October 1, 2014

Secret Door Episode 1


Kisah mengenai Putra Mahkota Sado termasuk salah satu kisah tragis nan melegenda dalam sejarah Joseon. Semua tahu Raja membiarkan putra kandungnya mati di peti beras, delapan hari setelah dikurung.

Hal-hal mengenai motif Raja yang tega pun bermunculan. Dan Memoirs of Lady Hyegyeong menjadi salah satu sumbernya. Menceritakan masa kecil putra mahkota yang memang dinikahinya saat masih muda, membuat beberapa pihak tersentuh. Betapa tidak, jika memang Raja Yeongjo temperamental dan tidak peduli pada putranya sendiri, apakah bisa kegilaannya saat dewasa murni muncul karena keinginannya sendiri?

Langsung saja, this is the story that have made me impressed at first time I watch.

Secret Door Episode 1 – Catatan Sebuah Pembunuhan


Cerita dimulai 30 tahun yang lalu saat Yeongjo masih menjadi Pangeran. Ia diselamatkan oleh Kim Taek dari sebuah rencana pembunuhan.


Namun sebenarnya rencana itu dibuat oleh Kim Taek sendiri. Ia dan para pejabat dari fraksi Noron yang ternyata sudah duduk di balik ruang tidurnya, berhasil memaksa Yeong Jo untuk menandatangani sebuah dokumen. Tentu saja Yeong Jo bersedia, pilihannya hanya dua. Menandatangani atau mati.


Dua puluh tahun berlalu. Yeongjo, yang telah naik takhta menjadi Raja, merasa sangat frustasi karena ia selalu diatur oleh Noron. Ia tidak leluasa untuk membuat keputusannya sendiri karena terbelenggu oleh surat perjanjian itu. Karenanya, ia meminta Menteri Park Moon Soo untuk menemukan tempat penyimpanan surat perjanjian itu.



Ketika surat tersebut diketahui ada di Perpustakaan Seongjungwon, Raja Yeongjo pun tak ragu untuk menyuruh orang membakar Seongjungwon sekaligus.



Namun sayang, Raja tidak tahu kalau dokumen itu disimpan di Haewoojung. Ada seorang sarjana yang menemukan surat itu di balik lukisan di ruang Haewoojung dan menyimpannya.


Siapa dia? Dialah sahabat Putra Mahkota, Shin Heung Bok yang pagi itu menemani putra mahkota berjalan-jalan menemukan Saechaek - Sewa pinjam buku. Perpustakaan berbayar.


Namanya juga Saechaek yang ilegal, Heung Bok jadi terus-terusan khawatir pada Putra Mahkota Lee Sun yang malah tersenyum-senyum kesenengan karena akhirnya bisa mencari tahu keberadaan Saechaek itu sendiri.



Salah satu yang saya suka dalam drama ini adalah trik-trik dari para pegawai (kalau saya sebut) distributor Saechaek, termasuk Ji Dam yang lihai sekali mengambil dan mengantar pesanan buku. Coba deh lihat sendiri. Penonton seperti disuguhkan drama mata-mata hahahaha. Ada saja jalan dan tempat tersembunyi untuk menyimpan semua pesanan dengan aman, serta tak lupa kode khusus untuk setiap buku. Saya akhirnya tahu kenapa drama ini diberi judul Secret Door :P


Buku illegal itu tak hanya dipinjam oleh para penghibur di Kibang,


tapi juga murid


(dan Pak Guru) di sekolah yang diam-diam menikmati buku-buku itu. Tapi sayang, kejadian tersebut menyadarkan kita kalau permasalahan penerbitan dan distribusi buku justru illegal bagi masyarakat Joseon saat itu.
Ckckckck kebayang ga gimana kita ga bisa baca buku pelajaran dan novel? Ga usah dibayangin kok^^



Singkat cerita, Ji Dam akhirnya bisa bertemu dengan Lee Sun dan Heong Bok yang baru saja memasukan kertas peminjaman di dalam tabung yang tersembunyi di atas tembok. Bagian lucunya adalah, saat itu ia melihat Putra Mahkota ketangkap basah oleh tentara kerajaan, sedang memegang tabung kayu-tempat menyimpan kertas pemesanan itu.


