September 9, 2013

Sinopsis Good Doctor Episode 7 - 2

Sinopsis Good Doctor Episode 7 – 2


Yoon Seo menatap sedih pada meja Shi On yang telah bersih. Do Han masuk ruangan dan bertanya apakah Yoon Seo sudah mendengar berita tentang Shi On? Yoon Seo mengangguk dan mengatakan kalau ia bahkan melihat Shi On di lobi.



Ia ingin menyuruh Shi On untuk meminta maaf, kalau perlu mencari alasan yang penting bertahan hingga akhir, “Tapi aku tak mampu mengatakannya. Seperti yang Anda katakana, mungkin ini yang terbaik untuk Park Shi On.”

Do Han memuji Yoon Seo yang menurutnya telah melakukan hal yang benar dan Yoon Seo bertindak lebih bijaksana daripadanya. Ia pun meninggalkan Yoon Seo.


Hmm.. wajah Do Han kelihatan tak gembira mendengar sikap Yoon Seo yang menuruti kata-katanya dan Yoon Seo pun juga tak bangga telah melakukan hal yang terbaik untuk Shi On. Apakah mereka menyesal?


Saat berbalik, Yoon Seo melihat ada panci di bawah meja Shi On. Panci milik ibu Shi On. Ia pun pergi mengunjungi ibu Shi On yang masih dirawat. Yoon Seo sepintas lalu bertanya tentang keluarga ibu Shi On. Ibu Shi On menjawab kalau ia masih memiliki seorang suami dan anak, namun keduanya tinggal berjauhan dengannya.

Ibu Shi On bertanya apakah dokter pria itu masih bertugas? Yoon Seo tahu yang dimaksud adalah Shi On, namun ia tak berani menyampaikan kabar buruk itu pada ibu Shi On, maka ia pun mengiyakan. Ia juga memuji Shi On yang sangat pintar dan anak-anak yang dirawat menyukainya.


Pernyataan Yoon Seo itu membawa senyum di wajah ibu Shi On, “Orang tuanya pasti merasa sangat bangga padanya.’


Shi On melamun, memandangi robot besar dan bertanya-tanya dalam hati, “Aku tak berbohong, kenapa orang-orang tak mau percaya padaku?”  Lamunannya terhenti karena terdengar suara In Hye. Aww… ternyata In Hye kabur dari rumah sakit untuk menemui Shi On.


Shi On mencemaskan kondisi In Hye, tapi In Hye menenangkannya karena ia tak demam dan dan ia hanya pergi satu jam saja. Ia malah bertanya mengapa Shi On ke sini padahal Shi On sudah bukan anak-anak lagi. 

Shi On menjawab kalau ia suka melihat robot, “Karena mereka mendengarkanku dan mempercayaiku. Robot tetap diam dan mendengarkan, walaupun aku terus bicara.”


Yoon Seo menemui dr. Choi untuk membicarakan masalah Shi On. Ia merasa Shi On kecewa karena tak ada yang mempercayainya. Dr. Choi membenarkan dan berkata kalau Shi On tak pernah bisa berbohong.

Dr. Choi menceritakan kalau dalam salah satu terapi autisnya, ada yang namanya terapi berbohong, dimana pasien diajarkan untuk berbohong sebagai salah satu bentuk terapi. Tapi Shi On tak pernah bisa berhasil melakukan terapi itu. Shi On tetap tak bisa berbohong.


Yoon Seo pun bertanya bagaimana Shi On mampu untuk bersekolah dan menyesuaikan diri dengan lingkungan? Dr. Choi menjelaskan kalau itu karena kemampuan mengingat Shi On. Shi On mempelajari konsep baik dan jahat, prinsip-prinsip dalam kehidupan, “Ia mengingat semua itu untuk bisa bertahan di dunia ini. Tidak, ia bahkan mengingat semua yang ada di dunia ini. Ia hanya tak bisa memahami sesuatu yang tidak rasional dan tidak benar.”

Yoon Seo mengungkit tentang Shi On yang selalu membicarakan kakaknya tapi tak pernah berbicara mengenai orang tuanya. Dr. Choi menceritakan kalau kedua orang tua Shi On menghilang, meninggalkannya saat Shi On berusia 8 tahun. Karena itulah dr. Choi mengambil Shi On untuk dibesarkan.


