October 7, 2013

Sinopsis King's Family Episode 2

Sinopsis King’s Family Episode 2


Gwang Bak geram dengan pria pengemudi truk yang mempengaruhi adiknya sehingga Dae Bak drop out dari sekolah dan berencana membuat perhitungan dengan pria itu. Namun walau dengan berbagai cara : mentraktir Dae Bak makan pizza, mengancam atau langsung merebut handphone Dae Bak; Gwang Bak tetap tak bisa memperoleh nomor telepon pria itu.


Bahkan ia harus menerima malu karena jatuh dari kursi karena mencoba merebut handphone Dae Bak.



Ternyata ibu Mi Ho adalah bibi Sang Nam juga. Dan ibu Mi Ho mengetahui tentang wanita yang sedang dicari-cari oleh Sang Nam. Ia bahkan sudah 3 tahun mencari wanita itu di Pulau Geoje-do, tapi tak menemukannya. Maka saat Sang Nam memberitahu kalau ia mungkin menemukan jejak wanita itu, ibu Mi Ho senang walau meminta agar Sang Nam tak memberitahukan hal ini pada siapapun.

Note : saya pikir wanita yang dicari Sang Nam adalah bekas pacar yang mengkhianatinya. Ternyata wanita itu adalah ibu Sang Nam yang meninggalkannya dan meninggalkan luka mendalam di hati keluarga Sang Nam. Dan Paman  Ayah Sang Nam sepertinya sangat membenci kakak iparnya  istrinya yang menghilang itu.


Kemudian pria ini muncul. Pria di episode 1, muncul dimana-mana dengan berjalan tertatih-tatih, dan sudah dua kali ditabrak oleh Gwang Bak.

Ternyata pria itu adalah ayah Mi Ho a.k.a Paman Sang Nam. Heheh.. saya tahu hubungan Gwang Bak – Sang Nam nggak mungkin berjalan mulus.. itu pun kalau mereka memiliki hubungan nanti.


Soo Bak benar-benar kerepotan mengurus kedua anaknya. Membuat susu, menggendong bayi dan putri pertamanya sudah mulai rewel ingin bermain dengannya. Benar-benar hari libur yang stress untuk Soo Bak.


Sementara hari libur ini adalah hari libur yang menyenangkan bagi Ho Bak dan putra-putranya. Mereka sedang bersiap-siap untuk pergi mengunjungi kakek mereka di sekolah. Namun rencananya itu sedikit berubah karena ibunya menelepon dan bertanya apakah Ho Bak mau mendapatkan uang?


Maka Ho Bak pun muncul di rumah kakaknya, membuat Soo Bak lega.


 “Min Jung memecat tanpa membicarakannya lebih dulu pladaku. Padahal aku hanya membentaknya karena ia memblokir kartu kreditku,” keluh  Soo Bak sambil menyandarkan badannya ke kursi sementara Ho Bak mengambil alih putri bungsunya dari gendongannya, “Ahh..akhirnya aku bisa bernafas lega. Aku benar-benar tak dapat mengurus anak-anakku.”


Aishh.. dan Ho Bak pun memasak sambil menggendong si bungsu dan kemudian bermain dengan si sulung. 


Sementara anak-anak Ho Bak berlari-larian di ruang guru, tempat ayah sedang bekerja. Soo Bak? Berkicau dengan riang gembira di telepon, membicarakan pergi ke sana dan sini untuk have fun.


Bahkan ibu pun juga menganggap anak-anak Soo Bak dan Ho Bak berbeda. Saat Soo Bak mengeluh tentang anak-anaknya yang susah makan, ibu menenangkan kalau begitulah anak-anak orang kaya. Ibu hanya menyarankan Soo Bak untuk memberi obat nafsu makan ramuan China.

Ho Bak pun memberi tahu cara ia membuat anak-anaknya mau makan dengan membiarkan mereka kelaparan sekaligus menyingkirkan semua snack dan sekarang anak-anaknya mau makan apapun yang ia beri. Tahu jawaban ibu?


“Anak-anaknya tak seperti anak-anakmu!” bentak ibu. “Anak-anaknya itu berbeda dari anak-anak yang miskin!”

Aishh..



Mendadak si bungsu terbangun dan menangis. Soo Bak mendadak bisa menjadi ibu sempurna dengan mengatakan kalau ia memiliki cara terbaik untuk menenangkan kembali. Ia masuk, dan suara tangisan pun berhenti.

