October 19, 2014

Secret Door Episode 3


Lee  Sun kaget saat membaca laporan Hong Gye Hye yang menyatakan kalau Heong Beok adalah bunuh diri dengan patah leher saat kepalanya membentur dinding dalam sumur. Itulah sebabnya tak ada air yang masuk ke tubuh Heong Beok karena ia sudah tewas sebelum masuk ke air.

Ada beberapa saksi yang mengataan kalau Heong Beok mabuk dan pergi ke Ehlong, makam kakak Raja dan mengutuki Raja dan Pangeran. Jadi kasus ini adalah bunuh diri untuk mencemarkan kerajaan. (note : dengan bunuh diri di sumur dalam area makam Raja yang dianggap keramat).


Belum pulih dari kagetnya, ada titah dari Raja untuk menghukum pengkhianat Heong Bok dan memenggal kepalanya untuk dipertontonkan di depan umum, keluarganya dimiskinkan, semua anggota keluarganya dijadikan budak dan dikucilkan ke Utara.




Lee Sun shock mendapat titah ini. Begitu juga Park Moon Su, yang sepertinya mengharapkan hasil yang berbeda karena ia menyarankan nama Hong Gye Hye untuk menjadi penyidik pada Pangeran. Ketika Lee Sun diminta untuk memutuskan kasus ini secara resmi, dengan nada pelan karena masih shock, ia malah meminta semua menteri untuk keluar ruangan.


Para menteri (terutama dari Noron) terus mendesak Lee Sun untuk memberi titah saat ini juga, membuat Lee Sun frustasi, “Apakah aku meminta kalian untuk pergi sekarang? Aku MENYURUH KALIAN UNTUK PERGI SEKARANG JUGA!!”


Hong Gye Hye bertukar pandang dengan Menteri Kim Taek, dan Park Moon Su yang melihatnya jadi curiga.


Ji Dam kaget dan ikut frustasi mendengar hasil penyelidikan yang tak benar itu. Pada gisaeng Woon Shim, ia bercerita kalau ia melihat sendiri mayat Heong Beok di Sopogyo (bukan Ehlong). Karena ia disuruh oleh Woon Shim dan bosnya untuk tak muncul dan hanya memberikan surat pernyataan, ternyata kasusnya malah berakhir seperti ini.

Kali ini ia bertekad untuk mencari bukti-buktinya sendiri. Ia meninggalkan Woon Shin yang tak sempat mencegahnya.


Min Woo Seob, orang yang mendapat surat pernyataan dari Ji Dam, juga tak terima dengan hasil penyelidikan ini. Hong Gye Hye berkata kalau surat pernyataan itu mungkin palsu dan mereka akan semakin terbelit dengan pergulatan Noron dan Soron yang kotor. Apakah Woo Seob mau seperti itu?

Woo Seob terpaku sejenak sebelum berkata, “Tidak. Saya ingin melakukan apa yang selama ini Anda ajarkan. Walau hanya ada setitik keraguan, saya akan mengejarnya hingga akhir.”


Lee Sun membaca laporan hasil penyelidikan Hong Gye Hye dan surat terakhir Heong Beok. Ia geram karena Heong Beok tak hanya tewas, tapi juga malah dicap pengkhianat. Ia pun menghadap Raja dan meminta untuk penyelidikan ulang, kali ini ia pimpin sendiri. Ia beralasan kalau Heong Beok tak memiliki alasan untuk bunuh diri. “Ia  tak mungkin ingin mencemarkan keluarga kerajaan.”


“Bagaimana kau tahu?” tanya Raja. Lee Sun terdiam dan Raja mengulang pertanyaannya lagi. “Bagaimana kau tahu?”


Sesaat Lee Sun terdiam dan berkata, “Saya telah menganggapnya sebagai teman saya.”


Raja terbelalak dan tiba-tiba marah. Ia melempar gulungan-gulungan dokumen pada Lee Sun, “Bagaiman mungkin ada orang yang berteman dengan Pangeran?” Lee Sun mendongak dan Raja dapat melihat kesedihan yang mendalam di mata putranya. Ia bergumam pelan, “Kau bodoh..”

Raja akhirnya memutusukan, “Baiklah. Kau boleh mencobanya lagi. Demi untuk temanmu yang sudah tiada.”


Lee Sun membungkuk terima kasih pada ayahnya.


Kim Taek kaget mendengar adanya investigasi ulang. Ia tergopoh-gopoh lari menemui Raja. Ia sudah bersusah payah menutup kasus. Kalau dibuka lagi, lalau bagaimana mereka dapat melindungi Maenge?


