May 26, 2014

You're All Surrounded Episode 4


Polisi dan paramedis telah tiba di lokasi untuk menyelamatkan Yoon Jung dan menangkap si pelaku. Dae Gu dan Soo Sun termangu melihat Yoon Jung ditandu masuk ke dalam ambulans. Pria penguntit itu seakan tak kaget melihat mereka berdua dan mengangguk sopan pada mereka. Hmm.. mengolok-olok mereka?


Eun Do terkejut sedikit kagum melihat kehadiran mereka berdua yang tak terduga di TKP. Ia sendiri tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kebetulan saja unit Orang Hilang sedang berpartroli dan berhasil menangkap tersangka yang akan melarikan diri. “Walau mereka sempat menyelamatkan Yoon Jung, tapi lukanya terlalu dalam. Kalian baru pertama kali mengalaminya, kan? Yang kuat, ya.”


Sa Kyung (Kepala Unit Orang Hilang) yang menemukan tape recorder dan kamera di tas Yoon Jung dan menyerahkannya pada Eun Do. “Bukankah ini milik tim 3?” Eun Do langsung mengenali barang-barang milik timnya. Ia menatap kedua detektif muda itu, “Hei, kenapa ini ada di tas Yoon Jung?”


Dae Gu dan Soo Sun diam, tak bisa mengucapkan sepatah katapun.

Episode 4 : Baik-baik saja.. Tak baik-baik saja.



Pan Seok segera kembali dari dinas luarnya. Ia sangat marah, terlihat dari caranya membanting pintu mobil dan menarik dasi. Di kantor ia bertemu dengan Ji Gook dan Tae Il yang memberikan info terbaru.

Yoon Jung sudah dipindahkan ke ICU setelah operasi, walau kemungkinan hidupnya kecil. Luka yang dialami sangat dalam sehingga butuh waktu beberapa hari pengamatan. Pan Seok ingin bertemu dengan Dae Gu dan Soo Sun, tapi keduanya masih ada di ruang interogasi bersama Eun Do dan Sa Kyung.


Terdengar dentum sepatu, dan Pan Seok reflek mundur melihat Sa Kyung yang langsung menghardiknya. “Jika kau memberikan kasus pada anak baru dan keluar kota, kau setidaknya mengawasi mereka. Bagaimana mungkin kau membiarkan hal ini terjadi?!”

Pan Seok tak berkata apa-apa dan Sa Kyung pun pergi meninggalkannya.


Di ruang interogasi, Dae Gu dan Soo Sun masih shock dengan kejadian yang baru saja mereka alami. Soo Sun mencoba meyakinkan dirinya dengan bertanya pada Dae Gu kalau Yoon Jung pasti akan siuman karena ia kelihatannya adalah gadis yang kuat. Tapi Dae Gu hanya diam saja, sehingga Soo Sun mendesaknya. “Katakanlah sesuatu. Kenapa kau terus diam selama ini? Detektif Eun!”


“Diam dan duduk saja. Kalau tidak akan kujahit mulutmu!” bentak Dae Gu. Soo Sun terbelalak mendengar teriakan Dae Gu yang malah menyalahkannya karena menangani kasus Yoon Jung dengan berlebihan. “Sudah kukatakan agar kita melakukan tugas sesuai aturan saja. Tak usah terlibat terlalu dalam!”

Soo Sun tak mau kalah dan menyalahkan Dae Gu yang salah menganalisa. Katanya penguntit itu tak akan datang setelah tengah malam. “Kau sangat yakin seyakin bumi berputar mengitari matahari. Jika kau tak mengatakan hal itu, aku tak akan pergi dan menerima telepon.” Tak terasa air mata Soo Sun menetes saat menyebutkan satu per satu kesalahan mereka. “Yoon Jung juga tak akan pernah menemuinya sendiri dan menjadi korban.”


Belum selesai mereka bertengkar, muncul Pan Seok ke dalam ruangan. Soo Sun berdiri, diikuti oleh Dae Gu yang langsung ditendang oleh Pan Seok membuatnya jatuh tersungkur.


Eun Do memeluk pinggang Pan Seok, mencoba menahannya, tapi Pan Seok terus marah-marah. “Dasar b**ingan. Kau memprovokasi si penguntit? Tanpa pemberitahuan pada Ketua Tim (Eun Do), kau meninggalkan rumah korban? Bahkan saat dia meneleponmu setelah semua terjadi, kau mengabaikan teleponnya? Sudah kukatakan padamu untuk melapor bagaimanapun kejadiannya!”


“Seorang detektif tak dapat menghidupkan orang mati, tapi dapat membunuh orang yang hidup! Satu kesalahan, sedetik salah analisa dapat menghancurkan hidup seseorang. Sudah kukatakan padamu untuk tak bertindak sendiri, kan?!”


Dae Gu bangkit dan ganti membentaknya, “Kalau begitu kau harusnya mulai dengan mengajarkan pada kami dengan baik-baik! Kau tak pernah menjelaskan apapun pada kami!”

Eun Do menghardik Dae Gu karena ketidaksopanannya. Tapi Dae Gu belum selesai mengkritik gaya Pan Seok mengajar yang tak pernah memberi instruksi yang jelas. Ji Gook mencoba menyelanya, tapi Dae Gu terus saja berteriak memaki-maki Pan Seok.

Ia menunjuk kamera dan berkata kalau semua yang ada di sini (perlakuan Pan Seok tadi) telah direkam, “Aku akan menuntutmu ke pengadilan polisi karena pelanggaran HAM dan kekerasan fisik. Seo Pan Seok, Aku akan menghancurkanmu!!”


