April 21, 2014

Wonderful Days Episode 4

Wonderful Days / Wonderful Season  Episode 4


Dong Seok segera ke rumah sakit. Dong Ok yang belum pernah bertemu dengan Dong Seok baru-baru ini, tak mengenali Dong Seok yang datang dengan khawatir. Begitu tahu kalau pria yang datang adalah Dong Seok, ia langsung menunduk dan berkali-kali minta maaf, walau Dong Seok menyuruhnya untuk minta maaf. “Kalau kau minta maaf sekali lagi, aku akan marah.”

“Uhh.. oke. Aku tak akan mengatakannya lagi. Maafkan aku. Aku yang salah,” jawab Dong Ok lirih. Dong Seok cukup frustasi mendengarnya.



Untungnya Dong Ok tak apa-apa karena ia memakai helm. Menurut dokter, Dong hok hanya cedera ringan. Sebenarnya yang dokter khawatirkan adalah Hae Won yang mengendarai motor, karena Hae Won tak memakai helm. Dokter menyarankan untuk memeriksakan Hae Won ke rumah sakit yang lebih besar.


Namun Hae Won tak mau keluar dari toilet karena di luar ada Dong Hui. Dong Hui marah-marah karena Hae Won telah mencelakai Dong Ok, “Kalau kau ingin mati, mati saja sendiri, kenapa ajak-ajak?! Dalam hitungan ketiga, kau harus keluar. Kalau tidak, pintu ini akan aku dobrak. Satu, dua, tiga ...”

“Kang Dong Hui!”


Dong Hui menoleh, melihat kakaknya berdiri dengan tenang. Dong Seok menyuruhnya untuk pergi menemui Dong Ok. Tapi Dong Seok tak mau dan terus berteriak mengancam Hae Won, hingga Dong Seok mencengkeram kerah jasnya dan menyuruhnya keras, “Keluarlah!”


Dong Hui balik meneriaki kakaknya namun Dong Seok bergeming. Mereka sudah saling menatap, marah satu sama lain.


Pada saat yang sama, Dong Ok muncul dan memanggil mereka berdua. “Apakah kalian.. berkelahi?” Mata Dong Ok berkaca-kaca. Ia jongkok ketakutan dan memohon agar kedua saudaranya  itu tak berkelahi.


Dong Hui langsung menghampiri kakaknya yang menangis tersedu-sedu dan meyakinkan kakaknya kalau ia dan Dong Seok hanya bercanda, bukannya berkelahi. Ia pun mengajak kakaknya pulang, meninggalkan Dong Seok sendirian di toilet.


Hae Won akhirnya keluar setelah Dong Hui pergi. Dong Seok terbelalak melihat wajah Hae Won yang berdarah-darah. Yang pertama diucapkan Hae Won adalah, “Apakah Dong Ok tak apa-apa? Maafkan aku karena membuat Dong Ok terluka.


Dong Seok tak tahan lagi melihat sikap Hae Won yang seolah tak menganggap penting luka-luka itu dan hanya membersihkannya dengan air.  Ia menarik Hae Won, tak mempedulikan penolakannya.


Dong Seok berhasil memasukkan Hae Won ke dalam mobil. Ia mengambil sapu tangan kemudian menekankan saputangan itu ke kening Hae Won.

Hae Won terkesiap saat Dong Seok tiba-tiba mencondongkan tubuh ke arahnya. Ia diam tak berani bergerak saat merasakan dekatnya tubuh mereka. Dong Seok menggunakan kesempatan itu untuk memasangkan seat belt ke tubuh Hae Won.


Setelah pulih dari kaget, Hae Won bertanya kemana Dong Seok akan membawanya. Dengan singkat Dong Seok menjawab, “Ke rumah sakit yang lebih besar.”

Sepanjang perjalanan Hae Won terus diam. Begitu pula dalam perjalanan pulang setelah di-CT Scan.