Raja terkekeh mendengarnya. “Kita?” Ia menepuk pundak Kim Taek. “Kau yang melakukannya.” Ia pun berlalu pergi.


Kim Taek marah dan memanggil Raja dengan nama mudanya, mengingatkan akan kejadian 30 tahun yang lalu. Ia mengancam kalau partainya mati, Rajapun akan mati. Raja tak gentar dengan ancaman Kim Taek. Ia sekarang adalah seorang raja. Jika Kim Taek mengatakan hal seperti itu lagi, ia akan memotong lidahnya.


Kim Taek pun menggelar rapat rahasia dengan berbagai pria yang memakai cadar. Entah mereka semua dari Noron atau ada yang Soron, Namin atau orang luar. Tak ada yang tahu. Tapi perintah Kim Taek jelas. “Kita akan perang.”


Kasim Raja mengingatkan Raja kalau seyogyanya Raja terus bekerja sama dengan Kim Taek. Raja menjawab sambil tersenyum, “Siapa yang berkata kalau aku menjadikannya sebagai musuh? Aku malah memilihnya sebagai orang untuk memberi pangeran sebuah pelajaran.”

Dari surat terkahir Heong Beok, Lee Sun pun mencari bukti ke tempat terakhir Heong Beok mungkin berada. Di Soopogyo.


Ji Dam lebih dulu tiba di sana dan mulai melakukan rekonstruksi ulang. Jika Heong Beok jatuh, kartu Saechaek itu pasti jatuh di sungai. Ia pun mencari-cari di antara bebatuan di bawah jembatan. Dan tebakannya benar. Kartu itu ada di sana. Ji Dam berteriak kegirangan, mendapatkan bukti valid itu.


Di tengah jalan, ia berpapasan dengan rombongan kuda Lee Sun, hingga kartu sachaeknya jatuh. Hampir saja ia terlindas kuda jika tak segera minggir. Sambil memungut kartu itu, ia menggerutu, “Siapa yang menaiki kuda seperti itu? Kupikir kartunya akan rusak.”

Ji Dam baru sadar. Jika kartu Sachaek-nya ketemu, tapi dimana buku yang dipinjam?


Lee Sun pun ternyata juga memiliki pikiran yang sama. Ia menyuruh orang untuk menyebarkan selebaran untuk mencari orang yang mengetahui kartu sachaek dan buku serta orang yang pernah melihat Heong Beok di malam kejadian itu.

Jadi dimana buku itu?


Buku sedang dibaca oleh Park Moon Su. What?? Ia memasukkan buku itu di sebuah loker rahasia.

Atas perintah Lee Sun, kasimnya menaruh pesan dalam tabung yang diletakkan di balik genteng tembok.


Yang langsung diambil oleh Woon Shim. Ahh… ternyata yang terlibat di dalam bisnis Sachaek ini tak hanya toko Ji Dam saja. Pantas Ji Dam berkali-kali berhasil kabur dari tentara dengan mudahnya.
Woon Shim membaca pesan itu dan terkejut.  Pesan dari Pangeran yang mencari Ji Dam (sebagai kurir Saechaek).


Park Moon Su menemui Pangeran di Soopogyo dan dengan halus mengisyaratkan kalau penyelidikan ulang ini bukan sesuatu hal yang baik. Ia berkata kalau ada orang bisa mengendalikan Hong Gye Hye, berarti orang-orang yang ingin menjadikan Heong Beok sebagai pengkhianat adalah orang yang sangat kuat, melebihi bayangan Lee Sun.


Tapi Lee Sun sudah bertekad kalau oknum yang menjadikan rakyat kecil sebagai pengkhianat haruslah menerima ganjarannya.


Secara terpisah, Raja dan Kim Taek baru saja mengetahui kalau orang yang menyarankan Pangeran untuk memilih Hong Gye Hye adalah Park Moon Su. Ia pun menduga kalau Park Moon Su mengetahui tentang Maenge.


Lee Sun mendatangi kantor Hong Gye Hye untuk mengumpulkan berbagai dokumen dan bukti investigasi.  Ia juga memanggil beberapa saksi, salah satunya adalah Min Woo Seob. Min Woo Seob senang, karena akhirnya ia bisa mengutarakan kebenaran yang ada.


