December 19, 2013

Sinopsis King's Family Episode 7

Sinopsis King’s Family Episode 7


Gwang Bak terbangun dan shock saat menyadari ia tak memakai baju yang lengkap dan bukan berada di tempat tidurnya sendiri! Saat teringat akan pertemuannya terakhir dengan Sang Nam, ia langsung panik. Pasti saat ia mabuk ia melakukan itu dengan Sang Nam. Ia yakin kalau Sang Nam ada di luar selimutnya.

Maka ia meminta Sang Nam untuk melupakan kejadian malam tadi, “Kurasa aku mabuk dan membuat kesalahan. Aku sebenarnya bukan wanita yang seperti itu. Tapi aku bukannya tak menyukaimu atau menyesali apa yang kita lakukan kemarin malam, tapi aku merasa malu dan tak enak. Aku sekarang akan pergi. Tutuplah matamu hingga kau mendengar pintu tertutup.”


Dan selimut pun tersibak, membuat Gwang Bak berteriak panik, “Apa yang kau lakukan? Kau tak boleh melakukannya!”

“Apa maksud kata-katamu?!”



Bwahaha.. ternyata ibu yang membuka selimutnya. 


Gwang Bak malah semakin panik melihat ibunya menangkap basah dirinya dan Sang Nam dan memohon, “Ibu, ia tak bersalah. Semua ini karena aku mabuk!”


Ibu langsung memukuli Gwang Bak yang sudah mabuk dan mencoba mencium Dae Bak dalam mabuknya, membuat Dae Bak mengungsi tidur di kamar ibu. LOL.

Ya ampun si Gwang Bak nggak ada cute-cute-nya sama sekali kalau mabuk.


Saat Gwang Bak menidurkan keponakannya, akhirnya ia ingat kejadian kemarin. Saat Sang Nam akan menciumnya, ia cegukan dan.. muntah! Eww… Definitely no kiss, deh.


Gwang Bak panik dan langsung mematikan teleponnya, takut Sang Nam meneleponnya.


Tapi Sang Nam tak mungkin meneleponnya karena ia sedang bersiap-siap kencan buta dengan Yeo Dal.


Sementara Gwang Bak memutuskan untuk keluar rumah dengan baju seadanya. Pada Don yang ia temui di jalan, ia pergi karena tak tahan dengan omelan ibu. Ia harus berhasil menerbitkan novel jika tidak ia harus keluar rumah. Don meminta Gwang Bak mencari rumah dua kamar jika diusir, agar ia bisa ikut numpang.


Saat kencan itu, Yeo Dal menampilkan citra gadis baik-baik, tak minum soju dan selalu tertarik pada cerita Sang Nam. Ia pun meninggalkan kesan dengan berjalan dengan gemulai, membuat Sang Nam dan banyak pria tak bisa melepas pandangan darinya.


Ia pergi ke toilet untuk mempersiapkan triknya agar Sang Nam tertarik padanya. Dengan badan disemprot penuh parfum dan sehelai rambut di tangan, ia berpura-pura melihat ada rambut yang jatuh ke baju Sang Nam. Tiba-tiba Ia mencondongkan badan dan perlahan ‘mengambil’ rambut itu. Sang Nam terdiam merasakan kedekatan mereka.


Dan kebetulan Gwang Bak masuk ke kafe itu dan melihat Sang Nam sedang berkencan dengan gadis yang seksi dan cantik. Ia terpaku melihat pemandangan di depan dan melihat penampilannya sendiri, ia pun buru-buru keluar bersembunyi.


Ahh… Kasihan Gwang Bak. Ia langsung patah hati, sadar dengan kondisi dirinya yang berbeda jauh dengan tipe ideal Sang Nam yang cantik.


Ho Bak memberitahu ayah kalau ia sudah membeli apartemen. Ayah merasa sangat senang mendengar hal itu. Ia ingat betapa sedihnya saat pertama kali berkunjung di apartemen Ho Bak yang di bawah tanah, tanpa jendela. Saat itu Ho Bak hanya sendirian saja setelah melahirkan Sin Tong.

Ho Bak berkata kalau saat itulah ia melihat pertama kalinya ayah menangis, “Ayah tak bersuara, tapi aku tahu pasti ayah menangis karena badan ayah bergetar karena itu.”


