January 22, 2014

Sinopsis My Love From Another Star Episode 10 - 2

Sinopsis My Love From The Star Episode 10 – 2


Sementara  si manajer dan asisten memesan kopi, Se Mi berkata lembut pada Song Yi kalau mereka ini tak pernah tak bertemu hingga selama ini. Song Yi menanggapinya judes, “Kenapa kau seperti ini? Bicara saja sama seperti yang terakhir dulu.”


Se Min menunduk dan dengan perlahan meminta maaf karena sebelumnya ia merasa kecewa atas Song Yi yang tak pernah mengakui ketulusannya, “Aku tahu kalau menolak posisi untuk menggantikanmu sebenarnya adalah hal yang tepat. Aku juga tak menyukai diriku yang tak mampu menolaknya. Karena itu bukan aku yang sebenarnya.”


Song Yi menatap Se Mi muak dan berkata pelan, “Hei.. jangan pura-pura.”

Tapi Min Joon mendengar dan menegurnya, “Chun Song Yi!”



“Jika kau tak tahu, jangan ikut campur!” bentak Song Yi. “Yoo Se Mi. Aku tahu benar kalau kau itu licik. Tapi aku tak tahu kalau kau juga seperti itu, bahkan kepadaku. Setelah kau ketahuan olehku kenapa kau sekarang malah menemuiku dan menurunkan ekormu?”


“Hentikan!” potong Min Joon marah.

“Tidak.. tidak..,” ujar Se Mi lirih. “Song Yi berhak melakukan itu padaku.”

Min Joon tercenung mendengar ucapan Se Mi. Tapi tidak dengan Song Yi. Song Yi mendesis marah, “Jika kau seperti ini, kau ingin menjadikanku seperti apa?”

Asisten itu muncul dengan membawa kopi, namun terjatuh hingga kopi itu membasahi meja dan baju ketiga orang itu. Refleks si asisten dan manajer langsung panik melihat baju Se Mi yang basah padahal baju itu untuk shooting.


Song Yi yang sibuk membersihkan tumpahan itu, tertegun melihat kesibukan dua orang yang dulu menemaninya, sekarang sibuk memperhatikan Se Mi. Se Mi malah bertanya kondisi Song Yi. Si manajer dan asisten menoleh pada Song Yi dan nampak merasa bersalah. Song Yi hanya diam.


Se Mi pun menoleh pada Min Joon, “Profesor, apakah Anda tak apa-apa?” Se Mi mengambil tisu dan membersihkan tumpahan kopi dari tangan Min Joon.


Song Yi menatap tangan Min Joon yang dibersihkan itu. Tak tahan lagi, ia menggebrak meja dan berdiri, “Kau sudah selesai bicara kan? Manajer Do, ayo kita pergi sekarang.”


Tanpa menoleh, Song Yi beranjak pergi. Min Joon pun bangkit dan melepas jasnya dan menyampirkan jas itu ke bahu Song Yi. Dengan tangan memeluk bahu Song Yi, Min Joon menunduk pada Se Mi dan berjalan menemani Song Yi.

Si manajer dan asisten bengong, “Profesor itu dan woori noona, kapan mereka menjadi sangat dekat?”


Se Mi merasa tak suka. Entah karena si manajer berkata woori noona (noona-ku) untuk Song Yi atau merasa usahanya membuat Min Joon tak suka pada Song Yi, sia-sia.


Di mobil, Song Yi menggerutu pada Min Joon yang katanya tak punya tipe gadis ideal, tapi ternyata tipenya adalah seperti Se Mi. Min Joon menyuruh Song Yi untuk menghentikan ucapannya yang tak masuk akal.


Tapi Song Yi yang masih cemburu malah mengkritik Min Joon yang katanya tak suka disentuh, tapi malah diam saja saat Se Mi mengelapnya. “Bahkan kau juga tampak menikmatinya.”

Min Joon akhirnya diam saja, membuat emosi Song Yi yang tadinya tinggi menjadi turun dan ia memuji usaha Min Joon dalam menghadapi Presdir Ahn dan merasa Min Joon pantas menjadi manajernya karena memiliki pengetahuan yang luas.

“Chun Song Yi,” panggil Min Joon.

