September 25, 2013

Sinopsis King's Family Episode 1


Drama dibuka dengan lolongan anjing di tengah malam. Saya saat mendengarnya, merasa kasihan sekali  mendengar lolongan anjing itu. Tapi saat kamera membawa saya masuk ke dalam sebuah rumah, di dalam sebuah kamar, ternyata saya salah.

Gadis inilah yang melolong. Namanya Gwang Bak (Lee Yoon Ji)


Sinopsis King’s Family/Wang Family Episode 1 


Mari kita berkenalan dengan karakter yang ada di drama ini.


Ini adalah Keluarga Wang, yang di rumahnya terpasang papan bertuliskan: ‘Selalu tempatkan diri dalam posisi orang lain.’


Nenek (78 tahun) adalah anggota keluarga tertua dari Keluarga Wang. Ia berasal dari Korea Utara dan bermigrasi ke Korea Selatan saat perang Korea. Ia hidup bersama keluarga anak sulungnya, Wang Bong, dan anak bungsunya, Wang Don. Hobinya adalah bermain kartu.


Wang Bong (61 tahun) adalah seorang wakil kepala sekolah yang sering dianggap remeh di SMP tempatnya bekerja. Orangnya sabar, namun sekalinya marah, anak-anaknya takut padanya. Begitu pula adiknya, Wang Don.


Lee Ang Geum (60 tahun) adalah istri Wang Bong. Mereka memiliki 4 anak perempuan dan 1 anak laki-laki yang masih SMP. Nenek selalu menyuruhnya kesana kemari tanpa memujinya sama sekali. Ia dan mertuanya selalu saling menyindir.


Wang Soo Bak (37 tahun) adalah anak tertua dan sudah menikah dengan orang kaya, Go Min Jung dan memiliki 2 anak perempuan (yang satu TK dan satunya balita). Tapi kelakukannya itu loh.. buat pening kepala. Sok princess banget. Dia memang cantik, walaupun juga sering operasi plastik. Memiliki 2 orang anak perempuan, tapi memasak saja tidak bisa. Apalagi mengurus kedua anaknya. Yang mengurus adalah pembantu rumah tangganya.

Ibunya selalu membangga-banggakan Soo Bak yang katanya pernah ikut lomba Miss Korea (walau hanya sampai babak pre-eliminasi) dan berhasil menikahi orang kaya yang sangat sayang padanya. Soo Bak ini anaknya baik, sering memberikan uang saku untuk orang tuanya, hal yang jarang dilakukan oleh adiknya, Wang Ho Bak.


Wang Ho Bak (36 tahun) adalah kebalikan dari Soo Bak. Anak kedua dari keluarga Wang ini selain bekerja juga ibu yang mengurus kedua anak laki-lakinya dengan baik. Karena menikah dengan hamil duluan dengan Heo Se Dal, sebelum kakaknya menikah maka ibu selalu menghinanya. Dan ia diperlakukan seperti itu oleh ibu setiap kali mereka bertemu selama 10 tahun sejak pernikahannya.

Dan yang membuatnya lebih kasihan lagi, Se Dal yang menghamilinya sebelum menikah itu, adalah pengangguran yang tak mau bekerja, walau sudah dicarikan pekerjaan olehnya. Setiap hari Ho Bak memberi Se Dal uang saku sebanyak 3000 won (sekitar 30 ribu). Dan biasanya uang saku itu dihabiskan di warnet game bersama teman sekaligus paman iparnya, Wang Don.


Wang Don (35 tahun) adalah adik dari Wang Bong, yang umurnya lebih muda dari kedua keponakannya, Soo Bak dan Ho Bak. Ya, ibunya mengandung dirinya saat sudah berusia lanjut, bahkan ia tak sempat melihat wajah ayahnya, karena ayahnya meninggal saat ia masih dalam kandungan.

Dia bisa disebut anak ketiga dari keluarga Wang Bong, karena kakaknyalah yang membesarkannya. Dia juga pengangguran sama seperti Se Dal. Btw, di foto di atas itu, Wang Don yang kanan dan Se Dal yang kiri.


Wang Gwang Bak (29 tahun), anak ketiga dari keluarga Wang dan seorang guru. Koreksi, ia adalah mantan guru. Sebulan yang lalu ia mengundurkan diri dari sekolah tempat dia bekerja untuk mengejar mimpinya sebagai penulis. Ibunya belum tahu kalau dia keluar dari pekerjaannya.


