April 16, 2014

Three Days Episode 12 - 1

Three Days Episode 12 – 1


Kim Do Jin menuntut Presiden untuk membatalkan Keputusan Presiden, tapi Presiden bergeming. Ia malah menyuruh Kim Do Jin untuk menyerah. “Dengan Keppres ini, apapun yang akan kau lakukan, entah itu mengebom atau memulai IMF kedua, kau tetap tak akan bisa mengeruk keuntungan di negara ini.”



Kim Do Jin pun mengubah taktik. Ia sekarang mengajak Presiden untuk bekerja sama. Saat IMF kedua terjadi, ia akan membuat orang melupakan tragedi Yangjinri dan Presiden akan menyelamatkan Korea dari IMF karena Presiden adalah orang yang ahli ekonomi.

Presiden merasa Kim Do Jin sekarang sudah menjadi gila. Kim Do Jin menyalak balik kalau semua ini adalah ajaran dari Presiden Lee dulu. Presiden berkata, “Itu adalah cara yang salah. Aku yang salah. Jadi hentikan sekarang juga.”


“Uang yang ada di atas meja ini triliunan dolar. Anda pikir semuanya ini hanya uangku saja?” tanya Kim Do Jin. “Walau aku menyerah, mereka tak akan menyerah.”


Presiden paham siapa yang dibicarakan Kim Do Jin dan menebaknya. “Maksudmu Falcon?” Kim Do Jin tak menjawab, maka Presiden pun bertanya lagi. “Apakah kau sekarang menggantikan posisiku menjadi anjing Falcon?”


Kim Do Jin menggebrak meja, marah. “Pikirkan kembali tawaranku dengan baik.” Ia beranjak pergi namun dihentikan Presiden yang bertanya dimana letak bomnya. Dengan wajah polos ia menjawab, “Bom apa? Aku tak tahu.”


Presiden mengancam akan menangkap Kim Do Jin untuk diinterogasi, tapi Kim Do Jin malah menantang balik. Segera setelah ditangkap, ia pasti bisa bebas lagi karena Presiden tak cukup bukti. “Tapi jika bom itu meledak saat itu, apa yang akan Anda lakukan?” Kim Do Jin tersenyum sinis dan pergi.


Dari hasil melacak GPS handphone Pria Jaesin (namanya Yohan), mereka mengetahui kalau hari ini Yohan pergi ke kantor pusat Jaesin , setelah itu ke rumah sakit Cha Young selama 30 menit. Bo Won menduga saat itu adalah saat Yohan menananyai suster tentang kondisi Cha Young.

Kemudian Yohan berada di sebuah lapangan kosong selama dua jam dan kemudian kembali ke rumah sakit Cha Young lagi. Bo Won dan Tae Kyung memutuskan untuk pergi ke lapangan kosong itu dengan mobil terpisah.


Dari asisten yang memeriksa identitas Yohan yang sekarang terbaring di rumah sakit, Jaksa Choi mengetahui kalau Yohan adalah warga negara Amerika dan pernah menjadi marinir, yang kemudian menjadi tentara bayaran Falcon.  Jaksa Choi meminta barang yang dibawa Yohan dan mulai memeriksanya.


Asisten itu mengingatkan Jaksa Choi kalau penyelidikan ini bukanlah urusan mereka. Mereka bahkan tak punya wewenang untuk melakukan hal ini. Jaksa Choi menjawab pendek, “Maka dari itu kau tak usah ikut-ikut. Aku akan menyelidikinya sendiri.”

Jawaban itu malah membuat asistennya tak puas. Ia mengawasi Jaksa Choi dengan sikap mencurigakan.


Lapangan kosong yang didatangi Tae Kyung dan Bo Won ternyata memang hanya lapangan kosong dan sekitarnya hanyalah perumahan biasa, yang tak mungkin menyimpan bom. Jika Kim Do Jin ingin melakukan aksi terorisme yang bisa memicu perang, bom pasti diledakkan di keramaian atau di tempat yang populasinya padat.

Mereka pun memutuskan untuk berpencar.                           


Presiden menelepon Chief Byun dan memintanya untuk mencegah tindakan Kim Do Jin. Chief Byun pura-pura tak mengerti ucapan Presiden. Presiden mengatakan kalau kebenaran Yangjinri telah terkuak dan sebentar lagi Chief Byun akan kehilangan pendukung.

