October 24, 2014

My Daughter Seo Young Episode 50 - 2


Ayah menyampaikan rasa terima kasihnya pada Ayah Lee yang telah menyelamatkan putranya, Woo Jae. Namun Ayah Lee merendah lagi. Ayah Lee berkata bahwa dia tidak menyelamatkannya, itu hanya kecelakaan kecil saja dan dia hanya tidak berhati-hati.



Melihat Ayah Lee yang sungguh berbeda dengan dirinya, ia pun mengatakan dengan lembut tujuan lainnya mendatangi Ayah Lee (selain untuk berterima kasih). “Saya pikir kita sebagai orang tua sebaiknya mengurus kesalahan anak-anak kita.”



“Maksud Anda?” tanya Ayah Lee yang bingung.

“Besan, (dulu) Anda tidak bisa melihat pernikahan putri Anda.”

Dan saya sudah bisa membaca jelas maksud Ayah Kang :)



Sementara itu di rumah keluarga Lee, Sang Woo tengah mempersiapkan kedatangan sang Ayah dengan bersih-bersih. Termasuk merapikan kembali kasur lipat Ayah dan bagian atas lemari kamarnya.



Di mana Ho Jung menempatkan kotak berisi sandal yang dulu pernah diberikan Sang Woo saat masih menginap di rumahnya (karena Ho Jung mabuk).



Sang Woo jadi mengingat perkataan Ho Jung, “Oppa memberikanku alas kaki sebagai hadiah, tetapi aku tidak melarikan diri.” Sigh, Sang Woo sendiri tidak percaya dia memberikan sandal itu.

(Di Korea memang ada mitos jika kita memberikan sepatu pada seseorang, orang itu akan meninggalkan kita. Jadi apa maksud Sang Woo waktu itu?)



Tidak berapa lama, Ayah yang tiba di depan rumah disambut pelukan hangat Ho Jung. Hehe Ayah yang malu menyuruh Ho Jung tidak melakukannya di depan Seo Young dan menantu Kang yang mengantarnya pulang. Tetapi Ho Jung berlasan jika beginilah caranya orang Amerika saling menyapa^^ (Ho Jung pernah sekolah di Amerika)

“Ya, aku seperti kembali ke rumah saat melihatmu seperti ini.” Aih, kok jadi saya yang melted jika Ho Jung yang dipuji?



Ho Jung kemudian menyapa Seo Young dan Woo Jae yang dibalas pertanyaan mengenai keberadaan Sang Woo oleh Seo Young.

“Dia membersihkan rumah demi kedatangan Ayah. Dia mengelap semuanya.”

Mendengar itu, Ayah jadi ingat sesuatu. “Lalu bagaimana dengan mi kimchi lobak mudamu? Apakah sudah siap?”



Ho Jung pun mengiyakan dan langsung menggandeng Ayah masuk bersamanya. Meninggalkan Woo Jae yang menggoda Seo Young, “Ho Jung lebih seperti putrinya (Ayah Lee).” Hahahahaha



Namun setelah Ayah di mencicipinya, Ayah terdiam.

Sang Woo yang penasaran langsung mencoba masakan yang katanya disiapkan Ho Jung dengan usaha keras. “Woa, rasanya seperti buatan Ibu.” Eh?

Ayah langsung memandang Ho Jung dengan tatapan heran campur kagum.

Namun Ho Jung langsung meluruskannya, “Aku hanya berkata, itu melibatkan usaha yang banyak. Seo Young yang membuatnya.”



Kini giliran semua mata tertuju pada Seo Young yang menunduk hihihihi.

“Eonni berkata eonni tidak pernah memasakkan Ayah sebelumnya. Jadi eonni datang ke sini dan membuatnya. Aku melihatnya dan mempelajarinya kemudian.”

Yap, Seo Young mengaku ia memang terbiasa membantu Ibu sehingga ia membuatnya dengan cara  yang biasa Ibu lakukan.

“Terima kasih. Aku pikir memang ibumu yang membuatnya.”

“Ngomong-ngomong Seo Young-ah, Ayah mertuamu mengatakan padaku tentang pernikahan kalian.”



Perkataan yang membuat Seo Young dan Woo Jae saling menatap satu sama lain.



“Aku tidak percaya Ayah datang untuk mengatakan hal itu," kata Seo Young sepulangnya dari rumah Ayah.

Woo Jae pun menanggapi, “Itulah masalahnya orang tua Korea. Mengapa mengurusi pernikahan anak-anak mereka? Aku bahkan belum memutuskan apakah akan menikahimu atau tidak.”



Seo Young sontak menghentikan langkahnya mendengar perkataan Woo Jae ini. “Apa maksudmu dengan belum memutuskan?”

Woo Jae mengerutkan dahinya, terheran. “Sejak kapan kau menjadi begitu berani (to the point)?”



Woo Jae menjelaskan bahwa Ayahnya membicarakan pernikahannya dengan Seo Young sebelum Woo Jae memutuskan sendiri apakah akan menikahi Seo Young atau tidak. Dulu dia memang sangat ingin menikahi Seo Young, tetapi setelahnya justru masuk ke dalam banyak masalah. “Apakah kau ingin aku menikahinya lagi?”

