July 8, 2013

Gu Family Book : Fanfiction - Queenaraya Azwa

Fanfiction Gu Family Book - Queenaraya Azwa


Kang chi dan Yeo Wool saling berpandangan, keduanya terpaku

“Bagaimana kau tau namaku?”

Kang Chi hanya diam, perasaan diliputi keharuan, ia teringat janjinya, “Ketika aku melihatmu, aku akan mengenalimu lebih dahulu. Ketika itu aku akan mencintaimu lebih dahulu”


“Apa kau mengenalku?” Yeo Wool bertanya lagi. Anehnya ia merasa pemuda didepannnya memang mengenalnya. Tiba-tiba dadanya terasa sesak, suatu perasaan ganjil yang sulit ia ungkapkan. Ia menurunkan pistolnya.




“Mungkin ya, mungkin tidak” jawab Kang Chi lirih. Kemudian ia menyadari tempat pertemuan meraka sama dengan 422 tahun yang lalu, dibawah pohon Peach yang mekar diterangi cahaya bulan sabit.
“Akhirnya aku bertamu kembali dengannya pada bulan sabit ke-5221....”, ia tersenyum tanpa keraguan,  “....dan waktuku yang berhenti kembali berjalan”. 

Mereka masih terpaku, ketika tiba-tiba Gonita datang dan berteriak pada Kang Chi, “Hei! Seharusnya kau mengejarnya, mengapa kau masih disini?”. Yeo Wool kembali mengacungkan pistolnya pada Kang Chi.

“Bukan dia, seharusnya kau mengejar preman itu. Ia malah menolongku” kata Gonita. “Ayo, dia belum jauh!” Gonita kembali berlari.

“Sudah kukatakan ini hanya salah paham..., “ belum sempat Kang Chi menjelaskan Yeo Wool sudah berlari mengikuti Gonita dan Kang Chi mengikutinya. Tapi mereka kehilangan jejak.

“Ini semua salahmu. kalau kau tidak datang, meraka tidak akan membawa lari tasku” omel Gonita pada Yeo Wool.

“Kenapa ini salahku?” 

“Tentu saja ini salahmu. Kalau kau tak menghentikan pemuda ini, tasku pasti sudah kembali. Kau tahu tas itu memang mahal, tapi isinya lebih berharga lagi, dan sekarang aku kehilangannya.”

“Berharga apa? Memang isinya berlian atau uang 10 juta?”

“Bukan, itu lebih berharga. Tas itu berisi masa depanku”

“Masa depan.... Bagaimana mungkin masa depan ada dalam tas?”

“Di situ ada jimat yang kuperoleh dari seorang peramal hebat. Ia mengatakan jimat itu akan menuntunku pada jodohku. Dan katanya ada kaitan dengan masa laluku, dan sekarang aku kehilangan jimat itu...” Gonita kelihatan kesal.

“Hari gini masih percaya jimat dan ramalan” Yeo wool geleng-gelang kepala. Tanpa ia sadari, Kang Chi sedari tadi memandangnya, tatapannya penuh kerinduan. Namun ia menyadari Yeo Wool yang sekarang tak mengingatnya sama sekali. Tapi ia bertekad akan membuat Yeo Wool jatuh cinta lagi padanya.

“Kau harus bertanggung jawab...” 

“Apa...”

“Kau harus mengantarku menemui peramal itu lagi, lalu mengantarku pulang, karena sekarang aku tak punya uang” Gonita menarik tangan Yeo Wool.

“Tapi...,” Yeo wool menoleh memandang Kang Chi, dadanya semakin sesak, mata yang memandangnya seperti pernah dilihatnya, Gonita menarik Yeo Wool lagi.

“Tunggu!” Kang Chi menahannya

Tapi Yeo Wool sudah berjalan, ia menoleh memandang Kang Chi, tanpa disadarinya air matanya menetes. Ia terkejut, “Mengapa aku menangis? Kenapa rasanya sakit sekali?”

Kang Chi hendak mengejarnya, ketika ponselnya berdering, Tae Seo mengingatkannnya bahwa ia terlambat. Kang Chi meneruskan langkahnya mengikuti Yeo Wool, hingga ia melihat sesuatu jatuh dari saku Yeo Wool. Ia memungutnya dan tersenyum.

