July 5, 2014

You're All Surrounded Episode 16

You’re All Surrounded Episode 16 : Hal-hal yang tak dapat disembunyikan


Pan Seok menjatuhkan kalung itu di atas meja dan menunggu reaksi Nyonya Yoo. Sesuai dugaan mereka, Nyonya Yoo terkejut menatap kalung itu. “Anda mengenalinya, kan?” tanya Pan Seok.

Dengan memasang wajah kembali datar, Nyonya Yoo bertanya bagaimana kalau memang iya. Pan Seok menjawab kalau kalung itu ditemukan di rumah perawat sekolah yang dibunuh di Masan 11 tahun yang lalu. “Bisakah Anda menjelaskan hal ini?”

Dae Gu mengepalkan tangannya, apalagi saat Nyonya Yoo membantah kalau kalung itu bukanmiliknya. Ia langsung berkata kalau kalung itu adalah kalung dari Henri Jeong Limited Edition-Only for You Series tahun 2002. “Bulan dan Salib Utara. Bandul kalung itu didesain khusus untuk Anda. Betul, kan?”

Nyonya Yoo malah tertawa dan menganggap kedua tamunya itu sangat lucu. Kalung itu memang didesain untuknya. Tapi kalung itu bukan miliknya. Pan Seok meminta agar Nyonya Yoo jujur karena mereka telah mengkonfirmasi hal ini dengan desainernya sendiri.  Maka Nyonya Yoo masuk untuk mengambilkan sebuah kotak dan melemparkannya ke atas  meja. “Bukalah.”



Pan Seok membuka kotak itu dan terbelalak karena di dalam kotak itu terdapat sebuah kalung yang bandulnya sama persis dengan bandul yang mereka miliki. Begitu juga dengan Dae Gu yang langsung membandingkan keduanya secara bersampingan.

Nyonya Yoo tampak puas melihat ekspresi terkejut kedua tamunya. “Puas? Sekarang giliran kalian untuk menjelaskan. Dimana kalian mendapatkan tiruan itu? Aku berhak tahu karena aku sudah membelinya jutaan won untuk itu.”


Pan Seok tak mundur. Ia tak tahu bandul mana yang asli dan mana yang palsu. Oleh karena itu ia ingin memeriksa keaslian kedua kalung itu. Nyonya Yoo tak mau. Ia akan melupakan semuanya ini dan meminta mereka pergi. “Sebelumnya tas palsu. Sekarang bandul palsu? Benar-benar kelihatan sekali bagaimana cara kalian bekerja.”


Pan Seok dan Dae Gu keluar rumah, nampak frustasi dan bingung dengan temuan yang tak mereka sangka ini. Bagaimana mungkin hal ini terjadi pada kalung yang katanya hanya satu-satunya? Dae Gu mengamati bandul yang mereka punyai. Dengan fotografik memory-nya, ia sadar kalau ada tiga bagian yang sedikit berbeda pada  kedua kalung itu. “Keduanya tidak sama. Salah satu dari kedua kalung ini pasti palsu.”

Kebingungan yang dialami kedua polisi itu sama besarnya dengan kepanikan yang mendera Nyonya Yoo. Ia mencoba menelepon ayahnya, tapi tak kunjung ada respon. Kebetulan suaminya pulang dan heran melihat sikap Nyonya Yoo. Ia bertanya ada masalah apa.


Tapi Nyonya Yoo malah menjawab sinis, “Sejak kapan kau peduli padaku?” Dijawab begitu, suaminya meninggalkan Nyonya Yoo yang kembali panik dan memutar otak mencari jalan keluar.


Pan Seok dan Dae Gu kembali ke kantor dan memberitahukan hasil temuan mereka. Dan sama dengan mereka, yang lain juga bingung. Bagaimana mungkin kalung yang ada di ada di TKP pembunuhan perawat sekolah di Masan adalah milik Nyonya Yoo? Dan Nyonya Yoo memiliki punya kalung yang sama pula, padahal kata Henry Jeong kalung itu hanya satu di dunia ini.

Dengan Soo Sun yakin kalau kalung itu adalah kalung dari 11 tahun yang lalu, maka kemungkinan besar kalung milik Nyonya Yoo-lah yang palsu.

Jika Nyonya Yoo menjatuhkan kalung itu saat hari pembunuhan terjadi, pasti Nyonya Yoo akan membuat tiruannya sebagai alibi. Pan Seok  mengatakan kalau mereka tak bisa mengetahui kalung mana yang asli kecuali disandingkan keduanya.

Karena mustahil untuk menyandingkan kedua kalung itu kembali, maka Pan Seok akan mengubah cara penyelidikan. Mereka akan mencari saksi yang melihat Nyonya Yoo datang ke rumah Dae Gu saat itu dan mencari tahu hubungan antara korban dengan Nyonya Yoo. ”Juga, kita harus mencari tahu apakah Nyonya Yoo memiliki motif untuk membunuh.”

Tae Il menambahkan kalau memang benar Nyonya Yoo memalsukan kalung itu, berarti ia menyuruh orang untuk membuat tiruannya. Dan mereka bisa mencari orang itu.

Pan Seok setuju. Maka mereka pun bagi tugas. Ia dan Dae Gu akan pergi ke Masan untuk menyelidiki hubungan antara Nyonya Yoo dengan kasus di Masan. Eung Do akan pergi dengan Soo Sun dan Ji Gook untuk bicara dengan teman-teman kuliah Ibu Dae Gu di Seoul. Tae Il akan mencoba menemukan si pembuat kalung tiruan itu.

Pan Seok menyemangati anggota timnya. Selama ini kasus pembunuhan perawat Masan tetap tak terpecahkan. Namun sekarang kalung ini muncul dan mengubah semuanya. Jadi mereka harus bekerja keras untuk menyelesaikan kasus ini.


