October 16, 2014

Cantabile Tomorrow Episode 2 - 1


Seiring musik mengalun -dalam imajinasi Yoo Jin- di padang rumput yang tak ada arah, ia berjalan menuju denting suara piano. Tampak seorang gadis sedang bermain piano. Ia tersenyum dan memandang lembut pada gadis itu yang menoleh kepadanya.


Di kamar piano, senyum itu juga tersungging di bibir Yoo Jin. Dan kali ini ia tak menekuni tuts-tuts pianonya, malah berduet sambil memandangi Nae Il yang tenggelam dalam  musiknya.


Duet mereka berakhir. Tepuk tangan dari Profesor Ahn menutup permainan musik mereka. Tapi Nae Il malah bengong, masih terkesima dengan penampilan mereka yang mengagumkan, hingga panggilan dari Yoo Jin mengagetkannya. Tersentak, ia reflek menyebut, “Orabang.. (panggilan kakak dalam dialek Jeju)”

Dan dalam pikirannya, Yoo Jin imajiner berkata padanya, “Nae Il, kamu harus memandangku.”


Nae Il menutup wajahnya, tersipu malu dan menjawab, “Aduh.. aku tak dapat memandangmu, Hatiku baru saja..”


“Emang kenapa?” tanya Yoo Jin heran melihat kelakuan aneh Nae Il. Tapi Nae Il langsung lari keluar ruangan membuatnya bertanya pada Prof. Ahn, apakah Nae Il memang seaneh itu?

Prof. Ahn hanya senyum-senyum dan malah balik bertanya, apa Yoo Jin baru tahu (kalau Nae Il seperti itu?). Tapi ia kemudian bertanya bagaimana perasaan Yoo Jin setelah benar-benar ‘bermain’ untuk pertama kalinya setelah sekian lama.


Pertanyaan itu menyadarkan Yoo Jin kalau sebenarnya duet ini bukan untuk mengajari Nae Il, tapi mengajarinya. Dan dari mendengarkan duet itu, Prof. Ahn juga tahu, “Kau ingin memimpin (to conduct) bukan?”

Lesson 2



Nae Il masih sibuk dengan jantungnya yang berdegup kencang. Ia bertanya pada diri sendiri, apa yang terjadi pada dirinya. Dan ada seseorang yang berkata, “Itu namanya cinta..” Nae Il terkejut mendengarnya. Ia menoleh dan..


Seiring lagu Liebestraum (=mimpi cinta) mengalun, ia melihat Yoo Jin ada di hadapannya, bersiram cahaya berkilauan, sangat tampan dan berkata padanya, “Nai Il, kamu jatuh cinta padaku.”

Ahhhh… Nae Il hampir berteriak kegirangan, mendapati kenyataan itu. Ia menari-nari dan berteriak, “Orabang.. aku cinta padamuu..”


Benarkah Yoo Jin berkata seperti itu? Simpulkan saja sendiri, karena saat itu Yoo Jin malah ada di auditorium, menyaksikan Han Seung Oh memimpin Orchestra A.


Terus terngiang di telinganya, saran Prof. Ahn untuk merubah jurusan kuliahnya. “Memimpin orchestra bukan melulu hanya aransemen musik, tapi lebih pada mengelola manusia, para pemainnya. Kau tak pernah bisa dengan sendirinya menjadi conductor yang baik. Apa kau tak ingin conducting di dunia nyata dan tak hanya dalam kepalamu saja?”


Ia memang bermimpi untuk memimpin orchestra, sama seperti yang ia lihat sekarang. Dan itu membuatnya gundah. Tapi kegundahan itu tak bertahan lama, karena muncul suara, “Oraabangggg…!!!”


Yoo Jin mendesah, “Kau bahkan tak memberiku kesempatan untuk galau lebih lama lagi.” Dengan setengah hati, ia mendengar curahan hati Nae Il yang kakinya terasa geli saat duet tadi dan badannya bergetar karena emosinya yang meluap-luap. “Rasanya aku tak tahan ingin melompat di pelukanmu.”


Yoo Jin terbelalak panik, “TAHAN! Kau pasti bisa tahan!!” Namun ia langsung waspada saat Nae Il mengetuk-ketukkan kakinya tak sabar dan berjalan mendekatinya. Nae Il maju selangkah, ia pun mundur selangkah saat Nae Il berkata, ia tahu apa yang terjadi padanya, “Memangnya itu apa?”


