February 26, 2014

My Love From Another Star Episode 4 - 2

Sinopsis My Love From Another Star episode 4 -2


“Keluar!” kata Min Joon.

Song Yi menatap Min Joon, memohon agar menolongnya. Min Joon tak ambil pusing, ia tetap menarik handle pintu di belakang Song Yi.


Tapi Song Yi kembali menahan tangan Min Joon, dan aww.. siapa yang tahan ditatap aktris Song Yi yang sekarang sudah mengeluarkan tatapan sendu dan memohon Min Joon untuk menyembunyikannya.




Min Joon hampiiiiirr.. saja terbujuk dengan tatapan itu. Tapi akhirnya Min Joon tetap menarik Song Yi dan mendorongnya masuk ke dalam ruang tengah. Song Yi menutup mulutnya, mencegah teriakan kaget keluar dari mulutnya.


Min Joon pun keluar dengan cuek. Walau ia akhirnya melihat lobi lantai 23 sudah penuh oleh wartawan. Ada yang duduk, ada yang berdiri, bahkan ada reporter yang melakukan syuting di depan pintu apartemen Song Yi.


Reporter itu menekan bel apartemen Song Yi untuk membuktikan tak ada orang di apartemen. Melihat kemunculan Min Joon, reporter itu segera mengejarnya untuk dimintai keterangan.


Di balik pintu, Song Yi menahan nafas, menunggu jawaban Min Joon saat ditanyai tentang keberadaannya.  Ia akhirnya bernafas lega saat Min Joon menjawab dengan ketus, “Singkirkan kamera itu.” Dan ia pun pergi. Song Yi menghela nafas lega.


Dari si Manajer, Song Yi mengetahui kalau masyarakat percaya kalau Han Yoo Ra meninggal karenanya. Bahkan menurut si Manajer, situasi di luar tidaklah kondusif sehingga lebih baik Song Yi tak meninggalkan rumah, “Untuk beberapa hari jangan keluar rumah dan tetap tinggal di rumah saja, ya?”


Song Yi belum sempat berkata apapun karena baterai handphone-nya habis. Ia mencari-cari telepon di rumah Min Joon, dan betapa herannya ia karena rumah sebesar itu tak ada telepon rumah. Sudah tak punya handphone dan hanya memakai pager. “Aishh.. orang ini. Apa ia pikir ia hanya tinggal sendirian di dunia ini?”

Dan ia melihat ke layar CCTV, bergumam tak percaya, “Dan aku terperangkap di dalam rumah ini?”


Se Mi pulang ke rumah, tak dapat menyembunyikan kekesalannya karena ibunya sendiri bahkan menariknya dan bertanya tentang Song Yi. Ia menerima banyak telepon menanyakan Song Yi hingga ia akhirnya mematikan handphone-nya. “Aku juga tak bisa menghubunginya.’


“Begitukah? Itu sangat mengkhawatirkan,” kata ibu tanpa nada khawatir. Ia kemudian malah bercerita tentang kunjungannya ke ‘orang pintar’, “Katanya ketenaran Chun Song Yi hanya sampai tahun lalu. Ia akan menghadapi sesuatu yang sangat dahsyat tahun ini dan setelah itu gelap, seperti ia tak dapat melihat apapun. Tapi berbeda denganmu, kau akan mengalami kebalikannya. Setelah keberuntungan Song Yi menghilang, keberuntunganmu akan naik.”


Se Mi menegur ibunya yang membuatnya kecewa. Ia adalah teman Song Yi. Walau ia sering tak menyukai Song Yi, tapi pertemanan mereka sudah berlangsung selama 10 tahun lebih. “Apa Ibu pikir aku akan senang saat aku mendengar hal seperti itu?”


Ibu menarik tangan Se Mi, menghentikannya pergi. “Kalau begitu, sampai kapan kau hidup dengan selalu menjadi yang kedua? Apa kau suka selalu menjadi yang kedua? Aku tak menyukainya. Karena anakku selalu menjadi yang kedua, aku juga diperlakukan seperti itu.”


“Ibu..”