Wang Hae Bak (18 tahun), anak keempat dari keluarga Wang. Sepertinya dia tak pernah mencari masalah dan cuek sekali. Sepanjang episode 1 ini, dia tak pernah bicara sama sekali. Ada huru-hara di keluarganya, ia tetap cuek. Hmm.. kayanya hanya tinggal tunggu waktu deh, dia yang nanti akan buat huru-hara di rumahnya.


Wang Dae Bak (15 tahun), anak bungsu dan anak laki satu-satunya di keluarga Wang. Hihihi.. namanya lucu, ya.. Daebakk.. Wang sendiri artinya adalah Raja. Jadi dia bernama Raja Daebak? Masih kelas satu SMP di sekolah tempat ayahnya bekerja. Tapi tak seorang pun tahu kalau ia adalah anak ayahnya. Masih suka ikut-ikutan, bahkan ia diam saja saat teman-temannya memanggil ayahnya hanya dengan panggilan 'orang tua’ dan bukannya panggilan hormat seperti Pak Guru atau Pak Wakil kepala sekolah. Ayahnya hanya diam saja membiarkannya.

Episode 1 ini adalah 2 hari bersama keluarga Wang. Semua orang muncul di 2 hari pertama dengan segala permasalahannya.


Setelah lolongan ‘anjing’ di tengah malam, Gwang Bak dan Don berolah raga bersama ayah. Sepertinya ini adalah cara ayah untuk tetap membuat para pengangguran menjadi produktif dengan bangun pagi-pagi buta.


Agak pagian, nenek pulang ke rumah dengan kesal. Sepertinya kalah bermain kartu dengan teman-temannya. Ia memanggil menantunya dan menyuruh menantunya itu untuk mempersiapkan peringatan kematian suaminya hari ini dengan makanan mahal.


Ibu kesal tapi ia tetap patuh. Saat Gwang Bak akan pergi kerja, ibu menerima telepon yang memberitahukan kalau Gwang Bak tak memenuhi syarat untuk menerima tunjangan pengangguran (ada gitu ya di Korea?).

Gwang Bak segera merebut telepon itu dan meminta ibu untuk tak khawatir karena pemberitahuan itu untuk temannya di sekolah. Ia hanya ingin membantu temannya saja. Ibu sebenarnya sudah curiga, tapi karena Gwang Bak buru-buru pergi untuk mengajar, ia membiarkannya.


Ibu pun berbelanja untuk keperluan peringatan kematian dengan Soo Bak. Dan betapa bahagianya ia pagi itu karena belanjaannya itu dibayari oleh anak sulungnya.


Ia pun diantar pergi ke arisan oleh Soo Bak menggunakan mobil. Ia bahkan membunyikan klakson dan menyuruh Soo Bak meminggirkan mobilnya agar teman-temannya bisa melihat dari dalam restoran. Ia semakin bangga saat Soo Bak memberitahu teman-temannya kalau Soo Bak yang akan membayar makanan mereka hari itu.


Ia menyombongkan Soo Bak yang punya suami kaya dan sangat baik padanya, tak seperti menantu keduanya yang pengangguran. Salah satu wanita yang baru datang,  langsung masam saat mendengar hal ini, karena Se Dal adalah putranya.


Ibu juga menyombongkan Gwang Bak yang sebentar lagi akan menikah dan sedang ia jodohkan dengan seorang dokter kulit, “Dulu aku selalu bangga pada diriku sendiri. Tapi sekarang ini aku bangga pada anak-anakku.”

Namun kesombongan ibu runtuh saat ibu Se Dal secara sambil lalu mengatakan kalau Gwang Bak belum tentu bisa menikah dengan dokter itu karena ia tak cantik-cantik amat, “Apalagi ia juga dipecat dari sekolah.”


Ibu tak percaya saat ibu Se Dal mengatakan kalau banyak orang yang melihat Gwang Bak nongkrong di kafe seharian. Tapi temannya yang lain juga pernah melihat Gwang Bak di kafe kemarin.


Ia buru-buru meninggalkan pertemuan itu. Saking marahnya, ia hampir salah memakai sepatu, hampir kelupaan membawa belanjaan dan jatuh di depan teman-temannya yang tertawa melihatnya, untuk pergi menyelidiki.