Yoon Seo sedikit tertegun dan bertanya apakah Shi On akan dapat mengenali orang tuanya? Dr. Choi menggeleng, “Shi On mengunci dirinya dalam kenangan indah yang ia miliki bersama kakaknya dan menghapus kenangan yang lainnya. Alasan mengapa Shi On sangat kekanak-kanakkan tak hanya karena autisnya saja, tapi karena ia tak ingin mencoba untuk meninggalkan masa lalunya. Seperti Peter Pan.”


In Hye bersikeras mengajak Shi On makan di restoran, walau ia tak boleh makan (karena penyakitnya). “Melihat orang lain makan, membuatku perutku kenyang,” katanya, membuat Shi On bingung.

Tapi In Hye mengabaikan kebingungan Shi On dan meminta Shi On untuk pindah rumah sakit lain untuk tetap menjadi dokter. Dan jika Shi On sudah mendapat tempat kerja baru, In Hye minta agar diberitahu, “Agar aku bisa pindah ke rumah sakit itu untuk mendapat perawatan.”


Shi On berkata kalau Do Han dan Yoon Seo adalah dokter yang lebih baik darinya. Tapi In Hye tetap akan pindah, “Pasien punya hak untuk memilih dokternya. Bagiku, kau adalah dokter yang terbaik. Jadi jangan sedih karena dipecat. Mengerti?” Shi On mengangguk dan kembali makan dengan lahap.


Wapresdir Kang sudah mendapatkan daftar orang yang keluar masuk ruangan Eun Ok menggunakan kartu. Dan ia tersenyum saat di daftar paling bawah, ada satu orang yang menggesek kartu satu kali saja. Woo Il Kyu.

Gotcha..!


Saat makan siang di ruang jaga, Sun Joo mengatakan kalau rasanya sangat aneh dengan tak ada Shi On di antara mereka. Il Kyu malah mengatakan kalau ia senang, dan bertanya pada Kil Nam, “Kau juga merasakan seperti itu, kan?”


Kil Nam malah mengakui kalau ia lebih merasa sedih daripada senang. Sedangkan Jin Wook? Jin Wook mengagetkan yang lain dengan berkata datar kalau ia tak sedih. “Kita tak banyak melakukan sesuatu  yang membuat kita merasa kehilangannya.”


Jin Wook pun meninggalkan teman-temannya, dan tepat pada saat itu, ia berhasil menangkap basah In Hye yang baru saja kembali. Ia memarahi In Hye yang tak menyalakan handphone dan menghilang, “Jangan membuat kakakmu khawatir.”


In Hye meminta maaf namun karena tadi Jin Wook menyebut nama kakaknya, ia menyuruh Jin Wook untuk berbicara dengan kakaknya lagi, “Ia jarang datang karena ia merasa canggung berada di sekitarmu. Karena itu kau harus membuatnya merasa nyaman. Aku tak suka pria yang cepat menyerah.”


Jin Wook salah tingkah disudutkan seperti itu, dan In Hye tak menunggu jawaban Jin Wook, langsung masuk kamar. Tak tahu harus menjawab apa, Jin Wook malah meminta In Hye untuk membersihkan badannya dulu. Merasa jawabannya nggak nyambung, Jin Wook semakin merasa salah tingkah.


Di apartemennya, Shi On duduk di tengah kegelapan, hanya melamun. Yoon Seo yang baru saja pulang, melihat apartemen Shi On gelap dan memutuskan untuk masuk tanpa mengetuk pintu. 


Shi On langsung berdiri melihat kedatangan Yoon Seo yang menjelaskan alasannya tak memencet bel lebih dulu, “Kau tak mengangkat telepon, kau pasti juga tak mau membuka pintu.”


Yoon Seo pun mengajak Shi On untuk pergi ke perpustakaan. Shi On sebenarnya tak mau. Tapi ia menurut, walau nyatanya Yoon Seo ternyata bercanda dan malah mengajaknya ke kafe. Pada Shi On, ia memperkenalkan paman bartender sebagai pemilik kafe dan paman dari para residen dam koas yang bekerja di rumah sakit.

