June 5, 2014

You're All Surrounded Episode 6

You’re All Surrounded Episode 6 – Laut di Laci Usangku      


Eun Do bersama P4 menemui Pan Seok untuk menunjukkan surat penahanan Kim Shin Myung yang berhasil mereka dapatkan. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan Kim Shin Myung yang baru saja akan keluar dengan mobilnya.


Soo Sun langsung menunjukkan surat keramat itu dan dengan telunjuknya, ia menyuruh Kim Shin Myung untuk keluar. Dae Gu yang tak sabar, langsung membuka pintu dan menarik Kyung Min keluar. Ia langsung memborgol dan menahannya.

Kim Shin Myung hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Dae Gu, seakan tak takut akan hukuman yang menanti. Supir Kim Shin Myung tak bisa berbuat apa-apa selain melihat tuannya digiring Dae Gu, masuk ke mobil polisi.


P3 langsung saling toss, meluapkan kegembiraan karena suksesnya tugas mereka kali ini. Tak lupa mereka toss pada Eun Do. Hampir saja mereka juga melakukan toss pada ketua tim mereka, tapi mereka sadar diri dan hanya mengangguk patuh untuk kemudian berlari riang mengikuti Dae Gu.

Eun Do juga hampir toss pada temannya itu, tapi tak jadi. Ia hanya nyengir gembira dan Pan Seok membalasnya dengan tepukan pujian di punggung Eun Do.


Malamnya, Dae Gu menemui seseorang, sepertinya detektif swasta. Ia menyodorkan foto seorang pria (yang dulu pernah mengancam almarhum ibunya di malam hari) dan meminta detektif itu untuk melacak jejak pria itu.

Dae Gu mengaku kalau pria itu tak mudah dilacak keberadaannya karena pria itu menghilang selama 6 tahun terakhir. Ia sudah berganti agen detektif yang berbeda-beda tapi tetap tak ada kemajuan. Detektif itu berjanji untuk mencoba mencarinya.


Pan Seok menunggui kedantangan Sa Kyung di depan gedung apartemen. Sa Kyung yang mengetahui berita penahanan Kim Shin Myung, memuji kerja Pan Seok. Tapi kedatangan Pan Seok tak hanya untuk kasus Kim Shin Myung. “Apakah kau sudah makan? Kalau belum, maukan kau makan malam bersama?”

Sa Kyung menjawab singkat kalau ia sedang tak ingin. Namun beberapa saat kemudian, ia balik bertanya, “Bagaimana kalau minum saja?”

Saat itu juga, Pan Seok terlihat sumringah.


Setelah duduk berdua, Pan Seok bertanya. Mengapa Sa Kyung bersedia ditugaskan di sektor Gangnam, padahal Sa Kyung tentu tahu kalau ia bertugas di sana. Sa Kyung membalik pertanyaan itu pada Pan Seok, yang dijawab Pan Seok benar-benar tak tahu. “Sejak pertama kita bertemu, aku tak dapat memahamimu.  Alangkah senangnya jika aku bisa mengerti dirimu.”

Diam-diam Sa Kyung menatap Pan Seok yang termenung. Tak ingin memperpanjang percakapan ini, ia pun berkata, “Hari ini.. ada baiknya kalau kita hanya minum-minum saja.”


Pulangnya, Pan Seok mencoba mencegat taksi kosong, tapi tak ada satupun yang berhenti. Sa Kyung perlahan mendekati Pan Seok dan meletakkan kepala di dadanya. Dan menangis. “Joon woo. Aku sangat kangen padanya.”


Pan Seok terpana, merasakan badan Sa Kyung yang bergetar karena menangis tersedu-sedu. Matanya berkaca-kaca mendengar hal itu. Perlahan, tangannya terangkat dan ia menepuk-nepuk punggung Sa Kyung, menenangkannya.


Malam itu Pan Seok dan Dae Gu sama-sama tak dapat tidur walau sudah berbaring di tempat tidur masing-masing. Akhirnya keduanya sama-sama bangun. Aktivitas yangmereka lakukan beda. Dae Gu makan ramen instan, sedangkan Pan Seok mencuci baju. Tapi keduanya sama-sama minum obat (tidur? Vitamin?) setelahnya.


Pan Seok menyetel video, dan muncul wajah Joon Woo di televisi yang dengan bersemangat berkata, “Ayahku paling pemberani di seluruh dunia dan ia memukuli orang-orang jahat!” Joon Woo mengarahkan robot ke kamera dan mulai menembak. Pan Seok tersenyum melihat Joon Woo cemberut, “Ayah. Aku sedang menembak. Ayah seharusnya mati!”


Sangat mengharukan melihat Pan Seok tersenyum pada kenangan putranya yang telah meninggal. Tapi lebih menyedihkan melihat Dae Gu tidur dengan menonton saluran tv anak yang terus menerus menampilkan kartun. Karena acara kartun itu sepertinya adalah cara Dae Gu agar bisa terlelap.


Saat terlelap, Dae Gu bermimpi didatangi pria bersepatu boot yang mengejarnya. Mimpinya adalah pengulangan saat ia dikejar-kejar pria itu di dalam sekolah, namun berlanjut dengan dia dewasa yang dikejar-kejar hingga lorong-lorong gelap di kota. Hingga ia terjebak di jalan buntu dan pria itu menyerangnya.