Seusai rapat, Dae Gu kembali ke meja. Soo Sun yang mengikutinya, ragu-ragu mendekat dan menyapa, “Partner..”

Tapi Dae Gu kembali ke sikap ketusnya dan tanpa menoleh ia mengacungkan penggaris ke arah Soo Sun. “Bicara dari sana saja.” Soo Sun pun mundur dan bertanya apakah Dae Gu baik-baik saja? 

Ia menyesal dan mengakui kalau ia mungkin berotak burung karena tak dapat menghubungkan kalung itu dengan Cho Hyung Chul.

“Aku kan sudah berkali-kali bilang kalau kalau kau  berotak burung,” jawab Dae Gu yang tetap bekerja di laptopnya, tak melirik sedikitpun pada Soo Sun. Soo Sun hanya bisa kembali mengucapkan permintaan maafnya, tak tahu harus berkata apa lagi.


Senator Yoo kesal mendengar kalung itu muncul lagi setelah 11 tahun menghilang. Tapi anaknya tak mau disalahkan karena sebelumnya Senator Yoo sudah berjanji akan menyelesaikan semuanya. Senator Yoo pun bertanya bagaimana cara anaknya menangani hal itu.

 “Tentu saja yang aku lakukan adalah menunjukkan apa yang aku punya.” Nyonya Yoo menjawab bangga dan mengeluarkan kalungnya. “Karena kalung itu hilang, maka aku menyuruh membuah tiruannya. Aku sudah menduga kalau ada orang yang akan mencariku jika kalung itu ketemu.”

Senator Yoo malah mendelik melihat tindakan ceroboh anaknya. “Kalung itu hanya ada satu-satunya di dunia ini. Dengan membuah tiruannya, secara tak langsng kau mengakui telah melakukan kejahatan!”

Nyonya Yoo meyakinkan kalau tiruannya ini sangatlah mirip, bahkan desainernya sendiri tak akan bisa melihat perbedaannya. Yang jadi pertanyaannya adalah : bagaimana orang-orang itu bisa mendapatkan kalungnya?

Senator Yoo pun teringat akan ucapan Hyung Chul yang akan melenyapkan anak perawat itu jika Senator Yoo menginginkan. Ia meminta anaknya untuk diam menunggu hingga ia menyelesaikan semuanya. Ia pun menelepon seseorang dan menyuruh untuk mencari tahu apa yang telah dilakukan Cho Hyung Chul selama ini.


Chief Kang menerima sebuah surat tanpa nama pengirim. Betapa kaget dan takutnya ia melihat isinya. Foto bandul 11 tahun yang lalu dan sebuah pesan : Aku memilik kalung yang kau sembunyikan saat itu. Temui aku di Pulau Mie tanggal 3 pukul 14.00.


Pan Seok masih bekerja di meja makan saat waktunya sarapan. Tae Il yang muncul pertama kali. Tentu saja keduanya masih merasa canggung setelah kejadian Sa Kyung. Pan Seok minta sarapan dan Tae Il memberikan menu sarapan setiap pagi mereka : cornflakes.

Pan Seok mengernyit dan bertanya mengapa mereka harus makan remah-remah biskuit untuk sarapan? Tae Il menjawab kalau itu bukan remahan biskuit, melainkan multigrain cornflake. Tapi bagi Pan Seok, keduanya tak ada bedanya. “Apa kalian tak punya makanan lain?”

Tae Il pun mengatakan ada. Sejurus kemudian, Tae Il pun mengambil bahan makan di lemari es dan mulai menyiapkan sarapan sementara Pan Seok meneruskan pekerjaannya. Ia tak menyadari kalau handphonenya bergetar. Ada telepon dari Sa Kyung dan kebetulan Tae Il melihatnya. Tapi Tae Il memilih diam saja hingga panggilan itu berhenti.

Pan Seok masih menekuni pekerjaannya saat Tae Il meminta ijin agar boleh membawa Sa Kyung untuk membantunya mencari pembuat kalung tiruan. Sesaat terdiam, Pan Seok akhirnya menyetujui walau dengan membanting buku yang sedang dibacanya dan mengacak-acak catatan yang ada di hadapannya.

Haha.. Nggak.. Pan Seok nggak marah, kok..


Ji Gook dan Dae Gu muncul bersamaan, dan Pan Seok menyapa mereka, “Pagi, Eun Park Ji.” Semuanya bengong mendengar panggilan aneh itu. Maka Pan Seok menjelaskan, “EUN Dae Gu, PARK Tae Il, JI Gook. Eun, Park, Ji. Cerdas, kan?” Dan Pan Seok pun tertawa mendengar guyonannya sendiri.

Ha. Ha. Ha. Ji Gook tertawa terpaksa, sementara Dae Gu tak ada ekspresi. Males kali nanggepin guyonan garing. (Menurut dramabeans, Eun Bak Ji adalah Foil atau lembaran).

Pan Seok berhenti tertawa, sadar kalau guyonannya aneh. Dengan nada serius ia berkata kalau ia dan Dae Gu hari ini langsung pergi ke Masan. Ia minta agar Chief Cha tak mengetahui kepergian mereka dan merahasiakan aktivitas ini selama mungkin.


Di jalan, Pan Seok bertanya tentang keluarga jauh yang mungkin masih ditemui oleh Dae Gu. Dae Gu sedikit terkejut mendengarnya. Pan Seok menjelaskan kalau ia memang tak tahu tentang Eun Dae Gu, tapi ia tahu banyak tentang Kim Ji Young.

Ia tahu kalau ibu Dae Gu belajar menjadi perawat selama 1 tahun di Seoul dan baru pindah ke Masan setelah diterima menjadi perawat sekolah. Ia juga tahu kalau ibunya memiliki kakak laki-laki yang sekarang tinggal di Australia. “Dan kurasa ayahmu sudah meninggal. Apakah benar?”

