March 27, 2014

Spoiler Three Days Episode 7

Spoiler Episode 7


Jenderal Kwon tewas bukan dibunuh oleh Tae Kyung. Pintu apartemen Jenderal Kwon sudah terbuka, dan ia masuk ke apartemen yang kosong. Tapi ia sebelum ia masuk apartemen, ia sempat melihat seseorang di lantai itu.

Seseorang itu adalah pria bertato. Tapi pria bertato itu juga bukan pembunuhnya. Ia mengatakan kalau ada orang yang mendahuluinya dan bertemu dengan Jenderal Kwon.


Cara satu-satunya adalah mengecek rekaman CCTV.  Cha Young dan Tae Kyung pun pergi ke ruang CCTV. Tapi rupanya semua CCTV rusak. Bukan karena dirusak oleh Do Min Joon, tapi sepertinya kemasukan virus saat terjadi servis berkala.

Tae Kyung melihat kalau perusahaan yang mengelola CCTV adalah Jaeshin. Truk pembunuh ayahnya, pemilik EMP, hotel pertemuan Presiden tempat Yoon Jae diringkus, semua adalah Jaeshin. Tak ada waktu, maka ia pun pergi untuk menyelidiki.

Cha Young mencegahnya karena jika Tae Kyung pergi Tae Kyung bisa dijadikan tersangka lagi. Tapi Tae Kyung tak peduli. Hidupnya sudah kacau saat ayahnya meninggal.

Dugaan Tae Kyung benar. CCTV itu memang dirusak oleh pria bertato, namun sebelumnya ia mengambil dulu rekaman CCTV itu. Dan ternyata yang datang mendahului mereka adalah Chief Shin.


Chief Shin menemui Presiden, dan bertanya tentang apakah lawan yang harus dihadapi Presiden adalah kelompok Kim Do Jin? Ia menduga Presiden menekan pihak Kim Do Jin lebih dulu. Kim Do Jin cs menekan balik dengan menyerahkan dokumen Yangjinri pada Jaksa Choi, tapi Presiden tetap tak menyerah. Karena itu mereka terpaksa merencanakan penembakan di Choongsoodae.

“Anda memberi tekanan seperti apa yang membuat mereka ingin membunuh Presiden? Dokumen itu telah dipalsukan dan ada kebenaran yang disembunyikan pada insiden Yangjinri. Apakah itu yang Anda dan Penasihat Han ingin ungkapkan?” tanya Chief Shin. Presiden tak mejawab.

Sesuai permintaan Presiden di malam sebelumnya, tim Cha Young mencari dokumen Rahasia 98 di rumah Jenderal Yang. Tapi tak ketemu. Cha Young malah menemukan slip bukti pengiriman paket yang dilakukan Jenderal Kwon. Alamat tujuan paket itu adalah Blue House, Presiden Lee.

Chief Shin menduga kalau Presiden menawarkan jalan keluar pada Jenderal Kwon untuk menyelamatkan diri asal Jenderal Kwon memberikan dokumen tersebut. Presiden akhirnya mengakui hal itu. Ia melakukan hal ini karena dokumen tersebut menyimpan kebenaran akan insiden Yangjinri.

Jadi dimanakah dokumen itu? Ada sebuah mobil pos yang mengirimkan berpuluh-puluh paket ke Blue House, salah satunya adalah dokumen dari Jenderal Kwon.  Jaksa Gu yang mendapat laporan dari Cha Young, melaporkannya pada Presiden. Ada paket yang dikirimkan Jenderal Kwon kemarin.

Sebelum Presiden menyuruh untuk mengambil, Chief Shin menduga kalau Presiden tak benar-benar bersih dalam kasus Yangjinri, karena jika bersih, Presiden pasti akan langsung menyanggah dokumen tersebut. Karena itu, Chief Shin meminta, “Kuburkanlah dokumen itu. Dan saya akan menangani semuanya. Seperti yang dulu pernah saya katakan, saya tak peduli dengan kasus Yangjinri. Pertempuran ini akan berhenti jika salah satu dari Anda berhenti. Mereka mungkin juga ingin berhenti. Oleh karena itu, Anda juga harus berhenti.”

