November 7, 2013

Sinopsis King's Family / Wang Family Episode 5

Sinopsis King’s Family / Wang Family Episode 5


Di luar kebiasaan ibu mendatangi tempat kerja Ho Bak. Lebih luar biasa lagi karena ibu mengajaknya makan siang dan meminta pelayan agar segera membawakan bbibimbap (ibu sebenarnya ingin pesan daging bakar yang lebih mahal) pesanan putrinya yang tersayang.



Ho Bak sudah merasa aneh dengan sikap manis ibu. Dan dugaannya benar. Ibu berkata panjang lebar tentang depresi yang bisa membuat orang bunuh diri. Dan ujung-ujungnya ibu meminta Ho Bak meminjamkan uang untuk sewa rumah Soo Bak.

“Aku tak pernah melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu. Bagaimana jika ia bertindak bodoh? Min Jung ingin mengirimnya ke rumah ayahnya di desa. Tapi aku tak akan membiarkannya jika kondisinya masih stress seperti itu. Kita harus membantunya agar punya rumah di Seoul. Kau punya uang, kan?”
Ho Bak berkata kalau ia tak punya uang, tapi ibu tak percaya. Ibu meminta Ho Bak mempertimbangkan karena ayahnya juga sampai tak bisa tidur karena masalah ini.


Min Jung menemui ayah mertuanya dan menceritakan niatnya yang akan membawa Soo Bak dan kedua putrinya ke rumah ayahnya. Ia tak mampu jika harus menyewa rumah di Seoul. Ia meyakinkan ayah mertuanya, walau salah satu tujuannya adalah untuk menemani ayahnya, tapi ayahnya tak akan menyusahkan Soo Bak. Bahkan ayahnya bisa diminta untuk menjaga kedua putrinya.

Ayah memahami maksud Min Jung, karena ia sendiri juga memiliki ibu (nenek) yang tinggal bersamanya.


Ho Bak mengunjungi kakaknya, tapi Soo Bak tak mau membuka pintu. Ia terus termangu dan mengurung diri di dalam rumah. Melewati tempat sampah, Ho Bak mengambil baju-baju bekas yang dibuang oleh orang-orang kaya di daerah rumah Soo Bak.


Ia memberikan baju-baju itu pada kedua putranya. Kedua putranya sudah bosan karena Ho Bak tak pernah membeli baju baru untuk mereka dan selalu  memakai baju bekas. 


Tapi mereka langsung menerimanya dengan suka hati saat Ho Bak memberitahu kalau ia sedang menabung semua uangnya untuk membeli apartemen. Mereka sangat senang sekali karena mereka akan punya tempat tidur dan meja belajar sendiri-sendiri.


Ayah menyuruh Soo Bak yang sedang datang ke rumah untuk mulai bersiap-siap pindah ke rumah ayah Min Jung. Soo Bak tak mau dan Ibu juga menolak keras perintah Ayah. Ibu meminta ayah untuk tak terburu-buru memutuskan hal ini dan menunggu sebentar.


Diam-diam ibu kembali menelepon Ho Bak untuk menanyakan keputusannya. Tapi Ho Bak benar-benar sibuk di kantor sehingga tak bisa bicara lebih banyak. Ia berjanji akan datang ke rumah nanti. 


Ibu pun mengiyakan. Namun untuk menunjukkan itikad baiknya, ia mengunjungi kedua cucu laki-lakinya dengan membawa oleh-oleh, membuat mereka takjub. Hal ini baru pertama kali terjadi. Seo Dal yang melihatnya pun, buru-buru memanggil ibu dan adiknya melihat pemandangan yang jarang terjadi.


Sementara Seo Dal menunggu di luar (tetap takut pada mertuanya, saya rasa). Ibu Seo Dal pun menemui besannya, dan kedua ibu saling sindir menyindir tentang apa saja. Ho Bak, Seo Dal, Soo Bak, Min Jung, bahkan Yeong Dal, adik Seo Dal, pun juga jadi target sindiran.