Ji Dam memberi isyarat pada Lee Sun untuk melemparkan tabung itu padanya, tapi Lee Sun tak paham walau sudah berulang kali Ji Dam menjelaskan isyaratnya. Kesal pada dumb and dumber yang tak paham juga, akhirnya ia berteriak menyuruh Lee Seun melemparkan tabung itu.


Lee Sun masih tetap bengong dan Ji Dam akhirnya melempar mantelnya hingga menutupi wajah para tentara dan berlari merebut tabung itu. Dan kabur.


Selesai? Belum. Karena tentara kerajaan itu tahu kalau mereka terlibat dalam bisnis Saechaek. Walhasil, Ji Dam, Putra Mahkota, dan Shin Seung Bok dikejar-kejar para tentara.



Ji Dam yang sudah lihai, dengan mudah meloloskan diri dengan masuk ke dalam sebuah Kibang, membuat para Gisaeng menahan tentara yang mengejarnya.


Namun di tempat lain, petugas keamanan sudah menangkap banyak distributor buku dan tak segan-segan memukulinya.


Melihat penyiksaan yang dilakukan mereka terhadap si agen rahasia, Lee Sun yang mulanya sudah akan kabur, mengurungkan niatnya. Ia berubah jadi preman pasar yang balik memukuli petugas keamanan. Apalagi saat ada yang memukuli Heung Bok karena berusaha menyelamatkan dirinya dari serangan, dia tidak segan berbuat lebih kasar pada orang tersebut.


Beruntung aksi heroik Lee Sun yang mengerutkan dahi Heung Bok saking cemasnya, berhasil dihentikan pengawal Lee Sun yang memberitahunya agar kembali ke istana dengan cepat.


Eeeeeeeh, di istana dia masih belum bisa menghentikan larinya. Lee Sun terus berlari sepanjang perjalanannya ke istana Raja. Bahkan mengenakan penutup kepala saja harus di jalan. Please, prince… Niru Rajakah? Bebas banget bawaannya. Atau niru Ji Dam? LOL

“Sepertinya Anda sibuk.”
Putri Mahkota Hyegyeong yang sudah menunggunya di depan istana Raja saja menyindir suaminya itu. Dan gak ketinggalan sang Ayahanda tercinta.

“Kenapa kau berkeringat? Apakah kau baru saja berolahraga? Atau kau sedang sakit?”

Pertanyaan yang dijawab sanggahan, alias “Tidak, Abamama.”


Bagian romantisnya harusnya setelah itu. Karena Sang Abamama memegang tangan Hyegyeong-putri mahkota, “Kau harus menjaganya dengan baik. Kerja keras kalian akan berpengaruh bagi negara.” Raja meletakkan tangan Lee Sun di atas tangan istrinya dan disetujui oleh putri mahkota.


Tapi kenapa Lee Sun berekspresi seperti itu? Suka atau ga sih?


Kepergian Lee Sun keluar kerajaan tentu saja membuat pelayannya sedikit kesal, “Pangeran, kenapa anda pergi menyeilidiki Saechaek hari ini? Kita (pelayan anda) kan jadi kena marah Putri Mahkota…”

“Kenapa? Kalian ingin aku beri tahu alasannya?”

Lee Sun tak langsung memberi tahu, malah menyuruh pelayannya untuk menggeledah istana, mencari buku illegal yang dipinjam oleh para penghuni istana.


Lee Sun menemui para pejabat yang kaget dengan idenya, yaitu mengijinkan rakyat melakukan Saechaek (Rakyat diperbolehkan untuk meminjam buku). Para pejabat tak setuju karena Saecheak semestinya harus dikendalikan oleh pemerintah. Tapi mereka tak berkutik karena melihat hasil penggeledahan yang dilakukan Lee Sun sebelumnya.


Hasil penggeledahan itu menghasilkan buku-buku illegal yang menumpuk tinggi, yang berarti para abdi istana pun juga melakukan saechaek dengan diam-diam.


