July 8, 2013

Gu Family Book : Fanfiction - Mocca

Fanfiction Kang Chi The Beginning (Gu Family Book) - Mocca

Part 1
Kang Chi POV
Ini adalah tahun ke 422, aku menjalani, kehidupanku.. sendirian..

Aku melihatnya, berjalan ke arahku, wajah itu, tidak salah lagi. Dia adalah wanita yang aku cari sampai saat ini. Ia adalah satu-satunya wanita yang membuatku ingin menjadi manusia. Ia adalah seseorang yang paling aku rindukan selama empat ratus dua puluh dua tahun kehidupan abadiku. Keinginanku bertemu dengannya yang membuatku bersemangat menjalani kehidupan abadi yang menyakitkan ini.

“Yeo wool-a.”

Saat kita bertemu lagi, aku akan mengenalimu lebih dulu. Saat kita bertemu lagi, aku akan mencintaimu lebih dulu.

“Yeo Wool-a.” Mataku berkaca-kaca. Aku melihat raut wajahnya berubah. Perlahan-lahan ia menurunkan pistol yang tadinya ia arahkan kepadaku. Ia melihatku dengan bingung.

“Kenapa.. kau bisa tahu namaku?” Ia bertanya. Suara indahnya masih sama. Bahkan.. namanya pun.. masih sama. Mampu membuat detak jantungku bertambah cepat. Entah karena apa, mungkin karena kerinduanku yang tiba-tiba membuncah ketika bisa melihatnya lagi setelah melewati empat ratus dua puluh dua tahun yang menyedihkan. Sendirian.

“Apa kau mengenaliku?” Ia masih bertanya. Raut wajahnya masih kebingungan. Ya, aku mengenalmu. Sangat mengenalmu. Apa kau tidak mengenaliku?

Aku hanya terdiam tanpa menjawab. Aku berusaha agar tangisku tidak pecah. Walau wajah mereka sama. Tapi tetap, ia bukan Yeo Wool yang dulu. Karena waktu sudah banyak berubah, sejak terakhir kali aku bertemu dengannya.

“Mungkin aku mengenalimu, mungkin juga tidak.” Kulihat ia semakin kebingungan atas jawabanku. Dan aku hanya tersenyum.

Dan.. waktu kami yang pernah terhenti dulu.. kini perlahan.. bergulir kembali..

Aku tahu ini pertanda, janji kami akan terpenuhi. Dibawah bunga sakura kali pertama kami bertemu. Dibawah pohon sakura jugalah, kami bertemu kembali setelah empat ratus dua puluh dua tahun terpisah. Kali ini aku tidak takut lagi. Dengan langkah mantap, aku berjalan ke arahnya yang terlihat sedikit takut dengan mengambil beberapa langkah mundur. Kesempatan ini. aku tidak akan menyia-nyiakannya.


***

Yeo Wool POV

“Yeo Wool-a” Ia memanggil namaku. Tidak. Kenapa ia bisa tahu namaku? Aku sepertinya, tidak pernah.. ah.. Rasanya pernah. Entah kapan. Mungkin dulu sekali. Aku melihat wajah pria di hadapanku ini. Ada yang aneh dengan diriku. Kenapa aku tiba-tiba ingin menangis? Kenapa aku jadi lemah seperti ini? Kenapa.. aku.. sepertinya.. aku..

“Yeo Wool-a.” Ia kembali memanggil namaku. Ia mulai mendekat. Dan aku malah mengambil langkah mundur. Bukan karena takut. Tapi, karena aku tidak bisa mengontrol detak jantungku saat ini. Kenapa rasanya sesak. Kenapa..

“Yeo Wool aggashi (nona).” Kudengar suara Sung Jun sudah berdiri dibelakangku dengan beberapa anggota kepolisian lainnya. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya lagi.

“Tidak apa-apa,” jawabku masih belum tersadar sepenuhnya. “Bagaimana buronannya?” aku bertanya lagi. Baru teringat kalau misiku tadi kemari untuk mengejar buronan. Hanya, terhenti karena aku mendengar suara teriakan minta tolong.

“Sudah kami tangkap. Ayo kita kembali ke kantor pusat. Mereka pasti ingin segera tahu kabar baik ini.” Sung Jun menggiringku ikut dengannya. Namun, tatapanku masih belum terlepas pada pria tadi. Yang entah mengapa, padahal aku baru saja bertemu dengannya. Tapi, aku merasakan ikatan kuat dengannya. Aku berbalik untuk kembali ke kantor pusat. Mencoba tidak memperdulikan pria yang sedari tadi memanggil namaku itu.