Pan Seok tak takut dengan kamera. Ia pun menyerang Dae Gu, tapi Dae Gu sudah bersiap dan malah menyerang balik dan mencekik lehernya kuat-kuat.


Yang lain buru-buru mencoba melerai mereka berdua. Tapi Dae Gu seakan kesetanan, terus mencaci maki Pan Seok. Pan Seok terbelalak  bahkan setelah melepas cekikannya, membuat Pan Seok terpana melihatnya. Ji Gook dan Tae Il buru-buru menjauhkan Dae Gu dan mengeluarkannya dari ruang interogasi. Tapi Dae Gu masih sempat berteriak dan menuding-nuding, “Aku akan menghancurkanmu! Aku akan menghancurkannmu Seo Pan Seok!”


Pan Seok sangat marah mendengar Dae Gu yang memanggilnya dengan tidak sopan. Ia berniat mengejar tapi dicegah oleh Eun Do, maka ia hanya bisa balik berteriak mencaci maki Dae Gu yang terdengar hingga luar ruangan.


Dae Gu memilih pergi meninggalkan kantor polisi, sementara Pan Seok duduk menenangkan diri di ruang interogasi. Apakah Pan Seok berhasil? Sepertinya tidak. Ia membalikkan meja sebelum pergi. Eun Do bergumam sendiri, “Hhh.. malam ini terjadi angin topan.”


Ji Gook mengomentari Dae Gu yang benar-benar orang yang golongan darahnya B karena bukannya berlutut minta maaf, Dae Gu malah menyerang Pan Seok. Seolah tak mendengar Ji Gook, Soo Sun berdiri dan meminta temannya untuk memberitahu Pan Seok kalau ia akan menemui Yoon Jung.


Ji Gook mencoba mencegahya karena sudah larut malam, tapi Soo Sun sudah pergi. Ji Gook mengerti perasaan terpuruk yang dialami Soo Sun, karena jika hal itu terjadi padanya, ia pun akan merasa seperti itu.
Tae Il menanggapi dengan mengatakan kalau bekerja di kepolisian tak menyenangkan. “Aku datang kemari untuk menghindari meja maut, tapi malah langsung kejadian di sini.”


Ji Gook tak mengerti arti meja maut. Apa artinya itu? Tapi Tae Il dengan gaya menggoda malah minta Ji Gook untuk bermain 10 pertanyaan. Ji Gook merasa salah salah tingkah dengan sikap Tae Il dan menolaknya. Ia pun pergi meninggalkan Tae Il yang mengejarnya sambil berkata, “Gook ah.. kenapa kau cute sekali?”

Haa.. itu Tae Il pengen gangguin Ji Gook atau apa, ya?


Soo Sun berdiri di depan kamar Yoon Jung, sudah berpakaian khusus untuk di ruangan ICU. Tapi ia tak berani masuk ke dalam ruangan. Ia melihat ibu Yoon Jung terus menunggui putrinya. Tak terasa air mata mengalir di pipi Soo Sun.


Dae Gu pergi ke stasiun kereta dan membeli tiket ke Masan. Ucapan Soo Sun yang mengatakan kalau analisa Dae Gu ternyata salah. Bayangan Yoon Jung yang berlumuran darah juga terus menghantuinya, sama seperti saat ia berjanji untuk menyelamatkan ibunya yang terluka parah. Semua itu sekarang menyerang pikirannya lagi.


Keesokan harinya Soo Sun menemui Pan Seok untuk minta maaf. Tapi Pan Seok dengan dingin menjawab kalau inilah sebabnya ia tak mau menerima orang yang memiliki rambut panjang. Di dalam ruangan, Pan Seok marah melihat berita yang sedang dibaca Eun Do di internet, ‘Apakah Ide Bagus Memasukkan Anak Baru di Unit Penyelidikan?’


Chief Cha muncul dan mengamini artikel di internet itu dengan komentar, “Lebih baik kau pergi dan mati saja. Sejak kau dan anak-anak itu datang, tak ada hari-hari yang tenang di Kantor Gangnam. Si Legenda Seo Pan Seok? Kau bahkan tak bisa mengurus anggota timmu.”


Semuanya menunduk, tak menjawab. Saat itulah, muncul ibu Yoon Jung yang mencari Soo Sun. Soo Sun langsung menyapanya dengan panggilan Ibu dan bertanya apakah Yoon Jung sudah sadar. Bukan jawaban yang diterima Soo Sun, tapi malah tamparan dan cacian dari ibu Yoon Jung. “Kau benar-benar tak bertanggung jawab. Apa hakmu untuk membuat Yoon Jung seperti itu dan mengunjunginya ke rumah sakit?”

Semua memandang iba pada Soo Sun, bahkan Pan Seok pun juga.


Dae Gu tiba di Masan dan kenangan bersama ibunya muncul saat ia berjalan melewati jalan-jalan kota Masan. Sampailah ia di bekas rumahnya dan kenangan saat-saat terakhir bersama ibunya membuat ia tak kuat dan lari pergi ka pantai. Ia berteriak sekencang-kencangnya di sana.


Dae Gu duduk terpekur di tepian pantai. Tiba-tiba terdengar suara ibunya menyapanya. Ia kaget dan menatap ibunya yang tiba-tiba muncul di hadapannya, tak bertambah tua sedikitpun. Ibu bertanya apakah Dae Gu baru saja melakukan kesalahan dan melarikan diri?


Mulanya Dae Gu membantah kalau ia bersalah, tapi akhirnya mengakui kalau ia sudah melakukan sebuah kesalahan yang besar. “Aku hampir membuat orang mati lagi. Aku sangat marah sekali dan ingin memukuli diriku sendiri sampai mati. Bagaimana mungkin aku bisa mengambil kesimpulan ia tak akan muncul setelah tengah malam? Aku juga berotak burung!”