Ada yang mendebat kalau buku-buku yang beredar hanyalah buku cerita porno dan mengajarkan hal yang tak pantas. Lee Sun pun menyindir mereka kalau mereka juga membaca buku-buku itu, dengan menebak buku yang sedang mereka bicarakan adalah Chun Hyang dan Hong Gil Dong. Lee Sun mengatakan kalau Chun Hyang mengajarkan tentang keadilan, bahwa tak benar jika seorang pria merebut kekasih orang. Dan tentang Hong Gil Dong,

“Apakah membaca buku membuatmu menjadi kriminal?”
“Itu tidaklah mustahil.”
“Jika memang semuanya mungkin, maka dunia adalah kriminal.”
Karena memungkinkan semua hal.
Dengan suara keras, Lee Sun meminta agar semua orang bisa berpikir dengan cara yang berbeda. Sama seperti mengapa dunia ini memang memungkinkan semua hal. Tidak peduli apa yang dikatakan para menteri itu, Lee Sun tetap dalam pendiriannya.


Dan reaksi para menteri sungguh beragam. Senyum sinis,

senyum manis, 


atau berkerut,


yang tidak diketahui maksudnya.


Salah satu pejabat, Park Moon Soo yang juga guru Lee Sun, memperingatkan Lee Sun kalau Lee Sun menang dalam bertindak tapi kalah dalam politik. Politik bukan hanya tindakan, tapi lebih pada bujukan. Ia juga mengingatkan Lee Sun kalau dengan tindakan Lee Sun seperti ini menjadikan Raja sebagai musuhnya, karena Lee Sun melawan peraturan raja (yang melarang Saechaek).


Aish, jadi kelupaan Ji Dam ya? Ji Dam yang sudah meyelesaikan tugasnya sekarang sedang merajuk pada sang Ayah yang pemilik percetakan yang tak kunjung membuat salinan jilid kedua novel misterinya (dulu semuanya didikte untuk nulis 1 buku karena ga ada alat).


Mulanya Ayah menolak karena cerita romantis lebih disukai (what about you, guys?) 

tetapi setelah menunjukkan pesan yang sweet  yang tertulis di balik kertas peminjaman (dari Lee Sun), Ayah jadi menyerah.


Ia menunjukkan jilid kedua yang ternyata sudah dicetak :) Ayah yang ini juga ga beda sweetnya…


Raja hanya tertawa mendengar berita tentang Lee Sun yang akan melegalkan Saechaek.


“Kondisi politik terlalu kompleks sekarang. Paduka harus menjernihkannya. Kelompok itu terlalu kuat. Mereka tidak pernah berubah. Tolong…”

“Bukankah itu bagus? Tidak pernah berubah… Mereka pasti tidak takut apapun.”

Sang Raja mengatakannya sambil menarik pancingannya yang menangkap ikan.

“Bagus. Mereka pasti sudah mencoba bertahan seperti kita.”
Seperti ikan yang tidak pernah berubah memakan umpan yang justru bisa membunuh mereka karena mereka ingin makan untuk bisa bertahan, mungkin seperti itulah orang-orang di istana-tidak berubah mempertahankan posisi dengan beragam cara untuk tetap bertahan…


Sementara itu di tempat lain terlihat seorang pelukis yang sedang mewarnai lukisan putra mahkota di hadapannya,


Em, bukankah yang duduk mengenakan baju kebesaran pangeran itu Heung Bok?


Dan pelukis itu menghentikan sapuan kuasnya.


Oke, sekarang mereka bertukar tempat. What a naughty prince.

Lee Sun mendesah, “Memangnya apa masalahnya mengizinkan Saechaek? Guruku memang terlalu rumit.”


Aih, Yang Mulia. Heung Bok sampe tersenyum seperti itu melihat tingkah anda. “Anda harus menyelesaikan masalah sederhana satu per satu (terlebih dahulu). Pertama-tama, izinkan saya melepaskan pakaian anda ini.”


Naughty Prince Lee Sun tentu saja menolaknya, “Pakaian ini lebih nyaman.” Katanya beralasan sambil merebahkan diri di samping lukisannya sendiri. “Pakaian ini lebih cocok untukku.”

“Ngomong-ngomong Heung Bok-ah, sepertinya aku akan menjadi seniman saja mulai sekarang.”