Melihat Shi On, paman bartender langsung mengenali Shi On sebagai ‘anak itu’. Duduk di meja, Yoon Seo bertanya apakah Shi On pernah minum soju? Shi On menggeleng, dulu kakak kelasnya pernah menawarinya soju, tapi ia menolak karena tak suka akan baunya. Maka Yoon Seo pun menantang Shi On, “Jika aku yang menawarimu, apakah kau mau minum?”


Sedikit ragu, Shi On akhirnya mengangguk. Yoon Seo menuangkan soju ke gelas Shi On dan mereka bersulang. Dan persis seperti pemula, Shi On benar-benar tak menyukai rasa soju. Ia menjulurkan lidah merasakan pahitnya dan segera meminum air putih banyak-banyak. Yoon Seo tersenyum, “Apa kau baru saja minum racun?”


Yoon Seo meminta Shi On untuk tak kembali ke kotanya besok dan mengajaknya untuk makan malam di akhir pekan ini sebelum pergi. Melihat Shi On hanya diam, Yoon Seo bertanya apakah Shi On masih marah karena merasa ia tak percaya pada Shi On? 

Shi On tersenyum canggung dan berkata kalau ia tak masalah kalau orang-orang tak menyukainya tapi ia tak suka kalau orang lain menganggapnya pembohong.


Yoon Seo mengatakan kalau ia percaya pada Shi On, tapi orang lain tak bisa percaya begitu saja pada Shi On. Shi On merasa susah memahaminya. Yoon Seo mengusulkan agar Shi On mencari jenis pekerjaan lain selain dokter, misalnya peneliti. 


Tapi Shi On menolak, ia harus menjadi dokter bedah anak, “Aku ingin melihat anak-anak itu tersenyum dan mengobati mereka dengan tanganku sendiri.”


Yoon Seo bisa memahami impian Shi On. Dan untuk merayakan acara minum-minum mereka yang pertama, Yoon Seo menawari Shi On, ia boleh minum apa saja yang ada di café itu. Shi On harus belajar untuk minum-minum karena itu membantunya untuk beradaptasi dengan lingkungan. Ia memperbolehkan Shi On untuk minum hingga mabuk, ada dia yang akan membawa pulan Shi On.

Haha.. kok rasanya firasat buruk, ya?


Dan ternyata memang firasat itu terbukti , karena yang terjadi adalah Shi On mem-piggyback Yoon Seo. Dalam mabuknya, Yoon Seo pun mengeluh, kenapa juga Shi On bisa tak mabuk padahal Shi On minum lebih banyak darinya.  Dengan polos Shi On menjawab, kalau ia sendiri juga tak tahu. Tapi setelah ia terbiasa, maka rasanya seperti air.


Yoon Seo bertanya, apakah Shi On tak pernah ingin menyumpahi orang? Shi On menjawab kalau ia tak bisa dan tak suka menyumpahi dan ia juga tak ingin mendengarnya. Yoon Seo mempererat pelukannya dan berkata kalau Shi On tetap harus melakukannya.


Maka ia pun mencontohkan. Jalan yang mereka lalui sama dengan jalan saat ia mabuk dulu. Ia pun menoleh ke kanan, dan mentargetkan pada salah satu rumah, “Hai, kau sialan! Dengarkan aku!!”


“Kau lagi?!” terdengar suara dari atas sana. Bwahaha.. ternyata Yoon Seo lagi cari masalah dengan orang yang meneriakinya saat ia terakhir mabuk dulu. Yoon Seo malah menyapa balik, “Hei, paman. Kita bertemu lagi!”

LOL, si paman itu kesal bukan main karena ada gadis mabuk yang cari gara-gara dengannya, malam-malam lagi dan menyuruh Yoon Seo untuk merangkak pulang. Yoon Seo pun berteriak balik, “Kau pikir aku anjing? Merangkak pulang? Kau yang harusnya diam!”


Pria itu marah dikatai Yoon Seo dan berkata akan turun ke bawah. Mendengar hal itu, Yoon Seo langsung menyuruh Shi On untuk lari, “Cepat lari!!”


Sesampainya di apartemen Yoon Seo, Shi On membaringkan gadis itu. Saat hendak pergi, ia mendengar Yoon Seo mengigau, memintanya untuk tidak pergi walau ia terus-menerus membuat masalah, “Jangan pergi, Shi On-ah.”


Perlahan Shi On kembali mendekati Yoon Seo dan membelai rambut Yoon Seo.