Akhirnya Ho Bak pulang, tapi ibu tak mungkin membicarakan hal itu di depan besannya. Maka Ho Bak berjanji akan menemui ibu besok.


Ibu Seo Dal dapat menduga apa yang mungkin diminta dari Ho Bak. Sikap ibu Ho Bak yang tiba-tiba baik padahal semua orang tahu bagaimana sikapnya pada Hobak, membuat Ibu Seo Dal curiga. Ia meminta agar Ho Bak tak meminjamkan uang pada besannya itu. Ia tahu kalau Ho Bak terlalu baik dan sangat mudah kasihan, “Karena itu, biarkan aku menyimpankan uang tabunganmu itu.”


LOL. Ho Bak bengong mendengar ucapan ibu mertuanya yang pintar bicara.


Gwang Bak terus menunggu Sang Nam yang biasanya meneleponnya. Tapi Sang Nam tak kunjung menelepon. Tanya pada Dae Bak pun juga tak membuahkan hasil, membuat Gwang Bak semakin frustasi.


Lain Gwang Bak, lain pula Mi Ho. Ia menunggu kedatangan Dae Bak sepulang sekolah, tapi Dae Bak malah berhai-hai dengan teman sekelas. Saat Mi Ho menarik tangannya, Dae Bak malah lari meninggalkannya, membuat Mi Ho marah, “Aku akan membalasmu saat aku besar nanti.”


Mi Ho ini rupanya seperti dokter cinta. Teman-temannya suka meminta pendapatnya, begitu pula Gwang Bak. Berpura-pura menceritakan masalah cinta temannya, Gwang Bak meminta pendapat Mi Ho tentang pria yang sebelumya selalu menelepon, sekarang tidak pernah sama sekali.


Bak seorang ahli, Mi Ho berpendapat kalau pria itu sedang jual mahal. Karena itu, si wanita tak boleh menghubungi si pria, agar membuat si pria mencarinya.


Gwang Bak mengangguk-angguk, mengerti. Don yang kebetulan lewat memberi ide, “Itu mudah. Pinjam saja 4 juta won dan langsung menghilang. Pria itu pasti akan mati-matian mencarimu.”

Hahaha.. bener juga, sih..  Don menebak Gwang Bak sedang berhubungan dengan seorang pria, namun Gwang Bak segera membantahnya. Ia meminta saran itu untuk bahan ceritanya.


Dae Bak menemui Sang Nam dan memberikan jadwal hariannya. Sang Nam terlihat puas melihat jadwal itu dan berkata kalau hidup Dae Bak adalah milik Dae Bak sendiri. Terserah Dae Bak mau belajar terus, makan terus, atau main game terus. Jangan biarkan orang lain mencampuri kehidupannya.

Dae Bak berharap dengan ia seperti ini, si judes (Gwang Bak) tak mengganggunya lagi. Setengah curhat, Dae Bak berkata kalau kakaknya itu sekarang sedang ikut blind date namun tak pernah berhasil. Ia menyalahkan kakaknya yang tak menarik dan kaku. Senyum Sang Nam menghilang saat ia menjawab kalau kakak Dae Bak itu tak kaku.


Seo Dal mencoba mencari uang saku tambahan dari Yeong Dal, adiknya. Tapi Yeong Dal berkata kalau ia tak punya uang. Bahkan ia masih bermasalah dengan hutang kartu kreditnya.


Bang Tong, anak kedua Ho Bak, pergi ke sekolah memakai baju yang diberikan ibunya. Tapi ternyata baju itu adalah baju bekas milik temannya yang sudah dibuang ke tempat sampah. Ada buktinya dengan coretan di kerah baju. Temannya itu menghina Bang Tong dan menyebutnya anak pengemis yang pasti tak punya kamar sendiri.

