rotator and add

April 25, 2013

Sinopsis My Daughter Seo Young Episode 49 - 1


Terima kasih untuk semua yang sabar menunggu 2 sinopsis terakhir My Daughter Seo Young ini. Saya akan berusaha menyelesaikan sinopsis ini sampai selesai, tapi kembali saya akan bagi sinopsis 49 ini menjadi 2 bagian. 

This is for you, girls :)


Sinopsis My Daughter Seo Young Episode 49 – 1



Dunia seakan berhenti saat ayah meneteskan air mata, menyesal dalam hati, “Maafkan aku karena menjadi ayah yang buruk.”


Dan kita dibawa ke dunia ayah 2 tahun yang lalu, 3 Februari 2011. Hari itu adalah hari ulang tahun Seo Young dan Sang Woo. Ayah memasak sup rumput laut dan Sang Woo yang membantunya berkata kalau ia akan menelepon Seo Young nanti saat ia di rumah sakit.

Note : Saat Seo Young akan menikah, Seo Young beralasan pada ayah kalau ia menerima beasiswa dan akan sekolah ke luar negeri untuk waktu yang sangat lama. Pada Sang Woo, ia mengatakan alasan sebenarnya membuat Sang Woo luar biasa marah. Sang Woo pun memutuskan hubungan dengan kakaknya dan meminta kakaknya tak menemuinya lagi.


Ayah sejenak terdiam, dan Sang Woo pun buru-buru menambahkan alasannya menelepon kakaknya nanti karena terdapat perbedaan waktu.


Ayah menatap sup rumput laut yang sedang ia masak dan berkata seakan menenangkan Sang Woo, yang ia tahu telah berbohong, dengan mengatakan kalau Seo Young pasti juga melupakan hari ulang tahunnya karena sibuk.


Namun yang terjadi kemudian adalah ayah pergi ke warnet untuk mencari alamat rumah Seo Young sekarang. Dari menggoogle nama CEO Winners, ayah mendapatkan alamat mertua Seo Young.


Berbekal gambar pagar depan rumah Woo Jae, ayah pergi mencari rumah itu. Ayah menunggu di balik tiang listrik, berharap melihat sekelebat bayangan putrinya yang hari ini berulang tahun.


Kebetulan Seo Young dan Woo Jae keluar rumah dengan bergandengan tangan, sepertinya akan berolah raga. Seo Young berhenti sejenak dan menaikkan risleting jaket Woo Jae yang belum tertutup sempurna.


Dari kejauhan, ayah memandangi putri dan suaminya yang tampak sangat bahagia dan saling mencintai. Tak ada rasa getir di wajah ayah. Hanya kebahagiaan terpancar di wajah ayah. Senyum bahagia.


Kenangan itulah yang terakhir diingat oleh ayah. Ketika selang masuk ke dalam mulut ayah dan kesadaran ayah perlahan-lahan mulai menipis, hanya permintaan maaf akan kejadian 2 tahun yang lalu yang terucap dalam hati ayah, “Maafkan aku,  karena aku tetap ingin melihatmu walau kau tak menginginkannya.”


Dan ayah menutup mata.


Kyung Ho pun melihat kondisi ayah yang semakin kritis. Walau Mi Kyung masih terus memompa udara ke dalam mulut ayah, Kyung Ho memutuskan untuk memindahkan ayah ke ICU. Para perawat pun mendorong ranjang ayah untuk memindahkannya.


Seo Young mencoba mengejar ayahnya. Tapi Sang Woo menahan kakaknya, dan meminta Seo Young agar tetap tenang. Tapi Seo Young tak bisa. Ia menangis dan berkata, “Aku tak pernah berbicara baik-baik dengan ayah.”


Sang Woo pun meminta Woo Jae untuk menenangkan Seo Young dan meninggalkan mereka. Woo Jae memeluk Seo Young tapi Seo Young memberontak dan  memohon, “Tolonglah aku. Selamatkanlah dia, Woo Jae-ssi”


Kondisi ayah sudah stabil dan para dokter keluar untuk menemui keluarganya.  Woo Jae dan Ho Jung segera menghampiri mereka dan Ho Jung bertanya kondisi ayah mertuanya pada kakaknya. Kyung Ho menjawab kalau kondisi ayah sudah stabil tapi yang dapat mereka lakukan sekarang hanyalah menunggu.


Seo Young masih terduduk diam, mendengarkan percakapan mereka. Saat Kyung Ho sudah pergi, ia bangkit menghampiri adiknya dan bertanya ragu, “Apakah ayah dalam bahaya?’