“Kau sungguh-sungguh dengan itu?” tanya Seo Young menghentikan langkahnya lagi.
                
“Kenapa? Apakah kau ingin menikah denganku? Jika ya, maka katakan padaku kenapa. Aku akan mengiyakannya.”

Seo Young benar-benar tidak percaya dengan Woo Jae, “Mengiyakan?” Hanya mengiyakan? Woo Jae seolah menghiraukan Seo Young yang menanyakannya dengan tulus, mengatakan pernikahan tinggal seperti itu. Seo Young yang meminta dan ia tinggal mengiyakannya.

Woo Jae pun mengingatkan Seo Young, ”Dulu kau mengatakan kau ingin mandiri. Maka aku memutuskan untuk menunggumu 3 tahun. Mandirilah sampai 3 tahun.”

“Lalu bagaimana jika aku tetap ingin hidup sendirian setelahnya?”



“Kalau begitu kita bisa menjadi teman selama sisa hidup kita.” Woo Jae ini memang berbakat nggodain Seo Young.

Seo Young hanya mendesah melihat lesung pipit Woo Jae muncul sebelum melangkah lagi.



Di tengah jalan, Seo Yeong meminta Woo Jae menepikan mobilnya untuk membeli kopi untuk mereka berdua. 


Woo Jae menjalankan mobilnya lagi sambil menyeruput kopi. Tapi belum sempat bibirnya menyentuh bibir gelas, ia berhenti. Woo Jae terpaku melihat cincin yang melingkari sedotan di gelas kopi dari Seo Young. Plus lamaran Seo Young yang mencoba bersikap cool saat berkata, “Menikahlah denganku.”



Wkwkwkwkwk Woo Jae totally surprised dengan perubahan sikap Seo Young itu. Ia sampai tanpa sadar melepas kendali mobilnya sehingga terus minggir ke arah kiri.



Ekpresi keduanya lucu banget!

“Jadi kau membawanya ke mana-mana?” tanya Woo Jae masih terkesima melihat cincin tersebut setelah menepikan mobilnya.

“Ya, setiap saat.” jawab Seo Young agak malu tuh.

“Kenapa?”



“Karena aku tidak suka perasaan saat kita putus.”

Yang dibalas Woo Jae juga dengan tidak kalah terus terangnya, “Mengejutkan. Kau tidak menyembunyikan semua perasaanmu sekarang.”

Mendengar tanggapan yang hanya seperti itu membuat Seo Young mulai naik darah tak sabar, “Apa yang akan kau lakukan? Kau akan menikahiku atau tidak?” o.O



Woo Jae tersenyum sangat manis mendengarnya, “Aku tahu. Iya iya, aku akan menikahimu.” Damn sweet :*

Mereka pun berpelukan.



Beralih ke pasangan sweet lainnya, Ho Jung dan Sang Woo.

Ho Jung menunggu Sang Woo dengan agak menggerutu. “Oppa mengatakan kalau dia hanya akan mengantarkan Ayah, tapi mengapa dia belum kembali?”

Kemudian dia terkejut saat melihat sandalnya ada di kantong plastik  dekat pintu yang seharusnya dibuang Sang Woo (atas permintaannya) sekalian pergi tadi.



Dia pun memeriksa kotak di atas lemari kamarnya dan menemukan sepatu cantik di dalamnya. “Apa ini?”

Dan kartu pesan kecil yang ada di dalam kotak sepatu itu menjawab pertanyaan Ho Jung, 



“Aku memberikan hadiah ini sebagai ganti sandal itu. Aku percaya kau tidak akan melarikan diri bahkan jika aku memberimu sepatu.”



Hihihihi Ho Jung sangat senang sehingga memasangkannya dengan pakaian terbaiknya dan berjalan-jalan di sekitar rumah.

Ia terkejut Sang Woo menunggunya di luar dengan sebuket bunga merah. “Aku tahu kau akan langsung keluar memakainya.”

Sang Woo lalu langsung ke topic pembicaraan. “Aku belajar sesuatu saat Ayah sakit. Jika kau ingin mengatakan sesuatu, sebaiknya kau tidak menundanya.”

Sang Woo mengucapkan terima kasih pada Ho Jung yang telah menikah dengannya. Membuat Ho Jung semakin terharu dan terpaku. 



Bahkan saat Sang Woo memberikan bunganya, Ho Jung masih belum bisa percaya sampai Sang Woo hendak pergi haha.

Ia mencium wangi bunga yang menyadarkannya.

“Itu bunga pertama yang aku belikan untuk wanita yang kucintai.”

Ho Jung semakin tidak percaya saja, “Apakah aku salah dengar?”

Sang Woo jadi gemas, memegangi wajah istrinya itu. “Kau seperti orang bodoh. “



Ia mengatakan lagi, “Aku mencintaimu.” Dan mencium Ho Jung yang rasanya sudah melayang saja.

