May 5, 2014

Three Days Episode 15 - 2

Three Days Episode 15 – 2


Direktur Kim mulai menembak sementara Presiden berlari sekencang-kencangnya keluar sekolah. Tapi jumlah anak buah Kim Do Jin lebih banyak, jadi Direktur Kim hanya bisa bertahan, mengulur waktu agar Presiden bisa melarikan diri.

Akhirnya Pria Falcon yang menjadi polisi gadungan, berhasil menembak Direktur Kim hingga jatuh. Melewati Direktur Kim yang meregang nyawa, mereka segera mengejar Presiden. Salah satu orang tinggal dan mengarahkan senapannya, bersiap-siap mengakhiri nyawa Direktur Kim.


Terdengar suara tembakan. Dan orang itu terjatuh. Ternyata Tae Kyung berhasil menemukan mereka.


Tae Kyung segera memeriksa kondisi Direktur Kim, tapi Direktur Kim malah menyuruhnya pergi. Tae Kyung enggan meninggalkan Direktur Kim, tapi menyadari perintah atasannya itu benar. Misi mereka belum berhasil. Maka ia pun segera berlari pergi.

Sesaat kemudian, Direktur Kim meninggal.


Tentara akhirnya sampai di sekolah. Melihat dua agen PSS tewas, mereka langsung waspada dan berpencar mencari.


Sementara Presiden lari, berusaha agar lepas dari kejaran anak buah Kim Do Jin. Ia melintasi padang rumput, dan sampai ke jalan raya. Ada sebuah mobil yang berhenti saat melihat Presiden.

Kim Do Jin, kah?


Tae Kyung mengejar ke arah anak buah Kim Do Jin pergi. Tapi ternyata tentara berhasil membuntutinya. Mereka langsung mengarahkan senapan pada Tae Kyung, menyuruhnya berhenti.


Kesal, merasa déjà vu dengan perlakuan ini, Tae Kyung berbalik dan berkata kalau mereka tak punya banyak waktu, karena mereka harus menemukan Presiden. Tapi para tentara itu masih tak mau menurunkan senjatanya, membuat Tae Kyung membentak frustasi, “Kita tak punya waktu lagi!”


Saat bersama tentara, CP Mong mendengar perintah agar para tentara menuju ke kuil Yangjinri karena Presiden ada di sana. CP Mong meminta tentara itu untuk berhenti sebentar.


Mobil berhenti, dan tembakan meletus. CP Mong telah menembak mati mereka. Setelah membuang tubuh kedua tentara itu di pinggir jalan, CP Mong meneruskan informasi tersebut pada anak buah Jaesin, “Kalian harus segera ke sana. Datanglah lebih dulu sebelum para tentara itu.”


Semua anak buah Jaesin minus dua polisi gadungan, tiba di kuil Yangjinri bersamaan dengan CP Mong. Tapi tak ada tanda-tanda keberadaan Presiden. CP Mong berkata Presiden pasti ada di sini karena itulah yang ia dengar dari walkie talkie.


Tiba-tiba ada lampu yang menyorot mereka dan satu pasukan muncul dari atas, siap menembak. Suara komandan pasukan menggema, menyuruh mereka untuk meletakkan senjata dan menjatuhkan diri.


CP Mong meletakkan senjata ke tanah, diikuti yang lainnya. Dan ia terperangah saat melihat seseorang muncul dari balik tentara itu. Tae Kyung, yang memandangnya dengan penuh dendam kesumat.


Kilas balik. Tae Kyung dibebaskan dari borgolnya, dan komandan pasukan berkata kalau mereka telah memverifikasi dengan pihak Blue House yaitu Cha Young, yang  sangat cemas karena kehilangan kontak dengan Tae Kyung.


Mereka belum berhasil menemukan Presiden, tapi mereka akan menurunkan perintah penahanan CP Mong. Tapi Tae Kyung mempunyai ide dan bertanya, “Bisakah kita menyampaikan pesan terpisah pada tentara yang membawanya?”

Komandan itu bingung, maka Tae Kyung menjelaskan, “Beritahu pada mereka kalau kita telah menemukan Presiden.”