Gonita membawa Yeo Wool, ke sebuah kedai, dengan tirai berwarna merah dan hitam. Seperti tempat cenayang kebanyakan, dibuat semisterius mungkin. Didalamnya telah menunggu reinkarnasi So jung.
“Aku tau kau akan kembali, kau kehilangan jimat itu bukan?” katanya sebelum Gonita sempat menyampaikan maksudnya.

“Ha.!.” Yeo Wool terperangah, “Paling hanya tebakannya saja” pikirnya.

“Aku tak menebaknya nona, aku memang dapat membaca tanda-tanda langit”

“Apa yang harus aku lakukan” Gonita bertanya pada So Jung

“Tak ada yang bisa kau lakukan, kau sudah bertemu takdirmu, ia jodohmu dimasa lalu”

“Aku sudah bertemu dengannya?” Gonita tampak berpikir, tiba-tiba ia tersenyum

“Pasti pemuda tadi” katanya girang.

Yeo Wool memandangnya tak percaya, lalu berbalik.

“Kau tak ingin diramal juga nona?”

“Terimakasih, aku tak percaya ramalan” Yeo wool melangkah pergi

“Kau telah bertemu kembali dengannya, ia telah menunggumu ratusan tahun”

Langkah Yeo Wool terhenti.

“Hal konyol apa ini, ratusan tahun?”

“Sama seperti ratusan tahun yang lalu, kalian bertemu kembali dekat pohon peach dibawah bulan sabit”

Yeo Wool tak mepedulikannya.

“Ayo, aku antar kau pulang” katanya pada Gonita yang memandangnya heran. Mereka melawati tempat tadi, Yeo Wool melihat pohon Peach dan bulan sabit, ia teringat kata-kata peramal tadi. Dadanya kembali sesak.

Di penthousenya yang mewah, Kang Chi memandang bulan sabit yang sama, tangannya memegang sebuah kartu yang dijatuhkan Yeo Wool. “Bahkan namanya sama...” gumamnya.


Kesokan harinya, ia terkejut ketika membuka pintu. Orang yang sangat dikenalnya memperlihatkan tanda pengenal. Reinkarnasi Gon dan Lee Soon Shin. Kang Chi begitu gembira bertemu meraka, hingga tak mempedulikan maksud meraka menemuinya yang untuk mempertanyakan identitas Kang Chi. Tapi Kang Chi dengan mudah berkelit berkat pengalaman hidup ratusan tahun. Meraka mengatakan sebenarnya mereka mencurigai rekanan bisnis Kang Chi. Mereka minta bantuan Kang chi untuk mengungkapnya.

“Datanglah besok pagi ke alamat ini” Lee Soon Shin menuliskan alamatnya. sementara Gon melihat barang-barang pajangan Kang Chi. 

“Apakah kau pernah melihatnya?”

Gon menggeleng, “tapi sepertinya tidak asing” kata Gon.

Kang Chi tersenyum. Ia merasa tahun bulan sabit kali ini adalah keberuntungannya. Ia bertemu kembali dengan orang-orang yang dekat dengannya dimasa lalu. Dan terpenting ia bertemu kembali dengan soulmate-nya Yeo Wool.

Kang Chi semakin sering tersenyum. Hal ini tak luput dari perhatian pelayan Choi, “Anda terlihat gembira dan bersemangat presidir”

“Seseorang yang kutunggu akhirnya kutemukan”

“Seorang gadis?”

Kang Chi hanya tersenyum. Ia mengendarai Lamborghininya membelah jalan raya kota Seoul yang padat. Mulutnya tak henti tersenyum. Ketika lampu merah, ia melihat sebuah kedai. Ia seperti ditarik ke tempat itu. Ia kemudian memarkir mobilnya. Ia memasuki kedai itu. Ia melihat seseorang yang sedang sibuk membaca sebuah buku teknik meramal.

“Apa kau pemilik tempat ini?”

Orang itu mengangkat kepalanya, Kang Chi terkejut, “Biksu?!”