Dan ternyata memang benar. Ia melihat putrinya sedang kelabakan kabur dari kafe karena melihat dirinya. Ia langsung mengejar anaknya.


Ayah ditelepon ibu dan menyuruhnya langsung pulang sekarang juga. Masalah Gwang Bak. Ia pun pulang dan melihat Gwang Bak sedang mengintip-intip dari pintu gerbang. Ia menyalahkan Gwang Bak yang tak hati-hati dan karena itu ia akan berpura-pura tidak tahu. Gwang Bak panik dan mengatakan ayah tak adil. 


Ayah pun menjawab, “Bagaimana mungkin tidak adil? Aku kan juga ingin tetap hidup!”

LOL, ayah termasuk ISTI (Ikatan Suami Takut Istri), nih..


Benar saja. Saat Gwang Bak akhirnya mengaku kalau ia keluar dari pekerjaannya sejak sebulan yang lalu untuk menjadi penulis, Ibu langsung memukulinya. Berarti setiap pagi Gwang Bak membohonginya dengan setiap pagi pamit pergi ke sekolah.  Ayah bersikap lebih sabar mendengar hal ini.


Gwang Bak mengatakan kalau menulis adalah impiannya. Artikelnya telah berhasil dimuat di majalah dan ia berjanji kalau ia akan terkenal ke seluruh dunia, “Seperti Psy. Ibu juga pernah mendengar Harry Potter, kan?”


“Helikopter?” Ibu langsung memukul Gwang Bak lagi, “Kenapa kau harus pakai helicopter kalau ada pesawat terbang?”

LOL.


Ibu tak peduli helicopter ataupun pesawat terbang, tapi ia menyuruh Gwang Bak menjadi penulis sambil menjadi guru. Ayah bilang sangat susah untuk melakukan hal seperti itu. Ibu kembali memukulnya dan ayah kembali menghentikannya  dan meminta istrinya untuk menempatkan diri di posisi Gwang Bak, “Karena takut ketahuan, ia semakin kurus karena tak dapat makan dengan baik selama sebulan ini.”


Ucapan ayah membuat ibu berhenti dan berkata menuduh, “Sebentar. Kau juga tentang hal ini kan?” Ayah langsung sok polos dan berkata tidak. Tapi ibu kembali bertanya pada Gwang Bak, “Apa ayahmu tahu?”

Ayah beringsut mundur dan menyenggol Gwang Bak yang berkata, “Hmm.. sebenarnya.a,” ia akhirnya 
menoleh pada ayah dan berkata, “Maafkan aku ayah.”


LOL.. kata-kata itu hanya menegaskan tuduhan ibu. Ayah langsung berdiri untuk kabur, namun ibu tak kalah cepat. Ia menarik celana suaminya dan marah-marah, “Kalau anakmu mulai punya pikiran gila dan berkata tak masuk akal, kau seharusnya mencegahnya, dan bukan malah mendukungnya!”


Nenek  menarik-narik tangan ibu untuk melepaskan celana anaknya, “Anakmu yang berbuat salah, kenapa kau menyalahkan anakku?”  Gwang Bak menggunakan kesempatan ini untuk kabur.

Ibu pun kesal dan berkata kalau ia tak mau mempersiapkan acara peringatan kematian, membuat nenek marah-marah.


Kartu kredit Soo Bak yang diblokir sepertinya berhubungan dengan kantor Min Jung yang diobrak-abrik oleh preman.


Dae Bak kembali membuat ulah dan gurunya memarahinya. Bukannya menerima, Dae Bak malah menjawab dengan tak sopan, membuat  gurunya semakin marah dan menyuruh Dae Bak untuk memanggil orang tuanya ke sekolah. Dae Bak berkata kalau pak guru itu tak usah berharap banyak.


Ayah sepertinya juga menutupi kalau Dae Bak adalah anaknya. Melihat kejadian itu, ayah meminta para guru untuk tak menghukum murid dengan pukulan fisik. Tapi guru mengatakan kalau Dae Bak sangat sulit diatur. Para guru tak menyalahkan Dae Bak, tapi menyalahkan orang tuanya yang tak bisa mendidik Dae Bak dengan baik. Ouchh..


