May 3, 2014

Three Days Episode 15 - 1

Three Days Episode 15

14 Maret Pukul 18.00


Saat alat komunikasi Direktur Kim menjerit nyaring, saat itulah Direktur Kim menyadari kalau mereka mendapat serangan EMP lagi. Buru-buru ia berkata pada Presiden kalau mereka harus segera mengevakuasi Presiden.


Belum sempat Presiden bergerak, terdengar rentetan tembakan. Para agen PSS yang menjadi ring 1 segera mengelilingi Presiden, melindunginya. Tapi mereka belum bisa mengidentifikasi dari arah mana tembakan itu.



Ring 2 yang terdiri dari agen PSS dan tim SAT telah melihat musuh lebih dahulu. Beberapa mobil datang dengan membawa pasukan bersenapan yang menembak secara membabi buta. Agen PSS di ring 2 pun berjatuhan


Musuh  sudah mengejar ring 1. Salah satu agen melihat boks telepon umum (satu-satunya telepon yang berfungsi) dan berkata kalau ia akan mencoba menelepon Blue House. Direktur Kim mencegah, tapi agen itu tak mengindahkan larangan Direktur Kim.


Ia berlari sambil menembakkan pistolnya ke arah musuh. Berhasil. Tak butuh waktu lama untuk agen PSS itu untuk mencapai telepon umum. Tapi belum sempat ia memencet nomor Blue House, peluru panas sudah menembus tubuhnya.

Wajah Presiden pias melihat satu demi satu pengawalnya berguguran.


Tae Kyung akhinya tiba di Monumen Yangjinri. Tapi sudah terlambat karena monumen itu telah sepi, hanya mayat-mayat bertebaran di mana-mana. Mayat teman-temannya. Ia berjalan memeriksa satu persatu temannya. Tak ada yang selamat.


Ia menemukan sebuah bom EMP di mobil. Ia pun mengira-kira; jika dulu 4 bom EMP bisa merusak elektronik sejauh 30 km, maka satu bom EMP di bagasi mungkin hanya bisa merusak elektronik dalam radius 1 km saja.


Ada satu orang temannya yang masih hidup tapi sudah sangat lemah. Darah keluar dari dadanya. Tae Kyung segera menelepon 911 dan memberitahu apa yang terjadi di Yangjinri, meminta bantuan. Terbata-bata, temannya itu memberitahu Tae Kyung kalau Presiden bersama Direktur Kim pergi ke Memorial Tower.


Tak tega meninggalkan temannya, tapi tugas melindungi Presiden merupakan kewajibannya; maka Tae Kyung pun melepaskan jaketnya dan menekan jaketnya ke dada temannya itu, mencegah darah agar tak keluar lebih banyak lagi. “Bertahanlah..”


Tae Kyung pergi ke Memorial Tower. Beberapa rekan-rekannya yang menjadi ring 1, tewas bersimbah darah. Di area ini, hanya ada bak sampah yang bisa menjadi tempat persembunyian Presiden, tapi Presiden taka man jika terus berada di balik bak sampah. Presiden harus melarikan diri.


Dari posisi agen PSS ring 1 yang terkapar, nampak kalau mereka menjadi perisai bagi Presiden yang melarikan diri. Perlahan Tae Kyung berjalan di balik bak sampah. Cemas dan berharap agar yang ia khawatirkan tak ada di sana.


Tae Kyung menarik nafas lega melihat balik bak sampah itu kosong. Direktur Kim berhasil mengevakuasi Presiden. Tapi di mana? 


Ia pun menelepon Cha Young, satu-satunya rekan yang bisa ia percayai di Blue House, memberitahukan kalau Presiden menghilang. “Temui Menteri Keamanan dan beritahu Perdana Menteri.”


Cha Young pun menemui Menteri Keamanan dan bersama-sama mereka menemui Perdana Menteri. Setelah semua terkumpul, Cha Young memberitahukan kalau telah terjadi pertempuran di Yangjinri yang membuat Presiden menghilang. Mereka tak bisa berkomunikasi dengan rombongon Presiden setelah ada ledakan EMP.

Salah satu dari mereka mengusulkan untuk segera mengirim polisi dan tentara. Dengan adanya ledakan EMP, Presiden pasti tak bisa menggunakan mobil sehingga pencarian bisa dilakukan di sekitar Yangjinri. Perdana menteri heran, siapa pelaku semua tindakan ini?