“Aku bukan biksu, aku cenayang. Apa kau tidak bisa membedakan”

“Oh tentu, kau pasti tak mengingatku, sama seperti yang lain”

Giliran So Jung yang heran, “Memangnya kita pernah bertemu sebelumnya?”

Kang Chi tak menjawab, ia memperhatikan ruangan itu

“Dulu dan sekarang.... kau memang suka meramal” gumamnya

“Apa kau percaya reincarnasi?” tanyanya lagi.

“Aku percaya, tapi sulit membuktikannya, bahkan aku tak tahu dulu aku seperti apa”

“Mungkin ini bisa mengingatkanmu.” Tiba-tiba mata Kang chi berubah hijau.

So Jung terkejut hingga terjengkang kebelakang. Setelah pulih ia bangkit dan bergegas menuju ruangan dibawah kedainya. Kang Chi mengikutinya. Ruang bawah tanah itu dipenuhi buku-buku kuno, disimpan dengan rapi dalam sebuah kotak kaca. “Ini adalah peninggalan leluhurku, untuk menghindari kepunahan setiap generasi kami diharuskan menyalinnya kembali, tapi aku tak bisa menulis hanja, jadi ayahku menyalinnnya juga dengan hangul” So jung menarik sebuah buku dari raknya.

“Pesan ini diteruskan pada setiap generasi keluargaku” ia membuka-buka halaman buku itu.

“Jika aku bertemu dengan laki-laki bermata hijau, maka aku harus menyampaikan buku ini padanya, kau... Choi Kang Chi kan?” katanya menatap Kang Chi.

“Kita bertemu lagi, biksu” Kang Chi tersenyum.

“Sudah kubilang aku bukan biksu”

“Kau reinkarnasinya”

“Apa...”

“Biksu So jung.”

Kang Chi kembali duduk dalam Lamborghini putihnya, ia memandang sebuah buku tua yang diserahkan So jung padanya. Ia tersenyum. “Sekarang saatnya” pikir Kang chi. Ia memacu kendaraannnya ke tujuannnya semula.

Ia berhenti disebuah bangunan tua, ia memandangnya sejenak lalu melangkahkan kakinya memasuki gedung itu. Tak seperti penampilan luarnya yang lusuh, gedung itu terlihat bersih dan rapi didalamnya. Seorang penjaga mengantarkannya kesebuah ruangan.

“Kau terlambat,” tegur Gon

“Ah... itu .. tadi ada hal mendadak di jalan”

Tiba-tiba seorang gadis memasuki ruangan, Kang Chi menoleh, ia tersenyum.

“Kita bertemu lagi.... Yeo Wool-ssi”

Yeo Wool terpaku, kata-kata peramal itu terngiang kembali “Sama seperti ratusan tahun yang lalu, kalian bertemu kembali dekat pohon peach dibawah bulan sabit”. Perasaan aneh itu muncul kembali, Yeo wool tak mampu berkata-kata.

“Kalian pernah bertemu sebelumnya?” tanya Gon.

“Dulu sekali.. “ gumam Kang chi.

Lee soon shin memasuki ruangan, “Anda telah datang, Presidir..., silakan duduk”

Seperti yang kita bicarakan kemarin, rekan bisnis anda dicurigai melakukan penipuan dibeberapa perusahaan, namun kami belum punya bukti. Kami khawatir anda sasaran berikutnya. Sebelum itu terjadi kami mohon bantuaan anda untuk menangkapnya, apakah kami bisa mempercayai anda, Presidir?”

“Seseorang dulu mengatakan, kepercayaan itu tidak turun dari langit, kenapa kita tak memberi waktu agar kepercayaan itu tumbuh, Direktur” 
Gon menyodorkan sebuah dokumen, “Ini beberapa transaksi mencurigakan dari rekanan anda pada seorang politikus yang mencalonkan diri menjadi presiden”

“Kami curiga ia menjadi penyandang dana bagi politikus itu,” Yeo Wool akhirnya buka suara.

Kang chi memandangnya sejenak, “lalu apa yang harus saya lakukan”

“Anda bisa menjadi umpan”

“Bukankah itu berbahaya bagi saya?”

“Gon dan Yeo Wool akan mendampingi anda, Presdir.”