Ibu tersenyum dan terus mendengar Dae Gu terus menyalahkan diri sendri dan takut jika nanti akan melakukan hal yang sama lagi.  Ibu tahu kalau Dae Gu tak akan pernah lupa dengan kejadian itu, tapi Ibu menegaskan kalau kematiannya bukan karena salah Dae Gu. “Kembalilah. Kau tak bisa terus melarikan diri dengan penuh aib. Kau ini tak pandai melarikan diri. Hanya orang-orang yang bisa lupalah yang sukses melarikan diri. Sedangkan kau anak yang pintar. Kau tak dapat lupa.”


Dae Gu seakan menjadi Ji Young kecil dan bertanya pada Ibu apakah Ibu yakin dengan hal itu? Ibu menjawab kalau kali ini ia yakin, seyakin bumi yang mengitari matahari.” Mata Dae Gu berkaca-kaca mendengar kata-kata ibunya dan bertanya, “Bu, apakah Ibu membenciku? Ibu sangat membenciku, kan?”


Ibu hanya tersenyum menatapnya. Dae Gu akhirnya tak tahan dan menangis tersedu-sedu. Ia menghapus air mata dengan lengannya. Mendadak sebuah bola mengenai kakinya dan seorang anak memintanya untuk melemparkan bola itu kembali. Saat Dae Gu melempar bola itu dan menoleh pada ibunya, Ibu telah menghilang.

Dae Gu terkejut. Apakah yang tadi adalah halusinasinya?


Chief Kang sedang membaca artikel di internet, yang menceritakan secara rinci kejadian Yoon Jung. Chief Cha muncul dan mengajaknya makan siang. Kali ini Chief Cha yang akan mentraktir. Tapi Chief Kang berkata kalau ia mungkin parno, tapi ia bertanya, “Kira-kira, siapa ya yang membocorkan berita ini? Sangat detail sekali.”


Chief Cha sedikit salah tingkah dan menjawab mungkin wartawan mendapat berita dengan cara Menempel ke Tembok (cara illegal untuk mendapatkan informasi dengan cara menguping sebuah pembicaraan). Tapi Chief Kang memiliki kecurigaan tersendiri kalau mungkin ada orang dalam yang membocorkannya. Chief Cha semakin salah tingkah.


Soo Sun duduk termenung di mejanya. Pan Seok dan Eun Do muncul dan mendapat berita dari polisi patroli kalau ada kasus baru. Pan Seok menyuruh anak-anak baru itu untuk mengikutinya. Namun ketika Soo Sun hendak masuk mobil, Pan Seok malah menyuruh Ji Gook untuk menutup pintu mobil dan meninggalkan Soo Sun sendiri.


Soo Sun pun pergi ke rumah sakit dan kebetulan bertemu dengan Sa Kyung yang menyebutnya beruntung karena Yoon Jung baru saja siuman dan sekarang sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Soo Sun jatuh terduduk, lega.


Malamnya, ditemani dengan foto ayahnya, dengan berkaca-kaca, ia menulis surat pengunduran diri. Terdengar ucapan hati Soo Sun saat menulis surat itu. Ketika Ayah meninggal, aku mempelajari satu hal. Dunia akan terus berputar, bahkan jika ayah sudah tak ada di dunia ini. Dan saat itu aku telah mengubur dalam-dalam dua hal. Masuk ke universitas dan mimpiku. Dan aku baik-baik saja. Aku tak bermimpi untuk menjadi seorang detektif. Tak apa-apa.”

Keesokaannya, Soo Sun meletakkan surat itu di meja Pan Seok.


Jalan-jalan di Masan membuat Dae Gu teringat pada Soo Sun remaja yang memaki-makinya. Dan jika melihat Soo Sun yang sekarang, ia dapat menyimpulkan, “Si otak burung itu tak pernah berubah sama sekali.
Dae Gu berjalan melewati seorang remaja yang merasa mengenali Dae Gu.


Tae Il berpapasan dengan Sa Kyung dan menyapanya, “Apakah kau masih ingat padaku?” Sa Kyung menjawab ketus, “Tidak ingat.” Dan Sa Kyung pun berlalu pergi.


Ji Gook muncul, dan melihat Sa Kyung ia bertanya. Kira-kira apa yang membuat Sa Kyung menceraikan Pan Seok? Tae Il kaget mendengar kalau Sa Kyung adalah mantan istri bos mereka. Ji Gook langsung bergosip kalau dulu pasangan itu adalah seperti Jang Dong Gun dan Go So Young di kantor polisi ini.


Ji Gook dan Tae Il kaget mendengar Soo Sun sudah menyerahkan surat pengunduran dirinya, padahal Yoon Jung sudah siuman dan kasus ini telah selesai dengan baik. Tapi Soo Sun mengatakan kalau ia toh juga tak pernah ingin menjadi detektif. Ji Gook mengatakan kalau mereka semua juga tak ingin menjadi detektif.

Soo Sun mengatakan kekhawatirannya kalau ia akan mengulangi kejadian ini lagi. Tae Il mengatakan kalau ia dapat memahami hal itu. Ji Gook menyambung kalau Soo Sun hanya sedang tak beruntung saja dan mengibaratkannya sebagai orang yang baru pertama kali nyetir dan mengalami kecelakaan karena ada pengemudi mabuk. Dan karena kasus penguntitan adalah tindak pidana ringan, maka Soo Sun harus memancing pelaku agar bisa ditahan.