“Ya?” sahut Song Yi sopan. Tapi menyadari kalau ia memakai bahasa jondae (formal) yang berarti ia menganggap Min Joon lebih tua, Song Yi mengubah nada bicaranya dengan banmal (informal), “Apa?”


“Tegakkan kepalamu sepanjang hidupmu,” Min Joon tiba-tiba memberi nasehat, membuat Song Yi heran. “Entah kau mengenal dunia atau tidak, dunia tak akan mempermudahkanmu. Walau kau merasa seperti tertabrak, walau kau mungkin merasa akan mati akan ketidakadilan yang kau terima, dunia tak akan pernah peduli.”


Song Yi menatap Min Joon yang terus memandang ke jalan namun mulutnya terus bicara, “Kau sekarang berada di pinggir jurang. Jika kau salah langkah, kau akan jatuh ke rimba tak bertepi dan hilang tanpa jejak. Jadi..”

“Jadi,” potong Song Yi pelan, “Aku meminta Manajer Do untuk tetap berada di sisiku.”

Min Joon menoleh pada Song Yi dan bertanya mengapa Song Yi percaya padanya. “Jangan percaya padaku juga. Aku.. tak dapat terus berada di sisimu.”

“Kenapa? Apa mungkin karena sekarang aku miskin? Karena itukah? Karena aku mungkin tak bisa menggajimu? Tak mungkin. Aku ini Chun Song Yi,” ujar Song Yi dengan percaya diri. “Aku tak mungkin menahan gajimu. Walau tentu saja aku tak bisa memberimu banyak karena kondisiku sekarang ini. Makanya aku tak akan memberimu banyak pekerjaan. Yang perlu kau lakukan hanyalah berada di sisiku setiap waktu saat kuminta.”


Song Yi melihat Min Joon tak menjawab maka ia bertanya, “Apakah kau tetap tak bisa melakukannya juga? Kau tak bisa?” Song Yi nampak kecewa melihat  Min Joon terus diam. Walau sebenarnya Min Joon  nampak galau.


Sesampainya di lantai 23, Song Yi mencoba membuka percakapan dengan bertanya apakah Min Joon masih demam? (Tidak) Atau mengajak Min Joon makan malam karena ia juga harus makan malam. (Tidak). Min Joon langsung menutup pintu apartemennya tanpa sapaan selamat tinggal.


Di apartemennya sendiri, Song Yi melihat Yoon Jae sedang menonton ET di tabletnya (Btw, Steven Spielberg-ssi, your alien is so wrong. I bet you don’t know that the real alien is not as scary as your alien, but as handsome as Do Min Joon-ssi). Yoon Jae memberitahu kakaknya kalau ibu meninggalkan kimchi untuk mereka.

Song Yi langsung mendapat ide. Ia menyuruh Yoon Jae untuk ke sebelah dan memberikan kimchi itu pada tetangga sebelah. Ia berhutang budi pada tetangga sebelah dan mereka seharusnya berbagi jika punya makanan enak. “Kau pergi ke sana dan langsung kembali lagi.”


“Kau saja yang pergi dan langsung kembali. Memang kau siapa, menyuruh-nyuruhku?” gerutu Yoon Jae yang langsung dapat hadiah tendangan dari Song Yi. Melihat Yoon Jae tetap nonton, Song Yi mengintip film apa sih yang sedang ditonton adiknya itu. Ia memukul kepala Yoon Jae saat tahu film ET yang ditonton, “Dasar! Umurmu berapa sih, tontonannya malah ET? Apa kau ini masih SD?”


Sambil cemberut dan menggerutu, Yoon Jae akhirnya bangun dan mengambil bungkusan kimchi. Song Yi berteriak menyuruh Yoon Jae untuk memberitahukan kalau dialah yang mengirimkan kimchi dan ia ada di rumah.


Yoon Jae menyerahkan dan Min Joon menerima. Sudah selesai. Yoon Jae kembali dan Song Yi terus bertanya ini itu tentang Min Joon dan Kimchi, membuat Yoon Jae yang sudah selesai melakukan tugasnya, jadi kesal. 


Akhirnya saat Song Yi menyuruh Yoon Jae untuk mengambil kotak kimchi-nya kembali, ia pun berteriak, “Ambil saja sendiri kalau kau mau!”


