March 10, 2013

Sinopsis My Daughter Seo Young Episode 48

Keluarga besar Lee

Sinopsis My Daughter Seo Young Episode 48


Di tengah kerumunan orang dan Seo Young juga Ho Jung yang panik, Sang Woo memeriksa kondisi ayah. Saat ia menekan perut ayah, ayah mengerang kesakitan. 

Wajah Sang Woo semakin cemas setelah memeriksa suhu badan ayahnya. Memiliki dugaan tersendiri, Sang Woo segera menyuruh Ho Jung untuk membawa mobilnya kemari. Ho Jung pun segera melakukan perintahnya.



Wajah Seo Young memucat saat mendengar kalau ayah perlu diperiksa secara khusus di rumah sakit, yang berarti sakitnya ayah ini tidak ringan.


Ayah dibaringkan di kursi belakang mobil Sang Woo lagi. Seo Young menengok ayahnya yang masih meringkuk kesakitan. 


Merasa kalau Seo Young masih mencemaskannya, ayah membuka mata dan menenangkan Seo Young kalau ia baik-baik saja.


Sang Woo pun masuk mobil yang kali ini dikemudikan oleh Ho Jung. 

Seo Young masuk ke dalam mobilnya sendiri, dan menyalakan mobil dengan gemetar. Betapa frustasinya ia karena di saat seperti ini mobilnya tak mau bergerak. Dua kali ia mencoba, dua kali pula mobilnya mati. Ia menghela nafas panjang, menenangkan diri.


Dan ia baru teringat kalau ia belum melepas rem tangannya. Segera setelah ia menginjak rem tangannya, mobilnya bisa berjalan dan ia langsung melarikan mobilnya, menembus kemacetan menuju Seoul.


Sang Woo menelepon Mi Kyung agar disiapkan satu tempat. Mi Kyung kaget dan menduga kalau Ho Jung sakit. Ia lebih terkejut lagi saat mendengar kalau ayah Sang Woo yang sakit.


Paramedis sudah menunggu di depan rumah sakit, sehingga ayah bisa segera dibawa untuk menjalani pemeriksaan. Seo Young tiba beberapa saat setelah itu dan ayah sudah ditempatkan di UGD.


Kyung Ho merasa heran melihat hasil USG perut ayah yang sangat buruk. Dan dari hasil cek darah, diketahui kalau ayah mengalami peritonitis, radang yang disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut. Dan radang itu sekarang sudah menyebar ke organ tubuh yang lain karena tingkat stress yang berlebih. Tak hanya itu, ayah juga mengalami keracunan darah yang terjadi karena ada perdarahan yang tak segera ditangani.


Kyung Ho bertanya apakah ayah pernah mengalami kecelakaan di jantung atau perutnya? Sang Woo tak pernah mendengar ayah jatuh atau kecelakaan.


Sang Woo pun menemui ayah dan bertanya apakah ayah pernah mengalami kecelakaan sebelum ini? Ayah mencoba mengingat-ingat dan satu-satunya kecelakaan yang ia alami adalah saat ia menyelamatkan Woo Jae di pagi-pagi buta.


Ayah melirik Seo Young dan tahu kalau ia tak bisa mengungkapkan hal ini. Maka ia pun menutupi kejadian itu dengan bertanya mengapa Sang Woo menanyakan hal ini?


Tapi Seo Young melihat lirikan ayah yang panik dan itu malah membuatnya teringat akan kejadian Woo Jae. Pada Sang Woo ia mengatakan kalau ayah pernah menyelamatkan Woo Jae dulu. Sang Woo kaget karena ia tak pernah mendengar hal ini. Seo Young pun bertanya pada ayah apakah pada saat menyelamatkan Woo Jae, ayah sempat tertabrak?


Di saat yang sama, Mi Kyung datang bersama perawat dan mendengar pertanyaan Seo Young..


Dengan enggan, ayah mengangguk lemah, membuat semua yang mengerumuni tempat tidur ayah sangat shock.


Sang Woo yang pertama kali pulih dari kagetnya, menarik Seo Young untuk mengajaknya berbicara berdua  saja.


