October 18, 2014

Cantabile Tomorrow Episode 2 - 2


Dekan Mi Na bertemu dengan ibu Yoo Jin yang baru saja kembali dari New York dan membuka café di depan kampusnya. Dekan Mi Na menyindir usaha ibu Yoo Jin yang membuka cafe sebagai usaha untuk menemui putra yang selalu menghindarinya. 

Ibu Yoo Jin berkata kalau Dekan Mi Na belum merasakan bagaimana jadi ibu karena sampai sekarang belum menikah. Dekan Mi Na pun membalas dengan menunjuk perut Ibu Yoo Jin yang lemaknya sudah tebal di mana-mana.


Tapi sindir-menyindir itu sedikit dipermanis saat salah satu pengajar, Prof Do masuk ke café. Walau mereka saling mengejek, tapi sebenrnya mereka peduli satu sama lainnya. Ibu Yoo Jin mengingatkan kalau Franz von Stressemann belum juga ditemukan sampai sekarang dan tanpa Franz, Mi Na akan mengalami banyak kesulitan.


Pria itu menemukan foto Yoo Jin dengan Maestro Vierra, dan bertanya apa Yoo Jin mengenalnya. Yoo Jin merebut foto itu tak suka dan mengatakan kalau ia sedang bersama gurunya. Pria itu bergumam kalau entah kenapa ia sudah merasa tak suka dengan Yoo Jin, ternyata karena Yoo Jin adalah murid dari orang kedua yang paling ia benci.



Pria itu langsung mengambil tasnya dan mengajak Nae Il untuk makan lobster di hotel tempatnya menginap. Nae Il berteriak kegirangan, tapi tidak dengan Yoo Jin. Apalagi pria itu juga berjanji untuk memperlihatkan kamar yang memiliki pemandangan malam yang menakjubkan.


Yoo Jin pun melarang Nae Il untuk ikut dengan pria mencurigakan itu. Tapi Nae Il minta Yoo Jin untuk tak berburuk sangka dulu. Perlahan ia mundur kemudian berlari mengambil tasnya dan mengajak teman barunya untuk segera pergi. Sia-sia Yoo Jin mencegahnya. Nae Il tetap ingin makan lobster.


“Tunggu!” cegah Yoo Jin dan berpikir keras sebelum melanjutkan, “Aku akan memperbolehkanmu menginap di tempatku!”

Nae Il pun menghambur ke sisi Yoo Jin, hingga terdengar suara pria itu yang akan membiarkan Nae Il untuk tidur di penthouse. “Penthouse? Oh My God!” Nae Il terkesima dan meninggalkan Yoo Jin.


“Di tempat tidurku!” teriak Yoo Jin. Nae Il pun kembali dan menyandarkan kepala di dada Yoo Jin.


“Baby, tempat tidurku itu tempat tidur air,” ujar pria itu menggoyahkan iman Nae Il. Dan benar saja. Nae Il mengepakkan tangannya mendengar kata tempat tidur air.

Yoo Jin memejamkan mata dan berteriak lantang, “Kau boleh tidur beralasan lenganku!” sambil membuka tangannya.


Sold! Yoo Jin memeluk orabang-nya, membuat Yoo Jin nyengir menang.


Dan pria itu terusir dengan sukses, dan sukses membuatnya geram pada Yoo Jin. “Si kecil itu. Beraninya dia.”


Setelah mengeluarkan pria ganjen itu, Yoo Jin masuk kamar. Betapa terkejutnya ia meliat Nae Il sudah ada di tempat tidurnya dan memakai baju tidur dan memandangnya dengan tatapan menggoda.

Hmm.. baju tidur siapa ya? Masa ya itu baju tidur Yoo JIn?

“Orabang ada di sisi kanan, aku di sisi kiri,” ujar Nae Il menggoda. “Cepatlah kemari.”


Tapi Yoo Jin tak tergoda malah melotot marah. “Keluar sekarang! Apa belum cukup kau bawa kakek ganjen itu kemari?”

“Aku nggak mau pergi! Kau bohong. Katamu aku boleh tidur di pelukanmu!” seru Nae Il terus mencengkeram kasur.


“Dan kau percaya itu?” Yoo Jin menarik kedua kaki Nae Il dari tempat tidur dan mengusirnya ke luar rumah, tak peduli permohonan Nae Il yang memelas. Setelah menutup pintu, ia mengeraskan volume TV yang memutar orchestra yang dipimpin oleh Stressemann, sehingga suara ‘orabaanngg.. orabaangg..’ tak terdengar.