Pulang sekolah, Dae Bak pergi mengikuti geng motor dengan menggunakan sepedanya, mengikuti mereka yang sedang membully seseorang. Dae Bak hanya menonton dari pinggir. Tapi aksi preman itu dihentikan oleh seseorang yang melihat kejadian itu, Choi Sang Nam.


Saat itu Sang Nam sedang berbicara dengan salah satu rekan kerjanya. Saat melihat kejadian itu ia langsung berteriak menyuruh mereka untuk tak mengeroyok satu orang. Para preman itu langsung berbalik mengeroyok Sang Nam. Tapi Sang Nam tak takut dan balas memukuli mereka satu per satu hingga semuanya kabur. Tinggal Dae Bak saja yang tertinggal.


Sebelum Dae Bak sempat kabur dengan sepedanya, Sang Nam menarik baju Dae Bak, menahannya. 


Ia mengajak Dae Bak ke rumah makan dan bertanya S mengapa Dae Bak berkeliaran dengan anggota geng motor yang bahkan tak menginginkan Dae Bak? Dae Bak menjawab santai, “Karena aku bosan.”


Sang Nam bertanya apakah Dae Bak punya pacar? Dae Bak tak menjawab. Maka ia pun bertanya, “Apa kau punya impian? Kau ingin jadi apa saat kau besar nanti?”

Dae Bak menghentikan suapannya dan Sang Nam berkata kalau Dae Bak tak dapat menjawab dalam 5 detik, berarti ia tak punya impian. Atau mungkin Dae Bak ingin menjadi selebriti seperti anak-anak lainnya? Tentu saja Dae Bak membantahnya. Menjadi selebriti itu membosankan.

“Jadi kalau kau tak ingin hidup yang membosankan, kau harus punya impian,” tegas Sang Nam. “Saat kau punya sebuah impian, kau tak akan merasa bosan.”


Dae Bak terkesan dengan ucapan Sang Nam dan berkata kalau ia akan memikirkan hal itu. Sang Nam berkata kalau impian itu harus impian Sang Nam sendiri dan bukan impian orang tuanya. Dengan kata lain, “Tak apa-apa membuat orang tuamu menangis jika itu demi impianmu.”


Min Jung pulang ke rumah dan langsung disambut oleh lemparan kartu kredit oleh Soo Bak. Soo Bak marah karena  merasa malu saat kartu kreditnya ditolak. Min Jung menjawab pendek kalau perusahaannya sedang dalam masalah.

Soo Bak langsung mengejar suaminya dan mengungkapkan kekhawatirannya, “Tapi aku akan belanja furniture dengan teman-temanku besok! Furniture kita sudah 2 tahun..”

Yaelahh.. khawatir pada kartu kreditnya yang diblokir, bukan pada kata-kata suaminya.


Min Jung berteriak menghentikan ucapan istrinya, membuat Soo Bak mewek dan berkata kalau Min Jung tak pernah membentaknya. Min Jung akhirnya menghela nafas dan hanya meminta istrinya untuk lebih dewasa.

Min Jung benar-benar banyak pikiran. Selain masalah kantornya, ia juga harus memikirkan tentang adiknya yang ingin memindahkan ayahnya ke rumah Min Jung.


Min Jung adalah anak sulung dan Ibu mereka meninggal tahun lalu, dan saat adiknya berkunjung ke rumah ayah mereka, ayah kelihatan jauh lebih tua hanya dalam waktu setahun, “Kau berkata kalau salah satu dari mereka meninggal terlebih dahulu, kau akan merawat yang lainnya.”

Adiknya berkata kalau Min Jung makan dan tertawa keluarga istrinya bahkan juga berlibur bersama mereka. Apakah Min Jung pernah membawa orang tua mereka untuk berlibur? Min Jung adalah yang paling kaya dari keempat bersaudara. Saat Min Jung berniat untuk menjual tanah warisan untuk ekspansi perusahaan, saudara lainnya tak keberatan karena Min Jung adalah yang tertua.


Min Jung berjanji untuk merawat ayahnya. Adiknya meminta Min Jung untuk membawa ayah mereka ke rumah Min Jung dalam minggu ini, “Jika kau tak melakukannya, aku akan membawanya ke hadapanmu. Dan minggu depan adalah upacara peringatan kematian ibu. Kau yang melakukannya di rumahmu.”