“CINTA! Orabang, aku jatuh cinta!” Yoo Jin menepis tangan Nae Il yang ingin menyentuhnya dan membantah kalau yang Nae Il rasakan adalah cinta. Tapi Nae Il bersikukuh, karena setiap ia memikirkan Yoo Jin, hatinya selalu sakit dan berdebar kencang.


Kali ini Yoo Jin memegang bahu NaeIl dan mengatakan kalau yang dirasakan Nae Il adalah respon tubuh dari adrenalin mengalir deras. Mungkin juga itu adalah penyakit jantung dan harus diperiksa oleh Dokter. Tak lupa ia menambahkan, “Pastikan juga otakmu juga diperiksa, ya.”


Ha.. Tapi Nae Il malah menatapnya penuh cinta dan berkata, “Apa nggak lebih baik kalau aku berada dalam pelukanmu dulu, jadi penyebabnya lebih cepat ketahuan?” Ia pun maju selangkah lagi dan membuka tangannya,”Orabaangg..”


Tangan Yoo Jin langsung menahan kepala Nae Il, membuat tangan Nae Il hanya meraup udara kosong. Nae Il memohon, “Jika tak bisa peluk dada, peluk punggung juga boleh. Punggungmu juga nggak papa, kok.”

Jiahh.. Nae Il nyosor…

“Tetap gak bisa!” tak tahan adu otot sekian lama, akhirnya Yoo Jin mendorong kepala Nae Il dan langsung kabur.  Nae Il berlari mengejarnya.


Setelah sekian lama, Nae Il akhirnya kehilangan Yoo Jin. Ia terduduk kecapaian dan kepanasan, walau ia masih memuji Yoo Jin yang berkaki panjang sehingga bisa berlari cepat. Tak terduga ada kaleng softdrink teracung ke hadapannya. Ternyata Il Rak. Ia langsung menerima kaleng dingin itu dengan sukacita.


Il Rak rupanya sudah mengintai Nae Il sejak ia bersama Yoo Jin tadi. Ia pun memuji-muji permainan piano Nae Il yang katanya ia sering dengar. Nae Il kegirangan dipuji seperti itu, “Oya? Komposisi apa yang kau dengar? Mozart? Schubert? Chopin?” Il Rak pun menjawab, “Violin Sonata.. No. 5? Beethoven?”


Nae Il langsung merengut, "Berarti itu bukan aku. Lagu itu tak pernah kumainkan.” Ngambek, Nae Il beranjak pergi. Tapi Il Rak tak menyerah dan menahannya, “Tapi.. karena kita sudah bertemu, maukah kau menemaniku bermain?” Wajah Nae Il langsung bersinar ceria.


Di supermarket, Yoo Jin memilih ikan untuk makan malamnya saat Nae Il mengirimkan SMS, mengajaknya makan malam bersama. Walau menggerutu dan menjawab SMS itu dengan ‘jangan mimpi, ya..’, ia tetap membeli satu ikan lagi. 


Tapi betapa gondoknya ia saat lewat di salah satu restoran, ia mendengar lengkingan khas dari Nae Il yang tampak menikmati makan malam dengan seseorang, pakai acara suap-suapan lagi. “Lebih.. baik .. daripada masakan ibuku?” Yoo Jin menirukan ucapan Nae Il dulu saat memuji masakannya.


Rupanya itu hanya omong kosong, jika sekarang Nae Il tampak menikmati masakan, sama seperti saat makan malam bersamanya. Kesal, Yoo Jin membuang kantong plastik yang seharusnya adalah makan malamnya itu ke tong sampah dan melangkah pergi.


Padahal Nae Il hanya suap-suapan dessert saja. Saat ayah Il Rak membawakan makanan utama –Steak, risotto kepiting dan es jeruk Jeju- untuk Nae Il yang bersedia menjadi partner Il Rak, Nae Il meminta agar semua hidangan itu dibungkus untuk makan di rumah.


Setelah mengantar kepergian Nae Il, Il Rak mengatakan pada ayah kalau sebenarnya ia masih ragu akan kemampuan Nae Il. Ia memilih Nae Il berdasarkan kenyataan sebelumnya gadis itu sangat bagus saat duet dengan Yoo Jin.