Bang Tong langsung membantahnya. Mereka akan pindah ke apartemen dan ia akan punya kamar sendiri. Tapi temannya itu tak percaya dan menyebutnya pembohong dan pengemis. Bang Tong marah dan memukul anak itu.


Ho Bak kembali ditelepon ibu dan Ho Bak pun berkata kalau ia akan ke rumah nanti malam. Ibu langsung gembira mendengarnya dan menawarkan akan memasak makanan kesukaan Ho Bak.


Ho Bak mengambil setumpuk buku tabungan dari laci meja kerjanya dan pergi ke bank untuk mencairkan semua uang itu. Namun belum sempat transaksi itu terjadi, Ho Bak mendapat telepon dari sekolah mengabarkan Bang Tong yang berkelahi.


Di rumah, Ho Bak pun memukul kaki Bang Tong sebagai hukuman karena berkelahi. Tapi Shin Tong membela adiknya dan berkata kalau Bang Tong memukul temannya itu karena menyebut mereka pengemis.


Ho Bak menangis mendengarnya dan meminta maaf pada mereka. Saat mereka sudah tidur, Ho Bak mengoleskan obat ke kaki Shin Tong. Ia teringat bagaimana pilih kasihnya ibu pada anak-anaknya  dan anak-anak Soo Bak.


Ibu tak mau membantu mengasuh anak-anaknya, walau tahu ia harus meninggalkan mereka untuk bekerja. Sementara ibu dengan senang hati membesarkan anak-anak Soo Bak yang hanya tinggal di rumah.


Ia pun menemui ibu dan minta maaf karena ia tak memiliki uang untuk dipinjamkan pada Soo Bak. Mendengar hal itu, Ibu yang semula menyambutnya dengan kasih sayang, langsung menepis tangan putrinya dan mengatai Ho Bak tak memiliki hati walau kakaknya sudah sekarat seperti itu.


“Kau seharusnya tak seperti itu. Soo Bak selalu baik padamu. Ia berpura-pura membutuhkan bantuanmu sehingga ia bisa membayarmu dan memberimu baju dan tas. Kenapa kau tak tahu terima kasih seperti ini? Kau ini sangat serakah dan egois. Pulanglah!”


Ibu tak mau melihat Ho Bak. Ho Bak mencoba menjelaskan kalau ibu yang sudah pernah melihat tempat tinggalnya, tentu tahu bagaimana jeleknya rumahnya. Ia menabung uang sedikit demi sedikit selama 15 tahun untuk membeli apartemen bagi keluarganya, “Aku ingin memberi  kehidupan yang layak bagi putraku, sehingga tak ada yang menyebut mereka pengemis. Aku terus menabung walau aku selalu dihina tak pernah memberi ibu hadiah. Aku tak bisa memberikan uang itu pada orang lain.”


“Ya, sudah. Siapa yang memaksamu?” tanya ibu ketus. Ia mengelap meja dengan marah dan melemparkan lap itu ke tempat cuci piring.


“Jadi.. kumohon ibu jangan membenciku. Jangan marah padaku,” Ho Bak menangis meminta pada ibunya. “Aku ini putri ibu juga, kan?”

“Anakku? Yang benar saja. Bagaimana mungkin kau melakukan hal ini pada ibumu sendiri? Aku tak tahan melihatmu. Pergi saja sekarang!”


Tak disangka ayah, nenek, Don dan Gwang Bak ada di pintu dapur, mendengar semua percakapan mereka. Ayah marah mengetahui kalau cara ibu untuk mencarikan rumah Soo Bak dengan merampok tabungan Ho Bak. Masih tetap ketus, ibu menjawab kalau Ho Bak tak akan ia rampok. Ia masih tak percaya kalau Ho Bak itu tak punya hati melihat kakaknya kesusahan seperti itu.


Ayah berkata kalau istrinya itu yang tak punya hati. Dari kecil istrinya selalu pilih kasih pada keduanya. Tapi ibu mengatakan kalau wajar seorang ibu lebih menyayangi salah satu anaknya dibandingkan anak yang lain. Semua temannya juga seperti itu.