Dae Gu mengiyakan dan menjawab pertanyaan Pan Seok lainnya dengan amat singkat. Ya, ayahnya meninggal sebelum ia lahir. Ya, ibunya adalah orang tua tunggal.

Melihat ekspresi Dae Gu, Pan Seok sadar kalau pertanyaannya itu sangat sensitive. Ia pun menyalakan radio. Tapi melihat Dae Gu memejamkan mata, Pan Seok pun urung menyalakan dan menyuruh Dae Gu untuk tidur karena tidur itu sangatlah penting. Perjalanan ke Masan pun berlanjut.


Dae Gu mulai menanyai tetangga-tetangga rumahnya dan memperkenalkan diri sebagai Ji Young. Seorang ahjumma langsung mengenalinya dan bersyukur melihatnya lagi. Tapi semuanya mengatakan tak pernah melihat sosok Nyonya Yoo.


Sa Kyung menemani Tae il untuk mencari ahli meniru perhiasan. Tapi sejauh ini usaha mereka nihil. Saat menuruni escalator, ada pesan masuk ke handphone Sa Kyung.  Karena posisi berdirinya, Tae Il dapat ikut membaca isi pesan itu. Dari Pan Seok yang membatalkan acara makan malam mereka karena masih tugas di luar Seoul.

Tae Il bertanya apa Sa Kyung tak jadi kencan hari ini? Sa Kyung tak menjawab dan malah menyuruh Tae Il berhenti membaca message dari orang lain.

Soo Sun dan Ji Gook pergi ke rumah sakit untuk mencari teman ibu Dae Gu yang katanya menjadi dokter di sebuah rumah sakit. Sayangnya, dokter itu sedang dinas ke Pulau Jeju.


Pan Seok dan Dae Gu berhenti di sebuah toko. Kepanasan, mereka minum es. Tak disangka pemilik toko itu masih nenek yang sering ditemui Dae Gu dulu. Nenek itu pun juga langsung mengenali Dae Gu sebagai Ji Young.

Tak dapat dungkapkan rasa syukur dan senang yang dirasakan nenek itu saat melihat Ji Young yang dikira telah mati. Apalagi melihat Pan Seok, “Bagaimana kau bisa mengenal woori Young? Apakah kau ayahnya?”
Pan Seok mendelik, “Apa yang membuat Anda berpikiran seperti itu?!”

Nenek gantian mendelik, “Kau mengagetkanku. Nggak usah keras-keras ngomongnya, kenapa?”


Pan Seok langsung membela diri kalau kebanyakan orang malah mengirinya masih sangat muda. “Bagaimana mungkin pria sebesar ini menjadi anak saya? Kayaknya nenek sudah butuh kacamata, deh.”

Dae Gu yang ganti skeptis, “Masih sangat muda?” Pan Seok mengangguk yakin.

Haha.. kayanya ada loh, aktor Korea seusia Pan Seok yang punya anak seusia Dae Gu. Kalau nggak salah namanya Cha Seung Won. Dan mirii..ipp sekali dengan Pan Seok ini.

Nenek merasa kalau ia merasa sangat khawatir saat Dae Gu dulu menghilang.  Ia merasa semua yang terjadi pada Ji Yong ini karena kesalahannya. “Coba kalau aku dulu pergi ke kantor polisi untuk bersaksi!” seru Nenek menyalahkan diri sendiri.

Dae Gu bertanya mengapa Nenek berkata seperti itu? Apakah Nenek melihat sesuatu pada hari itu? Takut-takut nenek berkata kalau ia melihat seorang pria mengintip ke dalam rumah Dae Gu dari balik pagar. Tapi karena takut, ia segera balik arah dan langsung pulang ke rumah. Ia tak menyangka malah terjadi sesuatu yang mengerikan seperti itu.

Nenek minta maaf pada Dae Gu. Saat itu orang-orang berkata kalau ibu Dae Gu dibunuh karena ingin berkata benar. Jadi ia terlalu takut untuk memberitahukan apa yang ia lihat.


Pan Seok segera mengeluarkan beberapa foto dan meminta nenek mengenali orang  yang dulu dilihatnya. Nenek mengatakan bukan pada foto Hyung Chul dan CEO yang tewas. Tapi nenek langsung mengenali foto Woo Joon Soo.  Pan Seok pun berterima kasih pada nenek dan pamit pergi.

Setelah pamit dan berjanji akan kembali lagi, Dae Gu mengikuti langkah Pan Seok.  Ia bertanya apakah Pan Seok tahu dimana Woo Joon Soo berada? Pan Seok mengiyakan bangga. “Tentunya bukan omong kosong kalau orang menyebutku seorang legenda!”


Tapi kegembiraan Pan Seok tak berlangsung lama. Di dalam perjalanan kembali ke Seoul, Pan Seok menerim SMS dariTae Il : Terima kasih, Pak. Karena Anda, saya punya kesempatan mentraktir Detektif Kim untuk makan malam.

Ha. Pan Seok kesal sekali membacanya. Dae Gu diam saja melihat tingkah Pan Seok. Tapi bersamaan itu, ada pesan masuk dari Soo Sun yang mengatakan : Partner, kuharap semuanya berjalan dengan baik. Apa kau menemukan sesuatu? Dae Gu tersenyum membacanya.


Tapi Soo Sun mengirimkan pesan berikutnya : Detektif Ji dan aku juga tak menemukan apapun. Sekarang aku sedang makan malam bersamanya.


Dan kita melihat Ji Gook mencoba menyuapi Soo Sun nasi kepiting yang telah ia kuliti. Mulanya Soo Sun tak mau, tapi karena Ji Gook memaksa, akhirnya Soo Sun mau juga makan sesendok darinya. Soo Sun mengirimkan pesan lanjutan : Jangan sampai tak makan malam, Partner.

LOL. Dae Gu sama kesalnya seperti Pan Seok tadi. Dan ia langsung curhat, “Kenapa sih para wanita itu tak bisa makan sendiri?”