Dong Joo dan Dong Won sedang belajar reproduksi manusia. Saat Dong Won masih belum bisa mencerna siapa si merah (sel telur) dan si kuning (sperma) dan bagaimana bisa menjadi bayi, Dong Joo sudah berpikir bagaimana ibu mereka bisa melahirkan mereka padahal saat ibu mereka hamil, ibu sudah masuk usia menopause.


Ia menanyakan hal itu pada Ibu yang masuk dengan membawakan makanan, “Bu, bagaimana mungkin Ibu bisa hamil kami berdua saat Ibu sudah menopause?”

Dong Won yang merespon, “Menopause, apa itu? Apakah itu makanan?”  Ha. Dong Joo menyuruhnya diam. “Aku akan menjelaskannya nanti kalau kau sudah dewasa.” LOL.


Ibu tak tahu bagaimana menjawabnya. Ia mengalihkan perhatian dengan menjawab kalau ia lupa sedang merebus sesuatu dan segera pergi. Dong Joo merasa semakin aneh dan menduga pasti ada yang tak beres.


Ibu menceritakan hal tersebut pada Yeong Chun dan menyadari kalau anak-anak itu bukan anak kecil lagi. Cepat atau lambat mereka pasti akan mengetahui kalau ia bukanlah ibu kandung mereka dan Dong Hui bukanlah kakak, melainkah ayah mereka. “Berapa lama aku harus menjaga rahasia ini?”


Yeong Chun pun bertanya kenapa dalam ibu tak menaruh nama orang tua asli si kembar dalam akte kelahiran mereka? Ibu memberikan alasan kalau ia tak ingin menghancurkan masa depan Dong Hui. Jika orang lain tahu kalau mereka adalah anak-anak Dong Hui, tak ada yang mau menikahinya. “Maka saat Dong Hui bersikeras ingin memasukkan namanya di akte kelahiran mereka, aku menguncinya di kamar saat mendaftarkan akte kelahiran itu.”

Yeong Chun memuji ibu yang sangat pintar. Ia sendiri tak mungkin melakukan hal seperti itu.


Dalam perjalanan pulang, Dong Ok menceritakan bagaimana kecelakaannya terjadi. Ia yang salah karena saat itu tasnya jatuh dan ia ingin mengambil tas itu. Hae Won pun terluka lebih parah daripada dirinya karena Hae Won menyuruhnya memakai helm, sedangkan Hae Won tak memakai helm sama sekali.


Dong Hui malah menjawab kalau Hae Won pantas menerima hal itu karena Hae Won itu jahat dan tak sopan. Begitu pula dengan Dong Seok. Dong Ok marah mendengar Dong Hui mengatai Hae Won dan Dong Seok. Ia menyuruh Dong Hui untuk menurunkannya dan berjalan pulang dengan terpincang-pincang.

Dong Ok baru mau pulang di-piggyback lagi setelah Dong Hui meminta maaf dan berkata kalau Hae Won dan Dong Seok itu baik. Dong Hui pun juga berjanji tak akan berkelahi dengan Dong Seok.


Hae Won cukup rasional. Walau ia tak suka semobil bersama Dong Seok, ia tetap pulang bersama dengan Dong Seok karena pulang dengan taksi jauh lebih mahal. Tapi ia menolak saat Dong Seok hendak memasangkan seat belt.  Ia  memakainya sendiri dan berkata, “Ini karena aku lelah, sakit, mengantuk dan aku masih belum ingin mati. Jadi aku melakukan apa yang kau inginkan. Jadi jangan sombong dulu.”


Dong Seok memandang Hae Won lama. Sepertinya semua sikap baiknya selalu ditanggapi salah oleh Hae Won, maka ia pun menjawab ketus, “Bagaimana kalau aku berniat seperti itu?”


Hae Won sedikit kaget dengan jawaban itu. Ia pun meminta Dong Seok untuk memberitahukan nomor rekening agar ia bisa mentransfer uang pengganti biaya berobat. Dong Seok meminta nomor HP Hae Won untuk meng-SMS nomor rekeningnya. Hae Won diam dan berkata kalau ia akan memberikan uang itu lewat Dong Hui.