Ayah meyakinkan pilihannya itu karena ia melihat tangan Nae Il yang lentik dan panjang, tangan yang cocok untuk bermain piano. Il Rak memuji ayahnya yang sangat perhatian. Ayah pun menjawab, “Tentu saja karena ini adalah caraku untuk mendukungmu hingga suara biola anakku memenuhi Seoul Art Center.”

Il Rak tersenyum mendengarnya, walau senyum itu berganti kegalauan saat ayahnya tak ada di hadapannya.


Yoo Jin termenung di depan makan malamnya yang hanya berupa mi instan dan kimchi, jelas masih kesal pada tetangganya. Jadi saat terdengar bunyi bel, ia langsung menggerutu, “Kau mengikuti semua orang yang memberimu makan. Kenapa juga kau datang kemari?” Terdengar bel berkali-kali, membuatnya semakin marah, “Kau sudah makan banyak! Pulang saja! Dasar kutu, malas…”


Ucapannya terhenti karena ternyata bukan Nae Il yang ada di depan pintunya, tapi Do Kyung yang mengundang diri sendiri untuk masuk ke rumah. Mulanya ia agak enggan, tapi melihat Nae Il yang baru datang dengan riang, ia pun mengajak Do Kyung masuk, membuat Nae Il shock.


Dan jahatnya Yoo Jin, saat hendak menutup pintu, ia menatap Nae Il dan tak lupa menempelkan cengiran sinis –aku juga bisa sepertimu- di wajahnya.


Tapi tentu saja Nae Il tak mengerti arti cengiran itu. Ia shock, benar-benar tak menyangka melihat Yoo Jin memasukkan seorang wanita ke rumahnya. Ngapain saja mereka?


Ia mencoba menguping dari balik tembok kamarnya. Pake gelas, nggak kedengeran. Pake mangkok, tetap nggak kedengaran. Nae Il mengambil baskom dan yakin bisa mendengarkan apa yang terjadi di sebelah. Tetap nggak bisa!! Akhirnya ia memberanikan diri melongok lewat balkon. Tapi kamarnya di lantai 3, usaha Nae Il pun gagal karena ia takut melompat.


Pagi-pagi Nae Il keluar kamar saat mendengar suara alarm pintu sebelah berbunyi. Sekilas ia melihat Yoo Jin berjalan bersama seorang gadis. Mereka berdua semalaman? “Orabang.. Apakah ini akhir dari kita berdua?” tanyanya patah hati.


Yang patah hati Nae Il,  yang kena sial Il Rak karena Nae Il benar-benar kehilangan semangat main piano. Padahal Nae Il kan udah makan sekian banyak masakan ayahnya. Melihat keluh kesah Nae Il tentang cinta, ia menebak kalau gadis itu dicampakkan. Ia pun memberi semangat, “Kembalilah seperti dirimu yang dulu. Setelah ujianku selesai, kau dapat remuk redam semau-maumu.”

Tapi Nae Il berkata setelah kehilangan cinta, ujian pun sudah tak penting lagi. Maka Il Rak pun berjanji untuk mengembalikan orang yang Nae Il cintai ke pangkuannya. Memang siapa sih orang itu?


Sambil terisak, Nae Il menjawab teman sekelasnya. Il Rak pun berpikir siapa yang mungkin menjadi gebetan Nae Il. “Bukan Cha Yoo Jin, kan?” tanyanya curiga. Tapi melihat ekspresi Nae Il, ia sadar kalau dugaannya benar.


Ia teringat akan foto Yoo Jin yang ada di handphonenya. Foto Yoo Jin bersama seorang gadis. Ia pun menunjukkan foto itu pada Nae Il. “Apakah sainganmu itu dia? Primadona Chae Do Kyung?

Nae Il mendelik melihat foto itu, dan dengan beringas ingin merebut handphone itu. Untung Il Rak berhasil mempertahankan handphonenya. Tapi Il Rak tak sanggup memenuhi janjinya, “Kau sudah kalah dulu.”


“Katanya kau mau bantu aku, Rak,” mohon Nae Il memelas.

“Hey, usaha itu juga ada batasnya. Apa kau tahu Chae Do Kyung itu siapa?” Nae Il belum pernah mendengar nama itu, memang gadis itu siapa. Il Rak malah menjawab, “Apa kau tak punya akal sehat?”


“Apa itu akal sehat? Apa sejenis makanan?” Duh, Il Rak mengeluh. Kalau dengan Do Kyung, ia tak bisa membuat Nae Il menang melawan Do Kyung. Nae Il mengibaskan rambut pendeknya, “Apa maksudmu? Aku tentu lebih baik darinya.”

