December 19, 2014

Secret Door Episode 4 - 2

Bingung?

Baca Secret Door Episode 4 -1 dulu aja di sini ^^



Chul Joo ternyata membawa Lee Sun ke makam Heung Bok.

Lee Sun terharu. Chul Joo yang tidak dekat dengan Heung Bok mau melakukan ini. “Aku tidak tahu bagaimana berterimakasih.”

Chul Joo yang melakukannya karena Ji Dam, tanpa maksud lain membalas, “Anda tidak perlu (berterimakasih).”

Ia kemudian menawarkan Lee Sun menuangkan minuman untuk Heung Bok. “Belum ada yang melakukan untuknya.”


Dan kegelapan malam itu sempurna membalut kesedihan Lee Sun yang seolah mengucapkan perpisahan  terakhirnya dengan Heung Bok.


Kesedihan yang seperti dirasakan sang Ayah di istana. Sambil memandangi gambar-gambar putranya ia berkata, “Tidakkah itu 2 tahun lalu, saat Putra Mahkota menggambar laki-laki ini?”
Kepala kasim Kim mengiyakan, 

 

Flashback 
Saat Lee Sun memohon kepada Raja untuk membatalkan keputusannya mundur dari tahta di musim dingin...
Dengan tangan yang masih membeku kedinginan, Lee Sun tersenyum menggambar Heung Bok. 


Padahal menurut Kasim Kim, saat Lee Sun masih muda ia biasanya menggambar tanaman dan binatang.

Err, apakah itu terlihat seperti tanaman? Seperti binatang? Sigh, what a pity, he is :(


“Itu karena tidak ada yang dekat dengannya sebelumnya. Bukankah hal itu biasa untuk orang yang tinggal di istana?” 

Raja Yeongjo pun jadi berandai-andai, jikasaja Lee Sun lahir dengan Ayah seniman, mungkin Lee Sun bisa terus menggambar dan melakukan hal-hal yang menyenangkan.


“Tetapi ayahnya adalah seorang Raja yang mengajarkannya bagaimana kehilangan teman. Kenyataan bahwa aku seorang Raja adalah kejahatan. Semua orang di sini jahat dan menjiikkan. Semuanya…” Raja tertawa getir menatap singgasananya T.T

 

Kembali ke tempat kediaman Heung Bok, Lee Sun lega belum ada yang menemukan jasad Heung Bok dan menghapus pesan kematiannya. Ia ingin membiarkan keadaan TKP sama seperti saat pembunuh itu pergi agar tidak mengundang kecurigaan.


Bahkan usulan Ji Dam untuk bersaksi mengenai kematian Heung Bok di Jembatan Soopyo pun ditolak Lee Sun. Ia tidak ingin Ji Dam menjadi target berikutnya. Ia sudah belajar dari kejadian ini, melanjutkan investigasi mungkin akan membawa korban lagi. Lebih baik ia melakukannya secara rahasia.


“Heo Jung Woon mengatakan bahwa Shin Heung Bok membawa dokumen yang berbahaya. Yang bahkan tidak akan dikatakan seorang pun. Apa itu? Apa yang dia tahu sampai membahayakan hidupnya?” gumam Lee Sun seraya membersihkan petunjuk Jung Woon dan mengatupkan mata jasadnya yang masih terbuka.

Coba deh tanya Menteri Kim, Yang Mulia. Dia lagi nanyain si eksekutornya Jung Woon tuh.


“Apa kau yakin kali ini?”


Pengawal penghianat yang ditanya mengiyakan. Ia mempertaruhkan nyawanya untuk misi ini.

Namun Kim Taek tidak puas, “Cukup bunuh gadis yang jadi saksi mata itu.”
Sebab ia beralasan semuanya harus sempurna. Bila ada sesuatu yang mungkin menghalangi jalan mereka, mereka harus menyingkirkan sesuatu itu.


Em, setidaknya sekarang Ji Dam aman bersama Putra Mahkota Lee Sun di Ahjitoe, tempat Ji Dam leluasa menyimpan dokumen-dokumen rahasia sekaligus ide-idenya. Hahaha Lee Sun akhirnya tahu siapa penulis novel misteri yang dia kagumi, meski ia sempat mengira Ji Dam adalah kurir dari Saechaek saat membaca salah satu deskripsi karakter novel Ji Dam di sana^^


“Seseorang menebak pembunuhnya bahkan sebelum jilid keduanya rilis. Saya begitu terkejut hingga ingin menemuinya.” Ji Dam memperlihatkan tulisan Lee Sun yang mengajaknya bertemu.

