October 11, 2014

Secret Door Episode 2


Terdengar suara ambruk, dan Lee Sun menoleh. Betapa paniknya ia melihat salah seorang menteri (Hong Bong Han) terkapar dengan darah mengucur dari dahinya. Rupanya Hong Bong Han kelelahan-tak sanggup menahan kepala yang terus menerus bersujud memohon dan mengakibatkan dahinya berkali-kali terbentur keras ke pelataran batu. Matikah dia?



Mendengar berita jatuhnya salah satu menteri, Kepala Kasim Kim memberitahu Raja.
“Hong Bong Han keras kepala. Jika Paduka tidak mendengarkan mereka, mereka tidak akan melupakan yang telah Paduka lakukan.”
Raja yang mulanya menganggap enteng saja permasalahan ini dengan menyuruhnya mengantarkan menteri Hong ke tabib, menjadi berpikir ulang.


Dokter yang ditunggu-tunggu Putra Mahkota tidak lama kemudian datang. Namun saat Putra Mahkota menahan darah dengan menempelkan kain di dahi Menteri Hong, Menteri Hong justru membuka mata dan menggeleng. Putra Mahkota pun meminta semuanya membiarkan dia berdua saja dengan sang menteri.
“Anda tampak menyedihkan sekali. Saya pikir ini akan berakhir saat (mencapai) 30 hari, dan sekarang ini sudah ke-40.”
Lee Sun mendesah seolah berkata,
“Ayah…” #sha_dew version
Tapi saya suka percakapan Ayah-Anak berikut ini,


“Jika kau tidak mengungkap opinimu itu, Menteri akan baik-baik saja.”kata Raja sambil menuangkan minuman ke gelasnya.
“Apakah mengizinkan publikasi rakyat dan mengubah hukum Saechaek sangat salah?” *mengenai Saechaek sudah ada di episode 1
Raja mengiyakan.
“Memberi harapan pada rakyat dengan mengizinkan mereka membaca dan menjual buku apakah adalah sebuah kejahatan?” lagi-lagi Lee Sun bertanya pelan, seperti seorang anak kecil yang bersalah meminta kejelasan, takut Ayahnya marah dan membuat orang-orang cemas untuk kesekian kali.
Pertanyaan yang dijawab tidak kalah lembutnya oleh Yang Mulia karena Raja Joseon itu kini jongkok di hadapan putranya, “Yang Mulia, ini bukan tentang memberikan mereka buku, ini mengenai merusak hukum yang telah ada sejak 400 tahun.”


Tetapi jawaban tersebut rupanya belum memuaskan bagi Lee Sun, sehingga ia kembali bertanya. “Kenapa kita tidak bisa? Apa alasannya saya tidak bisa merubah hukumnya?”
“Satu kali itu dirubah, maka rakyat akan mulai mengadukan hukum lainnya.juga. Mereka akan mulai bergabung untuk menentang kita berdua dan menyebarkan penolakan.”


“Apa kau pikir, kau dapat menangani semuanya?” Tanya Raja berniat memutuskan pembicaraan ini. Namun Lee Sun putranya belum mau menyerah…
“Tidakkah Abamama berpikir, Abamama sangat pesimis?”
 “Berpikirlah secara realistis!” nada Raja Yeongjo meninggi.
Yang dibalas secara idealis oleh Putra Mahkota, “Kita dapat mendengar ketidakpuasan mereka dan berdebat untuk menyelesaikan masalah mereka. Jika Saya memberi mereka izin…”
“Hanya satu yang punya kekuatan yang bisa memberikan izin!” Raja lalu berdiri, “Jika aku tidak menghentikanmu, para menteri akan menolakmu dan mulai membicarakan Sajikso (petisi pengunduran diri).”


“Kau tidak tahu apa yang kau lakukan terhadap para menteri dan sekarang kau berbicara tentang rakyat? Jika kau ingin mengubah hukum dan mengisi politik, maka kau perlu menjadi yang berkuasa terlebih dahulu. Ketika kau lebih kuat dari rakyat dan bahkan Raja, maka kau dapat mengizinkan Saechaek.” Raja akhirnya menutup petuahnya malam itu dari atas singgasananya.