“Yeo Wool-a.. Yeo Wool-a..” Aku tidak tahan. Semakin ia memanggil namaku, rasanya dada ini semakin sesak. Akhirnya, aku berbalik dan mengucapkan satu kalimat yang akhirnya aku sesali bisa keluar dari mulutku ini.

“Maaf, tapi saya tidak mengenal Anda.”

*** 
Part 2

Kang Chi POV

Maaf, tapi saya tidak mengenal Anda.

Perkataan itu selalu terulang-ulang dibenakku. Arghh! Aku mengacak-acak rambutku. Kenapa saat kita kembali bertemu. Dia yang tidak mengenaliku. Kenapa ia, bahkan tidak tersenyum sama sekali. Apa benar-benar, dia sudah tidak mengenaliku?

Ting Tong.. Ting Tong..

Dengan malas, aku berjalan ke pintu apartment. Dan, betapa terkejutnya aku ketika melihat Gon dan seseorang berpakaian putih mengenakan kaca mata hitam sudah berdiri tegap di ambang pintu. Ia menunjukkan name tag-nya seraya berkata. “Bang Sung Jun, Kepala Kepolisian Pusat Seoul. Apa benar ini kediaman Tuan Choi Kang Chi?” Aku hanya melongo sejenak. Sampai fokusku teralih pada seorang pria paruh baya yang berada di belakang Gon (aku memanggil Sung Jun dengan Gon, karena dia memang mirip Gon temanku). Ia melepas kacamata hitamnya dan tersenyum. “Yoo Dong Geun. Kepala Divisi Kepolisian Korea Selatan.” Ia juga menunjukkan name tag-nya.
Hampir saja aku berlari memeluk mereka, kalau aku tidak ingat kalau ini adalah tahun dua ribu tiga belas. Aku mempersilahkan mereka masuk dan duduk. Kami terdiam sejenak. Waktu ternyata memang sudah berlalu terlalu cepat. Padahal aku masih ingat terakhir kali aku bertemu dengan Tuan Lee Soon Shin dan meminta nasihatnya. Tapi sekarang, kami bertemu dalam sosok yang berbeda satu sama lain. Tidak saling mengenal seperti dulu. Tiba-tiba aku terpikir. Bagaimana kalau saat itu aku memutuskan untuk menjadi manusia. Bagaimana kalau aku tidak hidup dalam keabadiaan. Apa aku akan mengenal Yeo Wool. Apa takdir kami akan sama? Atau ternyata aku tidak dapat bertemu mereka kembali. Apa kami akan tetap memiliki suatu ikatan hubungan yang bernama takdir?

“Jadi. Saya dengar anda membutuhkan bodyguard pribadi untuk melindungi anda.” Gon memulai pembicaraan. Aku hanya mengangguk kecil. “Kami akan mengutus bodyguard paling terlatih dari kepolisian dan..”

“Aku mau Dam Yeo Wool!” Aku memotong pembicaraan dengan satu kalimat pasti. Kalimat perintah. Gon terlihat kebingungan dan ingin menolak. Tapi, sebelum itu terjadi aku menatap mereka dengan tajam. Saat ini, aku adalah Choi Kang Chi pemilik perusahaan ternama dan berpengaruh di Seoul. Mereka tidak mungkin menolak permintaanku, kan? Walau terdengar egois dan arogan, tapi aku tetap memutuskan untuk mengulang kalimat itu kembali dengan nada lebih tinggi.

“Aku mau.. Dam Yeo Wool.”

*** 
Part 3

Yeo Wool POV

Sung Jun memberiku perintah untuk menjadi body guard pribadi presiden Choi Corporation. Katanya, presiden sendiri yang menunjuk namaku secara pribadi. Entahlah, ini bisa dianggap sebagai suatu kehormatan atau malah penghinaan besar-besaran. Jadi, disinilah aku berada sekarang. Sebuah penthouse besar dengan pencahayaan remang-remang. Ruangan ini sepertinya terlalu besar untuk ditinggali seorang diri. Aku dengar presiden belum mempunyai pasangan dan tinggal sendiri di penthouse ini.
Mataku menjelajahi setiap sudut ruangan ini. Semuanya penuh dengan barang-barang kuno peninggalan sejarah. Namun, penglihatanku hanya terarah pada sebuah sudut yang dipenuhi dengan benda-benda yang cukup menarik perhatianku. Sebuah guci kuno yang aku yakini isinya adalah obat. Belum lama ini aku melihat seorang pria tua yang berhasil menemukan ramuan obat mujarab yang katanya berumur ratusan tahun dan memegang guci yang sama persis dengan yang aku lihat sekarang. Sebuah kotak kayu kecil yang entah apa kegunaannya. Sebuah pedang dengan corak bunga sakura didalamnya. Dan yang paling menarik perhatianku, adalah sebuah pedang berwarna aqua yang terletak paling tinggi dari barang-barang lainnya.
Kentara sekali kalau pedang itu adalah yang paling dikhususkan dari semuanya. Bahkan diberikan pigura kaca dan dihiasi cahaya lampu. Mataku tidak bisa lepas dari pedang itu. Rasanya, aku juga pernah melihat pedang itu. Bahkan, sepertinya, aku merasa jiwaku dan pedang itu menyatu. Seperti sebuah rasa sayang pada benda yang paling kita sukai. Bahkan, mataku tiba-tiba terasa panas dan dadaku terasa sesak. Sama seperti ketika aku bertemu dengan pria itu. Pria yang aku temui di taman itu. Siapa dia?