“Kau.. tahukah kau apa yang membuat hidup itu menarik? Karena kau tak tahu apa yang ada di depanmu,” Ibu menggenggam tangan Se Mi dan menasihati putrinya, “Tak ada yang tahu bagaimana masa depanmu, bagaimana semuanya mungkin akan berbalik. Hwi Kyung yang selalu kau sukai, kau dapat memilikinya, dan semua perhatian akan tertuju padamu. Aku ingin anakku hidup seperti itu sekali saja.”


Ibu Song Yi menghadap Manajer Ahn dan protes akan kekisruhan yang terjadi, padahal kematian itu dipastikan bunuh diri atau kecelakaan. Manajer Ahn mencoba menenangkan ibu Song Yi, tapi dari wajahnya, tak dapat dipungkiri kalau ia pun juga tertekan karena masalah ini.


Manajer Ahn semakin stress saat ia mendapat laporan dari bawahannya kalau produk-produk yang diiklankan Song Yi, sekarang membatalkan kontrak karena citra Song Yi sekarang tercoreng. Begitu pula dengan drama Song Yi yang ratingnya drop sekarang karena kasus Song Yi.


Ia pun meminta ibu Song Yi untuk pulang dulu. Saat ibu Song Yi sekarang menawarkan untuk menandatangani perpanjangan kontrak yang selama ini ia nanti-nantikan, ia malah berkelit kalau hari ini ia tak bisa melakukan hal itu karena ia harus buru-buru pergi.


Ibu Song Yi tak bisa berkata apa-apa karena Manajer Ahn bergegas meninggalkannya. Ia mencoba menelepon putrinya, tapi tetap saja, handphone Song Yi mati. Ia mengomel, kesal pada putrinya yang menghilang entah kemana.


Putri yang hilang itu sekarang sedang berbaring di sofa sambil mengusap-usap perutnya dan menyumpahi Min Joon yang tak punya hati, malah pergi meninggalkannya kelaparan.


Tapi ia langsung duduk tegak saat melihat kedatangan Min Joon. Dengan dagu terangkat tinggi ia berkata, “Kata orang, harimau akhirnya datang dengan kakinya sendiri.” Min Joon menangkis sindiran itu dengan menjawab, “Dia mungkin datang setelah diminta dengan penuh sangat.”


Min Joon melemparkan kantong plastik yang dibawa dan pergi meninggalkan Song Yi. Song Yi masih melipat tangan dengan penuh harga diri, sampai Min Joon menghilang dari ruangan. Setelah itu, ia membongkar kantung plastik itu, dan senang melihat jeruk dan ramen instan di dalamnya.


Ia pun mengetuk pintu Min Joon dan masuk walau belum mendengar jawaban Min Joon. Melihat Min Joon berbaring di tempat tidur, ia mengajak Min Joon untuk makan ramen bersama. Tanpa membuka mata, Min Joon melambaikan tangan, mengusir Song Yi. Song Yi tetap bersikeras, “Kalau begitu duduk saja di depan saya.”


Min Joon menghela nafas kesal, “Dan kenapa aku harus melakukannya?”

“Karena kalau saya makan sendirian, saya kehilangan nafsu makan.”

Tentu saja, akhirnya Song Yi tetap makan sendirian. Song Yi makan sambil ngomel-ngomel karena kelakuan Min Joon yang seperti alien. “Ada orang memintamu baik-baik, tapi kau malah cuek pada orang itu?” Song Yi membanting sumpit dan menghabiskan kuah ramen hingga tandas.

Ha, itu ya yang namanya nggak punya nafsu makan kalau makan sendirian?

Song Yi sendiri juga kaget dan stress melihat mangkoknya licin, padahal biasanya ia akan berhenti makan setelah 3 suap.

Min Joon duduk, dan sepertinya ia juga tak mungkin bisa tidur. Pendengaran super + ocehan Song Yi = ?


Song Yi berkeliling rumah, mencari-cari kamar mandi. Tapi ia malah mendorong pintu/dinding yang menuju perpustakaan. Ia terkesima melihat buku dan koleksi Min Joon lainnya. Bahkan ada lukisan kuno yang pastinya palsu tapi kelihatan seperti asli. Ada pulu penghargaan dari berbagai lembaga, termasuk Harvard. Song Yi akhirnya mengambil buku di rak paling ujung dan mulai membukanya.

