October 6, 2013

Sinopsis Good Doctor Episode 13 - 2

Sinopsis Good Doctor Episode 13 – 2


Saat pulang, Yoon Seo menyinggung masalah pengkuan Shi On kemarin. Shi On meminta agar Yoon Seo menganggap tak pernah mendengarnya karena yang ia lakukan kemarin adalah sebuah kesalahan. Dulu waktu ia SD, ia juga pernah menyukai gurunya yang cantik dan juga baik padanya. Sama seperti Yoon Seo sekarang ini. Dan ia melakukan hal itu karena ia masih belum dewasa.

Yoon Seo tak percaya akan ucapan Shi On. Shi On mencoba menegaskan kalau ia tak dapat berbohong. Tapi Yoon Seo menunjukkan dua kejadian saat Shi On berbohong padanya, saat Shi On memberikan bunga mawar dan saat ingin membeli palu.



Shi On diam dan semakin malu karena ketahuan bohong. Tapi dengan suara lebih lembut, Yoon Seo berkata kalau ucapan Shi On bukanlah ucapan seorang anak kecil dan Shi On tak perlu menyesalinya, “Karena aku merasakan ketulusanmu. Jika aku tak merasakannya, aku akan menertawakan dan melupakannya.”


Mereka akhirnya duduk di sebuah cafe. Yoon Seo bertanya apakah dirinya adalah cinta pertama Shi On? Shi On hanya terdiam seakang membenarkan pertanyaannya. Maka Yoon Seo pun berterima kasih karenanya. Yoon Seo kemudian menceritakan tentang cinta pertamanya saat ia kelas 1 SMA dan cinta itu bertepuk sebelah tangan.


Sama seperti Shi On, saat itu hatinya juga berdebar-debar dan ia tak dapat tidur nyenyak. Saat itu ia merasa bukan anak-anak lagi karena perasaan suka dan patah hati yang dialaminya. Namun cinta pertamanya membuat hatinya  tumbuh menjadi lebih dewasa.

Yoon Seo mengatakan kalau yang dialami Shi On sekarang pun juga seperti itu. Ia juga mencintai Shi On, namun sebagai juniornya dan adik yang ia sayangi. Mungkin Shi On sekarang merasa kecewa, tapi dengan berlalunya waktu, hati Shi On akan merasa lebih tenang dan mereka akan bisa saling menyayangi seperti kakak adik.


“Apa yang harus kulakukan jika waktu sudah berlalu dan perasaanku masih tetap sama?” tanya Shi On. “Kurasa saat itu aku akan merasa lebih frustasi daripada sekarang. Lebih merasa frustasi daripada saat aku terjebak di goa tambang.”

Yoon Seo diam, tak tahu harus menjawab apa. Shi On pun melanjutkan. Walau ia masih merasa sedih, tapi sekarang hatinya terasa lebih tenang sekarang, “Tampaknya saya membebani Anda dengan hal yang tak berguna.”


Shi On mengangguk, memberi salam dan berdiri meninggalkan Yoon Seo yang hanya bisa menghela nafas.


Di perjalanan pulang, Shi On melihat dr. Go duduk di kaki lima dan minum sendirian. Dengan sopan ia menyapa dr. Go yang kemudian mengajaknya minum bersama.


Mereka pun minum-minum. Hingga botol keenam, dr. Go sudah mulai mabuk. Ia nyerocos, menumpahkan uneg-unegnya. Normalnya di bedah anak itu tak ada kepala bagian, karena langsung dibawahi oleh Direktur. Tapi karena ia memiliki backing kakak ipar, maka ia diangkat jadi kepala bagian. 


Setengah menguap, Shi On berkata kalau dr. Go sudah mengatakan hal ini sebanyak delapan kali.

“Kalau begitu dengarkan ini sebagai yang kesembilan!” seru dr. Go, “Kenapa? Apa kau sudah muak?”