Tapi tiba-tiba pelayan rumahnya datang dan memintanya segera pulang karena ayahnya sakit parah.
Dan ayah itu ternyata adalah Menteri Min, orang dekat Kim Taek. Dan yang membuatnya kaget adalah saat ayahnya menyerahkan surat pernyataan Ji Dam kepadanya. “Apakah ayah juga..”


“Mulai sekarang, kau tak diperbolehkan terlibat dalam kasus ini lagi,” perintah ayahnya. Tapi Woo Seob tak mau. Menteri Min bertanya apakah Woo Seob akan menyerahkan dirinya ke kepolisian. “Baiklah. Jika itu maumu. Tapi..”  Menteri Min menaruh belati di atas meja. “Bunuh aku dengan tanganmu sendiri. Setelah membunuhku, kau boleh pergi.”

Damn..!


Lee Sun menemukan bukti baru berupa kesaksian Jeong Won yang menyatakan kalau Heong Beok tak pernah benci pada keluarga raja. Tapi kenapa tak ada penyelidikan ke arah sana, dan Hong Gye Hye masih tetap percaya pada hasil penyelidikannya. Kesalahan penyidikan bisa mengorbankan seorang warga yang tak bersalah. “Apakah itu bukan tindakan kejam? Kuharap kau memikirkannya. Siapa tahu, saat kau mencari jawabannya, kau bisa membenarkan sesuatu yang salah.”

Lee Sun meninggalkan Hong Gye Hye yang termangu tak bisa menjawab.


Ji Dam pergi ke kamar Heong Book untuk mencari bukunya. Tapi tak ketemu. Ia curiga, jangan-jangan si pembunuh juga mengambil buku itu.


Ia pun pergi menemui pelukis lain untuk mencari tahu siapa sahabat Heong Beok. Pelukis itu menjawab Jeong Won, tapi ia itu tak tahu sekarang Jeong Won dimana. Ia malah bertanya alasan Ji Dam mencari Jeong Woon. Tak ingin ketahuan, Ji Dam pun beralasan kalau ia disuruh Moon Shin untuk mencari Jeong Woon.

Pelukis itu langsung menceletuk. “Moon Shin? Apa ia sudah ketahuan?” Ji Dam mengerutkan kening tak paham. Sambil tersenyum, pelukis itu memberitahu, “Jung Won kan punya affair dengan Chun Wol dari tempat Moon Shin.”

“Apa?!” Ji Dam terbelalak kaget.


Dan Chun Wol yang sedang digosipkan itu ternyata sedang menangis. Tanpa perasaan, Ji Dam malah bertanya, “Dimana pacarmu itu? Ha Jeong Won?”

“Ji Dam ah.. apa yang harus aku lakukan?” Chun Wol malah semakin menangis tersedu-sedu membuat Ji Dam bingung.


Hong Gye Hye menemui Kim Taek dan menyatakan kalau ia menolak untuk melakukannya lagi. Ancaman yang Kim Taek berikan hanya untuk satu kali kejadian saja. Dulu ia hanya pernah melakukan sebuah kesalahan (dan memalsukan dua dokumen berikutnya –tambah Kim Taek-).

Kim Taek memegang 3 gulungan dokumen itu dan Hong Gye Hye baru sadar kalau dokumen penting itu sebenarnya dimiliki Raja, yang berarti perintah ini sebenarnya adalah perintah Raja. Kim Taek pun berkata, “Lakukan apapun juga untuk menghalangi Pangeran. Hasil investigasi harus tetap sama.Itulah yang Raja inginkan.”


Park Moon Su diminta untuk menemui Raja. Raja mengajaknya main Goh (catur Korea) dan bertanya apa Park Moon Su ingin bisa lebih baik darinya? Park Moon Su menjawab ia memang tak berniat untuk menang main Goh.

Sambil tertawa Raja memintanya untuk berhenti sekarang. Dengan lugas ia berkata kalau ia tahu Park Moon Su yang memasukkan mayat Heong Beok ke sumur. Park Moon Soo segera bersujud dan memohon agar Raja meluruskan sejarahj. Sekarang belum terlambat. Tak ada yang bisa membangun kekuasaan tanpa keadilan yang kokoh.

Raja menggeleng dan mengingatkan kalau itulah sebabnya alasan ia meminta Park Moon Soo untuk memusnahkan maenge 10 tahun yang lalu. “Kau tetap tak akan bisa mengalahkanku.” 


Park Moon Soo mengeluarkan kartunya. “Saya bisa memberitahukan Pangeran tentang hal itu. Dan jika saya beruntung, saya bisa menenggelamkan Kim Taek bersama saya juga.”