“Apa kau pikir Dong Hui akan mau memberikan uang itu padaku?” tanya Dong Seok. Hae Won diam, menyadari kebenaran ucapan Dong Seok, maka ia menjawab kalau ia akan memerikan melalui Dong Ok saja. Dong Seok bertanya, “Apa kau tak ingin aku mengetahui nomor teleponmu?”


Hae Won tak menjawab, malah memejamkan mata. Dong Seok akhirnya menyerah dan menyetel musik untuk menemani perjalanannya.


Dong Hui membaringkan Dong Ok yang sudah tertidur. Dong Joo menenangkan Dong Hui kalau ibu tak tahu tentang kejadian ini. Pada Ibu ia mengatakan kalau Dong Ok pergi bersama Hae Won dan ia yang akan membukakan pintu untuk Dong Ok.


Dong Hui tersenyum mendengar kepintaran Dong Joo dan mencubit pipinya gemas, “Kau pintar sekali. Turunan siapa sih ini?”


Dong Joo berbinar-binar senang dipuji seperti itu dan menjawab bangga, “Dong Seok oppa!” LOL. Dong Hui kesal sekali mendengarnya dan mencubit pipi Dong Joo lebih keras.


Dong Seok memandangi Hae Won yang tertidur lelap, kadang-kadang merintih kesakitan, tak tega membangunkannya untuk menanyakan alamat rumah Hae Won.


Ia teringat pada Hae Won remaja, yang dengan terus terang mengatakan kalau mimpinya adalah menikah dengannya. Saat itu ia dengan kejamnya menolak Hae Won, “Mimpiku adalah agar cepat dewasa dan meninggalkan kota ini jadi aku tak akan melihat idiot sepertimu lagi.”


Saat itu Hae Won menelan hinaannya dengan tegar dan berkata kalau ia tak akan menyerah, “Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku.”


Keesokan paginya, Hae Won terbangun dengan jas menyelimuti tubuhnya, masih berada di dalam mobil. Ia menoleh dan memandang Dong Seok yang tertidur di sampingnya. Saat itulah ia memeriksa handphonenya. Layarnya retak dan tak bisa menyala lagi. Ia menghela nafas.


Dong Seok terbangun saat Hae Won meletakkan jas di pangkuannya. Sambil menguap, ia berkata kalau mereka tidur di mobil karena ia tak tahu rumah Hae Won namun juga tak tega untuk membangunkannya untuk bertanya. Ia pun bertanya, “Dimanakah rumahmu?”

Dong Seok pun mengantarkan Hae Won. Bukannya Hae Won minta diantarkan untuk kembali ke rumah, ia malah menunjukkan jalan ke kantor. Walau heran, Dong Seok tak banyak bertanya.


Mereka tiba di kantor bersamaan dengan datangnya Seung Hun. Bukannya khawatir, Seung Hun memarahi Hae Won yang baru saja keluar di mobil. Seung Hun marah karena Hae Won tak bisa dihubungi sejak semalam.  Sia-sia saja Hae Won menjelaskan kalau handphone-nya rusak. Seperti tak menyadari wajah Hae Won yang babak belur, Seung Hun malah marah-marah karena Hae Won tiba di kantor dengan diantarkan mobil lain.


Dong Seok langsung keluar mobil dan meminta Seung Hun untuk pengertian sedikit karena Hae Won baru saja terluka karena kecelakaan sepeda motor. Hae Won yang masih sakit, langsung masuk ke kantor.


Seung Hun benar-benar pria pencemburu yang egois. Saat Dong Seok memintanya untuk mengawasi Hae Won yang mungkin pingsan karena luka di kepala, ia hanya peduli tentang Dong Seok dan Hae Won yang berduaan sepanjang malam. “Aku yakin kalau pengobatannya tak semalam suntuk. Lalu apa yang kalian lakukan semalaman? Hae Won itu pacarku!”