Note : Maka secara akal sehat, tindakan pengeboman itu sia-sia jika didukung oleh Chief Byun yang merupakan salah satu pelaku insiden Yangjinri.Chief Byun tak akan mendapat keuntungan apapun karena sebentar lagi Chief Byun akan dicopot dari jabatan karena pendukungnya telah meninggalkannya.


Chief Byun masih berpura-pura, hingga Presiden berteriak marah, “Ini masalah puluhan bahkan ratusan nyawa yang akan melayang. Apa kau pikir Kim Do Jin mau bertanggung jawab setelah semuanya terjadi? Kau dan Min Hyung Ki yang akan bertanggung jawab! Hentikan bom itu sekarang juga. Ini perintah!!”

Chief Byun benar-benar terkejut mendengar ucapan Presiden.


Tae Kyung dan Bo Won pergi ke pemukiman terdekat mencari tempat  yang mungkin bisa menjadi tempat peledakan. Di bawah mobil, di pinggir jalan, bahkan di dalam bak sampah. Tapi tak ada yang mencurigakan. Hingga Tae Kyung menerima telepon dari Jaksa Choi.


Di antara barang milik Yohan, Jaksa Choi menemukan sebuah kertas berisi angka-angka tapi ia tak tahu apa artinya. “Cobalah lihat apakah angka-angka ini cocok dengan sesuatu, apapun itu.”


9078, 455, 8723, 673, 1545, 8000. 5129, 2318 Tae Kyung mencari angka-angka itu, tapi tak ada yang sama dengan yang disebutkan Jaksa Choi.


Sebuah bis melintas di hadapannya dan Tae Kyung terbelalak melihat bis itu dan meminta Jaksa Choi untuk mengulang lagi nomor terakhir. Jaksa Choi mengulang kembali,  dan  Tae Kyung menyadari apa arti nomor itu. 5129 adalah plat nomor bis dan 2318 adalah nomor jalur.


Tae Kyung dan Bo Won pergi ke terminal terdekat dan mendapat kepastian kalau angka yang tertulis di kertas itu adalah benar plat nomor bis dan nomor jalur yang berangkat dari terminal jam 19.30 tadi. Jam dimana bis sedang penuh-penuhnya oleh penumpang. “Kita harus segera menemukan keempat bis itu.”


Dan memang benar. Di masing-masing bis, ada seorang pria berjas hitam yang membawa koper besar yang sekarang disembunyikan di bawah kursi.


Bo Won dan Tae Kyung mencari bis yang tadi dilihat Tae Kyung. Sementara itu polisi dan tim gegana bergerak cepat, meluncur untuk mencari keempat bis yang menjadi target peledakan.


Presiden turun tangan langsung mengawasi di ruang kendali CCTV lalu lintas, sementara Kim Do Jin duduk bersantai sambil turut mengawasi CCTV dari komputernya.


Ketika Presiden turun tangan langsung mengawasi di ruang kendali CCTV lalu lintas, Kim Do Jin duduk di depat komputer, turut mengawasi CCTV. Semua sudah sesuai rencana. “Kita lihat siapa yang akan menang di antara kita.”


Bom di bis 2318 sepertinya adalah bom terakhir yang harus ditaruh di dalam bis. Karena setelah pria berjas hitam itu turun dari bis setelah meninggalkan koper bom itu, ia masuk ke dalam mobil yang terus mengikuti bis 2318 dan mereka mengikuti bis itu.


Tae Kyung akhirnya menemukan bis 2318. Dengan cepat, ia menyalib bis tersebut dan menikung tepat di hadapan bis membuat supir bis harus mengerem mendadak. Tanpa mempedulikan omelan para penumpang, Tae Kyung mulai memeriksa masing-masing kursi sementara Bo Won mengumumkan jati dirinya yang polisi dan meminta para penumpang untuk turun.


Pria berjas hitam melihat semua kejadian itu. Ia kemudian menelepon Kim Do Jin dan mengatakan kalau aksi mereka sepertinya sudah ketahuan. “Apa yang harus kami lakukan?”


