July 23, 2013

Sinopsis Architecture 101 / Introduction to Architecture - Part 2 (End)


Pada jaman dahulu kala, di kutudrama ada Sinopsis Architecture 101 - Part 1. Tapi tidak tamat. Entah apa sebabnya, saya sendiri juga tak tahu. Dari dulu saya ingin melanjutkan sinopsis ini, tapi tetap saja nggak kesampaian. Entah kenapa sekarang saya membuka file ini lagi dan menulisnya hingga selesai, padahal lebih banyak yang menunggu sinopsis akhir My Daughter Seo Yeong. 

Mood saya emang nggak bisa ditebak. Heheh.. Klik di sini untuk tahu cerita sebelumnya


Sinopsis Architecture 101 / Introduction to Architecture - Part 2 (End)


Mata Seo Yeon terbuka membuat Seung Min kaget. Ia terpaku, menanti reaksi Seo Yeon.

Mata Seo Yeon berkedip . Dan berkedip lagi, saat Seo Yeon berkata, “Aku ingin pipis.”

Seung Min terbelalak menatap mata Seo Yeon.  Apakah ia tadi merasakannya? Atau tidak? Tapi tak ada waktu untuk mencernanya, karena ada kebutuhan khusus yang harus tersalurkan.

Pipis. LOL.


Karena tak ada tempat yang layak, jadilah Seo Yeon buang air kecil di belakang halte. Seo Yeon menyuruhnya untuk menjagai tasnya dan berdiri agak jauh, “Tapi jangan terlalu jauh.”


Ciuman itu Seung Min ceritakan pada Nap Tteuk. Tapi menurut Nap Tteuk itu bukan ciuman, karena berciuman itu bibir akan seperti ular. Dan dengan gaya dramatis juga hot, Nap Tteuk memeragakan cara berciuman. Namun karena demonya demo tunggal, jadinya kelihatan tidak seperti berciuman malah seperti orang gatal-gatal. LOL. Seung Min saja sampai melongo melihatnya.

Nap Tteuk mencemooh ciuman Seung Min yang menurutnya hanya kecupan bersahabat, apalagi Seung Min melakukannya saat Seo Yeon tertidur.


Seung Min terpekur, mengingat apa lagi yang telah mereka lakukan yang lebih dari hubungan pertemanan. O iya. Seung Min teringat akan permainan meniti rel kereta api. Saat itu Seo Yeon memukul tangannya karena ia kalah.

Nap Tteuk mengeluh karena melihat Seung Min yang naïf banget. Seung Min mencoba meyakinkannya, “Kalau ia tak menyukaiku, ia tak mungkin kan menyarankan untuk memukul tangan? Bahkan kami berpegangan tangan..”


Melihat tatapan Nap Tteuk, Seung Min berhenti bicara dan bertanya ragu, “Benar, kan?”

Jawaban  Nap Tteuk hanya, “Terus harusnya dipukul dimana? Dipukul dimulut, gitu?”

Dan Seung Min pun menghela nafas pasrah.


Suara Seo Yeon  yang sedang siaran radio terdengar saat Seung Min berlari menuju gedung Fakultas Musik. Setelah Seo Yeon menyelesaikan tugasnya sebagai penyiar radio, Seung Min telah menunggunya di luar gedung. Ia tersenyum dan melambaikan tangan pada Seo Yeon yang membalas lambaiannya.


Tapi kegembiraan Seung Min berkurang saat melihat Jae Uk di belakang Seo Yeon. Jae Uk mengajak Seo Yeon pulang dan mereka pun pulang bertiga.


Di mobil, hanya Seo Yeon dan Jae Uk saja yang ngobrol karena Seung Min tidur. Jae Uk menanyai hubungan Seung Min dengan Seo Yeon, mengira mereka teman dekat. Dan Seo Yeon menjawab  mereka cukup dekat. Jae Uk pun menyuruh mereka jadian saja, yang langsung dibantah oleh Seo Yeon.

Jae Uk sepertinya senang dengan jawaban Seo Yeon. Ia pun mengomentari kaos Guess Seung Min, “Guess seharusnya ditulis Gue, bukan dengan Geu, kan?” Seo Yeon menoleh ke belakang. Mengira Seung Min tidur lelap, Seo Yeon pun ikut tertawa.


Tapi Seung Min tidak tidur karena ia pelan-pelan menggeser kemejanya sehingga sedikit menutupi kaos Geuss –nya.

Seo Yeon bertanya tentang biaya hidup di Seoul jika menyewa apartemen karena ayahnya menyuruhnya mencari rumah. Jae Uk pun mengajak Seo Yeon untuk datang ke apartemennya untuk melihat-lihat daerahnya. Malu-malu, Seo Yeon pun mengiyakan dan akan datang kapan saja sesempatnya Jae Uk.