Dae Gu terbangun, terengah-engah dan keringat dingin mengucur deras di wajahnya. Tanpa disadari tangannya mengepal dengan kuku mencengkeram telapak tangannya sendiri hingga berdarah.


Keesokan harinya, Pan Seok bergegas ke penjara. Eun Do mengabarkan kalau Kim Shin Myung telah bebas dan pelaku sebenarnya sudah tertangkap. Dan di sana, ia melihat siapa pelakunya.


Supir Kim Shin Myung.


Melihat wajah supir itu yang tak berani menatap wajahnya, Pan Seok menyadari apa yang terjadi. Ia segera pergi ke kantor kejaksaan dan tanpa ba bi bu langsung mencengkeram jas Penuntut Han.

Ia marah karena Kim Shin Myung dilepaskan begitu saja dan Lee Young Gu (supir) menjadi pelakunya.”Walau kau tak pernah menganggap hukum itu adil, tapi setidaknya kau harus punya akal sehat! Seorang anak mati, dan dia bahkan belum berumur 7 tahun.”

Penuntut Han gelagapan diserang seperti itu. Dengan nada manis, ia membujuk Pan Seok untuk melepaskannya dan mereka bisa bicara baik-baik. Eung Do juga mencoba menyabarkan Pan Seok. Akhirnya Pan Seok pun melepaskannya.


Tapi begitu Pan Seok melepaskan, Penuntut Han langsung memukulnya. Ia tak peduli korban itu adalah seorang anak ataupun dewasa. “Yang mati itu tidaklah penting. Yang penting adalah siapa pembunuhnya.”


Diprovokasi seperti itu, Pan Seok langsung memukul Penuntut Han hingga terjatuh membentur dinding. Mulanya Pan Seok mengira Penuntut Han pura-pura pingsan. Tapi saat melihat darah mengucur di dahinya, ia langsung sadar pada apa yang baru saja ia lakukan.


Penuntut Han langsung dibawa ke UGD, dan lukanya sudah dijahit, tapi ia masih belum sadar. Menurut dokter, Penuntut Han bisa siuman sekitar 2 – 3 jam. Tapi belum selesai mereka bicara, Penuntut Han siuman.

Oh.. saya harap dengan terbentur di dinding Penuntut Han kena amnesia dan menjadi orang baik. Atau ia melihat Pan Seok dan menganggap kalau Pan Seok adalah saudaranya yang pernah tertukar saat bayi.


Tapi tidak. Ia membentak Eung Do yang membantunya bangun dan bertanya pada dokter, berapa jahitan yang ia dapat. Ia terbelalak mendengar jawaban 17 jahitan dan meminta rekam medisnya. Ia memastikan akan menjebloskan Pan Seok ke penjara.


Pan Seok tak peduli akan hal itu. Yang ia pedulikan adalah menangkap Kim Shin Myung dan menjebloskannya juga. Tapi Penuntut Han tak hanya melakukan itu pada Pan Seok. Ia juga akan membuat Pan Seok dipecat.


Pan Seok mulanya tertawa meremehkan, tapi mendengar Penuntut Han menyuruh anak buahnya untuk membuat surat dakwaan dan memanggil wartawan, saat itu juga wajah Pan Seok pucat pasi.


Atas saran dari S, Dae Gu pergi ke panti asuhan. Si Sepatu Boots muncul kembali dan mungkin akan mencarinya lagi, maka ia ingin memberitahu pemimpin panti asuhan.

Kembali ke panti, ia teringat bagaimana ia bisa terdampar di panti asuhan itu. Sebelumnya, ia sudah ke beberapa panti asuhan dan mengaku hilang ingatan. Namun semuanya tak langsung menerimanya, tapi mengajaknya ke kantor polisi lebih dulu karena mungkin ada orang atau kerabat yang mencarinya.


Hingga ia ke panti asuhan itu. Pada direktur panti, Dae Gu mengaku lupa akan semua identitasnya. “Bolehkah Ibu membiarkan saya tinggal di sini?” Ibu Direktur langsung meletakkan bolpennya dan bertanya apakah Dae Gu sudah makan. Dae Gu menjawab belum dan tanpa bertanya lebih jauh lagi, Ibu Direktur mengajaknya makan.


Dae Gu menatap panti asuhan tempatnya bernaung dengan rasa haru. Lorong panti ini yang dulu pertama kali dilihatnya. Sekarang, melihat lorong panti ini, berbagai kenangan manis muncul di benaknya. Dan mendengar namanya dipanggil, Dae Gu menoleh dengan tatapan bahagia, “Ibu Direktur!”


Dae Gu minta maaf karena jarang berkunjung, tapi menurut Ibu Direktur keberadaannya sudah membuat semangat anak-anak di panti menjadi tinggi. Dae Gu adalah idola anak-anak itu. Dae Gu menceritakan maksud kedatangannya.

Ia mengeluarkan foto pria (yang sama yang ia berikan pada detketif swasta). Mungkin pria itu atau pria lainnya akan datang ke panti. Ia minta pada Ibu Direktur agar tak memberitahukan tentang kedatangannya di panti 11 tahun yang lalu.

Ibu Direktur mengatakan kalau bukan pria di foto ini yang datang menemuinya, tapi pria lain yang mengaku sebagai polisi dan mencari tahu foto remaja Dae Gu. “Belum juga 10 menit, ia tadi kemari. Ia mungkin masih ada di sini.”