Ibu mempersiapkan makanan untuk peringatan kematian mertuanya dengan dibantu oleh keempat anaknya. Dan pilih kasih jelas terlihat di dapur, karena ia menyuruh Ho Bak memasak sedangkan So Bak hanya bertugas mengelap piring sesaji. Pada Gwang Bak? Ia masih kesal walau tetap menjawab saat Gwang Bak memuji baju barunya dan bertanya siapa yang membelikan. 


Ibu berkata siapa lagi yang membelikannya? Ia memandang Ho Bak dan menyindirnya, “Aku heran apa yang ia lakukan dengan uang yang selama ini ia hasilkan.. “

Belum cukup ia menyindir, ia menyuruh Ho Bak untuk mencuci dan mengukus ikan dan membumbui sayuran.
Acara peringatan kematian sudah hampir dimulai, tapi Dae Bak belum pulang juga. Gwang Bak akhirnya menelepon.


Sang Nam yang melihat handphone Dae Bak berbunyi, sedangkan Dae Bak sedang ke toilet, dan melihat nama di handphone sebagai penyihir judes yang jelek.


Melihat nama itu, ia akhirnya mengangkatnya. Betapa kagetnya ia mendengar suara melengking, “Aku akan membunuhmu! Kau harus pulang sebelum matahari tenggelam. Apa kau tahu sekarang ini hari apa? Kau benar-benar kangen dengan tongkat baseball-ku, ya? Dimana kau? Apa kau ada di warnet lagi?!”


Dengan tenang Sang Nam menjawab kalau ini ada di restoran Cina. Betapa kagetnya Gwang Bak mendengar suara itu. Dae Bak yang baru saja kembali, buru-buru merebut handphone itu dan mematikannya.
Dae Bak akhirnya pulang dan mendapat jeweran di kuping.


Upacara peringatan kematian pun dilakukan. Dan saat makan-makan, dari perbincangan ringan yang biasa, hingga akhirnya menjurus pada ibu yang membanggakan Soo Bak dan nenek yang menganggap Ho Bak lebih berguna.


Ibu mengatakan kalau Soo Bak membelikan mereka TV, lemari es kimchi bahkan memasang bidet kamar mandi, sedangkan Ho Bak pelit hingga tak mau membelikan celana dalam padahal harganya hanya 10 won. Ibu juga mengatai Se Dal yang pengangguran bahkan siang tadi Se Dal datang dengan memanggil Don dengan panggilan ‘pecundang’ dan tak menyapanya terlebih dulu.


Ho Bak menunduk mendengar rentetan omelan ibunya yang mengungkit masa lalunya yang bisa menikahi Se Dal. Nenek mencoba meringankan suasana dengan mengatakan kalau Ho Bak menyukai pria tampan. Tapi menurut ibu Se Dal tidak tampan, bahkan ia juga pengangguran, “Tak ada yang menghargai gadis yang hamil sebelum menikah. Karena itulah kenapa sekarang kau hidup menyedihkan.”


Semua terdiam mendengar ucapan ibu yang katanya malu karena sebelumnya nyonya pemilik salon memanggilnya dengan hormat, tapi setelah mereka besanan, wanita itu sekarang tak menghargainya lagi.

Tanpa menjawab, Ho Bak berdiri dan masuk ke dapur. Ayah menegur ibu yang kelewatan bicaranya. Tapi ibu sekarang ini kesal karena Ho Bak tak mencontoh kelakuan Soo Bak.


Betapa sedihnya Ho Bak mendengar ibunya mengatainya di depan keluarga besar. Pada Gwang Bak yang menyusulnya, ia berkata kalau hal ini selalu terjadi setiap kali ia bertemu ibu selama 10 tahun ini. Danhal ini terjadi karena ia miskin, maka ibu meremehkannya. Semua ini semata-mata karena uang.


Di meja makan, keadaan semakin panas dengan nenek yang meminta ibu untuk tak menyeret-nyeret Don untuk kejadian Se Dal. Tapi ibu yang masih kesal, juga melemparkan kemarahan pada Don yang dianggap tak berguna, sama penganggurannya. Dan ia menyalahkan mertuanya karena terlalu memanjakan Don. 

Pertengkaran semakin hebat, bahkan Gwang Bak memberi isyarat pada dua adiknya untuk naik ke atas agar tak mendengarkan pertengkaran keluarga ini. Soo Bak pun membela ibunya dan Nenek semakin kesal hingga berteriak-teriam menangis.


