaktur Jang hanya bergumam, “Rumitnya.. rumitnya..”

Jung Hoo dan Young Shin sampai di rumah abu ayahnya. Para preman itu masih setia menguntit mereka. Jung Hoo melirik ke CCTV di langit-langit, tahu kalau Ahjumma mengawasinya dari sana. Diam-diam ia melambaikan tangan. Ahjumma bengong, tapi refleks ia melambaikan tangan juga. 


Young Shin menyadari hal itu. Ia mundur dan melambaikan kedua tangannya ke kamera, cukup lama sampai Jung Hoo harus kembali untuk menariknya pergi.

Haha.. Ahjumma geli, tak percaya dengan tingkah antik mereka. Sayangnya, para preman yang menguntit mereka tak ikut melambaikan tangan juga, ya..


Young Shin mulai cemas dan menoleh ke belakang, membuat Jung Hoo memeluk bahunya. Ia menceritakan bagaimana gurunya pernah membawanya kemari saat ia remaja. Dengan suara dan logat Young Jae, Jung Hoo berkata, “Bagaimanapun juga, ayahmu tak ada di sini. Kita tak tahu ada di mana dia sekarang. Ahh.. tapi tetap saja, kita harus tahu kemana kita harus memberi hormat. Jadi..biarlah ini menjadi tempat untuk kita menyapa ayahmu.”


Young Shin tersenyum, dan merekapun masuk. Benar saja, di kotak nomor 391 adalah abu ayah Jung Hoo. Jung Hoo memperkenalkan Young Shin pada ayahnya sebagai Oh Ji Ahn dan Young Shin pun memberi hormat.


Secuek Dae Young datang, secuek itu pula Dae Young pergi. Moon Ho keluar ruangan dan mengumumkan kalau mereka akan mengadakan siraran langsung yang ketiga, sekarang juga. Hebohlah para karyawan, karena liputan ini beda dengan apa yang sedang mereka persiapkan.


Tajuk liputan mereka kali ini adalah Dalang yang Mengendalikan Kim Moon Shik dan mereka akan menguak siapa orang itu. Akan ada reportase langsung dan penayangan rekaman. Kira-kira bagaimana mempromosikan siaran ketiga ini?


Redaktur Jang antusias mengatakan kalau pertarungan antar dua saudara Kim Moon Shik-Kim Moon Ho sudah populer, jadi pasti tidak sulit. Apalagi selalu ada sosmed yang selalu bisa diandalkan. Moon Ho juga memberitahu, kalau ia tak bisa memutuskan durasi tayang siaran kali ini akan berapa lama.


Jung Hoo membuka kotak abu ayahnya, dan menemukan sebuah kaset di balik foto. Ia mengambil kaset itu, tapi tindakannya itu dilihat oleh para preman. Maka ia diam-diam menyelipkannya ke tangan Young Shin yang diam-diam juga memasukkan kaset itu ke dalam jasnya. Saling bergenggaman tangan, mereka pun memberi hormat pada ayah Jung Hoo dan kemudian pergi meninggalkan ruangan.


Para preman itu mendapat instruksi untuk mengepung Jung Hoo dan Young Shin di tempat yang tak ada CCTV. Sementara Ahjumma menelepon polisi, melapor kalau ada mafia yang akan menangkap seorang gadis.


Di luar gedung, Jung Hoo, bergaya ala Bong Soo, bertanya apa kepentingan mereka mengepungnya. Ia mengulur waktu dengan pura-pura gugup, hingga ada mobil polisi yang muncul. Saat itu Bong Soo hilang, berganti dengan Jung Hoo yang berbisik pada Young Shin, menyuruhnya menutup mata. Sekejap, Jung Hoo memukul preman-preman yang terdekat dan menarik Young Shin untuk segera lari.


Para preman itu mengejar mereka, dan Jung Hoo berteriak, meminta Young Shin untuk melempar kaset itu. Young Shin melempar kaset itu, membuatnya aman dari target kejaran, dan lari ke arah mobil polisi.


Moon Ho menayangkan kematian Park Dong Chul, seorang bekas polisi yang kebetulan adalah penyidik yang mendengar interogasi tersangka pembunuhan yang kebetulan adalah teman Ki Young Jae. Mereka sama-sama bekerja di stasiun radio ilega.


Jung Hoo akhirnya terpojok. Setelah dipukul sekali, Jung Hoo akhirnya memberikan kaset itu. Tapi ternyata bukan kaset, tapi kotak kaset kosong. Whoaa.. jadi Young Shin yang memiliki kaset itu? Preman itu kesal dan memukul Jung Hoo lagi. Jung Hoo kembali menjad Bong Soo yang berjanji akan memberikan kaset itu, sekaligus rekaman video LA pada Tetua. “Dan katakan pada Tetua kalau Healer ingin berpindah ke pihaknya.”


Moon Ho mengatakan kalau kematian Seo Jeon Seok dinyatakan sebagai bunuh diri karena merasa bersalah setelah membunuh temannya. Tapi anehnya, kematian Seo Jeon seok dan temannya, Ki Young Jae yang berjarak 22 tahun, sama-sama terjadi dengan cara yang sama, diracun.