Dong Seok hanya menghela nafas melihat tingkah Seung Hun. Ia menyuruh Seung Hun untuk bertanya pada pacar Seung Hun sendiri. Tanpa menunggu jawaban Seung Hun, ia langsung pergi.


Seung Hun benar-benar emosi. Ia tak peduli melihat Hae Won duduk di sofa dengan penuh kesakitan. Ia malah menarik Hae Won dan bertanya apa yang ia lakukan malam kemarin. Sia-sia Hae Won menjelaskan kalau ia kemarin terluka dan mendapat suntikan hingga langsung tertidur di mobil Dong Seok. Ia berteriak histeris, “Kau merasa terluka? Aku juga merasa terluka!”

Aishh.. Mr. Lebay..


Seung Hun kembali menyuruhnya untuk menceritakan secara rinci apa saja yang telah Hae Won lakukan. Akhirnya Hae Won tak tahan dan bertanya apakah Seung Hun berniat menikahinya. Seung Hun tak menjawab tegas, maka Hae Won berkata, “Kalau kau memang ingin menikahiku, aku akan menceritakan apa yang aku lakukan bersama Kang Dong Seok, jam demi jam bersamanya.”

Ia pun meninggalkan Seung Hun yang berteriak marah.


Dong Seok masih tak dapat mengenyahkan pikiran tentang Hae Won dari pikirannya. Saat di rumah makan, ia ingat saat Dong Tak berkata kalau Hae Won yang mengejar Seung Hun, jawaban Hae Won adalah Seung Hun hanya pura-pura jual mahal saja. Dong Seok mencengkeram setir mobil semakin kencang.


Seperti Hae Won, Dong Seok juga langsung ke kantor dan membersihkan diri di sana. Ia juga langsung bekerja, mengerjakan kasus Tuan Han (sebelumnya saya sebut Jaksa Han) dan meminta untuk melihat lokasi kecelakaan Tuan Han.

Park Gyeong Su mengingatkan kalau ada pihak yang mencoba untuk menutupi kasus ini, tapi Dong Seok mengatakan kalau ia malah semakin ingin tahu. Maka mereka pun pergi ke pinggir sungai tempat terjadinya kecelakaan.


Menurut BAP, Tuan Han kecelakaan setelah ada mobil dari arah sebaliknya yang pindah jalur dan membuat Tuan Han membanting setir ke sungai. Walau agak aneh karena kecelakaan terjadi di malam hari saat tak banyak mobil di jalan. Lebih anehnya black box mobil itu hilang, padahal Sen Yeong yakin kalau dia yang menyuruh orang untuk memasang black box di mobil Tuan Han.


Saat kecelakaan itu terjadi, Tuan Han akan menemui Bae Tae Jin, yang ditemukan meninggal dengan jarak 1 km dari tempat Tuan Han kecelakaan dalam waktu yang hampir bersamaan. Bae Tae Jin adalah pengusaha pemilik 12 panti pijat di kota ini. “Satu orang mati dan satu orang lagi luka parah, namun kedua kasus ini dianggap sebagai kasus kecelakaan biasa,”gumam Dong Seok.

Dong Seok pun memutuskan untuk menyingkirkan hasil penyelidikan sebelumnya dan memulai kasus ini dari awal lagi.


Mereka tak sadar kalau ada orang yang mengawasi dan memotret mereka. Dan semua ini sepertinya berhubungan dengan ayah Seung Hun yang meminta orangnya untuk mengawasi tindakan Dong Seok.


Seung Hun muncul di ruangan ayahnya dan langsung kena damprat. Ada seorang wanita yang mengaku hamil karena Seung Hun. Ayahnya marah-marah karena Seung Hun tak menangani hal ini sendiri dan ia harus mengurusinya. “Apa aku ini sekretarismu?!”


Bahkan Ayah Seung Hun heran, kenapa Hae Won masih juga suka pada Seung Hun dan terus mengejar anaknya yang tak becus itu.

Pertanyaan yang sama seperti yang dipikirkan Dong Seok.