Pan Seok menjawab, “Masalahnya bukan hanya di wanitanya. Tapi masalahnya juga ada pada pria-pria yang tak punya semangat sportivitas.Mereka langsung saja menyambar setiap kesempatan yang muncul, padahal penjaga gawang sedang tak ada di sana.”

Hahaha… emang dikata piala dunia? Tapi Dae Gu yang masih dilanda kesal a.k.a cemburu membenarkan semua perkataan Pan Seok dan memintanya untuk menginjak gas dalam-dalam karena lampu sudah hijau. Pan Seok pun menjawab, “Oke. Apakah kau sudah memakai seatbealt, kelinci?”

“Kelinci?” Dae Gu mengerutkan kening, bingung.

“Nggak.. bukan apa-apa. Seekor kelinci bingung,” jawab Pan Seok sambil terbahak-bahak mendengar gurauannya sendiri.


Mereka menemui Woo Joon Soo di restoran. Pan Seok menunjukkan kalung dan bertanya apakah Joon Soo pernah melihat kalung itu. Joon Soo tak pernah melihat kalung yang jelas-jelas kalung wanita. Untuk apa juga bossnya yang pria menjatuhkannya?

Pan Seok pun mengeluarkan foto Nyonya Yoo dan bertanya apakah Joon Soo pernah melihatnya. Joon Soo mencermati foto itu dan dari ekspresinya, Pan Seok dapat menebak kalau Joon Soo pernah melihatnya. Joon Soo kembali membantah pernah melihatnya.

Tapi ia tak dapat berkelit saat Pan Seok mengatakan kalau ia punya saksi yang melihat Joon Soo ada di balik pagar dan sekarang belum terlambat untuk mengatakan apa yang pernah dilihatnya dulu. “Setelah kau memberi informasi pada kami, aku tak akan mengganggumu lagi.” Joon Soo terlihat ragu. Pan Seok pun mendesaknya, “Kau pernah melihatnya, kan?”


Akhirnya Joon Soo mengakui kalau ia melihat wanita itu keluar dari dalam rumah. Ia sangat ingat wajah wanita itu karena wanita itu sangat flamboyan. Pan Seok berseru gembira dan berterima kasih pada Joon soo.

Di luar restoran, Dae Gu termenung memikirkan temuan yang sangat baru ini. Pan Seok yang mengikutinya keluar menepuk punggung Dae Gu, berkata kalau ia tak menyangka akan menemukan saksi dari kejadian 11 tahun yang lalu. Dae Gu berterima kasih pada Pan Seok.


Pan Seok sangat gembira dan merangkul bahu Dae Gu. Tapi tangan itu langsung dilepaskan oleh Dae Gu yang tak terbiasa. Pan Seok cemberut mendapat penolakan dari Dae Gu.

Hihihi.. jadi ingat saat si adek nggak mau digandeng saat masuk TK karena malu.


Kabar tentang munculnya saksi yang melihat Nyonya Yoo keluar dari rumah Dae Gu itu sampai juga ke P3 dan Eung Do. Mereka tak dapat menyembunyikan kegembiraan mendengarnya. Walau mereka harus menurunkan volume suara saat Chief Kang lewat ruangan mereka.


Eung Do teringat saat Pan Seok menceritakan tentang Chief Kang yang menyembunyikan pesan dari Jung Tak. Saat itu ia bertanya apakah mungkin Chief Kang itu adalah Detektif Seo yang menyembunyikan kalung dan membahayakan jiwa Ji Young? Apa mungkin saat itu Chief Kang hanya lupa memberikan pesan Jung Tak. “Dan yang terpenting, marga Chief adalah Kang, jadi bagaimana bisa ia dipanggil Detektif Seo?”

Pan Seok juga tak tahu, tapi ia bertekad untuk mencari tahu dan ia yakin akan mendapat jawabannya dalam beberapa hari ini.


Sudah larut malam, tapi Soo Sun belum juga pulang. Ternyata ia menunggui kedatangan Dae Gu. Terlihat dari ia yang buru-buru merapikan rambutnya saat melihat Dae Gu datang.

Tapi Dae Gu cuek, tak mempedulikan Soo Sun yang mencoba membuka percakapan dengannya. Ia malah meninggalkan Soo Sun dan masuk ke ruang meeting. Soo Sun terkejut mendapat perlakuan dingin itu. Soo Sun pun mengikuti Dae Gu.


“Apa kau marah padaku?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Menurutmu kenapa?”

Soo Sun terdiam sebelum menjawab, “Karena kalung itu?”

Dae Gu menoleh dan menjawab, “Otak burung.”

“Lalu kenapa kau marah padaku?” tanya Soo Sun yang masih tak mengerti.


Dae Gu menatap Soo Sun, “Kenapa aku bukan tipemu?” Mata Soo Sun melebar mendengar ucapan Dae Gu yang meneruskan, “Kalau aku bukan tipemu, lalu tipemu itu siapa?” Soo Sun terlalu terkejut untuk menjawab. Tapi Dae G uterus bertanya, “Apa kau benar-benar menciumku itu murni karena pekerjaan?”

“Hei.. Eun Dae Gu..,” terbata-bata Soo Sun menjawab, “Kau .. benar-benar..”

“Benar-benar kenapa?” potong Dae Gu.

“Itu.. itu .. apa itu penting bagimu?” tanya  Soo Sun bingung. “Kau baru saja menemukan kalung itu setelah 11 tahun..”


“Iya. Itu memang penting bagiku,” Dae Gu meradang. "Karena katamu aku bukanlah tipemu, aku merasa hidupku menjadi tak punya arti lagi.”

Kyaa…. Soo Sun hanya bisa membuka dan menutup mulutnya, tapi tak ada satupun kata yang keluar, terlalu terkejut mendengar ucpan Dae Gu yang terus terang itu. Ia akhirnya memilih pergi meninggalkan ruangan.