Yang tidak menutup rasa penasaran Lee Sun. Meski dengan topik lain, yakni sikap tidak menetapi janji yang bukan sikap Heung Bok.
Ia yang menerima pesan dari Heung Bok untuk tidak tidur dulu sebelum dia datang dan mengatakan hal penting, jadi penasaran.
“Aku memang memintanya kalau aku ingin satu (gurauan). Ini mungkin tidaklah sepenting itu.”
“Maksud Yang Mulia?”
“Aku mengatakan bahwa aku ingin bertemu penulis yang berbakat. Aku sangat ingin menemui mereka.”
“Penulis? Siapa yang Yang Mulia maksud?”
Hahaha, cara bicaranya Kasim Jang ke Lee Sun gak kaku ya?
Tapi Lee Sun…seneng banget.


Di lain tempat: Markas Perpustakaan Suga, Seo Gyun (ayah Ji Dam) membagi tugas pengantaran buku.
Ji Dam pun tak lupa meitip pesan, saat kita diperlihatkan novel jilid keduanya dibungkus dengan rapi,
“Tolong cek Saechaeckpae(nama untuk meminjam buku)nya. Dan tolong berikan ini ke pelanggan kita yang biasanya.”


Kembali ke Putra Mahkota kita yang tengah berdebat dengan kasimnya mengenai gender penulis yang disukainya.
Kasim bersikeras dia seorang wanita, liat saja namanya. Bingae.


Aih, aih, lihat cara duduknya mas kasim di depan Lee Sun!
Tetapi Lee Sun malah membantah bahwa semuanya trik, bahkan dalam novelnya.
“Lalu apa yang membuat Yang Mulia ingin menemuinya (jika dia bukan gadis cantik)?”
“Jangan membiarkan suatu pembunuhan menjadi pembunuhan yang lain.”
“Terdengar fantasi.” Komentar kasim.
Mendengarnya, Lee Sun tambah semangat. “Aku suka bagaimana karakternya menjadi pelaku. Menurutku, penulisnya pasti cerdas, tapi dari kelas rendah. Aku berencana memberinya sebuah kesempatan.” Bertemu dengan Putra Mahkota negara ini maksudnya?


Beralih ke Soopgyo, penulis yang dibicarakan Lee Sun itu, Ji Dam ternyata sedang dalam perjalanan mengantar bukunya ketika ia mencium bau kasus. Ji Dam melihat seseorang terjatuh dari jembatan dan orang lain yang berada bersama orang tersebut justru pergi ke arah sebaliknya.
“Mungkinkah?”

Ji Dam kemudian turun ke bawah jembatan dan langsung mengeluarkan peralatan pertama investigasi: (like) canting tempat api buatannya.
Orang itu Heung Bok. Dengan matanya yang terbuka dia tergolek tidak bernyawa.
Ji Dam pun memeriksa belakang tengkuk Heung Bok namun tidak ada senjata apapun. (misalnya jarum beracun seperti di The Three Muskteers) Dia jadi menduga,
“Apakah ini kematian karena Jealgyung (mematahkan leher)?” Tidak diragukan lagi jika Ji Dam memang penulis novel misteri^^


Ji Dam tak ragu langsung melapor. Byung Joong In kepala Kepolisian setempat, juga bergegas ke TKP yang ditunjukkan Ji Dam.
Kita bisa melihat beberapa saat sebelum mereka tiba, Heung Bok masih berada di bibir sungai tepat di bawah jembatan di mana bungkusannya tak sengaja jatuh.
Namun buku tersebut diambil seseorang (yang tampaknya petugas kepolisian juga. Atau saya salah?) dan tubuh Heung Bok raib.

Min Woo Seob yang sebelumnya mendapat perintah untuk menemukan dan menangani jasad mayat yang dilaporkan dibunuh malam ini, jadi bingung.
“Siapa yang memindahkannya?” #sha_dew version
Dia menyalahkan Ji Dam karena berbohong dan mengancam Ji Dam akan dihukum mati jika berbohong lagi.

Ji Dam tidak kalah herannya.


Seperti Menteri Kim yang menanyakan di mana tubuhnya Heung Bok,


Seperti itulah Lee Sun yang penasaran mengapa Heung Bok terlambat.”Dia tidak pernah mengingkari janjinya.”