 
Min Joon mendengar suara lembaran buku dibuka, dan ia menjadi waspada.


Song Yi mulai membaca. Catatan 3 bulan terakhir aku ada di Bumi.

“Apa yang sedang kau lakukan?”


Song Yi menjerit kaget mendengar suara itu. Ternyata Min Joon yang sekarang berjalan menghampiri Song Yi dengan sikap mengancam, “Kapan dan kenapa kau masuk ke ruangan ini?”


Suara Song Yi hampir mencicit saat menjawab kalau ia sedang mencari-cari kamar mandi. Tapi ketakutannya itu dikalahkan oleh rasa ingin tahunya tentang ruang Min Joon yang baru saja ditemukan dan bertanya, “Apa Anda mempunyai dua pekerjaan? Seperti kolektor buku dan lukisan jaman dulu? Sebagai investasi untuk bayar hutang? Atau sesuatu yang seperti itu?”


Tak menjawab, Min Joon malah menyeret Song Yi dengan kasar, dan melemparnya, “Keluar!”


“Maafkan saya karena masuk ke dalam kamar Anda,” suara Song Yi merajuk dan membujuk, “Tapi bagaimana mungkin saya sekarang bisa keluar?”

“Memang aku harus peduli?”

“Semua orang berpikir bagaimana caranya untuk membunuh saya. Haruskah aku mencincangnya sampai mati? Haruskah aku menyeretnya sampai mati? Semua orang pasti ingin seperti itu. Apalagi jika mereka melihat saya keluar dari rumah seorang pria. Saya pasti jadi abu dan mati,” Song Yi mencoba mengais rasa iba dari Min Joon.


“Itu bukan urusanku,” jawab Min Joon dingin.


Song Yi tahu usahanya gagal, maka ia mencoba hal lainnya. “Kurasa sudah tugas dari seorang guru yang menjaga muridnya. Walau masyarakat kita sudah tak memiliki nurani, tapi hubungan antara guru dan murid tak seharusnya seperti ini. Kalau murid sedang ada masalah, maka guru dapat sedikit memberi bantuan.”


“Memang siapa gurumu? Aku sama sekali tak pernah menganggap kau adalah muridku. Tak pernah sama sekali,” Min Joon mendorong Song Yi lagi. “Keluar sekarang jika kau tak mau diseret pergi.”


“Hehh!!” bentak Song Yi kesal. Hilang semua bahasa sopan pada Min Joon, membuat Min Joon mendelik marah mendengar kekurangajaran Song Yi. Ia semakin mendelik mendengar ucapan kurang ajar Song Yi berikutnya, “Lepaskan aku sekarang juga!”


Song Yi menepis tangan Min Joon dan berbalik. Hilang semua bahasa inggil yang ia gunakan, “Katamu kau bukanlah guruku. Sia-sia aku berbahasa sopan padamu. Seharusnya aku bicara dengan biasa saja.”

“Dengarkan aku, Chun Song Yi-ssi..”

“Memang kenapa, Do Min Joon-ssi?!” balas Song Yi dengan nada yang sama. “Kalau dipikir-pikir, kenapa kau tak menunjukkan KTP-mu padaku? Memang berapa umurmu? Kau ini lebih muda dariku, kan?”


Dan Song Yi pun mengeluarkan cakarnya, “Jika aku keluar dari rumah ini, bukan aku saja yang akan mati. Kau pun juga akan mati. Kenapa? Karena akan ada berita tentang kau sebagai kekasih gelapku muncul di luar sana. Semua orang akan mengenal wajahmu. Apa kau ingin hidup di dunia yang hingar binger seperti itu? Setiap tindakanmu akan diawasi oleh orang-orang. Hal itu jauh lebih mengerikan daripada yang pernah kau duga.”


Dari ekspresi Min Joon, jelas ia tak suka dengan ancaman Song Yi. Song Yi pun di atas angin dan dengan sombong ia berkata, “Jadi biarkan aku tinggal di sini untuk sementara waktu. Kumohon padamu.”