Kim Do Jin diam. Ia segera memeriksa kamera yang menunjukkan ketiga bis lainnya yang juga membawa bom. Ternyata para polisi sudah menemukan tiga bis itu dan tim gegana juga sudah menemukan bom yang tersimpan di bawah kursi.


Maka Kim Do Jin pun memutuskan, “Nyalakan bomnya.”

Pria berjas hitam itu mengeluarkan sebuah handphone yang menjadi detonator bom dan menekan tombol SEND.


Keempat bom yang tadinya hanya berkedip-kedip hijau, sekarang muncul angka 00:20 dan mulai menghitung mundur setiap detiknya. 20, 19, 18, 17..


Tim gegana masuk ke bis 2318 saat Tae Kyung melihat bom itu mulai menghitung mundur. Tae Kyung sontak berteriak, menyuruh mereka untuk keluar dari bis segera.


Para penumpang yang menunggu di luar bis menjadi panik dan menghambur menjauh saat melihat tim gegana keluar dari bis.


Presiden hanya bisa memandang kamera CCTV dengan tegar namun pasrah menanti sementara Kim Do Jin hanya tersenyum puas. Ia bersandar menikmati apa yang akan terjadi berikutnya.


Namun kenikmatan itu berganti saat Chief Byun masuk ke ruangan dengan handphone di tangan mengistruksikan seseorang, “Hentikan sekarang juga! Batalkan!”


Instruksi itu diberikan pada pria berkumis yang semobil dengan pria berjas hitam (sebenarnya jas mereka sama-sama hitam, sih) yang kemudian menyuruh rekannya untuk mematikan detonator itu.

Orang-orang mulai berhamburan menjauhi bis. Tapi Bo Won tak bergerak dari tempatnya berdiri. Ia tetap menunggu Tae Kyung yag tak kunjung muncul sementara tim gegana sudah keluar dari bis.


Tae Kyung terkesiap melihat waktu yang sudah menipis dan tak ada waktu lagi untuknya keluar dari bis. 


Hanya tersisa 6 detik untuknya.

5 detik..

4 detik..

3 detik..

Lampu hijau mati dan waktupun berhenti.


Tae Kyung menghembuskan nafas lega. Begitu pula Bo Won yang sepertinya lupa untuk bernafas saat semua ini terjadi.


Dari ruang control, Presiden, yang ditemani oleh Direktur Kim dan CP Mong, mendengarkan laporan dari tim gegana, “Pukul 19.50. Semua bom telah di-deaktivasi.” Namun ekspresi wajah Presiden masih tetap tegang. Semua ini belum selesai.


Chief Byun berteriak marah pada Kim Do Jin, “Apa yang sedang kau lakukan sekarang?! Ini bukan Yangjinri. Ini Seoul! Ibukota Korea dengan penduduk 10 juta orang! Bagaimana mungkin kau melakukan ini tanpa berbicara dulu padaku?!”


Chief Byun menahan amarahnya dan dengan suara lebih pelan ia berkata, “Setelah Presiden Lee mengeluarkan Keputusan Presiden tentang Darurat Keuangan, tak ada lagi keuntungn yang bisa kita keruk. Kau harus hentikan sekarang juga!”


Mendapat amukan seperti itu, Kim Do Jin malah balik marah. Ia menarik dasi Chief Byun, “Kau berani mencampuri urusanku? Memang kau ini siapa?!!”


Mata Chief Byun menantang Kim Do Jin, “Falcon telah menghubungiku.” Ia menarik dasinya dari tangan Kim Do Jin dan meneruskan, “Hentikan sekarang juga. Lain kali akan ada kesempatan lagi.”


Kim Do Jin tercenung mendengar ucapan Chief Byun yang sekarang sudah meninggalkan ruangan. Ia mencoba menelepon pria berjas hitam, tapi tak diangkat. Ia pun memeriksa CCTV. Tak ada ledakan maupun kericuhan sedikitpun. Seoul dalam kondisi normal.


Ia sangat marah. Luar biasa marah hingga membanting telepon dan layar komputer di depannya. Namun dia sedikit tenang saat pria bertato meneleponnya dan bertanya apa yang harus dilakukan dengan bom terakhir.


Masih ada bom? Dimana? Belum game over?