Mereka dikagetkan oleh Seung Min yang tiba-tiba bangun dan pamit pulang duluan. Jae Uk mengomentari Seung Min yang cuek, tapi Seo Yeon sedikit bengong dan hanya memandangi Seung Min yang keluar mobil dari kaca spion.


Sesampainya di rumah, Seung Min langsung melepas kaos Guess-nya dan membanting ke lantai. Ibu yang melihat kelakuan anaknya bertanya apakah ada masalah dengan Seung Min. Bukannya menjawab, Seung Min malah bertanya pada ibunya, “Bu, bisa tidak kita pindah rumah? Kita pindah ke apartemen di Gangnam?”

Ibu langsung memukul Seung Min karena permintaan yang tak masuk akal itu. Sambil memungut kaos Geuss Seung Min, Ibu menyuruh Seung Min untuk mencari uang sendiri untuk pindah rumah di Gang Nam. Seung Min meminta ibu membuang kaos itu, namun langsung dibentak oleh ibu, “Kaos ini masih bagus, kenapa harus dibuang? Apa kau pikir mencari uang itu gampang? Hari ini aku hanya menjual barang seharga 20 ribu won. Benar-benar menyedihkan!”


Seung Min malah marah mendengar omelan ibu dan keluar dengan menendang pintu gerbang rumah hingga pintu seng itu penyok. Ibu marah-marah melihat kerusakan itu, tapi Seung Min hanya memandangi pintu itu dan pergi.

Hhhh… remaja galau.


Kemana lagi Seung Min pergi kalau bukan menemui Nap Tteuk? Sahabatnya itu memberi saran paling akhir. Jalan satu-satunya adalah  mengungkapkan perasaannya  pada Seo Yeon, “Ajak ia kencan di hari pertama salju turun.”

Seung Min mengerutkan kening, “Apa itu seperti pengakuan cinta?” Ha, menurut saya juga bukan pengakuan cinta. Ngajak kencan, iya. Tapi Nap Tteuk hanya mendesah, menganggap Seung Min tak tahu apa-apa, “Seperti mengajarkan kalkulus pada anak yang tak mengerti faktorisasi.” Ia menyalakan rokok dan menghisapnya.

Widihhh… bahasanya si Nap Tteuk ini dalem banget..


Seung Min merasa lebih baik kalau ia akan melupakannya, “Aku hanya ingin Seo Yeon bahagia.” Dan Seung Min pun meminta satu rokok untuk dicoba. Nap Tteuk tak mau karena hanya orang dewasa yang merokok. LOL.

Tapi benar juga, sih, karena Seung Min batuk-batuk di hisapan pertama.


Rupanya Seo Yeon sudah pindah rumah. Dan Seung Min membantu membawakan lemari yang akan ditaruh Seo Yeon di dalam apartemennya. Seo Yeon menunjukkan apartemennya, “Kau harus merasa tersanjung karena kau adalah tamu pertama yang datang ke tempatku.”


Seung Min membantu Seo Yeon untuk memasang gorden sementara Seo Yeon berbenah. Mereka melihat-lihat album foto Seo Yeon saat kecil. Seo Yeon menunjukkan foto ayahnya yang berfoto dengannya di depan rumah mereka di Jeju.


Setelah selesai, Seung Min pun pulang. Tapi Seo Yeon bersikeras untuk mengantarkan Seung Min di halte bus. Seung Min mengumpulkan keberanian dengan membicarakan hari pertama di musim salju. Tapi ajakan kencan itu tak keluar juga dari bibir Seung Min. Ia malah berbicara tentang musim.

Hingga Seo Yeon berkata, “Ayo.. kita ketemu di hari pertama bulan salju. Pasti menyenangkan. Kita bertemu di rumah kosong dekat rumahmu. ”


Aww… Seung Min bengong namun mengiyakan dan Seo Yeon melingkarkan kelingkingnya ke kelingking Seung Min, “Janji!”


Di kamarnya, Seung Min menari jejingkrakkan dengan CD yang terpasang di alat pemutar piringan hitam. Bisa menyala? Ya, nggak lah.. Tapi hal itu tidak masalah bagi Seung Min. Ia terus menari-nari dengan musik yang ada di kepalanya.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia membuka-buka buku dan menemukan apa yang ia cari. Denah rumah impian Seo Yeon.


Kembali ke masa sekarang, Seo Yeon tergesa-gesa berlari di rumah sakit. Rupanya dokter memberi kabar kalau kondisi ayahnya menurun dan bermasalah walau sekarang sudah . Saat menyuapi ayahnya, ayah sering termenung lesu dan motorik ayah sudah tak begitu bagus sehingga makanan selalu jatuh saat disuapkan ke mulut ayah.


