June 24, 2013

Sinopsis My Daughter Seo Young Episode 49 - 2


Err.. sudah lama ya saya nggak update Sinopsis My Daughter Seo Young. Berikut ini adalah kisah sebelumnya. Episode 49 - 1

Jika ada yang belum pernah tahu apa itu My Daughter Seo Young, coba cek sinopsis awalnya. Tapi di tengah-tengah bolong, ya..

Episode 1 - 5 | 41 - 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48

Sinopsis My Daughter Seo Young Episode 49 – 2



Ternyata kepergian Woo Jae pagi-pagi di hari libur itu untuk menjenguk mantan mertuanya. Hmm.. berarti Woo Jae berselisih jalan dengan Seo Young, ya? Mi Kyung datang dan memberitahukan kalau kondisi ayah Soo Yeon tak menunjukkan perubahan yang berarti.


Seo Young kembali ke rumah sakit dan masuk ke kamar perawatan. Gang Sun yang baru saja datang, mengenali Seo Young sebagai mantan menantu sahabatnya. Dan betapa kagetnya ia melihat Seo Young bercakap-cakap dengan Ho Jung dan Sang Woo di kamar perawatan besannya. Ho Jung yang melihat kedatangan ibunya langsung beringsut pergi.


Pada Sang Woo, Seo Young mengaku kalau ia baru saja pulang dari rumah orang tua Woo Jae dan mengakui segalanya. Ia  melakukan hal itu karena ia ingin dan itu juga yang diinginkan oleh ayah mereka.


Melihat ibu sudah melihat semuanya, Ho Jung pun mengaku kalau Seo Young adalah kakak Sang Woo. Dan ibu pun langsung menghubungkan semuanya . Ia pun menyadari kalau kakak Sang Woo yang katanya tinggal di luar negeri, adalah Seo Young, bekas menantu dari sahabatnya Ji Sun, gadis yang tak tahu malu dengan berbohong agar bisa menikahi Woo Jae.


Ho Jung pun langsung membela kakak iparnya, “Seo Young yang membiayai kuliah kedokterannya Sang Woo oppa. Gara-gara itu, Oenni sempat drop out dari kuliahnya. Bahkan Oenni juga membayar semua hutang ayah dan membiayai kuliahnya sendiri.”


Ibu pun menyadari kalau penilaiannya salah, dan menebak kalau Lee Sam Jae pasti orangnya payah hingga anaknya sendiri memperlakukan seperti orang yang sudah meninggal, Ho Jung balik membela ayah mertuanya. Heheh.. Sweet Ho Jung yang tak mau menyalahkan salah satu dari mereka.

Ho Jung ganti membela kalau ayah mertuanya itu tak aneh, “Bahkan ayah pergi ke pernikahan Seo Young, tapi tak mengatakan sedikitpun tentang hal itu. Ayah bahkan menyelamatkan Woo Jae.”


Ibu mengeryitkan kening mendengar kata-kata Ho Jung yang terakhir.  Ho Jung bingung karena kelepasan bicara.



Di rumah makan tempat ia janjian bertemu dengan suami istri Kang, Gang Sun masih tak dapat menghilangkan pikiran tentang apa yang terjadi tadi pagi. Dan itu nampak pada saat ia bertemu dengan Ji Sun. Ji Sun bertanya mengapa temannya itu seperti tak bersemangat, apakah Gang Sun bertengkar lagi dengan Min Suk?


Gang Sun membantah hal itu, tapi ia masih tak bercerita. Hanya saja ketika Min Suk datang dan bertanya tentang kondisi ayah mertua Ho Jung di ICU, pertahanan Gang Sun pun jebol.


Tak tahan menyimpan kejadian yang ia lihat tadi pagi, Gang Sun pun berkata, “Setelah berpikir berulang kali, walau Ho Jung memintaku tak menceritakan pada kalian, tapi aku merasa  aku harus menceritakannya. Bagaimanapun juga aku harus mengatakan siapa yang telah menolong Woo Jae. Bagaimana jika ia nanti meninggal?”


Ki Bum dan Ji Sun bingung mendengar kata-kata Gang Sun yang aneh, “Sebenarnya apa yang ingin kau ceritakan, Gang Sun-ssi?”


