September 22, 2013

Sinopsis Good Doctor Episode 11 - 1

Sinopsis Good Doctor Episode 11 – 1


Walau terengah-engah, dengan yakin Soo Jin mengatakan kalau ia bersedia untuk  bercerai, “Dalam rumah itu, saya tak dapat membesarkan anak saya.”


Makin lama nafas Soo Jin semakin cepat dan pendek. Shi On melihatnya dan buru-buru berseru, “Ibu.. Ibu hamil dalam bahaya..” Tapi terlambat, tiba-tiba Soo Jin merasakan kontraksi dan mendadak ia pingsan yang badannya akan segera jatuh ke tanah jika tak segera ditangkap oleh Yoon Seo.



Soo Jin segera dibawa ke ruang UGD dan diberikan tindakan. Prof. Min yang baru saja datang buru-buru mengingatkan juniornya kalau Soo Jin tak boleh diberikan epinephrine.


Soo Jin yang akhirnya sadar, langsung panik karena teringat kondisi bayinya. Yoon Seo menenangkan kalau bayinya baik-baik saja. Ibu mertua Soo Jin yang sedari tadi juga mengikuti mereka ke UGD, tak berkata apa-apa. Entah dia pintar menyembunyikan  perasaan atau otot wajahnya memang kaku, tapi tak terlihat sedikipun rasa panik di wajah ibu mertua saat ia berlalu pergi meninggalkan UGD.


Di ruangan dr. Choi, ibu Shi On tetap menunduk saat ia meminta maaf. Tapi yang ingin diketahui oleh dr. Choi adalah mengapa setelah 20 tahun, ibu Shi On akhirnya muncul sekarang, “Mengapa setelah kau pergi, kau tak menelepon?”

Ibu Shi On menjawab kalau saat itu ia dalam posisi yang sulit. Tapi saat ditanya lebih lanjut, ia tak mau menceritakan kesulitan apa yang ia hadapi saat itu. Namun ia mau bercerita kalau ia sudah bertemu dengan Shi On walau Shi On tak mengenalinya. Dan ia meminta agar dr. Choi tak menceritakan tentang dirinya pada Shi On hingga Shi On sendiri yang mengenalinya.


Dr. Choi bertanya, jika Shi On tetap tak mengenalinya, apa yang akan ibu Shi On lakukan? Ibu sesaat berpikir dan dengan suara lirih ia menjawab, “Saya sangat berdosa padanya. Jadi bagaimana mungkin saya muncul dan langsung mengaku sebagai ibunya?”


Do Han meminta Yoon Seo untuk menempatkan satpam di depan ruangan Soo Jin untuk mencegah hal ini terulang lagi. Yoon Seo mengangguk dan bertanya pada Prof. Min tentang kondisi janin Soo Jin.

Untungnya kondisi janin baik-baik saja. Yoon Seo tak menduga kalau akibat stress mendadak bisa menyebabkan kardiomyopati dan bertanya apakah tak seharusnya mereka menunda operasi Soo Jin hingga kondisi Soo Jin lebih stabil?

Note : kardiomyopati adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dikarenakan otot jantungnya melemah. Biasanya, kardiomiopati post partum terjadi pada wanita dalam masa bulan-bulan terakhir kehamilan atau dalam waktu 5 bulan setelah melahirkan. Hal ini bisa terjadi walau ibu hamil tidak memiliki riwayat sakit jantung atau penyakit jantung sebelumnya.


Prof Min mengatakan kalau mereka bisa menundanya dalam beberapa hari. Tapi Do Han merasa ada yang lebih besar darpada itu, yaitu waktu yang mereka miliki untuk operasi simultan semakin sempit dengan sudah munculnya kontraksi dan masalah jantung yang baru saja terjadi. 


Prof. Min menambahkan kalau mereka tak dapat meningkatkan dosis normal untuk kasus Soo Jin karena akan membahayakan jantungnya. Yoon Seo menyadari apa yang dimaksud oleh kedua profesornya ini, “Jadi waktu yang kita miliki untuk melakukan intubasi jalan nafas bukannya 30 menit, tapi..”