Saat Seung Min memeriksa perkembangan rumah, ia kaget melihat Seo Yeon sedang beberes barang-barangnya. Mereka pun pergi makan siang bersama. Seo Yeon mencoba meminta rumahnya diperluas lagi, tapi Seung Min mengatakan tak ada lagi tempat yang bisa diperluas.


Mereka melewati sebuah rumah dan Seo Yeon sempat mengintip rumah itu, rumah bekas guru pianonya. Tapi Seung Min sudah tak sabar dan ingin makan, membuat Seo Yeon menggerutu karena yang ada di pikiran Seung Min hanya makanan saja.

Sebenarnya Seung Min ingin makan karena ingin mentraktirnya sup rumput laut. Seo Yeon menoleh heran, “Sup rumput laut?”

“Bukankah sekarang hari ulang tahunmu? 11.11. 11 November,” kata Seung Min menjelaskan.


Seo Yeon menatap Seung Min membuat Seung Min salah tingkah. Dan Seo Yeon berbalik, meneruskan langkahnya sambil tersenyum-senyum, membuat Seung Min heran dan bertanya, “Kenapa? Apa kau sudah mengganti hari ulang tahunmu?”

Seo Yeon menggeleng tapi tetap tersenyum membuat Seung Min penasaran. Maka Seo Yeon hanya menjawab santai, “Karena kau lucu. Pintar.”


Di restoran, Seo Yeon memakan sup rumput lautnya, namun ia masih menagih hadiah pada Seung Min. Seung Min mengelak, tak ingin memberi. Sup rumput laut sudah cukup. Tapi Seo Yeon tetap menagih hingga Seung Min pun mengalah, “Kau minta apa? Apa”

“Aku ingin menaruh piano di kamar. Buatkan sebuah kamar yang bagus,” pinta Seo Yeon. Seung Min sudah akan beralasan, tapi Seo Yeon memberikan alasannya, “Aku sudah mempertimbangkan semuanya. Aku ingin pindah kemari setelah menyelesaikan semua urusan. Ayahku..,” Seo yeon menunduk mencoba menutupi kegelisahannya.


Ia memaksakan senyum saat menjelaskan kalau menurut dokter taka da gunanya bagi ayah untuk tetap tinggal di rumah sakit. Umur ayahnya tinggal 1 – 2 tahun lagi, “Walau waktunya tak lama lagi, tapi jika aku menyertai ayah di saat terakhirnya dengan tinggal bersama, sepertinya tidak begitu buruk. Setidaknya tak ada penyesalan dariku.”


Air mata Seo Yeon menitik, namun buru-buru dihapusnya, “Dan juga aku dapat menggunakan kesempatan ini untuk menata ulang kembali hidupku. Awal yang baru di kota asalku,” Seo Yeon tersenyum ceria, “Sangat keren, kan?”


Dan yang terjadi kemudian adalah Seung Min memberitahukan kalau klien mereka, Seo Yeon meminta penambahan bangunan. Yang marah mendengar hal ini adalah Eun Chae. Eun Chae menganggap Seo Yeon sangat keterlaluan,”Pembangunan rumahnya akan selesai minggu depan. Dan sekarang, apa ini? Apa dia bercanda?”

Seung Min mencoba menjelaskan kalau Seo Yeon bersedia membayar biaya tambahan, tapi  Eun Chae  malah tambah emosi, “Apa semua ini hanya tentang uangnya? Mendesain ulang itu butuh waktu setidaknya sebulan. Lalu bagaimana dengan jadwal bulan madu kita? Apa kau lupa kalau pernikahan kita itu bulan depan?”

Seung Min masih mencoba menjelaskan kalau Seo Yeon ingin kembali ke kota asalnya, tapi Eun Cha malah membentak, “Itu adalah urusannya sendiri!! Aku tak bisa menyetujuinya. Aku tak mau melakukannya.”
Akhirnya bosnya mencoba menengahi. Ia yang akan meneruskan proyek ini dan Seung Min tak perlu memikirkannya lagi, “Mulai sekarang, persiapkanlah pernikahanmu dengan baik.”


“Aku akan melakukannya,” kata Seung Min pelan. Ia menatap tunangannya dengan pandangan memohon, “Aku akan menyelesaikannya. Biarkanlah aku melakukannya.’


Memenuhi permintaan Seo Yeon, ia akan menaruh piano di kamar yang seharusnya menjadi kamar tidur Seo Yeon. Dan karena rumah sudah tak bisa diperluas lagi, maka kamar Seo Yeon akan diletakkan di lantai dua.