Dan kali ini, Park Dong Chul memberi pengakuan pada reporter Someday News sebelum meninggal. Tayangan berpindah ke rekaman pembicaraan Dong Chul dengan Jung Hoo di gereja, yang mengatakan kalau orang-orang atas yang menyuruh untuk merubah kesaksian itu.


Jung Hoo dibawa ke rumah Tetua dan ia merekam semua dengan kaca matanya. Sementara Moon Shik dan Sekretaris Oh baru saja membuka website Someday News.


Moon Ho memberitahu dugaan sementara kalau Park Dong Chul tewas karena ingin memberikan rekaman itu pada mereka. Dan di tangannya, di atas meja siaran, ada kaset bertuliskan tahun 1992 – Interogasi Seo Jeon Seok. Whoaa.. kaset itu sudah ada di sana?

Orang-orang atas yang dimaksud Park Dong Chul, siapakah mereka? Dan setelah itu Moon Ho diam dan menunggu. Terus menunggu. Staf di studio bingung, apa yang ditunggu Moon Ho?


Di tempat lain, Ahjumma pun menunggu, tangannya menggantung di atas tombol enter. Terus menunggu.

Asisten Tetua berlari masuk ke dalam halaman rumah bosnya, berlari sekencang mungkin. Tangannya memegang handphone, pasti tahu apa yang sedang terjadi di dunia maya sekarang.


Jung Hoo mendengar suara langkah kaki. Ia menoleh dan berkata, “Ia datang.”

Ahjumma menekan tombol enter.


Moon Ho pun melanjutkan siarannya, “Reporter kami telah berada di lokasi untuk menemui ‘mereka’ yang dimaksud. Orang-orang biasanya menyebutnya ‘Tetua’.”

Ia menoleh pada layar yang sekarang menyiarkan apa yang sedang dilihat oleh Jung Hoo. Jung Hoo berdiri dan tersenyum. Ia tak terburu-buru, menyorot kedatangan mereka, dari kaki ke atas dan ..


Tampaklah Tetua yang menatap padanya. Jung Hoo tersenyum dan menyapa, “Annyeonghaseyo..”


Dan asisten yang berlari dari halaman itu berhasil itu membelakangi Jung Hoo dan menutupi wajahTetua.


Tapi terlambat, sekarang wajah Tetua sudah muncul di setiap gadget yang membuka website Someday News.

Komentar :

Saya suka saat Moon Ho menganggap anak buahnya sebagai anak-anaknya. Menurut saya, anak-anak yang dimaksud Moon Ho bukan hanya 2 keponakannya itu, melainkan juga anak IT Yeo, dua reporter lain, Jung Soo, bahkan juga Redaktur Jang. Saya suka dengan pride yang dimiliki Moon Ho. Di sini ia yang bertanggung jawab semuanya. Passion yang dulu pernah padam, sekarang muncul kembali dengan adanya anak-anak itu. 

Dan Moon Shik.. entahlah.. rasa cinta tanpa syarat (atau obsesi?)nya pada Myung Hee akan membahayakannya. Saya rasa itu adalah kelemahan terbesar Moon Shik. Bukan Moon Ho, Jung Hoo, apalagi Young Shin. 

12 comments :

  1. Replies
    1. Ke mana aja teh?^^
      Welcome back too ;p

      Delete
  2. Ayo dee... semangat nulis sinopsisnya. Last episode.... gak mw pisah sm jungshin

    ReplyDelete
  3. Betul.....bingung, antra cinta.dan obsesi moon shik ke myung hee, episode ini ngaduk emosi juga, terharu waktu liat young shin hanya mampi diam melihat ibunya yg sakit, tp ngakak tuh waktu scene romantisnya Jung ho ke young shin yg membuat ahjuma mual, aishh....uri healer ....."_____" , trims bak dee updetannya, keep writing and fighting!

    ReplyDelete
  4. Mbak dee tetap semangat nulisnya makin kesini makin seru :( liat instagram jichangwook jdi sedih :(

    ReplyDelete
  5. Makasiiih mbak dee sinopnya, walaupun udah nntn tetep ada yg kurang kalo ga bc sinop mbak dee

    ReplyDelete
  6. malam ini episode 20 yaaa....duh

    ReplyDelete
  7. Melted gegara tawanya moon ho ><
    Semoga hubungannya dengan sang kakak bisa membaik ya,meskipun sekarang dia punya "anak-anak" moon shik tetaplah moon shik...
    Btw kok jatuhnya kurang greget tetua masuk penjara wkwkwk
    Tetua kan cerdik sampe bisa bertahan sekarang, jadi ragu dia bisa ditahan
    but drama is drama apalagi ini healer yang bikin penonton gemes tiap minggunya,jadi we will see right?termasuk nunggu ending buat moon shik yang bagiannya cukup sedikit di beberapa episode

    ReplyDelete
  8. -mrebes mili
    -ngekek
    -pasangan yang bikin ngiriiii
    -Dae young... ^_^

    ReplyDelete
  9. daebaakkkkkk O.O

    ReplyDelete