Kang chi tersenyum puas, memang itu yang ia harapkan sejak melihat Yeo Wool di ruangan ini.

Singkat cerita Yeo wool dan Gon menyamar jadi pegawai Kang Chi. Dalam suatu kesempatan Yeo Wool memasuki penthaouse Kang Chi, ia melihat barang-barang pajangan Kang Chi. Matanya terhenti pada pedang berwarna hijau, hatinya seperti tertusuk, air matanya jatuh. Lalu ia melihat bunga ungu itu, sekelebat bayangan ketika tangannnya menyentuh tangan seseorang, ia merasa pilu namun juga hangat... Yeo Wool merosot terduduk sambil menangis ia terus memandangi bunga ungu itu.

Tiba-tiba ia berdiri lalu berlari keluar. Kang chi yang sedari tadi memperhatikannya mengikutinya dari belakang. Yeo Wool menghentikan taksi. Demikian juga Kang Chi, ia tak sempat mengambil Lamborghininya. Ok man yang melihatnya merasa heran. Yeo Wool berhenti di depan kedai So jung.

“Aku tau kau akan datang lagi nona”

“Katakan siapa pria itu, mengapa kau mengatakan ia menungguku selama ratusan tahun?”

So Jung tak menjawabnya malah balik bertanya, “Apa kau percaya reinkarnasi Nona?”

“Aku tak tahu... tapi sejak kecil aku bermimpi, mimpi yang sama terus berulang, tentang pedang, laba-laba, bunga ungu yang hari ini kutemukan lagi dirumah pria itu, aku juga melihat sepasang mata hijau, wajah yang menyeramkan, tapi anehnya aku sama sekali tidak takut, aku justru ingin mendekatinya”

“Itu mungkin bayangan dirimu dikehidupan sebelumnya”

“Siapa aku dikehidupan sebelumnya? Mengapa aku bermimpi begitu? Bukankah kalau kita bereinkarnasi kita akan melupakan segalanya dimasa lalu?”

“Masa lalumu bisa sangat kuat melekat, bisa jadi karena janji tulus yang kalian buat dimasa lalu”

“Bisakah aku mengingat kembali semuanya?”

“Kau ingin mengingatnya karena penasaran, atau...”

“Entahlah, dadaku terasa sakit. Kurasa dengan mengingatnya, rasa sakitnya akan hilang”

Kang chi mendengarnya dari luar.

Setelah Yeo Wool pergi, Kang Chi menemui So jung.

“Sekarang saatnya aku mencari buku keluarga Gu” katanya mantap

“Apa kau yakin? Yeo Wool yang sekarang bisa jadi tidak sama dengan Yeo Wool yang kau kenal dulu”

“Aku yakin dia Yeo wool yang sama”

Dalam taksi Yeo Wool mengingat perkataan So Jung

“Jika kau ingin mengingatnya, biarkan perasaanmu menuntunmu, jangan kau tentang, meski mungkin semuanya kelihatannya tak masuk akal”

Kang Chi mulai menjalani pantangan 100 harinya, hingga tinggal hari terakhir, sang politikus “memakan umpan” meraka. Dalam suatu perkelahian Yeo Wool nyaris tertembak lagi, jika saja Kang Chi tidak datang menolongnya. Perubahan wujud Kang Chi yang meski hanya sebentar, mengejutkan Yeo Wool. Akan tetapi ia malah mendekati Kang Chi.

“Aku sering melihatnya dalam mimpi ku, ternyata memang dia orangnya” mendadak semua kenangannya bersama Kang Chi dimasa lalu berputar seperti video dikepalanya. Ia mengingat semuanya.

“Kang chi-ah....” katanya

Kang Chi terkejut, “Yeo Wool-ah....” Kang Chi tiba-tiba roboh, tembakan yang ditahannnya dengan tubuhnya ternyata tak segera sembuh seperti biasanya. Kang Chi telah meninggalkan keabadiannya.

“Kang Chi-ah... “ Yeo Wool berteriak panik. Gon yang datang terlambat segera memanggil ambulans.

Kang Chi terbaring di ICU rumah sakit. Yeo wool menunggunya. Ia menangis.