Seung Min pun bekerja siang malam di rumah itu bahkan tidur di lokasi, mengawasi pembangunan  sehingga tak ada satupun kesalahan kecil yang terlewat. Seo Yeon juga kadang singgah di lokasi proyek, juga mengemasi barang-barang di rumahnya, walau ia tetap mengunjungi ayahnya di rumah sakit.


Seo Yeon mengunjungi rumah yang sudah hampir selesai. Ia naik tangga menuju ke kamarnya. Dan damn.. walau kamarnya belum jadi, saya sudah membayangkan kamar itu dengan jendela yang mengarah ke laut. Betapa cantiknya pemandangan yang diperoleh Seo Yeon saat bangun pagi. Laut yang terhampar luas dengang deburan ombak dan burung-burung yang mungkin akan hinggap di atap rumah.


Dan luar kamar pun juga tak kalah cantiknya. Seo Yeon mencopot sepatunya untuk merasakan rumput yang mengelilingi atap rumah utama. Whoaa…


Namun bukan itu yang membuat senyum Seo Yeon mengembang. Ia tersenyum melihat Seung Min yang tertidur di halaman rumput itu, kelelahan dan laptop masih terbuka. 


Seo Yeon berbaring di sebelahnya, memandangi Seung Min yang pulas. Dengan ujung jarinya, ia menyentuh bibir Seung Min dan langsung menariknya lagi saat Seung Min bergerak karena sentuhannya.


Tetap tersenyum, Seo Yeon pun ikut memejamkan mata dan tertidur.


Kembali ka kelas Pengantar Arsitektur. Hari ini adalah kuliah terakhir Pengantar Arsitektur. Seo Yeon gelisah, menoleh kiri kanan, berharap menemukan sosok Seung Min. Tapi sampai kelas berakhir sosok itu tak muncul juga. Ia mengecek pagernya, tapi tak ada satupun pesan darinya.


Ia menoleh saat ada yang menepuk bahunya. Ternyata Jae Uk yang menyapanya. Jae Uk ternyata baru tahu kalau Seo Yeon sudah pindah ke apartemen. Ia mengajak Seo Yeon untuk datang ke acara perpisahan kelas Pengantar Arsitektur. Seo Yeon malah bertanya tentang absennya Seung Min hari ini. Jae Uk menjawab tak tahu.


Ternyata Seung Min bolos kelas karena menunggu Seo Yeon di apartemennya. Ia mencoba melatih pengakuan cintanya, tapi ia tetap merasa tidak oke, hingga akhirnya ia memutuskan akah mengatakan ‘Aku menyukaimu’. Itu saja. Tapi ia datang untuk mengaku tak hanya dengan tangan kosong, melainkan membawa maket rumah impian Seo Yeon.


Seo Yeon ternyata belum pulang ke rumah karena menghadiri acara perpisahan kelas. Tapi pikirannya tetap pada Seung Min. Ia menyelinap pergi untuk menelepon, menaruh pesan pada pager Seung Min, meminta Seung Min mengirimkan pesan ke pagernya setelah Seung Min menerima pesannya.


Jae Uk mendatanginya dan menawarinya minum soju. Seo Yeon menolaknya karena ia juga tak pernah minum, tapi Jae Uk pun mengaku kalau ini adalah pertama kalinya meminum soju (boong banget).


Seung Min menunggu Seo Yeon di samping apartemen Seo Yeon hingga malam. Hingga ada mobil berhenti di depan apartemen. Seung Min mengintip dan kaget melihat Seo Yeon yang mabuk dan dipapah oleh Jae Uk. Seo Yeon terjatuh dan Jae Uk pun juga ikut terduduk. Jae Uk memanggil-manggil Seo Yeon, tapi Seo Yeon tak merespon. Jae Uk pun mencoba mencium Seo Yeon.


Seung Min buru-buru menunduk. Ia tak melihat kalau Seo Yeon yang walau tak sadar, tetap menghindar dari ciuman Jae Uk. Tak hanya sekali, tapi dua kali Seo Yeon menghindar. Seung Min hanya melihat Jae Uk yang memapah Seo Yeon masuk ke dalam apartemen.


Ia melihat lampu apartemen Seo Yeon menyala. Ia pun mendatangi hingga di depan pintu apartemen. Tapi tak terdengar suara apapun. Ia pun menempelkan telinga di pintu, menguping. Dan ia pun meninggalkan gedung apartemen dengan hati pecah.

Seung Min berjalan gontai. Ada taksi yang menghampiri dan menawarkan jasanya. Tapi saat Seung Min berkata arahnya adalah Jeungneung (yang jauh sekali padahal sudah malam), supir taksi itu tak mau membawanya, membuat Seung Min kesal dan mengatai supir itu.