Cha Young menjawab kalau pelakunya adalah Kim Do Jin. “Menurut laporan polisi, dia pergi menggunakan helicopter. Ia pasti sedang menuju Yangjinri.”


Maka tentara dan polisi pun dikerahkan. Tentara menjaga Yangjinri, memperbolehkan orang keluar kota Yangjinri, tapi melarang orang untuk memasuki Yangjinri. Penduduk setempat diminta untuk tinggal di rumah masing-masing.


Di dalam mobil, Kim Do Jin melihat-lihat pemandangan Yangjinri dan berkata dalam hati, “Lihatlah. Saya akan tunjukkan harga dari kebenaran yang sangat ingin Anda lindungi itu. Anda akan melihat bagaimana saya akan membinasakan Yangjinri.”


Cha Young menemui tim PSS yang tak bertugas lapangan. Menurut scenario, jika Presiden dalam bahaya, Presiden akan diungsikan di titik evakuasi yang berjarak sekitar 1 km. Di titik evakuasi, sudah ada 2 agen PSS dan sebuah mobil yang siaga.   Cha Young mengatakan kalau Tae Kyung sekarang sedang menuju ke titik evakuasi tersebut. Sementara tim PSS akan pergi ke Yangjinri menggunakan helicopter yang akan terbang 10 menit lagi.

Hmm.. Masih sempatkah tim PSS cadangan untuk menyelamatkan Presiden?


Kim Do Jin dan pasukannya mendatangi Monumen Yangjinri yang sudah bersih, menginjak garis kapur yang menandakan tempat para agen PSS gugur. Di depan marmer bertuliskan 24 nama korban Yangjinri, Kim Do Jin tersenyum sinis. “Anda melakukan ini semua hanya karena sebuah batu ini?”


Ia berbalik dan mengangguk pada anak buahnya. Mereka pun berpencar mencari, meninggalkan Kim Do Jin sendiri yang berdiri jumawa. Lihatlah, sebentar lagi Yangjinri akan binasa. Di sini akan ada satu batu lagi yang tak ada gunanya.

14 Maret Pukul 18.35


Tae Kyung mendatangi titik evakuasi, sebuah galeri seni. Dengan pistol di tangan, Tae Kyung masuk ke dalam galeri. Tak ada orang di sana. Tiba-tiba di belakang Tae Kyung, muncul seseorang. Tae Kyung langsung mengarahkan pistolnya.


Orang itu tak bersenjata. CP Mong.


Ya ampun.. jangan..


Tae Kyung menurunkan pistolnya dan melihat tangan CP Mong berdarah.  Dengan wajah bingung, CP Mong menjelaskan kalau ia sedang berada di bis saat terjadi penembakan. Ia tertembak dan tak sadarkan diri. Saat sadar, Presiden dan Direktur Kim sudah menghilang, maka ia pun mendatangi titik evakuasi.

Tae Kyung bertanya tentang agen PSS yang berjaga di galeri. CP Mong menjawab kalau mereka keluar mencari Presiden setalah ia beritahu tentang kejadian ini. Tae Kyung bertanya lagi tentang EMP yang berada di mobil Presiden.


CP Mong menjawab, “Pasti Chief Lee. Mobil sudah diperiksa dan tak ada apapun di sana. Kemudian Chief Lee datang untuk memeriksa peralatan di dalam mobil. Pasti barang itu ditaruh saat itu.”


Tae Kyung menatap CP Mong setengah curiga. CP Mong berkata yang penting sekarang adalah posisi Presiden sekarang. Apakah Tae Kyung juga tak tahu keberadaan beliau? Apa Direktur Kim tak menghubungi Tae Kyung?

Tae Kyung belum menjawab saat handphone-nya berbunyi. CP Mong yang malah antusias dan bertanya apakah yang menelepon itu Direktur Kim? Tae Kyung melihat handphone dan menjawab singkat, “Agen Lee Cha Young.”


Ia menjauh dari CP Mong dan mendengar ucapan Cha Young yang berkata kalau tentara dan polisi sudah menuju Yangjinri. Tae Kyung melirik CP Mong sebelum ia mengiyakan dan berkata, “Baiklah. Aku akan segera ke sana.”


CP Mong mendekati Tae Kyung dan bertanya apakah posisi Presiden sudah diketahui? Tae Kyung menjawab. “Direktur Kim sudah menelepon. Ia menelepon dari telepon darurat di jalan raya 17 antara monument dan kota Yangjinri. Mereka ada di sana sampai bantuan datang.”