Ayah menyesali karena ia bahkan tak bisa menyekolahkan Ho Bak hingga sarjana dan bahkan juga tak bisa menikahkan Ho Bak dengan semestinya karena Soo Bak dan Don, “Setiap aku memikirkanmu, hatiku selalu terasa sakit.”


Ho Bak berkaca-kaca dan meminta ayah untuk tak khawatir. Ia sekarang sudah punya apartemen 3 kamar dan 2 tempat tidur. Ia tak menyelesaikan kuliah, tapi ia bisa menjadi General Manager, “Punya apartemen di Seoul adalah sesuatu yang luar biasa. Ayah, aku ini sudah berhasil, kan?”


Ayah pun berkaca-kaca dan berkata kalau ia sangat bangga pada Ho Bak. Ho Bak meminta ayah untuk tak memberitahu hal ini pada ibu. Ia merasa kalau ia telah berbuat salah pada ibu. Ayah meyakinkan Ho Bak kalau ia telah melakukan hal yang benar.


Soo Bak belanja ke supermarket, dan berbelanja banyak sekali makanan siap saji. Sementara Ho Bak mencari furniture second untuk apartemennya. Setelah itu mereka bertemu di tengah jalan. 


Soo Bak curiga melihat adiknya keluar dari toko furniture. Ho Bak gugup dan berkata kalau ia hanya melihat-lihat saja dan buru-buru pergi dengan alasan sudah harus masuk kerja.


Tapi Soo Bak sudah keburu curiga. Ia pun memberitahukan hal itu pada ibunya. Ayah yang melihat Soo Bak di rumahnya marah dan menuduh Soo Bak tinggal seharian di rumah. Ibu membantah hal itu. Tapi ayah tak percaya. Ayah menyuruh Soo Bak untuk membawa kedua putrinya untuk tinggal di rumahnya sendiri. Tapi ibu menolaknya dengan alasan rumah itu tak ada jendela dan banyak kecoa.


Ayah menyuruh Soo Bak untuk meniru Ho Bak yang berani membunuh kecoa dan tikus. Ho Bak juga tak bisa menyelesaikan kuliah karena Soo Bak tapi terus bekerja keras. Hampir saja ayah keceplosan bicara kalau Ho Bak sudah berhasil membeli apartemen.Tapi ia langsung berhenti saat akan keceplosan.


Ayah berkata kalau Ho Bak tak pernah menggantungkan hidup dari mereka dan bertanya pada Soo Bak, “Apa kau tak pernah belajar darinya? Pulang dan jangan pernah datang kemari lagi.”


Soo Bak menangis dan segera pergi setelah diusir seperti itu. Ibu mencoba mencegahnya tapi percuma. Ibu marah pada ayah yang membentak Soo Bak yang sudah menderita.


Ho Bak ingin memberi kejutan pada Se Dal. Ia meminta Se Dal untuk menyelamatinya. Tapi lucunya, Se Dal langsung panik, “Setelah kau hamil Sin Tong sendiri, dan kau hamil Bang Tong tanpa ngomong apa-apa padaku, sekarang kau hamil lagi dengan bayi kita yang ketiga?”


Ho Bak tertawa dan berkata kalau bukan itu kejutannya. Se Dal pun lega dan berkata ia sudah tak tahu mau diberi nama apa anak ketiga mereka. Ho Bak bercanda dan mengusulkan, “Banyak pilihannya. Kobrang Tong.” Mereka pun tertawa mendengar nama yang makin lama kedengarannya bagus itu.


Akhirnya Ho Bak memberikan surat rumah pada Se Dal. Dan Ho Bak benar-benar senang melihat ekspresi kaget Se Dal saat membaca isi dokumen itu. Se Dal seakan tak percaya kalau ia dan Ho Bak akhirnya akan memiliki rumah sendiri! Mereka benar-benar bahagia.


Sementara itu Soo Bak kebelet buang air besar malam-malam. Ia masih belum bisa buang air besar di toilet, maka tak ada cara lain selain melakukannya di wadah yang disediakan Min Jung.


Gwang Bak juga tak bisa tidur. Bukan ingin buang air besar, tapi karena ia masih terbayang-bayang Sang Nam yang berkencan dengan wanita cantik.


Si mulut besar Se Dal rupanya tak tahan untuk menyimpan rahasia besar yang baru saja ia ketahui. Ia mentraktir Don makan dan memberitahu kalau Ho Bak sudah membeli rumah sendiri. Don menyelamatinya dan ingin mencari soulmate seperti yang dimiliki Se Dal.