Tae Il membenarkan. Jika ia dan Ji Gook yang mendapat kasus ini, mereka mungkin akan mengabaikan dan menutup kasus ini. Ji Gook panik saat menyadari kalau Soo Sun benar-benar sudah menyerahkan surat resign itu. “Kenapa kau keluar tanpa berdiskusi lebih dulu?”


Mereka kaget melihat kemunculan Dae Gu. Soo Sun marah dan menyindirnya kalau ia sempat berpikir untuk menuliskan surat pengunduran diri Dae Gu. Dae Gu kaget mendengar Soo Sun mengundurkan diri tapi ia mengatakan harusnya Soo Sun mengundurkan diri sejak dulu.


Soo Sun tak dapat menahan emosinya dan menyuruh Dae Gu minta maaf. Ia ingin Dae Gu minta maaf dulu karena melarikan diri tanpa kabar sedikitpun. Dae Gu tak menggubris, dan menyuruh Soo Sun untuk menarik surat pengunduran dirinya. Kalau Soo Sun mundur, maka ia pun terpaksa harus mundur.


Soo Sun tak mau bahkan mengancam akan menelepon Pan Seok akan tindakan mencurigakan yang dilakukan Dae Gu. Dae Gu sontak merebut handphone Soo Sun, menolak mengembalikannya. Ia mengangakat handphone itu tinggi-tinggi hingga Soo Sun tak dapat meraihnya. Tak kurang akal, Soo Sun menjambak rambut Dae Gu.

Ji Gook kewalahan melerai mereka berdua yang terus berebut handphone. Ia mencoba melerai mereka, malah terjatuh. Siapa yang berhasil mendapatkan handphone itu?


Tae Il. Karena ia memborgol kedua tangan temannya yang sedang teracung tinggi-tinggi dan merampas handphone itu. Ha. Tae Il mengkuliahi mereka karena bertengkar seperti itu. 


Soo Sun berjanji untuk tak berkelahi lagi dan memintanya untuk melepaskan borgol. Tapi Tae Il malah mengajaknya makan siang karena ia sudah lapar. Hahaha..


Mereka pun pergi ke sebuah rumah makan. Ada satu pria dan 3 murid SMA. Dengan P4, ada tiga kelompok pelanggan. Pria itu sepertinya sedang stress karena ia menghindari telepon dari tukang tagih dan mengeluh tentang makanan yang tak sesuai pesanannya. Tapi ahjumma pemilik rumah makan itu mengabaikan keluhan dan malah menendang barang bawaannya.


Soo Sun terus mengancam Tae Il dan Ji Gook. Tapi mereka berdua malah asyik menonton girlband menyanyi di TV. Ji Gook bertanya siapa dari para girlband itu yang tercantik. Tae Il mengacak-acak rambut Ji Gook dan menjawab, “Kau yang paling cantik.” Hahaha..


Soo Sun dan Dae Gu tak tertawa mendengarnya. Mereka malah terus bertengkar, membuat pria itu bertambah kesal. Tapi bukan pria itu saja. Ketiga murid SMA itu juga menyuruh Soo Sun untuk tak berisik, membuat Soo Sun kesal. Tapi bukan karena ia disuruh diam yang membuat Soo Sun kesal, melainkan karena anak-anak SMA itu memanggilnya ahjumma.


Pria itu mengeluh lagi karena ada rambut di makanannya, tapi ahjumma itu hanya mengambil rambut dengan tangannya. Eww..  Ahjumma itu lalu meminta P4 untuk menjaga rumah makannya karena ia harus pergi mengantarkan pesanan.


Pria itu kesal sekali. Dan lagi-lagi ia menahan kesabarannya saat si ahjumma itu menendang kardusnya sebelum pergi. Kaleng-kaleng di dalam kardus berserakan membuat salah satu murid tersandung dan tak sengaja mendorong pria itu hingga wajah pria itu terdorong ke piring. Bukannya minta maaf, murid SMA itu malah marah-marah dan menendang kaleng itu.

Pria itu membersihkan wajahnya dengan tisu, dan diam-diam pergi ke dapur mengambil sesuatu. Setelah itu ia pergi ke pintu depan dan menguncinya. Ia menarik gadis yang tadi menendang kalengnya dan mengacungkan belati ke leher gadis itu. Ia berteriak, “Jangan ada yang bergerak atau aku akan bunuh kalian semuanya!! Angkat tangan kalian!”


Anak-anak SMA itu berteriak panik dan mulai menangis, sementara P4 mengangkat tangannya tapi tapi tetap waspada.


Ahjumma itu akhirnya kembali ke rumah makannya dan melihat pintu depan terkunci, ia pun mengintip ke dalam ruangan. Betapa kagetnya ia melihat kejadian di dalam.


Pan Seok dan Eun Do mendengar kabar penyanderaan itu dari polisi patroli dan menyuruh timnya untuk mengikutinya. Tapi melihat tak ada satupun P3 yang ada di meja, membuatnya heran. Tapi mereka pun langsung pergi ke TKP.


Dae Gu dan Soo Sun memberi isyarat pada Tae Il untuk memberikan kunci borgol, tapi di saat-saat genting itu, Tae Il malah tak dapat menemukan kuncinya. Si penyandera itu malah melihat gerak-gerik mereka yang mencurigakan dan menyuruh mereka untuk mengangkat semua tangan.


Soo Sun langsung mencetus kalau ia dan Dae Gu saling mencintai. Mulanya kaget tapi kemudian Dae Gu menambahkan kalau hari ini adalah perayaan 100 hari mereka pacaran. Dan sambil membuat lambang hati dengan kedua tangan mereka yang bebas, mereka meminta si penyandera untuk menyelamati mereka.