Dae Gu tersentak mendengarnya. Ia segera keluar dan mencari pria yang tak berbeda dengan sukarelawan di panti. Dan ia melihat seorang pria bertopi. Ia segera engejar pria itu dan menariknya. Pria itu memiliki bekas luka merah di pipi. Dae Gu diam, menunggu orang itu bicara.


Orang itu heran tapi juga marah karena tindakan Dae Gu ini. Ia menghardik Dae Gu yang tak sopan. Mendengar suaranya, Dae Gu menyadari kalau ia salah orang. Ia segera minta maaf dan mencari-cari pria yang memiliki luka bakar itu.


Dae Gu tak menyadari kalau ia diawasi seseorang dari kejauhan. Si sepatu boot yang memiliki luka bakar di leher. Pria itu tersenyum. “Bingo. Jadi kau adalah Ji Yong. Atau apa sekarang menjadi Eun Dae Gu?”

Dae Gu semakin bingung saat Ibu Direktur memberitahu kalau pria yang datang itu tak memiliki luka bakar di wajah. Ia melapur pada S, kalau ia terlambat karena orang itu telah pergi ke panti. Berpura-pura sebagai polisi, orang itu berhasil mendapatkan informasi pribadinya dari Ibu Direktur.


Yang membingungkan dirinya adalah tak adanya bekas luka bakar di wajah. Ia menyimpulkan kalau cairan yang ia semprotkan dulu bukanlah cairan asam sulfat atau pria itu melakukan operasi plastik. Sampai sekarang ia masih penasaran, apakah pria itu masih ingin tetap membunuhnya hingga sekarang?


Di halaman kantor, Dae Gu tenggelam dalam pikirannya. Tapi ia masih bisa merasakan seseorang mengendap-endap di belakangnya. Ia segera melumpuhkan orang itu dengan mendorongnya ke vending machine.


Ternyata orang itu adalah Soo Sun yang ingin bercanda, menakut-nakutinya. Dae Gu marah, membuat Soo Sun heran. Bukankah seharusnya ia yang marah karena disekap seperti itu? Soo Sun mengejar Dae Gu. Namum ada sesuatu yang janggal di depan gedung. Banyak orang berkerumun seperti menunggu sesuatu. Apa terjadi sesuatu?


Jawabannya adalah kabar tentang dibebaskannya Kim Shin Myung karena supirnya –Lee Yong Gu-  telah mengaku. Soo Sun dan Dae Gu tak percaya mendengar perkembangan ini. Itu berarti segala usaha mereka sebelumnnya adalah sia-sia.


Tapi ada berita yang lebih mencengangkan lagi. Tae Il memutar laptop agar bisa dibaca Dae Gu dan Soo Sun. Berita pemukulan Penuntut Han rupanya sudah menyebar luas, dengan kesinisan pada polisi. Juga ada berita tentang kemungkinan kasus ini bisa menihilkan usaha untuk menggolkan UU Kebebasan Polisi dalam Penyelidikan di Senat.


Chief Kang mengadakan rapat mendadak. Ia marah besar pada Pan Seok. Apakah Pan Seok sebenarnya orang yang seperti itu, orang yang tak bisa mengendalikan emosinya? Chief Kang berkata kalau sekarang semua pihak sedang berusaha keras untuk mencapai tujuan utama mereka yaitu kebebasan polisi dalam penyelidikan. “Tapi dengan tindakan sembronomu, kita mungkin akan kehilangan suara untuk UU itu lagi! Di saat kita membutuhkan dukungan masyarakat untuk itu, bagaimana mungkin kau memukul jaksa penutut yang sedang bertugas?”


Pan Seok tak bisa berkata apa-apa lagi selain meminta maaf berulang kali. Chief Cha langsung menyambar, “Kenapa kau tiba-tiba menjadi beo? Apa kau tak punya kata-kata lain selain ‘Aku minta maaf’?”


Salah satu detektif masuk, dan ia sedikit enggan saat memberitahu kalau surat penahanan untuk Pan Seok sudah keluar. Chief Kang tak bisa berbuat apa-apa lagi karena surat resmi sudah muncul. Pan Seok harus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan. Ia menyuruh Chief Cha untuk membebastugaskan anggota tim Pan Seok dari semua kasus dan siaga di tempat masing-masing. Kasus tabrak lari Kim Min Joon juga diserahkan ke tim yang lain.

Pan Seok masih bersikeras, mengatakan kalau Lee Yong Gu bukan pelakunya. Chief Kang menggebrak meja, marah. “Apa kau masih belum paham apa yang terjadi? Belum sadar pada apa yang baru saja kau lakukan?!”


Semua menunduk lesu. Sepertinya hanya Chief Cha yang senang dengan keadaan ini dan mengambil kesempatan untuk berceramah pada Pan Seok, “Pernahkah kau mendengar peribahasa ini? Kesialan yang kau alami ini akibat kau menghabiskan waktu dengan cara yang salah. Mulai sekarang, gunakan waktu yang kau miliki untuk instrospeksi diri.”


Sa Kyung dan Chief Kang tak senang mendengar ucapan itu, tapi mereka tak bisa berbuat apapun karena memang Pan Seok bersalah dalam kejadian ini.


P4 melihat Pan Seok ditahan dan ingin ikut mengantar. Tapi Chief Cha memanggil mereka untuk serah terima tugas dengan tim lain. Dengan enggan, mereka mengikuti Chief Cha.


