November 12, 2014

Secret Door Episode 4 -1


Lee Sun yang datang ke tempat di mana Jung Woon diikat untuk diinterogasi tidak terima teman dekat Heung Bok, sahabatnya diperlakukan seperti itu meski Jung Woon diduga membunuh Heung Bok.


“Lepaskan ikatannya dan berikan ia kursi. Bahkan jika dia adalah tersangka, dia belum terbukti melakukannya.” Kata Lee Sun membalas perkataan “Tapi…” dari Asisten Chae.



Setelah Jung Woon duduk tanpa tali yang mengikatnya, Lee Sun sendiri yang mulai menanyainya.
Namun tidak ada satu pun pertanyaan Putra Mahkota itu yang dijawab Jung Woon.
Jung Woon malah memberikan secarik kertas kepada Lee Sun dengan terpaksa.


“Ini tulisan Shin Heung Bok.” Kata Lee Sun yang mengenali tulisan tersebut. Namun ia kembali bertanya, “Apa ini?”
Lee Sun yang membacanya, terbelalak tidak percaya dengan  apa yang ditulis di dalamnya.
Apalagi saat Jung Woon menjawab kalau itu adalah surat Shin Heung Bok. “Shin Heung Bok selalu menghina keluarga kerajaan. Ia mengincar keluarga kerajaan sejak lama.”
Lee Sun tentu tidak percaya, bagaimana bisa Jung Woon mengatakan itu setelah kemarin dia mengatakan kalau Heung Bok tidak bisa melakukannya bahkan walau dalam mimpi saja. Bagaimana mungkin dia begitu cepat mengubah ceritanya? Dan jika Shin Heung Bok memang benar demikian, mengapa justru Jung Woon yang melarikan diri?
Jung Woon yang ditanyai seperti itu hanya bisa memohon ampun. Dia melarikan diri karena dia takut dianggap bersekongkol dengan Heung Bok.



“Apa yang saya inginkan adalah kekuatan Putra Mahkota dan bukan persahabatannya.”
Putra Mahkota jelas tidak percaya (langit seakan mendung baginya), dia membuang semua bukti yang menuliskan pernyataan itu dan meninggalkan Jung Woon.



Flashback.
Jung Woon diikat di sebuah gudang yang gelap dengan kakak laki-lakinya juga duduk di hadapannya. Ia berteriak memanggil sang kakak dan memohon maaf karena Jung Woon tahu orang yang menyanderanya akan mencoba melukai kakaknya.
Lelaki tersebut mengancam, “Berikutnya giliran lehermu.”
Orang suruhan itu memang telah disuruh Perdana Menteri Kim yang sebelumnya telah mengetahui keberadaan Maenge di tangan Heung Bok, untuk menangkap Heo Jung Woon.
Flashback end.



Dan orang suruhan yang dari tadi berada di hadapan Jung Woon dan Putra Mahkota itu kini tersenyum puas. Senyum yang dibalas Jung Woon dengan tatapan kebencian.
Jadi siapa sebenarnya yang berbohong?
Atau lebih tepatnya pintar ‘bermain’?



Sebab Raja berkali-kali disudutkan bahkan saat bermain dengan Perdana Menteri Kim. Membuat Menteri Kim tertawa saja.



“Apa yang baru saja kau lakukan?” Tanya Menteri Park Moon Soo kepada Jung Woon yang sudah selesai diinterogasi.
Namun Jung Woon menolak memberikan jawaban dan terus meneruskan langkahnya, “Saya tidak punya apapun untuk dikatakan tentang itu.”
Wajar jika Menteri Park cemas dan menanyai Jung Woon. Bukankah tidak seperti ini rencana mereka?
Dengan surat dari Jung Woon tadi, Lee Sun, murid Menteri Park jadi semakin bingung dengan apa yang terjadi.



Lee Sun sampai menyuruh Asisten Chae untuk berhenti menjelaskan surat-surat (berisi penghinaan yang menentang keluarga kerajaan sejak dua tahun lalu) tadi lengkap dengan catatan kasus bunuh diri sebagai bukti kuat penghianatan Heung Bok.
“Pergilah.”
“Saya akan pergi setelah Yang Mulia menyimpulkannya.”
Asisten Chae bersikeras mendorong Lee Sun menuntaskan kasus ini karena jika Lee Sun menghiraukan bukti-bukti tersebut atau dengan kata lain membenarkan penghianatan Heung Bok terhadap keluarga kerajaan, Lee Sun bisa saja kehilangan posisinya sebagai Putra Mahkota.
Lee Sun tidak terima,


“Apa kau tahu apa yang telah hilang dariku sampai sekarang?
Bagaimana bisa kau pikir itu sebanding?”
 