Raja geram dan menuang bidak Goh ke papan catur. “Kau akan tenggelam bersama orang lain.”

Park Moon Soo terdiam dan terbelalak saat menyadari, “Apakah yang Paduka pikirkan sekarang?” bisiknya takut.


Sambil berbisik pula, Raja berkata, “Kekuasaan itu seperti pedang, bisa sangat berbahaya.” Ia menyapu sisa bidak di papan, “Jangan provokasi Pangeran. Akan timbul perang jika kau tak berhenti. Apa kau ingin timbul perang?” Raja menggeleng. “Jika kau tak siap menghadapinya, berhentilah mengungkapkan kebenaran.”

Damn..!


Lee Sun menemukan jalan buntu karena tak ada saksi baru. Ia pun melukis wajah Ji Dam, dan menyuruh orang untuk menyebarkan gambar itu.


Hong Gye Hee juga mengerahkan pasukannya untuk mencari Ji Dam agar bisa mendapatkannya lebih dulu dari Pangeran. Tapi hasilnya juga nihil. Gadis itu bisa dengan mudah menghilang di kerumunan. Maka ia pun memutuskan untuk melakukan penggerebekan di beberapa toko buku.


Kabar penggerebekan itu langsung terdengar ke telinga Moon Shin. Begitu pula dengan Chul Jo. Anak buahnya mengatakan kalau penggerebekan saechek itu hanya kedok untuk mencari dan menangkap Ji Dam. Chul Jo pun langsung bergerak cepat, menuju rumah Ji Dam.


Semntara itu Ji Dam masih ragu antara memberikan barang bukti itu pada yang berwenang atau tidak. Ayahnya melarangnya, karena akan membahayakan semua orang yang bekerja di bisnis saechaek. Tapi ia tak dapat menghilangkan ingatannya pada Chun Wol yang menangis karena Jeong Won menghilang. 

Chun Wol takut Jeong Won sekarang sudah tewas karena pria itu pernah berkata kalau ia takut akan menjadi korban berikutnya.


Tapi bukan itu yang menjadi kekhawatirannya sekarang, karena ia mendengar banyak langkah kaki di sekitar rumah. Ia langsung memberitahu ayahnya di ruang bawah tanah yang segera memerintahkan untuk membereskan ruangan itu.


Tentara menggedor rumah  dan mulai menggeledah. Tapi nihil. Walau kepala pasukan melihat ada yang mencurigakan di dekat gudang.


Chul Jo dan anak buahnya mengawasi dari balik tembok, siap tempur jika terjadi sesuatu.  Kepala pasukan melihat sebuah tuas dan menginjaknya. O oh.. pintu rahasia rumah keluarga Ji Dam terkuak.

Para tentara itu pun masuk ke dalam dan menemukan..


Ayah Ji Dam yang duduk di meja, asyik membaca dan sekarang (pura-pura) terkejut melihat tentara ada di hadapannya. Ruangan itu telah bersih dan hanya seperti ruangan buku biasa. Kepala pasukan berkata kalau ia mendengar Ayah Ji Dam mengelola bisnis Saechaek. “Dan kurasa tempat ini adalah tempat yang sempurna untuk perpustakaan illegal.


Ayah Ji Dam bingung, tak mengerti darimana tuduhan itu. Sementara di balik dinding lemari, para penulis dan Ji Dam bersembunyi dengan khawatir. Kepala pasukan berkata, “Kudengar kau punya anak perempuan. Di mana dia sekarang?” Semua penulis langsung mengarahkan pandangannya pada Ji Dam.


Ayah Ji Dam tak mau menjawab dan membuat Kepala pasukan marah. Ayah pun menjelaskan kalau ia adalah pustakawan yang menjaga buku-buku langka, dan Young Sang (salah satu pejabat) juga mengetahui hal itu.


Kepala pasukan pun meneliti buku-buku itu dan menyadari kalau dinding kayu lemari itu tak semasif jika ada dinding batu saat diketok-ketok. Ia pun mendorong dan mendobrak lemari itu untuk membuktikan dugaannya.


Ji Dam dan yang lain langsung berlari mendorong balik dinding kayu itu, menahan sekuat tenaga agar tak terdorong sesenti pun. Pertahanan mereka makin lemah karena Kepala pasukanterus menendang lemari itu. Hingga ada teriakan seorang gadis remaja, “Ayahhh…!”