Wapresdir Kang memanggil Il Kyu yang sedikit gugup dan bingung. Di hadapan Wapresdir Kang suddah ada transkrip nilainya dan ia berkata kalau semua residen yang diterima di RS USW adalah dokter yang memiliki nilai yang tinggi, “Tapi kurasa kau adalah perkecualian. Nilaimu..,” ia sejenak tertawa, namun meneruskan dengan serius, “.. tapi tiba-tiba nilaimu melonjak naik. Dan guru pembimbingmu adalah dr. Go Chong Man.”

Walau gugup, tanpa basa-basi Il Kyu bertanya mengapa ia dipanggil. Maka Wapresdir Kang pun juga tak basa-basi dan bertanya, “Mengapa kau membiarkan pintu kamar terbuka?”


Il Kyu mencoba bersikap bodoh, berpura-pura tak tahu apa yang dimaksud oleh Wapresdir Kang, tapi Wapresdir Kang tersenyum dan berkata kalau ia tak suka pada jawaban Il Kyu, “Apa di pagi secerah ini, kau sudah berani untuk membodohiku?”


Il Kyu diam terpojokkan, tak bisa menjawab.


Shi On meninggalkan apartemennya, dan ia menyempatkan diri menatap apartemen Yoon Seo cukup lama. Sepertinya ia ingin merekam kenangan itu baik-baik.


Yoon Seo kesal bukan main saat mengetahui kalau Shi On sudah pergi, “Sudah kukatakan padamu untuk tinggal sampai akhir minggu ini.” Shi On menolak dan mengatakan kalau ia sudah ditunggu oleh anak-anak panti.

Dan saat ditanya mengapa Shi On tak pergi saat Yoon Seo berangkat ke rumah sakit tadi pagi, Shi On menjawab kalau ia sendiri tak tahu alasannya, “Aku hanya merasa lebih baik jika aku pergi saat kau tak ada di rumah.”

“Kalau kau nanti pulang, apakah kau akan kembali ke Seoul?”

“Aku tak tahu, tapi.. kurasa aku tak akan kembali.”


Yoon Seo terdiam sejenak, dan berkata kalau ia akan mengunjungi Shi On saat ia mendapat cuti nanti. Dan Shi On pun mengucapkan selamat tinggal.


Do Han cs melakukan pemeriksaan rutin, dan mereka pun memeriksa Eun Ok yang sudah ditempatkan ke kamar perawatan biasa karena kondisinya sudah memungkinkan.

Sementara Do Han dan yang lain sedang membicarakan pengaturan diet Eun Ok, Il Kyu merasa gugup. Mungkin karena pertemuannya dengan Wapresdir Kang sebelumnya.  Saat semua meninggalkan ruangan, Eun Ok meraih jas dokter Il Kyu dan menggeram, mengancam. Buru-buru Il Kyu menarik jas dokternya dengan gugup.


Wapresdir Kang menunjukkan daftar pengunjung kamar Eun Ok pada dr. Choi. Tentu saja temuan ini mengagetkan dr. Choi, walau temuan ini menggembirakannya. Wapresdir Kang berkata kalau ia ingin mempertahankan bagian bedah anak dan juga dr. Park Shi On, “Namun sebagai gantinya, saya ingin meminta dukungan penuh Anda. Dan ini juga menjadi rahasia kita. Tak ada yang boleh tahu mengenai ini.”

Hmm.. sepertinya wapresdir Kang sudah mulai mengambil ancang-ancang, nih.. entah ancang-ancang untuk apa.


Ibu Shi On sudah sehat kembali dan sambil membawakan makanan untuk para suster, ia bertanya mengenai Shi On. Suster menjawab kalau Shi On sudah tak bekerja lagi di rumah sakit sejak kemarin. Yoon Seo yang kebetulan lewat, menjadi cemas.


Benar saja. Ibu Shi On tak dapat menahan tangisnya karena mengetahui Shi On keluar, “Dan kenapa Anda tak memberitahukan hal ini pada saya?” Ibu Shi On mengusap air matanya, “Saya tak tahu kenapa saya bisa mengeluarkan air mata.”


“Tak apa-apa jika ingin menangis, Ibu Shi On,” ujar Yoon Seo lembut. Tapi ucapan lembut itu mengagetkan ibu Shi On.