Namun Sang Woo seolah meyakinkan Ho Jung dengan mengulang perkataan dan ciumannya lagi, “Aku mencintaimu.”



Scene bahagia lain diperlihatkan oleh mantan kekasih Sang Woo, Kang Mi Kyung yang mendapat ucapan selamat selesainya operasi karena berhasil diterima program pertukaran dokter di Toms Everton.

Dan rumornya, Prof. Choi, kakak Ho Junglah yang menulis rekomendasi untuknya. O.ow. Ada apa gerangan? Bukankah Mi Kyung bukan tipe dokter yang disukai Prof. Choi?


Mi Kyung langsung menemui Prof. Choi yang sedang makan dengan mengagetkannya.

Ketika Prof. Choi ditanya beginilah jawabnya, “Tapi kau tipe dokter yang disukai Prof. Jeffrey (guru Prof. Choi di Toms Everton). Beliau suka dokter yang humanis.”

Mi Kyung jadi tidak percaya, “Jadi anda memuji saya?”

Prof. Choi menjawab jika itu sebagai ucapan maafnya karena telah mengolok Mi Kyung sebelumnya. Ia kemudian tersenyum dan pergi meninggalkan Mi Kyung yang sangat senang.


Bahkan di rumah, ia langsung menyampaikan berita tersebut saat keluarga Kang berkumpul.


Putra-putri keluarga Kang akhirnya bisa memutuskan sendiri apa yang akan mereka lakukan mulai sekarang.

Ayah saja sampai heran. “Sejak kapan anak-anak Kang Ki Bum mengumumkan apa yang mereka putuskan? Kang Mi Kyung membeli tiket pesawatnya dan berkata akan pergi ke US. (dan) Aku mengizinkan Kang Sung Jae menjadi actor. Apa yang akan kau lakukan?”

“Menjadi manajer," jawab Sung Jae yakin.


Ayah langsung tepok jidat, bertanya heran pada sang istri “Bagaimana perasaanmu tentang hal ini? Apa yang akan kita lakukan dengan pernikahan Mi Kyung? Apakah kau ingin Sungjae mengejar-ngejar artis?”


Ibu Kang tersenyum manis seakan bangga dengan putra-putrinya. Ia menyarankan untuk menarik kembali rencana pernikahan Mi Kyung dengan keluarga Grup Haesan dan karena Sung Jae sudah menemukan bakatnya, mari kita ucapkan selamat padanya.

Emosi Ayah mulai naik. Ia mengatakan ini tidak ada dalam perjanjian dengan Ibu, di mana mereka harunya berdiskusi terlebih dahulu untuk memutuskan masalah anak-anak mereka.

“Lalu jika aku mengingkarinya, kau ingin menceraikanku?” tanya Ibu Kang tetap dengan senyumnya.


Hahahaha, bisa apa Ayah kali ini? Bercerai dengan Ibu sama saja tidak menyelesaikan masalah :P

Maka ia hanya bisa mendesah kesal, meski Mi Kyung dan Sung Jae berterima kasih padanya dan mengatakan akan pulang dengan selamat serta melakukan yang terbaik di karir mereka nanti.


Berbeda dengan si kakak tertua, Woo Jae yang justru tersenyum semakin manis^^


Di tempat kerjanya, Ayah sedang mengampelas kursi goyang untuk Seo Young. Sepertinya tinggal sedikit lagi.


Dan sampailah kita di Busan untuk mengunjungi Ibu Seo Young.

Ayah yang semobil dengan Seo Young dan Woo Jae merasa tidak enak hati. Ia ingin mereka pergi sendiri saja tanpanya. Tetapi Seo Young menanggapi bahwa Ibu pasti tidak mengizinkannya datang tanpa Ayah karena orang yang sangat dirindukannya adalah Ayah.



Ayah memandangi danau di mana abu Ibu ditabur. Danau itu sudah berubah menjadi padang salju. Berbeda dengan saat Woo Jae datang melihat Seo Young yang menabur abu Ibu. Dulu airnya masih tampak bening sehingga bisa memantulkan wajah Seo Young yang sedih.


Kini keluarga kecil Ibu datang, semakin lengkap dengan keikutsertaan para menantunya, Choi Ho Jung dan Kang Woo Jae. Mereka semua memberi salam penghormatan pada Ibu, sementara Ayah masih terus memandangi danau dengan raut yang tidak bisa dijelaskan maksudnya.


“Ayah, bagaimana Ayah bertemu dengan Ibu?” Tanya Ho Jung tiba-tiba.

Sang Woo kemudian yang menjawabnya, “Setelah orang tua Ibu meninggal, dia meninggalkan Jinan dan datang ke Daegu. Di sanalah mereka bertemu.” Daegu? Jadi inget You’re All Surrounded hihihi nama tempat juga to?

Namun Ayah tidak membenarkannya. Membuat mereka semua menatap heran pada Ayah.

“Kami bertemu di sini.”


Eih??

Penasaran?

Bersambung di My Daughter Seo Young Episode 50 Part 3 ya! Terakhir kok ^^

No comments :

Post a Comment