October 24, 2014

My Daughter Seo Young Episode 50 - 3 (End)


Seo Young yang sering mendengar ceritu Ibu jadi bertanya, “Orang tua Ibu meninggal saat dia berusia 22 tahun dan dia berkata dia langsung pergi dari sini dan tidak pernah kembali.”

Ayah menjawab lembut, “Sebelum dia pergi, aku pernah ke sini.”

 “Benarkah? Ayah tinggal di Daegu…” Sang Woo tampak tidak percaya.


Ayah pun memulai ceritanya. “Tukang kayu yang mempekerjakanku mengenal kepala kuil di sini. Aku datang untuk merenovasi kuilnya.”



Ibu versi remaja yang tengah menyusun batu di sana (konon yang bisa menyusun tinggi batu-batu kecil di kuil, keinginannya akan terkabul) bertemu dengan Ayah yang kayunya merubuhkan batu-batu susunan Ibu. Ayah kemudian membantu Ibu menyusun batu-batu itu kembali. Mereka tersenyum malu-malu.


“Dia mempunyai tangan yang lembut," cerita Ayah sambil masih tersenyum.

Ho Jung yang semakin penasaran jadi bertanya lagi, “Jadi Ayah-Ibu LDR?”

Hehe bagaimana bisa mereka LDR di waktu itu, kata Ayah. Dari Jinan ke Daegu, mereka tidak bisa membayar transportasi atau akomodasi. Ibulah yang pergi ke Daegu untuk mencari Ayah setelah orang tuanya meninggal.

Awww, kini Seo Young yang tidak percaya.

“Jadi Ibu yang menyukai Ayah duluan?”


“O.oh, Mungkin ini trademark keluarga kita, si wanita yang menyukai duluan.” Saya dan Ayah Cuma bisa senyum-senyum terus dari tadi.


Apalagi saat Woo Jae malah menggoda Seo Young, “Kau harusnya menuruni sifatnya?” Ha? Maksudnya yang mencari Ayah sampai ke Daegu? Jadi Seo Young dulu disuruh mengejarnya sampai US gitu? Dasar Woo Jae wkwk


Seusainya mereka mengunjungi Ibu, Ho Jung mengutarakan kesediaannya untuk menjadi tour guide selama perjalanan mereka berikutnya. Namun Ayah mengaku ingin ke suatu tempat selama satu atau dua jam lagi. Ayah menyuruh mereka pergi mencari udara segar.

Seo Young pun menanyakan arah perjalanan Ayah. Woo Jae juga tidak ingin Ayah demikian bila sungkan dengan mereka. Woo Jae mengaku dia juga tidak enak jika hanya berdua dengan Seo Young.

“Orang tua juga tidak selalu ingin bersama anaknya.”

Speechless. Saya jadi suka Ayah yang terus terang gini :D


Begitulah, akhirnya mereka berempat naik mobil, menikmati jalan-jalan dengan angin Jinan yang menyejukkan.

Melihat Ho Jung dan Seo Young yang suka dengan terpaan angin itu, Woo Jae nyeletuk ”Wanita di keluarga kita begitu kuat.”


Tapi Sang Woo tidak sependapat, “Ho Jung tidak.”

Rasanya mau tertawa saja mendengar Sang Woo mengatakan ini. Apa coba maksudnya?


Sampai perhatian mereka teralih saat melihat Ayah berjalan sendirian, seolah menikmati jalanan Jinan yang sepi.


Seo Young jadi teringat perkataan Ibu yang memang merindukan jalanan Jinan, tempat kenangannya bersama Ayah. Ibu rindu sekali dengan Jinan. Namun apa daya sebelum ia sempat melakukan apa yang diinginkannya, Ibu harus pergi ke tempat lain.


Di jalan ini adalah tempat dimana Ayah dan Ibu menghabiskan waktu pacaran dulu. Suka sekali melihat Ayah membayangkan dirinya dan Ibu dulu ada di depannya. Saling menautkan jemari, berpegangan tangan dengan wajah tersipu. Ibu memakai rok agak panjang lengkap dengan kaos kaki dan sepatu, manis sekali meski sangat sederhana.