Di kamar hotelnya, pria itu mencoba merobek foto polaroid duet Nae Il dan Yoo Jin. Karena tak bisa, akhirnya ia melipat foto itu jadi dua hingga hanya terlihat wajah Nae Il saja.


Keesokan paginya Yoo Jin membuka pintu, tapi pintu sulit dibuka. Ternyata ada Nae Il yang tidur semalaman di depan kamar Yoo Jin. Demam tinggi pula. Yoo Jin kesal sekali melihatnya.


Walau dengan menggerutu, Yoo Jin tetap menggendong Nae Il pergi ke kampus. Yoo Jin sebenarnya ingin membawa Nae Il ke dokter, tapi gadis itu menolak karena saat ini ia harus sudah di kampus untuk duet agar Il Rak bisa lulus dan tidak DO.

“Sudah tahu begitu kau masih tetap tidur di luar rumah?”

“Kupikir kau akan membuka pintu. Hmm.. punggungmu lebar dan nyaman sekali,” gumam Nae Il yang walau panas, masih sempat-sempatnya menikmati punggung Yoo Jin. Yoo Jin memintanya untuk menjauhkan wajahnya, kalau tidak ia akan melempar Nae Il. Tapi gadis itu tak mau.


Tiba-tiba ada drum yang menggelinding ke arah Yoo Jin, yang jika Yoo Jin tak sigap akan membuatnya menjatuhkan Nae Il. Tapi Yoo Jin berhasil menghindari drum-drum itu dengan masih tetap menggendong Nae Il. Yoo Jin bertanya apakah Nae Il baik-baik saja dan dijawab lebay oleh Nae Il, “Selama aku bersamamu, semua rintangan akan kuhadapi!”


Yoo Jin mengerang, “Apa harusnya aku lempar saja dia, ya?”Ia berhasil menghentikan salah satu drum dengan kakinya.

Teman Soo Min muncul dan minta maaf sambil mengambil drum itu. Setelah Yoo Jin pergi, ia bertanya pada Soo Min yang baru saja muncul, “Kenapa kau melakukan itu? Mengagetkanku saja.”


“Karena aku baru saja melihat sesuatu yang mengerikan,” jawab Soo Min sedih dan menatap ke arah Yoo Jin dan Nae Il.

Para pengajar bertanya-tanya tentang kedatangan Stresseman yang belum juga hadir di antara mereka. Akhirnya Dekan Mi Na mengaku kalau sebenarnya Stressmann sudah tiba di Korea.


Prof. Do akhirnya berhasil menangkap pria mesum yang dilaporkan oleh Seung Oh, bahkan memukulnya dengan kipas karena pria itu ingin melarikan diri.


Tak terduga, Dekan Mi Na memanggil pria mesum itu dengan Stressmann. Ternyata dia adalah Maestro Franz von Stressmann.


Di ruangannya,  Dekan Mi Na duduk dengan gugup, kentara sekali canggung namun ingin bicara banyak pada Maestro Franz. Begitu pula Maestro Franz yang memuji Mi Na yang masih tetap sama seperti dulu.


Maestro Franz menoleh ke Prof. Do (Oh.. Anda ada di sini, toh?) yang langsung minta maaf lagi. Dengan dingin Maestro Franz menerima maafnya. Saat Dekan Mi Na bertanya tentang foto-foto yang menimbulkan kecurigaan itu, Maestro pun menjelaskan setelah Prof Do pergi dari ruangan.


Yoo Jin menyerahkan Nae Il ke gendongan Il Rak. Tapi Nae Il jelas-jelas tak bisa menemani Il Rak duet. Lihat betapa gemetarnya tangan Nae Il. Nae Il membisikkan sesuatu ke telinga Il Rak yang kemudian menyampaikan pesan Nae Il, “Katanya ia akan menjadi lebih baik kalau ada orang yang menciumnya.”


Jiahh… kesempatan dalam kesempitan. Nae Il mengerucutkan mulutnya. Tapi Yoo Jin tak mau, membuat Il Rak tambah stress. Apa Nae Il benar-benar tak bisa menemaninya?