Don yang diam-diam keluar, sedih mendengar pertengkaran ibu dan kakak iparnya. Sepertinya ia juga tak suka menjadi pengangguran dan malas bekerja.


Akhirnya ayah membawa masuk nenek ke kamarnya dan meminta maaf atas kelakuan istrinya. Nenek mewanti-wanti anaknya kalau istrinya akan ngomel jika ayah nanti tiba-tiba ingin berhenti kerja.


Keadaan tak bertambah baik saat Min Jung dan Se Dal yang datang bersamaan. Ho Bak semakin sedih melihat betapa ibu memperlakukan Min Jung sebagai menantu kesayangan sementara Se Dal tak dianggap sedikitpun.


Tapi memang Se Dal memang pria yang semaunya sendiri. Di rumah, Ho Bak memarahi Se Dal yang datang dengan memakai baju seenaknya, padahal ia sudah menyiapkan baju untuk berkabung, “Setidaknya jika kau tak bisa mencari uang, maka berlakulah sopan.”

Se Dal malah menyuruh Ho Bak untuk berhenti mengunjungi rumah orang tuanya yang selalu memperlakukan Ho Bak dengan buruk.


Malamnya, ibu mencoba membuka kamar Gwang Bak untuk membuat perhitungan dengan anaknya. Tapi Gwang Bak sudah keburu mengunci kamarnya. Sekeras apapun ibu menggedor, tapi Gwang Bak tak mau membukakan pintunya.


Ayah menarik ibu masuk ke kamar dan menyuruh ibu untuk membiarkan putri mereka untuk mencobanya.Tapi ibu tak mau hal itu terjadi dan beranjak bangkit untuk menemui Gwang Bak lahi, hingga ayah harus menariknya roknya. Sama seperti ibu menarik celananya.


Tak disangka kali ini rok ibu melorot copot. LOL.


Kata-kata Sang Nam rupanya membekas di benak Dae Bak karena esoknya. Dae Bak memberikan secarik kertas pada guru wali kelasnya yang tulisannya : Surat ijin meninggalkan sekolah – aku sedang mencari impianku – Wang Dae Bak.


Sebelum gurunya sempat marah, Dae Bak sudah keburu kabur duluan.


Yang ketiban pulung siapa lagi kalau bukan Gwang Bak. Ia dipanggil ke sekolah dan matanya terbelalak melihat surat Dae Bak. Maka ia langsung menelepon Dae Bak.


Dae Bak yang saat itu sedang bersama Sang Nam, tak mau mengangkat telepon dari kakaknya. Pada Sang Nam yang heran melihat sikapnya, ia menjelaskan kalau ia sudah tahu siapa yang meneleponnya, Penyihir  judes yang jelek. Sang Nam bertanya apakah itu ibunya? Dae Bak menggeleng dan berkata, “Kakakku.”

Ia pun menunjukkan kumpulan foto Gwang Bak, dan Sang Nam tersenyum melihat ekspresi Gwang Bak yang tak keruan. Sang Nam tesenyum melihatnya.




Gwang Bak mencari tahu dari Mi Ho, teman sepermainan Dae Bak .

Mi Ho ini lucu deh. Anaknya lebay banget dan dia menganggap dirinya sebagai pacar Dae Bak. Tapi ibu Mi Ho, dan nenek tak mempermasalahkan hal ini, bahkan menganggap ucapannya lucu. Tahu apa kata Mi Ho pada ibunya saat Gwang Bak meng-SMS dirinya? “Ini dari kakak iparku. Dia ingin menemuiku. Rasanya aku seperti sudah menikah saja.”


Mi Ho memberitahu Gwang Bak kalau Dae Bak menemui seorang pria asing. Tapi saat ia bertanya siapa pria itu, Dae Bak tak mau memberitahukannya. Dan setelah menemui pria itu, Dae Bak benar-benar liar.


Min Jung menemui kreditornya dan memberikan surat tanah, surat rumah dan mobilnya. Sambil berlutut ia memohon agar ia diberi keleluasaan dalam membayar. Ia berjanji akan membayar hutang mereka tapi ia memohon agar tak dijebloskan ke penjara. Ia memiliki keluarga yang masih membutuhkannya.