Shi On menggeleng.  ia tidak muak. Tapi dr. Go memang hanya ingin mengungkapkan kekesalannya. Sambil mengunyah makanan, ia berkata kalau semua orang tak menghormatinya termasuk Kim Do Han. Bahkan di bagian bedah anak pun Cha Yoon Seo masuk dalam kalangan elit  (yang dihormati). Shi On mengangguk dan berkata kalau ia memang pernah mendengar tentang itu, tak semua orang bisa masuk ke kalangan elit.


“Aku juga dokter bedah!” dr. Go menepuk dadanya marah. Makanan muncrat dari mulutnya ke wajah Shi On. Eww…


Shi On menjumputi makanan yang menempel di wajahnya. Tapi dr. Go tak sadar, ia terus berteriak hingga Shi On sedikit mundur, “Aku ini juga dokter bedah! Aku ini dokter!! Tapi.. kenapa tak seorangpun mau menghormatiku?”

Shi On berkata kalau ia tetap menghormati dr. Go. Tapi dr. Go menyuruhnya diam, “Apa gunanya juga orang sepertimu yang menghormatiku?” Shi On langsung membungkuk, “Saya minta maaf karena memberitahu Anda kalau orang seperti saya menghormati Anda.”


Kata-kata dr. Go menjadi tak enak dan bertanya, “Kau setidaknya berkata sesuatu jika kau marah. Kenapa kau hanya diam saja?” Shi On membantah kalau ia tidak marah. Tapi dr. Go tak percaya dan iapaun menuangkan soju ke gelas Shi On.


Dr. Go mabuk hingga harus dipapah Shi On untuk masuk ke dalam taksi. Shi On pun menanyakan alamat rumah dr. Go sebelum memasukkannya ke dalam taksi. Dr. Go serta merta menjawab, “Dubai! Ayo kita pergi ke Dubai!” 


Yoon Seo memandangi mawar pemberian Shi On yang masih segar di dalam vas dan teringat pertanyaan Shi On yang sampai sekarang tetap tak bisa ia jawab.


Dr. Go terbangun dengan rambut yang biasanya klimis, sekarang mencuat kemana-mana. Ia kaget melihat Shi On ada di hadapannya dan memberitahu kalau makan pagi telah siap.


Lebih kaget lagi saat ia melihat sarapan yang tak biasa. Kimbab segitiga dan susu. Haha.. dr. Go minum susu? Kok kayanya ga cocok, ya?


Shi On berterima kasih karena dr. Go mau mengajaknya minum-minum dan berkata kalau dr. Go kemarin sangat keren sekali. Dr. Go bingung, kerennya dimana?


Maka Shi On mencontohkan. Sambil menunjuk ke atas, Shi On berteriak, “Aku ini juga dokter bedah!” dr. Go bengong dan Shi On berkata kalau ia juga ingin melakukan hal seperti itu nanti.


Dr. Go malu dan bertanya apa tak ada hal lain yang bisa dikatakan Shi On? Pura-pura bersungut-sungut, ia pun memakan kimbab dan meminum susu.


Yoon Seo bersiap-siap untuk operasi bersama Do Han. Namun kelesuan terpancar dari wajahnya, membuat Do Han heran. Do Han bertanya tentang kondisi Shi On sekarang. Yoon Seo menjawab kalau tak ada perubahan dan seharusnya sudah tak ada masalah lagi. Jawaban Yoon Seo membuat Do Han semakin heran, tapi Yoon Seo tak mau menjelaskan lebih lanjut lagi.


Shi On kembali menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang diberikan Do Han padanya. Tapi berbeda dengan yang terakhir kali, Shi On tak lancar dalam menjawab, bahkan dalam setiap jawabannya, pasti ada saja yang salah. Tak hanya Shi On yang frustasi, Do Han pun juga frustasi mendengar jawaban Shi On yang selalu salah.


Namun berbeda dengan sebelumnya, Do Han tak memarahi Shi On. Ia mengakhiri sesi tanya jawab itu dan menyuruh Shi On untuk kembali bekerja.


Do Han memandangi punggung Shi On. Ia teringat saat Shi On memberi diagnosa cerdas pada kasus-kasus terdahulu dan sekarang ia hanya bisa menghela nafas.