Heung Bok balas mendesah mendengar kalimat konyol Lee Sun tersebut, membuat Lee Sun menghadapnya dan menopang dagu bertanya seperti layaknya remaja ngegemesin lain, “Ada apa dengan wajah itu?”


Heung Bok menjawabnya dengan jawaban super kalemnya seperti biasa, “Yang Mulia tidak boleh mengatakannya pada orang lain, mereka akan menganggapmu manja dan berpikiran bahwa seniman itu tidak bekerja dengan baik.”

Jawaban yang sepertinya juga sering memuaskan Lee Sun karena setelahnya Lee Sun malah kembali bertanya,

“Heung Bok-ah, apa mimpimu?”


Lee Sun terlihat berpikir sambil membenarkan posisinya kembali duduk berhadapan dengan Heung Bok. “Apa mungkin menjadi kepala seniman?”

“Tidak. Tidak.” Lee Sun menjawab pertanyaannya sendiri dan melanjutkan dengan kemungkinan lain, “Seniman terbaik se-Joseon?”


Kini giliran Heung Bok yang menjawab dengan tersenyum malu, “Bukan itu. Hanya tidak menjadi khawatir dengan penyakit ibuku dan satu lagi. Aku ingin adik bungsu perempuanku menikah dengan laki-laki yang hebat. Itulah yang kuinginkan.”


Awww, scene ini tambah manis dengan tatapan keduanya yang saling mengerti.

Setidaknya sampai scene tidak manis berikutnya muncul. Kedatangan putri mahkota ke Haewoojung.


“Dia tidak ingin menemui siapapun,” kata Dayang Choi.


Putri Mahkota: “Kau pikir, aku termasuk siapapun itu?”

Dayang Choi: “Yang Mulia mengalami hari yang keras, beliau butuh istirahat.”

Putri Mahkota: Perkataanmu terdengar seperti akulah yang mengganggunya setiap waktu.

Dan dayang Choi mengatakan kalimat pamungkasnya, “Memang seperti itu.”


Siapa istri atau lebih tepatnya putri mahkota yang tidak marah dikatai demikian. Putri Mahkota tidak peduli dan tetap masuk meski tanpa pemberitahuan.


Dan membuat dirinya harus melihat Heung Bok dengan pakaian kebesaran Putra Mahkota tersungkur di hadapannya sebagai tanda permohonan maaf karena bersikap kurang ajar.


Tetapi suaminya tetap santai dengan kegiatan melukisnya. “Aku tahu ini illegal. Aku sudah tahu.” Lee Sun dengan cepat memotong setiap perkataannya.

“Lalu kenapa Anda melakukan ini?”


“Setidaknya ini menyenangkan. Aku melakukannya untuk bersenang-senang saja.”


Putri Mahkota kesal. “Jangan berbicara mengenai bersenang-senang. Ini (sambil melihat pekerjaan Lee Sun) tidaklah cukup bagi Anda, sehingga Anda menyebarkan buku ini ke seluruh istana?”


Dan untuk meladeni Putri, Lee Sun melepaskan topi pelukisnya, membenahi pakaiannya.


Menyadari situasi bertambah panas, Heung Bok memilih keluar saja. Meski akhirnya ia lagi-lagi mendesah.

“Yah Yang Mulia, saya tidak bisa keluar dengan pakaian ini…” #sha_dew version


“Kau melewati batas kali ini. Kau seharusnya tidak masuk jika aku tidak mengizinkanmu. Ini lebih dari tindakan kriminal, tetapi…”


“Membenahi politik adalah lebih penting dari yang Anda pikirkan.”


Terlihat sekali Lee Sun menahan amarahnya demi sang permaisuri,


“Baiklah, kau bisa pergi sekarang.” Putra Mahkota bangkit mempersilahkan permaisurinya pergi.


Namun tidak mudah mempersilahkan Putri pergi karena dia belum menyampaikan pesan intinya kepada Lee Sun, “Jika ini tentang kesenangan, maka simpanlah ini untuk diri anda sendiri.”

“Cukup.” Lee Sun gerah dimarahi terus.

“Mengapa Anda mengumumkan Saechaek diperbolehkan sekarang? Kapan Anda akan berhenti bersikap seperti ini?”