Yoon Seo menceritakan apa yang diceritakan dr. Choi kepadanya. Walau air matanya terus mengalir, Ibu Shi On berkata kalau ia akhirnya mengerti kenapa Shi On tak bisa mengenalinya. Dan hal itu mungkin lebih baik bagi mereka.


Ibu Shi On rupanya selalu mengikuti Shi On sejak Shi On menjadi mahasiswa kedokteran di Choon Chun, dan tak pernah meninggalkan Shi On sejak saat itu. Yoon Seo mengusulkan agar ibu Shi On menemui Shi On (sebagai ibunya). Tapi ibu Shi On menggeleng, ia akan menunggu hingga Shi On bisa mengingatnya. Maka ia meminta Yoon Seo untuk merahasiakan hal ini pada Shi On.


Di stasiun, melalui handphone Perawat Jo, Shi On meminta maaf pada Eun Ok karena tak bisa menemani Eun Ok hingga Eun Ok sembuh. 


Eun Ok tak menjawab, seperti anak anjing yang kehilangan tuannya, ia hanya bisa mendengking pelan. Tapi seperti anak kebanyakan yang ditinggal orang yang disayanginya, air matanya mengalir, yang membuat Perawat Jo pun tak dapat menyembunyikan keharuannya melihat kesedihan Eun Ok.

Shi On berjanji akan membawa Eun Ok mengunjungi kotanya, karena di sana banyak bunga dan Eun Ok bisa berlari-larian, “Jadi sampai saat itu tiba, kau harus tetap sehat, ya?”


Air mata terus mengalir, dan Eun Ok mengulurkan tangan, ingin meraba wajah Shi On. Perlahan Shi On pun menyentuh kameranya, membelai wajah Eun Ok dan berkata, “Terima kasih, Eun Ok-ah.

Dan Shi On pun naik ke kereta yang akan membawanya pulang.


Do Han menemui Chae Kyung untuk bertanya mengenai pesanan robodoc versi anak yang sudah dipesan namun belum juga tiba. Chae Kyung menjawab kalau pesanan itu dibatalkan karena pembelian robodoc tak menguntungkan dan ia tak bisa berbuat apa-apa, karena yang memutuskan hal ini adalah Wakil Persiden Direktur.

Chae Kyung meminta Do Han untuk tak mengurusi hal-hal remeh seperti ini, tapi Do Han tak mau. 


Ia langsung menemui Wapresdir Kang dan bertanya mengapa permintaan bagian bedah Anak ditolak padahal mereka bahkan sudah kekurangan orang dan alat. Wapresdir Kang menjawab diplomatis kalau mereka menginvestasikan sesuatu, harus diyakinkan kalau investasi itu bisa menghasilkan keuntungan.Tapi Do Han berkata kalau Asosiasi Dokter Bedah Anak sedang merumuskan untuk mengurangi biaya jasa dokter dan seharusnya rumah sakit juga melakukan pengorbanan yang sama. 


Wapresdir Kang berkata kalau ia sebenarnya adalah dokter. Jika Do Han adalah dokter yang mengobati pasien, ia adalah dokter yang mengobati perusahaan, “Tugas saya adalah mendiagnosa dan memberi obat pada departemen yang sakit. Jadi sebenarnya tugas kita itu sama.”

“Tidak. Manusia bukanlah perusahaan,” tukas Do Han pendek. Wapresdir Kang tersenyum dan meminta maaf. Do Han meminta agar Wapresdir Kang mengevaluasi anggaran departemennya. Ia pun menunduk dan beranjak pergi.


Tapi Wapresdir Kang menghentikan langkahnya dengan berkata, “Sebelumnya, ada yang ingin saya katakan pada Anda.”


Kita tak tahu apa yang dikatakan Wapresdir Kang. Hanya setelah itu Do Han kembali ke ruangannya dan sejenak mengingat apa yang baru saja terjadi.

“Aku ingin melihat dokter bedah anak yang terbaik, melakukan operasi terbbaiknya dengan lingkungan yang terbaik.”

“Aku akan membuat hal itu menjadi kenyataan.”

Maka Do Han pun menelepon Wapresdir Kang.