“15 menit,” kata Do Han meneruskan, “Dalam waktu 15 menit saja.”

Ketiganya terdiam menyadari betapa riskannya situasi ini.


Shi On berdiri memandangi Soo Jin yang beristirahat. Saat Soo Jin bangun, ia bertanya tentang kondisi bayinya dan menghela nafas lega saat mendengar kalau bayinya baik-baik saja. Shi On juga berkata kalau Soo Jin tak perlu cemas karena ada orang yang mirip Batman yang berjaga di luar untuk mencegah orang-orang yang seperti Joker membawa Soo Jin pergi.

*LOL.. di kepala jadi terbayang yang jaga di depan ruangan Soo Jin ini bukan satpam yang pake jas, tapi Batman yang pake seragam hero-nya, lengkap dengan jubahnya, sedang berkelahi dengan bodyguard ibu mertuanya yang pake kostum Joker.”


Soo Jin tersenyum kecil dan berterima kasih pada Shi On. Tapi malah justru Shi On yang merasa harus berterima kasih karena Soo Jin akan melahirkan bayi yang kuat dan sehat. Mendengar hal ini Soo Jin berkata kalau seharusnya kata-kata itu keluar dari mulut suaminya dan bukannya dari Shi On.


Shi On buru-buru minta maaf, tapi Soo Jin bukan bermaksud menyinggung Shi On, karena walaupun kata-kata itu dikatakan oleh seorang dokter padanya, tapi kata-kata itu sangat menyemangatinya.

Lucu saat Shi On menyemangati Soo Jin dengan memanggil bukan namanya, “Ibu hamil.. fighting..!” Soo Jin tersenyum dan menjawab lirih, “Fighting..’


Walau di depan Soo Jin ia bersikap santun, tapi sebenarnya ia sangat benci dengan ibu mertua Soo Jin.  Dan itu dikatakannya saat ia bersama dengan Yoon Seo kembali ke bagian Anak, “Saya benar-benar benci ibu mertuanya. Benar-benar membencinya. Dia bahkan lebih jahat daripada penyihir jahat di Snow White.”


Yoon Seo mengerutkan kening dan bertanya apakah Shi On ini sedang mengumpat? Shi On mengangguk dan berkata kalau ia akhirnya mengerti kenapa orang-orang bisa mengumpat. Hal ini mengundang ide dalam pikiran Yoon Seo. Ia langsung menoleh kiri-kanan dan menyuruh Shi On untuk mencobanya sekarang.


Dan Shi On pun kali ini melakukannya dengan antusias dan sangat cepat, “Dasar kau ini .. Aku akan menjepitkan jarimu ke pintu dan membuatmu makan alumunium foil bekas pembungkus kimbab dan mengeluarkan jerawatmu sambil menggaruk-garuk rambutmu!!”


Yoon Seo berkedip. Sekali. Dua kali. Dan ia bertanya, “Apa itu adalah umpatan?” Shi On mengangguk.

LOL. Yoon Seo merengut dan mengatakan kalau yang ia dengar tadi malah lucu dan bukan seperti umpatan. Garuk-garuk bingung, Shi On bertanya apakah umpatannya tadi tak membuat Yoon Seo marah? Hehe.. tentu saja tidak.


Pelajaran mengumpat itu terhenti karena ibu Kyu Hyun muncul untuk memberitahukan pada mereka kalau mereka akan mengadopsi Eun Ok. Walau ia sebenarnya agak ragu apakah ia bisa membesarkan Eun Ok dengan baik.


Shi On mengatakan kalau ibu Kyu Hyun pasti bisa melakukannya. Ia mengacungkan jempolnya dan berkata, “Ibu Kyun, Anda adalah yang terbaik!”


Do Han meminta maaf pada Chae Kyung akan ucapannya kemarin. Tapi ia tetap meminta Chae Kyung untuk mempertimbangkan kembali rencananya. Ia dapat memahami darimana keinginan itu berasal, tapi ia tak mau kalau Chae Kyung harus menempuh jalan itu.

