November 5, 2013

Sinopsis King's Family / Wang Family Episode 4

Sinopsis King’s Family Episode 4


Ho Bak bertanya apa yang ia lakukan hingga melukai Soo Bak? Soo Bak tersenyum dingin, “Itu.. Aku tak akan pernah melupakannya. Tak akan pernah.”




Ia tak mengatakan apa yang dimaksud dengan ‘itu’. Tapi Ho Bak mengerti  dan seolah itu memang rahasia mereka berdua, Ho Bak bertanya bagaimana mungkin ‘itu’ adalah kesalahannya?


“Jika bukan karenamu..” Soo Bak tak dapat melanjutkan kalimatnya. Ia minta Ho Bak melupakannya. Tapi Ho Bak tak mau dan tetap bertanya mengapa ‘itu’ menjadi kesalahannya? Soo Bak membentaknya, menyuruhnya diam. “Dan kau sebaiknya menyimpan itu sampai kau mati.”

Ho Bak diam, terlalu shock untuk menjawab.


Gwang Bak datang ke kantor majalah dengan antusias karena proof print majalah sudah jadi. Tapi betapa terkejutnya karena artikel yang akan terbit jauh berbeda dengan artikel yang ia tulis. Judulnya sudah berbeda : Pekerjaan yang dibenci wanita : Operator alat-alat berat, pekerjaan 3 D. Bahkan di foto mata Sang Nam dibuat kabur, seolah ia adalah pesakitan.

Ia protes pada editor, tapi dengan santai editor itu berkata kalau itulah yang ia tangkap dari tulisan Gwang Bak. Gwang Bak marah luar biasa padanya. Ia menuntut untuk menarik kembali artikel itu namun si editor berkata kalau majalah sudah naik cetak.


Gwang Bak pun pergi ke percetakan, tapi sudah terlambat. Ia kembali ke kantor dan marah-marah pada si editor.


Editor ini rupanya punya pacar seperti Seo Dal, lebih muda dan pengangguran. Tapi bedanya, editor ini suka memberi pacarnya uang. Gwang Bak mengatai pacar editor itu tak mau bekerja, dan jika sudah bekerja, ia yakin pacar itu akan langsung meninggalkan si editor, “Dibandingkan dengan pacarmu, orang ini jauh lebih baik ribuan kali!”

Gwang Bak menunjuk majalah yang ada artikel Sang Nam. “Kenapa kau merendahkan pekerja keras seperti dia? Kau tak tahu apapun tentang pria, makanya kau memacari pria brengsek seperti itu. Apa? Apa aku salah?”

Gwang Bak tak mau bekerja lagi pada editor itu dan menyuruhnya untuk mentransfer uang penulisannya sekarang juga. Ia benar-benar marah, namun akhirnya menangis sedih.




Tapi kesedihan Gwang Bak tak ada apa-apanya jika dibandingkan Ho Bak. Ia menemui Ho Bak yang rupanya sangat sedih karena perlakuan Soo Bak dan ibu. Dari perbedaan perlakuan itu, ia kadang merasa kalau ia adalah anak pungut, karena apapun yang terjadi ialah yang selalu disalahkan oleh Ibu dan Soo Bak.


Ho Bak mengusap air matanya dan bercerita kalau waktu ia kecil dulu, ia kadang berangan-angan kalau ternyata ada ibu kandungnya di luar sana yang akan datang menjemputnya. Dan ia suka berdiri di depan pintu untuk bisa menyambut ibunya itu.


Pertemuan mereka kali ini karena ia memutuskan untuk tetap membiayai ulang tahun ibu. Gwang Bak setuju dan mau membagi dua pengeluaran mereka. Ho Bak yang membiayai makan siang di restoran sedangkan ia akan membiayai hadiah wisata ke Jeju. Ia meminta Ho Bak untuk tak khawatir karena ia masih memiliki tabungan dari hasil mengajar selama 7 tahun.


Sang Nam yang baru saja mengunjungi pegawainya yang sakit, bertemu dengan Gwang Bak. Gwang Bak mengira kalau Sang Nam tinggal di apartemen itu. Sang Nam hanya tersenyum dan mengiyakan. Ia bertanya tentang majalah yang katanya akan dicetak hari ini.