Whoaa… *standing ovation* keren.. bagaimana caranya? Ternyata si bungsu hanya bisa tidur setelah mendengar suara anjing melolong.

Ada anjing melolong di siang bolong?


Dari sinilah suara anjing melolong berasal. LOL, ternyata ini toh penyebab Gwang Bak melolong di awal episode 1.


Ibu sangat senang saat Soo Bak memberikan uang bulanan yang selalu ia berikan. Tapi ia mengkritik Ho Bak yang dengan antusias mengambil uang karena jerih payahnya hari ini dengan mengatakan kalau Ho Bak mau membantu kakaknya jika hanya ada bayaran saja. Helloww… omma.. hari ini sudah ngaca belum, sih?


Tapi Ho Bak tetap tersenyum walau dikritik seperti itu. Ia malah bertanya apakah Soo Bak memiliki barang-barang yang sudah tak dipakai untuk diminta. Soo Bak pun memberikan baju dan tas yang masih bagus-bagus. Ibu kembali mengatakan kalau Soo Bak sangat pantas jika memakai baju apapun, tak seperti Ho Bak, “Kau itu seperti Chun Hyang dan Ho Bak seperti Hyang Dan.”


Ibu tertawa terbahak-bahak, bahkan ikut membujuk Ho Bak agar keluar dari pekerjannya yang sekarang dan menjadi asisten rumah tangga Soo Bak, karena bayarannya jauh lebih tinggi daripada pekerjaannya yang sekarang.


Ho Bak pulang dengan menenteng barang-barang pemberian Soo Bak. Di luar ia bertemu dengan Min Jung yang pulang jalan kaki. Mereka bercakap-cakap sebentar, dan saya sempat merasa Min Jung ingin menceritakan masalahnya pada Ho Bak, namun kemudian ia urungkan niat itu.


Di rumah, Min Jung makan malam bersama ibu yang mengorek informasi alasan mengapa ia memberhentikan asisten rumah tangganya dan membujuknya untuk mempekerjakan kembali.  Min Jung tak mau, dan ia juga membantah kalau ia sedang berhubungan dengan wanita lain.


Ibu memberitahukan hal ini pada Soo Bak dan menyuruhnya agar berbaik-baik pada Min Jung. Soo Bak tak khawatir sama sekali. Ia malah sibuk mempertimbangkan apakah harus melakukan facelift lagi dan menawarkan ibunya untuk melakukannya juga. Ibu senang dengan tawaran itu.


Di kantor, Ho Bak menjual barang-barang pemberian Soo Bak pada teman-teman kantornya. Di toilet, ia menghitung uang hasil jualan. Ia menyisihkan 100 ribu won dalam amplop dan menghitung sisanya dengan riang gembira.



Adik ipar Ho Bak memberitahukan ibunya kalau ada salon baru yang dibuka di daerah mereka. Ibu mertua Ho Bak memutuskan untuk meminjam uang dari Ho Bak agar bisa memperbesar salonnya.


Ternyata uang 100 ribu won itu diberikan pada pamannya, Don, sebagai uang bulanan. Don terharu pada pemberian keponakannya. Di dalam, keponakan lainnya menanyakan hal yang abstrak. Dae Bak bertanya apa impian pamannya?


Ho Bak kaget melihat ibu mertuanya mengajak seluruh keluarganya untuk makan enak. Dan ia memperlakukan Ho Bak dengan sangat manis, bahkan memuji Ho Bak di depan Seo Dal kalau Seo Dal tak akan menemukan istri sebaik Ho Bak. Ho Bak semakin heran mendengar pujian yang jarang terdengar itu.


Namun ia akhirnya mengerti tujuan ibu mertuanya saat ibu mertuanya selesai menata rambutnya di salon (hal yang belum pernah terjadi juga). Ibu mertuanya bermaksud untuk meminjam uang yang akhirnya ia tolak dengan alasan tak punya uang. Ibu mertuanya tak percaya karena selama ini Ho Bak bekerja dan menghemat pengeluaran seirit mungkin, pasti uang Ho Bak banyak sekali.

Ho Bak tetap mengatakan ia tak punya uang, sehingga ibu mertua  dan adik iparnya mengatainya pelit dan memintanya untuk membayar biaya menata rambut yang baru saja dilakukan.


Ho Bak pun mengacak-acak rambutnya hingga berantakan dan bertanya, “Sekarang bagaimana?” Dan ia pun pergi meninggalkan keduanya yang terperangah melihat reaksi Ho Bak yang tak terduga itu.


