September 23, 2013

Sinopsis Good Doctor Episode 11 - 2

Sinopsis Good Doctor Episode 11 – 2


Yoon Seo diantar Do Han pulang. Do Han berterima kasih walau masih tetap menggoda, “Terima kasih karena telah menjadi ban serep hari ini.” 

Tapi Yoon Seo tak terpengaruh dan balas menyindir dengan sikap manis ia  berkata kalau ia terpaksa melakukannya karena Do Han adalah si bos dan ia harus tampil baik di depan bosnya. Do Han terkekeh geli mendengar jawaban Yoon Seo.



Yoon Seo beranjak masuk ke halaman apartemen, tapi Do Han memanggilnya dan dengan tulus ia berterima kasih karena selalu berada di sampingnya. Yoon Seo agak bingung dengan ucapan Do Han, tapi ia tetap tersenyum dan mengangguk.


Di depan pintu masuk gedung, Yoon Seo terkejut saat menemukan Shi On duduk terpekur dengan aroma soju menyengat dari tubuhnya, “Kau minum-minum lagi?” Shi On hanya terdiam.

Yoon Seo duduk di samping Shi On memintanya untuk tak terlalu memikirkan hal itu karena dr. Choi membuat keputusan yang tepat. Shi On juga tahu hal itu, tapi ia malah bertambah menyesal karena itu, “Hyung masuk ke goa karena aku. Ia tak dapat memakai alat bantu pernafasan karenaku.”


Yoon Seo meminta Shi On untuk tak berpikir seperti itu. Banyak hal di dunia ini yang di luar kendali mereka,”Kita adalah dokter, kan? Ke depannya, kau akan berkali-kali mengalami hal seperti ini.”

Yoon Seo meminta Shi On untuk melihat pengalamannya dengan Min Hee, “Kau hanya perlu membalasnya dengan bekerja sekeras mungkin selama engkau hidup. Jika kau baik dan mengobati anak-anak, maka itulah balas budi  yang setimpal.”


Shi On meneteskan air mata “Tapi itu tak mengubah kenyataan kalau kakakku sangat kasihan. Akan lebih baik jika aku tak dilahirkan ke dunia ini. Jadi direktur tak akan menderita dan mengalami kesulitan karenaku. Dan kakak juga tak akan pergi ke surga,” suara Shi On bergetar penuh penyesalan, “Semua itu karenaku.”


Yoon Seo perlahan memegang pipi Shi On dan berkata kalau Shi On bukahlah anak kecil. Rasa bersalah yang ditunjukkan Shi On ini tak dapat dilakukan oleh anak-anak, “Menyalahkan diri sendiri seperti yang kau lakukan ini karena kau sangat menyayangi mereka, yang bahkan jarang bisa dilakukan oleh orang dewasa.”


Yoon Seo mengusap air mata di pipi Shi On. Shi On berkata kalau ia benar-benar jahat. Yoon Seo memeluk Shi On dan mengatakan kalau Shi On salah, “Kau adalah orang baik.”


Yoon Seo menunggu Shi On hingga tertidur lelap dan mengusap rambut Shi On dengan sayang.


Do Han terkejut saat diberitahu dr. Choi tentang rencana Wapresdir Kang yang ingin mengubah rumah sakit mereka menjadi rumah sakit anak yang mencari keuntungan.  Ia akhirnya mengerti mengapa Wapresdir Kang memintanya untuk mencari dokter-dokter bedah anak yang bagus dan terkenal.


Ia memberitahu dr. Choi tentang apa yang diminta Wapresdir Kang padanya. Mulanya ia bersedia membantu karena berpikir hal ini untuk membantu pengembangan bedah anak di rumah sakit mereka. Tapi ada sesuatu yang membuat ia ragu, maka ia akhirnya berhenti memenuhi permintaan Wapresdir Kang. Dr. Choi bertanya apa yang membuat Do Han berhenti?

“Dengan membiarkan Park Shi On tetap tinggal di rumah sakit untuk keperluan promosi, sebagai jenius yang ahli diagnostic bedah anak yang, walau autis, berhasil mengatasi kekurangannya,” ujar Do Han.