“Kang Chi-ah... aku sudah mengingat semuanya, janji kita dulu. Kau harus membuka matamu, bukankah kau telah melamarku....buka matamu Kang Chi,” kali ini Yeo Wool yang merasakan kepedihan yang dulu dialami Kang Chi ketika melepasnya ditepi sungai.

Perlahan mata Kang Chi terbuka

“Yeo Wool-ah...”

Yeo Wool menagis haru.

***

Beberapa tahun kemudian...

Seorang anak laki-laki dengan lincah berkelit dari kejaran ibunya, 

“Wol ryung ah...hati-hati!”

Tiba-tiba sepasang lengan mengangkat anak itu tinggi-tinggi, dan menggendongnya.

“Kau semakin besar saja, tak lama lagi aku tak akan kuat mengendongmu” Kang Chi menjawil hidung anaknya.

“Ia berlari cepat sekali, aku sudah tak bisa mengejarnya” keluh Yeo Wool.

“Hei... kemana perginya Yeo Wool ku yang lincah dan tangguh, masa sama anak kecil saja menyerah” ledek Kang Chi.

“Paling tidak aku tidak takut laba-laba” bisik Yeo Wool.

“Itu rahasia...kalau kau mengatakannya pada orang lain, awas.”

“Memangnya apa yang akan kau lakukan” goda Yeo Wool.

“Aku akan menikahimu di kehidupan berikutnya” katanya sambil tersenyum.

The end

28 comments :

  1. Keren fanfic nya
    _latifah

    ReplyDelete
  2. wah ... Daebak
    FF nya bagus banget ... ampe brasa nonton GFB season 2.

    Gomawo eonnie dah di Post FFnya... memang pilihan mba Dee tepat heeeee... (maaf selama ini jadi silent reader).

    Kamsahamnidaaaaa ....

    ReplyDelete
  3. Bagus juga ya mbak ff nyaaaa.... Gomawo

    ReplyDelete
  4. Fan Fic nya keren, aq baca nya senyum2 sendiri, sambil menbayangkan LSG n Suzy... yag berbicara ,,,, :)

    ReplyDelete
  5. wahh ffnya bagus...
    lumayan mengobati kerinduan terhadap GFB..

    ReplyDelete
  6. ceritanya bagus dan masuk akal ^^ gak salah klw ffnya menang :)

    ReplyDelete
  7. mantaaaaap,,,,,,,,like it ^_^

    ReplyDelete
  8. Keren banget fanficnya mbak... Berasa nonton lanjutan GFB. Gk salah jd pemenang..

    ReplyDelete
  9. bagus ffnya :) suka suka :D

    ReplyDelete
  10. :)
    Kereeennnnn
    andaikan endingnya seperti ini. semoga dibikin sekuelnya ya maba..
    Gomawo :)

    ReplyDelete
  11. yg agax ganjal hanya kata "menjawil" d kalimat :
    “Kau semakin besar saja, tak lama lagi aku tak akan kuat mengendongmu” Kang Chi menjawil hidung anaknya.

    tpi selain itu kereeeen bnget critanya... :D

    ReplyDelete
  12. bagus ff nya ^^

    ReplyDelete
  13. Emg bagus ya ^^ coba writer gu family book baca ini, pasti ga da fansnya gu family book yg kecewa dgn ending yg ada . Daebak! :D

    ReplyDelete
  14. Berasa nonton episode 25 nih. Great job mba

    ReplyDelete
  15. keren FF-nya..setuju sih kalau menang... serasa nonton kelanjutannya hehehe..++tx

    ReplyDelete
  16. keren.., good.., kyak nonton kisah selanjutnya GFB....,

    ReplyDelete
  17. nice bangetttt:):)HArusnya ini endingnya::)

    ReplyDelete
  18. keren..keren..^^

    ReplyDelete
  19. Setuju bangeeetttt ma endingnya... :)

    ReplyDelete
  20. Berasa bener2 lanjutan ceritanya,,,

    ReplyDelete
  21. suka banget! Panteslah jadi juara :D

    ReplyDelete
  22. bagus bgt mbk. . . .terasa terobti rindu ni GFB.

    ReplyDelete