Tapi Dae Gu tak membiarkannya. Ia menarik tangan Soo Sun hingga Soo Sun hilang keseimbangan dan jatuh jika Dae Gu tak segera menangkapnya.


Memeluknya, tepatnya. Sesaat mereka berpelukan, tapi Soo Sun segera tersadar dan mencoba melepaskan diri. Dae Gu malah mempererat pelukannya. Dengan lirih, Dae Gu bertanya siapa tipe pria yang disuka Soo Sun.


Soo Sun tak ingin menjawab dan mencoba melepaskan diri lagi. Tapi Dae Gu malah menariknya semakin dekat. Terbata-bata, akhirnya Soo Sun menjawab, “Temanmu..”

Dae Gu mengerjapkan mata, kaget mendengar jawaban Soo Sun.

“.. Kim Ji Young,” Soo Sun meneruskan, terlalu malu untuk menatap mata Dae Gu.


Terpana, kali ini Dae Gu tak menahan Soo Sun yang berusaha melepaskan diri. Ia hanya terus memandang Soo Sun yang salah tingkah, malu karena telah mengakui perasaannya dan memilih pergi dari ruangan.

Bahkan hingga Soo Sun menghilang dari pandangannya, Dae Gu tetap terpana. Dan saat tersadar, ia akhirnya tersenyum lebar.

Senator Yoo mendapat laporan tentang kunjungan Pan Seok dan Dae Gu ke sel Hyung Chul. Pertama Pan Seok menemui Hyung Chul. Setelah itu Dae Gu datang, tapi Hyung Chul menolak bertemu. Yang ketiga adalah Pan Seok dan Dae Gu datang bersama, tapi Hyung Chul kembali menolak untuk bertemu.


Senator Yoo teringat ucapan Chief Kang di arena tembak yang ingin melihat hasil darinya. Ia sangat geram pada Chief Kang yang tak tahu kalau kalung itu kembali muncul dan tak tahu akan ulah para bawahan, malah berani mengancam dirinya. Ia pun menelepon seseorang dan berkata, “Lakukan sesuai rencana.”



Chief Kang masih mempertimbangkan akan datang atau tidak untuk memenuhi undangan surat kaleng itu saat Chief Cha muncul untuk memberitahukan kalau usulan pemisahan wewenang antara jaksa dan polisi akan dimunculkan kembali  ke sidang dewan. “Senator Yoo kita akhirnya mulai bergerak!”

Chief Kang terkejut mendengarnya, tapi Chief Cha yakinn dan ia merasa kalau para jaksa itu pasti sedang kebakaran jenggot sekarang. Chief Kang tersenyum mendengar kabar menggembirakan ini. Ia melirik jamnya yang sudah mendekati pukul 2 siang.


Si pengirim surat kaleng itu rupanya adalah Pan Seok yang sekarang menunggu kedatangan Chief Kang. Tapi hingga pukul 14.15, Chief Kang belum datang juga. Saat itu Pan Seok tersenyum, sepertinya merasa lega karena kecurigaannya tak terbukti. Tapi betapa kagetnya ia melihat Chief Chief Kang berjalan kaki mencari-cari pengirim surat kaleng itu. Raut kecewa terbersit di wajahnya.

Chief Kang berdiri menunggu. Ia refleks menoleh saat ada orang yang memanggil, “Detektif Seo..” Ia kaget melihat Pan Seok berdiri di belakangnya. Tapi rasa kaget itu tak sebanding dengan kekecewaan Pan Seok pada guru yang selama ini  menjadi panutannya.


“Apakah Detektif Seo itu benar-benar Anda? Jadi Anda yang menyembunyikan kalung, malam itu 11 tahun yang lalu. Dan Anda juga yang memberitahu Hyung Chul tentang keberadaan Ji Young di sekolah. Setelah itu Anda menjadi orang tua asuh bagi Ji Yong setelah apa yang Anda lakukan kepadanya?!” tuduh Pan Seok. “Lalu bagaimana mungkin Detektif Seo itu adalah Anda?”


Maka kita kembali ke 27 tahun yang lalu, saat Chief Kang masih menjadi polisi pemula dan dipanggil Detektif Kang. Ia dan rekannya sedang ada di kantor jaksa Ulsan, menuntut jaksa untuk memberitahu mengapa permintaan penahanan mereka  yang kelima ini masih ditolak. Jaksa itu menyuruh kedua detektif itu untuk membawa bukti yang kuat.

Rekannya, detektif Seo, mencoba berkata kalem. Kasus yang mereka bicarakan adalah kasus pemerkosaan gadis 19 tahun oleh 4 pria. Jaksa berdalih kalau gadis itu di bawah umur untuk masuk klub malam dan masuk ke motel tanpa dipaksa. “Bagaimana mungkin itu disebut dengan pemerkosaan?”

Detektif Kang menjawab kalau gadis itu sudah dicekoki dengan narkoba dan mengalami pemaksaan dengan adanya lebam di tubuhnya.  Jaksa itu malah menyuruh mereka menjadi jaksa saja jika mereka merasa diri mereka pintar, dan bukannya jadi polisi.

Detektif Seo pun bertanya, “Berapa banyak mereka membayar Anda?” Jaksa itu mendongak dan tatapannya berbahaya. Tapi Detektif Seo tak gentar. Ia membeberkan siapa keempat pria itu. Anak hakim, cucu senator, anak CEO, “Saya yakin orang tua pemerkosa membayar Anda cukup banyak untuk menyelamatkan anak-anak mereka..”

Jaksa itu menampar Detektif Seo karena menuduhnya sebagai jaksa yang korup. Ia juga menampar Detektif Kang yang mencoba membela rekannya. Sambil melepas jam tangannya, ia memperingatkan mereka untuk menyadari apa akibatnya jika polisi rendahan seperti mereka menantang jaksa.