Yoo Jin yang menjawab. Ia tak mungkin membiarkan Nae Il untuk main piano dengan kondisi seperti itu. Dan karena ia juga ambil bagian dalam gagalnya duet itu, ia akan bertanggung jawab. “Aku akan menggantikan Nae Il.”

Kabar Yoo Jin akan duet dengan pemain biola langsung menyebar di kampus. Prof. Do yang juga mendengar gosip itu, tak dapat menyembunyikan keheranannya dan memutuskan untuk melihatnya .


Di auditorium sudah ada Prof. Ahn yang menyambutnya dengan senyum. Ia datang ke mari karena ingin melihat penampilan muridnya, tapi alasan apa yang membuat Prof. Do datang? Prof. Do tak menjawab, malah menoleh pada Dekan Mi Na dan Maestro Franz yang juga sudah duduk dan berbincang-bincang.


Ia teringat ucapan staf akademik tentang permintaan pindah jurusan Yoo Jin. Ia menduga kalau kedatangan Maestro Franz pasti untuk melihat kemampuan Yoo Jin.


Il Rak benar-benar grogi. Ia bolak balik dan bertambah panik saat diberitahu ia akan tampil 10 menit lagi. Yoo Jin memintanya untuk tenang dan mengendalikan pikirannya. Tapi Il Rak memilih untuk pergi ke toilet.


Di toilet ia bertemu dengan Prof. Do yang ingin melihat penampilannya yang sangat menonjol emosi dibanding tekniknya dan ia ingin melihat penampilan yang lebih baik lagi sekarang. Il Rak senang mendapat pujian itu.

Walau kemudian Prof Do mengatakan, kalau pianisnya adalah Cha Yoo Jin, maka yang akan bersinar adalah yang bersinar nanti pastilah suara piano yang seharusnya menjadi pengiring.


Il Rak langsung menegaskan kalau ini adalah ujiannya. Prof Do tersenyum, karena umpannya termakan, dan membenarkan kalau pemeran utama dalam ujian ini adalah biola. “Aku akan menantikan penampilanmu.”

Ckckck… jahatnyaa… Bahkan Prof Do sendiri mengakui kalau ia benar-benar immature.


Mereka pun naik ke atas pentas dengan Nae Il yang duduk di kursi penonton lengkap dengan selimut dan kompres kepala. Yoo Jin heran melihat penonton yang banyak untuk ukuran sebuah ujian. Melihat Il Rak yang masih gugup, Yoo Jin mengarahkan, “Lupakan tentang tekhnik dan perhatikan suara dari pianoku, maka kau akan baik-baik saja.”

Il Rak melirik tajam pada Yoo Jin. Kata-kata itu malah membuatnya tersentil.


Maka dimulailah penampilan duet mereka. Violin Sonata no. 5 in F major, Op 24  oleh Beethoven. Menurut narasi Yoo Jin, sonata ini juga dikenal sebagai musim semi karena musikalitasnya yang paling ceria dan paling indah dari sekian banyak sonata untuk biola sehingga mengingatkan orang akan hangatnya musim semi.


Tapi yang dimainkan Il Rak bukanlah musim semi. Nadanya cepat dan tajam, membuat semuanya mengerutkan kening. Nae Il bergumam lemah, “Ini musim semi, tapi kenapa rasanya ada badai?”


Prof. Do tersenyum karena provokasinya berhasil. Yoo Jin selalu melangkah dengan kecepatannya sendiri. Apa Yoo Jin akan conducting dan mengurusi aransemen musik saja tanpa mengenal orang-orangnya? Mustahil.


Yoo Jin pun merasakannya badai yang dibuat Il Rak. Hal ini tak bisa diteruskan. Menggunakan musiknya, ia mengirimkan pesan pada Il Rak yang terus membuat badai. Aku akan mengikutimu, jadi dengarkanlah suara pianoku!


Il Rak yang merasa seperti sendirian dalam padang rumput memainkan sonata itu, tiba-tiba melihat Yoo Jin yang mengangkat tongkatnya dan mengarahkannya. Semakin ia bermain, semakin ia merasakan irama Yoo Jin. Ia datang padaku saat aku menginginkannya. Cha Yoo Jin mengerti apa yang kurasakan. Kami melakukannya bersama-sama!


Dan melalui pemahaman itu, emosi Il Rak turun dan mulai mengikuti Yoo Jin. Badai itu pun hilang dan berganti musim semi yang hangat.