Sepulang dari makan siang itu, Kang Bum dan Ji Sun diam di dalam mobil, sibuk dengan pikiran masing-masing. Ji Sun teringat saat ia mengkonfrontasi Seo Young.


Saat itu ia bertanya apa pekerjaan ayah Seo Young dan Seo Young menjawab  kalau ia tak memiliki ayah. Bukannya kasihan, ia malah mensyukuri tentang status Seo Young sebagai anak yatim, dimana hal itu lebih baik daripada memiliki orang tua yang miskin.

Ji Sun menghela nafas, menyesali ucapan yang telah ia keluarkan saat itu.


Seo Young pergi ke bengkel kerja ayahnya. Ia ingin melihat-lihat tempat ayahnya bekerja. Dengan ramah, Nyonya Bang mempersilakan namun memperingatkan Seo Young kalau mungkin akan semakin sedih. Nyonya Bang pun menunjukkan garapan terakhir yang dibuat oleh ayahnya, sepasang kaki kursi goyang, “Katanya, ia ingin membuatkan kursi ini untuk diberikan pada putrinya nanti.”


Seo Young tertegun dan Nyonya Bang pun penuh pengertian. Ia meminta Seo Young untuk menjaga tokonya sementara ia akan keluar untuk makan siang. Sepeninggal Nyonya Bang, Seo Young, Seo Young mengamati detaik kursi goyang yang digambar ayahnya.


Woo Jae kembali ke tempat dulu ia hampir tertabrak mobil dan mengingat bagaimana Ayah Seo Young mendorongnya sehingga malah tubuh Ayah Seo Young yang tertabrak.


Mendadak ia mendapat telepon dari ayahnya yang menyuruhnya untuk pulang ke rumah. Betapa kagetnya dia karena ternyata ayah tak hanya memanggilnya, tapi juga Seo Young. 


Ayah menyuruh mereka berdua duduk dan memarahi mereka, “Kemana otak kalian?”


Ibu menambahkan, ia selalu berpikir kalau Seo Young adalah wanita paling pintar yang pernah ia temui, tapi ternyata tidak. Ia juga mengatakan kalau Woo Jae juga, “Kenapa kalian membuat kami seperti orang yang tak tahu malu? Kenapa kalian tak bercerita apapun pada kami? Gangsun adalah sahabatku, kalian pikir sampai kapan kalian akan menutupi hal ini?


Woo Jae dan Seo Young bingung mendengar ucapan iibu, jadi ayah pun menjelaskan, “Kami mendengar kalau yang menyelamatkanmu dulu dalah Ayah Seo Young, Woo Jae. Kalian bisa menceritakan detail ceritanya nanti. Tapi sekarang, Seo Young, kemasi barang-barangmu dan pindahlah ke sini saat ini juga.”


Ayah juga menjelaskan alasannya membayar Seo Young sebagai pengacara karena Seo Young pergi dari rumah ini tanpa mendapat sepeserpun uang. Itulah cara ayah untuk memberikan uang saku pada Seo Young.


Tak disangka, Woo Jae mengatakan kalau mereka tak akan pernah kembali seperti dulu, membuat orang tuanya bahkan Seo Young juga kaget, “Ayah seharusnya membicarakan hal seperti ini denganku dulu. Kenapa harus memanggil Seo Young juga? Pernikahan  kami telah selesai. Kami telah berpisah.”


Ibu mencoba mengingatkan anaknya kalau perceraian mereka bukanlah karena tak saling mencintai lagi. Tapi Woo Jae meminta ibunya agar tak memaksa Seo Young lagi karena sekarang bukan saat yang tepat untuk membicarakan hal itu. Ia meminta Seo Young untuk segera ke rumah sakit dan mengacuhkan permintaan orang tuanya.


Seo Young meninggalkan rumah dengan penuh tanda tanya akan sikap Woo Jae itu.


Sepeninggal Seo Young, Woo Jae mendapat kejutan tambahan. Ibunya memberitahu kalau Ayah Seo Young diam-diam sebenarnya menghadiri pernikahan mereka dan Seo Young tadi pagi menemui mereka untuk meminta maaf terakhir kalinya.