Dr. Choi berkata kalau ternyata itulah mengapa Wapresdir Kang berpura-pura sangat peduli pada Shi On, “ia benar-benar bukan orang baik.”

Karena yang mereka dengar ini masih sebatas gosip dan belum menjadi kenyataan, dr. Choi memutuskan untuk menunggu dan mengawasi perkembangan selanjutnya. Ia memberitahu kalau Presdir Lee sudah tahu, dan mungkin begitu pula dengan Chae Kyung.

Do Han tak menjawab, Ia juga tak menceritakan pada dr. Choi tentang keinginan Chae Kyung yang ingin mengambil alih rumah sakit. 

Dr. Choi juga berterima kasih pada Do Han karena Do Han akhirnya menerima Shi On sebagai murid. Sekarang, Shi On sudah bukan lagi muridnya melainkan murid Do Han, “Ajari dia dengan caramu sendiri.”


Kyu Hyun akan keluar dari rumah sakit, begitu pula Eun Ok. Eun Ok sekarang sudah potong rambut walau masih duduk di kursi roda. Mata Eun Ok sudah berkaca-kaca, apalagi saat Shi On berjongkok di depannya dan meminta agar Eun Ok tak perlu khawatir lagi. Ayah Ibu Kyu Hyun adalah orang tua yang baik, jadi Eun Ok harus mendengarkan mereka.


Eun Ok mengangguk kecil, tapi air mata tak sanggup untuk ditahannya. Shi On menghapus air mata itu namun Eun Ok terus menangis. 


Ia menyentuh pipi Shi On dan mengeja perlahan, “Dokk..teer.. A..kuu.. mmenyaa.. yangii..mu..”


Shi On membalas dengan mengatakan kalau ia juga menyayangi Eun Ok. Semua terharu melihatnya. Yoon Seo berterimakasih tapi ibu Kyu Hyun yang malah berterima kasih karena ia mempelajari banyak hal selama di rumah sakit. 


Kyu Hyun pun berterima kasih dan berjanji akan sering-sering datang menengok. Shi On mengangguk dan ingin Kyu Hyun mendengar Kyu Hyun bernyanyi setelah suara Kyu Hyun pulih.


Yoon Seo dan Shi On mengantar mereka ke lift. Setelah lift menutup, Yoon Seo merangkul leher Shi On, menyelamati Shi On yang telah berhasil. Berdekatan seperti itu malah membuat Shi On gugup. Buru-buru ia melepaskan tangan Yoon Seo dan pamit pergi. Langsung ia kabur meninggalkan Yoon Seo.


Dan ia pun menyendiri sambil berjalan mondar-mandir dan memegangi dadanya.  In Hye yang kebetulan lewat berseru menggoda, “Arrest, arrest..!”.  Haha.. Shi On semakin kaget dikejutkan seperti itu.


In Hye bertanya apakah Shi On sudah memberi pujian dan gadis misterius itu tak bereaksi? Shi On mengangguk. In Hye sendiri yang tak sabar dan malah menyuruh Shi On untuk berdandan rapih dan membawa bunga, “Di situlah kau harus mengaku. Jika kau memendamnya itu akan menjadi pup!”

LOL, baru tahu saya kalau p*p itu karena hasil memendam perasaan. Saya pikir karena banyak makan.


Shi On takut melakukannya. Bagaimana jika gadis itu menolaknya? In Hye berkata kalau apapun hasilnya, akan membuat Shi On merasa lebih lega. Shi On menghela nafas panjang. In Hye berjongkok di depannya dan membujuknya untuk membuat pengakuan karena jika tidak, Shi On bisa mati, “Banyak orang mati karena sakit cinta.”


Haha.. In Hye ini lebay dan alay deh.. Shi On pun berkata kalau sakit cinta itu bukan penyakit yang benar-benar ada. In Hye pun bertanya tentang siapa sebenarnya gadis misterius itu. Karena jika ia tahu maka ia dapat memberi nasihat yang lebih baik. Shi On tetap ragu. Dan In Hye tetap membujuknya.