“Aku?” Song Yi langsung berdiri dengan gaya jual mahal. “Kalau kau menyuruhku seperti itu, aku tak bisa apa-apa lagi.”


Song Yi langsung berlari ke kamar dan memilih-milih baju. Hehe.. ini mau ketemu tetangga aja kaya mau ke pesta. Dan Song Yi pun pergi menemui tetangga itu.


Rambut disanggul ke atas, dengan rok manis dan make up tipis, Song Yi berkata dengan penuh keanggunan. Tapi Min Joon tak melirik dandanan Song Yi sedikitpun saat membuka pintu. Ia malah bertanya ketus, “Apa lagi?”

“Aku ingin mengambil kotak kimchi,” jawab Song Yi. Tangannya terulur untuk membuka pintu lebih lebar lagi.

“Sebentar,” jawab Min Joon pendek dan kembali menutup pintu. 


Refleks Song Yi menarik tangannya kembali dan berteriak, “Kau hampir menjepit jariku!” Tapi Song Yi tak menyerah dan memencet password di pintu.


Min Joon kaget saat melihat Song Yi sudah ada ada di dalam rumah. Song Yi tersenyum manis dan berkata kalau Min Joon tak mengganti password rumahnya. Ia heran karena ia selalu lupa password rumahnya sendiri, tapi ia tak pernah lupa password Min Joon, “Aneh, ya?”


Song Yi berkeliling melihat-lihat apartemennya,memuji apartemen Min Joon yang sudah kembali rapi dan tanamannya sudah segar kembali. Ia juga memberitahu kalau kimchi buatan ibunya itu enak sekali, apalagi setelah ditaruh diluar sehari sebelum dimasukkan dalam lemari es. Min Joon mengangguk dan mengangsurkan kotak kimchi itu, membuat Song Yi bingung.


Dengan nada bosan, Min Joon bertanya, “Bukankah kau kemari untuk mengambil kotak ini?”

Song Yi segera tersadar maksud kedatangannya tadi. Ia mengambil kotak itu, namun tak segera pergi. Ia bertanya tentang calon pembeli tas yang menghubungi Min Joon. Min Joon menjawab kalau pembeli itu tak SMS lagi setelah ia menolak untuk menurunkan harganya.


“Kau harusnya menurunkan 20 ribu won!” kata Song Yi menyarankan. Tapi Min Joon malah menyuruh Song Yi untuk mengganti contact person di website itu sebelum ia marah. Song Yi pun menyetujuinya walau dengan enggan, “Kau ini sangat pelit.”


Min Joon mendelik dan matanya melirik ke luar, menyuruh Song Yi segera pergi. Akhirnya Song Yi pun pergi dengan sedikit menghentakkan kakinya.


Min Joon menghela nafas. Hihihi.. kayaknya susah ya menyingkirkan Song Yi?


Yoon Jae yang asyik menonton ET, kaget mendengar teriakan kakaknya, “Apa kau sudah gila?!!” Ternyata kakaknya itu bicara sendiri. Ia kembali menonton video tak peduli kakaknya yang ngomel-ngomel sendiri, mengatai dirinya memang sudah gila dan bertanya-tanya apakah ia memang ingin tinggal di rumah itu?

“Chun Song Yi, ayo sadarlah!!”


Di kamar, Song Yi masih bicara dengan alter egonya, heran kenapa ia, Chun Song Yi bisa tertarik pada Min Joon. Tapi ia kembali membayangkan, “Kakinya yang panjang.. aku menyukainya. Tubuhnya yang bagus. Wajahnya yang kecil dan matanya..”

Chun Song Yi berbaring dan melamun, “Saat terakhir aku melihatnya, sepertinya ia berolah raga agar badannya bisa seperti itu.” 


Tapi ia  bangkit dan tersadar, “Tapi tetap saja. Aku ini kurangnya apa jika dibandingkan Do Min Joon?”


Ia mengingat kualitas Do Min Joon yang lulusan Harvard dan sudah menjadi professor. “Walau itu ciuman pertamanya, tapi ciuman itu tidaklah buruk.” 