Gwang Bak buru-buru berkata kalau majalah itu belum selesai. Ia begitu gugup sbampai Sang Nam merasa kegugupannya. Tapi ia berhasil menyembunyikan hal itu dan berjanji akan memberitahu Sang Nam kalau majalahnya sudah terbit.



Ho Bak membungkus persediaan di dalam lemari es untuk rumah orang tuanya . Walau mengomel, Seo Dal membiarkan istrinya melakukan di ruang tengah, karena ia akan masuk ke kamar dengan satu tujuan. Mengambil uang di tas Ho Bak.


Tapi Ho Bak sudah kenal suaminya. Ia masuk dan mengulurkan tangannya, “Berikan padaku.” Seo Dal tak mau dan Ho Bak meneruskan, “Kau mau dipukul sekarang atau nanti?” 


Ha. Seo Dal mencoba kabur dan Ho Bak pun meringkus Seo Dal bak preman melawan preman. LOL.


Ho Bak memberikan persediaan makanan itu karena ibunya sangat sibuk menelepon teman-temannya, membatalkan acara ulang tahun yang di hotel. Karena persedian bahan makanan di lemari es sudah hampir habis, Ho Bak meminta Gwang Bak untuk belanja kebutuhan itu.


Dan di supermarket, Gwang Bak mendapat pengalaman tak terlupakan. Ia kembali bertemu dengan ayah Sang Nam yang langsung melancarkan serangan balas dendam.


Caranya? Setiap Gwang Bak ingin mengambil barang, barang itu selalu direbutnya.  Apa saja. Dari kereta dorong, makanan bahkan saat Gwang Bak ingin mencicipi sample makanan (tinggal satu-satunya!), ayah Sang Nam langsung merebut dan berkata pada pelayan kalau Gwang Bak akan membeli makanan itu.

Hahaha.. si ayah ini balas dendamnya kaya anak-anak aja.


Ho Bak menggantikan tugas ibunya memasak dan menjaga anak-anak Soo Bak. Ho Bak membawa makanan kesukaan ibunya. Tapi ibunya terus berbaring dengan memunggungi Ho Bak dan tak ingin makan dan menyuruh Ho Bak pergi.


Ho Bak pun membawa anak-anak Soo Bak untuk mengunjungi ibu mereka. Dan betapa pedihnya melihat kelakukan Soo Bak sama dengan ibu. Ia bahkan menyuruh Ho Bak pulang dengan membawa anak-anaknya.  


Saat Ho Bak memintanya untuk makan karena ia telah membawakan makanan, Soo Bak bangkit dan marah-marah, “Lapar?! Apa kau pikir aku takut kelaparan? Bagimu makanan adalah segalanya. Tapi aku tak sepertimu. Mengerti?!”


Ho Bak hanya bisa memeluk keponakan kecilnya erat-erat. Akhirnya ia kembali ke rumah ibunya lagi. Saat ia sedang makan, ibu muncul dan bertanya sinis, bagaimana mungkin Ho Bak bisa makan padahal kondisinya seperti ini, “Bagaimana mungkin kau tidak prihatin? Kudengar kau membuat kakakmu marah kemarin. Kau hanya mementingkan dirimu sendiri.”


Ho Bak hanya bisa menelan ucapan ibunya. Dan sesampainya di rumah, ia mendapati rumah yang berantakan dan bak cuci piring yang penuh penuh piring kotor. Tanpa banyak mengeluh, ia membersihkan semuanya.


Sementara Min Jung  masih sibuk menghafalkan alamat rumah di malam hari, dan mengantarkan barang di siang hari. Hari itu adalah hari peringatan kematian ibunya, dan hari ulang tahun ibu mertuanya. Kedua pihak itu meneleponnya dan menyuruhnya segera datang. Tapi masih banyak barang yang harus ia kirimkan hari itu.


Akhirnya ia datang ke restoran tempat perayaan ulang tahun ibu mertuanya. Walau ibu berulang tahun, tapi mukanya kecut sekali. Melihat Min Jung muncul dengan rompi perusahaannya, muka ibu semakin kecut. Soo Bak juga menegur suaminya yang masih memakai rompi itu.


Min Jung pun buru-buru melepas rompinya. Tapi Min Jung merasa tak jenak karena adiknya yang menelepon dan meng-SMS, memintanya untuk segera datang.