Lee Sun mendesah, baru mengerti bagaimana Ji Dam bisa menemukan mayat Heung Bok. Mereka berdua rupanya hendak bertemu (Lee Sun meminjam novel Ji Dam dengan perantara Heung Bok).


“Tapi Yang Mulia, apakah anda menemukan novel di tempat Heung Bok meninggal?” tanya Ji Dam.

Lee Sun juga bingung karena dia tidak melihatnya. “Tidak hanya novel, buku gambarnya pun menghilang.”

Dan jika buku gambar yang digunakan Heung Bok seperti buku hariannya itu juga menghilang, mungkin pembunuhnyalah yang mengambilnya. Lee Sun ingin Ji Dam menceritakan secara detail apa yang ia tahu.


You want the detail, Your Highness? Ji Dam has the book of detail. How great she is, isn’t she?^^


Dari catatan investigasi Ji Dam, Lee Sun mengetahui fakta mengenai Byung Jong In yang mengabaikan testimoni Ji Dam sebagai saksi mata (yang melihat jasad Heung Bok di bawah jembatan Soopyo) dan Min Woo Seob yang mengabaikan laporan Ji Dam mengenai keberadaan seorang saksi mata.

“Aku yakin polisi terlibat dalam usaha menutupi kasus ini sebagai kasus bunuh diri.” Ji Dam menyampaikan dugaannya.


Perkataan yang memantik ingatan Lee Sun mengenai perkataan gurunya, Park Moon Soo, terkait Hong Gye Hee yang merupakan pejabat kepolisian. “Hong Gye Hee adalah seorang yang adil dan tidak memihak (netral), jadi dia sempurna untuk memimpin investigasi (kasus Heung Bok).”


Lee Sun yang pintar menghubungkan semuanya, langsung bergegas pergi meninggalkan Ji Dam. “Aku akan kembali.” Kata sang Putra Mahkota.


Di kediaman Park Moon Soo sendiri, ada Chul Joo yang datang menemui guru Lee Sun itu secara diam-diam.


Park Moon Soo dengan agak kesal berkata, “Sudah kubilang untuk berhati-hati setiap datang ke rumahku.”

Tetapi perkataan itu malah ditanggapi dengan pertanyaan, “Siapakah yang membunuh Shin Heung Bok?”

Ssssst... Park Moon Soo sontak menaikkan nadanya, “Kau bahkan tidak boleh menyebut namanya lagi. Berpura-puralah kau tidak tahu dia.”



Flashback

Malam itu, Menteri Park dan Chul Joo melihat jasad Shin Heung Bok di bawah jembatan Soopyo. Bungkusan yang dibawa Shin Heung Bok pun dia pungut.


Dan setelah menutupkan kelopak mata Heung Bok yang masih terbuka, ia bersama Chul Joo membawa mayat Heung Bok ke sumur di Uhlong dan menceburkannya ke sana.

Flashback end

Menteri Park Moon Soo berkata bahwa tidak ada yang mereka lakukan selain itu. Mereka bukan pembunuh.


Tapi “Sekarang terlalu terlambat…” kata Chul Joo. Menurutnya sudah terlambat untuk menghentikan Putra Mahkota, karena Putra Mahkota sudah semakin tertarik ke dalam kasus ini. Putra Mahkota akan terus menyelidiki sampai semua menjadi jelas.


Menteri Park pun terkejut karena muridnya tersebut baru saja mendatangi Chul Joo.


Dan kini duduk di hadapannya…
Membawa kabar tentang Jung Woon yang dibunuh, tetapi akan disangka bunuh diri dari surat di samping jenasahnya.


Menteri Park kembali terkejut. Siang tadi mereka masih bertemu dan malam ini Jung Woon sudah dibunuh. Sungguh cepat!


“…mengapa kau menyarankan investigator Hong padaku? Sejauh mana ini akan berlanjut? Alasan kau memintaku mengunjungi tempat kejadian perkara adalah untuk menanyakan (menguji) apakah aku dapat menangkapmu. Kau mencoba menemukan ketertarikan Putra Mahkota (terhadap kasus ini). Kau mencoba mengejekku.” Ujar Putra Mahkota cepat. Ia menganggap gurunya (sebagai yang terlibat dalam kematian Heung Bok) telah mengejeknya dengan terus memberitahu setiap langkah yang perlu dia ambil untuk menemukan dalang kasus.

Tetapi Lee Sun sendiri sangsi dengan kebenaran pemikirannya. Ia bahkan bertanya mengapa gurunya tidak mengomelinya karena pertanyaan dan jawabannya yang konyol itu. “Kau tidak bisa menjadi salah satu yang menyembunyikan kebenaran.” Kata Lee Sun tidak percaya.