Bibi Eun Ok ternyata kembali dengan membawa polisi untuk mengeluarkan Eun Ok. Yoon Seo menolak dan menyuruh Bibi Eun Ok untuk membawa surat perintah pengadilan, bukannya polisi. Eun Ok masih harus menjalani perawatan di rumah sakit. Bibi Eun Ok mengatakan kalau ia sudah membawa ambulans dan akan membawa keponakannya di rumah sakit di daerahnya.


Mulanya polisi juga meminta agar Eun Ok dikeluarkan, tapi setelah tahu kalau Eun Ok baru saja mengalami operasi kemarin, polisi itu mengusulkan pada bibi Eun Ok agar meninggalkan Eun Ok sementara agar bisa dirawat.


Bibi Eun Ok tetap ingin membawa Eun Ok pulang, walau polisi sudah memintanya untuk berkompromi. Ia malah menyerbu maju, namun Yoon Seo menahannya walau wanita it terus memberontak. Kondisi sudah mulai memanas, hingga ada suara, “Tidak boleh. Anda tak boleh membawa Eun Ok!”


Semua menoleh, dan melihat Shi On berdiri dan menatap marah pada Bibi Eun Ok.

“dr. Park..”
Komentar :

Wow.. saya tak menyangka kalau ibu Shi On ternyata mengikuti Shi On diam-diam. Bahkan sejak Shi On koas di Choon Chon. Bagaimana ya setiap hari melihat Shi On yang tak mengenalinya? Dan apa yang sebenarnya terjadi setelah kematian kakak Shi On? Saat mendengar ayah Shi On masih hidup, duh.. rasanya penderitaan Shi On kayanya nanti akan bertambah, deh.


Nature dan nurture. Setiap anak lahir dengan warisan genetik yang ia miliki. Namun  ia berkembang dengan stimulasi dari lingkungan yang membesarkannya.

Saat mendengarkan penjelasan dr. Choi yang mengatakan kalau ialah yang membawa Shi On dan membesarkannya.  Saya merasa Shi On sangat beruntung karena mendapat bimbingan dari dr. Choi. Entah apa yang terjadi jika Shi On dibimbing oleh preman, mafia atau pencuri. Kepandaiannya bisa disalahgunakan oleh mereka.

*langsung membayangkan Shi On menjadi salah satu anggota Ocean Thirteen, err.. atau menjadi Ocean Fourteen ya dengan masuknya Shi On?*

21 comments :

  1. mau tanya nih. Dokter cewek yg rambutnya pendek itu msh koas ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kim Sun Joo ? sepertinya masih.. makanya manggi Shi On dgn sebutan Sunbae

      sama yang dialognya ilgu.. pas sunjoo nanya penjelasan "nanti kalo kamu udah jadi resident, baru dijelasin"

      cmiiw ya mbak dee..... :P

      Delete
    2. Iya. aku sendiri juga bingung. di wiki tulisannya Sun Joo itu intern. yang kalo gak salah diterjemahkan itu koas.

      Aku sendiri sebenarnya juga bingung dengan sistem hirarki-nya. Kalo ga salah, di indonesia, bedah anak itu sudah super spesialis, setelah ngambil bedah umum. Tapi kenapa di drama ini, sepertinya mereka hanya bedah umum.

      Dan untuk rumah sakit yang katanya rs. paling top, dokter bedah anak hanya dua (do han dan go to hell) dan sisanya adalah residen itu, sesuatu yang nggak mungkin banget. Tapi itu menurut pendapatku juga, sih..

      Kalo ada yang ambil kedokteran atau menjadi dokter, Cmiiw juga ya..

      Delete
    3. hhmmm...terima kasih penjelasannya. Aku agak bingung jg pas dia manggil shi on sunbae. Kirain shi on itu yg paling junior diantara semua...

      Delete
    4. kyknya koas dan intern beda deh, klo koas bukannya seperti pendidikan profesi agar sarjana kedokteran bisa dapet gelar dokter ya? Nah kalo Intern itu udah jadi dokter tapi ikut program Internship gitu, semacam trainer kalo di perusahaan, tapi si Intern ini udah dapet gelar dokter, yg jd Intern banyak nya emang para dokter muda yang baru selese jadi menjalankan program koas nya.