Min Joon menghela nafas, kalah. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menjelaskan aturan dan larangan di rumahnya. “Satu, jangan sentuh apapun di rumah ini. Kedua jangan tanya padaku, apapun itu.”


Song Yi berbinar-binar dan menjawab kalau ia tak akan melakukan itu. Ia mengulurkan tangan, “Kalau begitu sebagai bentuk terima kasih, kita berjabat tangan?”


“Ketiga,” Ha, Min Joon ternyata belum selesai, "jaga jarak dariku, setidaknya 1 meter.”


Min Joon langsung meninggalkan Song Yi yang berseru padanya, “Hayahh.. jaga jarak? Memang kau tahu dengan siapa saja aku pernah main film? Jung Woo Sung, Kang Dong Won, Won Bin. Dengan orang-orang hebat –“


Brak! Dan Song Yi bicara pada tembok, membuat Song Yi heran. Benar-benar hal yang mustahil, ada pria yang tak menyukainya dan curiga, “Apa mungkin seleranya itu beda (gay)?” LOL.


Jae Kyung puas saat menerima laporan dari asistennya tentang kemungkinan keluarga Yoo Ra menerima dugaan bunuh diri dan menutup kasus ini.

Tapi Jae Kyung menjadi waspada saat mendengar laporan asistennya yang menemukan beberapa rekaman video dan rekaman telepon dari laptop Yoo Ra dan petunjuk kalau Yoo Ra membuat copy-nya ke USB. Dari rekaman black box di mobil Yoo Ra, terbukti kalau USB itu disimpan di tas yang dibawa Yoo Ra ke kapal pesiar.

Jae Kyung menyuruh asistennya untuk mencari jejak clutch itu dan siapa yang mengambilnya.


Percakapan mereka terhenti karena Hwi Kyung menyerbu masuk. Setelah menyuruh asistennya pergi, ia mendengar rentetan masalah yang sedang menghinggapi Hwi Kyung.


“Kau sudah lihat beritanya, kan? Kenapa kematian Han Yoo Ra menjadi kesalahan Song Yi-ku?” Hwi Kyung benar-benar hilang akal dan meminta kakaknya untuk mengumpulkan wartawan dan menjelaskan kalau kematian itu mungkin bukan bunuh diri. “Mungkin itu adalah kecelakaan. Oh.. atau bisa saja sebuah pembunuhan! Di luar negeri juga banyak kasus seperti itu.”


Jae Kyung tersenyum dan menenangkan adiknya. Polisi sekarang sedang melakukan penyelidikan dan kebenaran sebentar lagi juga akan muncul.

Tapi Hwi Kyung benar-benar tantrum karena kesal dengan hal yang terduga seperti ini.


Maka ia pun pergi ke apartemen Song Yi. Betapa kagetnya melihat banyak wartawan yang stand by di depan apartemen. Bahkan karena tak mau meninggalkan tempat, mereka pesan antar makanan.


Hwi Kyung pun berjalan menembus para wartawan yang duduk di lantai. Tak ada yang mengenali Hwi Kyung sebagai putra konglomerat malah menganggapnya sebagai wartawan yang juga mencari berita. Hwi Kyung memencet bel tapi tak ada yang membuka pintu.


Salah satu wartawan memberitahukan kalau tak akan ada yang membuka pintu. Ia malah menawari Hwi Kyung untuk makan bersama mereka. Sambil makan, Hwi Kyung mendapat informasi kalau Song Yi masih ada di dalam karena manajer Song Yi mencoba mengeluarkannya tapi gagal.


“Jadi dia..” Hwi Kyung jadi panik. Tapi ia langsung menurunkan nada bicaranya karena para wartawan itu menatapnya curiga, “Maksudku Nona Chun Song Yi, apakah dia tak kelaparan?”


Tentu saja tidak. Song Yi sekarang malah berleha-leha makan jeruk sambil nonton TV. Min Joon datang dan bengong melihat betapa joroknya Song Yi, membuat ruang tengahnya menjadi berantakan. Ia pun bertanya tentang pokok masalah yang membelit Song Yi. Apakah Han Yoo Ra benar-benar bunuh diri karena Song Yi.