Hae Won termenung di dalam kamar. Ia mengeluarkan tape recorder kecil dan memutar kembali rekaman suara itu. Rekaman itu adalah voice message almarhum ayahnya pada dirinya yang sedang sekolah di luar negeri. Hae Won menitikkan air mata saat ayahnya berkata kalau di Korea sedang hujan dan membuat ayah kangen pada Hae Won.

Namun voice message itu ternyata adalah saat-saat akhir hidup ayahnya. Di voice message itu terdengar suara pria datang dan ayahnya bertanya, “Apakah semua ini adalah ulahmu, Oh Chi Su?” Sedetik kemudian terdengar suara tembakan.

Hae Won mengulang-ulang voice message itu dan tersimpan dendam dan amarah dalam matanya.


Setelah menunggui Dong Ok semalaman, akhirnya Dong Hui tidur dengan nyenyak di kamarnya sendiri. Tapi tidurnya dipenuh oleh mimpi tentang Hae Won. Memukuli Hae Won tepatnya.


Haishh.. bahkan Yeong Chun yang menunggui Dong Hui tidur pun juga kena getahnya. Menganggap Yeong Chun itu Hae Won, ia menarik baju Yeong Chun dan mengatainya. Yeong Chun pun membangunkan Dong Hui, “Kenapa kau tetap saja berkata kasar di dalam mimpimu? Hidupmu sudah cukup keras. Harusnya kau itu mimpi indah.”


Dong Hui kesal melihat ada Yeong Chun di kamarnya. Tapi kedatangan Yeong Chun ini adalah untuk menyuruh Dong Hui minta maaf pada kakek dan berjanji tak akan meneriaki kakek lagi.  Jika Dong Hui menolak, ibu berkata akan mogok makan. Bahkan ibu sudah tak mau makan sejak semalam.


Dong Hui tak mau dan kembali tidur. Tapi Yeong Chun sekarang yang mengancamnya, “Kalau sampai terjadi sesuatu pada ibumu, aku akan membunuhmu. Aku akan mencabik-cabikmu hingga jadi serpihan.”


Yang khawatir ternyata tak hanya Yeong Chun saja, tapi juga Ssang Ho. Ia minta iparnya untuk tak mogok makan lagi. Cara itu berhasil saat Dong Hui kecil hingga remaja (berhasil menghentikan Dong Hui yang mau kawin lari saat TK, menghentikan keinginan Dong Hui yang ingin menikahi guru SMPnya, menghentikan keinginan Dong Hui yang naksir Lee Young Ae dan ingin jadi bodyguardnya. Aishh.. semua pasti ada ceweknya, ya..)


“Tapi sekarang Dong Hui sudah dewasa dan cara ini sudah kuno,” bujuk Ssang Ho. Mendadak muncul Dong Hui yang membenarkan ucapan pamannya. Ia dengan tegas menolak untuk minta maaf.


“Baiklah.. Tak apa-apa juga kalau kau tak mau minta maaf. Kalau kau minta maaf pun, kau juga tak ikhlas mengatakannya,” jawab Ibu yang tiba-tiba tersungkur jatuh. 


Ssang Ho buru-buru membantu ibu yang merasa pusing, tapi tetap bersikeras mogok makan. “Biarkanlah aku mati. Lebih baik aku mati seperti ini daripada mati disambar petir karena punya anak yang tak berbakti. Setidaknya aku mati dengan tubuh langsing.”


Bwahaha… entah Ibu beneran atau pura-pura hampir pingsan, cara ini masih ampuh. Dong Hui pun bersungut-sungut menemui kakek yang juga tak membuat permintaan maafnya lebih mudah. Kakek bahkan mengancam akan mengadukan pada Ibu karena Dong Hui tak ikhlas minta maaf.


Dong Hui pun berkata, “Baiklah. Aku minta maaf jadi Kakek bisa memukulku sekarang.” Kakek nyengir dan berkata, “Kenapa juga aku harus memukul cucu kesayanganku. Makanlah permen ini, cucuku sayang.”