Chief mereka marah besar karena Detektif Kang dan Detektif Seo menuntut kejaksaan atas pengaiayaan yang mereka alami. Hal itu membuat kantor kejaksaan berbalik menyerang mereka dan bisa-bisa seluruh polisi distrik Busan akan dipecat.

Senator Yoo, yang dulu rupanya adalah Chief Yoo, atasan langsung kedua detektif itu, mencoba membela bawahannya kalau mereka berhak menuntut atas penganiayaan itu. Tapi Chief mereka tak mau, karena hal itu akan menghancurkan satuan mereka. “Apa kau mau aku memecat semua bawahan untukmu?!  Batalkan tuntutan itu. Hentikan sekarang sebelum menjadi besar nantinya.”


Maka Chief Yoo menyuruh mereka menarik tuntutan itu karena tak ada jalan lain. Detektif Seo pun bertanya tentang kelanjutan kasus pemerkosaan itu. Mereka sudah membujuk korban yang mulanya menolak untuk maju namun akhirnya bersedia setelah mereka berjanji akan membawa pelaku ke meja hijau.

Chief Yoo tak menjawab, begitu pula Detektif Kang. Tapi begitulah yang terjadi. Tuntutan ditarik dan kasus itu pun ditutup.Detektif Seo tak percaya saat mengetahui Detektif Kang telah menutup kasus itu, padahal sebelumnya mereka telah berjanji akan melindungi gadis itu apapun yang terjadi.


Mereka pun menemui ibu korban yang menangis karena penderitaan putrinya semakin bertambah karena mereka menyerah dan tak menepati janji mereka yang akan menjebloskan pelaku ke penjara.

Detektif Seo hanya bisa berlutut dan berkali-kali minta maaf. Termakan rasa bersalah, Detektif Seo mengajukan surat pengunduran diri.

Keesokan harinya, Detektif Kang shock melihat jasad rekannya tergeletak di jalan, bunuh diri dengan terjun dari gedung. Di depan makam Detektif Seo, Detektif Kang bertanya tentang ketidakadilan yangmereka alami. Kenapa polisi tak punya kekuatan penuh dan  harus meminta  persetujuan jaksa untuk mengeluarkan surat penangkapan?


Detektif Kang meminta Chief Yoo untuk menjadi lebih kuat, “Untuk membela korban yang lemah, kumohon jadilah lebih kuat dan berikan otoritas penuh bagi polisi untuk investigasi. Saya yakin Anda mampu melakukannya. Saya akan melakukan apapun untuk membantu.”

Chief Yoo diam dan nampak sedih. Sambil menggengam pin nama temannya, Detektif Kang meminta Chief Yoo untuk memanggilnya Detektif seo mulai sekarang, agar ia bisa membasuh rasa malu dan rasa bersalah yang ia rasakan pada Detektif Seo.


Dan begitulah. Bagi Chief Kang, sejak hari itu hanya ada satu tujuan dalam hidupnya yaitu meloloskan hak penuh bagi polisi untuk melakukan investigasi. “Dan yang kutahu sekarang adalah impianku selama 27 tahun ini akan tercapai. Sebentar lagi dewan agar bersidang untuk membicarakan UU ini. Setelah semuanya selesai, aku akan menguak semuanya.”

“Bagaimana jika tak tercapai?” tanya Pan Seok. “Kasus ini sudah hampir 11 tahun.”

Chief Kang membenarkan. Kesabarannya selama 11 tahun ini hampir saja kandas. Tapi ia tak akan membiarkan. Pan Seok tak akan memperoleh apapun bahkan jika Pan Seok menjebloskannya ke penjara dengan dasar kesaksiannya. Ia akan menggunakan hak diamnya dan Pan Seok benar-benar tak memiliki bukti   

Pan Seok menatap Chief Kang penuh rasa kecewa dan terluka. Ia bertanya apakah ini sosok Chief Kang yang sebenarnya? Banyak emosi yang tersimpan di diri Chief Kang, tapi ia menguatkan diri dan malah menanyakan dimanakah kalung itu sekarang.


Dae Gu dan Tae Il bersiap-siap untuk menemui ahli perhiasan. Di depan, ada seorang pria yang menunggu Dae Gu. Anak Nyonya Yoo, Ki Jae, sekarang sedang berselfie dengan resepsionis. Tapi begitu ia melihat Dae Gu, ia langsung berseru girang, “Hei, cowok keren!”. Ia bahkan memberi hormat penuh pada Tae Il yang berpapasan dengannya.

Ki Jae langsung sok akrab dan mengajak Dae Gu makan siang bersama. Tapi melihat reaksi negative Dae Gu, Ki Jae langsung mengira kalau Dae Gu tak menyukainya karena ia adalah anak dari Nyonya Yoo. Lucunya, Ki Jae malah mengaca di handphone dan bergumam, “Padahal aku tak mirip dengannya, loh.”

Ki Jae kembali mengajak Dae Gu makan, tapi Dae Gu tak mau. Ki Jae pun berkata harusnya Dae Gu mentraktirnya makan karena ia telah memberitahukan lokasi vilanya. Melihat ekspresi Dae Gu, Ki Jae langsung berkata kalau ia memberitahukan vilanya bukan karena berhasil dipancing, tapi karena ia tak ingin ibunya membuat masalah lebih besar lagi.


Dae Gu masih diam melihat keantikan Ki Jae. Ki Jae pun ngambek dan mengomel sendiri, “Kupikir kau ini beda, tapi ternyata sama saja dengan yang lainnya! Bosen, ah! Aku pergi saja.” Dae Gu mencoba memanggil Ki Jae, tapi Ki Jae malah berseru, “Dan kau sudah bukan cowok keren lagi! Nggak sama sekali!”