Song Yi langsung membantahnya. Min Joon pernah bertemu dengan Yoo Ra di salon. “Apakah wanita seperti Yoo Ra adalah tipe wanita yang menceburkan dirinya ke sungai Han? Ia tak akan pernah melakukan itu.”


Song Yi baru memperlihatkan perasaannya sebenarnya sekarang. Matanya berkaca-kaca mengenang saingan sekaligus temannya, “Saat aku melihatnya untuk terakhir kali, ia menyombongkan diri kalau ia akan menikah segera,”air mata mengalir walau Song Yi berusaha menelannya, “Ia baru berumur 30 tahun. Bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi? Aku tak bersalah, tapi kenapa perasaan ini menggangguku? Kenapa aku merasa bersalah?”


Min Joon memahami perasaan Song Yi dan bertanya kapan Song Yi terakhir melihat Yoo Ra. Song Yi pun menceritakan.


Pukul 23.30, Song Yi sedang mencuci tangan di toilet saat mendengar suara Yoo Ra yang bernada tinggi, membuatnya penasaran. Ia pun mengintip keluar dan melihat Yoo Ra sedang menuntut penjelasan pada seseorang apakah hubungan mereka ini hanya sekedar hubungan gelap.


Betapa kagetnya Song Yi saat mengintip siapapria yang diajak Yoo Ra bicara. Jae Kyung. Ia mendengar ucapan Yoo Ra yang akan membuat pengumuman yang mengejutkan nanti malam. Pengumuman yang akan membuat Jae Kyung pasti juga terkejut.


Bukannya menanggapi ucapan Yoo Ra, Jae Kyung malah bertanya tentang depresi yang selalu diderita Yoo Ra. Yoo Ra menjawab kalau tingkat depresinya itu bergantung pada Jae Kyung dan ia sudah tak minum obat lagi sejak beberapa saat yang lalu.

Song Yi menutup pintu saat Jae Kyung meminta Yoo Ra untuk menjaga kesehatannya. Ternyata ucapan Yoo Ra sebelumnya itu benar dan malah Jae Kyung yang berbohong.


Ia kaget saat pintu terbuka. Ternyata Yoo Ra yang masuk ke dalam toilet. Yoo Ra langsung menuduh Song Yi menguping pembicaraanya. Tapi tak seperti biasa, ia tak marah. Ia malah memberitahukan kalau ia akan mengumumkan pernikahannya dengan Jae Kyung.


Song Yi heran mengapa Yoo Ra seperti menempel terus pada Jae Kyung yang sepertinya tak tertarik untuk menikahi Yoo Ra. Walau ia tak menyukai Yoo Ra, tapi ia tahu kalau banyak pria yang mau bersanding dengan Yoo Ra.


Yoo Ra berkata kalau ada yang tak diketahui Song Yi, alasan mengapa Jae Kyung tak bisa memintanya untuk menikahinya. Tentu saja Song Yi penasaran, tapi Yoo Ra tak mau mengatakan. Ia malah mengatakan kalau setelah ia menikah, Song Yi bisa bertahta di puncak menggantikannya.


Dengan santai Song Yi berkata kalau sekarangpun ia sudah cukup tenar. Sontak, percakapan yang tadinya biasa-biasa saja langsung berubah seperti percakapan kucing dan anjing yang bulunya sudah berdiri, siap untuk cakar-cakaran.

Untunglah muncul seseorang yang akan menggunakan toilet, sehingga tak terjadi perang. Yoo Ra pun pergi meninggalkan Song Yi.


Song Yi yang kemudian juga akan  meninggalkan toilet, melihat kalau Yoo Ra meninggalkan tas clutch-nya. Ia pun mengambil tas clutch milik Yoo Ra dan keluar mencarinya.