Chae Kyung menjawab kalau ia akan memikirkannya kembali walau rasanya kejauhan jika ia harus memutar balik. Do Han menghela nafas akan jawaban Chae Kyung yang kedengaran seperti basa-basi. Maka ia pun berkata,”Jadi untuk sementara waktu, mari kita berpisah dulu.”


Tentu saja Chae Kyung kaget walau ia berhasil menyembunyikan perasaanya. Do Han mengatakan kalau mereka berdua sama-sama capek dan sibuk sehingga mereka jadi sama-sama sensitive. Dengan wajah datar, Chae Kyung menyetujui usulan Do Han,”Lakukan saja apa yang kau mau. Aku akan selalu berada di tempat yang sama.”


Sebelum Do Han pergi, Chae Kyung menyempatkan diri untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Do Han berterima kasih dan meninggalkan ruangan. Meninggalkan Chae Kyung.


Tak disangka, ucapan selamat ulang tahun itu juga membahana di ruang jaga bagian anak. Seluruh residen anak menyanyikan lagu happy birthday dan memaksa Do Han untuk meniup lilin. Do Han meniup lilin namun menyuruh mereka untuk kembali belajar. Jin Wook yang menjawab kalau belajar itu memang penting, namun yang paling penting adalah menjadi manusia.


Do Han menerima kado yang diberikan Sun Joo namun dengan peringatan kalau ini adalah terakhir kalinya mereka merayakan ulang tahunnya.


Para residen tertawa geli dan Yoon Seo berseru kepada teman-temannya, “Beliau menyuruh kita melakukan lagi tahun depan.” Do Han tersenyum menyerah dan menyuruh mereka segera memakan kui itu dan segera bertugas kembali.


Ketika semua sedang mengerubuti kue itu, Shi On mendekati Yoon Seo kalau ia tak tahu tentang kado dan merasa belum menyumbang uang untuk kado itu. Yoon Seo menenangkan Shi On dan berkata kalau maknae tak perlu membayar.

Tapi Shi On buru-buru pergi tanpa mempedulikan panggilan Yoon Seo.


In Young baru saja cek darah saat menemui dr. Kim dan berkata kalau ia akan mendapat uang bulan depan dan bertanya, “Mungkinkan jika operasi transplantasi dilakukan pada saat itu?” Dr. Kim sedikit ragu dan enggan untuk melakukan operasi itu.


Saya pikir dr. Kim memikirkan uang yang mungkin tertunggak. Tapi ternyata bukan. Dr. Kim bertanya apakah In Young tak ingin mempertimbangkan lagi keputusannya? Walaupun ia sudah katakan berkali-kali, tapi sekarang ia katakan lagi, “Jika terjadi sesuatu saat operasi, nasibmu akan sama dengan In Hye,  memperoleh asupan dari kantong IV untuk seumur hidupmu. Dan juga kau akan hidup dengan resiko hepatitis.”


In Young tetap yakin pada keputusannya dan ia juga minta tolong agar dr. Kim merahasiakan hal ini dari adiiknya dan orang-orang di bagian bedah anak.


Shi On mendatangi Do Han dengan sebuah hadiah. Do Han mengatakan kalau ia sudah mendapatkan hadiah sebelumnya, tapi Shi On mengatakan kalau ia tak menyumbang untuk membeli hadiah itu maka ia membeli kado terpisah.


Shi On berterima kasih karena Do Han sudah tak membencnya lagi. Dan karena Do Han tak membencinya, ia tak melihat sosok Do Han yang menakutkan.  Dan jika sebelumnya Do Han membuatnya sangat ketakutan, “Saya hanya sedikit.. sedikit ketakutan,” kata Shi On sambil menunjukkan kadar ketakutannya dengan hanya seujung jari.


Setelah Shi On pergi, Do Han membuka hadiah dan tak dapat menyembunykan senyumnya melihat hadiah Shi On. Stetoskop kuning yang bergambar panda. Aww… so sweet.


Do Han langsung teringat pada hadiah buku yang diberikan adiknya saat ia ulang tahun dulu dengan harapan, “Kalau kakak sudahmenjadi dokter, yang harus kakak sembuhkan pertama kali adalah aku.”