Dari Hae Bak, Gwang Bak mengetahui tempat Dae Bak menemui Sang Nam. Maka ia pun pergi ke lokasi proyek Sang Nam. Ia berteriak memanggil Sang nam. Namun Sang Nam tak mendengarnya atau pura-pura tak mendengar. Ia malah memajukan ekskavator menuju ke arah Gwang Bak, sehingga Gwang Bak harus mundur sambil berteriak-teriak, “Hei!! Berhenti! Tak dapatkah kau turun sebentar? Hei!! Tunggu!!”


Ekskavator Sang Nam mengejar Gwang Bak kemanapun Gwang Bak lari. Akhirnya Gwang Bak terjatuh di gundukan pasir dan menjerit sambil memejamkan mata erat-erat. Tapi Sang Nam memang berniat menghentikan eksakavatornya di sana.


Gwang Bak marah dan mengejar Sang Nam yang akan pergi. Ia memperkenalkan diri sebagai kakak Dae Bak dan menuduh Sang Nam melanggar hukum dengan membujuk adiknya agar keluar dari sekolah. Ucapannya sendiri itu menimbukan ide di kepala Gwang Bak, “Ah.. kau harus kuadukan ke polisi!”


Sang Nam pun menerima ide itu. Bahkan ia langsung menaiki sepeda Gwang Bak dan menyuruh Gwang Bak naik ke boncengan. “Ayo kita ke kantor polisi sekarang juga!” katanya pada Gwang Bak yang bengong dengan tanggapan Sang Nam.


Akhirnya Gwang Bak pun membonceng, namun Sang Nam tak membuat perjalanan itu menyenangkan. Ia dengan sengaja melewati jalan-jalan yang berlobang, membuat Gwang Bak mengaduh-aduh kesakitan. Mendengar jeritan Gwang Bak,membuat senyum Sang Nam semakin lebar. Dasar.


Bukannya ke kantor polisi, Sang Nam ternyata membawa Gwang Bak ke tempat makan. Ini adalah waktu makannya, dan ia sebagai kuli harus makan tepat waktu. Gwang Bak kesal mendengarnya. Tapi ia merasa pernah melihat Sang Nam sebelumnya.  


Bibi penjaga restoran mendengar ini dan berkata kalau sekarang ini wanita menggunakan ucapan itu untuk mengejar pria-pria tampan. Hahaha.. Gwang Bak semakin kesal mendengarnya.


Ada telepon masuk dan Sang Nam langsung menerima telepon. Di saat yang bersamaan, Soo Bak meneleponnya karena si bungsu menangis. 



Maka Soo Bak pun keluar restoran dan bersembunyi di tempat sepi untuk menggonggong dan melolong.


Hingga ia merasa ada orang yang memperhatikannya. Ia mendongak dan.. Sang Nam berdiri memandanginya dengan tatapan geli.


Haduhh… Gwang Bak benar-benar kelihatan seperti cewek aneh, pasti.


Akhirnya Sang Nam mengantarkan Gwang Bak ke kantor polisi. Sebelum Gwang Bak mengadukan ke polisi, ia bertanya pada Gwang Bak apa yang ia ketahui tentang adiknya Dae Bak. 


Gwang Bak jelas tahu adiknya. Ia adalah orang yang mengganti popok Dae Bak ketika bayi, “Ia kelas 7, tapi ia masih belum bisa dewasa. Nilainya jelek sekali, tak bisa diatur, kebanyakan gaya, nakal, --“


Sang Nam memotongnya dengan mengatakan, “Pertama, Dae Bak sekarang sedang berada di tengah badai. Ia mudah dipengaruhi dan sangat antusias. Kelas 7 adalah saat-saat yang sangat sulit. Ia terlalu bersemangat sehingga sekolah menjadi tak ada gunanya. Kedua, --“

Gwang Bak hendak menyela, tapi Sang Nam mengangkat tangan, menghentikannya. “Kedua, kalau kau khawatir, jangan mengatakan hal-hal yang kasar.”


“Aku tak berkata kasar,” sergah Gwang Bak, membuat Sang Nam mengernyit heran. Ia berteriak kasar, menirukan semua kata-kata kasar yang pernah dikatakan Gwang Bak pada Dae Bak, membuat Gwang Bak terdiam.