Keesokan harinya Raja pergi ke makam Raja Gyeongjong, kakak Raja Yeongjo. Mereka melewati rakyat yang langsung bersimpuh di hadapan iring-iringan Raja dan para menteri itu.
Dan sesampainya di sana, setelah Raja dan Putra Mahkota memberi hormat secara singkat, Raja mengutarakan keinginannya untuk mencuci wajah agar bisa menunjukkan rasa hormatnya pada mendiang Raja sebelumnya, 


Namun melihat sang kasim yang kesulitan menimba air sehingga disindir Raja, Putra Mahkota beralasan mungkin ada suatu masalah dan memberi isyarat prajurit untuk membantunya. Mereka akhirnya bisa menarik secara bertahap mayat Heung Bok Yeajinwhasa (pelukis potret Putra Mahkota) dari dalam Ujhung (sumur di makam kerajaan). Dramatisasi yang sukses membuat Kasim Jang dan Putra Mahkota terkejut.


“Bagaimana dia bisa ada di sana?” padahal semalam dia meminta untuk menemui Putra Mahkota.
Raja Yeongjo yang mengetahui identitas mayat itu langsung menatap curiga ke arah Menteri Kim. Sedangkan para menteri yang lain berucap tidak percaya.


Putra Mahkota perlahan beranjak maju dengan tatapan Raja yang tidak berhenti mengarah padanya. Walaupun Kasim Jang melarangnya, walaupun pengawal menghalanginya, Lee Sun tidak berhenti melangkah untuk melihat sahabatnya yang sudah dibaringkan di dekat sumur.
Sampai suara Raja pun menggelegar, “Pergi dari sana! Kau akan mati.”


Ia tanpa ragu membuang topinya dan langsung menarik pedang dari salah seorang prajurit, mengarahkannya ke para menteri yang hanya bisa memandang aneh pada Raja mereka.
“Apa yang kalian lakukan? Mengapa kalian hanya berdiri saja?”
Raja menganggap mereka berdiri di pihak yang berseberangan dengannya karena saat melihat Putra Mahkota meringsek maju mendekati Heung Bok untuk mencari tahu apa yang terjadi, mereka justru terpaku di tempatnya sebagai menteri.
Namun, “Ini baru saja terjadi di depan mata kami. Kami terkejut.”
“Tutup mulutmu!” Raja Yeongjo sontak membungkam mulut Menteri Kim Sang Ro.


Raja mengancam para menteri akan dihancurkan berkeping-keping sebagai hukuman apabila mereka tidak berhasil menemukan pelakunya. Raja bersumpah di depan makam kakaknya…
Ekspresi Raja dan putranya kali ini senada: tidak suka.


Shin Heung Bok kemudian dibawa ke ruang autopsy kepolisian. Tetapi Ji Dam dan Byung Joong In yang sebelumnya mengetahui kalau Heung Bok meninggal di Soopgyo menjadi heran karena ia ditemukan di kompleks makam Raja Gyungjong.


Tetapi saat Ji Dam bertanya pada Jeong Woon, Jeong Woon mengelak dia tidak mengetahui apapun (meski dia tahu Heung Bok memang ke sana malam itu) dan menyuruh Ji Dam menanyakannya pada polisi.


Berbeda dengan Raja Yeongjo yang sebenarnya tahu jika Heung Bok mengetahui tentang Maege, bukti aliansi Raja dengan Noron. Ia sekarang malah curiga, siapa lagi yang tahu, tetapi ia tidak memasukkan putranya sebagai yang termasuk di dalamnya. Dia tahu putranya akan sangat takut jika mengetahui hal tersebut. Namun apabila dia memang mengetahuinya, Raja menduga bahwa Lee Sun bisa saja berniat mengontrolnya. Eh?


Padahal Putra Mahkota yang dibincangkan sedang berada di samping jasad Heung Bok yang terbujur kaku di meja autopsy. Kesedihan Lee Sun yang kehilangan karibnya selama bertahun-tahun itu dirasakan juga oleh Kasim Jang yang menangis di belakang Putra Mahkota.