Don merasa galau dan sedikit iri pada Se Dal karena Se Dal memiliki istri, pekerjaan dan sekarang punya rumah sendiri. Sedangkan ia tak punya apa-apa. Ia semakin galau mendengar Dae Bak menanyainya lagi tentang mimpi yang harusnya ia miliki.


Ia pun berkeluh kesah pada ibunya yang sudah tidur. Tak mendapat jawaban, ia pun duduk di luar, resah memikirkan hidupnya.  Kakaknya yang kebetulan terbangun di malam hari, dapat merasakan kesedihan Don.


Ayah pun mengajak Don dan Dae Bak ke sauna. Di sana ia memberi semangat pada Don untuk tak menyerah. Ia menyuruh Don bekerja melakuapa yang Don ingin lakukan, . Begitu pula Dae Bak yang meminta Don untuk memiliki mimpi, “Usia harapan hidup kita adalah 100 tahun, jadi paman masih memiliki waktu selama 65 tahun.“


Yeo Dal menelepon Sang Nam, mengajaknya makan malam. Sang Nam menyetujuinya dan mengajak Yeo Dal makan di tempat yang dulu Gwang Bak pernah diajaknya. Berbeda dengan Gwang Bak, Yeo Dal dengan senang hati digendong untuk melewati genangan, bahkan mencium pipi Sang Nam sebagai hadiahnya.


Sambil menyiapkan sendok dan sumpit untuk Sang Nam, Yeo Dal berkata kalau ia juga suka makan di tempat-tempat seperti ini, namun panik saat tasnya yang mahal kecipratan saus. Ia buru-buru berkata kalau ia tidak materialistis, ia hanya kaget karena tas itu adalah hadiah. Haha..


Sang Nam berkata kalau ia tak peduli jika Yeo Dal materialistis atau mata duitan, selama Yeo Dal cantik, itu tak masalah.


Gwang Bak semakin dikejar deadline, tapi bayangan Sang Nam di kafe tadi tak mau lepas. Dae Bak bahkan memberi kabar panas, kalau kencan buta Sang Nam berjalan dengan baik dan bertanya apakah Gwang Bak tertarik pada Sang Nam? Kalau Gwang Bak terus marah-marah, Gwang Bak akan jadi perawan tua. Gwang Bak kesal dan melempar boneka ke arah Dae Bak.


Walau suka menjelek-jelekkan Gwang Bak, Dae Bak sebenarnya ingin Gwang Bak jadian dengan Sang Nam. Si Dokter cinta Mi Ho, menyarankan agar Gwang Bak dan pria itu harus sering bertemu.

Mi Ho sepertinya tak tahu kalau pria itu adalah sepupunya, Sang Nam.


Sang Nam hanya tersenyum saat teringat kecupan Yeo Dal, tapi tertawa terbahak-bahak saat ingat paniknya Gwang Bak saat ia hendak menggendongnya untuk menghindari genangan air di tempat yang sama dengan saat ia menggendong Yeo Da.. Bahkan rekan kerja Sang Nam senang melihat Sang Nam bahagia seperti itu.


Saat Min Jung mengantarkan barang ke sebuah rumah, ia menemukan kalau pemilik rumah pingsan, seorang pria tua, tak sadarkan diri di rumah, sendirian. Min Jung langsung menelepon 119 dan pemilik rumah itu langsung dibawa ke rumah sakit. Karena kejadian itu, ia memikirkan ayahnya yang sudah tua dan sendirian di desa.


Ia pun menelepon ayahnya dan tak dapat menyembunyikan rasa sedihnya. Ia hanya bisa meminta ayahnya untuk menjaga kesehatan dan berjanji kalau ia akan menjenguk ayahnya.


Di jalan, Min Jung melihat sekelebat sosok ibu Mi Ho dan ia langsung menghentikan mobilnya untuk mencari-cari sosok itu.


Bersama Ho Bak, Se Dal memberitahu ibu dan adiknya kalau mereka sudah membeli apartemen baru dan akan pindah sebentar lagi. Ibu Se Dal bertemu dengan besannya dan memberitahukan hal ini pada ibu Ho Bak, Ang Geum.