Mi Kyung teringat kalau pada saat kecelakaan, Woo Jae mengatakan kalau lukanya tak parah, karena ada orang yang menyelamatkannya. Ia segera menelepon kakaknya untuk bertanya apakah orang itu adalah ayah Seo Young? Tentu saja Woo Jae heran, bagaimana Mi Kyung mengetahui hal ini?


Note : dari awal, Woo Jae tak memberitahukan identitas penyelamatnya (Yoo Man Ho: nama samaran Lee Sam Jae) pada keluarganya.


Di luar UGD, Sang Woo bertanya tentang kejadian itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Seo Young menceritakan tentang Woo Jae yang hampir ditabrak mobil jika ayah mereka tak menyelamatkan Woo Jae. Namun saat ia tiba di rumah sakit, ia tak sempat bertemu dan mengucapkan terima kasih pada penyelamat Woo Jae, karena ayahnya sudah menghilang.


Sang Woo terkejut  dan Seo Young semakin cemas dan bertanya mengapa Sang Woo menanyakan hal itu.Dan Sang Woo menjawab kalau luka yang diderita ayah karena trauma di perut yang tak segera tertangani.


Seo Young tersentak dan menangis, menyadari kalau kecelakaan itu adalah penyebab dari sakit yang diderita ayah saat ini.


Mereka dikejutkan oleh teriakan Ho Jung, dan ternyata ayah akan dipindahkan untuk menjalani operasi. 


Seo Young terbata-bata, ingin mengatakan sesuatu. Tapi tak satupun kata muncul. Namun wajahnya memperlihatkan penyesalan dan kekhawatiran yang mendalam.


Ayah menatap Seo Young dan tersenyum lemah menenangkan putrinya, lagi-lagi berkata, “Aku baik-baik saja.”


Sang Woo meminta pada Kyung Ho agar bisa mendampingi profesornya itu untuk mengoperasi ayahnya. Hal yang tak biasanya terjadi, namun Sang Woo meyakinkan Kyung Ho kalau ia mampu (secara emosi) untuk mengikuti operasi itu.


Kyung Hoo menatap Sang Woo lama dan menghela nafas sebelum akhirnya memberi persetujuannya.


Woo Jae melarikan mobilnya menuju rumah sakit. Selama perjalanan kejadian hari itu terus terulang di benaknya. 


Betapa ayah mertuanya tiba-tiba muncul dan mendorongnya, menggantikan dirinya untuk tertabrak mobil. Saat itu ayah mertuanya sempat tak sadarkan diri. Dan setelah mereka bertemu lagi, ayah mertuanya itu tak mau menjalani pemeriksaan lebih lanjut, walau ia telah membujuknya.


Woo Jae menghela nafas, menyesali dirinya sendiri karena tak memaksa ayah mertuanya lebih keras lagi.


Operasi ayah Sang Woo dimulai. Seo Young dan Ho Jung menunggui di depan kamar operasi. Seo Young memejamkan mata, teringat betapa saat itu ia berkata pada Woo Jae kalau ia ingin bertemu dengan penyelamat suaminya itu dan mengucapkan terima kasih padanya.


Seo Young membuka mata saat mendengar  Ho Jung berbicara untuk melepaskan rasa cemas karena menunggu. Ho Jung berkata kalau ayah belum lama merasakan kebahagiaan yang ia idam-idamkan, yaitu Seo Young telah kembali dan mimpinya menjadi kenyataan.


Seo Young terkejut mendengar ucapan Ho Jung yang terakhir. Ia tak tahu kalau ayah memiliki impian. Ho Jung menjelaskan kalau impian ayah adalah menjadi tukang kayu dan betapa bahagianya ayah saat bekerja di bengkel kayu itu.


Woo Jae datang dan menjelaskan kalau ia diberitahu oleh Mi Kyung. Ia menyesal dan minta maaf pada Seo Young karena dulu ia tak bisa membujuk ayah Seo Young untuk menjalan pemeriksaan kesehatan setelah kecelakaan itu.