Akhirnya Shi On pun mengalah. Tapi karena ia terlalu malu untuk mengatakannya, maka ia akan menuliskannya saja. In Hye mengangguk gembira. Yay.. akhirnya. Seharusnya Shi On melakukan hal ini sejak dulu.

Shi On menulis dan langsung pergi setelah memberikannya pada In Hye. In Hye tak mengejar Shi On dan membuka kertas itu dengan antusias. Di dalam kertas itu tertulis : Aku tak akan mengatakannya padamu.


Hehehe.. In Hye kena tipu!


Do Han menemui Wapresdir Kang dan berkata kalau ia sudah tahu maksud Wapresdir Kang yang sebenarnya dan mengulang kata-kata dr. Choi yang memintanya untuk pergi. Wapresdir Kang tetap tersenyum dan berkata kalau ia akan pergi setelah menyelesaikan beberapa masalah lagi. Tapi Do Han yakin kalau masalah itu bisa ditangani walau tanpa Wapresdir Kang.

Wapresdir Kang merasa Do Han membuatnya merasa telah melakukan dosa besar. Padahal yang ia lakukan adalah membantu meningkatkan karir Do Han dan dr. Choi. Do Han berkata kalau mereka tak membutuhkannya.  Dan ia bertanya apakah Chae Kyung juga tahu tentang hal ini?

Dari reaksi Wapresdir Kang yang mengulang nama Chae Kyung, membuat Do Han sadar kalau  kedua orang ini tak bekerja sama.


Di koridor, Do Han bertemu Shi On dan menyuruhnya ikut dengannya. Di ruangannya, ia memberikan 3 hardisk eksternal dan mengatakan kalau 3 harddisk itu isinya adalah kumpulan thesis dari jurnal kekokteran sejak tahun 1985, “Pelajari dan ingatlah semua ini dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.”

“Apa?”


Do Han terus melanjutkan, mengabaikan kekagetan Shi On, “Setelah mengingatnya semua, datanglah padaku dan aku akan mengujimu per bagiannya. Materi ujian bukan hanya tentang mengingat isinya. Kau harus bisa menjawab pertanyaan yang kuberikan berdasarkan teori-teori yang sudah kau baca. Tingkat kesulitan, tentu yang paling tinggi.”


Shi On hanya bisa bengong tak bersuara. Dan Do Han pun menambahkan kalau Shi On gagal menjawab pertanyaan, maka Shi On akan dihukum,”Hasil ujianmu akan menjadi pintu masuk bagimu ke ruang operasi dengan kau menjadi pengamat atau kau menjadi pembersih ruangan.”

Ahhh.… Do Han kejam sekali!


Shi On mencoba berargumentasi kalau ia percaya bisa mengingatnya, tapi ia tak yakin bisa melakukan hal yang sama dengan tes yang akan diberikan Do Han. Do Han pun acuh berkata kalau begitu, Shi On tak usah melakukannya. Ia meraih harddisk itu untuk ia simpan kembali. Tapi Shi On lebih cepat. Ia merebut ketiga harddisk itu dan buru-buru berkata kalau ia akan melakukannya.


Setelah Shi On pergi, Do Han tersenyum senang. Ahh.. manisnya.. tapi tetap kejam. Berapa ribu halaman tuh yang thesis yang ada di harddisk-harddisk itu?


Shi On menghela nafas memandang harddisk itu. Begitu juga dengan para residen. Dengan tersenyum, Jin Wook mengatakan kalau Do Han tak manusiawi. Sun Joo pun bertanya-tanya berapa terra (1 terra = 1000 gigabyte) dalam satu harddisk? Hanya memikirkannya saja membuatnya ingin muntah. Il Kyu malah berkata santai untuk percayakan saja pada kekuatan super Shi on.


Tapi Shi On juga merasa pingin muntah, “Rasanya seperti lari 100 meter setelah makan 3 roll Kimbab.” Para residen menepuk bahu Shi On, menyemangatinya.