Ang Geum sangat marah mendengarnya. Ia memanggil Ho Bak dan memarahinya karena ia tahu berita kepindahan Ho Bak dari besannya, bukan dari mulut Ho Bak sendiri, “Dan bagaimana mungkin kau membelinya di saat seperti ini?”


Gwang Bak dan Don membela kalau sekarang memang sudah waktunya Ho Bak untuk membeli apartemen sendiri dan seharusnya mereka malah menyelamatinya. Tapi ibu menyuruh mereka diam dan bahkan melempar roti yang dibelikan Ho Bak untuknya.


Ibu langsung pergi ke rumah Soo Bak untuk menceritakan hal ini. Ia akhirnya mulai kesal pada Soo Bak yang ternyata tak  menyimpan uang sedikitpun dari uang yang diberikan Min Jung. “Kau sudah menikah sekian lama dan kau diam-diam tak menyembunyikan uang sedikitpun?”


Soo Bak mengatakan tidak dan ia tak tahu kalau ia harus menyimpan uang itu diam-diam, karena semua uang dari Min Jung ia belanjakan. “Kenapa Ibu tak memberitahukanku sebelumnya? Aku tak tahu jika aku harus menyembunyikan uang. Dan aku tak perlu melakukannya. Aku menggunakan apa yang Min Jung berikan padaku.”


Ibu memukul Soo Bak dan berkata kalau Soo Bak seharusnya melakukannya karena Soo Bak harus punya persiapan untuk kondisi darurat. Ibu benar-benar tak tahu kalau anaknya ini tak punya simpanan dan benar-benar bangkrut.


Ibu benar-benar kesal pada Soo Bak, tapi Soo Bak juga kesal pada ibunya dan meminta, “Berikan semua yang pernah kuberikan pada Ibu.” Ibu mendelik mendengar ucapan anaknya dan Soo Bak pun buru-buru  menghindar.

Note : Ssst… setiap istri harus punya uang yang disembunyikan dari suami. True.  


Soo Bak mengantar ibunya pulang, dan tak sengaja ia bertemu dengan teman kayanya yang sedang ada di lingkungan itu untuk menagih hutang. Temannya itu tak percaya melihat kondisi Soo Bak sekarang. Soo Bak sangat malu dan meminta agar temannya itu merahasiakan hal ini dari yang lain. Temannya mengiyakan.


Pemilik bangunan muncul dan menyuruh Soo Bak untuk melakukan gilirannya membersihkan toilet. Soo Bak tak mau karena ia tak memakai toilet itu, tapi tak ada yang percaya, hingga Soo Bak keceplosan kalau ia b.a.b di wadah yang dibelikan Min Jung.


Tetap saja, Soo Bak tetap harus patuh pada perarturan. Dan untuk pertama kalinya, Soo Bak membersihkan toilet yang baunya ampun-ampunan.


Se Dal diminta melayani salah satu tamu yang khusus meminta pelayanannya. Dan matanya terbelalak karena ia harus melayani tamu wanita itu yang sedang berendam di bath tub. Saking gugupnya karena diminta untuk menuangkan anggur, ia tercebur di bathtub itu.


Min Jung mengantarkan kiriman barang yang dipesan ayah Sang Nam. Tak sengaja ibu Mi Ho melihat punggung Min Jung dan hatinya berdebar-debar. Hmm.. mereka pasti benar-benar memiliki sejarah masa lalu, deh.


Rupanya kiriman itu adalah baju yang dipesan ayah Sang Nam untuk ibu Mi Ho, adik iparnya. Ibu Mi Ho berterima kasih menerimanya. 


Walau saat semuanya sudah terlelap, ibu Mi Ho tak dapat melupakan punggung pria yang tadi dilihatnya. Ia mengambil sebuah jepit dan seakan ingin mengenang sesuatu, ia memasang jepit itu di rambutnya.


Min Jung pergi ke rumah mertuanya untuk menemui anak-anaknya. Ia merasa Aeji, anaknya pasti kangen dengannya. Tapi reaksi Ang Geum sangatlah sinis dan menyuruh Min Jung pulang karena cucu-cucunya sudah tidur dan mereka tak kangen pada ayahnya. Dae Bak muncul dan mengatakan hal yang sebaliknya.


Begitu pula Aeji yang terbangun dan langsung berlari menemui ayahnya. Ang Geum sangat kesal melihat Aeji terbangun kembali. Ia mengambil Aeji dari pelukan Min Jung dan menyuruh Min Jung pulang sekarang juga walau Aeji menangis, terus merengek dan memanggil ayahnya.