Seo Young menunduk dan suaranya bergetar saat berkata, “Bukan salahmu, tapi semua ini salahku.”


Operasi selesai dan para dokter keluar. Sebelum pergi Kyung Ho memberitahukan pihak keluarga kalau operasi berjalan dengan baik. Kyung Ho dan para perawat meninggalkan mereka, hanya tinggal Sang Woo dan Mi Kyung.


Mi Kyung menarik kakaknya agar Sang Woo dapat berbicara dengan keluarganya. Karena yang sebenarnya terjadi adalah terjadi kerusakan dalam usus halus ayah akibat trauma kecelakaan dan semakin diperburuk akibat stress yang berlebih.


Seo Young kaget mendengarnya. Stress? Ia tak dapat menahan air matanya, menyadari kalau penderitaan ayah tak hanya karena menyelamatkan suaminya, tapi juga karena stress yang berlebih yang tak lain adalah karena dirinya.


Seo Young semakin terisak mendengar kata-kata Sang Woo selanjutnya. Sebenarnya keterlibatannya dalam operasi ini adalah semata-mata karena ia khawatir kalau ayah akan  meninggal di meja operasi, tapi syukurlah karena ayah bisa melewati operasi ini dengan baik karena ternyata organ dalam ayah sangatlah parah, 
“Ayah pasti merasakan sakit luar biasa kemarin malam dan ia pasti menahan rasa sakit itu agar bisa pergi ke Jinan bersama kita.”

Ho Jung menangis dan Seo Young pun tersedu-sedu, menyesali semua kejadian yang menyatu sehingga mengakibatkan kejadian hari ini.


Begitu pula Woo Jae. Ia jatuh terduduk saat Mi Kyung memberitahu kalau semua kejadian hari ini dapat dicegah jika ayah Seo Young diperiksa segera di hari setelah kecelakaan itu.


Note : Awal terjadinya kecelakaan itu adalah : malam sebelum kecelakaan, Seo Young memutuskan untuk ikut lari pagi bersama Woo Jae. Tapi keesokan paginya, Woo Jae yang melihat Seo Young belum bangun, membiarkan istrinya tidur dan lari pagi sendiri.  Setelah Woo Jae pergi, Seo Young bangun dan menyadari kalau ia ditinggal Woo Jae. Ia pun menelepon suaminya.


Woo Jae berbicara dengan riang, tak menyadari kalau ada mobil di tikungan yang mengarah padanya.


Ayah, yang sering menunggu di depan rumah Seo Young untuk melihat sekelebat putrinya, melihat kejadian itu. Ia pun mendorong Woo Jae, sehingga ia yang tertabrak mobil. Ayah segera dibawa ke rumah sakit oleh Woo Jae. Rumah sakit itu adalah rumah sakit tempat adiknya bertugas. Rumah sakit yang sama dengan rumah sakit Sang Woo.

Ayah yang tak mau ketahuan oleh Sang Woo kalau ia menyelamatkan suami Seo Young (tak ada yang tahu kalau ia sudah tahu akan pernikahan Seo Young) segera menghilang sebelum sempat menjalani pemeriksaan kesehatan.


Mi Kyung mencoba menghibur kakaknya, tapi Woo Jae melambaikan tangannya, meminta Mi Kyung pergi. Maka Mi Kyung pun pergi memberikan waktu bagi kakaknya. Di lorong, ia bertemu dengan Kyung Ho yang secara mengejutkan memujinya yang telah melakukan tugasnya dengan baik.


Walau kemudian kata-kata berikutnya benar-benar OOT. Kyung Ho bertanya apakah drama War and Love akan tayang jam 11 malam nanti? Mi Kyung bengong mendengarnya.


Ternyata  pertanyaan Kyung Ho itu berkaitan dengan kedatangannya di rumah ibu tirinya, Gang Sun. Gang Sun kaget melihat Kyung Ho datang dengan membawa camilan dan langsung menyalakan TV untuk menonton drama War and Love.