Ho Bak benar-benar menikahi Se Dal yang benar-benar pecundang. Ia khusus datang ke kantor Ho Bak untuk meminta uang 50 ribu won untuk menyumbang teman mereka yang baru saja melahirkan. Ho Bak tahu persis teman itu melahirkan 3 bulan yang lalu. Se Dal pun menambahkan kalau kelahiran ini dari istri keduanya.

Tentu saja Ho Bak tak dapat dikibuli. Tapi Ho Bak yang sedang mengangkut barang, tak dapat berkutik saat Se Dal merogoh saku jaketnya dan mengambil uang di dalamnya.


Aishh..


Dan begitu pulang ke rumah, ia melihat ibu mertuanya sudah masuk ke dalam rumah dan membongkar lemari esnya. Ibu Se Dal menyuruhnya untuk menganggap Se Dal sebagai raja dan bukannya anak kecil yang hanya diberi uang saku 3 ribu won saja. Ho Bak minta maaf karena ia telah menikahi Se Dal yang lebih muda, walau lebih mudanya hanya 1 tahun saja.


Suara ibu Se Dal langsung naik, “Hanya 1 tahun? Kau sudah makan setahun lebih banyak daripada dia! Kau kan yang lebih tua.”


“Ia makan lebih banyak daripadaku,” kata Ho Bak membela diri. “Ia suka ngemil dan bahkan ngemil di malam hari. Jika Ibu menghitung usia dari ukuran makanan, ia pasti 10 tahun lebih tua dariku.”

Bwahahaha..


Min Jung pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Di rumah ia menemukan istrinya yang baru saja operasi hidung dan bercerita tentang temannya, Seo Gi Ja. Suami Seo Gi Ja itu bangkrut dan sekarang hidup di apartemen bawah tanah, “Aku tak tahan jika membayangkannya. Lebih baik aku mati saja jika itu terjadi pada diriku.”


Min Jung hanya bisa menghela nafas. Saat ia baru saja menidurkan putrinya, ia mendengar Soo Bak mencari-cari bibi. Ia segera keluar dan mengatakan kalau ia telah memberhentikan bibi dan sekarang Soo Bak yang mengurus rumah.


Soo Bak tak mau, “Aku tak bisa mengurus rumah. Aku kan punya dua anak! Kau pasti sudah gila.”


Gwang Bak sudah menunggu adiknya di depan pintu rumah, lengkap dengan tongkat base ball di tangan. Saat adiknya diturunkan dari mobil di perempatan depan rumah, tanpa menunggu reaksi dari Dae Bak yang berpapasan degannya, ia berlari dan mengejar mobil Sang Nam yang sudah melaju pergi.


Tapi Sang Nam tak mendengarnya karena ia sedang bicara di telepon, menyuruh orang yang ia ajak bicara untuk terus menyelidiki dan segera menemukan wanita itu. Hanya pada saat itulah, wajah Sang Nam terlihat marah.


Semakin cepat Gwang Bak berlari, semakin cepat mobil Sang Nam berlalu. Walaupun ia berteriak memanggil pria itu, tapi sia-sia saja.

Komentar :


Saat menonton drama ini, saya langsung teringan dengan Ojakkyo Brothers. Namun jika di OB si ibu sangat menyayangi keempat putranya, ibu Wang ini kebalikannya. Ia hanya sayang pada Soo Bak yang sangat menghujaninya dengan uang. Dan nyinyirnya ituh loh..


Apakah perbedaan ini karena si anak di Ojakkyo Brothers adalah laki-laki? Sedangkan di Wang Family, anak-anak yang sudah dewasa adalah perempuan semua?

Apakah ini gambaran keluarga Korea pada umumnya? Saya pernah membaca kalau orang Korea merasa beruntung jika memiliki anak laki jika disbanding memiliki anak perempuan.

Seperti saat nenek dan ibu saling menyindir. Nenek merasa nasib ibu mengenaskan karena tak memiliki menantu perempuan yang bisa disuruh memasak. Ibu pun menyindir nenek yang pasti merasa bangga punya menantu sepertinya yang mau memasakkan untuk Nenek.


Rasanya agak miris mendengar si ibu menghina-hina Ho Bak. Hubungan mereka bertiga seperti membaca cerita Cinderella dengan versi lain. Akhirnya kakak tiri yang jahat yang menikahi prince charming dan cinderella tetap menjadi upik abu dan menikahi seorang pecundang.