Sang Woo mengangguk dan mengutip jawaban Kyung Ho, “Yang hanya dapat kita lakukan hanyalah menunggu.Kau tak dapat menjenguknya, jadi untuk sementara waktu ini, pulanglah ke rumah.” Ia menoleh pada Woo Jae dan Ho Jung dan meminta mereka untuk kembali ke rumah juga, “Aku akan di sini untuk menjaga ayah.”


Dengan lirih, Seo Young menirukan permintaan Sang Woo pada Woo Jae, karena orang tua Woo Jae akan khawatir dan juga Woo Jae harus bekerja esok hari. Seo Young pun berjalan gontai meninggalkan ICU. Woo Jae hanya dapat menatap kepergiaan mantan istrinya itu.


Woo Jae juga mengalami kegalauan yang luar biasa. Pandangan ayah mertua yang menatapnya sebelum hilang kesadaran, menghantui pikirannya. Dan ia tak dapat mengenyahkan kenangan saat ayah mertuanya menyelamatkan dari kecelakaan di pagi hari itu. Woo Jae hanya dapat menghela nafas frustasi.


Mi Kyung yang sedari tadi mengawasi kakaknya, mendekati Woo Jae. Ia pun menyuarakan permintaan Sang Woo dan Kyung Ho, menyuruh Woo Jae untuk pulang. Tapi Woo Jae malah bertanya bagaimana kemungkinan mertuanya itu bisa sembuh. Mi Kyung kembali menirukan ucapan Kyung Ho kalau mereka hanya bisa menunggu.


“Jika sesuatu terjadi pada ayah, Seo Young tak akan bisa menemuiku lagi,” ujar Woo Jae dengan tatapan kosong.


Mi Kyung meminta Woo Jae untuk tak menyalahkan diri sendiri, “Tolong pikirkan Seo Young. Jangan menyalahkan dirimu di hadapan Seo Young.”


“Kenapa semuanya berakhir seperti ini?” tanya Woo Jae lirih. Ia menghela nafas, “Bukan ini alasanku untuk menikahinya.”


Seo Young ternyata tidak pulang ke rumah, tapi kembali ke kamar tempat ayah dirawat. Masih terngiang-ngiang kata-kata ayahnya yang terakhir. Maafkan aku yang selalu mengatakan kalau yang aku lakukan ini karena untukmu.


Ia juga teringat bagaimana ibu mertuanya dan Woo Jae menyiapkan acara sembahyangan untuk ayahnya (yang menurut Seo Young sudah meninggal) di hari ulang tahun ayahnya. Seo Young memejamkan mata, merasa bersalah akan dusta 3 tahun yang lalu. Karma mungkin akan datang dalam waktu dekat ini.


Suara Sang Woo yang menyapanya membuatnya membuka mata. Tapi perasaan bersalah itu masih ada. Ia mengabaikan pertanyaan Sang Woo yang ingin tahu mengapa Seo Young belum pulang juga. Seo Young malah berkata,


“Saat kaki Woo Jae terkilir, aku benar-benar khawatir dan memintamu untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.  Tapi berbeda dengan ayah. Saat itu ketika ayah datang untuk menemuiku, aku bahkan tak pernah bertanya apakah ia baik-baik saja. 

Aku tak berterima kasih padanya karena telah menyelamatkan Woo Jae, tapi aku malah marah padanya. Kebohonganku diketahui oleh Woo Jae karena ayah terus menerus muncul di hadapannya. Aku malah marah padanya.”


Sang Woo mencoba membesarkan hati Seo Young dengan mengatakan kalau Seo Young juga tak tahu kalau organ dalam ayah saat itu terluka. Tapi Seo Young malah menyalahkan dirinya. Karena ayah tak mau ketahuan oleh Woo Jaelah, maka ayah melarikan diri dari rumah sakit, “Aku bahkan tak pernah menanyakan kondisinya setelah kecelakaan itu. Jika saja pagi itu aku ikut lari pagi bersama Woo Jae..”


Mereka tak menyadari kalau ada seseorang berdiri di depan pintu kamar, tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


Woo Jae.


Seo Young menggeleng dan mengkoreksi kata-katanya sendiri, “Bukan. Seharusnya aku tak berkata kalau aku ingin menemani Woo Jae lari pagi… Bukan. Seharusnya aku tak menikahi Woo Jae….”