Selesai operasi, Yoon Seo berkata kalau ia sudah mendengar tentang apa yang sudah Do Han lakukan pada Shi On. Dan sepertinya Do Han hanya melakukan hal ini pada Shi On saja, karena ia tak pernah menerima tugas seperti ini. Do Han berkata kalau jika ia jadi Shi On, ia pasti akan menyerah duluan., “Karena ini adalah tugas yang tak mungkin dilakukan oleh orang biasa.”

Jawaban ini membuat Yoon Seo merasa kalau Do Han melakukan hal ini karena Do Han percaya pada kemampuan Shi On dan memuji seniornya itu. Do Han tersenyum mendengarnya.


Yoon Seo mendapat telepon dari Profesor Min dan bergegas pergi. Di ruangan Soo Jin, sudah ada Profesor Min yang terlihat frustasi melihat pengacara mertua Soo Jin yang datang untuk meminta cap Soo Jin dalam dokumen perceraian. Soo Jin sendiri sangat tenang saat akan membubuhkan cap itu.


Tapi ia berhenti saat mendengar seruan Yoon Seo. Yoon Seo tak percaya kalau pengacara itu tega melakukan hal ini. Tapi pengacara itu hanya melakukan apa yang diminta kliennya. Profesor Min dan Yoon Seo membujuk Soo Jin untuk membicarakan hal ini lagi dengan ibu mertuanya atau suaminya secara baik-baik.


Soo Jin tetap tenang dan kemudian membubuhkan cap miliknya. Ia tahu kalau keputusan mertuanya sudah final, begitu pula suaminya. Ia meminta agar operasinya dapat segera dilakukan.


Untungnya, hasil pemeriksaan jantung Soo Jin mengalami perbaikan, walau masih belum stabil, sehingga sulit dipastikan kegawatdaruratan apa yang akan terjadi nantinya. Dan jika hal itu terjadi maka sangat susah untuk menjamin keselamatan si ibu dan si anak. Oleh karena itu operasi harus segera djadwalkan.

Profesor Min memutuskan untuk mengoperasi Soo Jin besok dan Do Han menyuruh Yoon Seo untuk memberitahukan ke bagian anestesi, THT dan perawat.


Shi On membaca jurnal-jurnal itu hingga larut malam. Namun di sela-sela ia membaca, ia malah teringat saat-saat Yoon Seo memeluknya dan menghiburnya. Shi On menghela nafas panjang.

Dan tiba-tiba terdengar suara lembut di sampingnya, “Coba kita lihat..”


Shi On kaget melihat Yoon Seo menempel dekat dengannya, ingin melihat apa yang sedang Shi On baca. Tangannya beringsut menjauh dari mouse saat Yoon Seo mengambil alih mouse untuk membaca jurnal yang sedang dibaca. Ia tak menjawab saat Yoon Seo bertanya apakah Shi On yakin dapat menguasainya?


Yoon Seo menoleh pada Shi On dan beseru dengan gaya Shi On, “Cepat.. cepat! Jawab pertanyaanku.” Tergeragap, Shi On menjawab kalau ia percaya bisa melakukannya. Dan ia semakin gugup saat Yoon Seo kembali merangkulnya dan menjelaskan kalau hal ini berarti Do Han sudah menganggapnya sebagai murid, “Jadi tetap percaya diri dan jangan mudah terintimidasi. Oke?”


Shi On tak menjawab, apalagi saat Yoon Seo mengacak-acak rambutnya dan pergi. Setelah sendiri, Shi On mendengarkan debar jantungnya sendiri melalui stetoskop dan teringat ucapan In Hye untuk langsung mengaku saja dengan mawar di tangan. Ia  menghela nafas. Dan saya pun mengela nafas. Mampukah Shi On melakukannya?


Malam itu, Shi On menyetrika bajunya sambil berlatih, mencoba untuk mengatakan ‘aku suka kamu’. Tapi kata-kata itu belum bisa keluar dari mulutnya. Ia menatap wajah kakaknya di tembok dan memintanya untuk membantunya.

Dan ternyataa.. tarraa…!


Yoon Seo bingung melihat Shi On muncul di depan pintunya dengan berdandan rapi dan tangan di belakang. Ia bertanya kemana Shi On akan pergi malam-malam begini? Ia tak sabar melihat Shi On tak menjawab dan menyuruhnya masuk.