Tapi saya percaya nantinya ibu dan Soo Bak akan mendapat pelajaran. Kata-kata yang ada di papan itu mengatakan : Tempatkanlah dirimu dalam posisi orang lain. Sebentar lagi Soo Bak akan merasakan hidup seperti Ho Bak dan dia tak bisa menjadi seperti princess lagi. 

O ya.. recap ini jauh lebih singkat dari sinopsis yang lain. Saya sedang mengikuti drama ini, tapi kalau untuk menulisnya lengkap, saya terus terang nggak mampu. Jadi  recap ini sedikit lebih banyak dari spoiler tapi lebih singkat dari sinopsis yang saya buat. 

17 comments :

  1. Replies
    1. Kupikir kolom komennya elok sudah dibuka.. :p *barusan balik dari blognya elok* Pagi elok..

      Delete
  2. now, anonymous go away.

    ^^~ pagiii mba deeeee

    ReplyDelete
  3. mbak dee, ijin nge-link ya ke sinopsis nya drama ini ,.. di simpleajadotcom

    ReplyDelete
  4. kalau aq jd ho bak pasti dah minta cerai

    ReplyDelete
  5. drama bagus mbak dee... tayang dmn ya? link dramanya dmn mbak? pengen nonton

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada di kbs, gantinya the best lee soon shin. sebenarnya di korea udah nyampe ep 8, tapi di kbsworld baru nyampe ep 2, sabtu minggu ini ep 3 - 4. linknya coba cari di gooddrama.net. Udah ada kok..

      Delete
    2. aq smlm nonton ampe ep 4 mbak dee. di drama,net dah ada sub sampe 8. nangis bombay mlm aq mbak nonton ni drama

      Delete
  6. Dee, aku ngebayangin kalo punya anak perempuan banyak gitu x ya......

    ReplyDelete
  7. huahahaha..seru mbak dee lucu bgt ngiget nama anak2nya aja sampe kursor naik turun ...biasanya baca dramakor tegang n sedih,yg ini ngakak guling2 semangat mbak dee,thanks :D

    ReplyDelete
  8. aku pikir aktor/aktris yang main jadi keluarga Wang ini semuanya pernah jadi keluarga raja di drama-drama yg pernah mereka bintangi sebelumnya.
    soalnya ada beberapa yg wajahnya aku kenal memang pernah jadi keluarga raja di drama sebelumnya. ternyata gak semuanya.. ini beberapanya XD:
    1. Jang Yong as Wang Bong (father) >> ayah queen insoo (drama Queen Insoo)
    2. Kim Hae Sook as Lee Ang Geum (mother) >> ibu raja sukjong (drama Queen Inhyeon)
    3. Choi Won Hong as Wang Dae Bak (youngest son) >> King Choong Jung / Kyung Chang (drama Faith)
    4. Lee Yoon Ji as Wang Kwang Bak (3rd daughter) >> Lee Jae Shin (drama King2Hearts) + Princess Hye Myung (Shin's sister) (drama Goong)
    5. Jo Sung Ha as Go Min Joong (Wang family's oldest son-in-law) >> King Jeongjo (drama Sungkhunkwan Scandal)
    6. Oh Man Suk as Heo Se Dal (Wang family's 2nd son-in-law) >> Crown Prince Sado (drama Warrior Baek Dong Soo)

    aku kerajinan banget yah XDDDDDDDDDDDD
    abisnya penasaran. hahahahaha

    ReplyDelete
  9. Seneng liat judul drama ini terpampang di blog mbk dee :D
    Soalnyaa pengen nonton ini tp kayaknya ga kuat, tetep dilanjut ya mbk Dee, jd kayak nonton ojakgyo brothers nihh

    ReplyDelete
  10. wiih mantaap ,,
    kunjungi juga www.zeromovi3.blogspot.com :D

    ReplyDelete
  11. brusan udh nonton eps.10_Gak sabar Wang Gwang Bak ama Choi Sang Nam jdian >.<

    ReplyDelete
  12. dan akhirnya gara2 mbak dee lagi aq nonton family drama setelah dulu juga nntn MDSY gr2 baca review disini,,thank you buat tulisannya

    ReplyDelete