Pan Seok menyerahkan semua barang bawaannya sebelum masuk sel. Eung Do meminta Pan Seok untuk istirahat saja. Ia akan menemui Penuntut Han dan membujuknya. Pan Seok melarangnya, tahu pasti usaha Eung Do akan sia-sia.


Tapi Eung Do tetap akan mencobanya. Ia tahu Chief Kang sudah cuci tangan akan kasus Pan Seok karena sudah menyentuh hal yang sensitif (UU Kebebasan Penyelidikan). Ia dapat memahami posisi Chief Kang, tapi ia juga merasa sedih. Pan Seok minta Eung Do untuk menenangkan P4 dulu. Ia merasa kejadian ini pasti membuat anak-anak itu down, apalagi dengan Kim Shin Myung dibebaskan.


Mereka tak tahu kalau Dae Gu mengikuti mereka ke penjara. Handphone duplikatnya berbunyi da ternyata si Boots menelepon. Dia menoleh pada Pan Seok, mencoba mengirim telepati pada Pan Seok, “Apa yang sedang kau lakukan Seo Pan Seok, ketika si Boots akhirnya menelepon?”

Tentu saja telepati itu tak sampai. Pan Seok dan Eung Do malah asyik berbicang-bincang santai dan tertawa-tawa, layaknya saudara.


P3 membereskan seluruh dokumen kasus yang mereka tangani dengan malas-malasan. Chief Cha tak sabar dan membentak mereka. Akhirnya semua siap. Tae Il dan Ji Gook menyerahkan setumpuk kertas pada ketua tim 1. 


Sedangkan Chief Cha mengambil dokumen dari tangan Soo Sun. Tapi Soo Sun enggan menyerahkan dan mereka sempat tarik-tarikan. Setelah dipelototi Chief Cha, Soo Sun pun mengalah.

Dae Gu kembali ke meja, dan masih sempat mendengar Chief Cha membebastugaskan mereka dari semua kasus dan siaga menunggu hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.


Makan gaji buta, dong? Tentu saja tidak, karena Chief Cha melanjutkan dengan menyalak, “Siaga menunggu itu bukan duduk ongkang-ongkang kaki. Kalian harus membantu tim lainnya. Mengerti?!!”


Eung Do muncul dan mengajak mereka makan. Tapi P4 duduk terpekur. Terlihat sekali betapa terpukulnya mereka akan perkembangan kasus yang diluar dugaan. Soo Sun bertanya apa yang akan terjadi pada Pan Seok nanti. Ji Gook pun juga penasaran. Ia bertanya kebenaran dugaan ketua tim 1 yang mengatakan kalau  Pan Seok mungkin akan dipecat.

Eung Do meminta mereka tak kecil hati karena masih ada kemungkinan Penuntut Han akan merubah pikirannya. Soo Sun merasa semua hal ini tak masuk akal. Kim Shin Myung bebas dan sekarang bos mereka dipenjara.


Dae Gu yang langsung membantah. Apanya yang tak masuk akal? Pan Seok benar-benar terbukti melakukan kekerasan. Soo Sun memotong, “Kan hal itu hanya terjadi satu kali.”

“Sekali atau dua kali, pukulannya itu membuat orang terluka. Dan itu adalah tindak kekerasan dan bisa dipidanakan menurut undang-undang. Dan sebagai ketua tim, tak ada alasan apapun ia melakukan itu,” tandas Dae Gu.


Kali ini Tae Il sependapat dengan Dae Gu. Jika Pan Seok benar-benar menganggap kelompok timnya, Pan Seok harusnya bisa menahan diri, karena hal itu bisa merusak kekompakan tim. Ji Gook dan Soo Sun ingin membantah pernyataan itu, tapi Eung Do memotong sebelum terjadi debat yang tak perlu. Ia meminta mereka untuk tetap bersemangat membantu tim 1 untuk menyelesaikan kasus Kim Shin Myung.

Tapi Ji Gook sudah patah semangat. Untuk apa? Toh nanti Kim Shin Myung akan bebas lagi setelah mereka menangkapnya.

Eung Do merasa Ji Gook sekarang menjadi sinis, tak seperti biasanya. Soo Sun pun menambahkan. Walau ketua tim mereka sedang dipenjara, mereka tak akan membiarkan Kim Shin Myung berkeliaran di luar sana. Eung Do membenarkan pendapat yang Soo Sun banget.

“Tapi apa gunanya menangkapnya? Apakah hal itu akan mengubah dunia?” tanya Ji Gook. “Banyak orang jahat di dunia ini.”


“Tentu saja itu akan mengu..bah du..nia..” Soo Sun berhenti bicara, dan ia pun menyadari. “Dunia tak akan berubah..”

Kenyataan itu membuat P4 semakin terpukul. Eung Do yang tak bisa menjawab pun, akhirnya mengajak mereka untuk mulai makan.


Soo Sun pun mulai makan. Tapi percakapan itu mengusik Soo Sun karena ia tak dapat menjawab pertanyaan Ji Gook dengan pasti. Jika kita tak bisa mengubah dunia, kenapa kita lembur sepanjang malam menyelidiki, tanpa sempat pulang dan bahkan baru bisa sarapan jam 3 sore.


Chief Kang menemui Senator Yoo yang mengungkit kasus pemukulan Penuntut Han. Chief Kang meminta maaf akan hal itu dan ia telah minta si pelaku untuk bertanggung jawab. Dengan tersenyum Senator Yoo mengatakan  kalau dengan adanya kasus ini, akan susah mengesahkan rancangan UU Kebebasan Penyelidikan Polisi .