In Hye menemukan Shi On yang duduk terpekur lesu di pantry dan langsung menyapanya,” Dok, kau adalah dokter yang menananganiku, tapi kau malah tak pernah mengunjungiku.”

Shi On minta maaf karena akhir-akhir ini pikirannya sangat kacau. In Hye menebak kalau Shi On ditolak dengan menyedihkan setelah gagah berani mengaku. Shi On tak menjawab, malah kembali menunduk lesu. Melihat Shi On seperti itu, membuat In Hye juga merasa kalau hatinya yang ditolak.

Shi On mengaku kalau ia sekarang menjadi aneh. Ia jadi mudah kesal dan gampang berbohong. Ia khawatir kalau gadis yang ia suka sekarang membencinya karena hal itu. Tapi In Hye menenangkannya, “Dr. Cha tak mungkin bersikap seperti itu.”


Shi On tak sadar mengangguk, membenarkan. Tapi detik itu juga ia langsung berdiri, dan bertanya, “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Kalau ekor terlalu panjang, pasti akan ketahuan juga,” kata In Hye. Tapi Shi On tetap ingin tahu  darimana In Hye bisa mengetahui hal itu. Akhirnya In Hye berkata kalau ia melihat foto bunga mawar di handphone Yoon Seo. Dan ia juga menarik balik perkataan ‘wanita sialan’ sebelumnya. “Jika tandinganku adalah Dok Cha, maka tak ada yang bisa kulakukan.”

Shi On minta In Hye untuk berjanji tak memberitahukan hal ini pada siapapun. In Hye pun berjanji. Ia juga mengakui kalau wanita yang ditaksir Shi On adalah Yoon Seo, maka kondisi memang sedikit rumit karena Yoon Seo sudah menganggap Shi On hanya sebagai adik. Ia hanya bisa menyarankan agar Shi On menunjukkan siapa diri Shi On yang sebenarnya, karena hanya itu yang Shi On miliki.

Shi On masih memikirkan ucapan In Hye saat dr. Choi datang menemuinya. Ia membawa Shi On ke depan sebuah kamar perawatan. Tanpa prasangka apa-apa, ia mengintip dari sela tirai dan melihat ayahnya sedang tidur di kamar itu.


Shi On langsung gemetar, matanya berkedip-kedip panik dan ia langsung berbalik untuk pergi. Tapi dr. Choi mencekal tangannya, mencegahnya pergi. Shi On beralasan kalau ia harus segera pergi.

Dengan lembut dr. Choi menjelaskan kalau ayahnya sekarang menderita kanker laring stadium akhir dan sudah menyebar. Ia tahu kalau Shi On sekarang tak ingin menemuinya dan takut pada ayahnya. Ia hanya ingin Shi On mengetahui hal ini.

Tapi ia minta agar Shi On mengubah cara pandang Shi On sekarang, “Dia sekarang bukanlah ayah yang sering memberimu rasa sakit, tapi pasien yang sedang jatuh sakit. Pasien yang menderita kanker stadium akhir. ”

Shi On menyendiri untuk menenangkan diri. Jelas sekali kalau ia masih ketakutan walau dihadapkan kenyataan seperti itu.

Shi On kembali ke UGD dan diminta untuk mengobati seorang gadis kecil yang tangannya terjatuh di aspal dan terkena pecahan kaca. Si ayah berkata kalau putrinya itu terjatuh karena menahannya yang hampir jatuh.
Gadis kecil itu mengaduh-aduh saat Shi On membersihkan lukanya. Tapi suaranya langsung ceria dan tabah saat menenangkan ayahnya meminta maaf padanya. Shi On menoleh pada si ayah yang memakai kaca mata hitam.


Shi On bertemu gadis kecil itu lagi saat gadis itu akan membayar biaya pengobatan. Shi On bertanya kemana ibunya. Gadis itu menjawab kalau ibunya sedang bekerja dan menemani ayahnya sepulangnya sekolah. Ayahnya yang berprofesi menjadi musisi, menderita glukoma akut saat ia berusia 7 tahun dan setelah pulang sekolah, ia menjemput ayahnya  di studio tempat ayahnya bekerja.