Begitu sadar akan ucapannya, ia mendelik dan berteriak, “Omo omo omo!! Apa aku memikirkan lagi ciuman dengan manusia itu? Apa mungkin aku merindukannya? Tidak.. tidak .. tidaaakkk!!”


Di kantor, Detektif Park dan Pengacara Yoo menemui jalan buntu karena mereka tak menemukan hal yang mencurigakan, baik dari histori kartu kredit atau panggilan telepon. Jadi bagaimana mungkin Yoo Ra bisa hamil?


Perbincangan mereka terhenti karena Se Mi muncul. Detektif Park kaget karena melihat aktris top datang ke kantornya. Dan menemui Pengacara Yoo.


Se Mi ternyata datang untuk membawakan baju ganti untuk Pengacara Yoo dan memintanya untuk sering pulang ke rumah karena ibu mereka mengkhawatirkannya. Pengacara Yoo mengiyakan dan bertanya mulai bertanya tentang Han Yoo Ra.


Se Mi heran mendengar kakaknya masih menyelidiki kasus kemtian Yoo Ra yang disudah dinyatakan sebagai kasus bunuh diri. Bahkan orang-orang sudah melupakannya. Tapi kakaknya malah bertanya,  “Apa kau tahu Han Yoo Ra sedang berhubungan dengan siapa?”


“Pria?” tanya Se Mi kaget. Ia teringat saat di kapal ketika Song Yi bertanya pada Jae Kyung dan menanyakan hubungannya dengan Yoo Ra. Tapi Se Mi tak menjawab malah bertanya mengapa kakaknya menanyakan hal itu. Pengacara Yoo menjawab kalau ia menduga kasus kematian Yoo Ra berhubungan dengan seorang pria.


Hwi Kyung mencari kakaknya di kamar tapi ia tak menemukannya. Ia malah mendengar handphone Jae Kyung berbunyi, telepon dari K. Ia menerima panggilan itu dan terkejut saat mendengar seorang wanita mengiba, meminta Jae Kyung untuk melepaskannya, “Kau tahu kalau aku tidak gila. Tapi orang-orang di sini tak mau mempercayaiku.”

Hwi Kyung hendak bertanya pada wanita itu, tapi handiphone itu sudah keburu direbut oleh Jae Kyung yang dengan tajam menegurnya yang sembarangan mengangkat teleponnya. Hwi Kyung meminta maaf dan bertanya siapa wanita yang meminta dirinya dikeluarkan?


Berbeda seperti sebelumnya yang selalu berwajah ramah, Jae Kyung berkata kalau wanita itu adalah orang gila. “Saat kau bekerja, tak dapat dihindarkan kau akan bertemu dengan orang yang aneh, Hwi Kyung. Ini hal yang kau tak perlu tahu. Jangan khawatir.”


Hwi Kyung mengerti, namun dari ekspresinya, ia tak terlalu percaya.


Min Joon menelepon Pengacara Yoo dan berkata kalau ia ingin bertemu karena ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Pengacara Yoo.


Dan ternyata pembicaraan itu telah disadap oleh asisten Jae Kyung yang mencatat tempat dan waktu pertemuan itu.


Min Joon mendapat pesan dari Song Yi yang meminta untuk bertemu. Dan mereka pun sekarang berada di balkon, dengan Song Yi mengumpulkan keberanian untuk bertanya, “Do Min Joon-ssi, apa yang sebenarnya telah kau lakukan?”

“Seperti apa?” tanya Min Joon tak mengerti.


“Kau telah melakukan sesuatu padaku,” tuduh Song Yi. “Tak mungkin aku seperti ini jika kau tak melakukan sesuatu.”

“Katakan dengan jelas agar aku mengerti,” ujar Min Joon tak sabar.

“Aku jelas-jelas yang mencoba menggodamu dalam waktu 15 detik. Apa aku yang malah digoda?” tanya Song Yi ragu.

“Apa?”

“Menurut pendapatmu, bagaimanakah aku?” Sedetik kemudian, Song Yi terperangah seolah tersadar dan langsung berbalik, “Jangan, jangan, jangan! Jangan dijawab. Kau akan mati kalau kau menjawabnya!”


Min Joon bingung melihat Song Yi yang seakan jadi bipolar. Song Yi menjelaskan kalau sekarang ia merasa sangat malu, “Jadi aku akan berkata dengan memunggungimu. Kau hanya perlu mendengarkan saja.”