“Dam Yeo Wool.” Sebuah suara mengagetkanku dan langsung membuatku segera berpaling ke sumbernya. Wajahnya tidak begitu terlihat karena dia berdiri di sudut ruangan yang tidak tertimpa cahaya. Aku langsung membungkuk, dan memperkenalkan diri.

“Nama saya..”belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku, pria itu memotongnya, “Dam Yeo Wool, dua puluh dua tahun, wakil kepala kepolisian pusat wilayah Seoul.” Ia tersenyum. Kini wajahnya sudah terlihat sepenuhnya. Dia.. dia.. adalah pria yang kulihat di taman waktu itu.

“Kang Chi. Namaku Choi Kang Chi.” Ia mengulurkan tangannya seraya tersenyum. Aku membalas uluran tangannya seraya mengulang-ulang namanya dalam hati. Choi Kang Chi. Nama itu tidak asing.

“Bagaimana.. kau bisa tahu namaku? Ng. Maksudku, saat kita bertemu di taman kemarin.” Tanpa berbasa-basi, aku langsung bertanya. Dan reaksi pria bernama Choi Kang Chi itu hanya tersenyum.

“Mungkin, inilah yang namanya takdir.”Ia berkata lirih. Namun, perkataannya itu justru membuatku luluh. Dan tanpa kusadari, aku mulai mengulaskan sebuah senyum. Sebuah kegiatan yang jarang sekali aku lakukan. Seorang Dam Yeo Wool yang berpikiran kedepan dan tidak percaya dengan yang namanya nasib atau apapun yang berhubungan dengan itu. Kini...

Apa sekarang.. aku mulai percaya dengan yang namanya.. takdir ?

***
Part END

Kang Chi POV

Hal terakhir yang membuatku tidak kalah terkejut datang dari Tae Seo. Ah, bukan. Namanya sekarang adalah Yeon Suk. Beberapa hari yang lalu, ia mengenalkanku pada pacarnya Lee Yoo Bi. Aku begitu terkejut, karena wajah Lee Yoo Bi mirip sekali dengan Chung Jo yang adalah adik dari Tae Seo.
Mungkin, ini yang namanya takdir. Di masa lalu, mereka mungkin saudara, tapi kini, mereka adalah pasangan. Tetap sama-sama mempunyai sebuah hubungan yang spesial kan? Aku percaya, kami tetap terhubung dengan sebuah jalinan benang merah yang namanya takdir masa lalu. Kenapa aku begitu percaya? Namanya. Sampai saat ini, hanya namanya saja yang sama dengan empat ratus dua puluh dua tahun yang lalu. Dam Yeo Wool.

Jadi, beginilah sekarang. Aku tidak bisa merubah yang sudah terjadi dan mengatur yang akan terjadi. Aku tidak bisa memaksa Yeo Wool untuk mengingatku, dan menyuruhnya untuk memiliki hubungan yang sama seperti dulu. Yang bisa aku lakukan sekarang, aku menjalani kehidupanku seperti air yang mengalir. Dan berusaha untuk mendapatkan kembali hatinya, seperti dia dulu berusaha keras untuk merebut hatiku. Dan, aku percaya, takdir kami pun akan sama. Karena empat ratus dua puluh dua tahun yang lalu kami memiliki hubungan yang sangat spesial, jadi kali ini pun, aku yakin, kami juga akan memiliki hubungan yang istimewa. Namun, aku tahu butuh proses untuk mendapatkannya.

Bagiku, ini bukanlah suatu hukuman atau pembalasan. Untuk membuatmu kembali padaku, ini adalah sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan. Dan seperti janjiku dahulu padamu, saat kita bertemu lagi, akulah yang akan mengenalimu lebih dulu, saat kita bertemu lagi, akulah yang akan mencintaimu lebih dulu.

END

2 comments :