Gubrak. Il Rak bengong mendengar jawaban Nae Il, dan kemudian terbahak-bahak. Nae Il langsung memukuli Il Rak yang berani mengejeknya.


Timpanis Ma Soo Min yang sedang di café bersama temannya, melihat Do Kyung menggandeng Yoo Jin masuk. Ia menghela nafas, berkata kalau sepertinya Do Kyung jadian lagi dengan Yoo Jin. “Pantas saja, sih, karena Do Kyung itu cantik, cantik dan cantik.”


Mereka tak tahu kalau sebenarnya Do Kyung yang memaksa Yoo Jin pergi bersamanya dan menjanjikan akan memberitahu sebuah rahasia yang pasti menarik bagi Yoo Jin. Setelah semalaman dan berlanjut hingga sekarang, Yoo Jin sudah tak tahan. Ia pergi meninggalkan Do Kyung di café itu. 

Dan akhirnya Do Kyung pun memberitahu apa rahasia yang ia ketahui. Maestro Franz von Stressemann datang untuk mengajar di kampus mereka.


Tentu saja itu adalah berita besar bagi Yoo Jin yang langsung berlari menuju kampus. Prof. Ahn yang melihatnya masuk ke ruang akademik jadi penasaran, apa yang baru saja dilakukan oleh Yoo Jin. Staf akademik mengatakan kalau Cha Yoo Jin bertanya tentang tata cara pindah jurusan.


Di tepi kolam, Yoo Jin tersenyum melihat formulir pindah jurusan yang ada di tangannya. Tapi kebahagiaannya itu berumur pendek karena terdengar suara duet yang sumbang.


Siapa lagi kalau bukan duet Il Rak dan Nae Il yang lesu. Il Rak mencoba menyemangati, tapi sia-sia. “Kalau kau benar-benar butuh seorang pacar..,” Il Rak menghela nafas panjang dan menutup mata sebelum mengorbankan diri, “Aku mau pacaran denganmu.”


Nae Il mendongak, membuat harapan Il Rak tumbuh, “Apakah sekarang kau sudah termotivasi untuk main piano?”


Nae Il memandang Il Rak dari atas ke bawah, “Ommo, Rak.. Apa aku sudah terlalu lama memandangi Orabang? Sekarang tiap kali aku memandangmu kau kelihatan seperti cumi-cumi. Keriput dan..”

“Cumi?!” tanya Il Rak gondok. Tapi ngomong-ngomong cumi, Nae Il jadi teringat akan calamari masakan Yoo Jin, juga steak dan tuna yang kemarin-kemarin dimasakkan oleh Yoo Jin. Il Rak pun memberi harapan kalau memasak itu adalah tanda-tanda baik, karena jarang-jarang cowok melakukan itu kalau tak tertarik. Yang diperlukan Nae Il sekarang adalah, “Skinship.”

“Skinship?” tanya Nae Il polos.


“Buat cowok, sentuhan. Selalu sentuhan,” saran Il Rak. “Kenapa juga dia harus memasak? Karena akan ada piring kotor dan itu harus dicuci. Dan itulah jawabannya!”

“Dan jawabannya?”

“Pelukan saja!” Haha.. polos  ketemu mesum. Nae Il langsung bersemangat mendengar saran Il Rak.

“Pelukan?” tiba-tiba terdengar suara Yoo Jin.


Melihat Yoo Jin, Nae Il langsung mempraktekkan saran Il Rak yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Yoo Jin. Dengan sedih, Nae Il  berkata kalau ia tahu apa yang terjadi semalam dengan Do Kyung, tapi ia memilih untuk menerima dan melupakannya.


Yoo Jin mengerang mengingat kejadian semalam. Ia akhirnya bercerita kalau semalaman ia harus memainkan piano untuk mengiringi Do Kyung latihan menyanyi. Do Kyung tak mendapat peran utama dan ia minta diaudisi ulang. Sebelum audisi, ia latihan dulu dengan Yoo Jin semalaman.


Il Rak tak percaya dengan alasan Yoo Jin yang kedengaran abal-abal, tapi Nae Il percaya 100%. Ia malah kasihan pada Yoo Jin. Ia pun mencoba memeluk Yoo Jin lagi, untuk menghiburnya.