Ayah masih terus berjalan dengan senyum yang tersungging di wajah kala terdengar suara hati Seo Young, “Dia terlahir sebagai anak laki-laki seseorang. Dia pernah menjadi seorang pria dan seorang laki-laki. Itulah dia.”

”Aku memanggilnya Ayah.”


Kita beralih pada hari pernikahan putra-putri keluarga Lee. Sung Jae sebagai pemandu acara mempersilahkan kedua mempelai pria maju menuju altar. Ia dan Ibu Choi memuji mempelai pria begitu tampan. And I agree with them.

Sementara itu di tempat lain, Seo Yong menghampiri Ayah yang mengaku tegang.


Seo Young (yang sangaaaaaaat manis dengan gaunnya) lalu merapikan rambut dan bunga hiasan jas Ayah. Ia memandang sendu pada ayahnya yang mengajak Seo Young untuk langsung masuk saja.


Melihat Seo Young maju ke altar bersama Ayah, Sang Woo jadi berkaca-kaca. Saya juga. Mengingat berapa episode kita lalui dengan prasangaka Seo Young terhadap Ayah akhirnya terbayar sudah dengan scene ini.


“Ayah akan memegang tanganmu di pernikahanmu. Ayah akan berjalan mengikuti march pernikahan. Dan aku akan menyerahkanmu pada pria itu.”

“Seo Young, siapa pria paling tampan di seluruh dunia?”

“Ayah.”

“Ei, selain Ayah.”

“Mmmm…”

-- Entah siapa yang mengingat percakapan ayah dan Seo Young kecil tersebut selama langkah Seo Young dan Ayah terus mendekati altar. Namun dengan mendengar percakapan ini, mata saya kembali berair dan pikiran saya menerawang. Membayangkan saat pernikahan itu tiba, Ayah saya juga bisa ada di sana. --


Memandang bangga seperti Ayah Lee. Berfoto keluarga seperti ini.


Dua tahun kemudian, Seo Young menjadi pengacara yang cukup terkenal dengan Lee Yun Hee sebagai manajernya dan Ayah Kang sebagai sponsor kegiatan sosialnya hahaha. Ayah lagi-lagi cuma bisa speechless menantunya masih meminta uang darinya. Tapi WINNER jadi bisa berkontribusi secara social dan itu baik bukan? :P

Seo Young yang berpapasan dengan Woo Jae di kantornya tidak lupa memberi semangat. Mereka akan bertemu di rumah nanti untuk mengobrol lebih panjang :)


Untuk WINNER’s Entertainment, ada Manajer Kang yang sedang melakukan audisi para artisnya.


Artis WINNER ya salah satunya ayah Ho Jung, Choi Min Suk si ahjussi terkenal.


Ibu Choi yang selalu menemani Ayah Choi jadi cemburu suaminya dielu-elukan para ahjumma, “Dengan cuaca dingin seperti ini, seharusnya mereka di rumah memasak untuk suami mereka.”


Manajer Kang yang melihat Ibu hendak menuju kerumunan fans Ayah, mencegah niatan itu. Ia mengancam akan menyuruh Ibu tinggal di rumah jika tetap melakukannya.

“Urusi saja pakaiannya, Bibi. Dia terlihat tua,” pinta Sung Jae.

“Dia akan tampak bodoh jika berpakaian terlalu muda di usianya. Dia tampak sempurna the way he is.” Saya sengaja tidak menerjemahkannya biar terlihat seperti lirik lagunya Bruno Mars (bukan? wkwk).


Sung Jae pun tersenyum tanpa tahu ibu kandungnya, mantan sekretaris Yoon ada di sana, memancarkan sinar mata bangga  yang ditujukan untuk dirinya.

Hari berganti malam. Waktunya Sang Woo pulang.


Tetapi di tengah perjalanannya keluar Rumah Sakit, ia bertemu dengan kakak ipar, Prof. Choi.

“Apa kau akan menemui Ho Jung lagi?” tanya Prof. Choi setelah menerima salam dari Sang Woo.

Sang Woo yang mengiyakannya langsung dikatai, "Kau begitu setia.”