Ia bertanya lagi mengenai apa yang disembunyikan Heung Bok dan Jung Woon sehingga perlu dibunuh, serta siapa saja yang berada di baliknya. Ia mendesak Menteri Park memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Akankah Anda mampu menanganinya bahkan setelah Anda mengetahui kebenarannya?” Timpal Menteri Park kemudian.


Lee Sun menjawab dengan berapi-api, “Aku adalah Putra Mahkota negeri ini. Aku tidak bisa hanya mengabaikan kematian orang-orang yang tidak bersalah. (Karena) Saat aku melakukannya, aku tidak layak menjadi Putra Mahkota ataupun Raja Joseon ke-22. Apa kebenarannya? Aku akan bertahan, bahkan jika kebenaran tersebut terlalu sulit ditangani.”

Namun apa jawaban sang guru?


“Yang Mulia, saya mohon maaf. Walau Anda ingin mengetahuinya, hanya ada satu yang dapat saya katakan. Kebenaran adalah sesuatu yang perlu anda temukan untuk diri Anda sendiri. Jangan percaya siapapun jika Anda ingin menemukannya. Anda bahkan tidak bisa mempercayai guru Anda sendiri.”


Putra Mahkota yang mendengar ketegasan dari Menteri Park tidak bisa lagi membalas. Ia lelah berspekulasi. Mengapa susah sekali mendapatkan jawabannya?

 

Sinar matahari pagi menyambut Lee Sun sekeluarnya ia dari rumah Menteri Park.


“Setidaknya katakan pada Putra Mahkota bahwa Anda mencoba untuk membuat kejahatan itu tidak tersembunyi.” Chul Joo nyeletuk.


Dengan bijak Menteri Park menanggapi jika ia juga menginginkan kebenaran yang ingin diungkapkan Chul Joo dan Lee Sun, hingga ia berani memindahkan jenazah Heung Bok ke sumur kerajaan meski ia tahu perbuatannya itu salah. Tapi ia tidak menemukan apapun setelahnya. Maksudnya Maenge?

“Heo Jung Woon meninggal karena aku meremehkan musuh. Ini bukan hanya pembunuhan. Ini adalah sesuatu yang dapat mengontrol seluruh kerajaan. Kau tidak bisa hanya percaya bahwa kau benar. Kau harus tahu bagaimana menemukan buktinya.” Kata Menteri Park kepada Chul Joo.

Chul Joo lalu membalasnya dengan memberitakan bahwa salah satu senjata kelompoknya juga ada di TKP. Apabila kelompok Pendekar Barat menggunakan ini untuk memfitnah mereka, Chul Joo merasa bisa menanganinya. Namun jika ada yang melakukannya untuk mengetahui hubungan Chul Joo dengan Menteri Park, “…kita harus lebih cepat dari mereka.”


 

Pagi itu juga rumah Jung Woon sudah dikerumuni banyak orang yang mendengar kabar kematiannya.
Dan seperti dugaan Lee Sun, Byung Joong In pun memastikan bahwa kematian Jung Woon adalah murni bunuh diri setelah melihat surat di samping Jung Woon.



Kim Taek sepertinya senang dengan berita ini -.-



Lain halnya dengan kekasih Jung Woon di Buyongjae yang justru depresi sampai mabuk dan tertidur.


 

Ji Dam jadi ikut menangis saat ayahnya menghampirinya “Ayah, apa arti menjadi manusia? Apa yang harus kami lakukan untuk hidup layaknya manusia?”

Ayah menyela, “Ji Dam-ah.”

“Apa yang harus dilakukan seorang manusia untuk ‘kematian yang salah’ dari seorang teman.” Kematian karena dibunuh demi menutup kebenaran. “Apakah aku sebaiknya melakukan lebih dari sekedar menyelimutinya, jika aku seorang manusia?” T.T



Lee Sun memerintahkan Penasihat Cha Jae Gong untuk mengawasi nama-nama yang terlibat dalam investigasi, terutama Byung Joong In dan Min Woo Seob. Dua orang yang sebelumnya disebut Ji Dam dalam catatan investigasi pribadinya.

“Perketat keamanan investigasi. Selain kau, tidak boleh ada yang tahu tentang ini.”

Penasihat Cha mengangguk menerima perintah Putra Mahkota, meski ia sebenarnya kesal pula mengetahui ada yang melawan Lee Sun seperti ini. Sulit dipercaya ada yang berani membunuh Jung Woon yang tengah berada di bawah investigasi seorang Putra Mahkota. Begitu percaya dirinyakah dia  tidak bisa ditangkap Putra Mahkota?