Perawat Jo bertanya pada In Hye, di antara ia, Shi On dan Jin Wook, siapa yang paling tampan? Tentu saja In Hye menjawab Shi On, yang membuat Jin Wook berceletuk kalau sebelumnya ia menempati peringkat pertama. Perawat Jo langsung menimpali kalau ia ada di peringkat kedua.


Perawat Nam menegur Perawat Jo untuk tak mengatakan sesuatu yang tak masuk akal. Hehe.. Gusar dikatai seperti itu, Perawat Jo langsung bertanya apa pria tampan seperti Do Han dan Jin Wook itu mendapatkan uang lebih banyak dari yang tak tampan?


Tak disangka, Shi On langsung menyambar, "Benar. Mereka memperoleh uang lebih banyak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Melbourne University dan Australian National University, rata-rata pendapatan pria tampan 36 ribu dolar lebih banyak dari rata-rata pendapatan pria yang bertampang biasa-biasa saja.


Doenkk.. Mulanya semua bengong mendengar penjelasan Shi On, tapi kemudian semua cekikikan mendengarnya. Hanya perawat Jo yang langsung bermuka masam. In Hye menyimpulkan kalau setiap tahun Perawat Jo pasti setiap tahun kekurangan 36 ribu dolar. Perawat Nam langsung memandangi wajah Perawat Jo dan berkata, “Ckckck.. benar-benar (wajah yang) menyia-nyiakan uang.”


LOL. Perawat Jo semakin cemberut dan berkata kalau Shi On akhir-akhir ini tidak memihak padanya lagi.


In Young muncul, dan suasana yang penuh canda itu tiba-tiba jadi canggung, terutama Jin Wook. Tiba-tiba Shi On bertanya apakah In Young baru saja ambil darah? In Young langsung membantahnya tapi Shi On mengatakan kalau plesteri itu adalah plester khusus dari laboratorium.


Hal itu membuat In Hye dan Jin Wook menoleh khawatir dan In Hye segera membuka plester itu dan mengenali bekas suntikan yang sering ia lihat. In Young mengaku kalau ia cek darah karena meras sedikit lelah, yang membuat In Hye meminta kakaknya tak bekerja terlalu keras.


Ketika In Young pulang, Jin Wook menghentikannya untuk minta maaf atas pengakuannya tempo dulu. Tapi ia tak main-main dengan perasaan itu.

In Young mengerti kalau Jin Wook bukan orang yang seperti itu karena ia mengenal Jin Wook bertahun-tahun. Jadi hal itu semakin membuatnya menyesal karena ia sekarang bukan dalam kondisi yang tepat untuk menerima Jin Wook.


Shi On menemukan In Hye menangis di tangga darurat. Ia menangis karena melihat kakaknya banting tulang untuk mengumpulkan uang untuk operasi transplantasi ginjalnya. Orang tuanya sudah meninggal dan ia merasa seharusnya In Young tak perlu memikirkannya hingga seperti ini. Dan yang semakin membuatnya menangis adalah kebenciannya pada orang yang telah menabraknya.


Shi On terkejut mendengar cerita In Hye yang mengatakan kalau gagal ginjalnya ternyata bukan karena penyakit bawaan, tapi karena ia mengalami tabrak lari. Jika saja si penabrak itu ditangkan dan memberi ganti rugi, maka kakaknya tak perlu susah payah dan hidup seperti itu.


Shi On meminta maaf karena ia tak melihat medical record In Hye dengan lebih teliti. In Hye menggeleng, ia sendiri juga tak ingin membicarakannya, karena ia akan marah jika mengingat hal itu. Ia hanya ingin hidup dan membuat kakaknya menikmati hidupnya. Shi On menggeleng dan berkata kalau ia sakit seperti In Hye, hyung-nya juga pasti akan berbuat sama seperti In Young.


Tapi In Hye tetap merasa hidup kakaknya menyedihkan karena dia. Shi On perlahan merangkul bahu In Hye dan menepuk-nepuknya, mencoba menghiburnya.