Lee Sun yang ditanyai demikian justru bertepuk tangan, kagum dengan perkataan Putri. “Apa kali ini kau menentangku juga?” Ia mencondongkan wajahnya ke arah istrinya.

“Apakah punya ketertarikan dengan urusan Putra Mahkota termasuk kejahatan?”
Lee Sun tidak percaya, 

“Ketertarikan?”

Ia menarik Putri ke sisinya secara paksa dan bertanya lagi, “Kau tertaik denganku atau dengan posisiku?”

Kedua tatapan pasangan tersebut membuat saya cukup tegang mulanya.


Mata bulat nan hitam milik Putri seperti punya sesuatu yang disembunyikan.


Tidak berbeda dengan Lee Sun yang justru terlihat aneh, sesaat setelah permaisurinya pergi.


Matanya berkaca-kaca melihat potret dirinya.

Hhhh, istana oh istana.


Di waktu yang lain, Raja pun membingungkan. Dia tidak mau minum obat karena ingin yang membuatkan obatnyalah yang membawakan ke hadapannnya bukan mereka. Tapi pejabat yang menyajikan berkata kalau si pembuat sedang pergi.


Dan Raja berkata jika dia meninggal apakah dia juga perlu mengikutinya. Dia menyuruh pelayan membawa obat pergi.


Semua peristiwa itu dicatat oleh pegawai istana yang mengikuti kemanapun Raja pergi.

Hem, jadi begini sejarah mengabadikan penguasa terdahulu?


Namun sampai di luar kediamannya para pelayan belum mau menyerah. Mereka pun singkat cerita berhasil membujuk Raja. Sayang, Raja yang malah tertarik dengan pelayan pria muda yang baru dilihatnya,justru menawarkan obat itu untuk sang pelayan.


“Tidak, Yang Mulia.” Yap! Demikianlah jawaban yang dipersilahkan meminum obat Raja.

Lalu apa tanggapan Raja?

“Tidak? Pelayan ini berkata tidak?”
Raja merasa tidak dihormati karena ada orang yang tidak mau melakukan perintahnya. Padahal bukan seperti itu maksud pegawai muda.

“Kubilang diam sebelum aku membunuhmu.”
Perkataan Raja yang kasar ini juga hendak dicatat jika saja mereka yang mencatat belum ngeh perkataan macam apa yang diucapkan oleh Raja itu. Raja langsung menyergah para penulis itu.


“Apakah kau akan menulis bahwa aku cukup terlalu tua sehingga tidak bisa lagi menjadi Raja? Bila benar demikian, maka aku akan mengabulkannya. Aku akan melakukan Sunwee (mundur dari tahta).”


Seluruh istana gempar. Lee Sun terkejut saat menteri Cha menyampaikan hal pengunduran dirinya.

“Saya kira ini karena kasus Saechaek.”

“Ini berarti, bahkan Raja juga marah?” Lee Sun bingung.


Padahal kalau menurut Putri Mahkota, pengunduran diri ini adalah peringatan posisi putra mahkota. Sebab sampai usia Raja yang ke-60 tahun ini, Raja masih saja dilayani bahkan sampai saat dia istirahat.


“Putra Mahkota harus meraih pengakuannya karena ada putra Raja yang lain (dari selir Raja yang resmi, selir Moon). Bagaimana jika putranya laki-laki?”


Mertua Putra Mahkota sendiri membenarkan bahwa memang tidak ada satupun yang berada di tangan Putra Mahkota.

“Maka harus ada solusi yang nyata.”


Semua menteri berkumpul di pelataran kediaman Raja 


dengan Putra Mahkota berada paling dekat dengan pintunya. Ia yang menoleh ke belakang, melihat guru dan dayangnya jadi teringat masa lalu.


Kala masih berumur 5 tahun, tidur nyenyaknya dibangunkan oleh dayang Choi dan digendong untuk dibiarkan memohon di depan pintu kediaman Raja.


Semua menteri yang berada di belakangnya memohon agar Raja mendengarkan permintaan mereka. Entah kenapa membuatnya menangis kencang.


Kasim yang berdiri di sampingnya jadi tergerak memberi Lee Sun kecil sapu tangan, namun dihentikan oleh Dayang Choi yang malah berkata,

“Menangislah lebih keras sampai Raja mendengar permintaan kita. Jangan berhenti menangis.”