Kepala pasukan berbalik dan melihat gadis yang memanggil ayah itu tak mirip dengan gadis yang ada di selebaran. Ia pun berkata kalau ia akan pergi, tapi akan terus mengawasi ayah Ji Dam. Jika ia mendapati petunjuk kalau ayah Ji Dam mengelola Sachaek, ia dan keluarganya akan dihukum mati.

Para tentara itu pergi dan semua yang ada di ruang bawah tanah menghela nafas lega.

Saya menduga gadis itu adalah suruhan Moon Shin. Walau Moon Shin sekarang sedang disibukkan dengan urusan lain. Ia kedatangan dua orang tamu. Lee Sun dan kasimnya.


Walau senyum-senyum ga jelas, Moon Shin tetap bungkam, “Wanita dengan wajah seperti itu pasti sangat saya terima di Gibang ini, tapi sayang saya tak mengenalnya.”


Tapi Lee Sun berkata kalau gadis itu tak pernah tertangkap saat penggerebekan padahal ia hanya seorang gadis. “Apakah kau pikir itu hal yang normal? Seseorang pasti menolongnya hingga hal itu terjadi, dan kupikir orang itu adalah orang yang sama.”

Moon Shin tetap pada ucapannya. Ia tak mengenalnya. Lee Sun keluar dengan tangan hampa. Pengawalnya menawarkan diri untuk mengawasi gibang tersebut.


Ternyata di ruangan Moon Shin tak hanya Lee Sun dan kasimnya yang menjadi tamu. Tapi juga ada Hong Gye Hye di ruang kecil lain yang ikut mendengarkan. Ia ternyata juga memiliki kecurigaan yang sama dengan Pangeran. Tapi Moon Shin tetap bersikukuh, “Anda sudah mendengar apa yang saya katakana pada Pangeran, bukan?”


Hong Gye Hye meninggalkan Gibang dan bertemu dengan Kepala pasukan yang melaporkan hasil penggerebekan malam ini. Pengawal Lee Sun yang mengawasi Gibang mendengarnya.


Ayah Ji Dam bersyukur karena Chul Jo tak masuk dan tetap siaga di luar dan memintanya untuk menjaga Ji Dam untuk sementara waktu. Ji Dam mulanya ingin membantah, tapi akhirnya berjanji untuk mematuhi ayahnya untuk tak keluar dulu. Walau dengan hati kesal.


Moon Shin menemui ayah Ji Dam di rumah. Ternyata gadis itu memang suruhan Moon Shin yang dipuji sangat pemberani. Moon Shin meminta ayah Ji Dam untuk memarahi putrinya karena Ji Dam berkeliaran di mana-mana.

Tapi ternyata walau Ayah Ji Dam keras pada Ji Dam, ia membela putrinya. Yang dilakukan putrinya itu tak salah. Ji Dam hanya kasihan pada orang yang sudah meninggal dan menguak kebenarannya. Ia malah menyalahkan dirinya sendiri dan dunia yang tak mempedulikan akan keadilan dan kebenaran.


Walau sudah sembunyi Ji Dam masih tetap memikirkan kasus Heong Bok. Ia mengkhawatirkan nasib Jeong Won. Pada Chul Jo ia mengaitkan kasus ini dengan kalimat pembuka novelna. Jangan biarkan sebuah pembunuhan menjadi pembunuhan yang lain.

Chul Jo memuji kalimat itu, tapi menurut Ji Dam karakter utamanya lebih mengagumkan. “Ia sangat berkuasa tapi sangat baik. Pantang mundur walau hal itu tak berkenaan dengan dirinya dan segala sesuatunya sangat berbahaya. Kematian yang tak wajar akan berlanjur pada kematian tak wajar berikutnya. Itu adalah kebenaran yang tak dapat ia biarkan. Sedangkan aku? Apa yang aku lakukan? Aku bersembunyi seperti seorang pengecut.”


Chul Jo mengatakan kalau karakternya itu tidak nyata. Tapi Ji Dam berkata kalau semua korban itu adalah nyata. Setelah pembunuhan Heong Bok, Jeong Won pun jadi takut menjadi korban. “Dan mereka adalah orang yang nyata.”


Rupanya pengawal Lee Sun memberitahukan tentang penggerebekan itu, membuat Lee Sun langsung melabrak Hong Gye Hye keesokan harinya.  Ia menuduh Hong  Gye Hye hendak menghalangi penyelidikan. Tapi Hong Gye Hye berkilah kalau gadis itu adalah orang yang terlibat dalam bisnis Saechaek illegal dan ia baru tahu kalau gadis itu adalah gadis yang dicari Lee Sun.