Ayah heran mendengar ucapan istrinya. Seharusnya ibu bisa lebih mengendalikan emosinya, “Bagaimana mungkin kau lebih sayang yang satu dibanding yang lainnya? Apakah kau sadar kalau kau akan mendapat karma dari itu? Lihatalah papan itu. Tempatkan dirimu di posisi orang lain. Jika kau bisa memahami hal itu, kau tak akan berlaku seperti ini.”


Ibu hanya iya-iya saja. Dan ia meminta suaminya agar mengijinkan Soo Bak dan keluarganya untuk tinggal di rumah mereka. Tapi ayah tak mau. Mereka sudah memiliki kangguru, dan ia tak ingn ada salmon juga.

Nenek yang mendengarnya bertanya-tanya, siapa yang dimaksud dengan kangguru? Don menjawab kalau kangguru itu adalah dirinya.


Pada Gwang Bak, Ho Bak menceritakan bagaimana ibu terus bersikap baik pada dirinya agar bisa meminjam uang untuk Soo Bak. Saat itu, ia mendengar semua kata-kata penuh kasih yang baru pertama kali ini ia dengar dari mulut ibu. Ibu bahkan memanggilnya dengan sebutan putriku. Tapi ketika ia menolak permintaan ibu, ekspresi wajahnya langsung berubah, 

“Walau aku sudah memiliki keluarga dan anak, tapi aku tetap ingin merasakan kasih sayang dari ibu.”


Gwang Bak ikut menangis dan berkata kalau menginginkan kasih sayang orang tua adalah hal yang wajar.  Dan ia merasa Ho Bak sangatlah hebat. Karena jika ia menjadi Ho Bak, ia sudah meninggalkan keluarganya dari dulu dan ia sangat iri pada Soo Bak.


Ho Bak merasa terhibur dan berkata kalau ia mungkin mengeluarkan wangi uang, karena setiap orang ingin meminjam uang darinya. Ia menceritakan kasus ibu mertuanya, juga teman-teman sekantornya. Dan sekarang ia jadi takut jika ada orang yang mentraktirnya makan enak.


Gwang Bak tersenyum dan bertanya, “Eonni.. apa kau mau kutraktir makan daging lagi?”


Ho Bak mendelik, “Hei!!” Gwang Bak terbahak-bahak dan Ho Bak akhirnya ikut tersenyum menyadari kalau adiknya hanya bercanda, “Kau ini membuatku ketakutan!’


Mereka berdua tertawa, tak menyadari kalau ada calon pembeli yang masuk dan melihat mereka, terutama Gwang Bak, tertawa lepas.


Sang Nam. Namun hanya sesaat, karena Sang Nam mengajak temannya untuk makan di tempat lainnya.


Gwang Bak akhirnya tak tahan dan tak mematuhi saran Mi Ho. Ia menelepon Sang Nam namun reaksi Sang Nam sangat dingin. Bahkan Sang Nam langsung menutup telepon setelah mengatakan kalau Gwang Bak tak perlu membelikan majalah untuknya karena ia akan membelinya sendiri  jika sudah terbit.

Merasa kecewa karena tanggapan Sang Nam yang dingin, Gwang Bak menyalahkan dirinya sendiri yang tak mengikuti saran Mi Ho.


Masalah Soo Bak membuat ayah berolah raga semakin giat, minum jus sayur semakin rajin, dan khawatir melihat rambutnya yang menipis (tapi menolak disebut botak). Ibu heran melihat sikap ayah dan malah curiga. Apa ayah punya selingkuhan? Ha. Ayah berkata kalau ia harus berumur lebih panjang karena ia punya 3 anak dan 1 adik yang belum menikah. Ia tak bisa menggantungkan hidup Dae Bak pada Soo Bak yang sekarang sedang kesusahan.


Maka sedikit melegakan bagi ayah saat Hae Bak menyerahkan hasil rapornya. Ranking 1 untuk satu angkatan. Wow!