Tapi hal itu tak dirasakan Kim Taek karena Kim Taek justru menyuruh mertua Lee Sun, Hong Bong Han (menteri yang di awal berdarah-darah) menutup kasus ini atau ‘membereskan’ menantunya.
“Siapa yang kau patuhi? Kelompok kita memilihmu dan di sinilah kau berada. Aku dapat membuangmu sekarang. Kau pikir aku tidak bisa?”
Ahjussi ini emang jagonya peran villain…


Em, ngomong-ngomong ada yang mencurigakan mengenai pertanyaan Jeong Woon kepada Menteri Park Moon Su, guru Lee Sun.
“Mengapa Heung Bok mati, Tuan?”
Di episode sebelumnya, sepertinya Park Moon Su memang tahu tentang Maege. Mengingat hubungannya dengan Lee Sun, dia bisa jadi mengenal Heung Bok juga. Jadi apakah…?


Oke, pertanyaan yang tadi dan pertanyaan Lee Sun kepada para menteri (mengenai kejadian di Ehlong) sama saja belum bisa terjawab. Membuat sang Putra Mahkota tidak fokus menembakkan panahnya. And his father comes,

“Apa ini? Apakah karena penglihatanku yang sudah memburuk, sehingga aku tidak bisa melihat satu panah pun yang tepat mengenai sasaran? Apakah kau cemas tentang sesuatu?”
Lee Sun pun curhat kepada ayahnya bahwa dia marah karena sikap para menteri yang hanya memperselisihkan kekuasaan mereka di depan rakyat yang miskin.
Raja yang berpengalaman mengerti hal itu karena dia juga pernah menyuruh mereka agar tidak bertengkar bahkan berdebat. Ternyata mereka masih saja melakukannya hingga sekarang.
“Namun bahkan jika kau marah, jangan menunjukkannya seperti itu.” Karena itu bukan sikap Putra Mahkota.

Raja menembakkan panahnya tepat sasaran. Membuat Lee Sun terperanjat kagum dan bertanya,
“Apakah Abamama selalu demikian? Seperti Abamama yang biasanya menyembunyikan kebaikan Abamama sampai sekarang. Apakah Abamama tidak kesepian?”
That father (smiles so sweet) said “Kaulah satu-satunya yang peduli padaku.”


“Lakukan saja apa yang menurutmu benar…kapanpun kau punya masalah.” Dan Raja memberikan nasihat yang sedikit menjurus. “Satu dari para menteri adalah ayah mertuamu. Dialah yang sebaiknya menangani hal ini. Mengerti?”


Sigh, ekpresi Menteri Cha dan Kepala Kasim sama seperti ekspresi Lee Sun yang langsung membisu. Raja sangat halus menyampaikan pesannya (untuk membiarkan pihak Noron yang mengurusnya) sehingga terdengar seperti nasihat yang baik.


Beralih ke Ayah Mertua Hong yang disebut-sebut.
Ia rupanya sedang bersama putrinya di pinggir kolam. Membicarakan sesuatu yang menegangkan di tempat yang tenang. Saya jadi kebawa horror…
“Temukan yang terjadi meskipun anda menutupinya. Sehingga kita akan menemukan alasan mengapa Kim Taek ingin menangani kasus ini. Dan melihat Raja peduli juga dengan ini, pasti ada rahasia besar di belakangnya.” Rahasia yang akan digunakan keluarga Hong untuk melepaskan diri dari ikatan pihak lain?


Yap! Putra Mahkota menunjuk Hong Gye Hee untuk melakukan investigasi khusus yang sepertinya atas saran dari gurunya.


Yang ditanggapi dengan raut bingung nan lucu Perdana Menteri Kim
“Beraninya dia? Padahal mungkin dialah yang memindahkan jasadnya...” eeeeeeee, dia dia siapa?


Bagaimanapun, investigasi khusus tetap dijalankan dan menemukan bahwa tidak ada air di dalam paru-paru Heung Bok. Padahal dia ditemukan dari dalam sumur.


Sedangkan Ji Dam yang nyeletuk mengenai identitasnya sebagai saksi mata setelah melihat pengumuman tim investigasi, malah jadi incaran preman. 