Supir itu kesal, tapi masih menahan kesabaran. Ia menarik Seung Min dan menolak mengantarkan. Tapi Seung Min yang memegangi pintu mobil, masih tetap minta diantarkan hingga supir taksi itu marah dan memukuli Seung Min.


Akhirnya Seung Min pulang berjalan kaki. Ia bertemu dengan Nap Tteuk yang marah bukan main setelah mendengar ceritanya. “Ia benar-benar wanita yang pantas mati. Dasar jalang. Luapkan dia. Dia bukan satu-satunya wanita. Aku tak akan mau dengannya walau kau memberikannya gratis,” tukasnya geram. “Aku akan mempertemukanmu dengan banyak gadis cantik saat aku kuliah tahun depan.”


Seung Min mencoba menalar, mungkin saja Seo Yeon dan Jae Uk tak melakukan apa-apa. Mereka mabuk dan Jae Uk hanya mengantarkan pulang. Nap Tteuk hanya memandangi sahabatnya, tak merespon ucapan Seung Min dan mengatakan kalau ia akan membawa Sing Sung dan Sing Sung 1. Dan di hari pertama turun salju, mereka akan berkencan ganda.


Mendengar hari pertama turun salju, Seung Min malah meneteskan air mata. Melihat itu, Nap Tteuk semakin mencoba menghibur Seung Min dengan mengatakan rencananya di hari itu. Bermain salju dan memukul pergelangan tangan. Tapi sia-sa. Air mata Seung Min terus menetes, dan akhirnya ia menangis tersedu-sedu.


Nap Tteuk akhirnya hanya memeluk sahabatnya yang menangis karena kehilangan cinta pertamanya.


Pagi itu, Seo Yeon keluar apartemen dengan langkah biasa untuk membuang sampah. Dan ia terpaku saat melihat sebuah maket dengan gambar desain yang pernah ia gambar dulu.


Rumah Seo Yeon akhirnya jadi juga. Dan whoa… benar-benar bagus! Bagaimana caranya saya bisa menyewa jasa Seung Min, ya?

Rumah lama Seo Yeon sekarang masih seperti rumah lamanya, tapi dengan banyak sentuhan baru. Rumah induk masih bertembok bata dan beratap genteng, namun rumah itu diperluas dengan atap minimalis  dan jendela yang lebar.


Tak hanya itu. Jendela kaca lebar itu bisa dibuka selebar-lebarnya, seperti pintu geser untuk garasi rumah. Di depan jendela kaca, ada tembok potongan-potongan kayu melintang yang juga bisa digeser ke arah sebaliknya.


Seung Min memotret bagian-bagian rumah itu dan menoleh saat melihat Seo Yeon datang dengan membawa seluruh barang-barangnya, siap pindah rumah.


Malamnya, mereka menanam pohon, dan itulah hal terakhir yang mereka lakukan. Rumah sudah cantik terisi. Seung Min bertanya kapan Seo Yeon akan pindah rumah. Seo Yeon menjawab kalau ia telah menyelesaikan segala urusan di Seoul dan ayah boleh keluar dari rumah sakit.


Mereka duduk di sofa dan Seo Yeon tersenyum karena rumahnya telah selesai. Seung Min bertanya bagaimana perasaan Seo Yeon sekarang. Seo Yeon merasa keputusannya tepat membangun rumah ini. Dan ia pun bertanya balik, “Bagaimana perasaanmu?”


Seung Min tersenyum kecil dan menunduk,”Bagaimana ya?”


“Kenapa? Apa kau tak menyukainya?” tanya Seo Yeon. “Bukankah kau dulu berjanji akan membuatkan rumah untukku? Apa kau lupa?” Seung Min tak menjawab, hanya menatap Seo Yeon yang kemudian bertanya lagi, “Katakan padaku. Kenapa saat itu kau baik padaku?”


“Karena aku  menyukaimu,” jawab Seung Min jujur.

Seakan terpana, Seo Yeon diam membalas tatapan Seung Min dan kemudian dengan kalem berkata, “Apa ini pengakuan? Sudah lama sekali..”

“Apa kau tahu?”


“Apa aku ini bodoh? Bagaimana mungkin aku tak tahu..,” Seo Yeon menunduk saat berkata lagi, “Kau bahkan menciumku.Saat aku tidur. Itu adalah ciuman pertamaku.”

Jika Seung Min kaget pun, ia berusaha tak menampakkannya. Ia terdiam dan akhirnya bangkit sambil meraih tasnya, “Sudah saatnya aku pergi.”


Seo Yeon sedikit terkejut dengan sikap Seung Min yang tiba-tiba, tapi ia mengiyakan dan mengantarkan Seung Min keluar. 