Woo Jae tersentak mendengar pengakuan Seo Young. Apalagi saat ia mendengar lanjutannya, “Bukan. Kalau saja aku tak pernah bertemu dengan Woo Jae..”


“Sang Woo-ya.. Aku bahkan membuat Woo Jae menyiapkan acara sembahyangan untuk ayah,” pengakuan Seo Young mengagetkan Sang Woo, “Jika ayah meninggal, itu berarti aku yang telah membunuhnya.”

“Ayah menyelamatkan Woo Jae karena ayah tahu siapa Woo Jae sebenarnya. Namun ayah juga melarikan diri karena siapa Woo Jae sebenarnya.”


Woo Jae mundur dan menutup pintu kamar dengan perlahan. Hatinya hancur mendengar ucapan Seo Young.


Sayang ia tak mendengar kata-kata Seo Young selanjutnya. Karena seperti pengakuan Seo Young pada Sang Woo, sedikitpun ia tak menyalahkan Woo Jae, karena keputusan untuk menikah adalah di tangannya sendiri dan Woo Jae pun juga terluka karena ini. 

Dalam pikirannya ia sering berandai-andai jika ia tak bertemu dengan Woo Jae maka kondisi ayah tak akan seperti ini, “Aku mungkin akan membenci ayah, tapi aku pasti bisa bertahan dan menemukan jalanku. Tapi setidaknya ayah tak akan seperti ini.”


Sang Woo mencoba membesarkan hati Seo Young karena keinginan ayah pastilah tidak seperti itu.Seo Young juga tahu hal itu, karena itu ia semakin merasa bersalah pada ayah. Selama ini Ayah belum pernah menikmati hidupnya sendiri, dan kata terakhirnya adalah maaf kepada mereka.

Dan kembali Seo Young menyesali kebohongannya pada keluarga Woo Jae yang mengawali semuanya ini, “Kenapa aku tak berkata jujur saja? Kenapa aku terus membenci ayah padahal ayah selalu menyayangiku. Kenapa aku tak pernah mengingat hal itu?”


Sang Woo meminta Seo Yeong berhenti menyesali diri, karena sekarang tak ada gunanya. Seo Young : “Aku tak tahu lagi bagaimana harus meneruskan hidupku jika ayah meninggal seperti sekarang ini.”


Makan malam di kediaman Choi seperti pesta saja. Gang Sun memasak makanan lengkap, bahkan memasakkan makanan favorit suaminya. Melihat suaminya makan dengan lahap dan bahagia, saatnya interogasi. Gang Sun bertanya apakah Min Suk berniat untuk menceraikannya? Tentu saja tidak, ia melakukan hal itu karena merasa rendah diri, tak memiliki kemampuan apapun. Reaksi Gang Sun? “Kau pasti sekarang sedang berakting, kan? Kau sekarang kan sudah menjadi aktor.”


Ha. Tapi Min Suk benar-benar serius dengan kata-katanya. Ia sebenarnya berencana untuk sukses menjadi aktor dan kembali pada Gang Sun, “Terima kasih atas semuanya.”


Min Suk berjanji akan mengajarkan istrinya naik sepeda. Gang Sun bingung dengan apa yang sedang dibicarakan suaminya. Maka Min Suk mengingatkannya kalau dulu Gang Sun ingin belajar naik sepeda saat awal pernikahannya dulu, tapi mereka dulu terlalu miskin untuk membeli sepeda.

Aww.. so sweet. Gang Sun sampai terkesima karena suaminya masih mengingat hal sekecil itu.

By the way, kenapa yang muncul di otak saya adalah mereka berdua naik sepeda mini warna kuning, dan Ibu Ho Jung ini duduk menyamping ala Full House, ya… *komen ga penting*


Ho Jung duduk di kamar perawatan ayah dan menangis menatap fotonya bersama ayah saat perayaan Chuseok. Dan ia tak dapat menyembunyikan isak tangisnya saat ayahnya meneleponnya untuk mengatakan kalau ayah sudah pulang ke rumah.


Ayah kaget mendengar anaknya menangis dan betapa kagetnya mereka saat Ho Jung memberitahu kalau besan mereka masuk rumah sakit dan sudah dalam kondisi kritis.


Sementara di kediaman Kang juga terjadi perdamaian yang romantis. Well, sebenarnya ayah Woo Jae yang melakukannya. Dengan manisnya, ia menepuk-nepuk tempat tidur baru yang sekarang hanya satu di kamar mereka. Ia meminta istrinya untuk mencoba tempat tidur itu. Dengan cueknya, ibu menjawab, “Aku sudah biasa tidur terpisah. Aku tak tahu apa aku bisa tidur.”