Ibu ini benar-benar kecut sekali. Di pesta ulang tahunnya sendiri ia tak pernah tersenyum, memotong kue ulang tahun dengan kasar dan seperti tak puas pada semuanya. Dan pada puncaknya, ia marah karena wajah Min Jung tak ceria di hari ulang tahunnya, “Kalau kau seperti itu, kenapa juga kau datang? Pergi saja untuk mengirimkan barang-barangmu itu!”


Semua terdiam mendengar ucapan Ibu yang menghina itu. Dan tak disangka Min Jung keluar ruangan, mematuhi perintah ibu. Don dan Gwang Bak ingin menyusul Min Jung, tapi ayah mencegahnya. Ia yang akan menemui menantunya itu.


Di luar ia meminta maaf atas sikap istrinya dan ia tahu alasan Min Jung seperti ini karena perayaan ulang tahun ini bertepatan dengan hari peringatan kematian ibu Min Jung. Ia meminta agar Min Jung segera kembali ke rumah ayahnya dan menyuruh Soo Bak untuk mengikuti suaminya.


Soo Bak masih belum ingin pergi, membuat ayah marah karena Soo Bak tak bersikap sepantasnya sebagai seorang menantu. Ayah menyuruh Soo Bak pergi sekarang juga.


Sepertinya hadiah ulang tahun terbaik adalah dari nenek. *Walau nenek tak berniat memberikannya, sih.* Pulang ke rumah, nenek dan ibu adu argument tentang hal yang sama sekali tak penting. Tentang siapa yang dulu lebih kaya.


Nenek membual kalau ia punya pelayan di rumahnya di Korea Utara dan pelayannya itu makan dengan sendok perak dan emas. Ibu membual kalau ia punya sepasang sapi emas. Nenek membual kalau kancing bajunya dari emas hingga ia harus terbungkuk-bungkuk saat berjalan dan betapa irinya ia  melihat anak-anak miskin memakai baju biasa.

Ibu berkata kalau kakinya dulu selalu kapalan karena menginjak potongan emas yang tersebar di mana-mana.

Hahaha.. Don, Dae Bak dan Miho hanya menonton pertarungan sengit itu dan berusaha menyembunyikan rasa geli melihat kedua orang tua itu.


Nenek kesal dan menyindir kalau Ibu sangat kaya kenapa juga ibu masuk ke keluarganya dengan tangan hampa? Ibu santai membalasnya dengan bertanya mana emas-emas yang katanya dimiliki oleh keluarga Nenek?



LOL, tentu saja nenek menjawab kalau semua emasnya ditinggal di Korea Utara. Walau ia belum bisa melupakan kalau saat itu ia selalu membersihkan kotoran dengan kain sutra. 


Dengan terus melipat baju yang sudah kering, ibu menjawab, “Dulu kami juga memakai kain sutra. Tapi saat kami kehabisan sutra, akhirnya kami menggunakan uang baru untuk membersihkan kotoran.”


Bwahaha… nenek hilang akal, tak menang berdebat. Ia pun memilih masuk kamar setelah meluapkan kekesalan dengan mengacak-acak kartu yang sedang dimainkan Don.






Sang Nam diminta oleh ayahnya untuk menemui gadis jelek di kafe dan memberinya pelajaran. LOL, si ayah ini dendam kesumat banget, ya. Untungnya (atau tak untung?) Sang Nam tak melihat Gwang Bak yang sedang menunduk mengambil bolpennya yang jatuh.
Ibu Miho menemukan surat-surat lama di kamar Sang Nam. Dan pada ayah Sang Nam, ia mengatakan kalau sepertinya Sang Nam belum bisa melupakan cinta pertamanya. Maka dari itu, ia mengira karena itulah Sang Nam tak bisa awet kalau pacaran. Ayah pun bertanya tentang kabar gadis yang ditelepon Sang Nam malam itu, tapi ibu Miho menduga hubungan itu juga tak bertahan lama.


Hari sudah malam saat Min Jung dan Soo Bak sampai ke rumah ayahnya. Setelah prosesi peringatan, mereka pun makan bersama. 


Adiknya datang dengan membawa kotak besar dan mengatakan kalau tak sepantasnya Soo  Bak mengirimkan makanan sesaji yang tak layak. Soo Bak menjelaskan kalau ia memesannya lewat internet, “Semua orang juga melakukan hal itu.”