Percakapan mereka pun terselesaikan saat Prof. Choi menerima telepon dari Mi Kyung.

Hehe, sudah dua tahun lamanya muridnya itu ada di US dan baru sekarang ia meneleponnya.

“Apakah kau meneleponku karena ingin tau apakah aku akan hadir di seminar Pennsylvania?”


LOL ketebak banget alasannya Mi Kyung nelepon. Tapi dia senang saat mengetahui dari ujung telepon kalau Prof. Choi mengajak Dr. Park makan. Akhirnya ia punya teman makan juga :P


Lain halnya dengan Ho Jung yang kalau punya teman pria langsung disambar dengan tatapan ga sukanya Sang Woo. Ho Jung memberi kursus merajut dan kali ini muridnya adalah laki-laki yang sekarang sedang membuat Ho Jung terpingkal-pingkal.


Murid itu langsung mengambil langkah mundur saat Sang Woo memanggil istrinya dengan pangilan yeobo. 


“Bukankah sudah kubilang, jika ada murid laki-laki datang hal pertama yang sebaiknya kau katakan adalah kau sudah menikah?” Sang Woo mengingatkan Ho Jung mengenai PRnya saat mereka berjalan pulang.

Errr, “Bagaimana bisa aku mengatakan pada mereka jika mereka tidak bertanya? Aku benar-benar mengira mereka ingin adalah siswa,” jawab Ho Jung memberi pengertian.

Namun Sang Woo terus berkomentar, “Murid mana yang menghabiskan waktunya dengan menceritakan lelucon pada gurunya? Kau begitu polos. Dan mengapa kau tetap tertawa? Apakah kau menganggapnya lucu?”

Sang Woo belum berhenti berbicara karena Ho Jung membenarkan lelucon Itu lucu. Ia menanyakan apanya yang lucu sehingga membuat Ho Jung lelah.

“Oppa, jangan lakukan ini. Oppa lebih tinggi dan lebih tampan berjuta-juta kali lipat darinya. Mengapa cemburu?”

Sang Woo tidak mengakui kecemburuannya meski untuk apa lagi dia memanggil Ho Jung dengan sebutan Yeobo seperti itu tadi. Sang Woo beralasan kalau sikapnya tadi untuk melindungi kedamaian keluarganya.


“Kau tahu berapa usianya? Dia 25 tahun, hanya dongsaeng.”

Ha! Sang Woo terkejut. Istri cantiknya ini bahkan mampu menarik pria muda? Cukup, Sang Woo akhirnya mengajak Ho Jung ke klinik Obgyn besok.

Ho Jung bingung, “Ketika aku memintamu ke sana, oppa bilang oppa ingin seperti pengantin baru.”

“Kau tampak single karena kau tidak punya bayi.”

Senyum Ho Jung mengembang. Ia menggandeng tangan suaminya yang mengeluh panas diperlakukan seperti itu. Ia ingin Ho Jung melepasnya. 
     

Tetapi Ho Jung tidak mau, apalagi saat melihat wanita yang naksir Sang Woo (karena selalu membenarkan make up setiap kali bertemu Sang Woo) ada di depan mereka^^”


Begitu wanita yang dimaksud melewati mereka, Sang Woo melepas gandengan istrinya dan ganti memelukya. Ia menyuruh istrinya itu untuk menggantung foto pernikahan mereka di toko besok.

“Ya,” jawab Ho Jung patuh. Mereka berdua pun melanjutkan berjalan pulang.

Seperti Seo Young.


Sesampainya di rumah Seo Young langsung menyapa Seol, putri kecil yang sudah lama bermain dengan sang nenek sampai nenek belum makan dan lelah :D

“Itu karena Ibu ingin merawatnya sendiri daripada menyewa pengasuh bayi.”

Ibu beralasan, dia tidak tega melihat Seol yang tepat di depannya harus diasuh orang lain.

“Lalu apakah aku sebaiknya tidak bekerja.”

Ibu yang mendengarnya mencoba mencubit pipi Seo Young gemas.