Ia berbalik dan melanjutkan ucapannya, “Aku biasanya tak seperti ini. Tentu saja aku menyadari apa yang telah kau lakukan selama ini dan aku berterima kasih karenanya. Tapi apa aku tipe orang yang tak dapat membedakan rasa terima kasih dengan perasaan lainnya? Tentu saja tidak. Jika aku ingin berterima kasih, aku seharusnya berterima kasih pada Hwi Kyung. 


Tapi kenapa aku selalu memperhatikanmu? Aku ini orang yang seharusnya diperhatikan. Airport fashion-ku, lipstick yang aku gunakan, rambut indahku. Aku selalu menjadi bahan perhatian orang lain. Kenapa aku.. kata-katamu.. kenapa kau.. ciuman denganmu..,” Song Yi memejamkan mata frustasi, “Ah, apa aku sekarang jadi gila? Menurutmu bagaimana aku sebagai wanita? .. Jangan! Kau mati kalau menjawabnya!”


Tak ada jawaban di belakang, membuat Song Yi curiga jangan-jangan Min Joon telah meninggalkannya. Ia segera berbalik dan melihat ke balkon sebelah.


Min Joon masih berada di tempatnya semula, namun kali ini tertegun dan terus memandangi Song Yi. Song Yi tak dapat mengalihkan pandangannya dari Min Joon.


Entah berapa lama mereka ada di balkon, tapi Song Yi kembali, bukan dengan perasaan lega, tapi malah semakin frustasi.  Dan tak dapat tidur hingga keesokan harinya.


Dua pelanggan kafe Bok Ja sekarang sedang menggosip tentang berita baru tentang Song Yi yang menjadi preman saat sekolah dulu.

Salah satu dari mereka bahkan pernah membaca artikel dari seorang blogger yang dekat dengan tetangganya sepupunya iparnya teman sekolah Song Yi (haha.. jauh amaaattt!!) yaitu Song Yi di sekolah suka mengunyah permen karet (tanda seorang pemberontak). “Anak yang dibully tak hanya satu dua saja, mereka semua bisa mati kalau tertangkap olehnya.”


Mereka pun bertanya-tanya kalau mungkin saja Song Yi membully mendiang Yoo Ra yang sangat baik itu. Dan mendadak terdengar suara, “Apa kalian yakin?”


Mereka tersentak kaget, karena di belakang mereka Song Yi berdiri dengan muka kejam dan bertanya, “Apa kalian yakin aku seorang pem-bully? Dan mereka akan mati jika tertangkap olehku?”


Haha.. kedua orang itu jadi ketakutan. Song Yi ini memang bukan tipe artis yang suka klarifikasi, tapi malah provokasi.


Pada Bok Ja, Song Yi mengomel kalau ia seharusnya mengadakan konferensi pers untuk mengklarifikasi masalah ini. Ia tak bersalah, kenapa juga ia harus bersembunyi? Bok Ja pun mengajarkan cara terbaik untuk melakukan konfrensi pers.


Yaitu, jangan tersenyum. Buat ekspresi paling depresi dan paling menyedihkan. Tatapan mata harus menunduk 15 derajat ke bawah. Apapun yang dikatakan orang, ekspresi Song Yi harus terlihat seperti akan menangis.

Song Yi mempraktekkan semuanya, dan Bok Ja harus mengakui kalau Song Yi sangat mahir karena ekspresinya bagus sekali. Bok Ja menambahkan Song Yi tak boleh memakai aksesoris, harus berbaju hitam, perlu juga memakai sarung tangan dan siapkan sapu tangan, “Karena kau harus menangis di saat terakhir. Selama konferensi pers, kau harus selalu tampak ingin menangis, tapi jangan pernah menangis. Kalau seperti itu level rendahan. Kau harus menangis di 5 menit terakhir.”

Haha.. panduan ini kayanya perlu deh buat para selebritis yang mau curhat. Bahkan Song Yi juga memuji Bok Ja yang sangat professional.


Bok Ja bertanya dimana Song Yi akan mengadakan konferensi pers? Song Yi ingin menyewa ruangan paling besar di hotel. Tapi ia tak punya agency untuk melakukannya dan ia sekarang sudah jatuh miskin. Bok Ja heran dengan cara hidup Song Yi sekarang ini.