Pencarian orang yang bisa meniru bandul kalung itu menemui jalan buntu. Semua ahli mengatakan tak mampu melakukannya. Di tengah jalan, Dae Gu teringat kalau ia meninggalkan handphone di  tempat terakhir. Ia pun pergi untuk mengambil handphonenya dan menyuruh Tae Il untuk pergi dulu. Tak lupa ia menyerahkan bandul itu untuk disimpan Tae Il.


Tae Il tak menyadari kalau ada orang yang mengintainya. Mengintai kalung itu tepatnya. Sebelum Tae Il sempat masuk ke dalam mobil, mereka menarik dan mengeroyoknya. Tae Il mencoba mempertahankan kalung itu sekuat tenaga, tapi ia kalah. Kalung itu berhasil direbut, sementara Tae Il sudah babak belur dipukuli.

Kalung berhasil direbut, mereka pun meninggalkan Tae Il. Tapi Tae Il berhasil mengejar dan mencoba merebut kalung itu kembali. Salah satu dari mereka berhasil menangkap Tae Il dan satunya mengeluarkan belati dan menusuknya.


Tae Il tersungkur ke tanah, tapi ia masih berusaha dengan menahan kaki si penusuk. Hanya dengan sekali sentak, orang itu berhasil melepaskan kakinya dan mereka kabur dari TKP.


Dae Gu akhirnya kembali dan panik saat melihat Tae Il terkapar berlumuran darah di tanah. Tae Il langsung  memberitahu kalau kalung itu berhasil dirampas dan masih ada waktu bagi Dae Gu untuk merebut kembali. Tapi Dae Gu menyuruhnya untuk melupakan kalung itu dan ia melepas jaketnya untuk mencegah darah keluar lebih banyak. Ia berteriak meminta bantuan.

Tae Il dibawa dengan ambulans dengan Dae Gu terus menemaninya. Ia masih sempat tersenyum kecil mendengar ucapan Dae Gu untuk menguatkannya.


Dae Gu menunggui operasi Tae Il. Timnya muncul dan Dae Gu mengatakan kalau ia baik-baik saja. Dan semua itu karena kalung yang sedang dipegang Tae Il, membuat Tae Il ditusuk oleh orang yang merampas kalung. Ji Gook lemas mendengarnya, khawatir akan kondisi temannya.

Eung Do menyuruh Dae Gu untuk duduk, tapi Dae Gu tak mau. Ia tahu siapa dalang dibalik penuskan ini. Yaitu Nyonya Yoo. Dan ia akan pergi untuk menemuinya.


Soo Sun mengejar Dae Gu yang sudah meninggalkan rumah sakit. Ia menahan Dae Gu, tapi Dae Gu tak mau. Ia akan menyelesaikannya sekarang juga. Soo Sun mencoba menyabarkannya, karena hal ini tak akan bisa dipecahkan sekarang.


“Jadi kapan?!” Dae Gu meluap, matanya berkaca-kaca. “Kapan hal ini akan terselesaikan? Haruskan aku terus menahan diri seperti idiot?! Park Tae Il ditusuk karenaku. Jika sesuatu terjadi, harusnya itu terjadi padaku!”


Dae Gu menyuruh Soo Sun pergi, tapi Soo Sun malah memeluk Dae Gu, mencegahnya pergi. Dae Gu mencoba melepaska diri, tapi Soo Sun semakin mempererat pelukannya, “Ini semua bukan salahmu. Siapapun itu, apapun bukti yang dimiliki, Tae Il akan tetap melakukannya. Karena ia adalah detektif. Karena ini adalah pekerjaan kita.”


Dae Gu mengepalkan tangannya. Tapi ia tetap mendengarkan Soo Sun yang terus berkata kalau ini semua bukanlah kesalahannya, “Tahan amarahmu. Tahanlah sampai kita dapat membawanya ke pengadilan.” Soo Sun terus memeluk Dae Gu dan menepuk-nepuk punggungnya.


Perampas itu menemui Nyonya Yoo dan menyerahkan kalung itu. Nyonya Yoo teringat kejadian 11 tahun yang lalu sebelum kalung itu jatuh. Saat itu ia masuk ke rumah ibu Ji Yong. Ibu Ji Yong terkejut melihat kedatangannya, tapi ia hanya diam saja saat Nyonya Yoo menerobos masuk ke kamar tidurnya, seakan mencari sesuatu.


Kita tak mengetahui secara utuh, tapi yang kita lihat adalah Nyonya Yoo mengambil vas dan memukulkan ke belakang kepala ibu Ji Yong yang hendak pergi dari kamar hingga bersimbah darah.  Nyonya Yoo terkejut menyadari tindakannya. Ia menjatuhkan vas itu dan buru-buru pergi dari rumah, tak menyadari kalau kalungnya terjatuh.


Dan sekarang kalung itu kembali ke genggamannya lagi. Nyonya Yoo tersenyum puas.


Di depan rumah sakit, Soo Sun masih tetap memeluk Dae Gu yang menangis

Komentar :

Selama  ini saya mengira kalau kematian ibu Dae Gu akibat ibu Dae Gu menjadi saksi  pembunuhan seorang gadis di Masan. Sedangkan Hyung Chul dan Senator Yoo mempunyai hubungan dengan pelaku kasus tersebut. Ternyata tidak.

Ibu Dae Gu secara kebetulan menjadi saksi sebuah kasus. Ia menerima terror dari Woo Joon Soo dan bosnya, agar mengurungkan niatnya untuk bersaksi.

Di saat yang bersamaan, Ibu Dae Gu memiliki masalah pribadi dengan Nyonya Yoo, dan pastinya bukan masalah tas KW. Mendekati hari ibu Dae Gu untuk bersaksi, terror dari Woo Joon Soo semakin intens. Dan kebetulan pada hari itu, Nyonya Yoo datang dan membunuh ibu Dae Gu. Nyonya Yoo menjatuhkan kalungnya.