Min Jung sangat frustasi melihat istrinya hanya tidur-tiduran di rumah, tak memasak nasi, walau sudah ada magic jar. Soo Bak hanya makan makanan siap saji. Min Jung meminta Soo Bak untuk memasak dan tak membelanjakan uang untuk membeli makanan siap saji.


Soo Bak merasa stress karena yang dipikirkan Min Jung hanya makanan saja. Kenapa ia harus memasak?  Min Jung meminta Soo Bak mengerti. Dengan pengeluaran seperti itu, mereka tak akan bisa menabung sehingga walau sudah 3 tahun, mereka tak akan bisa pindah dari rumah ini.


“Kau berkata kalau itu adalah kesalahanku?” tanya Soo Bak tak percaya. Min Jung meminta Soo Bak untuk menabung setiap sen yang mereka bisa simpan. Walau sepertinya uang yang disimpan tak seberapa, tapi mereka harus menyimpan semua uang yang bisa mereka simpan. Soo Bak semakin kesal mendengarnya,”Jangan menyuruhku untuk menabung! Kau harus menghasilkan lebih banyak uang!”


Min Jung terpana mendengar ucapan Soo Bak. Soo Bak mengaku kalau ia sekarang sudah merasa frustasi karena kondisi ini, ia merasa seperti terpenjara di rumah ini. Min Jung menyuruh Soo Bak untuk keluar dan melakukan sesuatu.

Tapi Soo Bak tak bisa keluar rumah tanpa belanja. Min Jung meminta Soo Bak untuk jalan-jalan di taman dan berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk mempergunakan waktunya. Soo Bak langsung menebak kalau Min Jung menyuruhnya untuk mencari pekerjaan.

Min Jung bertanya mengapa Soo Bak tak mau bekerja? Ia akan merasa bersyukur jika Soo Bak mendapat pekerjaan. Jika Soo Bak tak mau, ia meminta Soo Bak untuk membawa kedua putri mereka ke rumah ini.


Tapi Soo Bak tetap tak mau. Ia tak tahu sampai kapan anak mereka akan dititipkan, tapi ia tak mau membawa anak-anak mereka tinggal bersama mereka. Min Jung bertanya apakah Soo Bak tak merindukan kedua putri mereka? Soo Bak menjawab, “Aku tak rindu pada mereka. Aku muak pada mereka.”


“Kau muak? Kau muak pada anak-anakmu sendiri?” tanya Min Jung tak percaya. Ia menyuruh Soo Bak untuk membawa kedua putri mereka besok. Soo Bak tetap tak mau. Ia menyesalinya. Min Jung sudah hampir kalap mendengar jawaban Soo Bak. Nada suaranya berbahaya saat bertanya, “Apa katamu? Coba katakan sekali lagi.”


“Aku menyesal menikahimu. Aku menyesal punya anak. Puas?!”


Min Jung menampar Soo Bak. Soo Bak tak percaya Min Jung menamparnya, “Kenapa kau menamparku? Kenapa?! Apa salahku?!”


Komentar :

Speechless melihat Soo Bak yang begitu tak peduli pada masalah suaminya, bahkan berkata seperti itu. Dan setelah ditampar, ia tak tahu apa kesalahannya? Fiuhh… benar-benar kasihan Min Jung.

Mungkin Soo Bak merasa shock dengan semua yang baru saja terjadi. Tapi .. come on.. Soo Bak, sampai kapan kau akan sepert itu? Wake up!

5 comments :

  1. itulah jadinya klo dr kecil dimanja berlebihan. bnr atw salah ttp dibelain ibu nya. ckckckckkkk.. skrg roda sudah brputar. memang trkadang ksalahan dan hal pahit mampu mbwt qt lbh dewasa. nah si so bak usianya jha yg dah dewasa tp pikiranya, ya ampunn... amit2 deh. makasih eonni dtggu klanjutanya.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Bener mbak dee speechless bngt,..
    Pengen banting beneran klo ada di lingkungan keluarga..!!
    Hadeuuuuh !! Mksh mbak sinopnya,.. Fighting always ya

    ReplyDelete
  4. gemesss banget sama soo bak...pengen mites *emang kutu?*

    ReplyDelete
  5. Mbak dee.... sinopsis episode 8nya dong mbak... thx

    ReplyDelete