Presiden Kim tak khawatir dengan laporan dr. Choi tentang kemungkinan rumah sakit akan dialih fungsi menjadi rumah sakit anak. Berdasarkan kebijakan asuransi di negara mereka, rumah sakit jenis ini susah untuk meraih keuntungan.


Tapi dr. Choi mengatakan kalau mereka akan menjadikan rumah sakit ini menjadi rumah sakit yang ‘mencari keuntungan’. Mereka (yang akan mengalihfungsi rumah sakit) mungkin akan tetap mempertahankan sistem kesehatan yang sekarang ini sambil menunggu perubahan dimana rumah sakit bisa meraih keuntungan.

Tingginya biaya kesehatan anak-anak sudah melebihi biaya perawatan orang dewasa, namun orang tua pasti akan tetap akan menerima hal itu karena demi anak. Dan industri asuransi pasti akan menyambut hal ini sebagai kesempatan untuk meraup keuntungan dari biaya pengobatan anak-anak. Jadi walaupun kualitas pengobatan anak bisa lebih tinggi, tapi biaya kesehatan yang harus ditanggung oleh orang tua akan melonjak jauh lebih tinggi.


Yoon Seo menyapa Do Han yang akan pulang dan menyuruh Do Han bersenang-senang di hari ulang tahunnya bersama Chae Kyung. Tak disangka, Do Han malah mengajak Yoon Seo untuk pergi bersamanya.


Di mobil, Yoon Seo tak dapat menyembunyikan keheranannya dan bertanya apakah Do Han sedang bertengkar dengan Chae Kyung? Do Han membantah hal itu dan berkta kalau hal seperti ini sering terjadi pada orang yang sedang pacaran, “Tapi karena kau tak pernah benar-benar pacaran, kau pasti tak tahu kan?”


Yoon Seo kesal mendengar ucapan Do Han dan berkata kalau ia harus segera punya pacar. Segera! Do Han menimpali kalau itu tak ada gunanya, karena begitu Yoon Seo minum-minum dengan pacarnya, mereka pasti langsung lari.  Tentu saja Yoon Seo berkilah kalau ia tak pernah gemetar di depan pria yang ia suka saat ia sedang minum-minum.


Dengan tenang, Do Han mengatakan kalau Yoon Seo dulu pernah melakukannya. Yoon Seo menoleh kaget, “Apa?”

“Sunbaenim,” ujar Do Han serius, “Sejak dulu, saya sudah su.. su..”


Yoon Se mengerang, menutup wajah malu, sama-sama tahu apa lanjutan kalimat itu. Do Han menoleh dan dengan kejamnya meneruskan, “..suu.. kau menyukai makanan yang direbus?” Do Han terkekeh geli mengingatnya.

Yoon Seo bertanya bagaimana mungkin Do Han masih mengingatnya? Tentu saja Do Han ingat. Ia tak mungkin melupakan bau makguli dari mulut Yoon Seo.


Ahhh… Yoon Seo semakin malu. Ia membuka jendela dan berteriak, meluapkan rasa malunya. Senyum Do Han semakin lebar mendengar teriakan Yoon Seo.


Shi On membeli kopi dan melihat Chae Kyung yang duduk sendirian di sebelah mejanya. Chae Kyung yang mulanya termenung, saat melihat Shi On, ia menyapanya dengan sopan dan tak dapat menyembunyikan rasa gelinya saat Shi On mengerang kepanasan dan semakin lebar saat Shi On menjelaskan kalau ia seperti memasukkan satu kentang panas  utuh ke dalam mulutnya.


Ia pun bertanya apakah Shi On sudah memikirkan pertanyaanya tentang  apa yang harus Shi On lakukan demi Do Han? Shi On mengiyakan. Ia sudah memikirkan jawabannya. Dan dengan gaya khasnya, ia menjelaskan jawabannya.  Yaitu satu, tidak melanggar kata-katanya. Jadi jika Do Han mengatakan tidak, maka ia tak boleh melakukan.