“Ketiga,” suara Sang Nam kembali normal lagi,”dan ini yang paling penting. Dae Bak tak memiliki mimpi.”


Gwang Bak kaget mendengar Dae Bak tak memiliki impian. Menurut Sang Nam untuk anak seusia Dae Bak dan tak memiliki mimpi adalah lebih buruk daripada gurun pasir tanpa oasis. “Hidupnya masih panjang. Jadi tak masuk sekolah beberapa hari bukanlah masalah yang besar. Kita sebagai orang dewasa harus memberi Dae Bak waktu untuk menemukan mimpinya dan ia akan kembali ke sekolah.”

Dan dengan ucapan itu, Gwang Bak mengurungkan niatnya untuk mengadukan Sang Nam ke polisi.


Malamnya, ada rapat keluarga mendadak. Ayah memanggil ibu dan semua kakak Dae Bak. Ia memarahi semua kakak Dae Bak yang tak tahu kalau Dae Bak drop out dari sekolah. Ibu panik mendengarnya. Gwang Bak segera menyuruh adiknya pulang.


Saat Dae Bak pulang, semua langsung mengerubutinya, memarahinya. Tapi Dae Bak malah menenangkan semua dan dengan kalem berkata, “Drop out bukan hal yang perlu dipermasalahkan. Bukan hal yang spesial. Tenang.. tenang.. Semuanya kembali kerjakan urusan masing-masing.”


Semua bengong mendengar ucapan Dae Bak yang sangat dewasa. Saya pun bingung mendengarnya. Apa Dae Bak sedang kerasukan? Dan kalimat selanjutnya membuat saya paham, Dae Bak ini kerasukan apa : “Buldozer dan ekskavator, semua kembali bekerja. Kalau kau ingin mengurus istri dan anak-anakmu dalam waktu yang lama, jagalah keselamatan dalam bekerja. Pakailah selalu topi kalian dan teruslah menggali.”


Bwahaha.. . Semua bengong mendengarnya. Dae Bak menambahkan kalau anak kelas 7 bisa meledak setiap saat, jadi semua diharap tenang. Dan Dae Bak pun langsung kabur ke atas setelah mengucapkan pidato panjangnya.

Ayah pulih dari kagetnya dan langsung berteriak, “Air!!” Don dan Gwang Bak langsung lari ke dapur untuk mengambilkan air. 


Haha.. mau ketawa kok ya kasihan sama semua yang shock mendengar jawaban Dae Bak yang cool tapi nggak nyambung.

Yang jadi sasaran kemarahan adalah Gwang Bak, yang selama ini diserahi tanggung jawab dalam pendidikan Dae Bak. Gwang Bak pun menjawab hati-hati, “Pertama, Dae Bak sekarang sedang berada di tengah badai…”


LOL.. LOL.. nggak nyangka saya mendengar ucapan Sang Nam untuk yang kedua kalinya di ruang keluarga Wang ini. Gwang Bak menirukan persis ucapan Sang Nam hingga poin ketiga. Saya harus acungi jempol pada Gwang Bak karena mengingat ucapan Sang Nam dengan sempurna.


Tapi itu membuat amarah ayah hilang dan mengatakan kalau ucapan Gwang Bak masuk akal dan mengijinkan Dae Bak melakukan hal itu sementara waktu.


Sang Nam belum mendapatkan kabar tentang wanita yang ia cari. Ibu Mi Ho meminta Sang Nam untuk tak mencari wanita itu jika Sang Nam belum bisa memaafkannya. Ia khawatir Sang Nam akan lebih terluka karenanya.


Tapi Sang Nam berkata kalau ia tetap ingin mencarinya. Walau ia nanti terluka lebih dalam lagi, ia tetap harus bertemu, agar ia dapat melupakannya.


Subuh-subuh, ayah melakukan lari pagi seperti biasa dan pengikutnya bertambah satu yaitu Dae Bak. Tapi kali ini ayah menyuruh Gwang Bak dan Don untuk kembali masuk ke rumah karena ia akan lari bersama Dae Bak. 


Gwang Bak dan Don tersenyum dan berkata, “Kali ini.. kau benar-benar mampus.”


Ayah mengajak Dae Bak menaiki bukit. Dan di atas ia berkata kalau ia sebenarnya sama seperti Dae Bak, tak ingin ke sekolah juga, “Orang dinas pendidikan mengawasiku. Banyak yang harus kulakukan tapi guru-guru tak mau mendengarkanku. Pak kepala sekolah juga mengincarku. Murid-murid memanggilku nenek. Aku ingin berhenti tapi tak bisa karena aku harus membesarkan kalian.”