LOL, ayah pun kesal dan meringkus ibu. Ibu berteriak kaget, dan langsung berdiri, apalagi ia mendengar suara di luar yang berarti kalau tidak Woo Jae, ya Mi Kyung yang pulang.


Ibu langsung bergegas keluar dan tersenyum melihat putra sulungnya. Ia pun menyapa, “Woo Jae, ibumu ini sudah pulang.”


Tak terduga, reaksi Woo Jae hanya senyum lemah dan bersyukur atas kepulangan ibunya. Ibu kaget, dan semakin kaget saat melihat wajah Woo Jae. Matanya merah dan wajahnya pucat. Ibu pun langsung menebak, “Apakah kau baru saja menangis?”


Woo Jae membantah dugaan ibu, tapi ibu tak percaya. Ayah keluar kamar dan ikut khawatir. Woo Jae menenangkan mereka kalau ia baik-baik saja dan ia pun pamit untuk ke kamarnya.


Tapi sesampainya di atas, ia malah duduk termenung di ruang tengah. Ucapan Seo Young rupanya mengena di hatinya. Sekarang ia melihat dari sudut pandang Seo Young. 


“Jika kau kehilanganku, kau akan menyesal selamanya,” itulah kata-katanya pada Seo Young saat ia membujuk Seo Young untuk menikahinya.


Woo Jae menyadari betapa pemaksanya dia saat ia ingin menikahi Seo Young. Ia tak menyadari kalau ibu naik ke lantai dua dan melihat betapa galaunya dia.


Kembali ke kamar, Ibu bertanya pada ayah apakah Woo Jae selama ini berada di kondisi seperti itu? Ayah malah mengatakan sebaliknya. Ia malah menduga kalau Woo Jae pacaran lagi dengan Seo Young. Tapi ibu langsung memikirkan hal yang terburuk, “Mungkin mereka memang pacaran dan Seo Young menolaknya.”

Ha! Ibu pasti kebanyakan nonton drama korea selama di rumah temannya.


Ibu pun membicarakan tentang perceraian Woo Jae dan bertanya-tanya, mengapa mereka menyuruh Woo Jae dan Seo Young untuk bercerai? Ayah menjawab kalau mereka tak menyuruh bercerai. Seo Young sendiri yang melarikan diri. Ia masih merasa kesal jika mengingat kebohongan yang dilakukan oleh Seo Young dan Seo Young hanya meminta maaf tapi tak pernah menjelaskan apapun.


Ibu mengatakan kalau dalam sebuah kebohongan, tak hanya rasa terkhianati yang tersisa tapi juga meninggalkan hal lain. Pada kasus Sekretaris Yoon, kebohongan Sekretaris Yoon memberikan Sung Jae padanya. Kebohongan si pesulap membuatnya menyadari kalau Sung Jae adalah benar-benar putranya. Bahkan juga mengembalikan ayah padanya.


“Tapi Seo Young?” Ibu berpikir sejenak dan kemudian berseru, “Ia memberikan dirinya sendiri. Ia memberiku kasih sayang. Ia membuatku percaya pada orang sepertimu. Bukankah itu ia memberikan segalanya?”


Ayah tak percaya kalau istrinya sekarang bisa sepintar ini. Haha.. Tapi mendengar pujian suaminya, ia malah makin kuatir dengan apa yang terjadi pada hubungan anaknya dan bekas menantunya itu.


Sudah jam 3 pagi, Seo Young masih belum pulang. Ia bahkan belum tidur dan masih duduk menunggu di depan ICU.


Begitu pula Sang Woo. Sendiri di ruangannya, Sang Woo menangis sendiri. Ho Jung datang dan duduk di sampingnya. Sang Woo mengaku kalau ia sekarang sangat ketakutan, “Apa yang akan kulakukan jika ayah meninggal?”


Ho Jung bangkit, menggelengkan kepala, menolak untuk terjadi. Ia pun memeluk Sang Woo yang sekarang menangis tersedu-sedu, “Hatiku rasanya mau pecah..”


Ho Jung tak dapat mengatakan apapun, hanya memeluk suaminya semakin erat.


Keesokan paginya, Seo Young menjenguk ayahnya di ICU. Dalam hati ia berkata pada ayah, “Maafkan aku karena tak kembali lebih cepat. Maafkan aku. Tapi jika ayah pergi seperti sekarang ini.. Ayah sangat mengenalku. Ayah yang membuatku seperti ini, dan aku tak akan mampu untuk meneruskan hidupku.”