Lee Sun menyampaikan dugaannya, “Ia adalah seseorang yang setidaknya dapat mengontrol Kepala Polisi.”



Dan mengontrol Raja? Sigh!

Kim Taek mendatangi Raja, “Apakah Anda menikmati bunga teratainya?”

Raja Yeongjo membenarkan,”Mereka selalu cantik.”

Kim Taek berkata lagi, “Ini merupakan imbalan setelah melakukan semua pekerjaan kotor. Sejak 30 tahun lalu, sejak perjanjian itu dibuat, sayalah satu-satunya yang melakukan semua pekerjaan kotor. Dan sekarang masih sama. Saya menanganinya dengan sempurna. Hingga kini tidak ada satupun yang membicarakan Maenge.”



Mendengarnya, Raja Yeongjo malah berterimakasih bisa hanya menikmati teratai sementara ini tanpa mencemaskan apapun karena Kim Taek.

Namun balasan Kim Taek tidak tertebak, 



“Anda sebaiknya menikmati sesuatu yang lebih dai sekedar bunga teratai. Sekarang waktunya untuk menguatkan cerita kita. Dimulai dari Hong Gye Hee…”

Apa lagi kali ini?



Rupanya Lee Sun diajak duduk bersama Hong Gye Hee. Baginda memanggilnya putranya itu karena ia berharap Lee Sun dapat menuangkan minuman untuk Kepala Polisi Hong yang sedang tidak bahagia.



“Dia menyerahkan surat pengunduran dirinya dan berniat meninggalkan ibukota. Dia keras kepala.” cerita Raja.



Kepala Polisi Hong mengutarakan bahwa ia tidak pantas memegang jabatan ini karena hasil investigasinya (yang menyebutkan Shin Heung Bok bukan dibunuh, melainkan bunuh diri) tidak memuaskan (Lee Sun).



Lee Sun yang mendengarnya tersenyum sinis seolah meragukan pernyataan kepala Polisi Hong.

Berbeda dengan Raja yang tetap tidak bisa menerima surat pengunduran itu dan malah mengembalikannya ke Kepala Polisi Hong.

Kepala Polisi Hong tentu tidak bisa menolak perintah Raja untuk mengambil surat pengundurannya kembali. Tetapi hal yang mengherankan adalah perkataan Raja setelahnya,



“Sun-ah, Mengapa kau tidak membiarkannya menjadi Byungjopanseo (salah satu posisi tertinggi di pemerintahan Joseon). Kita tidak bisa kehilangan talenta orang seperti ini. Tuangkanlah dia minum sebagai permintaan maafmu karena tidak mengenalinya sebagai orangmu yang setia.”



Lee Sun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Kepala Polisi Hong bahkan sempat melirik Lee Sun pula, formal menampakkan ketidak-enakan hatinya di hadapan sang Raja dan kemudian justru menatap Lee Sun dengan tatapan bangga. Ia menang kali ini.


Lee Sun mengingat kembali perkataan Kepala Hong yang berkebalikan dengan pernyataan Ji Dam.


“Saya baru saja menemukan bahwa dia adalah saksi yang kau cari.”


“Saya pikir mereka mencegah saya untuk bersaksi.”


Lee Sun bertindak brutal dengan melempar botol minuman yang diberikan kepadanya (untuk dituangkan ke gelas Kepala Polisi Hong) dan membalik meja.  


“Kau harus mati! Aku akan membunuhmu yang telah membuat rakyat yang tidak berdosa menderita dan membunuh mereka!” kata Lee Sun sambil menekan leher Kepala Polisi Hong dengan kakinya.


Raja murka melihat putranya, “Beraninya kau! Kau mau aku membunuhmu?”

Bersambung ke Secret Door Episode 5


Komentar:


Saya tersentuh dengan Raja Yeongjo di episode ini. Melihat dia menyalahkan dirinya sendiri, saya jadi teringat ayah Lee di My Daughter Seo Young.

Raja Yeongjo sayang Lee Sun, bukan?

Sama seperti ayah Lee yang tetap menyayangi Seo Young meski pernah berbohong padanya, semoga Raja Yeongjo juga tidak membenci Lee Sun meski putranya  itu melakukan hal-hal yang tidak dia sukai...


Btw, Porsi Ji Dam-Lee Sun lebih banyak ya dibanding dengan porsi Hyegyeong-Lee Sun? Tapi memang enak kok ngeliat Ji Dam yang cerdas nemenin Lee Sun di tengah kebingungannya dibanding ngeliat Hyegyeong-Lee Sun yang hobinya debat terus wkwkwk. ^^v

No comments :

Post a Comment