Chae Kyung geli mendengar ucapan Shi On yang polos. Namun tawanya terhenti saat Shi On menyebutkan jawaban keduanya, yaitu menemani Do Han saat ia kesepian. Chae Kyung bertanya apakah Do Han sering sendiri? 


Shi On mengiyakan. Do Han selalu sendirian saat main basket, saat makan juga. Bahkan Do Han juga jarang tersenyum dan itu sangat mirip dengannya. “Untuk tersenyum, dibutuhkan 18 otot, tapi bagi Profesor otot-otot itu tak ada gunanya.”


Chae Kyung tersenyum mendengar ucapan Shi On, walau terlihat ia memikirkan kata-kata Shi On.


Yoon Seo berteriak kegirangan saat lemparran bolanya menyapu habis pin biliar dan Do Han kelihatan kesal. Yoon Seo menggoda Do Han, dengan mengatakan kalau di ruang operasi, tangan Do Han itu adalah tangan emas tapi kemampuan bowlingnya biasa-biasa saja.


Do Han bersungut-sungut menjawab kalau Yoon seo sudah bukan anak-anak lagi, tapi mengapa suka dengan mainan seperti ini. Betapa kagetnya ia karena Yoon Seo mengatakan Do Hanlah yang membawa ia kemari di musim semi 2008.


Do Han sekarang mengingatnya karena di hari itu Yoon Seo mengatakan suka padanya. Yoon Seo kesal karena Do Han mengungkit hal itu lagi. Do Han bertanya mengapa Yoon Seo tak pernah mengatakan suka lagi padanya setelah hari itu? Yoon Seo menjawab karena setelah itu Do Han pacaran dengan Chae Kyung.


Ia mengaku kalau ia tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Chae Kyung. Bahkan di matanya sebagai seorang wanita, Chae Kyung sangatlah keren. Tapi Do Han mengatakan kalau Yoon Seo juga keren. 


Tentu saja pernyataan Do Han ini tak dipercayai Yoon Seo, membuat Do Han kesal dan menjitak kepala Yoon Seo sambil berkata, “Kalau aku berkata seperti itu, berarti memang seperti itu. Kenapa kau selalu melawan kata-kataku?”

Yoon Seo kesal dan berkata kalau ia sekarang menahan dirinya hanya karena hari ini Do Han ulang tahun.


Malam itu Shi On kembali mimpi buruk tentang kejadian di goa tambang. Sementara itu dr. Choi juga teringat bagaimana ia mengajari Shi On untuk berlaku baik setelah kejadian di tambang itu. 


Ia bahkan mengajarkan Shi On bagaimana mengucapkan anyeong haseyo dengan benar. Dan ia melihat betapa ibu Shi On terus melamun dan memandang keluar klinik.


Dan Shi On muncul untuk menemuinya. Dr. Choi bertanya apakah Shi On memerlukan sesuatu? Shi On berkata kalau ia terus bermimpi kejadian di goa saat-saat hyung-nya akan pergi ke surga. Sebelumnya, ia tak dapat ingat dengan jelas tentang kejadian itu, tapi dengan mimpi-mimpi yang selalu datang padanya, perlahan-lahan ia bisa mengingatnya, “Dan sekarang saya bisa mengingat semuanya.”


Dr. Choi terkejut mendengar ucapan Shi On. Apalagi saat Shi On bertanya mengapa saat itu dr. Choi menyelamatkannya dan bukan kakaknya, “Hyung lebih kuat dan lebih pintar daripadaku. Dan banyak orang akan suka jika Anda lebih dulu menyelamatkan hyung.”


dr. Choi mengatakan kalau hal itu tidaklah benar. Tapi Shi On terus berkata kalau dr. Choi menyelamatkannya karena dr. Choi tahu kalau ia memiliki kemampuan yang spesial dan dr. Choi menyelamatkannya karena ingin Shi On menjadi dokter juga, “Seharusnya saya .. saya yang pergi ke surga saat itu.”

dr. Choi agak ragu, namun kemudian bertanya, apakah Shi On benar-benar ingin tahu mengapa ia melakukannya?