Tapi Yoo Jin langsung mendorong Nae Il. Kedatangannya kemari bukanlah untuk mencari Nae Il, tapi untuk mencari sumber suara sumbang dan langsung menghardik Il Rak, “Nadamu itu tak harmonis dan kau tak punya intepretasi sama sekali akan sebuah lagu.”


Il Rak jadi defensif. Ia malah menyalahkan Yoo Jin yang tak mau menemaninya ujian. Dan lagian, masalahnya bukan pada biolanya, tapi pada pianonya. Kali ini Nae Il yang defensif, tak terima kalau ia yang disalahkan. Tapi mana mungkin Il Rak yang salah, “Bukannya sombong ya, aku ini pernah menjadi juara ketiga Junior National Competition.”

Yoo Jin tersenyum sinis, “Orang di sekelilingmu mungkin menganggapmu jenius hingga kau mempercayainya. Bukankah seharusnya kau yang harus memperhatikan permainan partnermu?”


Bagi Il Rak, ucapan Yoo Jin itu persis dengan ucapan para guru yang bicara tentang teori dan teknik, membuatnya geram. “Tunggu saja setelah aku lulus nanti, aku akan pindah memakai biola elektrik. Dan itu adalah akhir dari musik klasik yang membosankan.”


Yoo Jin menatap Il Rak tajam, “Bukan musik klasik yang membosankan, tapi permainan payahmu itulah yang membosankan.”


Il Rak marah dikatai seperti itu, tapi Yoo Jin lebih cepat dan merebut biola dari tangannya. Ganti Il Rak yang tersenyum, mencemooh Yoo Jin yang sok-sok-an main biola.


Tapi senyum itu hilang saat mendengar suara bening yang dihasilkan oleh gesekan biola Yoo Jin. Sonata yang sama dengan yang baru saja ia mainkan, dengan biola yang sama, tapi suaranya sangat jauh berbeda. Yoo Jin hanya memainkan sepenggal, tapi itu sudah cukup membuat Il Rak terkesima pada biolanya, dan merengut pada Yoo Jin. Tanpa sepatah katapun, ia pergi meninggalkan mereka.


Pada Nae Il yang terkesima tapi iba pada Il Rak, Yoo Jin berkata, “Aku tahu apa yang akan kau katakan, tapi lebih baik jangan ucapkan.” Mulanya Nae Il menjawab, “Orabang kejam. Sombong.. !!”

Wajah Nae Il berubah kagum, “… Kau hebat sekali!”


Bwahaha.. Yoo Jin lengah hingga Nae Il berhasil memeluknya walau hanya sedetik. Yoo Jin lagi-lagi menahan kepala Nae Il, tapi kali ini Nae Il sangat kuat, hingga ia terdorong hingga tembok. Jiahh.. Yoo JIn kalah oleh kekuatan cinta. :p


Il Rak pulang ke rumah dan berlatih biola lagi, walau kali ini bukan Sonata Bethoven yang ia mainkan tapi lagu yang penuh kemarahan. Tapi lagi-lagi, suara bening milik Yoo Jin yang terus ia ingat, membuatnya semakin frustasi. Ia kembali bermain dengan penuh kemarahan.

Ia tahu kalau ayahnya masuk ke kamar untuk menaruh snack, tapi ia tetap berlatih, pura-pura tak melihat,  walau dalam hati ia galau. Ayahnya masih tetap berpikir kalau ia mampu bermain di Seoul Art Center. Tapi dengan seperti ini, bisakah?

Ayah ternyata masih ada di luar. Dan termenung.


Dekan Mi Na berhasil melacak keberadaan terakhir Franz von Stressemann yang dibawa sopir taksi ke Yangsuri. Walau menurut supir taksi, penampilannya berbeda dengan yang digambarkan Dekan Mi Na.


Nae Il tak sengaja bertemu dengan pria tua yang alay. Kenapa alay? Karena kalimat pertama yang ia ucapkan saat melihat wajah Nae Il adalah, “Apa mungkin ayahmu adalah seorang pencuri?” Nae Il bengong ayahnya dituduh seperti itu. Tapi pria itu melanjutkan, “Jika bukan, lantas bagaimana ia memindahkan bintang yang ada di langit ke dalam matamu?”