Begitulah Lee Sun kecil kembali menangis hingga kelelahan dan jatuh tertidur keesokan paginya, masih saja dibangunkan oleh dayang. “Agar Raja mendengarkan kita, membutuhkan waktu yang lama. Bahkan musim-musim akan berganti. Namun jika Raja belum mengubah keputusannya, kita tidak bisa tidur, atau makan dan tidak berhenti menangis.”

Rupanya ancaman Sunwee itu sering dilakukan oleh Raja. Berkali-kali Lee Sun berada di paling depan memimpin para pejabat memohon pada Raja.


Ada suatu ketika Lee Sun bergiliran menarik tangan Dayang Choi ke tempat biasanya.


Atau suatu ketika Lee Sun yang mengantuk disiram air di musim dingin. Berselimut salju di gelap malam.


Dan setiap kali pula, Raja takluk dan setuju dengan permohonan mereka, walau kadang dengan marah, kadang dengan bercanda, kadang frustasi, ada pula kadang tanpa rasa.


Kali ini juga sama. Mereka terus memohon, membungkukkan badan mereka ke tanah memohon Raja mencabut Sunwee-nya. Berjam-jam, hari berganti hari meneriakan permohonan, “Jangan, Yang Mulia. Mohon dengarkanlah permintaan kami.”


Sementara di tempat lain, Kim Taek sedang mengurusi hal berbeda.

“Shin Heung Bok tahu di mana Maege (surat perjanjian yang dibuat Noron dan Raja)?”

“Suruh orang untuk membunuhnya.”

Tidaaaaaaak.


Heung Bok menemukan kamarnya diacak-acak. Ia segera sadar, apa yang dicari oleh oknum yang menggeledah kamarnya.


Ia segera menuju tempat penyimpanan rahasianya, di tumpukan gulungan kertas miliknya di ruangan pelukis. Tapi ia sedikit terlambat.


Salah satu rekannya menemukan surat itu dan sangat terkejut. Teman itu memperingatkannya untuk membakar dokumen itu sebab jika tidak akan membahayakan nyawa Heung Bok sendiri.

Heung Bok meminta temannya untuk diam karena ia akan segera melaporkan hal ini pada Pangeran Lee Sun. Namun tentu saja tak bisa.


Di saat Heung Bok benar-benar harus menemui Putra Mahkota, dia malah dilarang karena Putra Mahkota masih memohon di depan kediaman Raja.


Maka ia hanya menitipkan secarik kertas pada kasim untuk diberikan pada Lee Sun.


Di tengah jalan, ia menemukan beberapa orang yang mencurigakan dan segera berbalik arah.


Di kamar Raja, Raja diberitahu kalau Kim Taek tak ada di istana untuk ikut memohon. Raja mulai menduga-duga.. Apakah berhubungan dengan Maege atau bukan?


Heung Bok yang gelisah kemudian memutuskan langsung menyalin isi Maege


dalam novel misteri episode 1 milik Ji Dam (yang disukai Lee Sun) dan memberinya kode rahasia. Ada garis yang dia tambahkan di atas cap percetakan milik ayah Ji Dam.


Saat Lee Sun sedang memohon di hadapan ayahnya, sahabatnya sedang cemas dan takut. Sahabatnya itu pergi walau selalu menoleh ke belakang, mengawasi tak ada yang membuntutinya. Namun, kemudian ia merasakan sesuatu.. seseorang..


Dan bungkusannya terjatuh…


Di tempat lain, Ji Dam sedang berjalan dengan riang. Ia akan mengantar pinjaman buku lagi. Dan langkahnya terhenti.

Komentar:

Sigh, we know what would happen then. (Klik di sini) Kita tahu bahwa rekan Heung Bok di kantornya sudah memperingatkannya untuk membakar dokumen itu sebab jika tidak akan membahayakan nyawa Heung Bok sendiri.

Namun kita juga tahu mengapa Heung Bok masih menyimpannya hingga sekarang dan dihantui ketakutan bahkan saat melihat cat merahnya jatuh mewarnai kertas.