Setelah itu kita melihat Shi On berjalan dengan gontai, terus mengingat apa yang dr. Choi katakan padanya, “Karena saat itu, aku melihat kesempatan hidupmu jauh lebih besar, dari nafas dan denyut nadimu. Jika saat itu Shi Deok memiliki kesempatan yang lebih besar untuk hidup, maka aku akan menyelamatkannya. Karena.. aku .. adalah dokter”


Shi On terus memikirkan hal itu dan menenggelamkan dirinya dalam soju, sementara dr. Choi duduk termenung di ruangan.

Komentar :


Perasaan bersalah sebagai orang yang masih hidup sementara yang lainnya tidak, terus menghantui Shi On. Ia selalu berkata hyung dan kelinci pergi ke surga, dan mengucapkan itu seolah mantra. Namun mimpi itu selalu menghantuinya, membuat ia berpikir bagaimana jika saat itu dr. Choi tak menyelamatkannya? Dr. Choi memilih menyelamatkannya, karena sebagai dokter ia harus menyelamatkan orang yang memiliki kesempatan hidup lebih besar.


Pasti banyak sekali pengandaian yang ada di kepala Shi On saat ia menenggelamkan diri ke soju. Ia melihat tangan kakaknya bergerak. Jika saja masker diberikan pada kakaknya, mungkin kakaknya bisa hidup. Jika saja dr. Choi menyelamatkan kakaknya dulu, mungkin kesempatan hidup kakaknya jauh lebih besar.

Namun kata-kata dr. Choi menyentaknya, “Karena aku adalah dokter.” Apakah memang harus seperti itu? Karena dr. Choi adalah dokter, maka ia tak berpikir siapa yang lebih baik untuk hidup, tapi berpikir siapa yang lebih besar kesempatannya untuk hidup?


Saya merasa hubungan dr. Choi dengan ibu Shi On sedikit berbeda. Apakah ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua, yang belum kita ketahui? Ataukah perhatiannya pada ibu Shi On hanya karena ia peduli dengan Shi On?


12 comments :

  1. Akhirnya ada ep 11 nya u.U lama bgt nunggunya.. disana udh sampe ep 14 mba dee, lha disini? Huhu ._. Gapapalah yg penting nyampe tamat aku tungguin, Jia You mba dee, fighting (҂'̀⌣'́)9

    ReplyDelete

  2. Mba Dee, part 2nya blom jadi ya mba ?

    Terimkasih udah membuat sinopsis yg menurut aq sangat bagus.

    Fighting !!!

    ReplyDelete
  3. Senang liat Yoon seo dan Do han ketawa ^-^

    Ditunggu sinopsis selanjutnya noona,, figting ^^

    ReplyDelete
  4. ceritanya semakin menarik ,,
    tolong update trs ya mbk Dee. saya tunggu ep 11 part 2 nya ...
    semangatt !! :)

    ReplyDelete
  5. Mba dee, saya sempat berpikir mungkinkah Shi On anaknya dr.choi...hahaha ngayal.com....abaikan...

    ReplyDelete
  6. Yoon seo-Do Han... Ayo jadian!
    Akhirnya bisa liat Chae Kyung senyum semanis gula.. Dan itu krn uri Shi On..
    Dokter park Jjang!
    Tengkyu mb Dee.. Gak apa2 telat sinopsisnya, dimaklumi kok. Soalnya ngerecap drama kyk gini khan lumayan susah.. Blom lagi harus nyari arti istilah2 kedokteran yg kl dibaca suka bikin lidah kepeleset (?) plus bikin kepala puyeng hehe..
    Fighting mb Dee..

    ReplyDelete
  7. Ditunggu y part 2 nya.. Makin seru.. Semangat

    ReplyDelete
  8. Mbak cia you
    Part 2 di tunggu y
    Semangat y mbak
    FIGHTING!!

    ReplyDelete
  9. Seperti nya yg menabrak in hye itu bapak nya shi on (hanya tebakan)

    ReplyDelete
  10. And........ asdfghjkl
    Love this Dramaaaa dan suka bgt sma Doo Han Yoon Seo

    ReplyDelete