Itulah kali terakhir ia melihat Yoo Ra. Ia berusaha mencari Yoo Ra, tapi tak ketemu. Dan setelah itu ia terlalu mabuk sehingga ingatannya sedikit membingungkan. Song Yi pun menoleh pada Min Joon, “Sebenarnya hari itu terjadi sesuatu yang aneh…”


Detektif Park sudah bosan melihat rekaman CCTV terus-menerus dan minta berhenti karena hari sudah malam. Tapi Jaksa Yoo tak mau. Ia terus memandangi satu per satu orang yang ada di atas kapal pesiar hingga ke sebuah wajah yang tak tercantum di dalam daftar tamu, “Itu siapa?”


Detektif Park pun menghentikan ocehannya dan memperhatikan lebih jelas. Ia melihat ada Chun Song Yi. Tapi bukan itu yang ditunjuk Jaksa Yoo, melainkan orang yang sedang menatap Chun Song Yi.


Dan kita tahu kalau pria itu adalah Min Joon.


Song Yi menceritakan kalau malam itu ia tertidur di kapal dan bermimpi. “Dalam mimpiku, kau muncul. Dan mimpi itu kelihatan sangat jelas, seakan-akan bukan mimpi.”


Detektif Park membuka daftar tamu, tapi tak satupun tamu yang cocok dengan wajah itu. Ia terus sibuk meneliti daftar tamu saat Jaksa Yoo berseru kaget. Jaksa Yoo baru saja memencet tombol play. Pria yang sedang mereka identifikasi itu tiba-tiba menghilang.


Detektif Park merasa merinding melihat pria itu tiba-tiba hilang, “Hantu. Apa itu hantu?” Ia pun yakin kalau orang itu hantu karena video ini belum dirubah sama sekali.


Tatapannya Jaksa Yoo tiba-tiba tertuju pada pojok layar dan ia terkesiap, “Tapi.. keduanya menghilang!” Detektif Park tak paham maksud Jaksa Yoo, maka ia pun menjelaskan, “Saat pria itu menghilang, begitu pula dengan Chun Song Yi.”

Mereka berdua terdiam, tak tahu jawaban apa yang bisa  menjelaskan dari apa yang mereka lihat barusan.


Min Joon tetap diam walau terlihat dari ekspresinya kalau ia berpikir cepat saat mendengar Song Yi berkata, “Karena mimpi itu sangat jelas, aku hampir percaya kalau mimpi itu adalah nyata.” Ia merasa tatapan Song Yi mengarah padanya saat bertanya, “Apa mungkin.. kau datang pada hari itu?”


Min Joon segera membantah dan Song Yi pun percaya, tapi tetap bertanya, “Kalau begitu, apa yang kau lakukan pada hari itu?”


Min Joon teringat apa yang ia lakukan. Mematikan TV dan membuka sebuah pintu.


Dan whoa… ia masuk ke salah satu kamar di kapal pesiar. Ia segera keluar lagi dan mematikan kamera CCTV yang merekam kehadirannya. Satu persatu kamera yang ia lihat dan lewati, semua ia matikan dengan kekuatannya.


Sampailah ia di geladak kapal. Semua tamu menatap ke langit, pada kembang api yang berpendar di angkasa. Hanya Min Joon yang mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, mencari Song Yi. Dan ia melihat sosok itu sekarang sedang menuruni tangga dengan terhuyung-huyung mabuk.


Namun dalam mabuknya, Song Yi masih bisa mengenali Min Joon. Sesaat Song Yi menatap Min Joon, terkejut, membuat Min Joon membuang muka.


Gelombang menerpa, membuat kapal sedikit oleng. Song Yi kehilangan keseimbangan dan akan jatuh. Min Joon segera menghentikan waktu. Dan ia pun menghampiri Song Yi.


Min Joon membawa Song Yi ke kamar yang kosong dan membaringkannya di tempat tidur. Ia mencoba melepaskan tangannya yang tertindih badan Song Yi. Bukannya terlepas, tapi dalam tidurnya, Song Yi malah mengalungkan tangannya ke leher Min Joon dan menariknya.


Dan mendekat hingga bibirnya menyentuh bibir Song Yi.


Epilog


Min Joon menjawab, “Ciuman? Bukannya aku tak punya kesempatan, tapi aku tak pernah melakukan hal itu sebelumnya.” Wajah Min Joon sedikit jumawa saat melanjutkan, “Jujur, dengan wajahku yang seperti ini, banyak sekali godaan yang menghampiriku.”