Ucapan ayah itu membuat Dae Bak menunduk malu, dan membuatnya kembali ke sekolah. Nenek, ibu, Don dan Gwang Bak khusus mengantarkannya dengan senyum sumringah di bibir mereka.


Gwang Bak menelepon Sang Nam untuk berterima kasih padanya dan mengajaknya makan malam sebagai ucapan terima kasih. Sang Nam mengatakan tak perlu, tapi kalau Gwang Bak memangi ingin mengajaknya kencan, maka mengapa tidak?

Haha.. Sang Nam pinter ngomong, ya..Tapi ucapan itu membuat Gwang Bak berteriak kegirangan setelah menutup telepon.


Mi Ho kesal karena saat bersama Dae Bak di taman, Dae Bak malah memperhatikan seorang gadis yang katanya adalah wakil ketua kelas Dae Bak. Ia pulang sekolah dan mengadukan hal ini pada ibunya.

Ibu hanya tersenyum mendengar anaknya yang sudah naksir-naksiran. Mi Ho bertanya apakah ia harus menikahi Dae Bak? Ia hanya perlu mengambil hati kakak ketiga Dae Bak saja, namun juga mengeluh kalau kakak Dae Bak itu sangatlah sulit. Bahkan orang tua Dae Bak saja sudah angkat tangan.

Hmm.. sepertinya Gwang Bak sudah dikenal oleh seluruh keluarga Sang Nam, nih.. hanya ibu Mi Ho saja yang belum pernah bertemu.







Gwang Bak menunggui Sang Nam di lokasi proyek dengan berdandan manis. Namun Sang Nam bersikap biasa pada Gwang Bak dan malah bertanya mengapa Gwang Bak berdandan seperti hendak kencan? Apa Gwang Bak ingin membuat seseorang terkesan?


Aishh.. Gwang Bak langsung membantah hal itu. Sang Nam kembali membawanya ke daerah yang sempit dan becek, sehingga Gwang Bak ragu untuk melangkah karena takut terciprat air genangan. Saat ada genangan yang lebar, Sang Nam menghampirinya untuk menggendongnya.

Tentu saja Gwang Bak mundur terkejut. Tapi Sang Nam berkata kalau ia hanya ingin membantunya. Dan Sang Nam pun langsung meninggalkannya. 


Mereka makan di restoran sederhana tapi enak. Di sana Sang Nam memperkenalkan dirinya (Sang Nam : pria dari segala pria) dan menebak kalau arti nama Gwang Bak berhubungan dan permainan Go Stop. 


Menghadapi Gwang Bak, Sang Nam bermain tarik ulur. Sesaat ia menguraikan kekurangan Gwang Bak (jelek, suka berkata kasar, tak sabaran), tapi sesaat kemudian ia bersikap manis dengan meniup sup Gwang Bak karena Gwang Bak mengaduh supnya kepanasan. Sang Nam membuat Gwang Bak malu, tapi juga membuatnya tersipu-sipu.


Gwang Bak tak percaya saat Sang Nam menyebut dirinya playboy, karena tak ada playboy yang mengakui kalau diri sendiri playboy. Maka Sang Nam pun meminta Gwang Bak mendekat dan berbisik, “Kuberikan sedikit saran. Jangan jatuh cinta padaku. Aku benci jika melihat ada gadis yang menangis.”


Min Jung mendirikan usaha pengiriman dengan beberapa karyawan yang masih bersamanya. Dan Min Jung sebenarnya adalah bos yang baik. Karena pada saat acara syukuran sederhana, ia meminta semua karyawannya bekerja keras dan walau ia adalah bos, ia juga akan menjadi salah satu kurirnya, “Aku akan mengantarkan ke tempat-tempat yang sulit. Jadi, mari kita bekerja bersama-sama.”


Sementara suaminya mengais sen demi sen, Soo Bak berniat merencanakan ulang tahun ibunya. Pada adik-adiknya, ia berencana untuk menghadiahi ibu wisata dengan kapal pesiar dan mengadakan ulang tahun ibu di hotel dengan mengundang 100 orang, dengan biaya 100 ribu won per orangnya.


Ho Bak dan Gwang Bak terkesiap kaget mendengar biaya yang mungkin dikeluarkan. Gwang Bak sekarang pengangguran dan Ho Bak tak sanggup jika harus ikut menanggung biayanya. Maka Soo Bak pun berkata kalau ia akan menanggung semuanya.