Sedangkan Dae Bak? Ayah berkata kalau rapor Dae Bak belum keluar. Dengan bangga Dae Bak mengatakan kalau nilainya cukup bagus. Semua tak percaya mendengarnya. Tapi Dae Bak meyakinkan mereka karena hasil ujiannya lebih bagus dibandingkan yang lain. Bahasa Korea : 30 (dari 100. LOL). Ia pintar dalam bahasa Inggris, jadi ia mendapat 40. Ia tak begitu pintar matematika, jadi ia mendapat 25.


Bwahahaha… daebak.. pede banget nih sih anak. Apalagi Dae Bak percaya rangkingnya nanti pasti naik. Karena mereka semua lebih buruk daripada dirinya. LOL. Gwang Bak berkata kalau teman-teman Dae Bak itu bodoh semua dan ia bertanya siapa saja nilainya yang lebih jelek daripada Dae Bak?

“Ada satu orang di kelasku dan 10 orang untuk satu angkatan,” jawab Dae Bak serius.


Gubrak! Jadi Dae Bak peringkat 12 paling bawah, dong. Benar-benar daebak nih anak..


Ho Bak sangat senang mendengar kalau Seo Dal diterima di tempat kerjanya yang dulu. Tapi Seo Dal enggan bekerja lagi di hotel itu karena ia tak suka dengan atasannya. Ia tetap enggan walau Ho Bak mengiming-imingi kalau tugas Seo Dal hanya berdiri dan memakai jas bagus bahkan ia akan melihat banyak wanita cantik berbikini di kolam renang.


Seo Dal harus diseret untuk datang ke hotel itu. Orang yang ia benci itu ternyata langsung muncul dan mengatakan kalau ia adalah atasannya.


Ayah Sang Nam sedang berbicara dengan anaknya saat melihat Gwang Bak di seberang jalan. Ia segera mengejar gadis itu, untuk balas dendam lagi sepertinya. Tapi ia tak sempat menangkap Gwang Bak, karena Gwang Bak tak melihatnya dan sudah masuk taksi lebih dulu.


Walau sebenarnya kalau Ayah Sang Nam pergi ke lokasi proyek, ia akan menemukan gadis itu karena Gwang Bak pergi ke sana untuk menemui Sang Nam.


Saat bertemu, tanpa basa-basi Gwang Bak langsung bertanya apakah Sang Nam sedang mempermainkannya? Kenapa Sang Nam tak membalas pesannya? Ia tahu kalau mereka tak berkenalan secara langsung, tapi Dae Bak yang memperkenalkan mereka. Err.. bukan Dae Bak juga, sih. “Tapi kenapa kau bersikap seperti ini? Kau membuatku kesal. Beginikah cara kau menghadapi orang? Kau benar-benar playboy!”


Sang Nam mengerutkan kening tapi tak menjawab apapun membuat Gwang Bak semakin kesal. Gwang Bak menyuruh Sang Nam untuk setidaknya membantah dan mencari alasan. Tapi karena Sang Nam terus diam, Gwang Bak berkata kalau ia sekarang sadar kalau selama ini ia salah paham akan hubungan mereka, “Selamat tinggal.”


Gwang Bak berbalik pergi. Namun langkahnya terhenti mendengar Sang Nam berseru, “Kau yang playgirl! Aku sudah tulus padamu tapi kau malah membodohiku.”


Gwang Bak berbalik dan bertanya kapan ia membodohi Sang Nam? Sang Nam menjawabnya dengan singkat, “Majalah.” Gwang Bak terbelalak menyadari kalau Sang Nam sudah melihat majalah itu.


Sang Nam menghampiri Gwang Bak dan dengan tajam ia berkata, “Aku sudah membaca bagaimana kau membuatku tampak seperti bajingan dan menghancurkanku!