Asisten Chae hanya diam mendengarnya karena tahu pasti maksud atasannya itu. Tapi saya yang tidak terlalu tahu mengenai masa lalu Putra Mahkota juga terdiam, membayangkan apa saja yang mungkin hilang dari Lee Sun untuk mempertahankan posisinya sekarang.



Lee Sun yang frustasi kemudian mengendarai kudanya. Ia pergi merenung sambil memutar kembali percakapan terakhirnya bersama Heung Bok, mengingat kebersamaan mereka terakhir kali.
Sedangkan Perdana Menteri Kim Taek, Hong Gye Hee, dan Min Baek Sang justru sudah merayakan keberhasilan mereka yang ada di depan mata.



Kontras dengan Jung Woon yang menuntun kakaknya dalam kondisi yang kacau setelah disandera semalam.



Sesampainya Lee Sun di dekat air terjun, pikirannya tak kunjung jernih seperti air di hadapannya. Ia tersenyum miris membuang pesan Heung Bok yang memintanya untuk tidak tidur di malam Heung Bok terbunuh.
Lee Sun terus duduk di pinggir sungai sampai malam datang.



Tak tahu kalau Raja menunggu di kediamannya.
Melihat putranya baru pulang selarut ini, ia pun menanyakan perasaan Lee Sun yang ia tahu terluka karena bukti yang mengarah pada penghianatan Heung Bok. Namun pesan yang disampaikan Raja rasanya tidak mengurangi luka itu,



“Pangeran, untuk seorang yang akan menjadi raja, ada satu hal yang sebaiknya tidak pernah kau lakukan, yaitu mempunyai teman. Bahkan meski kau kesepian, jangan pernah membuka hatimu pada siapapun. Jangan percaya pada siapapun. Teman untuk Raja? Tidak ada yang seperti itu.”



Luruh sudah pertahanan Lee Sun. Air matanya turun tepat saat iringan Raja pergi membelakanginya.
Putra Mahkota menangis sendirian, menghadap ke arah singgasananya yang hanya membisu membalas tatapan matanya yang berair.



Keesokan harinya, Lee Sun dengan terpaksa membubuhkan stempel kerajaan pada surat perintah penetapan Shin Heung Bok sebagai penghianat. Ia menatap ke arah Raja Yeongjo, meyakinkan dirinya sendiri. Aih, Lee Sun ini emang putranya Ayah…
Dengan status Shin Heung Bok sebagai penghianat, kerajaan meminta kepala Heung Bok dipamerkan, keluarganya akan dijadikan budak dan dijual ke Utara.
Ibu Heung Bok yang masih sakit pun tetap dipaksa berjalan mengikuti perintah. Diikuti adik Heung Bok di belakangnya.
Perlakuan tidak adil ini dilihat oleh Ji Dam. 



Namun sekarang ia hanya bisa pergi ke gibang Bu Yong Jae (belum aman baginya untuk berkeliling lebih jauh), tempat Woon Shim hampir menghanguskan gambar pencarian Ji Dam dan pesan dari Lee Sun.
Ji Dam kaget ada pesan Lee Sun kepada siapapun yang mengetahui pembunuhan Heung Bok untuk datang ke pengadilan istana. Lee Sun mencari dirinya, jadi mengapa Woon Shim menyembunyikannya?



Woon Shim ingin mengakhirinya di sini saja. Bagaimana Ji Dam bisa mengakhirinya setelah ini?
Ji Dam menjawab pasti, jika memang keadilan itu seperti dongeng dan bukan kenyataan, mereka harus membuatnya menjadi nyata. Mereka membutuhkan sesuatu yang lebih besar dari sekedar (yang ada di) dongeng  untuk memutarbalik keadaan.