Ia semakin heran dan hanya bisa berdecak saat ada telepon masuk ke handphone Song Yi untuk menawar sepatu. Mulanya Song Yi berpura-pura mengecilkan suaranya agar tersamar, tapi ia tak bisa terus menyamar karena naik darah saat penelepon itu menuduh sepatu itu adalah barang KW.


Pengacara Yoo pergi memarkirkan mobil di sebuah gedung. Tapi begitu keluar, ia langsung dipukul hingga pingsan. Pemukul itu menaruh pena Min Joon di dekat tubuh Pengacara Yoo.


O oh.. Ada kamera CCTV yang merekam kejadian itu. Semoga tidak dirusak.


Min Joon sedang menunggu kedatangan Pengacara Yoo saat ia melihat mobil ambulans lewat dan orang-orang di jalanan ribut. Ia menajamkan pendengarannya dan mendengar mereka bicara kalau ada orang yang pingsan. Firasatnya tak enak dan ia segera pergi ke area parkir.


Benar saja. Ia melihat pengacara Yoo dibawa masuk ke dalam ambulans dan buru-buru dilarikan ke rumah sakit.


Lampu salah satu mobil menyala, dan Min Joon melihat pengendara mobil itu tersenyum padanya. Jae Kyung menatapnya dan tersenyum.


Ia pun pergi mengikuti Jae Kyung yang seolah memang sengaja untuk diikuti, karena ia terus menyetir tanpa merasa terburu-buru.


Sesampainya di rumah, Song Yi hanya bisa menumpahkan kekesalannya di kamar karena Min Joon tak menghubunginya sama sekali. Ia berjanji tak mau berurusan lagi dengan Min Joon.


Tapi tiba-tiba senyumnya terkembang, “Eih.. dimana ya ikat rambut unguku? Aku benar-benar menyukai barang itu.” Matanya semakin berbinar, “Ahh.. kurasa aku meninggalkannya di rumah Manajer Do. Aku harus bagaimana, ya?”


Uhh.. saya tak suka melihatnya. Saat Song Yi masuk ke rumah Min Joon yang sepi, sementara Min Joon entah ada di jalanan mana dan mengikuti Jae Kyung. Apakah Jae Kyung sengaja membuat Min Joon menjauh dari rumahnya agar ia bisa menyuruh orang melukai Song Yi?


Di sebuah tempat yang sepi, akhirnya Jae Kyung menghentikan mobilnya. Mereka pun turun dari mobil, tapi Jae Kyung tersenyum menang, seakan ia berhasil melakukan sesuatu.


Song Yi memanggil-manggil Min Joon di perpustakaan Min Joon yang gelap. Duh, Song Yi-ah.. ayo keluar!


Min Joon bertanya apakah Jae Kyung yang telah melukai Jaksa Yoo? Jae Kyun menjawab santai, “Kau kan sudah kuberitahu, alasan kenapa kau dan Chun Song Yi masih hidup karena aku yang membiarkan kalian untuk hidup. Jadi bersyukurlah. Aku benci pada orang yang tak tahu bagaimana cara bersyukur.”


Min Joon mengeluarkan USB itu dan bertanya apakah Jae Kyung akan berhenti jika ia serahkan USB ini?


Jae Kyung tersenyum dan mengiyakan dan mengambil pistol untuk diarahkan ke kepala Min Joon. Pistol itu adalah pistol pembius binatang, tapi ia telah mengisinya dengan zoletil dan rampun sehingga Min Joon bisa pingsan tanpa merasakan sedikitpun rasa sakit. “Biasanya aku tak melakukan hal seperti ini, tapi kau telah memancingku untuk membunuhmu sendiri.”

Jae Kyung membeberkan rencananya setelah ini. “Kematianmu akan dianggap sebagai usaha bunuh diri karena kau tak tahan menahan tekanan karena telah membunuh Han Yoo Ra dan mencoba membunuh Jaksa Yoo. Dan pada saat ini, di komputermu mungkin sudah menyimpan surat wasiat darimu.”