Sadar kalungnya hilang, ia minta tolong ayahnya untuk mengambil kalung itu. Senator Yoo menyuruh Chief Kang untuk membantu anaknya, karena jika anaknya ketahuan membunuh, karir senatornya akan hancur dan UU kebebasan polisi yang diingikan Chief Kang akan gagal.

Chief Kang menyuruh Hyung Chul untuk mencari kalung itu. Mereka tak menyangka kalau kalung itu dipungut oleh Dae Gu. Saat Dae Gu bersembunyi, ia mendengar Hyung Chul menelepon Detektif Seo, nama yang kebetulan merupakan panggilan Pan Seok. Dae Gu yang selama ini melihat Pan Seok membujuk ibunya, mengira Hyung Chul bekerja sama dengan Pan Seok untuk membunuh. Karena itulah ia menyimpan dendam pada Seo Pan Seok.

Dengan dua kasus yang berbeda, membuat Dae Gu maupun Pan Seok tak menemukan titik temu dalam kasus ini sampai kapanpun. Tapi semuanya mengikat menjadi satu saat kalung itu muncul.

Woo Joon Soo, salah satu anak buah tersangka  pembuhan gadis Masan, adalah saksi kunci pembunuhan ibu Dae Gu.

Mungkin sudah banyak yang menebak kalau Ki Jae dan Dae Gu saudara tiri. Melihat usia Dae Gu yang lebih tua, yang berarti ibu Dae Gu bukanlah wanita simpanan, lebih kepada pacar atau mantan istri. Rasanya lucu juga melihat Ki Jae, walaupun di balik sikap acuh-acuh bodohnya, sepertinya ia lebih pintar dari penampilannya.

Atau jangan-jangan ia sudah tahu tentang siapa Dae Gu sebenarnya?

Mau ngomong tentang Chief Kang, tapi entar aja deh.. 

19 comments :

  1. Yeay mba dee is back...
    Welcome back mba dee....

    ReplyDelete
  2. Penasaran bangeeeettt episode selanjutnya..

    ReplyDelete
  3. Makin seru, komen mba dee khas bgd dh, TOP markotop,.
    Pengakuan cinta k2'y bikin lega, jd saat daegu down soo sun bz ngademin.. *sweet*

    ReplyDelete
  4. akhirnya sinopsis episode muncul:) terima kasih mbak.
    semangat untuk sinopsis selanjutnya :)

    ReplyDelete
  5. Yeyy akhirnya mba dee nulis lagii, makasih mba

    ReplyDelete
  6. Oh.... gitu ya mbak, jadi mengerti masalahnya, thanks sinopsis & komennya

    ReplyDelete
  7. Wahhh mbak, saya ga kepikiran sampai sana loh..
    tapi benar juga komennya mbak... :D

    ReplyDelete
  8. yeaayyy akhirnya baca tulisan mba Dee lagi.
    Tae Ill masih selamat kan? jadi takut.
    aku kira Dae Gu ngambek gegara liontin, eh nyatanya gara2 Soo Sun 'nolak' dia. lucu ah itu bocah dua.
    gimana donk nasib kasus ibu Ji Young kalo kalungnya raib? can't wait..

    ReplyDelete
  9. Keren komenny,langsung ngeringkas ep2 yg ud lewat
    Ak cm mau komen ttg detektif seo yg meninggal,menurutku sih dia terlalu mudah nyerah seharusny dia berpikiran spt cief kang yg akan terus melangkah mencapai posisi atas jd bs ngerubah peraturan yg ad
    Tp ga stuju jg sih sm carany cief kang yg kyk gini,walopun niatny baik
    Welcome back mb dee,ttp semangat nulisny :D

    ReplyDelete
  10. alhamdulillah, mbak dee muncul lagi..
    makasih ya mbak sinopnya...
    *hugmbakdee*

    ReplyDelete
  11. mba dee, makasih sinopsisnya..
    gak tau mau komen apa, tapi yang pasti deg2an sm kondisi ny Tae Il..
    akhirnya Noona & Dongsaeng mengaku tentang perasaan mereka masing2..
    mba dee semangat terus buat sinopsis2 selanjutnya..
    :D

    ReplyDelete
  12. hah uri Tae Il kesiaaan sekaliii. smga gak ada cerita Tae il mendadak meninggal-_- dae gu dae gu inget yoona bang:3 thanks sinopsisnya sukses trus kakak ;)

    ReplyDelete
  13. Taeil-ah... Cepet sembuh, nak. Kalau gak ada kamu siapa yang ngerawat dan mengobati rekan-rekanmu *halah* Kalau gak ada kmau siapa yang jadi penengah dan pencerah dalam tim *maksud pencerah di sini karena kulitnya LOL*
    Daegu daegu, kasian Jigook. Kalau dia lewat terus liat kalian gimana? Sabar ya buat Tae-Gook. Cinta bertepuk sebelah tangan waks ._.
    Kijae! Durhaka lho nanti ._.

    Entah kenapa saya jadi penasaran sama kakaknya Taeil ._.

    ReplyDelete
  14. Liat mukanya nyonya bikin batal puasa alias bikin emosi >_<.....sedikit demi sedikit kasusnya ibu nya dae gu makin jelas..makasih mba dee :)

    ReplyDelete
  15. Thank's a lot mba dee sinop + pnjelasan di komennya
    Untung si kijae gak jahat kayak ibunya ya, mgkn dia udh bosen liat ibunya buat masalah mulu
    Oiya drma ini cmn sampe epsd 20 kah?

    ReplyDelete
  16. thanks sob untuk postingannya...
    article yang menarik,saya tunggu article berikutnya yach.hehe..
    maju terus dan sukses selalu...
    salam kenal yach...
    kunjungi blog saya ya sob,banyak tuh article2 yang seru buat dibaca..
    http://chaniaj.blogspot.com/ dan situs kesayangan kami http://oliviaclub.com
    serta sites.google kebanggaan kami https://sites.google.com/site/pokeronlineterpopuler/

    ReplyDelete