Ji Gook dan Tae Il bengong. Apalagi saat Soo Sun sesak nafas dan Dae Gu meminta agar ia dapat memegang tangan Soo Sun karena jantung si jabang bayi mereka sangat lemah. Whaa..? Tapi Dae Gu menendang lutut Tae Il dan reflek Tae Il langsung menyanyi dengan diikuti Ji Gook, “Selamat hari jadi.. selamat hari jadi ke 100..”


Ji Gook pun mengajak si penyandera itu bicara. Ia sudah lupa rasanya merayakan 100 hari. Apakah pria itu juga punya pacar? Si penyandera menjawa kalau ia hanya punya kamar yang sempit, tagihan kartu kredit dan tabungan yang minus. “Dan kau malah menyuruhku untuk bicara tentang gadis sialan itu yang sudah menikahi pengacara?”


Salah satu gadis itu langsung berdiri dan berkata meremehkan. Ia menawari pria itu dengan banyak uang. Soo Sun menarik gadis itu dan berbisik kalau mereka tak boleh memprovokasi pelaku. Tapi gadis itu tak mendengarkan dan malah mengatakan kalau ia akan minta ayahnya untuk membawakannya segepok uang. “Berapa? 100 ribu? 200 ribu? Sejuta?”

Pria itu marah mendengar kesombongan gadis itu yang menganggap uang begitu mudah padahal ia hanya bisa mendapatkan beberapa ribu won untuk menjual satu kaleng. Gadis yang disandera malah ikut menawarinya uang ayahnya agar mau melepaskan mereka. Dianggap seperti pengemis, pria itu kalap dan melepaskan gadis itu dan mencabut pipa gas yang tergantung di tembok.


P4 mencoba mencegah pria itu, tapi terlambat. Pria itu sudah memutus pipa gas itu. Semua berteriak, dan pria itu kembali menahan gadis itu dan mengajak mereka semua mati bersama. Tangannya mengacungkan korek api ke pipa gas itu. P4 berteriak mencegahnya.


Pan Seok dan Eun Do tiba di TKP.  Dari laporan polisi patroli, si penyandera itu bernama Choi Woo Shik, pegawai magang dari Clear Cosmetics yang berusia 28 tahun. Pan Seok memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki pekerjaan Woo Sik dan mematikan sambungan gas ke gedung tersebut dan mencari tahu seberapa banyak gas yang sudah bocor.


Pan Seok akhirnya menyadari alasan anak-anak baru itu tak ada di kantor. Karena mereka adalah termasuk yang menjadi sandera. Eun Do yang diberitahu Pan Seok benar-benar shock.


P4 ada masalah itu ibaratnya seperti hujan. Jika hujan turun, siapa yang muncul? Katak yang akan menyanyi di tengah hujan. Pan Seok hanya bisa menghela nafas melihat kemunculan Chief Cha di TKP yang mulai mengomel melihat P4 ikut tersandera.


Oksigen semakin tipis dan P4 mencari cara untuk keluar dari masalah ini. Kondisi ini berbahaya karena pria itu, Woo Shik, membawa pemantik api. Sekali nyala, tamat riwayat mereka semua. Dae Gu mengusulkan pendekatan persuasif dan menimbulkan empati dari diri Woo Shik. Dengan fotografik memorinya, ia teringat kalau di buku catatan Woo Shik tertulis kalau tanggal 31 adalah hari peringatan kematian ibunya.


Salah seorang gadis terbatuk-batuk dan Tae Il menyadari kalau gadis itu memiliki asma dan akan membahayakan nyawanya karena gas sudah menyebar. Terdengar suara dari megafon memanggil Woo Shik. P4 langsung mengenali suara itu. Suara Pan Seok!


Sa Kyung pun memilih pendekatan persuasif seperti Dae Gu, dan meminta Pan Seok untuk bicara baik-baik dengan Woo Shik, dan lebih baik di telepon saja. Pan Seok pun menurut dan mengatakan kalau ia mengerti perasaan Woo Shik yang dipecat setelah setahun bekerja magang dan mengajaknya bicara lewat telepon.
Chief Cha mengangkat kertas, mendikte apa yang harus dikatakan Pan Seok, tapi Pan Seok tak menggubrisnya.


Mendengar dering telepon, malah membuat Woo Shik kesal dan mengancam akan membunuh gadis yang ada di tangannya. P4 berdiri mencegahnya. Dae Gu langsung meminta Woo Shik untuk melakukan apa yang disukainya saja. Tak apa-apa jika Woo Shik tak ingin bicara.


Dae Gu dapat menyimpulkan kalau tanggal 31 Mei adalah hari kematian ibu Woo Shik dan tentunya Woo Shik ingin pergi ke makam dengan masih bekerja. Dan ia mengaku kalau ibunya juga meninggal pada umur 15 tahun. Ketiga temannya terkejut mendengar fakta pribadi Dae Gu yang baru mereka ketahui.

Woo Shik menuduhnya bohong, tapi Dae Gu membantah kalau ia tak mungkin bohong. Karena Woo Shik pasti punya alasan untuk melakukan hal ini. Dae Gu pun meminta Woo Shik untuk mengangkat telepon dan mengatakan apa yang ia mau karena semuanya pasti ingin mendengar permintaannya. “Katakan pada dunia yang tak pernah mendengarkan keinginanmu.”


Chief Kang muncul di TKP dan mendengar desakan Chief Cha yang ingin segera menerjang masuk. Tapi Sa Kyung tak setuju dengan cara itu karena akan membahayakan 7 sandera di dalam. Di depan orang banyak, Chief Cha pun menggunakan kesempatan itu untuk mempermalukan P4 yang tak dapat menangkap satu penjahat.