Adik Min Jung juga mengungkit masalah Ayah mereka yang kembali lagi ke rumah, padahal sebelumnya ia sudah meminta Min Jung untuk merawat ayah mereka. Soo Bak meminta agar tanggung jawab itu tak dilemparkan kepadanya. Adik Min Jung marah, “Melemparkan? Kakak adalah anak tertua dan menikmati hampir semua warisan keluarga.”


Soo Bak bersikeras tak mau membawa ayah mertuanya. Min Jung mencoba mencegahnya untuk mengatakan hal yang sebenarnya, tapi ia tak tahan, “Min Jung sekarang bangkrut. Perusahaannya bangkrut. Ia benar-benar kehilangan perusahaannya, jadi bagaimana kami bisa membawa Ayah ke rumah?”


Semua terkejut mendengarnya. Min Jung tak tahan dan pergi keluar. Ayah menyuruh anak-anaknya pulang dan ia mencari Min Jung. 


Saat menemukan putranya, ayah tak bertanya sedikitpun tentang hal itu. Ia langsung memeluk Min Jung dan menepuk-nepuk punggung anaknya,, “Kau pasti merasa sangat tersiksa karena tak bisa cerita pada siapapun. Aku mengerti perasaanmu.”


Esoknya, setelah Min Jung berziarah ke makan ibunya, Ia dan Soo Bak pulang dengan dibekali makanan oleh ayah dan pesan kalau Min Jung pasti akan berhasil. Min Jung berjanji akan membawa ayah ke rumahnya jika ia sudah kembali sukses.


Walau di depan ayahnya Min Jung mencoba untuk kuat, tapi di tengah jalan ia tak dapat menahan tangis dan frustasinya karena mengetahui ayahnya tak pernah marah padanya. Bahkan ayahnya diam-diam menaruh uang di saku jas Min Jung.


Gwang Bak datang pagi-pagi sekali untuk memeriksa majalahnya yang baru saja terbit. Walau sudah tahu, tapi ia tetap kaget dan kecewa melihat judul artikelnya terpampang di sampul majalahDan foto Sang Nam terpampang di dalam artikel dengan mata ditutup bak penjahat.


Sang Nam menelepon untuk bertanya tentang artikelnya. Gwang Bak buru-buru berkata kalau majalah itu belum terbit dan Sang Nam akan ia beritahu jika sudah terbit.


Tapi Gwang Bak tak menyangka kalau sebenarnya Sang Nam saat itu juga sedang berada di toko buku. Dan secara kebetulan ia menemukan majalahnya. Wajah Sang Nam langsung mengeras saat melihat judul artikel di dalam majalah : Profesi Yang Dibenci Wanita: Operator Alat-Alat Berat, Pekerjaan 3 D


Kejutan lainnya dialami oleh Soo Bak. Saat mereka pulang, sudah ada orang yang menunggu untuk mengambil mobilnya. Ia meraung-raung, menangisi mobilnya yang dibawa pergi. Dan saat masuk rumah, ia mendapati beberapa orang sedang mencatat dan melabeli seluruh barangnya. Bahkan tas-tas mahalnya.


Ia mencoba mengusir mereka, tapi Min Jung menahannya. Ia histeris saat mendengar peringatan dari orang-orang itu yang melarangnya untuk menyentuh label-label itu dan meminta mereka pergi dari rumah akhir minggu ini.


Rasanya lucu tapi juga kasihan melihat Soo Bak memegangi salah satu tas yang baru ia miliki selama satu bulan, merengek dan memohon pada orang-orang itu agar membiarkannya tetap menyimpan tas itu.


Ho Bak dan Gwang Bak segera menemui Soo Bak. Sepertinya Min Jung menelepon mereka untuk menenangkan kakak mereka. Tapi Soo Bak benar-benar histeris. Ia menyalahkan Min Jung yang tak memberitahukan apapun padanya.


Soo Bak semakin histeris saat Min Jung menyarankan agar ia dan kedua putrinya tinggal di rumah ayahnya. Ia menelepon ibunya dan menangis tersedu-sedu.