Dan inilah hasilnya. Tae Kyung menghampiri CP Mong dan memukul wajahnya lagi. “Apa kau sadar ada berapa banyak agen yang mati karenamu? Kenapa? KENAPA?!”


Mata Tae Kyung berkaca-kaca, tapi CP Mong itu hanya diam. Komandan Pasukan menarik Tae Kyung dan menenangkannya.

14 Maret Pukul 19.10


Cha Young melaporkan kondisi terkahir pada Perdana Menteri kalau CP Mong dan orang-orang Jaesin sudah tertangkap, tapi Presiden masih belum bisa ditemukan. Cha Young mendapat telepon dari Bo Won yang memberitahukan kalau ia berhasil menangkap seseorang.


Siapa lagi kalau bukan Asisten Jaksa. Horee.. rasanya musuh Bo Won yang benar-benar musuh itu adalah asisten Jaksa Choi ini, deh. Bagaimana ceritanya?


Si asisten mendatangi ruang kerjanya dengan membawa satu jerigen bensin. Di ruangan gelap itu, ia mulai menyiramkan bensin ke lantai dan meja-meja yang penuh berkas. Ia mengeluarkan pemantik api, bersiap membakar semuanya.


Tapi belum sempat api dinyalakan, lampu menyala. Bo Won masuk ruangan dan tersenyum sinis saat melihat asisten itu kaget, “Sekarang kau membakar gedung? Kau ingin melenyapkan barang bukti seperti kau melenyapkan Jaksa Penuntut Khusus? Kau pikir ini bisa menutup semuanya?”


Pulih dari rasa kaget, si asisten itu balas tersenyum sinis, “Apa kau pikir kau sendirian bisa menghentikanku?” Ia membuka tutup pemantik itu.


Tapi Bo Won tak panik, malah menyuruhnya untuk melakukannya.”Aku tak berniat untuk menghentikanmu. Nyalakan saja apinya.” Tantangan itu malah membuat si asisten ragu. Bo Won mengatakan kalau Jaksa Choi telah memindahkan semua barang bukti setelah tahu kalau si asisten itu adalah pengkhianat. “Dan ia memintaku untuk menunggu di sini karena tahu kalau kau akan kembali.”


“Ia memintamu? Si.. siapa?” Si asisten menjadi gugup.

“Jaksa Penuntut Khusus, Choi Ji Hoon,” jawab Bo Won perlahan dan tersenyum.

“Choi itu sudah mati!”


“Tidak. Beliau masih hidup.” Dan kita melihat Jaksa Choi terbaring di rumah sakit, walau masih belum sadar. 


Bo Won pun memberikan satu hal lagi yang belum diketahui si Asisten. “Aku tak datang sendirian.”


Si asisten terbelalak melihat polisi muncul ke ruangan. Bo Won menikmati detik demi detik wajah asisten itu menjadi pias dan berkata, “Jadi jika kau ingin menambahkan pembakaran gedung pada daftar kejahatan yang kau lakukan, silahkan saja. Atau kau bisa ikut dengan kami dan bekerja sama. Aku tahu kau pasti tahu mana yang paling baik. Kau kan juga pengacara.”


Yay! Go Bo Won, Go!


Bo Won memberitahu Cha Young kalau si asisten mau buka mulut karena tahu hukumannya akan diperingan jika bekerja sama. Asisten itu tak tahu di mana Kim Do Jin berada, tapi ia mengatakan sesuatuu yang mengusik perhatiannya. Si asisten itu menyebutkan kalau saat ia sedang bersama dengan anak buah Kim Do Jin, ia melihat empat truk yang pergi, tapi ia tak tahu apa isinya.

Bo Won khawatir kalau Kim Do Jin merencanakan sesuatu yang lain. Cha Young pun khawatir mendengar informasi ini.


Tae Kyung menunggui teman-teman PSS yang menjadi korban di sekolah, dibawa dengan ambulan. Saat tubuh Direktur Kim akan dibawa masuk mobil jenasah, Tae Kyung menghentikan para petugas itu.