Komentar :


Drama ini selain membuat kesal, benar-benar bisa membuat tertawa. Banyak hal yang tidak saya tulis di sinopsis ini, karena walau lucu, percakapannya sangat panjang. Saya tak mungkin bisa mengejar drama ini yang sudah tayang hingga 20 episode jika saya tak merecap dengan singkat.

Tapi untuk yang mengikuti drama ini hanya dengan membaca sinopsis saya saja, saya sarankan jangan. Tontonlah drama ini setiap episode-nya. Dijamin kita akan kesal pada ibu karena memperlakukan Ho Bak dan Soo Bak seperti itu, tapi tak bisa menahan tawa kalau ibu sudah bertengkar dengan nenek. Mi Ho yang sok tua tapi cute banget. Dae Bak yang sedang puber tapi berusaha dewasa. Tingkah Gwang Bak yang malu-maluin di depan Sang Nam. Perseteruan Gwang Bak pada ayah Sang Nam. Seo Dal yang menyebalkan tapi sering lucu.

Semuanya sangat menghibur. Terus terang saya menunggu saat-saat ayah Sang Nam dan Gwang Bak mengetahui kalau mereka terhubung oleh satu orang yang sama. Kayanya pasti heboh banget adegan itu nanti, secara dendam ayah Sang Nam sepertinya sudah sampai ubun-ubun. Hihihi..

Hae Bak? Saya tak tahu alasan scriptwriter membuat dia ‘bisu’ dan tak banyak adegannya. Dia pasti juga menyimpan sesuatu. Kalau tidak, pasti scriptwriter-nim membuat keluarga Wang hanya memiliki 4 orang anak saja, kan?

Banyak rahasia, banyak kekesalan, tapi banyak fun yang tersebar di sana-sini. Rugi kalau mengikuti drama ini hanya dari sinopsis saja, karena drama ini jauh lebih menarik dari sinopsis yang saya buat.

11 comments :

  1. Sipp mba dee^^ saya akan menontonnya sesuai saran mba dee :-) di S one kayaknya ada deh ud episode 4 kalo gk salah.

    Makasi sinopsisnya.. Asikkk first comment

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa sih di S-one? di KBSWorld, kalo S-one kebanyakan drama dari stasiun TV SBS, bukan KBS. CMIIW

      Delete
  2. what? dah 20 episode? gpp saya akan setia hnya dg mbaca sinopsis dr eonni saja. ttp smgat ya eonni ;) tp kl boleh tw drama ini emg brpa episode ya?

    ReplyDelete
  3. Tp tetep dLanjut kn sinopsis_nya??,, thxxx,,, tetep Sέ♍äπƍάτ.." Dan sehat selalu

    ReplyDelete
  4. makasih mbak dee. aku suka sekali drama ini. mengingatkan kita betapa berharganya keluarga itu, dan betapa pentingnya menempatkan diri di posisi orang lain. banyak pelajaran yg didapat. sayangnya aku cuma baca dari kutudrama aja, nggak nonton. so, aku tunggu selalu ya mbak sinopsisnya. semangat :)

    ReplyDelete
  5. wahhh...akhirnya lanjut jg nuh drama..
    mbak dee makasihhh...mg lnjut ampe abis yaw!!
    smangat!^^

    ReplyDelete
  6. semangat mbak Dee.... doki dokinya sangbak couple ga kuatin banget.. walau udah nonton di ep 16 tetep ga sabar buat nonton kelanjutannya

    ReplyDelete
  7. Sangat memuakkan melihat sikap So Bak dan ibunya

    ReplyDelete
  8. Adakah anda sedang mencari pinjaman? Anda mempunyai tempat yang betul untuk penyelesaian pinjaman anda di sini! Kewangan Global terhad memberi pinjaman kepada syarikat-syarikat dan individu pada kadar faedah yang rendah dan mampu milik sebanyak 3.2%. Sila hubungi kami melalui e-mel hari ini melalui susanmichael911@hotmail.co.uk

    ReplyDelete