Chief Shin memberikan solusi yang win-win bagi semua. Trio Jenderal Kwon, chief Ham dan Yoon Jae adalah tokoh yang berada di balik insiden Yangjinri. Mereka ingin membunuh Presiden untuk menutupi masalah tersebut, dan ketiganya sudah tewas. Semua akan kembali normal seperti biasa dan Presiden akan menyelesaikan masa jabatannya. “Kumohon selesaikanlah. Inilah politik.”

Presiden menolak. Ia sudah melakukan hal-hal yang terburuk di berbagai negara saat bekerja di Falcon, dan ia ingin berhenti. Maka ia mengambil keputusan yang buruk dengan menerima tawaran Kim Do Jin. Ia tak akan membiarkan orang lain dikambinghitamkan karena itu.

Chief Shin meminta agar Presiden mempertimbangkan hal ini lagi, karena ia telah mengorbankan banyak hal demi Presiden dan pemerintahan ini. Tapi Presiden menjawab, “Aku tak menjadi Presiden karenamu.”


Chief Shin termangu melihat Presiden meninggalkan ruangan. Ia teringat pertemuannya dengan Jenderal Kwon yang memberikan dokumen Rahasia 98 kepadanya. Jenderal Kwon berkata kalau ia sudah mengirmkan salinannya ke Blue House dan menyuruh Chief Shin untuk menyampaikan pesan agar Presiden tak berpura-pura bersih. Ia dan Presiden itu sama. “Entah itu Presiden atau Chairman Kim (Do Jin), biarkan semuanya mati.”


Presiden pergi ke ruang surat dan meminta surat yang dikirim oleh Jenderal Kwon. Ternyata dokumen yang dikirim oleh adalah surat wasiat Jenderal Kwon yang mengakui semua perbuatannya. Presiden berkata kalau ada dokumen yang ia cari sudah ada di tangan seseorang.

Para staf di ruang surat adalah bawahan Chief Shin. Chief Shin menelepon Kim Do Jin dan akan menyerahkan dokumen itu padanya.


Chief Shin teringat akan percakapannya dengan Jenderal Kwon yang akan membujuk Presiden untuk menyelesaikan hal ini baik-baik, dan meminta Jenderal Kwon untuk tak membuka rahasia ini. Presiden pasti mau mendengarkan ucapan Chief Shin karena mereka adalah rekan politik. Tapi Jenderal Kwon tak mau. Adakah pilihan lain selain membunuhnya?

Kim Do Jin dan Chief Shin bertemu di Hotel Jaeshin. Begitu pula dengan Taekyung. Tae Kyung teringat pada istruksi Chief Ham saat mengawal Presden China yang akan menginap di Hotel Jaeshin. Ia masuk lift, dan ada seseorang yang juga masuk lift. Ia melihat tangan pria itu bertato. Tato yang sama yang ia lihat saat penembakan Yoon  Jae.  


Maka ia langsung menangkis serangan pria itu dan mereka pun berkelahi. Tae Kyung menang dan berhasil mengambil pistol pria itu.


Chief Shin menyerahkan dokumen itu pada Kim Do Jin. Ia juga telah menulis surat bunuh diri dari laptop Jenderal Kwon. Dan ia meminta imbalan. “Aku ingin memiliki pemerintahan tersendiri tanpa ada satupun yang menantangku.”


Tae Kyung tahu ruangan Kim Do Jin (dari briefing pengawalan Presiden China) dan melihat Kim Do Jin sedang membakar lembaran dokumen Rahasia 98. Ia pun merebut dokumen yang belum terbarkar dan mengarahkan pistol ke kepala Kim Do Jin. “Apakah kau yang membunuh ayahku?”