Nae Il tersenyum lega karena orabangnya berhasil membawa musim semi kembali. Prof. Ahn pun juga tersenyum, tangannya bergerak mengikuti keceriaan musim semi itu.


Selesai duet, Il Rak dan Yoo Jin kembali ke ruang tunggu dengan Yoo Jin menggendong Nae Il kembali. Il Rak mau tak mau mengakui, walau tetap moody, “Kau pasti senang. Biola, piano atau apapun itu.. Kalau kau mau, kau selalu bisa menjadi yang terbaik.”


“Tentu saja,” jawab Yoo Jin. Il Rak mendesah kesal karena Yoo Jin kembali sombong. Tapi yang ingin dikatakan Yoo Jin bukan itu saja. “Aku terus berlatih biola hingga tanganku berdarah. Apa kau sudah mencoba berlatih sekeras itu?” Il Rak merengut, tapi Yoo Jin meneruskan, “Aku tak peduli kalau kau selalu mengasihani dirimu sendiri. Tapi jangan merendahkan kerja keras orang lain.”


Tak disangka Il Rak memeluk erat Yoo Jin. Ia akan menganggap Yoo Jin sebagai sahabat mulai sekarang. Nae Il mendelik melihat pelukan itu. Tanpa mempedulikan sakitnya, ia turun tangan. Tak berhasil menarik Il Rak, Nae Il pun menghadang Il Rak dengan menempatkan dirinya di tengah keduanya.


“Kalian berdua ini idiot sekali!” Yoo Jin kesal sekali dan mendorong keduanya sekaligus sehingga kedua fans Yoo Jin itu terlempar. LOL.


Prof. Do akhirnya mengakui pada Prof. Ahn kalau Yoo Jin telah berubah. Dan ia mengakui kalau penampilan tadi sangatlah bagus.


Ayah kaget mendengar Il Rak yang masuk restoran sambil berteriak kalau hari ini adalah hari terbaiknya karena inilah penampilannya yang terbaik. “Ayah, aku benar-benar akan bermain biola sekarang. Aku akan berlatih keras dan memenuhi Seoul Arts Center dengan jiwaku,” tekad Il Rak.


Il Rak meninggalkan Ayah yang tersenyum lega sekaligus bangga.


Maestro Franz berniat membuat orchestra spesial walau Dekan Mi Na mengatakan universitas mereka sudah memiliki orchestra sendiri. Maestro Franz ingin membentuk orkestra yang memiliki sensasi dan mampu menggerakkan hati penontonnya. “Bukankah orchestra seperti itu yang kau inginkan, Mi Na?”


Mata Dekan Mi Na berbinar dan ia melihat foto-foto yang terhampar di hadapannya. Itu adalah calon-calon pemain yang akan menjadi anggota orchestra itu. Namun ia terkejut melihat foto Nae Il. Pianis juga akan masuk ke dalam orchestra itu?

Maestro Franz mengatakan kalau gadis itu adalah mascot orchestra. “Ini adalah permintaanku sebagai maestro. Aku akan membuat mimpimu menjadi nyata, Mi Na.”


Anggota Orkestra A mendengar akan pembentukan orchestra baru itu. Han Seung Oh, conductor orkestra A, bahkan sampai memutuskan untuk tak keluar negeri karena tertarik untuk menjadi bagian dalam orchestra yang diasuh oleh Maestro Franz. Kabarnya siswa terpilih akan dihubungi via SMS.


Tapi belum ada satupun dari mereka yang mendapat SMS panggilan. Tiba-tiba terdengar suara SMS, dan semua sibuk mengecek handphone-nya. Ternyata handphone Soo Min, si timpanis.


Yoo Jin berjalan dengan Nae Il mengekor di belakangnya, memanggil-manggilnya,”Orabang.. orabang..” Mendadak terdengar notifikasi SMS. Yoo Jin segera memeriksa handphone-nya. Tapi bukan handphone-nya yang berbunyi, melainkan hp Nae Il. Nae Il membaca keras-keras isi SMS-nya: Selamat karena Anda bergabung dengan Orkestra S. Dimohon datang ke auditorium.


Yoo Jin kaget melihat Nae Il yang pianis bisa tergabung dalam orchestra. Kalau begitu kenapa bukan dia? Ia menatap handphone-nya heran. Apa handphone-nya sedang rusak, ya? Pasti rusak.

