October 24, 2014

My Daughter Seo Young Episode 50 - 1


Woo Jae memeluk Seo Young mengucapkan terima kasih. Tapi Seo Younglah yang minta maaf dan berterima kasih pada Woo Jae.

Dan sepertinya itu adalah jawaban untuk membangunkan ayah. 



Di saat yang bersamaan, tekanan darah Ayah kembali stabil, dan menurut Kyung Ho, tingkat infeksinya sudah mengalami penurunan. Kesimpulan : ayah sudah membaik dan hanya tinggal menunggu ayah sadar dan bangun.

Betapa leganya Mi Kyung dan Sang Woo mendengar diagnosa seniornya itu.


Seo Young masih bersikeras untuk mengantarkan Woo Jae pulang, tapi Woo Jae tetap tak mau. Bukan karena ia masih patah hati, tapi karena ia mengkhawatirkan Seo Young yang sudah berjaga di rumah sakit dan memintanya untuk beristirahat di rumah.


Argumen mereka terhenti karena ada telepon dari Sang Woo. Seo Young menatap Woo Jae, khawatir ketakutan terbesarnya akan terjadi.

Tapi tentu saja tidak, karena Sang Woo memberitahukan kabar gembira itu pada kakaknya, “Ayah sudah sadar.”


Ayah akhirnya membuka mata dan melihat Sang Woo dan Ho Jung berdiri di samping tempat tidurnya. Sang Woo mengungkapkan kelegaannya dengan memarahi ayahnya, “Astaga , Ayah.. Kenapa ayah membuat kami khawatir?”

Masih sangat lemah, tapi mata ayah mencari-cari sosok lainnya. Dan hampir berlari, Seo Young pun muncul bersama Woo Jae. Ayah menatap putrinya dan tersenyum pada Woo Jae. Melihat Woo Jae memberi salam hormat padanya, ayah hanya mengangguk dan tersenyum, seakan tahu kalau semua akan baik-baik saja.


Seo Young menangis dan memeluk ayahnya, berulang kali bersyukur dan berterima kasih karena ayahnya telah sadar kembali.


Mi Kyung menyampaikan kabar gembira ini pada keluarganya. Betapa saat itu ia hampir menangis melihat ada tanda-tanda kehidupan kembali di mesin ayah Seo Young. Ibu juga tak henti-hentinya bersyukur akan kabar baik ini.


Sung Jae tak dapat membayangkan perasaan Woo Jae dan Seo Young jika Ayah Lee meninggal. Ibu yang mengatakannya, “Pasti seperti menancapkan paku ke hati mereka.”

Dan Mi Kyung pun memberitahukan kalau sebenarnya kondisi Ayah Lee ini sudah sangat kritis, “Tak banyak orang yang bisa bertahan hidup setelah diintubasi.”


“Karena dia adalah seorang ayah,” tiba-tiba ayah berkata penuh filosofis, “Kalian tak tahu bagaimana perasaan seorang ayah. Kalian tak tahu bagaimana perasaanku, kan?”

Err… Mi Kyung dan Sung Jae menatap ayahnya, bingung.

Tapi Ayah sudah berganti topic dan bertanya pada putrinya, apakah ia sudah memberitahu Woo Jae? Dengan polos Mi Kyung menjawab, “Dia datang bersama dengan Seo Young.”

Ayah menggerutu mendengar hal itu, “Katanya mereka telah putus, dan bahkan membuat kita kesal. Apa ternyata Woo Jae selalu menemuinya dengan sembunyi-sembunyi?”


Tengah malam ayah terbangun karena haus. Melihat Seo Young tertidur kelelahan di sampingnya, ia mencoba untuk menambil air sendiri. Tapi Seo Young malah terbangun dan langsung mengerti kalau ayahnya haus. Ia segera mengambilkan air, “Jika ayah haus, bangunkan saja aku.”


Ayah berkata kalau ia sekarang sudah bisa melakukan semuanya sendiri dan ayah pun bangun. Seo Young ingin membantunya, tapi ayah mengatakan hanya ingin meluruskan punggung. untuk ke kamar kecil. Ia merasa canggung saat Seo Young mencoba membantunya.

Seo Young pun menyadarinya, “Ayah memiliki seorang putra dan menantu, juga seorang putri. Seharusnya ayah merasa paling nyaman bersama putri ayah, tapi ayah pasti merasa paling tak nyaman bersama putri ayah, kan?”


Ayah diam, tak menjawab dan juga tak berani memandang putrinya. Maka Seo Young pun meneruskan, “Semua itu karena kesalahan ayah. Sejak aku kelas 11, ayah selalu membuatku marah.”

Ayah mengangguk, mengakui hal itu. Tapi Seo Young masih tetap menyalahkan ayahnya, “Aku tak pernah ingat kapan terakhir aku tertawa dan berbicara terbuka pada ayah.”

Ayah kembali mengangguk-angguk, merasa malu dan tetap tak berani menatap putrinya..