Tentu saja ibu langsung tergopoh-gopoh menitipkan kedua cucunya pada Mi Ho yang sedang belajar bersama Dae Bak dan pergi ke rumah Soo Bak.


Di sana Ayah sudah datang. Ia memarahi Min Jung yang berani meminta Soo Bak untuk tinggal di rumah besannya di desa, “Bagaimana kau membiarkan semua ini terjadi? Anak itu tak terbiasa buang air besar di kloset kampung, dan ia bahkan tak terbiasa mencuci celana dalamnya sendiri. Bagaimana mungkin kau menyuruh Soo Bak tinggal di desa? Aku tak akan membiarkannya pergi. Lebih baik aku mati jika hal itu terjadi!”


Ibu histeris dan terduduk di lantai. Sementara Soo Bak yang sudah mulai tenang, sesekali terisak sambil memeluk tas tangannya.

Namun sebenarnya Soo Bak belum tenang. Ibu yang sudah kembali ke rumah, mencoba menelepon Soo Bak. Tapi tak diangkat. Gwang Bak pun menelepon Min Jung yang mengatakan kalau Soo Bak pergi ke rumah mereka.


Kekhawatiran langsung mencuat karena hal itu berarti Soo Bak menghilang. Semua panik dan mencari Soo Bak di lingkungan rumah keluarga Wang. Mereka berpikir hal terburuk akan terjadi dan mencari-cari di setiap tempat. Tapi Soo Bak tak ketemu.


Akhirnya Ibu dan Gwang Bak lega karena menemukan Soo Bak duduk di taman. Soo Bak tak menangis lagi, juga tak marah lagi. Tapi tatapan matanya kosong saat berkata kalau ia merasa sangat lelah dan tak ingin melakukan apapun. 

“Aku terus hidup karena aku masih hidup. Semua orang di dunia ini bersenang-senang 
sementara aku menyedihkan seperti ini.”


Gwang Bak dan Ibu menatap Soo Bak dengan cemas. Apalagi saat Soo Bak berkata kalau ia sudah tak ingin hidup lagi. Mereka hanya bisa memeluk Soo Bak erat-erat.



Semalaman ibu tak dapat memejamkan mata untuk memikirkan jalan keluar untuk anaknya.


Pagi harinya, Ho Bak kaget karena ibu muncul di tempat kerjanya dengan senyum ceria dan bertanya apa ada sesuatu yang terjadi? Dengan senyum masih terkembang, ibu berkata kalau ia datang karena ingin membicarakan suatu hal.


Komentar :


Bisa menebak, kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh Ibu?

Pokoknya kalau tebakan itu benar, rasanya mau naik darah deh kalau mendengarnya. Hhh… apa mungkin Ho Bak ini memang anak pungut, kali, ya?

Dan apa ya rahasia yang disimpan oleh Soo Bak dan Ho Bak?

8 comments :

  1. wah akhirnya dilanjutin lagi sinopsisnya
    aku udah nunggu lama buat baca ini =)
    eonni tetep semangat bikin sinopnya, fighting
    :D

    ReplyDelete
  2. huwaaa.. greget bgtz deh ma so bak dan ibu nya ni.. kl aku jd ho bak aku mnding kluar dr daftr klrga nya deh?!

    ReplyDelete
  3. huwaaa.. greget bgtz deh ma so bak dan ibu nya ni.. kl aku jd ho bak aku mnding kluar dr daftr klrga nya deh?!

    ReplyDelete
  4. akhirnya yg ditunggu keluar jg.. makasih mbak Dee ^^. kasihan Ho Bak, smg pd akhirnya dia bahagia.

    ReplyDelete
  5. makasi eonni..
    akhirnya dilanjutin lagi sinopsisnya..^__^
    aja aja fighting..!!

    ReplyDelete
  6. Saya juga senang dengan sinopsis yg dibuat mbak, walau di korea dah tayang sampai epi 20 dan di kbsworld 16, namun tetap nunggu disini. Semangat

    ReplyDelete
  7. Makasi mba dee dilanjutin sinopsisnya^^

    Ku menunggu sinopsis ini karna episodenya panjang beutt enakan baca diblognya mba dee :-)

    ReplyDelete
  8. Di antara konflik yg ada ...aku paling nungguin perseteruan Gwang Bak sm ayahnya Sang Nam....

    ReplyDelete