Direktur Kim tewas dengan mata terbuka, dan Tae Kyung menutupkan mata itu. Ia teringat bagaimana atasannya meyakinkan kalau ia akan melindungi Presiden. Bagaimana atasannya itu memberi tepukan terakhir di lengannya, untuk menenangkannya. Atasan itu sudah tak ada lagi.


Komandan pasukan memberitahu Tae Kyung kalau semua pelaku telah ditangkap, walau semuanya bungkam. Tae Kyung memberitahu kalau orang-orang itu adalah suruhan Kim Do Jin dan masih ada beberapa orang yang belum ditangkap. Orang itu memakai seragam polisi.


Polisi gadungan itu ternyata sudah berkeliaran di kota, mencegat mobil yang lewat, katanya mencari orang yang mencurigakan. Salah satunya adalah seorang ahjumma yang mengendarai mobil sedan.


Ahjumma itu malah balik bertanya, “Seorang yang mencurigakan? Seperti siapa?”


Tahu kalau ia tak bisa menjelaskan lebih rinci (Seperti ‘Itu loh, bu. Orang yang mirip Presiden’), polisi gadungan itu membiarkan ahjumma itu lewat.


Coba saja kalau polisi itu menyebutkan yang mereka cari adalah Presiden, mungkin saja Ahjumma itu berkata lain, karena Ahjumma itu ternyata memang membawa Presiden yang sedari tadi bersembunyi di kursi belakang. Ahjumma itu berkata datar, “Anda berkata kalau Anda ingin pergi ke kamp tentara terdekat?”


Presiden mengiyakan. Ternyata mobil yang berhenti di hadapan Presiden tadi itu mobil ahjumma ini, yang langsung menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya karena ia mendengar suara tembakan.



Ahjumma itu berkata kalau 16 tahun yang lalu, suaminya meninggal saat  pergi bertemu teman-temannya. Ia melihat ke spion dan menatap Presiden. “Saya tak tahu apa yang orang lain pikirkan, tapi saya merasa bersyukur.”

Ia bercerita kalau selama 16 tahun ini, anaknya selalu bertanya, kenapa ayahnya meninggal. Tapi ia tak bisa memberinya jawaban. Suaminya bukanlah polisi atau tentara, hanya seorang supir taksi. Tapi mengapa Korea Utara harus membunuhnya. “Tapi setelah Anda menjelaskan pada saya, saya merasa lebih lega.”

Presiden termenung mendengar ucapan wanita itu.


Cha Young menelepon Tae Kyung dan memberitahu informasi truk yang tadi disampaikan Bo Won. Kim Do Jin mengirimkan sesuatu ke Yangjinri. Ia sedang menyuruh orang untuk memeriksa keberadaan truk-truk itu melalui CCTV di jalan tol.


Jaksa (yang selama ini menggantikan Jaksa Choi) melihat Bo Won masih berdiri menunggu di luar ruang pemeriksaan. Bo Won berkata kalau ia khawatir tentang truk-truk itu. Jaksa itu meminta Bo Won untuk pulang saja, karena dengan Bo Won menunggu di luar, juga tak ada gunanya.


Tapi Bo Won hanya tersenyum sopan dan mengangguk, tapi enggan meninggalkan tempatnya berdiri. Akhirnya Jaksa itu berkata, “Kalau kau ingin melihat pemeriksaan dari ruang sebelah, kau diperbolehkan.”


Kali ini Bo Won tersenyum bersemangat dan berterima kasih.


Saat di dalam ruang observasi, Bo Won mendapatkan jawaban mengapa para tersangka itu tak mau mengaku. Di dalam ruangan, selain interrogator, ada penyelidik yang dulu pernah menyelidikinya dan meremehkan kesaksiannya. Ia mengatakan kecurigaan itu pada Jaksa.


Mereka berdua pun masuk ke ruang interogasi dan menyuruh penyelidik untuk keluar ruangan. Penyelidik itu bukan hanya dibebastugaskan dari kasus ini, tapi juga akan diselidiki setelah ini.


Jaksa itu pun akhirnya menanyai sendiri pria bertato. Pria bertato itu mulanya masih bungkam, tapi akhirnya buka mulut juga tentang isi truk itu. Dia menjawab, “Kim Do Jin hanyalah alat Falcon. Falcon hanya butuh anjing gila seperti Kim Do  Jin. Semakin Korea tak stabil, mereka akan semakin untung.”