CP Mong berterima kasih atas bantuan Tae Kyung dan beranjak pergi. Tae Kyung mengikuti namun ditahan oleh dua orang Jaesin yang mendadak muncul dan mengarahkan pistol kepadanya.


Sepertinya kedua orang itu masih amatir, karena tak segera menembakkan pistol. Tae Kyung mengambil kesempatan ini dengan menggunakan jurus Taekwondo-nya untuk melucuti pistol kedua orang itu. Sedikit jurus Jacky Chan, yang menggunakan kursi, patung dan pigura lukisan, digunakan Tae Kyung untuk menghadapi mereka berdua.


Tae Kyung terdesak hingga terdorong ke sebuah ruangan. Tapi di sana ia menemukan dua agen PSS, yang menjaga titik evakuasi, telah tewas. Tae Kyung sangat marah dan dengan kemarahannya itu, tak butuh waktu lama bagi Tae Kyung untuk menjatuhkan keduanya dan melarikan diri.


Setelah diberitahu oleh CP Mong, pasukan Jaesin segera menuju ke Jalan Raya 17. Tapi tak ada orang di sana dan telepon darurat itu juga mati. CP Mong kaget saat diberitahu kalau mereka telah ditipu. Belum sempat ia melakukan apapun, lengannya ditarik dan wajahnya ditonjok oleh Tae Kyung.


Lucunya, CP Mong malah bertanya dengan ekspresi terkhianati, “Kau telah berbohong dan menipuku?”

Ughh.. puhleaaseee.. Dari kilas balik, kita tahu kalau sebelumnya Tae Kyung diberitahu oleh Jaksa tentang kesaksian Chief Lee yang malah bertolak belakang dengan informasi CP Mong. Tae Kyung belum tahu siapa yang benar, tapi sekarang ia tahu.


Tae Kyung berteriak marah. “Kau ini adalah bagian dari tim PSS. Betapa teganya kau!” Ia memukul CP Mong lagi. Dan lagi dan lagi.


Ia baru berhenti saat ada tembakan mengarah padanya. Kedua orang di galeri itu rupanya belum mati dan sekarang mengejarnya. Tae Kyung segera melarikan diri.


Ternyata suara tembakan itu terdengar oleh tentara yang lewat. Mereka langsung mencari sumber suara dan menemukan CP Mong. CP Mong mengangkat tangan dan menunjukkan tanda pengenal PSS-nya. Para tentara segera menurunkan senapan mereka.


CP Mong memberitahu kalau salah satu pelaku sekarang melarikan diri. “Ia pergi ke arah jam 11, memakai celana hitam dan jas hitam.  Agen Han Tae Kyung.”

Para tentara pun ikut mengejar Tae Kyung.


Tae Kyung akhirnya berhasil meloloskan diri dari kejaran musuh. Walau Presiden masih menghilang, tapi ia tahu kalau pihak lawan juga masih belum mengetahui lokasi Presiden. “Presiden sekarang masih aman. Tapi beliau ada di mana?”

Ia pun berpikir. Ohh.. saya suka jika Tae Kyung dan Bo Won mulai berpikir dan menganalisa.

Tae Kyung berpikir, jika rombongan Presiden terkena bom EMP, yang mereka butuhkan sekarang pasti adalah handphone dan mobil. Dan jika mereka mengetahui kalau CP Mong adalah mata-mata Jaesin, mereka pasti juga menghindari titik evakuasi. Tempat lain untuk mendapatkan handphone dan mobil adalah kota Yangjinri.


Tae Kyung melihat peta dan membaca kalau jalan menuju Yangjinri adalah jalan raya 17 dan 20. Tapi jika melewati jalan besar, resiko ketahuan oleh anak buah Kim Do Jin pasti lebih besar.


Tepat seperti dugaan Tae Kyung, rombongan Presiden menuju kota Yangjinri dengan melintasi hutan. Tapi di tengah jalan, Presiden berhenti. Para agen PSS pun juga menghentikan langkahnya. Presiden bertanya, ragu. “Apakah kita harus pergi ke sana? Apakah tak ada ara lain selain pergi ke Yangjinri?”


 “Apakah Anda khawatir kalau akan terjadi hal yang sama lagi di Yangjinri? Apakah Anda takut kalau penduduk di sana akan terluka lagi karena Anda?” tanya Direktur Kim. Presiden berbalik dan menatap Direktur Kim yang dapat menebak pikirannya.