Sedikit kabar baik karena mereka terhubung dengan Woo Shik yang mengajukan permintaan, yaitu mendatangkan Presdir Clear Cosmetics dalam waktu 3 jam untuk minta maaf kepadanya. Pan Seok pun menyanggupi.

Orang tua ketiga murid itu muncul dan berteriak panik. Teriakan orang tua itu terdengar dari dalam, membuat ketiga gadis itu menangis. Satu gadis yang sesak nafas itu akhirnya jatuh tersungkur.


Tae Il langsung menghampiri gadis itu dan menyuruh Ji Gook untuk mencari inhaler di tas gadis itu. Setelah beberapa kali semprot, kondisi gadis itu kembali membaik. Tapi hal itu pasti tak akan lama, karena kondisi gadis itu akan memburuk jika terus berada di dalam ruangan.

Pan Seok mulai membujuk Woo Shik untuk melepaskan sandera. Tapi belum selesai bicara, ia mendengar Soo Sun yang merelakan diri untuk disandera sebagai ganti ketiga gadis itu.


Soo Sun mengacungkan tangannya yang diborgol dan mengaku kalau mereka adalah polisi. Woo Shik menyuruh Soo Sun untuk tak mempermainkannya. Tapi Soo Sun serius.  Tapi Woo Shik masih tak percaya.


Dae Gu pun mengeluarkan borgol dari saku dan memborgol tangan satunya dan menaruhnya ke salah satu tiang besi.  Sekarang mereka benar-benar menjadi sandera dan Woo Shik bisa mempercayai mereka.

Ji Gook pun mengeluarkan borgolnya dan berkata kalau percaya tidak percaya, ia juga adalah polisi. Ia memborgol kedua tangannya dan mengatakan kalau ia bersedia menjadi sandera juga. Soo Sun meminta Ji Gook untuk tak melakukan hal itu, tapi Ji Gook menenangkannya.


“Aku sudah pernah merasakan sebelumnya bagaimana menjadi sandera. Jadi aku tahu bagaimana rasanya.” Ji Gook malah mengajarkan pada Woo Shik bagaimana cara meletakkan pisau yang benar di leher.


Tae Il pun mengikuti langkah ketiga temannya dengan memborgol tangannya dengan tangan Soo Sun dan menyuruh Woo Shik untuk melepaskan ketiga gadis itu.

Semua, yang ada di dalam ataupun luar rumah makan, menunggu kata-kata dari Woo Shik. Hingga ahirnya terdengar ucapan Woo Shik di telepon, “Aku akan melepaskan mereka.” Semua berseru lega, tapi Woo Shik mengancam akan menyalakan pemantik dan keempat detektif itu akan mati bersamanya jika polisi bertindak macam-macam dan tak menuruti perintahnya.


Pan Seok berjanji akan segera memanggil Presdir Clear Cosmetics. Maka ketga gadis itu pun dibebaskan. Chief Kang berkata pada Chief Cha kalau P4 melakukan hal yang benar. Chief Cha mengangguk sopan.


Berita penyanderaan itu menjadi headline news secara nasional. Pan Seok diam-diam masuk ke lubang udara untuk menyelidiki kadar gas dalam ruangan. Tak sengaja Dae Gu melihat Pan Seok di lubang udara dan mengisyaratkan kalau Woo Shik ada di dekatnya. Buru-buru Pan Seok mundur.


Di luar Eun Do sudah menunggu. Pan Seok memberitahukan kadar udara di dalam ruangan yang mengandung gas beracun sangat pekat.  Tapi Eun Do memberi kabar lebih mengejutkan. Presdir Clear Cosmetics sekarang sedang berada di Jepang.

O oh.. Mereka pun mencari cara lain, tapi semua itu tak mungkin bisa dilakukan tanpa membahayakan nyawa. Menurut Sa Kyung 80% sandera terluka dengan cara penyelamatan seperti itu. Tapi mereka juga tak bisa menjamin keselamatan gedung dengan gas yang akan semakin menyebar. 


Pan Seok meminta waktu sedikit lagi, karena seberapa cepat mereka melakukan penyelamatan, jika pemantik dinyalakan maka misi mereka akan gagal. “Lagi pula, mereka adalah detektif. Mereka mungkin akan memiliki sebuah kesempatan. Alasan mengapa gadis-gadis itu diselamatkan juga karena jasa mereka.”


Di dalam Woo Shik sudah putus asa, menduga kalau Presdir tak mungkin datang karena ini sudah 1,5 jam. Tapi Soo Sun membantah karena ia percaya pada atasannya. Tapi Woo Shik yakin kalau Presdir itu tak akan mau datang untuk pegawai temporer sepertinya. Ia meletakkan korek untuk minum air sambil bercerita tentang produk jualannya, hairspray, yang hanya beberapa puluh won  yang bisa ia dapatkan jika berhasil menjualnya.


Dae Gu mengintai korek itu, mencari celah untuk dapat mengambilnya. Ia mencoba meloloskan tangannya dari borgol itu. Tapi belum bisa.


Woo Shik mengatakan kalau orang seperti Presdirnya tak akan sudi menemuinya apalagi minta maaf. Soo Sun pun bertanya mengapa juga Woo Shik meminta kedatangannya jika tahu kalau Presdir itu tak mungkin datang. Harusnya Woo Shik meminta uang saja.

Woo Shik sebenarnya hanya ingin agar ia dipekerjakan kembali. Ji Gook heran mendengar tujuan Woo Shik yang sebenarnya, karena harusnya ia mengatakan itu tadi. Tapi Woo Shik juga ingin mendengar ucapan permintaan maaf.  Ia mengatakan kalau P4 yang adalah pegawai negeri, pasti tak mengerti rasanya jadi pegawai sementara.