Rupanya drama itu adalah drama yang ada mafia yang diperankan oleh Min Suk. Min Suk menonton drama itu dengan Sung Jae. Mereka menanti, saling bergenggaman tangan. harap-harap cemas apakah adegannya dimunculkan atau tidak. Karena Min Suk hanyalah cameo seperti Sung Jae, ada kemungkinan adegan itu dihilangkan, sama seperti Sung Jae dulu.


Dan ternyata ada! Min Suk tersenyum gembira menatap wajahnya di layar laptop.


Begitu pula Gang Sun yang mendengar suara suaminya di televisi, sedang dipukuli oleh si suami. Ia melongo menatap wajah suaminya yang selama ini ia cari ke setiap sudut Seoul, ternyata muncul di layar kaca lagi. Ia kaget setengah mati dan sadar kalau Kyung Ho pasti datang kemari untuk menunjukkan hal ini kepadanya.


Kyung Ho memang berniat seperti itu. Ia takut melihat ibunya sedih jika kebetulan menonton drama ini. Dan jika ibu tak menonton drama ini, ia takut ibunya kaget saat orang-orang menelepon ibunya memberitahu kalau suaminya muncul di televisi.


Ibu terharu apalagi saat Kyung Ho memberikan secarik kertas yang berisi alamat tempat tinggal suaminya.


Saat mereka sedang membicarakan akting Min Suk, Sung Jae mendapat telepon dari ibunya. Rupanya ibu ingin mendengar pendapat Sung Jae tentang perubahan sikap ayahnya, apakah ayahnya benar-benar tulus? Sung Jae merasa kalau kali ini ayah benar-benar berubah.


Dan ketika ibu masih bingung akan apa yang harus ia lakukan, Sung Jae pun bertanya apakah ibu sudah tak suka pada ayah, atau ibu marah karena sikap ayah? Sung Jae mencontohkan dirinya sendiri. Ibu sering marah melihat kelakuannya, tapi ibu tak pernah tak menyukai dirinya.


Ibu pun mempertimbangkan saran Sung Jae. Dan yang terjadi kemudian, Sung Jae menjadi pengantar pesan ibu pada ayah. Pesan ibu itu berupa daftar permintaan yang harus dipenuhi jika ingin melihat ibu pulang ke rumah.


Ayah membaca daftar itu dan hampir naik darah membacanya, diantaranya : ‘Selalu menanyakan bagaimana hariku, Pergi belanja bersama-sama, Kencan minimal sekali sebulan’ dan masih banyak yang lainnya. Tapi Sung Jae menambahkan pesan ibunya kalau ibu baru akan kembali ke rumah jika ayah menandatanganinya dan diresmikan di depan notaris.


Haha.. Full House ver. 2.0. Begini mungkin Ji Eun vs Lee Young Jae versi tuanya. Kontrak harus pakai notaris. Di kamar, Ayah memandangi surat perjanjian itu dan melirik tempat tidur istrinya yang kosong.


Keluarga Lee berkumpul di kamar ayah, lengkap dengan Woo Jae, mantan menantunya, yang memilih berdiri agak jauh dari tempat tidur. Ayah sadar dan samar-samar melihat Seo Young, Sang Woo dan Ho Jung. Setelah bayangan mereka semakin jelas, ayah berujar lirih, “Maafkan aku yang pernah mengatakan kalau semua ini adalah demi kalian.”


Sang Woo dan Ho Jung bingung. Seo Young mulanya juga begitu, hingga ia teringat saat ia membebaskan ayah dari kantor polisi setelah dituduh berkencan dengan istri orang (padahal ayah, sebagai penerima tamu di night club, hanya mengantarkan wanita itu pulang). Saat itu ia berteriak frustasi kalau ayah selalu mengatakan alasan yang sama yaitu semua itu demi mereka.


Ayah melanjutkan, “Semuanya ini hanya demi diriku. Maafkan aku karena selalu membuat alasan akan tindakanku.”


Sang Woo meminta ayah tak mengatakan yang bukan-bukan. Ayah pun bertanya jam berapa sekarang. Saat Ho Jung memberitahukan kalau sudah lewat tengah malam, ayah meminta Seo Young untuk pulang karena Seo Young masih harus ke pengadilan besok.