Untungnya sih, ada ahjussi keren yang menyelamatkannya. Na Chul Joo dari Dongbang (daerah dekat penjara) yang tidak lupa memperingatkannya bahwa kasus itu berbahaya.
“Investigasi memang berbahaya.” Ji Dam tidak ingin menyerah dan menghiraukan begitu saja nasihat Chul Joo.

Sementara itu, Lee Sun menyelinap keluar istana untuk mengunjungi ibu dan adik perempuan Heong Bok. Ia melihat betapa menyedihkannya kondisi keluarga Heong Bok sepeninggalnya. Ibunya semakin sakit, memikirkan kalau Heong Bok bisa terancam melakukan pengkhianatan pada raja (karena menistakan sumur makam Raja dengan mayatnya). 
Lee Sun bertekad kalau hal itu tak akan pernah terjadi.


Sementara itu terjadi pertemuan antara Raja dan Menteri Kim Taek. Raja menyerahkan tiga buah dokumen untuk diberikan pada Hong Gye Hye dan mengatakan kalau ini akan menyelesaikan masalah mereka.

Hong Gye Hye kaget membaca laporan hasil otopsi Heong Bok
“Jadi kau menulis bahwa ini bukan karena tenggelam, tapi leher yang patah? Jadi ini…”
“Bunuh diri.” -.-
Hong Gye Hye menyangsikan hal itu karena semua bukti malah tak mengarah pada kejadian bunuh diri. Tapi tabib malah menyebutkan, “Tanggal 2 Maret, Tanggal 6 Mei, dan Tanggal 26 Juli, Anda mengingat tanggal-tanggal itu?” tanggal-tanggal yang juga sebelumnya disampaikan Raja kepada Perdana Menteri Kim saat meberikan 3 dokumen itu.


Sepertinya Hong Gye Hee juga mengingat dengan jelas tanggal-tanggalnya sehingga menanyakan maksud si tabib yang kemudian menyerahkan titipan Perdana Menteri Kim yang membuatnya marah dan justru meremas titipan itu.

Sementara Ji Dam memberanikan diri menyamar sebagai pelayan di Japochung untuk menemui Byung Joong In dan menyerahkan surat pernyataan saksinya.

Byung Joong In pun tidak ragu langsung menyerahkan surat tersebut ke Hong Gye Hee yang semakin dilema.


Ternyata Hong Gye Hee mendapat titipan surat ancaman dari Perdana Menteri Kim. Setelah melihat surat pernyataan saksi Ji Dam dan menimbang-nimbang, dia memutuskan mebakar surat ancaman dari Perdana Menteri dan melaporkan hasil investigasi kepada Putra Mahkota.
“Kau mengatakan Shin Heung Bok bunuh diri?”


“Dia melakukan sesuatu.” Kata Raja di kediamannya. Raja yang seolah tahu jalannya cerita…

Komentar:
Maege = Secret Door?
Saya masih belum bisa membuktikannya hehe.
Tapi drama ini memang ga bisa dipercaya.
Mulai dari sedikitnya scene Heung Bok, bakan dibuat tiada di episode 2 (em, mungkin ada flashback di episode-episode berikutnya?), sampai kelembutan perkataan Raja Yeongjo kepada putranya yang bisa jadi adalah sarana pengontrolan, sungguh membuat saya tidak bisa berharap apapun dari drama ini. Bahkan untuk berharap sedikit chemistry Lee Sun-Hyegyeong saja rasanya mustahil.
Apalagi setelah menonton episode ini saya jadi membenarkan perkataan irfa dan evi mengenai impact Lee Je Hoon. Selain chemistrynya dengan Heung Bok dan Raja Yeongjo, saya tidak bisa simpati dengannya di episode ini (termasuk saat Lee Sun terkejut atas kematian Heung Bok dan tersedu untuk sahabatnya itu). Atau memang beginilah karakter Lee Sun yang diinginkan? Karakter yang tidak menimbulkan simpati berarti sehingga Putri Mahkota dan Raja seolah menelantarkannya?

Yang pasti, saya agak takut melanjutkan drama ini. Takut endingnya dibikin kejam seperti Shark atau Fashion King (dramanya SBS) :P

1 comment :

  1. bner to mba agak akut aa aq....


    Nhury....

    ReplyDelete