Aww.. di luar ibu mendengar percakapan mereka berdua dan merasa lega. Tapi raut wajahnya masih tidak bahagia. Apa lagi yang membuat ibu bersedih?


Dong Tak sedang bersama manajernya. Ternyata manajernya ini memutuskan untuk merekrut Hae Joo dan menjadi agennya. Mengetahui kalau mereka berada di tangan satu manajer yang sama, maka mereka pun saling menghina, membuat manajernya pusing.


Apalagi saat si manajer mendapat satu tawaran dalam satu program acara homeshopping. Mereka berdua sama-sama ingin mendapatkan peran tersebut. Maka mereka pun berlomba siapa yang makan dengan cara yang paling menarik minat penonton untuk makan, maka orang itu yang mendapatkan peran itu.


Ssang Ho jijik melihat seorang wanita yang sedang makan di restoran. Wanita itu adalah supplier bawang Bombay di restoran mereka. Melihat wanita itu bersendawa keras dan noda kimchi di jaket yang sudah sebulan tak dicuci, membuat Ssang Ho heran akan kejorokan wanita itu. 


Yeong Chun membela wanita itu yang sibuk bekerja dan pasti tak sempat untuk mencuci. “Kau ini pria yang maniak kebersihan, makanya kau belum juga menikah.”

“Lebih baik aku tak menikah daripada harus menikah dengan wanita seperti dia,” jawab Ssang Ho bergidik. Yeong Chun meminta Ssang Ho untuk tak berkata pedas, karena siapa tahu wanita itu punya pacar. Ssang Ho langsung menjawab, “Kalau ada pria yang menyukainya, aku akan cabut semua rambutku dan memberikannya pada pria itu!”


Sebentar lagi Ssang Ho akan kehilangan rambutnya, nih. Karena ternyata ada pria yang menyukai wanita itu, dan pria itu pasti senang menerima rambut Ssang Ho karena pria itu adalah saudara kembarnya sendiri, yaitu Ssang Shik yang botak. Bwahaha..

Hubungan mereka rupanya masih belum dipublikasikan karena mereka bertemu di dalam mobil dekat sekolah tempat Ssang Shik bekerja menjadi tukang kebun.


Di sekolah, Ssang Shik berpapasan dengan Kang Mul dan Dong Joo yang akan pergi ke UKS karena ada teman mereka yang sakit. Ssang Shik bertanya siapa yang sakit, dan mereka menjawab, “Iseul. Mantan pacar Dong Wan.”


Di UKS, Iseul menangis tersedu-sedu. Anehnya, Kang Mul malah marah karenanya. “Paman Dong Joo berselingkuh di belakangmu? Selain pacaran denganmu, ia juga bersama dengan Shin Min Ji?”


Ia kesal karena bibinya juga sudah tahu kelakuan pamannya tapi tak bisa mencegahnya. Dong Joo hanya bisa menjawab, “Kau kira aku bisa mencegahnya? Ia tetap melakukannya walau aku melarang.”


Kang Mul tahu kalau ucapan Dong Joo itu benar. Ia berbalik pada Iseul dan menyalahkannya, “Inilah sebabnya kenapa kau seharusnya pacaran denganku!” Dong Joo kaget mendengar ucapan Kang Mul yang meneruskan dengan menggerutu, “Kenapa gadis-gadis di sekolah ini seleranya rendah sekali? Apa hebatnya Paman Dong Won, padahal aku lebih tampan dan lebih pintar.”


Kang Mul menghentakkan kakinya dan meninggalkan UKS. Dong Joo yang baru tahu tentang hal ini, bertanya pada Iseul, “Apakah Mul menyukaimu juga? Apa kalian terlibat cinta segitiga?”


Iseul membantah, “Ini bukan cinta segitiga. Aku hanya mencintai Dong Won.” Wajah Iseul sudah bersimbah air mata saat memohon pada Dong Joo, “ Kau adalah saudara kembarnya. Jadi bisakah kau membantuku mendapatkan Dong Won kembali?”