Shi On memuji gadis itu sebagai anak yang balik. Tapi gadis itu berkata kalau hal itu adalah memang kewajibannya sebagai anak, “Awalnya aku memang kesal dan malu, tapi sekarang tidak lagi. Jika memikirkan andai ayahku tak ada lagi, membuatku merasa sedih.”

Gadis kecil itu berterima kasih pada Shi On karena telah menjahit lukanya dan menghampiri ayahnya untuk kemudian menuntunnya pergi.


Jin Wook menunggui In Young keluar dari tempat kerjanya. Seperti biasa, reaksi In Young padanya tak menyenangkan.  Tapi Jin Wook tetap ingin mengutarakan perasaannya, “Aku tahu kalau ini bukanlah urusanku, tapi kumohon kau keluar dari pekerjaan ini. Bukan untuk alasan lain, tapi murni karena alasan In Hye. Bagaimana jika ia mengetahui hal ini?”

In Young menjawab kalau semuanya akan baik-baik saja kalau In Hye tak diberitahu dan ia juga berpendapat kalau pekerjaan ini bukan hal yang memalukan. Jin Wook berkata kalau pekerjaan In Young ini memang tak memalukan tapi pekerjan ini memaksanya untuk minum alcohol dan membuat hidupnya jadi tak teratur.


“Apakah kau tahu berapa banyak biaya operasi yang dibutuhkan In Hye?”  tanya In Young. “Kami tak memiliki apa-apa. Jadi tak peduli seberapa berat masalah ini, kami harus bisa menahannya.”


Jin Wook mengusulkan agar In Young mencari pekerjaan lain, “Atau aku bisa meminjamkanmu uang. Tak masalah jika kau akan membayarku 10 tahun atau 20..”


“Kau pasti merasa nyaman memiliki uang sebanyak itu,” sindir In Young. Jin Wook tergeragap menjawab kalau ia tak bermaksud seperti itu, tapi In Young melanjutkan dengan meminta Jin Wook menemukan gadis lain yang tepat untuk menjadi pasangannya, “Aku.. tidak bisa.”


Kebetulan dua dokter yang sedang bermasalah dengan cinta harus jaga malam bersama. Dan keduanya tak bisa tidur karena masalah itu. Jin Wook pun akhirnya bertanya pada Shi On apa yang sedang membuatnya tak bisa tidur. Shi On hanya menjawab ini dan itu. Tak memburu jawaban yang lebih jelas, Jin Wook berkata kalau Shi On pun pasti juga mempunyai banyak masalah.


Shi On mengakui kalau dulu ia tak seperti ini, “Sekarang pikiran saya seperti kabel earphone yang kusut.”

Jin Wook tertawa mendengar analogi Shi On dan bertanya apakah Shi On pernah menyukai atau mencintai seorang gadis, namun ia langsung menjawab sendiri kalau tentu saja Shi On pernah menyukai karena Shi On adalah seorang pria.


Shi On membalikkan pertanyaan yang sama pada Jin Wook yang langsung mengiyakannya. Shi On menebak kalau gadis yang disuka Jin Wook adalah kakak In Hye. Jin Wook sedikit menggerutu kalau gosip beredar dengan cepat. Shi On mengatakan kalau Jin Wook memiliki kualifikasi untuk mencintai seseorang.

“Memang apa kualifikasi untuk mencintai seseorang?”


“Keren seperti Anda dan tak memiliki kekurangan apapun,” jawab Shi On.”Memiliki kepercayaan diri dan tak memiliki kekurangan yang membuat kita malu. Dan.. menjadi dewasa.”


Jin Wook langsung duduk setelah mendengar jawaban Shi On dan berkata kalau tak ada standar tertentu untuk mencintai seseorang, “Jika kau mencintai seseorang tanpa syarat, maka kau sudah memenuhi standar kualifikasi untuk mencintai orang itu.”