Entah komputer Min Joon sudah tertulis surat wasiat atau belum, tapi di dalam perpustakaan dimana Song Yi melihat-lihat isi perpustakaan, ada seseorang bersembunyi di balik kursi kerja. Ahh… si asisten itu!!


Melihat pistol yang teracung ke arahnya, Min Joon teringat ucapan Pengacara Jang yang mewanti-wanti agar ia tak sekali-kali menunjukkan kemampuannya di hadapan orang lain lagi atau ia akan kehilangan semua yang selalu ia lindungi selama ini.


Berhadapan dengan lawan seperti Jae Kyung, tentu sangat membahayakan Min Joon karena sebelumnya Jae Kyung juga telah melihat kemampuannya.


Tapi sebelum menarik pelatuknya, Jae Kyung berkata kalau ia akan menyingkirkan Min Joon sehingga lebih mudah untuk menyingkirkan Song Yi, “Walau jika urutannya berbeda tak masalah.”

Ahh.. berarti ada kemungkinan Song Yi akan dibunuh dulu?


Belum sempat Min Joon menghindar, pistol Jae Kyung meletus.


Tapi pelurunya mengenai udara. Min Joon seperti hilang ditelan angin. Jae Kyung kaget setengah mati dan mencari ke seklilingnya. Tak ada tanda-tanda Min Joon di sekitarnya.


Hingga Min Joon muncul kembali di belakangnya dan berkata, “Bukankah sudah kukatakan kalau kau tak akan pernah dapat membunuhku?”


Komentar :

Aduhh… saat Min Joon berkata di akhir itu, Min Joon sudah memberhentikan waktu, kan? Jadi Min Joon tak memprovokasi Jae Kyung lebih banyak lagi, kan? Bener, kan Jae Kyung nggak denger ucapan Min Joon terakhir itu?


Kok saat pengacara Jang mewanti-wanti Min Joon itu, rasanya déjà vu, ya? Saya jadi ingat pada si biksu yang memberi larangan pada Wol Ryung agar tak menunjukkan jati dirinya pada manusia selama 100 hari. Dan kejinya Jae Kyung sama bahkan melebih Jo Gwan Woong, deh..

Beneran deh, selalu pas adegan Min Joon dan Jae Kyung yang berdua saja, saya selalu deg-degan. Aktor yang memerankan Jae Kyung bener-bener pas jadi orang jahat.

Dan btw, ada apa dengan cincin itu? Apakah itu sebagai jimat? Atau jangan-jangan Jae Kyung itu semacam dukun atau apalah yang harus membunuh orang agar puas? Kok kayaknya membunuh itu seperti semacam potong kuku. Kalau sudah panjang, dipotong. Kalau sudah menyusahkan, dibunuh.

Ngomong-ngomong tentang cincin, ada kemiripan dengan cincin yang dipakai Song Yi di prolog berikut ini.

Prolog


Song Yi mendatangi psikiater yang dulu pernah ia temui dan bertanya apakah rasa ketergantungan bisa berubah menjadi cinta?


“Walau aku tak bisa mengatakan mustahil, tapi mungkin kau tak bisa membedakan keinginanmu untuk bergantung pada orang itu dengan rasa cinta.”


“Aku tergantung pada ayam dan bir. Aku selalu makan ayam dan bir saat aku stress. Tapi hatiku tak berdebar-debar saat aku melihat paha ayam. Tapi kalau yang ini berdebar-debar,” kata Song Yi sambil berbisik dan ia memegang dadanya, “Dug dug.. dug dug.. dug dug.. “


Psikiater itu mulai merasa khawatir apalagi Song Yi mulai berbisik dengan nada tinggi, “Contoh lainnya, jantungku juga berdebar-debar saat melihat tas yang baru. Tapi walau aku tak melihat tas itu, bibirku tak terasa kering. Atau hanya karena gadis lain membawanya,” Song Yi menggebrak meja dan berteriak, “Aku tak ada keinginan membunuh gadis-gadis itu!”

Psikiater itu buru-buru menuliskan sesuatu di catatannya, tapi Song Yi tak peduli. Ia tertawa seram, “Tapi yang ini tak seperti itu. Jantungku berdebar-debar dan bibirku kering. Jika aku tak melihatnya, aku merasa khawatir. Gadis itu menggoda pria itu, aku benar-benar ingin..”