Seo Young mulanya menolak, tapi saat Sang Woo menenangkan kakaknya kalau ia akan menjaga ayah, Seo Young pun menurut walau keengganan itu masih tetap terlihat.


Woo Jae yang melihat keengganan Seo Young itu dan kekhawatiran ayah, mengajukan diri untuk mengantar Seo Young pulang. Ayah kaget mendengar suara Woo Jae. Woo Jae menyapa ayah. Ayah mengangguk lemah.


Woo Jae hendak mengantarkan Seo Young dengan mobilnya. Tapi Seo Young meyakinkan Woo Jae kalau ia dapat pulang sendiri dan berterima kasih atas kedatanannya. Woo Jae yang masih khawatir, meminta Seo Young untuk tak menyalahkan diri sendiri. Seo Young mengangguk dan berkata kalau ia sangat bersyukur dengan keberhasilan operasi itu.


Seo Young menceritakan kegiatan yang sebenarnya akan mereka lakukan hari ini di Jinan. Woo Jae terkejut naman juga senang mendengar kalau Seo Young sudah mulai berbaikan dengan ayahnya. Seo Young pun juga merasa bahagia, tapi sekaligus juga sedih, “Masih sempatkah aku untuk menjadi putri yang baik bagi ayah?”


Woo Jae tak dapat menjawab pertanyaan itu. Ia hanya bisa menyentuh lengan Seo Young, memberi dukungan padanya.


Sang Woo yang menemani ayahnya heran melihat Woo Jae kembali lagi. Woo Jae menjelaskan kalau Seo Young sudah kembali dengan mobilnya sendiri. Mereka mendengar suara erangan ayah, dan Woo Jae bertanya apakah kehadirannya mengganggu. Ayah menggeleng lemah dan Sang Woo tahu erangan itu adalah cara ayah yang ingin berbicara dengan Woo Jae. Sang Woo pun menyingkir.


Woo Jae menghampiri mertuanya dan duduk di sampingnya. Ia melihat perut ayah yang walau tertutup baju, ia tahu ada bekas operasi di sana dan wajahnya makin menampakkan rasa bersalah. Hanya ucapan terima kasih dan maaf yang bisa keluar dari mulutnya.


Ayah menggeleng, meminta Woo Jae tak merasa bersalah, “Aku yang berterima kasih. Karena kau tetap berada di samping Seo Young-ku.” Ayah tersenyum lemah, menenangkan Woo Jae yang berusaha keras untuk tidak menangis.


Tak seperti biasanya yang bisa memisahkan urusan pekerjaan dan pribadi, saat mempelajari kasus Eun Ho, permintaan maaf ayah tadi masih terngiang-ngiang di telinga Seo Young. Seo Young terbangun di meja dapur, dan yang ia lakukan pertama kali adalah memeriksa kondisi ayahnya melalui Sang Woo.


Sang Woo yang masih berjaga di rumah sakit menenangkan Seo Young kalau kondisi ayah stabil dan Seo Young berjanji untuk segera kembali ke rumah sakit setelah urusannya di pengadilan selesai.


Ayah sudah bangun, dan kali ini ditemani Ho Jung dan Sang Woo. Suara Ho Jung bergetar saat mendengar ayah berpesan agar mereka hidup berbahagia dan menjadi orang tua yang baik. Ho Jung meminta agar ayah tidak mengatakan kata-kata seperti itu, seolah-olah itu pesan terakhir ayah.


Dengan suara berat, ayah berkata ketika ia dioperasi, banyak sekali pikiran yang muncul di kepalanya yang ia harap dapat ia katakan sebelumnya. Sang Woo lebih tenang menghadapi kata-kata ayah dengan berkata kalau ayah pasti kaget tiba-tiba mengalami kejadian kemarin. Ayah pun tertidur kembali.