Bo Won bertanya tentang isi truk-truk itu. Pria bertato itu hanya tersenyum, “Menurutmu apa?” Melihat ekspresi Bo Won, pria bertato itu meneruskan, “Isinya persis seperti yang kau pikirkan. Sesuatu yang jauh.. jauh lebih kuat.”


Walau Presiden diam, Ahjumma itu meneruskan monolognya. Ia meminta Presiden untuk berhati-hati karena penduduk Yangjinri masih banyak yang membenci Presiden. Apalagi banyak hal aneh yang terjadi seperti tembakan yang tadi terdengar, juga banyak orang aneh yang berkeliaran di kota sejak kemarin malam.


Ucapan ahjumma itu menarik perhatian Presiden. Ahjumma itu menjelaskan kalau ada truk yang sama di mana-mana dan banyak orang asing. “Saya menjadi gampang panik setelah kejadian 16 tahun yang lalu itu.”

“Truk? Apakah truk ini masih ada di kota?”

“Saya rasa ada salah satu truk yang diparkir di jembatan,” jawab ahjumma itu. Ia memandang sekeliling dan menunjuk, “Itu di sana! Truk itu!”


Presiden memandangi truk itu. Apa yang sebenarnya dipikirkan Kim Do Jin?


Presiden meminta ahjumma itu berhenti di dekat truk dan ia keluar dari mobil. Ia tak mempedulikan ucapan ahjumma itu yang memberitahu kalau sebentar lagi mereka akan sampai di kamp tentara. Presiden Lebih ingin tahu apa isi truk yang mencurigakan itu.


Kim Do Jin yang diberitahu kalau anak buahnya telah ditangkap, tak tak merasa khawatir. Sepertinya ia tak mempermasalahkan jumlah anak buahnya yang berkurang drastic. Ia lebih peduli pada anak buahnya yang belum bisa menemukan Presiden karena ada tentara yang berpatroli dan mereka takut ketahuan.

Ia pun memutuskan, “Kalau begitu, mari kita buat ia keluar dengan inisiatif sendiri”


Kim Do Jin mengeluarkan handphone yang sama seperti yang digunakan pria Jaesin untuk meledakkan bom di bis. “Selamat karena Anda berhasil tiba di Yangjinri.”

Ternyata Kim Do Jin ternyata sudah merencanakan hal ini sejak pengacaranya datang membawa secarik pesan dari mata-mata dari Blue House : Presiden akan ke Yangjinri besok pukul 17.30.


Anda telah membuatku datang kemari, padahal saya sebenarnya tak ingin. Kim Do Jin memainkan handphone detonator itu dan berkata sendiri, “Aku akan membuatmu kehilangan semuanya, sama seperti yang aku derita.”


Presiden membuka terpal penutup truk dan melihat ada koper di dalamnya. Lampu hijau berkedip-kedip, menunggu perintah dinyalakan. Presiden bergumam panik, “Tidak .. Tidak..”


“Lihatlah apa yang terjadi karena Anda,” Kim Do Jin tersenyum gila dan memencet tombol SEND di handphone.

Di samping lampu hijau, sekarang muncul angka yang menghitung mundur. 5.. 4.. 3.. 2.. 1..

Presiden berteriak, “TIDAAKK!!”


Dan bom pun meledak. Suaranya mengagetkan semuanya. Penduduk Yangjinri panik dan kebingungan, lari keluar rumah.


Di kamp tentara, Tae Kyung yang sedang menelepon Cha Young, juga mendengar bunyi tembakan itu. Ia saling berpandangan dengan komandan pasukan.


Di ruang kendali Blue House, salah seorang staf melihat titik ledakan dari satelit. ”Telah terjadi ledakan di Yangjinri. Ledakan bom!”


Damn.. Kim Do Jin benar-benar sudah gila.

14 Maret, Pukul 19.30

Komentar :


Inilah mengapa seorang yang memegang tampuk kekuasaan harus melewati fit and proper test. Kalau tidak, ya seperti ini. Fakta akan diputarbalikkan.