Kali ini Seo Young berkata pada ayah, “Aku akan memaafkan semua yang pernah ayah lakukan. Bangunlah, Yah. Ada yang ingin kukatakan pada ayah. Aku akan melakukan apapun yang ayah perintahkan.”


Mi Kyung sedang mengisi form beasiswa saat kedua rekannya masuk ke ruangan. Salah satu rekannya yang juga ikut melamar beasiswa bertanya apakah Mi Kyung yang anak chaebol masih harus mencari beasiswa? Mi Kyung menjawab diplomatis kalau ia melamar beasiswa itu karena ia adalah dokter bedah dan bukannya anak chaebol.


Sementara itu Sung Jae sedang menonton adegan perkelahian Min Suk dan mengakui kalau sahabat ayahnya ini sangat bagus aktingnya. Jadi sebenarnya Min Suk tak perlu cemas akan aktingnya. Sung Jae pun berniat untuk merubah gaya rambut Min Suk dengan mengecatnya agar terlihat lebih muda.


Tiba-tiba ada telepon masuk dan bertanya apakah Sung Jae adalah manajer Min Suk. Sung Jae mulanya bingung, namun kemudian mengiyakan.


Min Suk dan Gang Sun sedang bersiap-siap untuk menjenguk ayah mertua Ho Jung, namun Sung Jae meneleponnya dan memberitahukan tawaran casting itu. Min Suk meminta Gang Sun untuk menjenguk besan mereka dan ia akan menemui Gang Sun nanti di sebuah rumah makan. Ia telah berjanji dengan Ki Bum dan istrinya untuk makan siang bersama.


Min Suk pun menemui Sung Jae dan terkejut karena mendapat tawaran casting di sebuah drama akhir pekan. Di drama ini ia berperan sebagai pesulap yang memberi kehidupan baru bagi ibu dari si pemeran utama (LOL, kaya drama apa yaaa…?), dan Sung Jae pun meyakinkan, “Walau Paman Min Suk hanya bermain 2 episode saja, tapi jika Paman mampu bermain dengan baik, ini para ahjumma pasti akan jatuh cinta pada Paman.”


Betapa senangnya Min Suk mendapat tawaran ini. Tapi ia juga heran bagaimana Sung Jae bisa mendapatkan tawaran casting ini? Sung Jae mengatakan kalau ia bertemu dengan asisten sutradara dan menunjukkan profil Min Suk.


Profilnya? Dan Min Suk pun terkesima melihat profil yang telah dibuat Sung Jae, apalagi dengan embel-embel pengalaman 30 tahun berakting. Kan dia baru saja terjun ke dunia akting? Dengan senyum lebar, Sung Jae mengatakan kalau ia memasukkan pengalaman acting Min Suk saat di universitas 30 tahun yang lalu.

Ha. Bahkan Min Suk pun harus mengakui kalau untuk urusan seperti ini, Sung Jae sangat pintar.

Hmm.. iya juga ya.. Dan seperti sebuah persetujuan, saat asisten sutradara menelepon Sung Jae, Sung Jae pun menjawab dengan sapaan, “Halo, saya adalah manajer Choi Min Suk.”


Atas permintaan istrinya, ayah akan berbicara dengan Woo Jae. Tapi ternyata Woo Jae sudah keluar rumah pagi-pagi sekali. Ibu heran, apa Woo Jae pergi ke kantor di hari libur dan pergi tanpa pamit?


Keheranan mereka bertambah saat melihat kedatangan Seo Young. Seo Young terlebih dulu meminta maaf karena mengganggu hari libur mereka. Ibu pun bertanya apakah ada masalah dengan Woo Jae? , ”Apakah ia tak sedang pergi menemuimu?”


Seo Young mengatakan tidak. Kedatangannya kemari karena ingin mengatakan sesuatu, “Saya ingin meminta maaf karena menikahi Woo Jae setelah berbohong kalau ayah saya sudah meninggal.”


Ibu heran mendengar permintaan maaf itu, karena Seo Young sudah pernah mengatakan hal ini. Seo Young menjawab kalau saat itu ia tak menceritakan semuanya. Ayah meminta ibu untuk mendengarkan Seo Young dulu.