Lebih berkata pada dirinya sendiri, Jin Wook berkata kalau ia sekarang sedang berjuang untuk mendapatkan kualifikasi tersebut. Shi On bertanya apakah Jin Wook sudah memberi pengakuan cinta, dan langsung dijawab belum oleh Jin Wook karena menurutnya pengakuan cinta adalah hal yang paling sulit dilakukan di dunia ini, “Perasaan ini lebih menakutkan dibandingkan saat aku pertama kali membedah mayat. Bagaimana denganmu?”

“Ehmm.. saya juga begitu,” jawab Shi On.

Jin Wook langsung memuji kalau Shi On jauh lebih baik daripada dirinya dan Shi On pasti sangat mencintai gadis itu, “Kau keren!”


Hhh.. Shi On masih tetap cemberut walau dipuji Jin Wook, dan Jin Wook masih tetap tak bisa tidur walau sudah curhat pada Shi On. Dokter-dokter cakep yang lagi galau.


Presdir Lee dan dr. Choi pergi untuk menemui Wapresdir Kang untuk finalisasi perundingan. Betapa terkejutnya mereka saat Wapresdir Kang muncul bersama pria misterius itu.


Dr. Choi langsung mengenali pria itu sebagai Presdir Jeong. Sementara Presdir Jeong memanggil Presdir Lee dengan sebutan Direktur Lee, jabatan yang dimiliki Presdir Lee sebelumnya.


Walau masih gemetar, Shi On kembali lagi ke kamar ayahnya. Bukannya berkurang, ketakutannya malah bertambah saat melihat ayahnya sudah bangun dan membentak suster yang membawakan obat. Ia segera berjongkok agar tak ketahuan oleh ayahnya.


Ada kecelakaan bis sekolah dan satu per satu ambulans mulai berdatangan ke RS Universitas Seung Won dengan membawa para korban. Jerit tangis orang tua korban mengiringi anak-anak mereka di dalam UGD.


Dokter jaga melaporkan kalau total korban adalah 27 anak, dan yang dibawa ke RS USW sebanyak 20 anak karena RS terdekat tak memiliki cukup tenaga medis yang layak. Ia telah mengirim 9 pasien dengan cedera tulang atau kepala ke bagian bedah syaraf dan bedah tulang. Dr. Go segera memerintahkan agar menghubungi semua dokter bedah umum untuk mendapatkan bantuan sebanyak mungkin.


Do Han, Yoon Seo  dan dr. Go pun mulai memeriksa korban.  Ada 9 pasien yang membutuhkan operasi darurat. Kil Nam sudah mengatur 9 kamar operasi untuk itu, begitu juga untuk anestesi. dr. Go sudah membawa satu pasien ke kamar operasi.   


Sisa tinggal 8 pasien. Dr. Kim yang turut membantu mengatakan kalau mereka akan menangani 4 pasien, dan 3 pasien ditangani bedah anak. Satu orang sisanya harus dikirim keluar karena mereka benar-benar kekurangan tenaga.


Do Han memerintahkan Jin Wook untuk melakukan operasi pertamanya. Maka mereka pun semua bersiap masuk ke ruang operasi.


Mendadak dokter jaga menyeruak masuk dan meminta Do Han mengirim salah satu residen ke UGD karena ada korban kecelakaan mobil. Tak ada waktu lagi. Yoon Seo menyuruh Shi On untuk kembali ke ruang UGD dan memeriksa pasien itu.


Betapa terkejutnya Shi On saat melihat korban itu adalah gadis kecil yang tangannya baru saja ia jahit. Dokter jaga melaporkan kalau gadis itu mengalami tulang rusuk patah menusuk limpa sehingga terjadi perdarahan hebat. Dan menilik dari kondisi pasien, operasi tak bisa ditunda lebih lama lagi.


Ibu si gadis kecil yang datang bersama suaminya yang buta, menangis dan memohon agar putrinya diselamatkan. Shi On pun menyuruh agar pasien dipindahkan ke ruang operasi. Saat ditanya siapa yang akan mengoperasi pasien ini, Shi On berkata kalau Prof. Kim Do Han yang akan mengoperasinya. Do Han sudah pernah mengoperasi dua pasien dalam waktu yang bersamaan.