Bo Won duduk di trotoar saat Tae Kyung menghampirinya. Tae Kyung mengulurkan tangan dan menyelamatinya yang telah melakukan pekerjaan dengan baik. Bo Won tersenyum dan berdiri untuk menerima tangan Tae Kyung.


Tapi genggaman tangan itu membuat mereka berdua sama-sama canggung dan masing-masing langsung memisahkan diri. Masih merasa canggung, Bo Won balas memuji Tae Kyung, “Kau juga telah menyelesaikan pekerjaan dengan baik pula, Agen Han.”


Mereka kembali ke lapangan kosong tempat mereka memarkir mobil mereka. Karena Tae Kyung akan menemui Cha Young di rumah sakit, maka Bo Won pun juga begitu. “Aku ingin menemuinya sebelum aku pulang ke Seojori.”


Mereka pun berjanji untuk bertemu di rumah sakit. Bo Won sudah menuju mobilnya saat Tae Kyung menerima telepon dari Direktur Kim yang ingin menyampaikan pujian dari Presiden. Direktur Kim juga memberitahu kalau 20 kg dinamit dari masing-masing bis berhasil dijinakkan.  Mereka juga sedang melacak jejak para penjahat itu dengan melacak jejak handphone yang digunakan sebagai pemicu bom.


Tae Kyung merasa ada informasi yang belum sinkron. Menurut perhitungan Bo Won sebelumnya ada sekitar 100 kg dinamit yang dicuri selama ini. Jika pemakaian dinamit untuk tiap bis hanya 20 kg, berarti masih ada 20 kg dinamit yang belum digunakan.

Direktur Kim kaget mendengar hal ini. Tae Kyung segera berpikir cepat. Pria Jaesin itu pergi ke rumah sakit pukul 20.30, dan ia tak membunuh Cha Young hingga jam 10 malam. Jadi apa yang dilakukan pria itu selama hampir dua jam?


Dan kita melihat apa yang dilakukan pria Jaesin itu di rumah sakit. Ia membawa sekoper dinamit dan tersenyum saat melihat mobil Bo Won. O oh..


Kim Do Jin berkata dengan geram, memberi instruksi pada pria bertato, “Nyalakan!”


Tae Kyung teringat ucapan Kim Do Jin yang mengatakan satu atau dua orang akan mati dan semuanya itu dikarenakan ulahnya. Dan ia dapat membayangkan apa yang sudah diperbuat oleh pria Jaesin itu. Pria itu pasti menaruh bom di suatu tempat saat berada di rumah sakit. Tapi di mana? Dimana pria itu bisa menaruh koper bom yang cukup besar tanpa ketahuan? Tae Kyung semakin panik.


Ia mendapat jawabannya saat melihat ada sebuah mobil dengan pria bertato duduk sambil tersenyum padanya. Pria itu melambaikan handphone yang tombol SEND-nya baru saja ditekan.


Ia segera menyadari kalau bom itu ada di mobil Bo Won. Ia segera berteriak memanggil Bo Won, tapi Bo Won hanya berhenti dan menoleh padanya. Padahal jarak Bo Won dan mobil itu hanya sekitar 10 meter saja. Tae Kyung segera berlari menuju Bo Won, tapi terlambat.


Bom meledak dan melemparkan  gadis itu dan juga Tae Kyung. Tapi posisi Tae Kyung yang cukup jauh membuatnya baik-baik saja. Tapi tidak dengan Bo Won.

Bo Won terkapar di tanah, sementara pria bertato itu menghampiri dengan tangan masuk ke dalam saku. Tae Kyung melupakan rasa sakit akibat lemparan bom itu. Ia segera berlari dan menyeruduk pria bertato itu agar menjauh dari Bo Won.


Pria bertato balas memukulnya. Tapi Tae Kyung sekarang sedang kalap dan murka tak merasakan pukulan pria bertato itu. Ia malah menghajar pria itu dengan tinjunya yang bertubi-tubi.

Pria itu mencoba membalas tapi Tae Kyung sekarang menjadi kelinci gila yang terus memukulinya. Tak kuat menghadapi rentetan tinju Tae Kyung, ia pun jatuh pingsan.