“Jika saya tahu betapa baiknya ayah dan ibu, saat itu saya mungkin akan berkata sejujurnya. Saat itu saya sangatlah bodoh. Saat itu, saya tak ingin menikahi Woo Jae. Saya tertarik padanya karena kami bertemu di kala kehidupan saya sangatlah sulit. Tapi saya tak ingin menikahinya kalau ayah dan ibu tak menyetujuinya. Saya tak menyangka kalau ibu menyetujuinya.”

Saya membenci ayah saya dan saya juga malu akan dirinya. Saya sangatlah egois, saat itu saya tak ingin direndahkan karena dirinya. Namun ketika saya tinggal di sini, melihat betapa ayah dan ibu mempercayai saya, saya semakin tak bisa memberitahukan karena takut mengecewakan ayah dan ibu. Juga Woo Jae-ssi. 

Saya minta maaf karena melukai Woo Jae dengan perceraian dan mempermalukan ayah dan ibu. Tolong maafkan saya.”


“Ini seperti bukan dirimu. Mengapa kau menceritakan perasaanmu pada kami. Apakah kau mengatakan ini karena kau ingin kembali pada Woo Jae?” tanya ayah.


Seo Young menjawab tidak. Ia hanya tak ingin melukai mereka lebih banyak lagi. Ibu menatap Seo Young khawatir, “Lalu mengapa kau tiba-tiba menceritakan hal ini pada kami?”


Sesaat Seo Young menunduk dan kemudian menjawab, “Saya ingin meminta maaf secara tulus sebelum terlambat.”


“Apa maksudmu mengatakan itu?” tanya ayah heran.


“Jika saya tak meminta maaf sekarang..,” Seo Young sedikit tercekat dan kemudian memaksakan senyumnya, “Saya pikir saya akan menyesalinya seumur hidup saya.”

“Hanya itu?” tanya ayah semakin heran.


“Ibu. Ayah. Mohon jaga kesehatan,” kata Seo Young yang kemudian berdiri dan membungkuk pada kedua orang tua Woo Jae. Dan ia pun meninggalkan mereka yang terdiam lama setelah kepergiannya.


Ayah menghela nafas, merasa aneh karena Seo Young datang ke rumah pagi-pagi sekali dengan muka pucat dan tiba-tiba meminta mereka untuk memaafkannya. Ibu juga mengamati betapa lemahnya Seo Young seakan tak punya kekuatan.


Ayah menyuruh istrinya untuk menelepon Woo Jae. Tapi ternyata handphone Woo Jae tak diangkat. 


Keheranan ayah pun menjadi sebuah kekhawatiran, “Apa yang terjadi? Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka?”

Bersambung ke bagian 2. Note : saya baru akan menulis sinopsis MDSY setelah menyelesaikan Sinopsis GFB ep 6, ya..

9 comments:

  1. oke mbak,
    MAKASIH juga udah ngelanjutin sinop drama ini...
    nanggung tinggal 2 episode soalnya :P
    (yg ep awal emang udah tdk tertolong hehe)
    dira

    ReplyDelete
  2. bener-bener menguras air mata klo nntn serial ini :(
    aku suka tokoh si ibu mertua. agak aneh, tapi bukan jahat.
    tapi semua tokoh yang disini keren.

    pantesan rating tinggi dsana meskipun drama dengan jumlah 50 eps..

    ReplyDelete
  3. walau dah nonton episode 50 nya dan happy end tapi tetep nangis juga waktu ngebaca sinop dari mbak...
    gumawo...
    semangat mbak dee

    ReplyDelete
  4. akhirnya yang ditunggu dateng,,thx ^^

    ReplyDelete
  5. Mba dee gomapta,mini

    ReplyDelete
  6. akhirnya.....
    trims banyak mb dee, mau melanjutkan sinopsisnya....
    karna penasaran ama 2 episode terakhir, akhirnya aku liat di dramacrazy.net, happy ending...bahagianyaaaaaa!!!!
    tapi belom afdhol kalo belom baca sinopsisnya di sini ^_^

    ReplyDelete
  7. Sdh beli dvdnya tapi blom sempet nonton.. Mo tunggu sinop dr mba dee dulu sampe selesai..
    Kamsha mba sdh mau dilanjutin lagi sinopnya.. ^^

    ReplyDelete
  8. Waahhh episode yg menguras air mata.....makasih mb dee ....ditunggu kelanjutannya ...S̤̥̈̊є̲̣̥є̲̣̣̣̥♍ªªªηgªª†̥

    ReplyDelete
  9. Haduuhhh.. Bakal lama mnunggunya. Hiiikkksss tp tdk apa2. Yg penting ada nongol nih sinop. Terima kasih mbak..

    ReplyDelete