Tiba-tiba terengar bunyi SMS di handphone-nya. Yoo Jin segera membuka SMS yang masuk dan berteriak, “Aku gak butuh SMS-mu!”


Bwahahaha… Nae Il ternyata mengirimkan SMS yang isinya hanya kata: Orabang.. Yoo Jin kesal sekali. 


Terdengar bunyi SMS lagi dan Yoo Jin kembali memarahi Nae Il. Ia melarang Nae Il untuk mengirimkan SMS lagi. Nae Il menghentakkan kakinya kesal membuat sepatunya terlempar, “Bukan aku yang mengirimkannya padamu!”

Bukan? Kalau begitu.. Yoo Jin membuka SMS itu, dan kemudian berjalan cepat dan diikuti Nae Il pergi ke auditorium.


Prof. Do memberitahukan kalau Ketua Senat Universitas mengundang Maestro Franz untuk makan malam. Maestro Franz malah mengeluarkan surat dan menyuruh Prof. Do untuk mengurusnya, “Orang yang tak mendengarkan Mi Na dan tak bisa mengurusi dokumen. Aku tak menyukainya.”

Prof. Do berkata kalau ia bukan orang yang Maestro maksud. Dan ia akan segera mengurus dokumen itu. Prof. Do membuka dan membaca surat itu, kemudian berkata “Dan saya akan segera mengurus pergantian jurusan putra Cha Dong Woo.”


Nama Cha Dong Woo sepertinya adalah sebuah kenangan baginya karena langkah Maestro Franz terhenti dan bertanya, “Apa kau bilang? Putra Cha Dong Woo? Cha Yoo Jin itu..”

Dari kejauhan, muncul Mi Na yang memanggil dan melambaikan tangan padanya.


Il Rak tak menyangka kalau mereka bertiga mendapat panggilan ke auditorium. Ia meminta Nae Il untuk mencubit pipinya, yang langsung dituruti Nae Il dengan sekuat tenaga. Tapi Il Rak langsung menepis tangan Nae Il karena cubitannya sakit sekali.


Yoo Jin heran, mengapa ia dan Nae Il bisa sama-sama dipanggil (padahal keduanya sama-sama jurusan piano). Nae Il menjawab sambil menyandarkan kepala di bahu Yoo Jin, “Kurasa ia memanggil kita berdua karena kita berpasangan.”

Soo Min yang ada di belakangnya menatap mereka dengan tak suka. Eih.. jadi Soo Min sukanya sama Yoo Jin..?


Yoo Jin langsung mengedikkan bahunya hingga kepala  Nae Il terlempar. Hampir saja mereka bertengkar lagi kalau saja Dekan Mi Na tak muncul di panggung. Dekan Mi Na memperkenalkan Maestro Franz von Stresseman.


Tepuk tangan mengiringi kemunculan Maestro Franz. Yoo Jin dan Nae Il terbelalak kaget. Tapi Nae Il langsung berteriak menyapanya, “Itu Milch..! Halo Milch!” Il Rak dan Soo Min langsung menahan Nae Il yang hyper melihat teman barunya itu, sementara Yoo Jin malah mengerutkan kening.


Dengan bahasa Korea yang kurang lancar Maestro Franz memperkenalkan diri dan berkata kalau ia akan bertanggung jawab pada kegiatan orchestra dan jurusan Conducting.

Soo Min heran mendengar kemampuan bahasa Korea Maestro Franz yang cukup bagus untuk ukuran orang asing. Tapi Il Rak mengatakan kalau Maestro Franz sebenarnya adalah anak adopsi. Hmm.. berarti kalimat bujukan terakhirnya pada Nae Il itu benar, ya?


Franz berniat untuk membentuk orchestra baru dengan mereka semua, bukan menggunakan anggota orchestra lama. “Dan saat ini, kalian adalah anggota dari Orkestra S.”

Semua bertepuk tangan. Kemudian Maestro Franz mengambil surat dari balik jasnya dan berkata kalau ia mendapat surat tentang permintaan pindah jurusan. “Murid Cha Yoo Jin berniat untuk merubah jurusannya.”


Nae Il langsung memeluk lengan Yoo Jin, “Orabang, kenapa kau pindah jurusan? Kalau begitu kita tak akan menjadi teman sekelas lagi.” Di belakang,  Soo Min frustasi melihat Nae Il nempel lagi pada Yoo JIn.