Woo Jae berdiri di depan gedung apartemen Seo Young, tapi tak berniat masuk untuk menemuinya.


Seo Young sedang berkemas-kemas untuk menginap di rumah sakit ditemani oleh Yeon Hee. Ia menceritakan apa yang terjadi pada Yeon Hee, “Aku tak menyangka kalau Woo Jae-ssi akan mengatakan hal seperti itu pada orang tuanya. Kupikir selama itu hanya alasan agar bisa terus bertemu denganku. Tapi ternyata ia sungguh-sungguh dengan hal itu. “

“Dia pasti percaya kalau kau akan kembali padanya suatu hari nanti,” kata Yeon Hee.

Seo Young tersenyum dan berkata kalau ia akan berterima kasih pada Woo Jae jika ia bertemu Woo Jae di rumah sakit nanti.


Tapi ternyata Woo Jae tak pernah datang ke rumah sakit. Ia tak pernah kembali untuk menemui Seo Young. Seo Young menunggu Woo Jae saat menunggui ayahnya.


Seo Young memeriksa handphone-nya. Tapi tak ada satupun telepon masuk dari Woo Jae. Ia menunggu kedatangan Woo Jae  di rumah sakit juga menunggui ayahnya. Woo Jae tak pernah datang, dan kondisi ayahnya pun tak menunjukkan kemajuan.


Walau tak ke rumah sakit, diam-diam Woo Jae tetap menunggu kepulangan Seo Young di apartemen. Hatinya tenang saat melihat Seo Young pulang.


Tapi Seo Young hanya bisa tidur setelah memeluk bantal lengan pemberian Woo Jae.


Di penjara, Seo Young menemui Eun Ho dan mengingatkan kalau Eun Ho telah berjanji padanya untuk masuk universitas, dan selalu memikirkan nenek dan adiknya saat hidup menjadi sulit i . Dan ia telah merekam janji itu di handphonenya.


Seo Young memutar kembali percakapan itu. Eun Ho pun  berjanji melakukannya, Ternyata tak hanya satu rekaman itu saja yang ada di handphonenya. Ada satu percakapan yang ternyata tak sengaja ia rekam. Ia memutar kembali rekaman itu dan suara ayahnya tiba-tiba terdengar, “Kenapa aku tak bisa mendengarmu? Apa itu kau?”


Woo Jae pergi ke rumah sakit tapi tak masuk ke ruangan ayah Seo Young. Ia hanya duduk di ruang tunggu sesaat untuk kemudian memutuskan untuk pulang. Sebelumnya ia ingin duduk di ruang perawatan tempat Lee Sam Jae menginap sebelum masuk ICU.


Tak disangka ia malah melihat Seo Young yang memandangi handphonenya yang memutar rekaman suara Lee Sam Jae. Dan terdengar lanjutan ucapannya, “Tuan Yu? Apakah itu kau?”


Seo Young memarahi suara ayahnya, “Aku bukan Tuan Yu. Apakah suaraku itu mirip dengan Tuan Yu?” Terdengar suara ayahnya lagi yang mengatakan kalau ia akan menutup telepon karena ia sibuk, dan Seo Young kembali berkata, “Ayah tak sibuk sama sekali.”


Seo Young kembali memutar rekaman itu, dan teringat saat itu ia kangen pada ayahnya dan meneleponnya. Ia menangis hanya mendengar suara ayahnya. Ayahnya sebenarnya tahu kalau itu adalah Seo Young pura-pura menganggap itu telepon dari temannya.


Hati Woo Jae semakin hancur mendengar Seo Young yang takut kalau ayahnya akan meninggal, “Apa yang harus aku lakukan?” Perlahan, ia pun menutup pintu kamar dan pergi.


Sayangnya, Woo Jae tak mendengar lanjutan kata-kata Seo Young, karena sebenarnya Seo Young sedang membicarakan dirinya, “Woo Jae hari ini tetap tak datang. Ia bahkan tak meneleponku,” Seo Young menangis menatap handphone seakan berbicara pada ayahnya, “Ayah, kenapa Woo Jae seperti ini? Mengapa ia melakukan ini kepadaku?


Paling sedih adalah saat kita, yang hanya punya satu teman curhat, bermasalah dengan teman curhat itu. Tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Woo Jae selain minum-minum.