Empat hari berlalu rupanya Ji Dam dan Woon Shim sudah menyusun rencana yang matang.
“Kami hanya bisa sejauh ini. Aku harap kau selamat.” Bisik lelaki pengantar pesanan Dayang Han di samping kotak antarannya yang sudah diletakkan di tempat mencuci pakaian istana.
Hayo! Siapa pemilik suara perempuan yang berterimakasih dari dalam sana?
Jadi inget si Kal So Won di Miracle in 7th Cell :)



Tidak terasa hari berangsur gelap, namun Lee Sun masih saja berlatih pedang. Putra Mahkota bermain agresif. Bikin cemas Asisten Cha dan Guru Park yang belakangan melihatnya seperti ini.
“Dia bahkan belum makan sejak putusan (Heung Bok sebagai penghianat).” Cerita Asisten Cha pada Menteri Park Moon Soo.
Hhhh, Menteri Park sebagai guru Lee Sun hanya bisa berharap sang Putra Mahkota dapat menenangkan pikirannya. Mengerikan sekali melihat Lee Sun memainkan pedangnya sekarang, siap mengoyak pakaian lawannya meski hanya latihan.



Click. Kotak yang katanya pesanan Dayang Han terbuka dan Ji Dam keluar dari dalamnya. Ia lalu bergerak cepat mencari kostum penyamarannya, tetapi




“Pakaian-pakaian ini untuk bangsawan.”
OKE, setidaknya pakaian putri mahkota tidak akan dicurigai orang lain (sehingga Ji Dam cukup yakin mengenakannya untuk berkeliling istana dengan peta di tangan)



Selain dayang-dayangnya dan Putri Mahkota sendiri…
“Putri, bukankah itu pakaian anda?” seru Dayang Kim melihat Ji Dam dari belakang. (baru nyadar kalau di The Three Muskteers, nama dayangnya putri mahkota juga dayang Kim wkwkwk)
Putri Hyegyeong menahan Dayang Kim yang hendak menegur Ji Dam, karena dia sendiri yang menanyai gadis berani itu, 



“Siapa kau? Dari partai mana kau berasal?”
Namun Ji Dam yang merasa jawabannya justru akan menambah masalah setelah tatapannya bertemu dengan Putri Hyegyeong, memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan Putri dan malah lari…



Ke tempat Putra Mahkota.
Putri pun berniat menemui suaminya.
“Tidak, Yang Mulia.” Dayang Choi membujuk Putri untuk tidak menjalankan niatnya bertemu Putra Mahkota malam ini. Dia sendiri yang nanti akan menyampaikan pesan pada Lee Sun atas kunjungan Putri.
Tetapi firasat Hyegyeong mengenai keberadaan Ji Dam di sana mendorongnya kuat untuk membuka sendiri pintu ruangan Lee Sun.



Melihat Lee Sun yang telanjang dada tengah berendam.
Putri dan saya speechless sampai tidak bisa reflek menutup pintu kembali wkwkwkwk.
Seperginya Putri kembali ke kediamannya, gelagat Dayang Choi dan Kasim Jang menunjukkan ada yang memang mereka sembunyikan.



She’s Ji Dam yang tidak takut memberikan Saecheckpae (identitas peminjam) milik Heung Bok yang ia temukan di Soopogyo ke tangan Putra Mahkota langsung. Ji Dam mengatakan bukti itu sebagai “kebenaran”.



Flashback
“Kau tidak bisa merusaknya seperti itu.” Kata Heung Bok seraya merebut Saecheckpaenya dari Lee Sun.
Lee Sun yang sebelumnya memberi ukiran pada benda tersebut, beralasan “Aku menyebutnya kekreatifan. Saechaeckpae seorang seniman harusnya unik.”
Dan Heung Bok seperti biasa tersenyum mendengar Lee Sun.
Flasback end.



Lee Sun yang sudah yakin bahwa Saechaeckpae di tangannya adalah milik Heung Bok setelah melihat ukirannya, mendesah. Rupanya Heung Bok saat meninggal memang berada di jembatan Soopogyo, bukan di makam Raja Gyeongjong, Ehlong. Maka benarlah jika Heung Bok tidak datang malam itu. Ia tidak mengingkari janji, hanya tidak bisa menepatinya.
Lee Sun tidak lupa menanyakan nama Ji Dam kemudian. Gadis ini telah membawa sesuatu yang penting, seuatu yang membuktikan bahwa Heung Bok memang bukan penghianat.



Kenyataan tersebut sebenarnya cukup membahagiakan sampai-sampai membuat Lee Sun berjalan gontai ke kamarnya.
Sayang seribu sayang, apalah arti kebenaran kini saat putusan kerajaan telah jelas-jelas menetapkan status Heung Bok sebagai penghianat. Putusan yang membuat keluarga sahabatnya tersebut harus menghadapi hidup yang sulit. Lee Sun tersedu dalam simpuhnya.