Di dekat pintu masih ada beberapa kotak yang belum diangkut ke atas. Seung Min berkata kalau ia akan membawa kotak itu masuk sebelum ia pergi. Seo Yeon mencoba mencegahnya, tapi Seung Min sudah keburu mengangkat satu kotak teratas.


Dan Seung Min melihat kotak di bawahnya. Ada kertas seperti gambar rumah, mirip seperti yang Seo Yeon buat. Seung Min berjongkok dan segera membuka kotak itu. Di dalamnya ada maket yang sudah menguning, yang tak salah lagi adalah maket yang dulu pernah ia buang di tong sampah.


Seo Yeon terdiam dan setengah menuduh, Seung Min bertanya alasan Seo Yeon datang mencarinya. Padahal ada sekian banyak arsitek di Seoul, “Kenapa kau baru mencariku sekarang? Kenapa?”

Lenyap sudah ekspresi kalem yang tadi muncul di wajah Seo Yeon. Seo Yeon tertunduk lama dan menjawab pelan, “Karena penasaran. Bagaimana dirimu sekarang.. seperti apa dirimu sekarang. Aku ingin tahu.”

Entah kenapa Seung Min malah marah mendengarnya,”Hanya karena penasaran? Hanya itukah? Apakah karena itu kau menyimpan barang rusak ini hingga sekarang?” tanya Seung Min tinggi sambil menendang kotak maket itu.


Seo Yeon akhirnya menatap Seung Min dan berkata dengan nada yang sama, “Ya. Aku memang menyimpannya. Aa aku tak boleh menyimpannya? Aku.. Karena aku.. Karena kaulah cinta pertamaku!”


Seung Min terpana. Namun Seo Yeon sudah terisak dan memalingkan wajahnya, tak ingin terlihat menangis. Seung Min pun maju dan mencium Seo Yeon.


Kembali ke masa lalu. Seo Yeon menunggu kemunculan Seung Min. Ia ingin menemui Seung Min karena selama ini ia tak dapat menghubungi Seung Min. Seung Min diam tak menjawab. Ia malah mengeluarkan CD Exhibition milik Seo Yeon dan mengembalikannya dan dengan dingin berkata, “Aku tak punya CD player, jadi aku tak bisa mendengarkannya. Dan juga jangan mencariku lagi.”

Seo Yeon tentu saja bingung, “Mengapa? Kau ini ngomong apa, sih?”


“Sekarang.. bisakah kau.. menyingkir?” tanya Seung Min perlahan.


Namun kata-kata lirih sangat menusuk Seo Yeon.  Ia hanya bisa memandang Seung Min yang pergi meninggalkannya tanpa menoleh sedikitpun.


Seung Min termenung. Ia hanya diam saat menemani Eun Chae yang mencoba baju pengantin dan menjawab pendek-pendek pertanyaan Eun Chae yang menanyai pendapatnya tentang gaun yang dicobanya.


Di rumah sakit, ayah Seo Yeon merasa sesak nafas. Bukan karena sakit tapi karena ia ingin pulang. Seo Yeon pun mengiyakan. Sebentar lagi ayahnya akan pulang karena rumah mereka telah selesai. Ia pun membuka handphonenya untuk menunjukkan rumah mereka yang baru.


Satu persatu sudut rumah ditunjukkan, hingga ke sebuah foto. Foto Seung Min yang sedang berdiskusi dengan para pekerja yang ia ambil diam-diam. Ayah bertanya siapa pria itu. Dengan suara tercekat, Seo Yeon menjawab, “Hanya .. seorang teman.”


Seung Min mengungjungi rumah ibunya. Dan di sana ia bertanya, “Bu, apakah aku tak usah pergi ke Amerika saja?” Ibu heran mendengar Seung Min yang tiba-tiba berkata aneh, tapi Seung Min memiliki alasan, “Ibu nanti sendirian. Aku akan mengkhawatirkan Ibu.”

Ibu menyuruh Seung Min untuk menghentikan pikiran tak masuk akal itu. Ia memberikan buku tabungannya sebagai hadiah pernikahan Seung Min. Tapi Seung Min malah kesal. Uang itu adalah uang hasil penjualan toko ibu, seharusnya dengan uang itu, ibu membeli apartemen dan pindah dari rumah ini.

Tapi ibu tak menggubris kekesalan Seung Min. Ibu hanya minta Seung Min untuk memperlakukan Eun Chae dengan baik,”Aku sudah tinggal di sini selama 30 tahun. Dimana lagi aku dapat tinggal dengan nyaman? Aku ingin menghabiskan hidupku di sini sampai aku mati.”


Seung Min tak suka mendengarkan ibunya berbicara tentang kematian. Ibu belum akan mati. Tapi ibu berkata kalau semua orang akan mati jika sudah tua, “Mana mungkin kau bisa bosan pada sebuh rumah? Rumah itu hanyalah sebuah rumah.”