Tapi Kim Do Jin malah meletakkan pistol itu ke dahinya dan menantang Tae Kyung untuk menembak. Ia mengatakan kalau bukan ia yang membunuh ayahnya, tapi Presiden Lee. Sebelum Tae Kyung menarik pelatuknya, pengawal Kim Do Jin meringkusnya. Kim Do Jin kembali membakar sisa dokumen itu.

Anehnya, Tae Kyung dilepaskan begitu saja.

Jaksa Choi mendatangi Bo Won di rumah sakit dan mendapatkan informasi kalau Han Ki Joon dan dua orang lainnya meninggal di hari yang sama dan kasus itu ditetapkan sebagai kecelakaan. Mendadak muncul dari pengadilan kepolisian yang menahan Bo Won atas tuduhan penyalahgunaan wewenang sebagai polisi.


Bo Won dituduh atas kejadian malam saat Tae Kyung menjadi buronan. Bo Won mengatakan kalau ada kasus dan atasannya bisa memastikan hal itu. Tapi komandan Bo Won langsung muncul untuk penyelidikan silang. Komandan itu mengaku kalau kecelakaan Han Ki Joon adalah kecelakaan, tapi Bo Won memintanya untuk merubah status menjadi kejadian tabrak lari, karena diminta oleh Bo Won.

Tae Kyung meminta Bo Won untuk melakukan hal itu karena Han Ki Joon adalah dalang terjadinya insiden Yangjinri. Sia-sia saja Bo Won membela diri, Bo Won tetap diskors dan akan mendapat hukuman.

Jaksa Choi menyaksikan penyelidikan Bo Won dan melihat betapa frustasinya Bo Won.

Segalanya menjadi tak terkendali setelah  Jaeshin Daily menyebarkan dokumen yang diberikan Jaksa Kwon kepada Jaksa Choi. Popularitas Presiden Lee berada di titik terendah. Apalagi surat wasiat Jenderal Kwon ternyata benar-benar asli yang berarti bunuh diri.


Di luar, Bo Won bertemu dengan komandannya yang menyesal telah melakukan hal itu. Ia meminta Bo Won tak melakukan apapun karena hal ini bisa lebih buruk dari sekarang. Tapi Bo Won tak mau.


Anggota DPR yang dipimpin oleh Chief Byun akan mengadakan rapat khusus tentang pemakzulan Presiden.


Tae Kyung mencoba menemui Presiden, tapi dicegah oleh rekan-rekan PSS. Akhirnya mereka mengijinkan setelah ada instruksi ya dari Presiden.


Tae Kyung menceritakan apa yang terjadi di hotel Jaeshin dan mengatakan kalau dokumen itu sekarang telah hilang. Ia pun bertanya, seperti apakah ayahnya itu? Ia tumbuh hanya bersama ayahnya, tapi ia tak tahu seperti apa ayahnya. Ia tak tahu apa kekhawatiran ayahnya, apa yang membebani ayahnya, “Setelah kecelakaan terjadi, ia tak berpikir untuk meninggalkan pesan untuk anaknya, malah mengkhawatirkan dokumen itu. Apakah dokumen itu benar-benar berharga?”
Presiden itu brkata kalau 24 orang tewas di Yangjinri dan ia membantah semua kejadian itu. Ia hidup sebagai pengecut hingga Penasihat Han memberitahukan kebenaran yang terjadi dan ia tak dapat hidup seperti itu lagi. Maka ia ingin mengungkapkan kebenaran. Tapi banyak orang yang mati setelahnya dan banyak orang menyuruhku diam atau akan semakin banyak orang akan mati. 


“Apakah aku harus terus diam? Aku terus bertanya, apakah aku tetap berjalan di jalan ini? Dan jawabanku sama. Aku tak akan menyerah. Aku harus tetap menjadi Presiden sampai semua ini berakhir. Dapatkah kau melindungiku sampai akhir nanti?”

Dan rapat khusus DPR untuk pemakzulan Presiden pun dimulai
Komentar :

Mungkin ada benar ungkapan yang menyatakan Tak ada persahabatan abadi, yang ada hanyalan kepentingan abadi. 

No comments :

Post a Comment