Memulai harinya, Seo Young dan Yeon Hee minum kopi sebelum pergi ke pengadilan Dan Seo Young sudah tampak tenang saat menceritakan peristiwa kemarin pada Yeon Hee. Yeon Hee membesarkan semangat sahabatnya, bersyukur kalau operasinya berjalan dengan baik.


Seo Young pun maju sebagai pengacara Eun Ho untuk melakukan pembelaan. Note: walaupun orang tua korban sudah tak menuntut, tapi Eun Ho masih tetap dituduh bersalah di mata hukum. Maka Eun Ho harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Negara.


Pihak terdakwa sudah mengakui kesalahanny walau Seo Young juga menunjukkan rekaman CCTV saat kejadian malam itu yang dapat meringankan kesalahan Eun Ho. Namun dalam pembelaannya itu, Seo Young tak meminta hakim untuk menihilkan kesalahan Eun Ho, tapi Seo Young meminta agar Eun Ho diberikan kesempatan lagi untuk dapat hidup dengan normal setelah Eun Ho menjalani program pengabdian masyarakatnya.


Seusai sidang, Nenek berterima kasih pada Seo Young walau Seo Young mengatakan kalau mereka belum mendengar keputusan pengadilan itu. Tapi Nenek sudah sangat bersyukur. Tak peduli berapa tahun Eun Ho akan menjalani hukumannya, tapi yang penting adalah Eun Ho sekarang sudah memiiki semangat untuk hidup baik kembali.


Rencana Seo Young untuk langsung ke rumah sakit harus ditunda karena Yeon Hee menelepon dan memintanya untuk kembali ke kantor. Alasannya? Mantan ayah dan ibu mertuanya datang ke kantor.


Diliputi keheranan, Seo Young buru-buru kembali. Ternyata kedatangan orang tua Woo Jae itu adalah untuk melegalkan kontrak yang telah ditandatangani oleh ayah.


Sebelumnya ibu berterima kasih pada Seo Young karena telah menyelesaikan kasusnya dengan baik, dan Seo Young juga berterima kasih sweater yang diberikan ibu mertuanya itu sebagai hadiah ulang tahun, ia baru saja membuka barang kiriman ibunya kemarin. Ibu memarahinya, seakan khawatir karena Seo Young tak seperti biasanya, ceroboh. 


Ayah mengigatkan ibu untuk segera memberitahukan tujuan mereka. Ibu pun menyerahkan selembar kertas dan menjelaskan kalau ia ingin melegalkan kontrak yang ia buat ini di depan hukum. Seo Young menjelaskan kalau ia tak memiliki wewenang melakukan itu karena itu adalah pekerjaan notaris. Tapi ibu bersikeras kalau Seo Younglah yang ia mau untuk menyelesaikan masalah ini.


Ayah menjelaskan kalau ibu datang kemari karena ingin menemuai Seo Young. Tapi ibu menyindir suaminya, bukankah akan menjadi skandal besar jika orang lain tahu mengenai hal ini? Ayah diam tak berkutik.
Seo Young terkesima melihat mereka. Ibu ngomong pedas pada ayah? Baru sekali ini Seo Young melihat hal ini terjadi.


Namun Seo Young tahu penyebabnya saat membaca isi kontrak itu, Ia menatap pada mantan ayah mertuanya, membuat ayah mertuanya salah tingkah dan bertanya pada Seo Young kenapa ia menatapnya seperti itu. Seo Young pun menahan senyumannya dan bertanya, “Apakah ayah sudah menyetujui hal ini?”


Dengan harga diri yang masih tersisa, ayah berkata, “Kenapa? Apa aku kelihatan seperti orang yang diseret ke sini dengan terpaksa?”


Ibu meminta Seo Young untuk memeriksa dokumen itu dan menyuruh mantan menantunya ini untuk meminta bayaran yang besaaar untuk jasanya kali ini. Tapi Seo Young berkata ia yang akan menanggung biaya notaris ini karena ayah telah membayarnya dengan sangat banyak untuk pekerjaan sebelumnya.


Ayah tertawa tak percaya mendengar kedua wanita itu menyindir dirinya terus menerus.