Seung Min memandangi ibunya yang sibuk membuka ikatan plastik. Ibunya yang sudah tua, memakai kaos lamanya, kaos GEUSS dengan nyaman, tak memandang kaos itu bermerek atau tidak.


Di luar rumah, Seung Min merokok dan melihat pintu yang dulu ditendangnya, sampai sekarang masih peyok, tak diperbaiki. Ia mencoba memperbaiki, tapi sia-sia. Pintu seng itu masih tetap peyok walau ia mencoba mengembalikannya dengan sekuat tenaga. Merasa mustahil memperbaiki (pintu atau masa lau?), Seung Min pun menangis.


Kembali ke tahun 90-an, di hari pertama turun salju. Seo Yeon menepati janjinya dengan pergi ke rumah kosong itu. Tapi walau pun menunggu hingga malam hari, Seung Min tetap tak datang juga. Seo Yeon akhirnya mengeluarkan CD Exhibition dan kali ini dengan pemutar CD-nya dan ia tinggalkan kedua barang itu di lantai teras.

Dengan sedih Seo Yeon memandangi pot-pot bunga yang belum sempat bertunas padahal musim dingin sudah datang. Dan ia pun pergi.


Ke mana Seung Min? Ia hanya berbaring di kamarnya.


Seung Min dan Eun Chae naik pesawat. Sepertinya mereka telah menjadi suami istri. Tapi Seung Min masih sering termenung jika sendirian. Walau saat Eun Chae bangun, ia menyelimuti tubuh Eun Chae dengan perhatian.


Sedangkan Seo Yeon sudah tinggal bersama ayahnya dan menjadi guru piano. Ayahnya tampak senang sekali. Ia duduk di halaman, memandangi kolam kecil yang masih menyisakan tapak kaki Seo Yeon kecil.


Ada seorang kurir datang membawa paket untuk Seo Yeon. Dari Seung Min. Penasaran, Seo Yeon membuka paket itu dan terkejut. 


Tapi senyumnya mengembang saat mengambil isi paket itu. CD Exhibition dan CD player yang dulu pernah ia tinggalkan di rumah kosong itu.


Dan ia pun mendengarkan lagu yang pernah ia dengar bersama Seung Min di rumah yang Seung Min bangun untuknya.


Komentar :


Entah mengapa, saya merasa hati Seung Min tak akan tenang meninggalkan Seoul. Mungkin banyak penyesalan yang sekarang berkecamuk di dalam hatinya. Apa yang terjadi jika saat itu ia tak main tuduh sembarangan? Walau tak ia ungkapkan, ia menganggap Seo Yeon tidur dengan Jae Uk. Dan karena gengsinya, ia tak mau mengkonfrontir hal itu pada Seo Yeon.


Padahal jika ia tak menunduk, menghindari matanya melihat Jae Uk akan mencium Seo Yeon, ia akan melihat kalau dalam mabuknya pun, Seo Yeon menolak dicium oleh Jae Uk. Dua kali Jae Uk mencoba menciumnya, dua kali itu pula Seo Yeon menolaknya.

Dan mengapa juga Seung Min tak melabrak Jae Uk karena memanfaatkan gadis yang sedang mabuk? Apakah ia rendah diri pada Jae Uk yang kaya? Apakah karena Jae Uk adalah temannya?

Karena tak hadir di akhir kelas Pengantar Arsitektur, Seung Min tak tahu kalau Seo Yeon selalu mencari-carinya. Dan jika Seung Min melek sedikit saja, tanda-tanda kalau Seo Yeon menyukainya sudah sangat jelas. Kata-kata Seo Yeon yang mengajaknya bertemu di hari pertama turun salju sama dengan ucapan Nap Tteuk.

By the way, ada apa dengan romantisme di hari pertama turun salju? Langsung teringat dengan Jung Woo dan Soo Yeon -I Miss You

11 November pun juga pasti hanya alasan Seo Yeon untuk bertemu dengan Seung Min. ia adalah seorang gadis, sangat mustahil bagi gadis –apalagi di jaman itu- untuk terang-terangan membuka perasaannya pada pria yang disukainya.


Pintu seng yang penyok ibarat cinta pertama Seung Min. Pintu itu sudah rusak dan tak bisa diperbaiki lagi. Makanya, saat itu Seung Min menangis menyesali semua tindakannya.


Dan pot bunga yang tak bertunas ibarat cinta pertama mereka. Cinta mereka mati terkubur sebelum musim semi tiba.  Seo Yeon pun tak berusaha untuk merawat pot bunga itu agar bisa bertunas.