Tentu saja Dong Joo tak bisa. Kemudian terdengar suara dari bilik sebelah, “Lupakan saja pria brengsek yang berselingkuh itu!” Tirai disibakkan, memperlihatkan guru wali kelas Dong Won dan Dong Joo yang dipanggil Miss Kim. Miss Kim menyuruh Iseul untuk mencari pacar baru, menikah dan punya banyak anak.


Dong Joo bengong, “Miss Kim! Nasehat Miss itu tak cocok untuk anak umur 9 tahun.”

Miss Kim tersipu-sipu malu dan minta maaf. Ia sekarang sedang demam, makanya omongannya sekarang ngaco.


Dong Joo pun mencari Dong Won dan menemukannya sedang berkencan dengan Min Ji. Err.. maksudnya bermain jungkat-jungkit. Dong Joo menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih. “Ia benar-benar mirip dengan Dong Hui oppa.”


Saat kembali ke kantor, Dong Seok melihat wanita Filipina itu menunggu di depan kantor. Ia mengajak wanita itu untuk makan siang dan memberikan alamat tenaga kerja yang bisa mempekerjakannya. Ia juga pergi ke supermarket untuk membelikan susu dan keperluan anak wanita itu.


Saat membayar, ia melihat ibu Hae Won yang marah-marah karena kartu kreditnya (milik Hae Won) ditolak, padahal ibu Hae Won membawa uang. Dong Seok yang mendengar percakapan itu berkata kalau ia akan membayari belanja ibu Hae Won.


Mulanya ibu Hae Won senang karena ada seorang anak muda yang baik hati kepadanya. Tapi begitu Dong Seok memperkenalkan diri, wajah ibu Hae Won langsung keruh.


Ia menemui Hae Won yang sedang menyebar brosur Happy Cash dan hampir menangis saat marah-marah pada putrinya. “Karena kau memblokir kartu kreditmu, belanjaanku dibayarai oleh Kang Dong Seok. Anak pembantu yang kasar dan bodoh itu. Anak yang biasanya menghabiskan makanan sisa kita itu malah pamer dan menyombongkan diri. Ia pasti mentertawakan kita karena  telah kehilangan segalanya.”


Hae Won termenung mendengar kekesalan ibunya.


Malamnya, Dong Seok kaget melihat Hae Won menungguinya di depan kantor dan memberikan dua amplop. Satu amplop untuk biaya rumah sakit dan taksi,  satu lagi adalah uang yang dipinjam ibunya  saat di supermarket. Dong Seok menolaknya, tapi Hae Won bersikeras. Dengan enggan Dong Seok menerima kedua amplop itu.


Tanpa banyak bicara, Hae Won meninggalkan Dong Seok. Tapi belum jauh ia melangkah, ada seobuah motor yang melaju kencang ke arahnya. Refleks Dong Seok langsung meraih Hae Won ke dalam pelukannya, agar Hae Won tak terserempet motor itu.


Mereka berdua terkejut karena tubuh mereka begitu dekat. Lebih terkejut lagi saat motor itu berhenti tepat di depan mereka dan si pengendara melepas helmnya. Ternyata Dong Hui yang menyapa mereka, “Kalian berdua cocok menjadi pasangan.”


Buru-buru mereka berdua saling melepaskan diri. Dong Seok membentak adiknya, tapi Dong Hui malah menambahkan, “Kalau kau sangat khawatir pada Hae Won, seharusnya kau pacaran lagi saja. Seperti jamn dulu.”


Komentar :

Ohh.. ternyata Dong Hui juga tahu kalau kakaknya ini pacaran dengan Hae Won, ya? Kalau tak salah, Dong Tak dan Ssang Shik hanya tahu kalau Hae Won sudah lama naksir Dong Seok, tapi tak tahu kalau mereka sempat pacaran.