Tak disangka, Maestro Franz merobek dan membuang formulir itu, membuat kaget semuanya, bahkan Dekan Mi Na. Yoo Jin berdiri marah, sedangkan Prof. Do tersenyum kecil. Maestro Franz berkata lantang, “Aku bersumpah atas namaku, Franz von Stresemann, selama aku bertanggung jawab di jurusan Conducting di unversitas ini, Cha Yoo Jin tak akan pernah diterima di jurusan ini.’

Komentar :


Setiap episode dalam Cantabile Tomorrow memberikan sebuah pelajaran. Episode 1 adalah pelajaran yang diterima oleh Yoo Jin, yangmembuatnya menyadari kalau It’s fun for playing. Bermain musik bukan hanya sekedar benar dan akurat, tapi juga harus bisa dinikmati. Harus terasa menyenangkan. Ketika berduet, yang selain benar, kedua pemain harus bisa harmonis.

Daripada memaksa Nae Il untuk memainkan dengan benar dan presisi, ia akhirnya memilih untuk mengikuti tempo Nae Il, bukan tempo yang tertulis di partitur. Tak sadar, karena ia sering berlatih dengan Nae Il, ia tahu kapan tempo Nae Il berubah hanya dari gesture tubuhnya, sehingga ia berhasil mengikuti tempo irama Nae Il. Ia mulai memperhatikan lawan mainnya.

Dari Nae Il dan Prof. Ahn-lah ia mendapat pencerahan ini.


Sedangkan episode ke-2, Yoo Jin menularkan pelajaran yang ia dapat dari episode 1 kepada Il Rak. Bermain dari hati, tapi dengan batasan yang ada. Sebuah lagu bisa dinyanyikan dengan berbagai cara, dan bisa sampai ke telinga pendengar dengan pesan yang berbeda pula. Ini yang harus dihindari.

Kadang pemain melewati batasan itu karena larut dalam emosi. Contohnya duet dengan Nae Il. Saat dengan Nae Il, Yoo Jin memilih untuk mengikuti Nae Il, tapi saat duet dengan Il Rak, ia harus mencegahnya untuk bermain menggunakan emosinya saja. Pertama karena lagu ini tentang kehangatan musim semi, dan kedua mereka sedang  duet yang merupakan ujian akhir Il Rak. 

Prof. Do di toilet sempat berkata kalau ia mengenal Il Rak sebagai siswa yang mengutamakan emosi ketimbang teknik. Itulah yang membuatnya gagal dalam ujian akhir. Dan itulah yang ingin dicegah oleh Yoo Jin.

Maka Yoo Jin pun mengarahkan Il Rak untuk kembali kepada sonata aslinya. Ia menenangkan Il Rak, mencoba menarik perhatiannya tanpa menonjolkan diri sendiri. Dan berhasil.

Usahanya itu adalah pelajaran yang berharga untuk melangkah menjadi Conductor. Ia berhasil memahami Nae Il dan Il Rak dan membawa mereka memberikan performance mereka yang terbaik.


Ini adalah saat yang tepat bagi Yoo Jin untuk pindah jurusan. Tapi. Waahhhh… kok ya setelah melihat performance Yoo Jin, Maestro Franz malah menolak Yoo Jin? Jika Nae Il saja tahu kalau Yoo Jin yang mengarahkan Il Rak saat duet, tentu Maestro Franz lebih paham akan hal ini.


Saat di kamar Yoo Jin, Maestro Franz berkata kalau Maestro Vierra adalah orang kedua yang paling dibenci. Apakah orang pertama itu adalah Cha Dong Soo? Ayah Yoo Jin? Dan apakah ada hubungannya dengan Dekan Mi Na? 

Hmmm… cinta segi empat? 

5 comments :

  1. that's why it called lesson mbak dee?
    sigh, sweet...
    sepertinya drama senin-selasa akan berkutat dengan pelajaran, pelajaran menjadi keluarga kerajaan, konduktor dan pemain musik, pengacara(?), dan pembohong yang lihai^^
    makasih mbak dee :)
    happy family time ya!

    ReplyDelete
  2. Wow daebak...dee onnie nulis sinopnnya. Cantabile juga...gumapshimnida onnie..

    ReplyDelete
  3. enaknya eun kyung lengket terus sama joo won

    ReplyDelete
  4. Suka sama gaya rambut Yoon Jin:) lanjut terus mba ..
    fighting^^
    - dizah..

    ReplyDelete