Tae Kyung segera berlari dan memeluk Bo Won, memohon Bo Won untuk membuka matanya. “Bangunlah.. ayo buka matamu, Yoon Bo Won!” Tapi mata Bo Won masih terpejam. Suara Tae Kyung semakin gemetar, “Kumohon bangunlah..”


Dan Bo Won membuka mata. Tae Kyung sangat lega. Ia memeluk Bo Won lebih erat lagi, “Syukurlah. Syukurlah.. Terima kasih.”


Voting telah selesai dan hasilya diumumkan. 56 – setuju, 23 – menolak dan 123 abstain. Dengan sebagian besar anggota abstain, maka pemakzulan tak bisa diteruskan. Sementara para anggota sudah mulai meninggalkan ruangan, Min Hyung Ki hanya bisa duduk di kursi, shock dengan hasil akhirnya.


Kim Do Jin berdiri di ruangan dan mendengar berita kegagalan pemakzulan dengan getir. Hal itu dirasakan pula oleh Presiden. Berita itu tak membuatnya senang karena ia tahu kalau hal ini bukan akhirnya. Ia tak boleh menyerah sekarang.


11 Maret 2014 – 72 jam setelah pengajuan pemakzulan. Pengajuan gagal.


14 Maret 2014 Pk. 20.30

Di sebuah jembatan, Presiden berdiri di hadapan Kim Do Jin, saling menatap tapi tak ada kata yang terucap. Sementara itu Tae Kyung, yang sekarang kembali memakai seragam PSS, berlari ke arah mereka dengan wajah penuh ketegangan.


Komentar :

Babak kedua Three Days : Pertempuran terakhir telah selesai. Sepertinya penulis langsung meloncat pada akhir dari babak ketiga : Penghakiman. Untuk drama yang menuliskan apa yang terjadi secara detik demi detik, lompatan waktu 3 hari ini bisa disebut time jump yang sering kita lihat di drama-drama Korea lainnya.

Tapi siapa yang menang di babak ini? Mengapa Presiden berdiri sendirian tanpa dikawal satupun anggota PSS?


11 comments :

  1. Kerennn~~~~
    Mian aku termasuk silent reader di blog mba dee
    Padahal udah lama ngebaca sinopsis* yang dibuat mba dee mian

    ReplyDelete
  2. Kerennn~~~~
    Mian aku termasuk silent reader di blog mba dee
    Padahal udah lama ngebaca sinopsis* yang dibuat mba dee mian

    ReplyDelete
  3. Seru.. Keren bgt pas HTK meluk BW,part 2 nya ditunggu

    ReplyDelete
  4. Hai mbak dee saya sebagai silent reader menampakkan diri(?) Udah lama ngikutin blok mbak tapi baru sekarang muncul maap ya mbak:D
    Drama ini selalu bikin penasaran u,u kenapa ya ada psikopat kayak Kim Do Jin yang mentingin uang daripada nyawa orang ckck..
    Duh Tae Kyung sama Bo Won apa ngga ada benih cinta gitu(?)
    sekianlah komen saya hehe.. penasaran sama selanjutnya. Fighting mbak! 😄😄✌

    ReplyDelete
  5. udah mau abis aja neh,, I NEED ROMANCE PLEASE SW-NIM..!!!!

    ReplyDelete
  6. Awesome....Agen HTK-BW....gomawo mbak dee

    ReplyDelete
  7. Park yoo-chun dapet julukan "Klinci Gila" lg d drama ini. :D (sblmnya drama I MISS U)

    ReplyDelete
  8. Bikin deg-degan waktu bom nya di mobil Bo Won untungnya gak kenapa2
    tinggal beberapa episode lg moga endingnya gak mengecewakan

    ReplyDelete
  9. Wihh.. Udah mau akhir aja nih.. Makasih buat sinopsisnya ^^ nyaman bgt bacanya.. Mian selama ini jadi silent reader ._.v Semangat !!

    ReplyDelete
  10. kereennn. . .tegang bnget niiee. . . untung aj bo won gag kena juga. . .kalo kena han tae kyung jg kehilangan orng yg membantuny niiee. . . . .hiks. . .hiks. ..daebak dech. . .

    ReplyDelete
  11. kok mirip iris ya??? tp jgn sampe yochun brnsib sm dgn lead actor nya... tak relaaaa.....

    ReplyDelete