Yang perlu digarisbawahi dalam episode ini adalah perasaan Dong Seok pada Hae Won.  Saat Dong Seok mencengkeram setir mobilnya, saya bisa merasakan frustasinya Dong Seok pada Hae Won yang katanya mengejar Seung Hun. Ia melihat betapa brengseknya perlakuan Seung Hun pada Hae Won, dan Hae Won ternyata suka pada pria seperti itu?

Mungkin saat Dong Seok mencampakkan Hae Won saat remaja dulu, ia mengira Hae Won akan move on dan hidup enak seperti yang Hae Won jalani selama ini. Ia tak menduga kalau keluarga Hae Won tiba-tiba miskin dan gadis itu bekerja sebagai penagih utang di kantor perkreditan yang setara dengan lintah darat. Bahkan gadis itu juga mengejar-kejar pria seperti Seung Hun.

Entah apa yang dirasakan Dong Seok pada Hae Won sekarang ini. Murni rasa kasihan, kah? Atau perasaan lainnya?


Dan apa yang sebenarnya motif Hae Won mengejar Seung Hun? Saat di kantor dan diinterogasi Seung Hun, saya merasa kalau Hae Won sedang menekan harga dirinya untuk terus berada di kantor itu, bersama Seung Hun. Nyata sekali kalau sebenarnya Hae Won tak suka pada Seung Hun.

Tape recorder yang merekam voice message itu adalah kuncinya. Saat ayahnya menelepon, terdengar suara memanggil orang bernama Oh Chi Soo. Kalau tak salah Oh Chi Soo adalah nama ayah Oh Seung Hun. Jadi mungkin saja Hae Won ingin berada dekat di lingkaran Chi Soo, Seung Hun dan Happy Cash karena sedang menyelidiki, atau mungkin malah ingin balas dendam.

Seperti pertanyaan Dong Seok sebelumnya, apakah hanya ini pekerjaan yang bisa dilakukan oleh Hae Won? Jika Hae Won ingin balas dendam, tentu saja hanya ini pekerjaan yang bisa ia lakukan.


Dan sepertinya kasus Tuan Han juga berhubungan dengan Oh Chi Soo juga. Entah seberapa besar kejahatan yang dilakukan Oh Chi Soo dalam kasus ini.

8 comments :

  1. Setelah sekian lama, akhirnya Mba Dee posting jugs kelanjutannya...
    Makasih Mba Dee

    ReplyDelete
  2. Walopun rajin streaming tiap minggunya teteup.. Berasa kurang kalo blm baca sinopsisnya di kutudrama..
    Sbnrnya dong seok suka ma Hae won mungkin krn ngeliat ibunya haewon segitu rendahnya mandang keluarga Kang, Dong Seok gak pnh ngungkapin perasaannya ma Hae Won, jdnya yg keliatan selama ini hae won aja yg sibuk ngejar Dong Seok. Mungkin krn itu jg Dong Seok ninggalin rumah mpe belasan tahun gak pulang, Mian mb dee komennya kepanjangan, tp beneran sukaaaa bgt drama ini stlh drama keluarga ojakyo. Gak sabar nunggu kelanjutannya tiap minggu. Ditunggu lanjutannya ya mb dee. Makasi

    ReplyDelete
  3. Drama ini bagus banget. Suka banget deh pokoknya. Tolong dilanjutin ya mbak sinopsisnya :) kamsahamnida~

    ReplyDelete
  4. Drama ini bagus banget. Suka banget deh pokoknya. Tolong dilanjutin ya mbak sinopsisnya :) kamsahamnida~

    ReplyDelete
  5. mba dee, ko ga dilanjut siiih ??? lanjut dong mbaaa

    ReplyDelete
  6. Lanjutttt~
    Suka banget sama nie drama

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillahh...akhirnya nemu juga ep 4..,
    Ga ada yg upload..ternyata musti ngikuti blognya mba dee :-) ...dilanjut ya mbaa...pleaseeeee...
    dilanjut ya mbaaa...

    ReplyDelete
  8. So like it!please dong d lanjutin,tiep buka blog. Ttp g ad

    ReplyDelete