Segemas saya pada Seol-ah >.<


“Naik, naik,” kata Ibu mengomando Ayah Kang yang tengah memijat punggungnya karena kelelahan bermain gendong-gendongan dengan Seol seharian :P

Ayah berkomentar, “Cucumu membunuhmu.” Tapi ayah tidak sadar kalau pijatannya di punggung Ibu mungkin bisa membuat Ibu terbunuh. “Pelanlah,” keluh Ibu.  Haha

“Ini terlalu berat, kita harus membuat mereka pindah.”

“Tidak. Tidak boleh,” sanggah Ibu.

Ayah menjelaskan alasannya, “Ini terlalu berat untukmu.”

Tapi Ibu tidak mau mengalah, “Seo Young tidak memiliki Ibu. Jika mereka pindah, bagaimana dia bisa bekerja dengan pengasuh yang mengurus Seol?” Seo Young jadi tambah cemas juga mungkin. Apalagi jika si pengasuh bukan orang yang yang dia kenal.

“Dia tidak menghasilkan uang.” Ayah akhirnya meluapkan kekesalannya. “Dia mengambil lebih banyak uang dariku hari ini.”


Yang lucunya, justru ditanggapi Ibu seperti ini

“Mengapa kau ingin menantumu menghasilkan uang juga?”

Ayah yang lelah, mengalihkan pembicaraan. “Aku tidak punya waktu berbicara denganmu. Kita bahkan tidak pernah berbicara 20 menit tiap hari seperti sekarang.”

Hhhh daripada ngeliatin Ayah dan Ibu yang kayaknya ga selese-selese itu, mending liat si cute Seol dan orang tuanya aja yuk :P



“Ayo tidur,” rajuk Seo Young sambil menggendong Seol. Menepuk-nepuk punggungnya pelan agar dia mengantuk.

“Aku pikir dia tidak mau tidur,” kata Woo Jae kemudian. Ia menggendong Seol dan memujinya begitu berusaha untuk menunjukkan ketidak sukaannya dengan walkernya ckck. “Kau begitu keras kepala. Siapa yang kau tiru?” Woo Jae melirik Seo Young.


Seo Young tidak terima. “Aku sangat lembut ketika aku kecil. Itulah mengapa Ayahku mengajakku mendaki. Untuk membuatku lebih tangguh.”

Woo Jae yang mendengarnya bergurau dengan putrinya bahwa dia tidak akan mengajak Seol ke gunung.


Seo Young hanya bisa tersenyum, “Jika dia tidak menyukai sesuatu, dia tidak akan berubah pikiran. Sama sepertimu.”

Dan apa kata sang Ayah? “Jadi kau menuruniku? Itulah sebabnya kau begitu cute?”

Err…ya, ya, saya mengakuinya Woo Jae-ssi.


Hari beranjak larut. Woo Jae dan Seo Young masih lelap tertidur kala Seol menangis kencang. Putri kecil itu pintar sekali mencari perhatian karena kemudian Woo Jae mencoba membangunkan Seo Young.

Namun Seo Young balik membujuk Woo Jae. Tapi Woo Jae tak mau mengalah. “Hari ini giliranmu,” tolak Woo Jae.


Dan Seo Young beringsut memeluk Woo Jae, “Ayah Seol, aku sangat lelah. Aku harus bangun jam 7 pagi. Hanya sekali, tolong.”

Woo Jae sebenarnya enggan. Tetapi siapa yang bisa menolak dengan rajukan Seo Young seperti itu.

“Terima kasih, sayang.” kata Seo Young sementara Woo Jae mencoba mendiamkan Seol.


Malam itu, Seol tidur di kasur yang sama dengan orang tuanya.


Untuk menyambut keesokan hari yang indah bersama Bibi Ho Jung dan Kakek Lee. Meski harus diawali perselisihan yang sepele karena Ho Jung mengejek Ayah (ia kan juga ingin menggendong Seol), atau mengatakan kepala Seol yang terlihat besar. Haha.


“Bukan itu yang aku maksud. Aku hanya kagum melihatnya tumbuh besar setiap kali aku melihatnya,” jelas Ho Jung yang menyamakan Seol dengan taoge(?)

Ho Jung curcol, dia sedih karena belum memiliki bayi.