Song Yi kembali menggebrak meja, tapi ia langsung sadar akan sekelilingnya dan buru-buru minta maaf dengan suara kecil. Tapi seakan orang lain muncul menggantikan Song Yi dan mulai menggeram marah, “Gadis itu yang membuat kopi itu mengenai pria itu, dan mengelapnya. Aku ingin benar-benar mematahkan tangannya!!”


Song Yi kembali meggebrak meja membuat psikiater itu cemas. Tapi kali ini Song Yi duduk dan mengelus-elus cincin (yang mirip dengan milik Jae Kyung, bedanya ini dari emas) dan berkata dengan manis, “Emosi seperti ini disebut apa, Dok?”


Dokter itu tak menjawab hanya berkata kalau ia akan mengganti obat, yang kali ini jauh lebih kuat. “Dan kau harus meminumnya secara teratur.”

Komentar (lagi) :

Hehe.. Prolog itu benar-benar terjadi nggak ya? Song Yi seperti memiliki multiple personality disorder.


Kayaknya nggak, ya? Walau waktu di kamar, Song Yi juga bicara sendiri dan bipolar. Tapi kayaknya kejadian itu hanya hiperbola dari perasaan Song Yi yang nggak keruan dan ia masih belum bisa menerima kenyataan kalau ia bisa suka pada Min Joon.


Saya kok melihatnya seperti penjelasan akan sikap Jae Kyung selama ini. Apalagi ada cincin yang mirip yang seperti cincin Jae Kyung. Coba kalau yang duduk disana adalah Jae Kyung dan bukannya Song Yi, dan kata Min Joon diganti dengan perusahaan S&C.

Apa mungkin Jae Kyung sebenarnya sakit jiwa alias memiliki multiple personality disorder dan sekarang kepribadiannya yang jahat yang menguasai dirinya sepenuhnya? Atau Jae Kyung memang murni benar-benar jahat?

8 comments :

  1. Mudah2an adegan yg terakhir itu bener2 min joon yg menghentikan waktu...kyaaaaa..penasaraaan penasaraaaann..... :D

    ReplyDelete
  2. song yi kena virus cinta....apa obat dr dokter bisa nyembuhin????

    ReplyDelete
  3. pertama2 mbak deee dah sehat ya..syukurlaah..bnyak mnum vit mbak biar gak drop.. kmrin itu kcapean krn ibu dan anaknya sakit..smg ke depannya terus membaik amieen..

    saya bner2 ngakak seorg song yi yg bgt kaget dgn perubahan dirinya..mw nyadar dia yg suka cwk dluan aja kalang kanut gak karuan,,tp ku berfikir dgn kmampuan min joon yg bs mendengar dr jarak jauuh apakah dia tdk mendengar keluh kesahnya song yi saat d kamar..ooh kakinya yg jenjang kulitnya yg maskulin.. matanya yg....ciuman pertama yg tdk ckup buruk kkkkkkk

    mbak dee ku jg berharap seperti itu smg aja wktu sdh d berhentikan wlo hanya semenit,,jng smpe kata2 min joon bs d dengar jae kyung..dan song yi..aigooo kluarlaah..lagian knp tuh sekr kyak hantu aja sih mudahnya kluar masuk rumah org..isssh pengen ku bejek2 tuh sekretaris..dy itu yg hrs d hilangkan dluan biar jae kyung keh pegangan..

    ReplyDelete
  4. Selalu suka baca komen-komen Dee... hmm, dan Fanny juga ^_^

    ReplyDelete
  5. Ep 11 Download Torrent –> http://bit.ly/LUHsPb

    ReplyDelete
  6. Wahh kayak voldemort aja. Makin banyak ngebunuh orang akan semakin kuat dan waktu kematian akan semakin lama dan susah (*horcrux)

    ReplyDelete
  7. Wahh kayak voldemort aja. Makin banyak ngebunuh orang akan semakin kuat dan waktu kematian akan semakin lama dan susah (*horcrux)

    ReplyDelete
  8. jangan apa-apakan min joon oppa, ntar siapa yang nolong song yi bener2 buwat aku penasaran setengah sadar.....hehehe

    ReplyDelete