Yang sebenarnya terjadi adalah Shi On sedang gugup, bingung bagaimana mau mengeluarkan bunga mawar yang ia sembunyikan di belakang punggungnya. Ia sudah mengeluarkan bunga itu, tapi Yoon Seo berbalik memunggunginya sehingga mawar itu langsung masuk kembali ke posisinya semula.


Ia pun masuk tapi tetap bingung. Tapi ia akhirnya mengeluarkan mawar itu ke depan, mengagetkan Yoon Seo. Yoon Seo langsung menyukainya, tapi juga langsung curiga kalau ada yang ingin diminta oleh Shi On. Belum juga Shi On menjawab (karena terlalu gugup), Yoon Seo mengatakan kalau ia akan memenuhi semua permintaan Shi On.


Shi On pun mencoba bersuara, “Dokter..” Dan kata-kata Shi On berhenti di situ, membuat Yoon Seo frustasi dan berteriak menyuruh Shi On ngomong langsung. Dikageti seperti itu, Shi On langsung berkata, “.. apakah Anda sudah makan?”

Gubrak! Wkwkwk.. Begini ya kalo mau nembak?


Yoon Seo menjawab sudah, membuat Shi On bingung. Iapun memandang sekeliling ruangan dan memuji Yoon Seo yang sudah mengganti wallpapernya. Yoon Seo menjawab kalau ia tak mengubahnya, membuat Shi On garuk-garuk kepala. Shi On pun berkata lagi, “Kalau begitu bedcover....”


Sampai situ, Shi On sudah menyerah. Yoon Seo semakin tak sabar, apa yang sebenarnya ingin dikatakan Shi On, “Ayo, cepat katakan padaku!”


Akhirnya Shi On mengaku kalau ia hanya mampir. Tapi Yoon Seo tak percaya. Shi On meyakinkannya dengan mengatakan kalau ia kan tak bisa berbohong.

Haha.. Shi On sudah belajar berbohong, nih.. Horee… *tepuk tangan*


Yoon Seo lalu bertanya mengapa Shi On berpakaian rapih seperti sekarang ini? Shi On menjawab kalau ia memiliki hobi memakai baju rapi di hari Senin.

Wkwkwk.. *tepuk tangan lebih keras*


Yoon Seo berkata kalau hobi Shi On benar-benar spesial. Shi On pun buru-buru pamit, dan sebelum Yoon Seo sempat berkata-kata lagi, ia ngacir pergi. Kabur.


Di dalam kamarnya, ia membenamkan kepalanya ke dalam bantal dan frustasi pada dirinya sendiri.
Yoon Seo kembali mengerjakan thesisinya, tapi tersenyum saat melihat mawar yang baru saja diberikan Shi On.


Di rumah sakit, Yoon Seo bertemu dengan Shi On yang buru-buru pergi saat berpapasan dengannya. Yoon Seo menyuruhnya berhenti dan bertanya apakah Shi On berbuat salah padanya sehingga Shi menghindarinya?


Di pantry, Yoon Seo menuduh Shi On telah melakukan sesuatu karena sikap Shi On tak lagi sama. Shi On terus membantahnya sehingga Yoon Seo memutuskan untuk mempercayainya. Hari ini adalah hari operasi Soo Jin, dan berharap semua lancar sehingga ibu dan anak sehat.


Dan mereka pun toss lagi seperti saat akan operasi Kyu Hyun.


Sebelum operasi, Do Han dan Yoon Seo meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja. Soo Jin bertanya jika salah satu dari mereka (ia dan bayinya) dalam masalah, siapakah yang akan diselamatkan? Ia memohon agar para dokter menyelamatkan bayinya. Prof. Min hanya tersenyum dan meminta Soo Jin untuk tak berpikiran macam-macam.


Para dokter melakukan briefing terakhir sebelum operasi. Do Han berkata kalau mereka hanya memiliki waktu 15 menit bahkan mungkin kurang dari 15 menit. Jika mereka tak mempergunakan waktu 15 menit itu dengan baik, kondisi ibu dan bayi akan dalam bahaya. Prof. Min meminta mereka untuk tetap fokus dalam operasi ini.