Chief Kang berjanji kalau kasus ini tak akan semakin besar, karena Penuntut Han sebenarnya penuh masalah, sehingga Penuntut Han sebenarnya juga tak akan mungkin membiarkan insiden ini membesar. Tapi dari cara Chief Kang duduk dan meremas-remas tangannya, ia nampak gugup.


Sa Kyung menemui Pan Seok. Ia meminta Pan Seok untuk tak terlalu kecewa dengan sikap Chief Kang. Tapi Pan Seok tak merasa kecewa, karena memang ia yang menyebabkan masalah. Ia malah merasa kalau Sa Kyung mungkin senang dengankondisinya sekarang karena hal yang paling dibenci Sa Kyung adalah profesi detektifnya.


Sa Kyung malah marah mendengar hal ini. “Apa kau tak punya otak? Jika kau benar-benar ingin keluar, harusnya kau keluar lebih awal! Sebelum kita mengantar kepergian Joon Woo seperti itu!!”

Menurutnya Pan Seok adalah ayah yang terburuk bagi Joon Woo, tapi ia mengakui kalau Pan Seok adalah detektif yang hebat. “Dunia ini akan lebih baik jika memiliki seorang detektif sepertimu. Jadi bagaimanapun caranya, keluarlah dari masalah ini dengan baik.” Sa Kyung menelan air matanya yang telah merebak. “Dan tentang Kim Shin Myung, kembalikan ia ke balik jeruji besi lagi.”


Pan Seok diam melihat kepergian Sa Kyung. Bertepatan dengan itu, ia melihat Lee Young Gu dibawa masuk ke dalam selnya lagi. Ia memanggil Young Gu dan bertanya apakah Young Gu mengingatnya? Tak berani menatap mata Pan Seok, Young Gu mengatakan tidak ingat.


Pasti ada alasan bagi Young Gu untuk mau dikambinghitamkan oleh Shin Myung. Ji Gook dan Tae Il pergi ke daerah kumuh untuk mencari rumah Young Gu. Mereka menemui seorang ahjumma yang menjadi tetangga Young Gu.

Ahjumma itu heran mendengar polisi mencari Young Gu, karena Young Gu sangat baik dan sangat sayang pada adik perempuannya. Karena itu ia merasa Young Gu pasti sangat sedih karena  adiknya sakit parah. “Tapi Young Goo berkata kalau adiknya itu akan segera dioperasi.”

Ji Gook dan Tae Il berpandangan, menyadari apa yang mungkin terjadi.


Penuntut Han yang keluar dari kamar rawat inapnya. Dae Gu yang sedari tadi mengawasinya, diam-diam masuk ke dalam kamar Penuntut Han dan sebentar kemudian langsung keluar lagi. Dan ia masuk ke dalam toilet.

Ternyata Dae Gu tadi masuk ke kamar untuk mengambil dompet Penuntut Han Di toilet,ia membaca nota-nota yang disimpan di dompet Penuntut Han. Wajahnya terlihat gembira saat membaca sebuah nota. Ia langsung menyimpan nota itu.


Tae Il menemui seorang gadis kecil. Adik Young Gu. Si adik terbangung saat Tae Il menyelimutinya dan mengira Tae Il adalah teman kakaknya. Tae Il membenarkan anggapan itu. Saat itu juga si adik langsung akrab dengan Tae Il. Ia tak khawatir dengat tidak pulangnya Young Gu. Pasti Young Gu baru saja ditolak cintanya “Kentara sekali. Setiap kakakku menghilang, alasannya pasti itu.”


Tae Il langsung menebak kalau si adik ini pasti dekat dengan kakaknya. Si adik membenarkan dan bertanya apakah Tae Il juga punya kakak? Tae Il sedikit ragu saat mengiyakan, dan tenggelan dalam pikrannya sendiri hingga melewati toilet. Untung si adik menyadarinya.


Saat si adik pergi ke toilet,terdengar panggilan kasus gawat darurat, membuat Tae Il memperhatikan para dokter yang  berlari menuju UGD. Beberapa dokter dan perawat lalu lalang membuat Tae  Il tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Tak sengaja ia bertemu dengan Dae Gu yang menitipkan sebuah amplop pada Pan Seok yang menurutnya bisa membantunya untuk keluar dari penjara.


Pan Seok termenung di penjara. Ia baru saja diberitahu tentang adik Young Gu yang sakit dan akan menerima cangkok jantung Jumat ini. Ia pun akhirnya memanggil Young Gu. Walau Young Gu tak menjawab, ia tetap bicara.

Saat pertemuan pertama di garasi mobil itu, ia tahu –dan Young Gu juga tahu- kalau Kim Shin Myung adalah pelakunya. Ia tak tahu alasan Young Gu mau menjadi tumbal untuk kejahatan Kim Shin Myung. “Tapi jika kau melakukannya untuk adikmu, jangan. Aku tahu karena dulu aku juga berpikiran sepertimu.”

Ia ingin menciptakan dunia yang baik bagi anaknya, sehingga ia sibuk bekerja. Semua itu untuk putranya, agar ia bisa menjadi ayah yang dikagumi putranya. “Tapi ayah paling baik sedunia adalah ayah yang  selalu ada di sisi putranya. Itu..,” Pan Seok tercekat saat mengakui, “.. baru saja aku sadari setelah kehilangan putraku.”