Di luar, ibu mendengar pembicaraan putri-putrinya dan ia terlihat tak suka.


Mulanya saya pikir ibu tak suka kalau ulang tahunnya dirayakan dengan meriah. Tapi saya salah. Malam-malam, ibu menelepon Ho Bak dan memarahinya karena bersikap egois, “Kau, kan bekerja. Kau tak pernah memberikan hadiah apapun untukku. Suamimu juga tak pernah memberiku uang bulanan. Kau ingin membatalkan perayaan ulang tahunku?”


Ho Bak tak bermaksud seperti itu, tapi rencana Soo Bak di luar jangkauan kemampuan keuangannya. Ibu juga tahu bagaimana kehidupannya sekarang ini. Dengan suami yang tak bekerja dan anak-anak tumbuh remaja, ia mencoba menyimpan setiap sen yang ia dapatkan. Tapi ibu tak mau dengar dan langsung menutup telepon.


Duh.. omma.. apakah ini hukuman yang didapat Ho Bak karena melangkahi kakaknya dengan menikah terlebih dahulu? Ho Bak teringat betapa marah ibunya saat ia menikah karena hamil dahulu. Soo Bak belum menikah dan jika Ho Bak melangkahinya, orang akan berpikir kalau Soo Bak memiliki kekurangan dalam dirinya. Saat itu ibu mengatakan kalau ia tak akan menganggap Ho Bak sebagai putrinya lagi. Ho Bak menangis mengingatnya.


Gwang Bak mendapat tawaran untuk menulis artikel berseri tentang dunia kerja pria. Gwang Bak sangat senang sekali dan menghubungi Sang Nam meminta waktu untuk bertemu. Sang Nam menyanggupi dan janjian bertemu dengannya di taman bermain.


Sampai di taman bermain, Gwang Bak mencoba berjalan anggun, namun ternyata Sang Nam belum datang. Ia pun duduk di ayunan, tapi ia malah terpleset dan jatuh. Malah pada saat itu Sang Nam muncul, membuat Gwang Bak malu. Namun Sang Nam langsung lari menghampiri Gwang Bak, khawatir padanya.


Gwang Bak menceritakan tentang artikel yang akan ia tulis dan meminta waktunya untuk mewawancarainya. Sang Nam bercanda kalau kalau ia suka pada wanita yang menginterogasinya. Gwang Bak hanya tertawa dan menyebutnya playboy.


Sang Nam pun mengundangnya untuk wawancara di lokasi proyek. Sebelum pergi, ia menyempatkan diri untuk bertanya apakah Gwang Bak akan melakukan matseon (blind date)? Atau Gwang Bak berdandan seperti itu hanya karena ingin menemuinya di taman?
Gwang Bak menggerutu dan mengatai Sang Nam sombong sekali.


Di perjalanan, Sang Nam menerima telepon yang membuatnya kembali ke rumah dan berganti baju. Kali ini bukan baju mandor yang biasa ia pakai. Ia pun menenangkan bibinya kalau semuanya akan baik-baik saja. Dan ia pun pergi, bukan dengan truk yang biasa ia pakai tapi dengan BMW convertible.


Ibu pergi ke pasar dan tak sengaja disenggol oleh seorang kurir yang sedang berlari untuk mengantarkan barang. Ibu sedikit curiga karena melihat di rompi belakang tertulis ‘Jasa pengiriman barang Min Jung’ dan perawakan pria yang menyenggolnya itu mirip dengan menantunya.


Maka ia menelepon Soo Bak karena khawatir perusahaan Min Jung dalam masalah. Dan ia bernafas lega saat mendengar kalau Soo Bak tak tahu apapun dan tertawa karena kekhawatirannya.


Tapi yang melihat Min Jung hari itu tak hanya ibu, tapi juga Ho Bak dan Seo Dal. Dan Min Jung pun menceritakan kalau perusahaannya sekarang bangkrut. Ia sudah hampir menceritakan hal ini pada Soo Bak tapi ia urungkan karena katanya jika ia miskin, maka Soo Bak bisa mati dengan anak-anaknya.


Seo Dal pun mengaku kalau ia pun akan bunuh diri jika ia menjadi Min Jung. Pada dasarnya ia memuji semangat Min Jung, tapi dengan cara yang memalukan, hingga Ho Bak pun harus menginjak kakinya. Ia pun hampir keceplosan rahasia Soo Bak jaman dulu jika Ho Bak tak menginjak kakinya lagi.