Tapi dengan masa lalu yang baru Seung Min ketahui itu, apakah cinta pertama Seung Min benar-benar mati? Sepertinya tidak.


Dan dengan kiriman CD dan CD player yang membuktikan kalau Seung Min juga pergi ke rumah kosong saat itu membuat cinta pertama Seo Yeon akan mati? Sepertinya juga tidak.

Tapi life must go on. Jika memang jodoh, akan ada Aristektur Lanjutan / Advanced Architecture, dan mereka akan bertemu lagi.


Film ini tentang cinta pertama. Dan apa moral story-nya? Moral story-nya adalah : Jangan pernah membolos kuliah, karena kau mungkin akan kehilangan kesempatan memperoleh cinta pertamamu.

Seung Min-ah.. jika ada Advanced Architecture, jangan pernah bolos lagi, ya.. 

16 comments :

  1. nonton movie ini bikin saya ngantuk. Belain nonton sampai akhir demi Uhm Tae Woong doank, kalau ga ada dia kayaknya udah mandeg ditengah deh....

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Anis: Aku mlh belon nympe tgh dah pules.. Zzzzz..
      @Dee: tp kalo bc sinopnya Dee aku betah aja gak ngantuk :D

      Delete
  2. Hehehe komentar mb dee lucu bgt...
    Aku dulu sering bolos kuliah biar bisa pacaran....hehehe
    Alhamdulillah berjodoh dan punya 1 anak cewek...
    Memeng kl jodoh mang g kemana ya..

    Zhe..

    ReplyDelete
  3. Iyyyaa...aku selalu nunggu sinopsis my daugter seo young di blog nya mbk dee ..penasran pas episode pertengahan nya .

    ReplyDelete
  4. menurutku krn mbak dee kpikirian yeowool terus hihi atau terbayang2 kang chi yg menanti soulmatenya ;p
    jadilah mencari2 arsip kdramanya suzy ^_^

    ReplyDelete
  5. yg ku suka cuma ost nya ......

    ReplyDelete
  6. berharap banget movie ini bs dibuat dramanya. tp dengan ending yg berbeda ya.. dgn ending Seung Min tetap jadi dengan Seo Yeon... hahahhaa... *ngayal* ^^

    ReplyDelete
  7. dan entah kenapa kok saya sukaaaa bgt liat uhm tae woong( cowok bgt ya!)
    # iin #

    ReplyDelete
  8. Aaah suka bacanya! Bikin sedih, dan pas denger soundtrack nya sedih bgt sampe meneteskan air mata HAHAHA.....
    Btw ada link full ost nya ga? Butuh bgt pls. Thanks:)

    ReplyDelete
  9. thanks ya min,aku udah lama nunggu lanjutan sinopsisnya...coz aku donlot filmnya tapi ga pake subtitle...pure bhs korea jd ga tahu ngomong apa.tp karena sinopsis ini,aku jd tahu,apa aja yg mereka bicarakan d film....thanks ya min!!!

    ReplyDelete
  10. Aneh sih kalau ada penggemar genre drama romantic tapi tidak suka dengan film ini. Alur ceritanya nggak bertele-tele, hampir nggak ada scene yang sia-sia. Sisipan komedinya juga pas, nggak dibuat-buat. Soal akting sih nggak usah ditanya lagi. Endingnya memang bittersweet tapi logis dan nggak maksa. Itulah kenapa film ini meninggalkan kesan yang mendalam. IMHO, Ini salah satu film korea terbaik yang pernah saya tonton. 4/5

    ReplyDelete
  11. asik ceritanya, meskipun endingnya rada2 gantung gitu tapi okeLah...meskipun harapannya Seoyeon dan Seungmin bgusnya jadian..

    ReplyDelete
  12. Huhuhu...seandaix seo yeon n seung min jadian...
    thx sinopsisx sista..

    ReplyDelete
  13. Sinopsisnya kereeennn tapi kenapa endingnya gItu ya... Sedih krn hanya karena miss-komunikasi cinta sejati malah hilang. Makna dr cerita ini adalah kalo cinta itu baiknya pake hati ya bukan pake pikiran supaya kita gak banyak prasangka2 yang bikin akhirnya menyesal. Hadeeehhh...

    Betewe mbak admin penulis ya??? Gaya penceritaannya spt seorang penulis.

    ReplyDelete
  14. kereeennn ... akuu sukaaa film ini karena ada SUZY !!! ... kalo bukan suzy yg peraninnih film.
    film ini gak akan ada greget nyaa .... suzy emng is the best !! film nya romantis sedihh gituuu ... this my movie favorit !!

    ReplyDelete
  15. filmnya nanggung... knp ga nikah az Seoyeon dan Seungmin. :'(

    ReplyDelete