Lalu Seo Young mulai bercerita pengalamannya saat tengah hamil Seol. Kehamilan memang bel surga yang berat, bahkan sulit ketika kau ingin ke toilet. Jadi lakukan saja apa yang ingin Ho Jung lakukan sebelum hamil sambil menunggu.

Mendengarnya Ho Jung tidak kehilangan antusiasnya, “Itu mungkin yang terberat tapi juga bel yang tercantik.”

Apalagi saat Seo Young mengatakan, “Kau ingin tahu bagaimana bayi itu bersamamu. Itu hebat dan membahagiakan. Ketika aku memandangi Sol, aku dapat merasakan sesuatu dalam hatiku. Perasaan yang bercampur-campur.“


Perasaan seperti ingin muntah??? Mom’s Feeling maybe :)

Sang Woo terbelalak melihat layar sonogram, “Dok, apakah aku melihat dua bayi?” 


Ho Jung terlalu senangnya sampai ingin menangis. Sang Woo sebagai suaminya memeluk istrinya itu dengan rasa syukur yang tak terkatakan lewat senyumnya.


Ayah yang tidak mau kalah menyambut kedatangan cucu kembarnya, kembali menggoreskan pensil, mendesain ayunan untuk keduanya.

Ternyata kursi goyang Seo Young sudah selesai.


Dan sambil memangku Seol yang tertidur, Seo Young duduk di atas kursi goyang tersebut bermandikan sinar matahari musim dingin yang sanggup menghipnotisnya untuk memejamkan mata.
Seo Young tersenyum. Wajahnya memancarkan kebahagiaan, bersinar diterpa cahaya.

Komentar:

So happy.

Melihat scene terakhir, rasanya hilang sudah gondok di hati untuk melepas My Daughter Seo Young pergi. Saya seperti tertular ketenangan Seo Young, mendadak lupa apa yang selama berbulan-bulan membuat saya gemas.

Ditambah lagu yang calm banget mengulang setiap potongan drama ini, saya jadi bingung mau komen apa tentang endingnya.

Hehe, jadi terima kasih banyak buat Mbak dee yang mengizinkan saya melanjutkan ceritanya My Daughter Seo Young. Habis, nanggung juga tinggal separuh. Toh episode ini episode termanisnya MDSY jadi sayang kalau dilewatin :P

Akhir kata, terima kasih pula untuk tim produksi drama My Daughter Seo Young yang telah membuat saya luluh untuk menonton drama weekend 50 episode^^” Terima kasih untuk pesan-pesan dan para artisnya, karena saya menemukan Park Hae Jin, Lee Sang Yoon, and great projectnya Lee Bo Young di sini hahahaha.

Note: Drama baru ketiga (setelah MDSY) Park Hae Jin dan Lee Sang Yoon tengah ditayangkan lho!

Park Hae Jin dalam Bad Guys bisa dilihat di blognya Mbak Fanny

5 comments :

  1. Trima kasih untuk mbak dee n mbak sha_dew yg sudah mw mlanjutkan sinopsisnya stelah seeeeekian lama....
    Tdnya sich dah gak ngarep lg lanjutan sinopnya eh tetiba pas jln2 kemari malah ini yg nongol..
    Meskipun dah nonton dramany d TV n baca recap Inggrisnya tp te2p gak bosen.... Apalagi endingny yg mnurut q pas bgt....

    ReplyDelete
  2. terima kasih kembali untuk komentarnya^^
    memang pas banget mah endingnya, suka banget!
    btw jangan malu untuk nulis namanya ya! :)

    ReplyDelete
  3. Seneng bgt dg drama ini.gk bosen 2 ntn....apalagi skrg ditayangin lg di kbs indvsn...:)

    ReplyDelete
  4. Baru nonton drama ini...ternyata bagus banget....makasih mbak dee n mbak sha_dew yg udah rekapin....sbnrnya nonton drama ini gara2 kepincut sama lee sang yoon di liar game....hehehe....

    ReplyDelete
  5. happy ending yeahh...jujur baru liat d rtv tpi critnya galau terus smpe k bawa perasaan,,akhirnya baca sinopsisnya d sini..tenyata ending nya heppy

    ReplyDelete