Woo Shik pun kembali kalap mengetahui keberuntungan P4 jika dibanding dirinya. Ia meraih korek dan mengancam mereka lagi. 


Soo Sun pun bangkit dan memintanya untuk tak menyerah. Ia menceritakan sebuah rahasia, yaitu ia telah menyiapkan ujian negara selama 3,5 tahun dan gagal selama 6 kali. Baru berhasil setelah 7 kali percobaan. “Kau benar-benar tak boleh menyerah.”

Dae Gu malah berkomentar, “Kau benar-benar otak burung.”


Tapi Woo Shik sudah benar-benar  putus asa, sampai ia sudah bosan menulis CV. Soo Sun pun menyuruh Woo Shik untuk berpikir tentang Judo. Ayahnya adalah instruktur Judo dan yang diajarkan pertama kali adalah bagaimana jatuh dengan benar, karena itu adalah satu-satunya cara untuk bangkit dan menyerang kembali. “Dan sekarang adalah jatuhmu yang pertama.”


Ketiga temannya menatap Soo Sun tak percaya. Soo Sun bingung melihat tatapan teman-temannya. Apa yang salah? Dae Gu balik bertanya, “Lalu apa yang tadi pagi kau lakukan? Menyerahkan surat pengunduran diri?”


Soo Sun menyalahkan Dae Gu yang kabur. “Apakah kau tahu betapa takutnya aku selama 2 hari ini? Selama ini aku selalu khawatir saat telepon berbunyi, takut kondisi Yoon Jung-ssi memburuk. Yang selalu dalam pikiranku adalah ‘ini salahku, ini salahku. Kenapa aku bertindak bodoh seperti idiot?”


Tanpa sadar Soo Sun marah-marah sambil menangis. Betapa ia berharap Pan Seok marah dan menghukumnya dan bukannya cuek padanya. “Aku bahkan tak berani bernafas di depan Pak Kepala Tim selama 2 hari.”


Dae Gu terdiam mendengar Soo Sun yang terisak, mengaku tak tahu bagaimana harus memohon ampun atau bahkan bicara pada Pan Seok ataupun pada ibu Yoon Jung. “Walau akhirnya seperti ini, aku benar-benar ingin membantu masalah Yoon Jung-ssi. Aku tahu kau pasti juga merasakan hal yang sama karena kita adalah partner. Jadi minta maaflah! Minta maaflah karena kau telah melarikan diri sendiri di situasi seperti ini!”


Woo Shik menaruh pemantiknya di atas kardus hairspray dan berkata kalau ia tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tapi ia menyuruh Dae Gu untuk minta maaf. “Minta maaflah. Apa kau tak tahu bagaimana rasanya diremehkan dan tak dipedulikan?”


Soo Sun kembali berteriak pada Dae Gu. Tak sengaja, ia menginjak kaleng hairspray dan terjatuh menabrak kardus hairspray. Pemantik dan hairspray berjatuhan. Reflek Woo Shik dan Tae Il maju untuk menangkap pemantik itu.

Sayang sekali Tae Il mendapat hairspray dan Woo Shik mendapat pemantik. Tapi Tae Il tak hilang akal dengan menyemprotkan hairspray ke wajah Woo Shik dan Ji Gook ikut menyerangnya. Tae Il dan Soo Sun mencari-cari kunci borgol, tapi tak ketemu. 

Dae Gu berusaha sekuat tenaga menarik tangannya. Tae Il mencoba ikut menyerang Woo Shik, tapi ia malah jatuh tersungkur dan menarik kedua temannya. Dae Gu berteriak kesakitan karena tangannya tertarik. Dan terlepas dari borgol.


Berhasil!


Ketiganya bersama-sama menyerang Woo Shik, membuatnya terjatuh. Ji Gook mengakhiri dengan sebuah smack down dan teriakan, “Jangan bergerak, Woo Shik! Kau benar-benar terkepung!”


Di luar para polisi masih berdebat saat Eun Do melihat kejadian itu dari teropong. Polisi pun menyerbu masuk dan melihat kelimanya sudah kelelahan dengan Woo Shik terperangkap di antara anak-anak baru itu. Pan Seok tersenyum melihat mereka.


P4 mendapat terapi oksigen. Mereka saling melempar senyum dan toss. Eun Do menghampiri dan memuji mereka yang kelihatan sudah baikan. Soo Sun tersenyum dan berterima kasih. Eun Do senang melihat Soo Sun tersenyum lagi. Pada Dae Gu ia menyapa ramah, “Hei, bodoh! Kau sudah kembali?”

Dae Gu salah tingkah dan menyapa seniornya. Eun Do merasa mereka berempat itu sepertinya lahir untuk menciptakan masalah. Bagaimana juga mereka bisa mampir di restoran itu? Ji Gook yang menceritakan kalau semua ini berawal dari surat pengunduran diri Soo Sun.


Teringat surat keramat itu, mereka pun saling berpandangan. Ji Gook dan Soo Sun bingung, apa yang harus mereka lakukan dengan surat itu? Dae Gu yang menjawabnya, “Harus kita ambil kembali.”


Ia pun berlari dan diikuti oleh ketiga temannya, meninggalkan Eun Do yang kebingungan. Tae Il kembali lagi, tapi bukan untuk menjelaskan tapi untuk meminjam kunci mobil. Dan pergi lagi. Ha. Pan Seok melihat kehebohan itu dan tersenyum kecil.