Direktur Kim memastikan kalau penduduk sudah banyak yang kembali ke rumah masing-masing. Ia pun berjanji, “Bahkan jika terjadi adu tembak, kami akan melindungi penduduk sama seperti kami melindungi Anda.”


Tae Kyung cukup yakin kalau rombongan Presiden menuju ke Yangjinri. Tapi kemana? Ia teringat akan sebuah briefing saat para agen PSS mensimulasikan protocol evakuasi Presiden. Saat itu salah satu agen PSS bertanya jika terjadi scenario terburuk : titik evakuasi pertama dan kedua semua dalam bahaya, apa yang harus mereka lakukan?


Jika datang ke kantor polisi atau stasiun, musuh pasti juga akan berpikiran sama. Tapi jika tak mengikuti protocol, maka mereka tak akan bisa menemui tim cadangan.


Tiba-tiba pintu terbuka. Para agen muda itu langsung berdiri, tak menyangka kalau Chief Ham mendengarkan dari luar. Chief Ham tersenyum dan bertanya pada para agen PSS, “Misalkan ada tembakan dan bom yang muncul dalam sebuah event yang menyebabkan semuanya mati kecuali VIP dan salah satu dari kalian. Keadaan darurat. Apa yang pertama kali ada di pikiran kalian?”


Para agen berpandangan, tak tahu jawabannya. Chief Ham pun melanjutkan, “Adalah penting untuk mengetahui apa yang VIP ingin lakukan. Apa yang biasanya VIP sukai, bagaimana gerakannya, kesukaannya, alasan dari keputusannya.. Bacalah pikiran VIP. Itulah yang harus kalian lakuan agar kemungkinan hidupnya menjadi tinggi.”


Chief Ham menjelaskan kalau titik evakuasi, protocol keselamatan dan pasukan cadangan hanyalah alat untuk penyelamatan Presiden. Tapi yang paling penting dalam menyelamatkan Presiden adalah mengetahui apa yang Presiden inginkan. “Itu adalah prioritas utama kalian. Ketahuilah apa yang VIP inginkan. Itu akan memberikan jawaban untuk kalian.”


Teringat pelajaran yang diberikan Chief Ham, Tae Kyung berpikir pasti Presiden pergi ke tempat yang tak membahayakan penduduk Yangjinri. Dan tempat itu adalah tempat yang tak pernah dikunjungi orang karena semua orang telah pulang ke rumah. Yaitu Sekolah Dasar Yangjinri.


Tebakan Tae Kyung benar. Rombongan Presiden yang terdiri dari Presiden, Direktur Kim dan 5 orang agen PSS memasuki gedung SD Yangjinri. Salah satu agen telah memastikan kalau ada telepon yang berfungsi di dalam sekolah.


Salah satu staf Blue House menyarankan agar mereka mulai bersiap untuk hal yang terburuk. Ia meminta Perdana Menteri untuk mempersiapkan diri karena bagaimanapun juga Presiden sudah memutuskan untuk mengundurkan diri.


Perdana Menteri tampak gugup dan cemas. Tiba-tiba terdengar suara telepon. Telepon yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja.


Dan ternyata benar. Telepon itu dari Direktur Kim yang memberitahu kalau Presiden selamat dan sekarang berada di SD Yangjinri dan mereka meminta bantuan tentara untuk mendampingi mereka.


Instruksi pun dikirim. Para tentara dikerahkan ke SD Yangjinri. Saat keluar ruangan, Cha Young bertemu Chief Lee yang memberitahukan kalau ada pengkhianat lagi di departemen PSS, yaitu CP Mong yang mengetahui semua protocol PSS. Cha Young cemas mendengarnya.


Sayangnya hal itu terlambat. CP Mong, yang sedang mendapat perawatan, mendengar instruksi Blue House yang dikirim lewat radio.


Tae Kyung sedang mencari letak SD Yangjinri saat ia melihat mobil polisi yang lewat. Dan ia melihat sosok  polisi yang dikenal di dalam mobil itu.

Anak buah Kim Do Jin. Si pria Falcon.


Dua agen PSS berjaga di depan gedung sekolah dan muncul dua polisi di hadapan mereka. Mereka meminta tanda pengenal polisi itu. Polisi itu pun merogoh sakunya dan mengeluarkan pistol yang lansung ditembakkan ke dada agen PSS. Polisi gadungan itu ternyata membawa teman-teman lainnya.