Young Gu yang dari tadi pura-pura tidur, membuka mata dan mendengarkan Pan Seok yang bermonolog. Pan Seok selalu berpikir kalau nanti ada hari lain bisa untuk menemani putranya. Tapi ternyata hal itu tak bisa ia lakukan bahkan saat putranya meninggal. 


“Bagi adikmu, saat ia membutuhkan kakaknya bukanlah nanti, tapi sekarang,” kata Pan Seok sambil berkaca-kaca.


Tae Il melapor pada Eung Do kalau Kim Shin Myung sekarang menuju bandara satu jam yang lalu. Eung Do panik dan menyuruh Tae Il untuk pergi ke rumah sakit untuk menjemput adik Young Gu.


Dae Gu menjadi polisi lalu lintas yang menilang seorang wanita. Saat diminta untuk menandatangani surat tilang, wanita itu memberi tanda tangan dengan kesal. Dae Gu membaca apa yang ditulis wanita itu. Bukannya memberi tanda tangan, tapi malah mengatainya baj**gan.

Dae Gu menahan sabar dan mencetak surat tilang itu. Ia menyerahkan surat itu dan berkata, “Anda boleh pergi, Nona Baj**ngan.”


Haha.. wanita itu keluar mobil dan marah-marah, mengejarnya yang berjalan santai menuju mobil polisinya. Tapi santainya itu segera berubah saat Soo Sun berteriak memberitahu kalau Kim Shin Myung akan mencoba melarikan diri keluar negeri. Mereka pun bergegas ke bandara.


Sementara Ji Gook mendapat tugas untuk menemui saksi yang baru saja muncul. Ia pergi ke perempatan lampu merah dan dengan toa, ia berseru mencari saksi tersebut. Sebuah kepala muncul dan melambai kepadanya. Saksi itu adalah tukang antar barang yang langsung mempersilakan Ji Gook untuk memeriksa blackbox-nya.


Eung Do memerintahkan Dae Gu dan Soo Sun untuk pergi ke bandara dan menangkap Kim Shin Myung, bagaimanapun caranya. Padahal setibanya mereka di bandara, terdengar panggilan boarding bagi para penumpang pesawat yang menuju New York, pesawat yang akan dinaiki Kim Shin Myung.


Tak ada waktu lagi, mereka harus menemukan Kim Shin Myung sekarang juga. Untungnya Dae Gu tak sengaja melihat Kim Shin Myung yang duduk-duduk di lounge di lantai dua. Mereka pun segera bergegas ke sana.


Tae Il menemui Pan Seok dan memberikan kertas yang tadi dititipkan Dae Gu kepadanya. Pan Seok tersenyum membaca isi kertas itu dan meminjam handphone Tae Il untuk menelepon Penutut Han.


Black box milik tukang pengantar barang itu ternyata memang merekam detik-detik saat Min Joon mengejar bola di pinggir jalan. Tapi saat mobil Kim Shin Myung akan menabraknya, kamera black box itu tiba-tiba rusak. Ji Gook panik karena black box itu rusak.


Young Gu yang diborgol dan akan masuk mobil polisi, kaget melihat adiknya memanggilnya. Ia tak tahan melihat tatapan kecewa adiknya yang bertanya apakah ia melakukan perbuatan yang jahat. Ia segera menyembunyikan tangannya dan meminta adiknya untuk segera kembali ke rumah sakit.


“Apa Oppa melakukan hal ini untuk aku? Jika kakak jadi orang jahat karenaku, lebih baik aku mati saja,” Hyun Mi menatap marah pada kakaknya. Hal itu membuat Young Gu panik dan memanggil-manggil adiknya yang masuk ke dalam mobil tanpa mau melihatnya lagi.

Pan Seok muncul dan mengawasi kejadian ini. Young Gu pun memanggilnya.


Dae Gu dan Soo Sun bingung karena menurut Ji Gook yang tak ada bukti kuat untuk menangkap Kim Shin Myung. Tapi Eung Do menyuruh agar Kim Shin Myung tak boleh lolos, bagaimanapun caranya.


Terdengar suara wanita memanggil Kim Shin Myung  yang keluar lounge, sepertinya pacarnya. Soo Sun segera bertindak cepat. Ia segera berlari menghambur ke pelukan Kim Shin Myung, mendahului wanita itu memeluknya.


Dae Gu mendelik melihat kejadian yang sangat cepat itu. Apalagi Kim Shin Myung, yang langsung dituduh selingkuh lagi oleh pacarnya. Soo Sun pun tak tanggung-tanggung. Ia memeluk pinggang Kim Shin Myung erat-erat, walau pria itu berusaha untuk melepaskannya dan membela diri tak mengenal Soo Sun.


Tapi gadis itu sudah keburu menampar Kim Shin Myung dan berbalik pergi. Kim Shin Myung pun memanggil bodyguardnya untuk melepaskan Soo Sun. Dae Gu pun turun tangan. Dengan membawa troli, ia menabrak Kim Shin Myung hingga Kim Shin Myung dan Soo Sun terduduk di trolinya. Ia pun kabur membawa ‘barang bawaannya’.


Young Gu menyerahkan sebuah flashdisc pada Pan Seok. “Sekarang belum terlambat, kan?” tanya Young Gu ragu. Pan Seok meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja dan ia memastikan kalau Young Gu bisa bebas saat operasi Hyun Mi dilakukan.