Ihh.. sepertinya Seo Young berkata kejam pada ayahnya. Tapi tidak, karena Seo Young melanjutkan lagi perkataannya, “Ayah jugalah yang menjadi alasan mengapa aku bisa bertemu dengan Woo Jae. Jika aku tak membutuhkan uang itu, aku tak akan mau menjadi tutor tetap. Ayah kan tahu bagaimana sifatku, aku tak akan mau tinggal di rumah Kang. Dan jika sifat Woo Jae di luar rumah itu sangat sombong, menyebalkan.”

Ayah menatap Seo Young bingung, “Apa maksudmu?”

“Ia kan sombong. Ayah juga pernah mengatakan hal itu padanya, kan?” tanya Seo Young. “Ayah mengatakan ia keras kepala dan selalu ingin mendapatkan apa yang ia inginkan.”


“Aku.. aku tak bermaksud.. maksudku tidak seperti itu,” jawab ayah terbata-bata.

Seo Young mengatakan walau Woo Jae sombong, tapi sebenarnya Woo Jae itu bodoh, “Jika aku menjadi Woo Jae, aku tak akan mau menikah dengan wanita sepertiku,” Seo Young tersenyum mengingatnya, “Tapi ia sangat peduli denganku. Ia benar-benar pria yang jarang ada.”


Ayah juga tersenyum, teringat pada bekas menantunya itu. Dan ia pun bertanya apa sebenarnya maksud Seo Young mengatakan hal ini? Maka Seo Young pun menjawab, “Yang ingin kukatakan adalah ayah sudah tak berhutang apapun lagi padaku.”


Jawaban Seo Young seharusnya melegakan ayah. Tapi ayah malah berbalik dan bercerita tentang kehidupan masa lalunya. Ayahnya, kakek Seo Young, dulu melarikan diri karena tak memiliki uang dan ia membenci ayahnya karena miskin. Maka dari itu dulu ia pernah berjanji kalau ia tak akan pernah menjadi ayah seperti itu.


Ia pun berusaha untuk mencukupi kebutuhan keluarganya sebaik mungkin. Tapi ternyata hidup tak semudah itu.  Krisis moneter membuatnya  kehilangan pekerjaan, dan keahliannya saat itu juga tak berguna. Melihat Seo Young dan Sang Woo yang sangat pintar membuatnya ingin memiliki kekayaan lagi. “Aku tahu kedengarannya seperti alasan saja. Tapi karena itulah aku merasa khawatir dan harus terburu-buru. Aku tak boleh terus menjadi ayah yang tak berguna. Aku harus mencari pekerjaan.

Saat Seok Tae menipuku, seharusnya aku menyerah. Tapi memikirkan kalian, aku tak bisa menyerah. Dan sejak saat itu semuanya bertambah parah. Aku mulai tak bisa berpikir benar,” Ayah tersenyum dan menunduk, mengatakan kalau ia sekarang mulai membuat alasan lagi. Ayah minta maaf karena membuat masa remaja Seo Young selalu dalam kegetiran.


Mata Seo Young berkaca-kaca. “Aku juga minta maaf, Jika aku dan Sang Woo tak lahir.. bukan. Jika saja kami tak dilahirkan kembar, Ayah pasti sudah lulus universitas malam. Ayah sudah menjadi tukang kayu. Ayah pasti akan memiliki hidup yang bahagia bersama ibu.”


Ayah berbalik menoleh pada Seo Young yang hampir tak dapat menahan air matanya, “Terima kasih, Ayah. Ayah telah melepaskan mimpi Ayah demi kami. Terima kasih telah membawaku ke dunia ini.”


Ayah menyebutnya bodoh. Tapi Seo Young merasa bersyukur karena hidupnya lebih mudah daripada hidup ayah, “Aku memilliki Sang Woo di sisiku dan aku memiliki ayah yang setiap saat bisa aku kunjungi. Sedangkan Ayah tak punya siapapun untuk tempat bersandar.”


Tak ingin terlihat lemah karena sedih, ayah berbalik menghadap jendela. Kali ini Seo Young menghampiri ayah dan memeluknya, seakan meminta Ayah untuk mulai sekarang bersandar kepadanya.


Ayah akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Woo Jae dan Seo Young mengemasi barang-barang ayah. Tapi mereka terkejut karena ada tamu tak terduga datang. Ayah Woo Jae.


Woo Jae menegur ayahnya yang sudah ia larang untuk datang ke rumah sakit.  Tapi ayah Woo Jae malah memarahi anaknya. Ia pun menyuruh anak dan bekas menantunya keluar karena ada yang ingin ia katakan pada Ayah Lee.


Komentar :


Hayoo... Ayah Woo Jae mau ngapain, ya? Pembicaraan antar mantan/calon besan, nih..

Kawin kawin! Kawin kawin! *tepuk tangan dangdutan* :p

Ahhh... sudah terlantar berapa puluh tahun ya sinopsis Seo Young ini? Dari tamat di KBS sampai tamat di RTV, tetep aja sinopsis ini belum kelar. Untung aja ada shadew yang ngejar-ngejar saya buat sinopsis ini. Tapi tetep aja sih.. masih tetep terlantar.

Akhirnya Shadew yang geregetan, nawarin diri buat nulis lanjutannya. Hihihi... thank you, Shaa....

Selanjutnya, langsung aja ke Sinopsis MDSY 50 bagian 2 ya... 

No comments :

Post a Comment