Do Han masih sempat menggoda Prof. Min, berkata kalau ia tak pernah melihat Prof. Min setegang ini sejak upacara pernikahannya. Semua tertawa mendengar candaan Do Han.


Dan mereka pun berangkat untuk operasi. Hmm.. walau operasinya dobel, apa operator operasi harus sebanyak ini? Dr. Go dan para kolega mengamati dari ruang atas.


Para dokter kandungan mulai mengoperasi dan mengeluarkan bayi itu. Bayi yang tak mengeluarkan suara, namun masih hidup karena masih terhubung dengan ibunya dengan tali plasenta. Hanya ada waktu 15 menit untuk mengoperasi bayi itu agar bisa bernafas sendiri.


Prof. Min meminta dokter THT melakukan persiapan intubasi tracheal dan Do Han menyuruh Kil Nam untuk memulai waktu penghitungan. Namun dokter THT tak dapat melakukan intubasi karena leher si bayi lebih bengkak jika dibanding dengan hasil USG terakhir. 


Yoon Seo berkata tak mungkin leher itu bisa bengkak secepat itu, tapi Shi On berkata kalau hal itu mungkin terjadi karena perdarahan di dalam. Akibat trauma kardiopati yang terjadi sebelumnya, terjadi perdarahan di dalam sehingga lymphangioma membesar. Dokter THT tak dapat melihat lebih jelas karena saluran pernafasan tertekan dan intubasi tak bisa masuk dengan baik.


Do Han ganti untuk mencobanya, dan waktu sudah semakin berkurang, menyisakan 7 menit saja. Prof. Min mengusulkan untuk melakukan tracheotomy. Belum sempat mereka memutuskan, seorang perawat menyerukan kalau si ibu mengalami perdarahan.

Cepat.. cepat.. Tracheotomy adalah operasi untuk membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea.


Do Han pun bersiap melakukan, dan meminta Yoon Seo untuk memegangi kepala si bayi. Sebelum Do Han melakukan tracheotomy, Shi On memberitahu kalau yang menyebabkan saluran nafas tertekan mungkin karena lebam di dalam saluran pernafasan. Do Han pun memeriksa leher si bayi dan berkata kalau bengkaknya lebih besar daripada yang ia duga.


Yoon Seo waspada, “Jadi berarti thracheotomy..”


“.. tak bisa dilakukan,” kata Shi On melanjutkan.


Di tengah buntunya situasi ini, terdengar suara perawat, “Perdarahannya semakin banyak!” dan seseorang melihat monitor, “Denyut jantung menjadi 120, tekanan darah turun dari 90 menjadi 60..”

“Si Ibu dalam bahaya…”


“Kita tak bisa menunda lebih lama lagi untuk kontraksi uterine. Cepat bawakan transfusi darah,” suruh Prof. Min.


Yoon Seo bertanya apakah tak mungkin Do Han merubah arah untuk melakukan tracheotomy? Shi On berkata tak bisa. Do Han juga berkata kalau kemanapun ia melakukan pembedahan, bayi akan mati karena perdarahan hebat.


Waktu seakan jam pasir yang memuntahkan butir demi butir. Do Han melihat bayi yang ada di hadapannya. Sementara Soo Jin terbaring diam, juga dalam bahaya. Ia memejamkan mata, mempertimbangkan satu dan yang lainnya.

Prof. Min memanggil Do Han, memintanya untuk segera memutuskan.

Komentar :


Siapa yang akan diselamatkan? Pertanyaan etik yang dulu dilontarkan Shi On pada rapat pendahuluan, yang dianggap remeh, sekarang menjadi pertanyaan paling penting di dalam ruang operasi.

Dilihat dari pendapat Prof. Kim, nyawa ibu yang selalu dinomorsatukan. Jika dilihat dari kondisi di lapangan, kondisi bayi sangat sukar untuk diselamatkan. Namun permohonan Soo Jin untuk mendahulukan keselamatan bayinya juga tak dapat disepelekan.