Hmm… Soo Bak punya rahasia apa, ya?


Di rumah Seo Dal mengomel, kesal karena Ho Bak masih juga menutupi rahasia Soo Bak padahal Soo Bak tak menganggap Ho Bak seperti adiknya sendiri, “Jika aku menjadi dirimu, aku akan menceritakan segalanya pada Min Jung. Ia pasti akan gila karena marah jika mendengarnya.”

Ho Bak menyuruh Seo Dal merahasiakan masalah Min Jung sampai Min Jung sendiri yang mengatakannya. Jaga rahasia itu juga pada Don, pamannya.

Seo Dal ini ngeselin-ngeselin lucu. Mendengar permintaan istrinya, ia bercermin dan bertanya pada dirinya sendiri, “Coba kutanya pada mulutku dulu.Mulut, mulut.. Ini adalah krisis terbesar dalam hidupmu. Apa yang harus kau lakukan, ya?”


Dan ia memonyong-monyongkan mulutnya genit.


Malam itu, Min Jung mencoba mengatakan permasalahannya pada Soo Bak. Tapi Soo Bak malah menceritakan tentang rencananya untuk ulang tahun ibunya yang ke-60 akhir minggu depan. Pesta ulang tahun, hadiah facelift dan pesiar dengan kapal ke Eropa.


Min Jung mencoba bersikap sabar dan bertanya hari apakah akhir minggu depan itu? Soo Bak mengatakan tentu saja hari ulang tahun ibunya. Salah. Min Jung berkata kalau hari itu adalah peringatan satu tahun kematian ibunya.

“Oh.. tidak,” Soo Bak terlihat bingung, dan kemudian bertanya, “Bisakah kita lakukan hal itu di hari lain?”

Min Jung-ssi.. let me whack her. 

Soo Bak melanjutkan kalau ia tak bisa melakukannya karena sudah memesan semuanya.


Min Jung berkata dengan lebih tegas kalau mereka tak bisa melakukan hal itu karena mereka tak mampu. Soo Bak malah menuduhnya pelit karena tak mau mengeluarkan uang untuk ulang tahun ibu mertua yang sudah mengurus kedua putri mereka. Soo Bak pun pulang meninggalkan Min Jung.


Soo Bak pulang dengan mobil sementara Min Jung mengikutinya dengan taksi. Di depan apartemen, telah menunggu adik Min Jung dan ayah mertuanya. Ia sedang tak mood dan hanya menyapa ala kadarnya pada mereka.


Adik Min Jung kesal melihat perlakuan kakak iparnya itu. Ia pun berkata kalau ia mengantarkan ayah mereka ke rumah, “Sudah kukatakan padamu, kan, kalau kau tak bisa menjemputnya, aku akan mengantarkannya ke rumahmu.”


Ayah Min Jung pun tinggal di rumah. Soo Bak belum tahu kalau ayah mertuanya hanya sementara. Ia pikir hanya berkunjung. Soo Bak pun menyiapkan makan malam untuk ayahnya.
Dengan memesan jjajangmyun dari luar.


Hal itu membuat Min Jung marah dan membanting piring jjajangmyun ke tiang, membuat Soo Bak berteriak kaget.


Komentar :

Rasanya pengen mukulin Soo Bak saat mendengar jawabannya, “Ah.. bisakah kita melakukannya lain kali? Aku sudah memesan semuanya..” Pantas saja Min Jung membanting piring. Pertama  Soo Bak sudah tak menghormati ibunya yang sudah meninggal, dan sekarang ia juga bersikap tak sopan dan tak peduli pada ayahnya yang masih hidup.

Saat Ho Bak tak sengaja bertemu dengan Min Jung dan Min Jung seperti ingin curhat pada adik iparnya ini, saya berpikir kenapa dulu Min Jung nggak jadian saja ya dengan Ho Bak? Mereka akan menjadi pasangan suami istri yang sempurna.

Hhh.. tapi cinta memang tak dapat memilih. Ho Bak jatuh cinta pada Seo Dal, dan Min Jung pun jatuh cinta pada Soo Bak.

Tapi tetap saja.. nyebelin lihat Soo Bak. Walaupun saya kesel liat Seo Dal, tapi saya lebih kesel kalau ngelihat Soo Bak.