      Delete
    5. Ya koass dan internship beda,internship sudah bergelar dokter dan mungkin sunjoo selevel internship yg mau ambil residensi bedah anak...untuk bedah anak bukan superspesialis tapi subspesialis,bisa langsung diambil residensinya tanpa harus melewati bedah umum,sama dg bedah tulang (orthopedi),bedah syaraf (neurosurgery),bedah urologi,bedah digestif,dll semuanya sudah bisa diikuti pendidikannya setelah bergelar dokterumum tanpa harus jd residen bedah umum dulu :-)

      Delete
    6. Kebetulan saya dokter,dan yg saya suka dari drama ini,sama dg drama Brain dulu,baik istilah maupun tindakan medis yg dilakukan hampir mendekati kenyataan,gak seperti drama yg lain or sinetron indonesia yg suka ada adegan konyol berbau medis,kaya cabut infus seenak udel,pasang defibrilator (kejut jantung) seenak udel juga,dll :-)

      Delete
    7. Thank you penjelasannya. Jadi ngerti.. pantesan dokter2nya masih muda. kupikir harus ngelewati bedah umum dulu, ternyat nggak.. jadi keingetan kalo ada adiknya temen ngambil ortopedi, dan baru nyadar kalau itu sinonim dari bedah tulang. :))

      Delete
    8. wah keren.. baru tahu akunya rupanya koas dan intern beda .. #angguk-angguk kepala

      Delete
  2. terharu deh baca sinopsnya...ceritanya bagus...mengajarkan banyak hal..aku sayang ma shi on deh... adik manis

    ReplyDelete
  3. Jngn2 ahjussi misterius i2 appa.nya shi oN..??yang sring ktmu wakpres.
    Yang juga mengawasi shi oN..:-/ xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayanya bukan, deh. ayahnya Shi On bukan yang itu, aku inget wajah ayahnya, yang sering main jadi orang jahat juga. Seperti kata ibu Shi On, suaminya ada tapi di tempat yang jauh.. kayanya akan muncul di akhir2 episode. mungkinn..

      kalo aku, kok mikir pria misterius itu orang yang sakit hati karena perlakuan rumah sakit padanya dulu, pada saat ayah chaekyung/suami presdir Lee masih hidup dan menjabat jadi presdir, tapi orang itu dekat dengan keluarga Chae Kyung.

      Atau kalo nggak, pria misterius itu dulunya suka sama presdir Lee sebelum ia akhirnya nikah sama papanya Chae kyung.

      Terus sekarang dia balik untuk take over rumah sakit.

      Delete
  4. Semakin penasaran gmn kelanjutan drama ini... good drama.. gomawoyo dee eonnie sinopnya
    ~순다리~

    ReplyDelete
  5. Shi on gak jd pergi,,, fighting for eun ok ^-^
    Gomawo,, ditunggu sinopsis selanjutnya ^^

    ReplyDelete
  6. eonniiiii !!
    daebak..jeongmal >.<
    cepat sekalii menulis sinopsisnya
    aku sbg readers kagum bget sama eonni dee
    haha..
    :-*
    semangat ya eonni nulis sinopsisnya
    kita menanti kelanjutan nya
    gomawo
    FIGHTING !!^^

    ~sarah~

    ReplyDelete
  7. Gomawo eonni buat sinopsisnya ... ^_^
    Ditunggu sinoPsis lanjutanya (y) ^_^
    FIGHTING !

    ReplyDelete
  8. ahhh makin seru,
    makasih eon cepet banget publishnya.
    semangat untuk next episod yah :D

    ReplyDelete
  9. nah Dr. jin wook ini ekspresinya mukanya tetap galau2 ajach
    dengar kan tuh in hye : "dia tidak suka pria yang cepat nyerah" Anak kecil ajach tahu.

    #vi808

    ReplyDelete
  10. selalu di tunggu kelanjutan ny, emmhhh suka m drama ini, dulu pernah liat drama soal dokter juga v lupa judul ny v kya ny bukan korea dech, klo g taiwan jepang gitu.., park shi on pengen cium muka imut ny dech bkin gemessss,, hehehehe, thx yh mba bwt sinopsis ny..:) love u <3

    ReplyDelete
  11. Sukaaaaa sama dramanyaaaa. terharuu waktu anaknya nangiissss

    ReplyDelete
  12. Hiks...hiks...mewek..wkt bc Shi On video call dgn Eun Ok...

    ReplyDelete