Lee Sun keluar dengan gontai dan berpapasan dengan saksi yang memberatkan Heong Beok. Ia bertanya pada Chae Je Gong mengapa para saksi itu dilepas padahal mereka belum mengaku salah bersaksi. “Heong Beok tidak pergi ke sumur itu!”


Dengan nada tinggi, Chae Je Gong meminta Pangeran untuk menyebut Heong Beok dengan kata korban. Seharusnya Pangeran memanggil dengan nama resmi, bukan dengan nama panggilan karena Pangeran harus obyektif dalam penyelidikan ini. Pangeran harus menyimpulkan penyelidikan ini dengan bukti yang ada. “Paduka tak bisa memutuskan sebuah kesimpulan dan membuat bukti agar sesuai dengan kesimpulan Paduka.”

Chae Je Gong mengatakan semua saksi mengatakan hal itu. Tapi Lee Sun juga mengatakan ada saksi yang mengatakan sebaliknya, yaitu Jeong Won.


Pembicaraan mereka berhenti karena muncul pengawal yang memberitahu kalau para pelukis kerajaan telah tiba. Lee Sun mencari-cari orang yang bernama Jeong Won. Tapi tak ada. Menurut para pelukis itu, Jeong Won terlihat menyendiri setelah kematian Heong Bok dan menghilang setelah penyelidikan.


Chae Je Gong menduga kalau Jeong Won mungkin mengetahui apa yang terjadi dengan Heong Bok dan mungkin malah yang membunuhnya. Lee Sun menyuruh untuk segera memasukkan Jeong Won dalam daftar pencarian orang.


Kim Taek mendengar kalau Jeong Won mungkin mengetahui tentang maenge juga dan menyuruh orang untuk menemukan Jeong Won sebelum ditemukan Pangeran.


Chun Wol mengendap-endap keluar dan terkejut saat ada seseorang yang menghadangnya.

Ternyata Park Moon Soo.


Dan ternyata Chun Wol yang menyembunyikan Jeong Won di salah satu gudang. Ia kaget melihat kedatangan Park Moon Soo dan berusaha melarikan diri. Tapi tak bisa. Ia pun menuduh Park Moon Soo yang membunuh Jeong Won dan membuangnya ke sumur.

Park Moon Soo mengakui hal itu. Jeong Won kaget mendengar tuduhan serampangannya benar. Tapi Park Moon Soo malah menyuruh Jeong Won untuk pergi ke kantor polisi dan mengakui apa yang ia ketahui. “Pergi dan ungkapkan apa yang kau tahu mengenai aku. Ceritakan pada Pangeran apa yang kau ketahui dan aku akan menyelesaikan sisanya. Kau harus cepat atau kau akan terluka.”


Jeong Won masuk ke ruang kerjanya dan mengambil gambar yang dulu pernah digambar oleh Heong Bok. Sebelum pergi ia haru mengetahui siapa yang Shin Heong Bok lukis dalam Banchado (=lukisan tentang upacara kerajaan)


Ia keluar dari ruangannya, tapi lagi-lagi ia dihadang dan disergap oleh seseorang. Jeong Won memberontak, tapi orang itu menenangkannya dan menunjuk pada sekelompok orang berpedang yang masuk ke ruangannya. Itulah bahaya yang sebenarnya.

“Apakah kau pelukis itu?” tanya orang itu yang ternyata adalah pengawal Pangeran. “Aku akan mengantarkanmu ke Dongganjoon hingga tiba dengan selamat.”


Jeong Won lega karena pengawal itu adalah orang suruhan Pangeran.

Keesokan paginya, Jeong Won duduk di lapangan dengan badan terikat.


Raja marah mendengar berita ditahannya Jeong Won. Bagaimana jika kasus kematian Heong Beok yang sebenarnya terungkap? Ia menggeram marah, “Park Moon Soo!!”


Sedangkan Park Moon Soo duduk sambil memegang buku novel yang merupakan barang bukti. Tekad terlihat dari raut wajahnya.


Sedangkan Kim Taek lagi-lagi melakukan kegiatan yang tak penting, walau kali ini bukan mengelap daun, tapi membuat kaligrafi.


Lee Sun muncul dan menemui Jeong Won yang duduk dengan ketakutan.



1 comment :

  1. drama ini sering kali mengundang keluhan (damn, sigh)
    makanya cocok banget kalo ada nae il yang bisa ngehibur :)

    ReplyDelete