Mengenai Sang Nam dan Gwang Bak, hubungan mereka unik, ya? Sang Nam pura-pura tak peduli, tapi sebenarnya sweet banget. Sebenarnya karakter Sang Nam sendiri juga unik. Ia mengaku dirinya playboy tapi perhatian banget pada Gwang Bak, walau dengan cara yang berbeda. Saat pertemuan di taman bermain, ia mengomentari dandanan Gwang Bak dan bertanya apakah Gwang Bak berdandan untuk matseon atau karena ingin menemui dirinya?

Hmm .. kedengarannya sih Sang Nam sombong dan pe-de banget. Tapi di sisi lain, kedengarannya sepert iSang Nam yang ingin memuji penampilan Gwang Bak.

13 comments :

  1. keren mbak dee... aku bakal terus ngkutin drama ini. drama family kayak gini biasanya punya banyak hikmah dan pelajaran hidup. taste nya kayak ojakyo brothers ya....

    ReplyDelete
  2. Duh soo bak sm ibu ngeselin bgt >,<
    Kl udh ditinggal sendirian baru tau rasa deh *ikut emosi hahaha*

    ReplyDelete
  3. Mbak Dee.. yang mbak dee tulis paman sang nam itu ayah miho salah. Yang bener itu ayah sang nam dan pama mi ho. makanya ayahnya benci ma ibunya sang nam karena dia ninggalin keluarganya. nah ayah miho sepertinya adlh Go minjung . minjung dan ibunya miho sepertinya dulu pacaran hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ehh.. itu beneran ayah sang nam, ya? kupikir suaminya si bibi itu. pantesan mereka nyembunyiin, ya..

      Dee udah nonton sampe episode 4, ya? Thank you, akan segera aku koreksi.

      Delete
    2. udah episode 10 mbak.. gr2 mbak dee bikin sinopsis ini aku jd kepo ma drama ini.. suka ngikutin deh pokoknya.. tp tetep baca sinopsis mbak Dee. Sinopsisnya punya gaya tersendiriyang menarik dan ga diidapet pas streaming. Hwaiting mbak.. tetep semangat nulis sinopsisnya ya ^^

      Delete
  4. baca aj ikutan sebel ama so bak ama ibu

    ReplyDelete
  5. baca aj ikutan sebel ama so bak ama ibu

    ReplyDelete
  6. Mb dee..gomawo. Baca postingan episode 1 aku lsg jatuh cinta n donlot drama ini. Aku dah nonton mpe episode 7. Sukaaa deh ma sang nam :D karakter soo bak bener2 nyebelin ya..Ho bak bener2 kasian, timpang sekali perlakuan emaknya ke so bak ma ho bak..semangat ya mb dee..walopun episodenya panjang, yakin ini drama bagus, walopun ttp untuk genre family drama aku cinta mati ma serial OB :D penasaran gimana perubahan karakter keluarga hwang mpe akhir. Sekali lg tengkiu..

    ReplyDelete
  7. Gomawo mb dee..pas baca postingan episode 1 aku lsg jatuh cinta n donlot drama ini. Aku dah nonton mpe episode 7. Sukaaa deh ma sang nam :D karakter soo bak bener2 nyebelin ya..Ho bak bener2 kasian, timpang sekali perlakuan emaknya ke so bak ma ho bak..semangat ya mb dee..walopun episodenya panjang, yakin ini drama bagus, walopun ttp untuk genre family drama aku cinta mati ma serial OB :D penasaran gimana perubahan karakter keluarga hwang mpe akhir. Sekali lg tengkiu..

    ReplyDelete
  8. HAHAHAH Aku baca aja ngakak2. apalagi nonton.Mbak Dee DAEBAK!!! :D

    miss ahjumma (Soo Bak) nih yah.. aktingnya jago banget :))
    Sang Nam, gak ganteng tapi kerennnn...

    GwangBak, dodol syekaliihhhh -_-

    perjalanan masih jauhhhh 40an episodeee...hheheheheh
    semangat mbak! ^^

    ReplyDelete
  9. Sukaaaaaa sinopsisnya... Makasi mba dee ^^

    ReplyDelete
  10. suka deh sama sinopsisnya....:)
    semangat mb Dee...!! Hwaiting..!!^^

    ReplyDelete
  11. semangat lanjutin sinopsisnya say, walau dah nonton yg tayang di kbsworld namun suka denga gaya tulisannya. Fighting

    ReplyDelete