Oke, jadi apa yang bisa Lee Sun lakukan sekarang adalah mengonfirmasi lagi apa yang diketahui Ji Dam. “Benarkah Heo Jung Woon mengatakan kalau Shin Heung Bok dibunuh?”
Ji Dam membenarkan, “Dia bilang mungkin dia yang berikutnya dan dia takut.” Ji Dam membuat Lee Sun percaya apa yang dikatakannya bukan kebohongan karena dia berani mengatakannya di depan Heo Jung Woon sendiri.
Malam itu pun mereka bergegas ke rumah Jung Woon.



Dengan melewati tembok istana.



This is the first time for Lee Sun. Dia jadi kagum pada Ji Dam yang bisa keluar dengan mudah, seolah telah terbiasa.



Namun sesampainya di rumah Jung Woon, yang mereka temui adalah Jung Woon yang sudah mati dengan mata masih terbuka. Duduk bersimbah darah dekat pesan bunuh diri.
“Saya bersalah karena tidak menghentikan penghianatan Shin Heung Bok. Saya akan bertanggung jawab dengan kematian saya.”
Lee Sun yang mendengar pembacaan isi surat bunuh diri tersebut menyela, “Tidak. Inilah pesan sebenarnya.” Ia menunjuk ke arah tulisan dari darah tepat di samping tangan Heung Bok.



“Whabootado.”
Tentu saja tulisan tersebut tidak mungkin dibuat Heung Bok jika dia bunuh diri. Mereka yang membunuhnyalah yang menulis pesan bunuh diri Jung Woon untuk menyamarkan kasus pembunuhan ini. Begitulah pikir Lee Sun.
Tapi, “Apa maksudnya?”



Ji Dam yang memungut pisau dekat mayat Jung Woon terdiam seakan mengetahui sesuatu.
Lee Sun lantas menerka, “Aku pikir itu berarti pisau.”
Dan Ji Dam menjawab rasa penasaran Lee Sun dengan berkata, “Aku tahu pemilik pisau ini.” 



Beberapa saat kemudian kita tahu yang dimaksud Ji Dam adalah Chul Joo karena Lee Sun sudah tiba di markas geng (pendekar) Timur, menanyakan keberadaan Chul Joo yang merupakan pemimpin di sana dan menyerangnya serta merta.



Chul Joo pun tahu Lee Sun salah paham menuduhnya membunuh Shin Heung Bok dan Heo Jung Woon karena menemukan pisau geng Timur di TKP Jung Woon.
Anak buahnya memang kehilangan senjatanya dan memotong telinganya sendiri sebagai hukuman. Sebab, “Pendekar yang kehilangan pisaunya sama dengan kehilangan hidupnya.”
“Saya tidak tahu siapa, tetapi seseorang mencuri salah satu senjata kami dan menggunakannya untuk membunuh.” jelas Chul Joo.
Ji Dam lantas menghubungkan semuanya, “Jika ini ditetapkan sebagai kasus pembunuhan, maka kau yang akan ditangkap.”



Jadi yang membunuh Heung Bok mungkin saja seorang yang juga membenci Chul Joo, sehingga Lee Sun pun menanyakan kepada Chul Joo mengenai orang yang membencinya dan memakai Whabootado.



Tapi Chul Joo bahkan tidak pernah mendengar Whabootado…
Dan dia penasaran mengapa Lee Sun terus menanyainya bahkan masuk membuat keributan di markasnya. “Siapa orang ini? Seberapa dekat dia dengan Shin Heung Bok?”
Dia pangeran, ahjussi. Dia pangeran yang juga sahabat Shin Heung Bok sejak kecil…



Setelah mengetahuinya, Chul Joo langsung meminta maaf karena telah berlaku kasar saat mereka bertemu.
Demikian pula halnya dengan Lee Sun yang juga minta maaf atas tuduhannya, meninggalkan kesan pertama yang buruk dengan memberontak seperti itu tadi.
Namun Chul Joo menyadari itu semua karena Lee Sun peduli bagaimana Heung Bok yang baik harus dibunuh dan ditutupi kematiannya. Chul Joo menyadarinya saat mereka berkelahi.
Ia kemudian bertanya, “Apakah anda ingin melihatnya?”


Eeeeee, maksud Chul Joo apa?
Bersambung Secret Door Epiosode 4 - 2

Komentar:



Ada yang nungguin ga sih?
Hihihi, cuma mau bilang: mian ya kalo pikunya banyak & bikin berat^^

No comments :

Post a Comment