Dan godaan itu berupa seorang wanita yang mengajak Min Joon keluar untuk memberikan sebuah lukisan, yang pernah dilihat Song Yi di perpustakaan dan dikira palsu. Lukisan itu adalah karya dari Dan Won Kim Heung Do, pelukis ternama di Hanyang yang bahkan pernah melukis cucu pertama raja mereka.


Malu-malu, wanita itu berkata, “Hadiah ini adalah ungkapan perasaan saya. Dan juga..” tiba-tiba wanita itu menjadi agresif dan mendorong Min Joon ke tembok dan memejamkan matanya, bersiap mencium Min Joon.


Min Joon membalikkan hingga wanita itu berpinah ke dinding, membuat wanita itu tersipu-sipu, bersiap menerima ciuman Min Joon. Tapi sebelumnya Min Joon berkata, “Permintaan dari wanita paling cantik di Hanyang, tentu saja aku tak dapat menolaknya.”


Wanita itu tersenyum senang dan mendengarkan ucapan Min Joon selanjutnya, “Tapi aku memiliki pengakuan yang harus aku ucapkan sebelum ini. Apa kau tahu dari mana asalku?” Wanita itu bingung. Tanpa mengalihkan pandangan dari wajah cantik itu, ia menunjuk ke atas, “Aku berasal dari bintang. Karena itu, apakah kau menerimanya? Tentu saja kau tak mau, kan? Karena kita berasal dari tempat yang berbeda.”


Wanita itu langsung meneteskan airmata, terhina, “Jika Anda tak menyukai saya, Anda seharusnya langsung katakan saja. Kenapa juga Anda membuat alasan seperti itu? Kebohongan Anda benar-benar keterlaluan..”


“Anda keterlaluan!” wanita itu langsung menangis dan berlari masuk ke dalam, meninggalkan Min Joon yang menghela nafas, tak tahu apa yang harus dilakukan.

Komentar :

Haha.. ya iyalah.. Kadang pria itu clueless, ya.. Kalau nggak mau dicium, bilang aja nggak mau dicium. Kaya nggak ada alasan lain aja. 

Karena udah sampai episode 19, jadi nggak tahu mau komen apa. Yang berikut ini komen setelah nonton episode 19. Kalau belum nonton, skip aja dan lanjut ke Sinopsis episode 5.



Komentar setelah mengikuti perkembangan Song Yi – Spoiler –

Pas nonton epilog, kok malah jadi ingat Bok Ja, ya? Banyak alasan yang dibuat pria saat menolak wanita, ternyata alasan pria itu alien adalah alasan klasik, ya.. Dari jaman joseon sudah ada loh.. 

Saat melihat Song Yi sekarang dan Song Yi di beberapa episode terakhir, tak terlihat adanya  perubahan sama sekali. Kalau di drama-drama lain, biasanya lead female diawal cerita memiliki karakter kuat, membela yang lemah dan melawan si lead male. Tapi setelah mereka jatuh cinta dan rintangan menghadang, female lead biasanya lembek dan melempem.

Tapi di sini, karakter Song Yi masih tetap sama. Walau sekarang dia ada di dalam jurang, ia tetap tak gentar dan sombongnya tetap ada. Ia juga tak melempem di depan Min Joon, bahkan masih suka mengolok-olok Min Joon.


Ehem.. ingat masalah ketidakmampuan Min Joon di episode 17 – 19 setelah mereka kissing? LOL banget, mati ketawa gaya Min Joon, deh..

6 comments :

  1. loo??? 4-2?? q udah lupa mbak karna asyik dengan episode 19....

    ReplyDelete
  2. Sempat bingung mba kenapa tiba2 ada 4-2, pas di cek lagi ternyata mba dee emang belum posting....
    jadi baca ulang lagi semua
    thank mba

    ReplyDelete
  3. yg ditunggu2 ...
    kirain mmg dilewatkan mba ...
    gomawo ...

    ReplyDelete
  4. stju ama mba dee,,nilai plus drma ne tu sifat song yi ga berubah....msh sma kyk episode2 awal....

    ;-)

    ReplyDelete