Seo Young kaget saat ia pulang dan mendapati Woo Jae yang terduduk di depan apartemennya. Woo Jae yang dipanggil Seo Young pun bangun dan bingung mengapa ia ada di sini.

“Kau minum terlalu banyak ya, hingga tak sadar kalau kau ada di sini?” tanya Seo Young.


Woo Jae hanya mengangguk perlahan dan minta maaf. Ia pun pergi meninggalkan Seo Young yang tercengang melihat perilaku Woo Jae yang tak biasa. Di lobi, Woo Jae menelepon supirnya. Tapi Seo Young ternyata menyusulya turun dan meminta kunci mobilnya. Ia yang akan mengantarkan Woo Jae pulang. Tapi Woo Jae menolaknya.


“Mengapa kau ke sini?” tanya Seo Young. “Kau tahu ini sangat berat untukku. Jangan membuatku mengkhawatirkanmu juga. Aku sudah katakan kalau Ayah seperti itu bukan karena kesalahanmu. Tapi ini adalah kesalahanku.”


“Aku takut ayah akan meninggal,” jawab Woo Jae. “Jika ia meninggal, kau pasti tak akan mampu untuk menatapku lagi. Karena kau harus membuang ayahmu agar bisa bersamaku.”

“Siapa yang bilang ayahku akan meninggal?”

“Kupikir aku bisa menunggu,” Woo Jae meneruskan tanpa menjawab pertanyaan Seo Young, “Dengan sifatmu yang seperti itu, mana mungkin kau langsung menerimaku kembali? Tiga tahun.. kupikir dalam waktu 3 tahun , luka batinmu akan sembuh dan kau bisa menerimaku kembali.”


“Kau mau menungguku selama itu?” tanya Seo Young kaget.

“Aku terlalu sombong,” kata Woo Jae meneruskan.” Jika ayah meninggal, setiap menatapku, kau akan selalu teringat kecelakaan itu dan terluka karenanya. Kau menikahiku karena kau ingin melarikan diri dari ayahmu, tapi itu pun akhirnya kau sesali. Jika sesuatu terjadi pada ayahmu, semua diantara kita akan selesai, kan?”


Seo Young terkejut dan mencoba menyela. Tapi Woo Jae terus berbicara, “Karena itulah aku takut. Aku tak bisa memandang wajahmu. Aku tak dapat menghiburmu. Bagaimana aku bisa melakukannya, untuk memandangmu saja aku tak berani.”


Woo Jae pun meninggalkan Seo Young yang tertegun. Kali ini Seo Young tak menyusulnya, dan naik untuk kembali ke apartemen. Tapi seakan berubah pikiran, Seo Young berbalik dan turun mengejar Woo Jae.


Ia mencari ke tempat parkir, tapi hanya ada mobilnya. Tak ada Woo Jae di sana. Seo Young pun mencari Woo Jae ke jalan. Dan benar. Woo Jae sedang menyusuri jalan dengan tertunduk. Seo Young pun berteriak memanggilnya.


“Woo Jae-ssi,” panggil Seo Young dan Woo Jae pun berhenti. “Semua itu tak benar. Aku bersamamu bukan karena aku ingin melarikan diri dari Ayah.”


Woo Jae berbalik memandang Seo Young yang tergagap-gagap, “Pada saat itu.. Aku.. aku.. ‘Aku suka’, ‘Aku tak suka’, ‘rasanya hatiku sakit’, ‘aku merindukanmu’.. aku tak dapat mengungkapkan perasaan itu. Kau pun juga tahu, kan? Aku selalu menyimpannya sendiri. Dan itu jadi kebiasaan.”


“Aku menyukaimu karena kau tahu bagaimana perasaanku. Aku bersyukur karenanya. Saat kau pergi ke Amerika, rasanya tiap hari aku merasa tanah yang kupijak akan runtuh. Aku merasa bersalah, karena kau selalu bersikap baik, selalu bersikap baik dan terus menerus baik padaku. Karena itulah aku merasa bersalah karena aku selalu melakukan hal-hal yang membuatku menyesal.”