Kita banyak melihat raja/penguasa yang berhasil membawa negara/kerajaannya menjadi negara/kerajaan yang disegani oleh negara/kerajaan lainnya. Tapi banyak pula raja/penguasa yang cukup edan dan tak peduli pada nasib penduduknya.

Kim Do Jin dan Jae Kyung (My Love From Another Star) salah duanya. Mereka menjadi penguasa, karena mendapat mandat dari orang tuanya. Mereka adalah generasi ketiga atau keempat dari sebuah bisinis konglomerasi. Mereka tak melewati fit and proper test. Mereka bukan presiden/perdana menteri yang dipilih oleh rakyat. Atau Direktur yang dipilih melalui RUPS.

Kim Do Jin menjadi gila. Pertama gila karena ingin mendapat uang lebih banyak lagi, jauh dari yang semua orang pernah bayangkan. Dan kedua, gila karena kehilangan semua investasi yang ia lakukan untuk mengantisipasi krisis yang diperkirakan akan muncul setelah adanya terror dan kemungkinan ia akan masuk penjara.

Saya percaya Presiden tak akan mati. Karena sebelumnya, kita melihat Presiden dan Kim Do Jin berdiri berhadap-hadapan di sebuah jembatan. Tapi bagaimana caranya? Apakah koper itu akan dibuang? Atau ahjumma itu ternyata adalah penjinak bom?


Bicara tentang Bo Won, saya suka sekali aksinya di episode ini. Ia berhasil men-skak mat musuhnya. Tak hanya satu, tapi dua. Si asisten dan detektif berkaca mata itu. 

Tae Kyung-ssi.. jangan pernah macam-macam dengan Bo Won, ya.. 


Btw, handphone yang digunakan sebagai detonator kan handphone touchscreen. Dan handphone itu tak memakai case atau penutup. Apa Kim Do Jin nggak takut tombol SEND-nya tiba-tiba kepencet, ya? Handphone saya aja sering kepencet tanpa sadar, pas ada di dalam tas atau saku. Untung aja cuman nelepon ke orang lain atau nge-send WA yang ngawur. Lah ini.. kepencet sedikit, meledak loh…



8 comments :

  1. wihh satu episode 1...gomawo onnie sinopsisnya.. ^^
    sempet bingung sama komentar pas bagian "salah duanya" hahaha.. :D
    next project nya drama apa eon? :o

    ReplyDelete
  2. Bo Woon keren....gomawo mbak Dee...

    ReplyDelete
  3. Sy g yakin dgn tampang seperti itu c ahjuma seoarng pejinak bom .. hahaha

    Dri tadi sore yg sy tunggu bukan lah lanjutan cerita part 2 nya tapi komentar apa yg mba Dee tulis .. hahaha

    Episode terakhir ada di mba Fanny ya .. okeh dehh kita nunggu komentar pamungkasnya .. haha

    ReplyDelete
  4. akhirnya part2 nya keluar... ga puas kalo cuma baca spoilernya aja

    ReplyDelete
  5. Yeeeaaayyyy akhir.a komen jg, ne komen prtma q loh oenni ᵔ.ᵔ Stlh sekian lama jdi silent reader ^( '-' )^
    Jongmal gomawo oenni bwt sinop2 yg keren2 ini, gra2 sinop dri oenni Dee, fanny n oenni irfa aq jdi gag ktinggalan drakor. Smgt trz yɑ̤̈ªªª nulis sinop.a dtggu project stlh 3 days. Oiiaa lupa slam kenal yɑ̤̈ªªª oenni Ơ̴̴͡.̮Ơ̴̴̴͡

    ReplyDelete
  6. gomawo sinopnya onnie.. ^^
    eon kalo misalkan aku pengen copas tapi pas bagian yg quotes nya boleh ga? :o boleh yah.. :D
    soalnya aku suka posting quotes KDrama di blog aku (www.zelinworld.blogspot.com).. :)

    ReplyDelete
  7. Teriak2 gak jelas pas eps ini!!! Mati, Mati dan Mati :( Gila!! Do jin!
    Btw, gomawo buat sinopsis nya ^^

    ReplyDelete