Jiahhh… gombalannya… Nae Il cukup polos dan malah ikut heran, iya ya.. kok bisa ya? *gubrak*

Pria itu sekarang malah menuduhnya sebagai pencuri, “Karena kau baru saja mencuri hatiku.”

Hahaha… pasti maestro ini baru saja hang out sama abg-abg, deh.. Kocaknya lagi, Nae Il malah minta maaf dan memintanya untuk menangkap saja dirinya karena ia adalah penjahat. Pria itu pun menjawab, “Kalau kau ingin minta maaf, bagaimana jika dengan makan denganku?”


Nae Il langsung menolak karena ia tak biasa makan dengan orang asing. Pria itu sudah kehabisan kata-kata (gombal) dan mengeluarkan jurus terakhir. Ia memasang wajah memelas, “Aku ini diadopsi dan baru saja kembali ke tanah air untuk pertama kalinya. Setiap hari aku makan sendiri, dan aku sangat kesepian..”


Nae Il pun luluh dan berkata, “Aku punya tempat makan yang sering aku datangi, apa Anda mau ikut denganku?”

Pria itu langsung senang.


Kebahagian mereka, penderitaan untuk Yoo Jin. Karena tempat makan yang disebut-sebut Nae Il itu adalah rumahnya. Bwahaha… muka Yoo Jin butek banget liat kedua tamu tak diundang itu, apalagi pria yang dibawa Nae Il minta wine juga. Nae Il sih senang-senang saja mengambilkan wine.

Tapi tidak dengan Yoo Jin. Ia bertanya, “Paman, Anda siapa?” Nae Il mencoba memperkenalkan teman barunya, “Ia adalah.. “ tapi ia juga baru sadar kalau ia belum tahu nama pria itu dan mengulang pertanyaan Yoo Jin.


Pria itu sesaat terdiam. Pandangannya terantuk pada gelas “Namaku adalah Milch..” dan kotak susu “Holstein..”


Nae Il pun memperkenalkan pria itu dengan nama Milch Holstein. Tapi Yoo Jin tak percaya, “Milch Holstein… Susu sapi?”


Moooo… bwahahaha… Pria itu kaget karena Yoo Jin mengerti bahasa Jerman. Kecurigaan Yoo Jin pun semakin besar, begitu pula akhirnya dengan Nae Il, “Anda siapa, Paman?”

Komentar :

Waahh.. kalau mengikuti Nodame Cantabile, pasti tahu siapa pria tua ganjen itu. Dan kalau sudah pernah nonton Nodame Cantabile, sedikit banyak pasti membandingkan dengan buatan Jepang, entah itu drama maupun animenya. Walau seperti yang pernah dibahas Elok, produser drama ini mengatakan kalau drama ini bukan remake dari dramanya, tapi dari manga, jadi jangan dibandingkan.

Tapi gimana-gimana, kita para penonton pasti membandingkan. Dan menurut saya, masing-masing punya nilai tambah sendiri. Kalau Nodame Cantabile, saya suka sekali dengan performance Ueno yang mampu menampilkan gesture pianis aslinya. Sementara di Cantabile Tomorrow, saya masih melihat kalau Shim Eun Kyung hanya bergaya bermain piano. Kalau pengen lihat Nodame main piano, coba cek di sini.


Walau begitu, saya nggak begitu ilfil liat Nae Il, jika dibandingkan dengan Nodame. Kalo Nodame, saya gemes, duh nih cewek kok gitu banget sih. Tapi kalau Nae Il ini ngeselinnya cute banget. Sekilas, potongan rambutnya dan wajahnya mirip dengan Jandi di Boys Over Flowers, tapi karena di sini karakter Nae Il memang sedikit aneh, tindakannya yang kadang lebay itu termaafkan. Dan Shim Eun Kyung pintar memerankan Nae Il yang tidak menjengkelkan. Lebaynya tambah sediki..it aja, mungkin membuat saya sebel ngeliatnya.


Tapi jujur, drama ini lucu banget. Sikap tubuh dan selipan kata-kata mereka yang tak mungkin tertulis di sinopsis, berhamburan di drama ini. Lihat saja cengiran Yoo Jin yang niat banget balas dendam pada Nae Il. Jujur, saya baru liat cengiran ini dari Joo Won. Dan di sini saya merasa Joo Won kok tinggi banget, ya.. padahal pas di Good Doctor, dia kayaknya gak gede-gede banget. Saya sama sekali nggak menangkap sedikitpun gaya Tae Hee (Ojjakyo Brothers) maupun Park Shi On (Good Doctor) di dalam diri Yoo Jin.