Dae Gu berlari dikejar para bodyguard Kim Shin Myung. Akhirnya bodyguard itu berhasil menghentikan mereka. Kim Shin Myung yang akhirnya ingat pada kedua polisi itu, tersenyum menang. “Kalian kepingin sekali untuk menangkapku, kan? Boleh. Coba, aku mau dengar. Atas dasar apa kau akan menahanku? Ha?”


Dae Gu dan Soo Sun diam, putus asa. Tapi terdengar suara dari belakang, “Aku yang akan menahanmu.” Eung Do muncul dan menunjukkan video yang ada di handphone-nya. Video saat ia mengaku pada Young Gu kalau ia menabrak seorang anak saat mabuk. Ii minta Young Gu untuk menggantikan dirinya dan sebagai imbalannya ia akan membiayai operasi adik Young Gu.


Kim Shin Myung kaget. Darimana Eung Do bisa mendapatkan video ini? Tapi Eung Do tak menjawab, malah menyuruh Dae Gu dan Soo Sun untuk menangkap Kim Shin Myung.


Soo Sun sangat gembira saat masuk kantor dan melihat Pan Seok sudah bebas. Tak mampu mengungkapkan rasa syukurnya dengan kata-kata, Soo Sun pun memeluk Pan Seok. Dae Gu mendelik melihatnya.


Haha.. tadi Kim Shin Myung, sekarang Pan Seok?

Pan Seok juga kaget, begitu pula dengan Sa Kyung yang seruangan dengan mereka. Eung Do tertawa melihat spontanitas yang Soo Sun banget. Sedangkan Pan Seok memandang Sa Kyung, sepertinya menunggu pujian darinya. Tapi tak ada reaksi apapun dari Sa Kyung. Ia malah memilih pergi.


Pan Seok mengalihkan perhatian pada anggota timnya. Ia memuji mereka. Bagaimana perasaan mereka menangkap Kim Shin Myung kembali? Ji Gook, Tae Il dan Soo Sun mengacungkan jempolnya. Enak banget! Pan Seok berkata, “Begitulah rasanya kesuksesan.”


Pan Seok dan Eung Do mengecap tangannya, diikuti oleh Tae Il dan Ji Gook yang menjilat jempolnya, mencoba merasakan kesuksesan di tangan mereka.


Dae Gu hanya diam saja. Bahkan saat Pan Seok memandangnya dan berkata, “Kalian sekarang benar-benar berhasil menjadi detektif baru.” Ia malah meninggalkan mereka dan masuk ke dalam ruangan.


Pan Seok ikut masuk ruangan dan dengan canggung berterima kasih atas amplop yang diberikan Dae Gu padanya. Kebebasannya ini berkat Dae Gu. Tapi Dae Gu membantah melakukan semua itu untuk Pan Seok. Ia hanya tak ingin timnya hancur. Bahkan sebenarnya ia sangat kecewa pada insiden pemukulan itu.


“Sebagai team leader yang menekankan pentingnya kekompakan, tindakan Anda tak patut. Apakah Anda adalah orang yang tidak konsisten antara ucapan dan tindakan? Hanya keras pada orang lain, tapi lunak pada diri sendiri?” tanya Dae Gu sinis.


Ia beranjak pulang. Tapi hanya orang bebal yang tak sadar sikap dingin Dae Gu. Pan Seok pun menghentikan Dae Gu dan bertanya langsung, “Apakah kau, mungkin, memiliki dendam padaku? Sejak pertama, kau selalu seperti ini. Apa mungkin kau.. mengenalku?”


Mata Dae Gu berkilat, sesaat mengkhianati wajah datarnya. Tapi ia menutupinya dengan bertanya balik, “Apakah ada detektif yang tak mengenal Sang Legenda Seo Pan Seok?” Ia pun pergi meninggalkan ruangan tanpa pamit.


Malamnya, Pan Seok membaca data pribadi Dae Gu. Ia menggoogle alamat Dae Gu, dan menemukan kalau alamat itu adalah rumah panti asuhan.


Keesokan harinya, Dae Gu masuk kantor dan melihat berkas data pribadinya ada di meja Pan Seok. Apakah Pan Seok mencurigai sesuatu? Entahlah..


Dae Gu mulai bekerja. Ia mengambil kaca mata dari locker dan memakainya. Kaca mata lama yang selalu Ji Yong pakai. Ia tenggelam dalam kesibukannya, tak menyadari kedatangan Soo Sun yang terpana melihat Dae Gu yang berkacamata.


Serasa déjà vu, Soo Sun pun berseru mengenalnya, “Kim Ji Yong?” Refleks Dae Gu menoleh. Ketahuan! Dae Gu terkejut, sesaat tak mampu bertindak apapun, semakin meyakinkan Soo Sun. Tapi dengan cepat ia melepas kaca matanya dan beranjak pergi.


Tapi Soo Sun menghadangnya, “Kau Ji Young, bukan? Aku benar, kan?”

Dae Gu semakin panik saat melihat Pan Seok datang menghampiri mereka. Pan Seok tak mendengar ucapan Soo Sun karena ia sibuk membaca. Tapi sebentar lagi pasti ia pasti mendengarnya jika ia tak melakukan sesuatu untuk menutup mulut Soo Sun, apalagi Soo Sun mulai membuka mulut lagi, “Kau Kim Ji..”


Maka ia melakukan satu hal yang dapat menutup mulut Soo Sun sekaligus mengusir Pan Seok. Ia menciumnya.