Mereka kembali ke kantor dan Soo Sun menemukan kalau suratnya masih ada di dalam map. “Pak Kepala Tim belum melihatnya! Masih ada di sini! Horeeee!!”


Ji Gook dan Tae Il ikut bersorak kegirangan. Dae Gu hanya menatap mereka dan pergi. Haha.. jaim banget, nih..


Mereka berempat berjalan-jalan di bawah pohon sakura yang berbunga. Tak diragukan lagi, mereka berempat merasa bahagia. Dalam hati, Soo Sun berkata,“Menjadi detektif bukanlah impianku, aku tak merasa baik-baik saja. Aku tak ingin menyerah dan melarikan diri. Walau aku harus terus mempelajari tekhnik jatuh selama 27 tahun, aku akan baik-baik saja karena aku bersama dengan mereka yang akan membantuku untuk menyelesaikannya. Dan aku masih muda”

Keempatnya berjalan bersama. Namun Dae Gu melambatkan langkahnya saat merasa getaran di saku celana. Ada panggilan masuk dari handphone Pan Seok. Ia mengangkat handphone saat Pan Seok juga mengangkatnya.

Penelepon itu dari seorang yang memiliki bekas luka  di leher yang baru saja tiba di bandara. “Sudah lama kita tak berjumpa, Detektif Seo. Kau belum melupakan suaraku, kan?”


Dari wajah Pan Seok, nampak ia tak lupa pada pria itu. Begitu juga dengan Dae Gu.

Komentar :

Maaf, lama sekali saya baru update.

Akhirnya kita bisa meraba alasan P4 masuk di kepolisian. Dae Gu ingin balas dendam. Soo Sun, sepertinya bukan karena kasus kematian ibu Dae Gu, tapi lebih karena kematian ayahnya. Sementara Ji Gook, dia pernah menjadi tawanan.

Sedangkan Tae Il? Sepertinya dia dulu adalah mantan dokter atau mungkin masih dokter muda yang trauma dengan meja operasi.

16 comments :

  1. kyaaaaaaa~~ Mbak Dee akhirnya,,,
    jinjja gomawo :)

    ReplyDelete
  2. hiks.. terharu mbak , akhirnya di post juga sinopnya..
    sempet jungkir balik galau nungguin kapan episode 4 nya di posting,
    gomawo mbak dee..

    ReplyDelete
  3. Di sini betul betul menegangkan. Juga mengharukan. Dan di episode ini rasa setia kawan mereka muncul ya, terutama di Dae Gu. Aku penasaran, si Dae Gu berhubungan dengan siapa ya berbicara mengenai Seo Pan Suk?

    Sebelumnya aku gak dapat serunya nonton drama ini tapi saat kasus ini jadi makin seru. hehe
    Karena ini baru pertama nonton drama bergenre action dan komedi jadi satu. Saat suasana tegang, saat itu juga muncul komedi. Menurut ku yang buat komedi tu muka Goo Ara nya, lucu kali mukanya.

    ReplyDelete
  4. Walau pun aku nonton dramanya juga tapi aku juga suka baca sinopsisnya lagi. Dengan baca sinopsis, aku bisa mengerti lebih detail lagi. Padahal aku nonton dengan subtitle indo lo. haha *otakburung.
    Kayak komentar mbak dee, aku gak tau Tae Il itu dokter muda, meja maut. Aku nontonnya cuman lewat tidak dipikirkan lagi. hehe. Mungkin karena aku tidak buat sinopsis jadi tidak sempat untuk memikirkannya lagi. ya kan?

    Sedikit promosi, aku buat sinopsis drama Angel Eyes, jika ingin baca junjungi blogku ya..
    ni situsnya http://cobacobasinopsis.blogspot.com/2014/04/angel-eyes.html
    terima kasih

    ReplyDelete
  5. Oh ya mbak dee, ditunggu sinopsis episode selanjutnya

    ReplyDelete
  6. akhirnya diposting ep 4 nya~
    ditunggu part 2 nya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eps 4 ini sudah lengkap, kok, he he

      Delete
  7. Mbk...sinopsis wonderful days nya kok ga dilanjutin y... Pnasaran lanjutannya. Btw, drama yg ni bgs bgt, pnuh teka teki masa lalu nya dae gu...

    ReplyDelete
  8. Akhirnya di post jg,galau nih blak blik ke blog nungguin episode 4 g nngol2.xixi..
    Drama yg pnuh teka teki,serasa iktan jd dtektif.

    ReplyDelete
  9. Ya ampun dramanya daebak! Kerenn deh~
    semangatt untuk nglanjutinnya mba :)

    ReplyDelete
  10. thx mba sinopsisnya.. hehe baru baca lagi :)

    ReplyDelete
  11. Tae Il ko godain Jin Gook?? Jgn2?!
    Omg... andawe *lebay sektika XD
    Hahaha... lucu bgt pas Dae Gu sama Sun ngaku pasangan, pake sgla bolang bayi pula.
    Wkwkwk XD

    ReplyDelete
  12. mba dee episode 6 blm di posting ya..

    ReplyDelete
  13. Woo Shik, itu Woo Shik kasian bener jadi cameo yang terzolimi oleh keadaan... kekeke... ga nyangka itu woo shik... XD

    ReplyDelete
  14. thanks sob untuk postingannya...
    article yang menarik,saya tunggu article berikutnya yach.hehe..
    maju terus dan sukses selalu...
    salam kenal yach...
    kunjungi blog saya ya sob,banyak tuh article2 yang seru buat dibaca..
    http://chaniaj.blogspot.com/ dan situs kesayangan kami http://oliviaclub.com
    serta sites.google kebanggaan kami https://sites.google.com/site/pokeronlineterpopuler/

    ReplyDelete