Tae Kyung mendengar suara tembakan itu dan berlari ke arahnya. Mereka yang ada di dalam sekolah pun juga mendengarnya. Para agen PSS pun buru-buru mengevakuasi Presiden lagi. Dua orang di depan, satu orang di belakang. Direktur Kim berada di samping Presiden.

Mereka menyusuri koridor sekolah. Hampir saja mereka meloloskan diri, saat terdengar suara rentetan tembakan.


Satu agen PSS kembali gugur. Dua agen PSS lansung membalas tembakan mereka. Tapi jumlah musuh terlalu banyak. Satu lagi gugur.


Hanya tersisa kepala regu, Direktur Kim dan Presiden.

Direktur Kim menatap kepala regu dan memberi instruksi, “Lindungi dari tembakan.” Tanpa ragu, kepala regu mengangguk dan menembakkan peluru-peluru terakhirnya pada musuh.


Pasang badan untuk melindungi Presiden yang mencoba meloloskan diri. Ia berhasil menembak beberapa orang lawan. Tapi jumlah yang tak seimbang membuatnya tak sanggup bertahan. Akhirnya tembakan mengenai tubuhnya. Satu agen kembali jatuh.


Direktur Kim berhasil membawa Presiden keluar gedung sekolah. Tapi musuh berhasil mengikuti mereka. Hanya tinggal selangkah lagi menuju jalan besar.


Presiden melihat tangan Direktur Kim sudah berdarah. Rupanya Direktur Kim tadi terkena tembakan. Tapi Direktur Kim tak mempedulikan hal itu. Ia meminta Presiden untuk bertahan lebih lama lagi karena tentara akan segera datang. “Pergilah lebih dulu.”


Tapi Presiden tak mau. Ia ingin mereka pergi bersama. Direktur Kim menolak. “Saya mohon Anda pergi dan lakukan kewajiban Anda. Dan saya akan kerjakan kewajiban saya.”


Presiden menahan Direktur Kim yang akan maju untuk pasang badan, tapi Direktur Kim berseru memohon, “Pergilah!” Presiden berjanji, “Aku akan tetap hidup. Kau juga harus hidup.”


Direktur Kim mengangguk. Presiden berlari ke jalan besar dan Direktur Kim pergi ke arah sebaliknya.


Bersambung ke episode 15 - 2


10 comments :

  1. yeay udah di post ep 15^^...semangat ya kak:D btw,aku pertama kali coment lohh ckck

    ReplyDelete
  2. aku tunggu kanjutannya ya kak!! Fighting!!^^

    ReplyDelete
  3. Gomawo eonni,ditunggu lnjutannya yaaa.. ga ada lg adegan tk ma bw y mba?hehe..

    ReplyDelete
  4. Unniii, aku masih bingung penulisnya kenapa ngasih judul three days ya? Aku tunggu lanjutannyaaa.. ^^

    ReplyDelete
  5. Ceritanya tll lebay,,, masa' hanya 1 org kimdojin dibuat bisa membunuh bayak org, yg sama skali tdk tersentuh. Gak sebanding tuh nyawanya kimdojin walau dihukum mati, dan ttp gak ada kepuasan pembaca/penonton thdp cerita ini apapun akhir cerita ini. Walau kim dojin akhirnya mati, 1 nyawa kimdojin gak sebanding dgn bayak nyawa yg melayang.

    ReplyDelete
  6. Haaadeewww....bikin bad mood ae....

    Mian mbak dee,menguap smua yg d kpla jd g iso koment nulis opo gegara bc koment di atas...#tepokjidat

    Gomawo mbak Dee,d tggu part2 nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emank napa ma komen aku ? Kan sah2 sj kl komen ceritanya, yg penting gak komen mba'2 yg nulis sinopnya atau komen yg baca sinopnya, (apa lag komen yg bernada negatif)

      Hati2 ntar jidatnya tambah gak beres krn ditepok terus.

      Btw salam kenal buat kamu yg suka tepok jidat. :)

      Salam sayang n makasih buat mba' dee, mb fanny dan mb ifa.

      Delete
  7. yang pengen download video doctor stranger episode 2
    ada subtitle indonesia dan inggris
    http://cyber-sadrach.blogspot.com/2014/05/download-drama-korea-doctor-stranger.html

    ReplyDelete