Epilog :


Penuntu Han menerima SMS dari Pan Seok yang mengirimkan nota yang ternyata adalah nota saat ia pergi 'hura-hura' sebanyak 5 juta won. Dan Pan Seok pun mengirim pesan lagi, "Apakah aku harus mengirimkannya juga pada istrimu?"

Ha. Penuntut Han tak takut pada Pan Seok, tapi takutnya sama istri. Ia memandang istrinya yang menungguinya sambil membaca buku. Ia pun buru-buru menelepon bawahannya untuk melepaskan Pan Seok.

Komentar :

Haha.. entah ciuman itu memang ingin menutup mulut Soo Sun atau reaksi bawah sadarnya Dae Gu yang ingin memiliki kontak fisik lebih daripada yang lain. Ehm.. yang lain itu maksud saya adalah Kim Shin Myung dan Pan Seok. Mungkin ia merasa spesial saat Soo Sun menyentuh dadanya saat itu. Bayangkan, ia bahkan tak bisa mengenyahkan pikiran itu seharian penuh.

Tapi ternyata oh ternyata.. sentuhan Soo Sun itu tidak spesial bagi Soo Sun, karena dengan mudahnya gadis itu memeluk Kim Shin Myung untuk menangkap dan memeluk Pan Seok sebagai ucapan rasa syukurnya. Jadi reaksi bawah sadar Dae Gu adalah memberikan kontak fisik yang lebih dibanding yang lain.

Haha.. saya lebay? Bisa jadi, sih.. tapi coba dipikir. Kenapa juga Dae Gu tak menutup mulut Soo Sun dengan tangannya? Atau bisa saja, kan Dae Gu menarik Soo Sun pergi, sebelum Soo Sun mengumbar nama aslinya? Tapi tidak, ia memilih mencium Soo Sun. Padahal belum tentu Soo Sun akan bungkam setelah itu.

Atau… hmmm.. ia akan terus mencium Soo Sun sampai Pan Seok pergi? Kalau begitu, Pan Seok.. jangan kemana-mana, ya.. Tutup mata, tapi tetap berdiri di situ.

Saya terkesan dengan perang batin yang dialami Soo Sun di restoran. Apa gunanya menangkap orang jahat? Apakah itu akan mengubah dunia? Percakapan mereka itu mengubah pendapat Soo Sun yang naïf. Walau mereka menangkapi orang jahat, apakah dunia akan berubah?

Tidak. Dunia akan tetap seperti itu. Kim Shin Myung ditangkap, akan muncul lagi Kim Shin Myung lainnya.
Jadi apakah kita harus membiarkan saja?

Satu orang jahat ditangkap, maka akan muncul orang jahat lainnya. Tapi jika orang jahat itu tak ditangkap, apakah orang jahat lainnya tak akan muncul? Tidak. Orang jahat berikutnya pasti akan muncul. Kejahatan pasti mencari celah untuk bisa eksis.

Hal itu juga pernah diungkapkan di Three Days. Saat jaksa pengganti Jaksa Choi menginterogasi pria bertato, Jaksa itu berkata, tak apa-apa, karena ia tak akan berhenti mengejar dan menangkap mereka (orang jahat). Seandainya ia lelah, akan ada orang lain yang menggantikannya menegakkan keadilan dan hukum. Itulah dunia yang ingin ia tinggali. Di dunia ini masih ada banyak orang yang mengutamakan keadilan daripada uang. 

Pesan moral itulah yang terselip dalam dua drama ini. 

Note : Karena pemilu (Korea ya bukan Indonesia), You’re All Surrounded episode 9 tak ditayangkan pada hari Rabu, melainkan hari Kamis. Dan Fanny sangat baik, menggantikan saya untuk menulis episode 8. Jadi setelah ini, tunggu di tempat Fanny ya untuk update episode 7 dan 8. Episode 9 akan ditulis oleh saya. Fanny.. you're so jjang!



8 comments :

  1. pantesan..di tunggu tunggu drama nya kok gak muncul2 yg ep 9.ternyata karna ada pemilu :( yahhh

    ReplyDelete
  2. oiya mba,itazura na kiss ke 2 kapan ya tayang nya? mba tau gak?

    ReplyDelete
  3. Lama nggak komen hihihi...
    mb Dee ijin ikutan bbm Chanel yaa..
    semangat mb..

    ReplyDelete
  4. Mksh ya mba Dee.moga sehat sll.ditunggu sinop selanjutnya.^__^

    ReplyDelete
  5. Udah lama mbak nunggunya~
    tpi akhirnya dilanjut juga :)

    ReplyDelete
  6. cihui....senang dengan perkembangan dae gu dan soo sun....akhirnya ada juga adegan romantis....sdikit bosen akhir-akhir ini dijajah rasa pnasaran ma drama misteri pembunuhan....ni drama emang paling bisa deh....

    ReplyDelete
  7. mbak eps 9 nya udh ada belum ????

    ReplyDelete
  8. thanks sob untuk postingannya...
    article yang menarik,saya tunggu article berikutnya yach.hehe..
    maju terus dan sukses selalu...
    salam kenal yach...
    kunjungi blog saya ya sob,banyak tuh article2 yang seru buat dibaca..
    http://chaniaj.blogspot.com/ dan situs kesayangan kami http://oliviaclub.com
    serta sites.google kebanggaan kami https://sites.google.com/site/pokeronlineterpopuler/

    ReplyDelete