Mungkin ini sebabnya scriptwriter  memasukkan mimpi-mimpi Shi On di dua episode ini yang berakhir ke pengakuan dr. Choi. Ia memilih menyelamatkan Shi On karena kemungkinan Shi On hidup jauh lebih besar daripada Shi Deok.

Jika akhirnya Do Han memutuskan untuk menyelamatkan salah satunya (yang mungkin adalah si ibu) apakah akan terjadi penyesalan dalam diri Soo Jin? Sama seperti yang dialami Shi On?


Dan apakah Do Han nanti juga akan menanggung bebab perasaan itu nantinya? Sama seperti dr. Choi?

Dokter adalah dokter. Tugas mereka adalah menyelamatkan manusia. Namun dokter juga manusia, yang mempunya hati juga jiwa. 


12 comments :

  1. ayo ,, lanjut ke episode selanjutnya mbk Dee ..
    semangatt !!!!!

    ReplyDelete
  2. baca komen nya mba dee jadi tambah ngerasain galau nya do han di ruang operasi....
    setuju bgt sama mba dee kl "dokter adalah dokter. tugas mereka adalah menyelamatkjan manusia namun kita ga boleh lupa kl dokter jg manusia yang pnya hati."

    ReplyDelete
  3. Oh God,, kira2 siapa yg bakal selamat??? ibu, bayi,, atau kedua2nya??? atau lebih parah.. gk ada yg selamat??? i hope not -_-'

    Noona,, semangat,, selalu ditunggu postingan sinopsisnya ^^

    ReplyDelete
  4. bayinya bengkak bgt lehernya...
    kalo ibu diselamatkan,,, ibu bisa mengandung lagi kan?
    kalo bayi nanti siapa yg nguru coba?
    tapi masa g bisa ke2 nya diselamatkan...
    argghh...
    pusing deh...
    padahal saya suka pelajaran biologi...
    tapi kalo disuruh memilih yg kayak gini....
    ga bisa saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang logikanya seperti itu, hwang park. Lebih baik ibu yang diselamatkan karena ibu bisa mengandung lagi.

      Tapi shock stlh melahirkan dan mengetahui bayinya meninggal bisa menimbulkan luka yang mendalam. Soo Jin telah mengandung selama 8 bulan dan pasti sudah memiliki hubungan sendiri dengan si jabang bayi. Apalagi bayi itu adalah satu-satunya anak, buah kasih dengan suaminya (yang akan menceraikannya). Ia tak marah pada suaminya, ia masih cinta dengan suaminya. Mertuanya yang menyuruhnya untuk bercerai. Hanya anak itu satu-satunya yang menghubungkannya dengan suaminya.

      Jadi yah.. seperti itulah..

      Delete
    2. Bayi nya kaya yng beneran yaa,asLi bukan sih?
      Gaa kebyang klo aku di posisi soo jin,naudzubiLah :'(
      Semoga ajh dua2nya bisa seLamat

      Delete
  5. Sy tnggu episode selanjutnya ya baak......!!!

    ReplyDelete
  6. arggghhhhhhh, jadi inget kata-kata Captain Jack Sparrow, "kode etik hanyalah buku panduan", begitu kali yawwww harusnya cara pandang para dokter pada kode etik kedokteran.

    ReplyDelete
  7. keren mbakk, tengkyu ya, tak tggu cerita slanjutnya, semangat !!

    ReplyDelete
  8. Sedih, selalu telat bc sinopsisnya...
    Love joo won
    Tq mb dee sinopsisnyaaa

    ReplyDelete
  9. Hah...kok jd aku yg tegang ya....mba Dee tks sinopnya keren banget , nonton filmnya kurasa ngga setegang ini....

    ika

    ReplyDelete
  10. Sy Jd merasa bersalah prnah ngatain kim do han kyk robot / dokter Ga pny perasaan .... *wkt do han nyuruh eun ok diikat ,
    Stlh ada kasus ini, jd tau ...... Stiap Keputusan yg diambil dokter itu Ga mudah y kyknya ....

    ReplyDelete