Gadis kecil itu pun dibawa ke sebelah ruang operasi Do Han dan Shi On melaporkan masalah ini. Walaupun marah  karena Shi On mengambil keputusan sendiri, tapi Do Han tetap menyuruh Shi On agar menyiapkan anestesi dan suster untuk operasi tersebut.


Shi On pun mempersiapkan semuanya. Namun saat semua sudah siap, pasien yang dioperasi Do Han masuk ke kondisi kritis sehingga Do Han tak bisa meninggalkan operasinya dan meneriaki Shi On untuk menunggu.


Tapi kondisi gadis kecil itu tak bisa menunggu lebih lama lagi karena tiba-tiba tekanan darah gadis itu menurun. Tapi operasi pasien di ruangan Do Han pun juga tetap  tak bisa ditinggalkan. Maka Do Han menoleh pada Shi On dan berkata,

“Park Shi On. Kau yang akan mengoperasinya.”

Komentar :

Serius, dok?? Apakah Do Han seceroboh itu membuat keputusan? Dok, bukankah terakhir kali kekuatan super Shi On belum pulih? Juga kegugupan Shi On di meja operasi juga belum teratasi? Apakah Dokter mempercayakan Shi On memegang pisau di kamar operasi?



21 comments :

  1. Gomawooo eonnie Dee udh ngeposting part 2 nya. Sblm kegereja sempet2in baca dulu. ;)

    ReplyDelete
  2. Yess pertamax. Hehehee
    Oppa Joo Won kereeeennn ^^

    ReplyDelete
  3. Senang episode 13 completed... di tunggu posting selanjutnya eonni, ahh cuttingnya tepat di klimaks point. Bisa bgt ini cerita bikin penasaran. Salam kenal

    ReplyDelete
  4. lanjut lanjut. Dramanya sudah sampai 18 episode lho

    ReplyDelete
  5. deg-deg an liat adegan terakhir..
    apa shi on bisa mengatasinya n mengoperasi anak itu?
    aku yg liat aja gugup.....

    ReplyDelete
  6. iseng2 buka.... eeeeeh ternyata udah ada klanjutan'y.... seneng deh.... :-D

    ReplyDelete
  7. iseng2 buka.... eeeeeh ternyata udah ada klanjutan'y.... seneng deh.... :-D

    ReplyDelete
  8. iseng2 buka.... eeeeeh ternyata udah ada klanjutan'y.... seneng deh.... :-D

    ReplyDelete
  9. iseng2 buka.... eeeeeh ternyata udah ada klanjutan'y.... seneng deh.... :-D

    ReplyDelete
  10. Semoga Shi on bisa melakukan operasi dng baik dan lancar -_-'
    Gomawo noona,, ditunggu postingan sinopsis selanjutnya ^^

    ReplyDelete
  11. udah nunggulama banget ..
    akhirnya udah ada kelanjutan nya..
    semangat eonni... di tunggu kelanjutan nya...

    ReplyDelete
  12. akhirnya keluar jg part 2,seneng deh, meski ak ud bca sampe eps 16 versi b inggris, ak tetep nggu tulisan mbak, tengkyu ya mbak, tak tggu sinop slanjutny, Gbuu

    ReplyDelete
  13. mbak part 14 nya mostingnya jangan lama-lama ya?
    di tunggu terus kelanjutannya
    semangat!!!!

    ReplyDelete
  14. tp ntr operasi shi on akan berhasil kok, semangat shi on.

    ReplyDelete
  15. ayo kakak semangat bwt episode 14..
    tp ojok lama2 ya ^_^

    ReplyDelete
  16. ayo kakak semangat bwt episode 14..
    tp ojok lama2 ya ^_^

    ReplyDelete
  17. kocak deh lihat Dr.Go model rambut nya pas nyadar ada di apartemen Shi On wkwkwkwkwk kayak rambut nanas :D

    ReplyDelete
  18. seruu..
    ep 14 udah lihat tp nggak ngrt arti percakapannya..

    ReplyDelete
  19. Makin bikin penasaran dengan episode selanjutnya, ceritanya ga bisa di prediksi, trima kasih untuk yg udah membuat sinopsisnya

    ReplyDelete