Heung Bok hanya ingin sahabatnya, Lee Sun tahu dari mulutnya sendiri sehingga mampu melepas belenggu Noron yang mengikat leher Raja, Ayahnya.


Oya, secara pribadi suara Park Eun Bin yang memerankan Lady Hyegyeong dalam Secret Door kok pas banget ya? Bukan istri yang biasanya kalem di Dong Yi atau bubbly seperti Seja-bin di Three Musketeers. Melainkan istri yang sinis dengan suaminya sendiri sejak lama, tetapi punya keteguhan yang tidak main-main.

Begitupun dengan cast lain. Karakter suara mereka cocok banget dengan karakter tokohnya. Tetapi jujur, saya jadi kangen Yoo Da In yang main drama sebelah karena suaranya yang mirip dengan suara Putri Mahkota. Awww

Son Byung Ho
Dan siapa yang mengenal kasim di samping Raja? Dialah orang yang juga berada di samping Han Kang 49 Days :)

Aktingnya keren banget dengan ditambah make up itu jadi ga nyadar #alasan

Note: feel free to comment because anonymous is allowed now^^

9 comments :

  1. jadi yang pertama comment nihh..
    hay kak.. slam kenal..
    kak lanjutin, semangattttttttt.........

    nuri... kalbar

    ReplyDelete
  2. aku lelaaah nonton drama ini...:( mungkin karena yang ditampilin itu banyak muka muka para mentri yang culas noron moron soron heheh..pusing akuh. dari sini, agak sedikit mudeng ceritanya... :D

    ReplyDelete
  3. kak..epsode 2 kapan..??

    nuri kalbar..

    ReplyDelete
  4. Hai ,, panggil apa ya?,, Sha?..

    jujur nih,wktu nntn aq sma skli engga ngerti inti dan msalh di drama ini #namanya jg bru ep 1, tp pas nntn ep 2 pun, mlah makin engga ngerti jadinya aq muter² cari kakak² blogger yg bkin sinop ini tp blum nemu jg dan akhir nya aq mnyerah, pdhl wktu blm tayang udah engga sabar n ngotot banget pgn donlot, #hahaha, maaf, curhat kepanjangan
    tp pas wlking² lagi, ternyat ada yg bkin sinop nya,, huuuwwaa😊,sinop ini bkin aq sedikit ngerti lah,, mungkin ep selanjut nya akan membuat q kembali mendonlot drama ini..hehe

    gomawo sha_dew, buat episode slanjut nya Hwaiting.. ^ ^

    ReplyDelete
  5. Mbak dee mentri yg senyum manis it papi.nya yoon chanyoung bukan ? . . . Koq mirip y ?

    ReplyDelete
  6. filmnya misteri banget, seru
    lagi ngikutin trs nih
    mba dee, lanjutin bikin sinopnya: D

    ReplyDelete
  7. Sha yg biasa nulis di pelangi drama kan?
    Sekarang bantu Mbak dee ya ngisi blognya?
    Mbak dee lg ga bisa ngisi blognya tp sehat kan... Cuma krn sibuk kan?
    Apakah sha jg punya blog sendiri?

    Ita

    ReplyDelete
  8. @all:makasih banyak buat komennya^^
    salam kenal juga...
    @nuri kalbar: udah baca kan? hehe
    @emi: saya juga sampai sekarang masih bingung kok, semoga sempet buat posting panduannya LOL
    @esna:iya, dipanggil sha aja
    sha juga sampai berniat mau menskip masalah politiknya, tapi emang ga ada salahnya kok ngikutin drama so misterius ini
    apalagi saya juga suka chemistry para pemainnya :)
    esna suka apanya di secret door? :P
    @nur hasanah: ga beda jauh sama saya, meski bantuin ngisi kutudrama, tetep aja kangen sama tulisannya mbak dee
    ditunggu aja ya :) untuk anonymous juga...
    @ririn: iya, dia jadi asisten lagi hihihi
    @ita: ini mbak ita temennya mbak anis ya? hehe
    bukan kok, ini bukan sha yang di PD, ini sha yang di cikurngora kalo tau :P
    alhamdulillah mbak dee sehat, mbak tapi gatau tuh sibuk atau ga mud hahahaha *kabur

    ReplyDelete