Lahh.. kok jadi ngomongin Joo Won, ya.. Mungkin saya bias kali ya,. Walau gaya rambut Yoo Jin di sini enggak banget, tapi saya tetep suka dengan tampang Yoo Jin. Eh.. tampang itu gak ngaruh dengan rambut, ya?

15 comments :

  1. Mbak dee...
    Kangen.....
    Senengnya Mbak dee dah nulis lg.
    Sibuk bgt ya Mbak? Atw kmarin2 ga ada yg menarik utk ditulis?

    Ita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dugaan sementara, kemaren kemaren miss Dee sibuk ngurusin partai *twitter analisis*

      Delete
    2. wkwkwk... *ngecek timeline* eh.. beneran.. banyak juga ya.. atau krn jrg ngetuit. sekalinya ngetuit partai-partaian.. mau belinya partai besar atau kecil? harganya beda. reseller welcome. xixixi.. :p

      Delete
  2. Mbak dee, aduh jadi pengen donlot drama ini deh. Belom pernah nonton versi jepangnya sih, tapi... demi Joo Won. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeap~ Demi Joo won~ This project synopsis jg kebentuk 'demi Joo Won nya Miss Dee.

      Delete
    2. Jiahh.. ini miss elle, kenapa ada di sini? Yang di sana dibuka atuh comment box-nya. Jadi saya kan bisa ikut nyepam juga :D

      Delete
  3. lanjutin lg dong mbakkk

    ReplyDelete
  4. Jujur sih blm pernah nonton nodame jd ga bisa bandingin dan ga pengen bandingin tp disini si neilnya emg sedikit 'fake' tp masih termaafkanlah danakting joo won ga perlh ditanya lagi keyeeen tengil2 cakep gimana gitu aduh duh melelh deh sm senyum tengilnya semoga drama ini jd hits yaaaa tomorrow cantabile fighting!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Give me high five, girl! *high five*

      Delete
    2. belum tidur mbak? haha

      Delete
  5. "saya masih melihat kalau Shim Eun Kyung hanya bergaya bermain piano."
    pengaruh pengambilan gambarnya kali ya mbak? perform neil gak terlalu diekspos. beda dengan pengambilan gambar perform nodame. tapi gestur neil juga kurang sih pas main pianonya. kalo nodame kan cuma liat dr gesturnya bisa keliatan kalo dia jenius.

    aku masih liat Park Shi On! sekali doang sih. pas joowon lagi jalan.. lupa pas adegan jalan yang mana. banyak soalnya.. *iyalah :)))

    neil itu cute. kalo nodame emang ngeselin. apalagi dia dengan seenaknya ngajakin ryutaro & masumi main ke rumah chiaki, leha-leha menikmati kotatsu, dan nyampah sana-sini di rumah chiaki senpai. wkwkwkwk. itu adegan paling kocak dan paling ngeselin di nodame :')))))))))))))

    sayang sekali neil gak punya ciri khas (atau belum?), sedangkan nodame punya ciri khas teriakan "gyaboooo" tiap dilempar sama chiaki. hahaha. X))))

    beritanya episod 2 ratingnya turun 1.1% dibanding episod pertama. mungkin karena viewers masih membanding-bandingkan drama ini dengan versi jepangnya. dan banyak komentar di episod pertama ini gak jauh beda dari versi drama jepangnya. padahal kata tim produksi neil cantabile lebih ke versi manga. *source: soompi :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. ciri khas Nae il kalo engga salah manggil "orabooong" plus "the cute little doll patch on her clothes", bukan ya? xD

      Delete
    2. yay! akhirnya adis berhasil komen :). dan disini gak pake cgi, ya jadi pas dilempar sst ama chiaki, gak keluar air matanya.

      Iya, kalo di nodame, kentara banget aura eksentriknya Nodame. Dan biasanya eksentrik itu = jenius. Dia kalau udah menekuni sesuatu, jadi kaya masuk ke bubble, asyik ama dunianya sendiri. Dan chiaki senpai yang narik dia keluar. Semoga aku juga bisa lihat kaya gitu di sini.

      Tapi kalo nggak pun, aku sudah puas kok ama chemistrynya nae il ama yoo jin.

      Delete
  6. orabang ............... neomu kiyeowo

    ReplyDelete