“Aku tak ingin memperlakukanmu dengan buruk. Aku tak ingin mengecewakanmu. Karena itulah aku tak berani mengatakan yang sebenarnya padamu. Aku takut kalau aku akan kehilangan dirimu.”


“Aku juga sangat takut untuk menjadi orang tua, karena aku sendiri telah meninggalkan ayahku. Karena itulah aku tak ingin memiliki anak. Maafkan aku. Woo Jae-ssi.. Aku mencintaimu… Aku selalu mencintaimu.. Aku membutuhkanmu.. Aku ingin kau selalu di sampingku.”


Seo Young berjalan ragu mendekati Woo Jae. Tapi Woo Jae berlari menghampiri Seo Young, dan menciumnya.



Komentar :

Maaf, baru sekarang update My Daughter Seo Young lagi. Sebenarnya tinggal ¼ bagian saja yang belum selesai, tapi tetap saja ada aja yang lain yang dikerjain.

Walaupun telat, tapi menurut saya, jika Ojakkyo Brothers adalah drama keluarga terbaik tahun 2011, maka My Daughter Seo Young adalah drama keluarga terbaik tahun 2012.

Seperti Ojakkyo Brothers, My Daughter Seo Young juga sarat pesan moral dan kasih sayang dalam sebuah keluarga. Walau dramanya panjang (58 episode untuk Ojakkyo Brothers dan 50 untuk MDSY) tapi benar-benar worth it menonton kedua drama ini.


Ahh… tinggal satu episode lagi. 

15 comments:

  1. Akhirnyaa lanjutan my daughter seo young ada jgaa, stelah menunggu skian lama.. Gomawo mba dee..
    Hayo tetep smangat mba tinggal eps terakhir, mudah2an gk lama2 bgt yh mba dee..

    ReplyDelete
  2. Makasi mb. . .matur nuhun
    cemunguudd

    by Mumu

    ReplyDelete
  3. TERIMA KASIH MBAK DEE untuk tetap melanjutkan sinopsis ini...
    dengan begini 2 drama keluarga terbaik tahun 2011 & 2012 bisa diposting di kutudrama walau hanya berupa rekap singkat :P
    apakah 2013 juga punya drama keluarga terbaik versi mbak dee?^^
    HWAITING!!!TINGGAL 1 EPISODE XD

    ReplyDelete
  4. Gumawo mbak dee, akhir'y dilanjutkan juga sinopsis'y. Aku sangat suka drama ini. Drama keluarga terbaik setelah Ojakgyo Brother aku sangat setuju sekalih. -____-

    Ipah

    ReplyDelete
  5. Akhirnya keluar juga Sinop MDSY Eps 49 Part 2
    Walaupun dah nonton sampe end..
    tetep pengen baca sinop nya Mba Dee..
    baca sinopnya masih bikin mata saya beair.. :'(

    Tinggal satu episode lgi Mba Dee
    Ditunggu yach...
    Thanks sinopny..

    Fighting ...^ _^

    ReplyDelete
  6. Tetep bikin sedih bacanya... apalagi pas adegan Seo Young ngedengerin suara ayahnya,,jadi pengen ikutan nangis pas scene ini...
    gumawo mbak Dee,, semangat untuk sinopsis ep selanjutnya... ;)

    ReplyDelete
  7. ditunggu..ditunggu..akhirnya datang juga..
    Terima kasih dah lanjutin sinopnya Mba Dee.. ^^

    ReplyDelete
  8. mkasih Mba dee sinopnya ...
    Semangat terus buat lanjut sinopnya ^.^

    ReplyDelete
  9. Thanks sinopsisnya..btw yg eps 50 kapan ni?..^^

    ReplyDelete
  10. mba..kok ngga buat sinop lnjutn'y lgi?? :/

    ReplyDelete
  11. Mbaaaakkk, episode terakhir pleaseeeeee.....

    ReplyDelete
  12. semangat mbak.....
    ditunggu kelanjutan episode akhirnya nihh :))

    ReplyDelete
  13. Ditunggu mbk lanjutannya..bikin terharuuu bacanya...

    ReplyDelete
  14. Makasih bwt post nya . Cerita nya mengharukan

    ReplyDelete
  15. aq nonton film ini nangis mlulu apalagi mendekati akhir..

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...