Setelah mereka berdua pergi, Yeon Hee tak dapat menyembunyikan keheranannya akan mantan mertua Seo Young yang selalu menghubungi untuk meminta tolong padanya akan masalah hukum. Seo Young pun menjelaskan apa yang menjadi pikirannya selama ini, kalau mereka berdua memang tak menginginkan ia dan Woo Jae bersama lagi dan meletakkan dengan jelas kalau posisinya hanyalah pengacara mereka.


Yeon Hee pun kali ini tak dapat membantah karena jika dilihat dari persepsi orang luar, argument Seo Young dapat dibenarkan.


Aduhh… padahal kan ya bukan begitu, Seo Young.


Ayah pun mengajak ibu untuk belanja. Belanja apa? Apalagi kalau bukan tempat tidur. Dua tempat tidur lama mereka akan disingkirkan dan disatukan kembali. Ibu terkejut mendengar ide ayah, apalagi ayah mengatakan kalau ibu bisa memilih tempat tidur manapun yang disukai.


Ibu pun mencoba satu per satu, membuat ayah yang tak biasa membuang waktu seperti ini tak sabar. Ia melihat jamnya dan bertanya apakah istrinya itu sudah selesai memilih? Ibu langsung menoleh dan bertanya, “Kenapa? Apa kau sudah bosan?”


Ayah buru-buru menggeleng dan mempersilakan ibu untuk terus melihat-lihat. Haha.. betapa berubahnya ayah sekarang. Saat ibu melihat betapa cantiknya hiasan-hiasan rumah di toko itu, ayah langsung mengusulkan untuk membelinya.


Aww.. ibu terkejut melihat betapa suaminya sekarang so sweet banget.


So Sweetnya itu berlangsung hingga di rumah Gang Sun. Gang Sun saja bengong melihat Ki Bum menutup kopor Ji Sun dengan tangannya sendiri dan berterima kasih karena Gang Sun bersedia menampung istrinya itu. Ia pun menyarankan agar Gang Sun segera membawa Min Suk untuk segera kembali ke rumah karena tak ada gunanya membiarkan seorang pria sering-sering di luar rumah.


Waaa… ternyata prinsip hidup ayah sudah berubah. Ji Sun yang kegirangan mendengar, berkata pada temannya, “Kau lihat, kan? Kau mendengarnya? Temukan Min Suk sekarang dan segeralah bawa pulang.”


Gang Sun mendesah kesal mendengar saran temannya itu. Tapi setelah kepergian Ji Sun, ia melihat betapa kosong rumahnya sekarang.


Gang Sun pun menemukan suaminya dari alamat yang diberi Kyung Ho, sedang memunguti piring pecah yang terjatuhkan saat ia mencucinya. 


Gang Sun berteriak marah. Ia menangis terisak-isak, meminta maaf pada suaminya. dan meminta suaminya untuk kembali.


Seo Young kembali ke rumah sakit dan berpapasan dengan Nyonya Bang, atasan ayah, yang akan pulang. Mereka pun keluar ruangan agar dapat berbincang-bincang namun tak mengganggu ayah. Dan mereka tak menyadari kalau dari mesin EKG yang ada di sisi ayah menunjukkan kalau detak jantung ayah perlahan-lahan merayap naik.


Di luar, Seo Young berterima kasih pada Nyonya Bang yang memberi ayahnya kesempatan untuk bekerja di bengkel furniturenya.


Tapi Nyonya Bang malah berterima kasih, karena harusnya ia yang bersyukur memiliki pekerja yang berbakat seperti ayah Seo Young, “Kau sangatlah beruntung, Ketika anak-anak memiliki waktu untuk memikirkan orang tuanya, kebanyakan, pada saat itu orang tua mereka sudah tak ada lagi di dunia ini.”


Seo Young termangu mendengar saran Nyonya Bang agar Seo Young tak lagi membenci ayahnya. Nyonya Bang menceritakan betapa ayahnya mengabaikan cita-citanya saat Seo Young dan Sang Woo lahir ke dunia ini, “Adalah perbedaan besar antara memiliki satu dan dua anak apalagi di masa-masa yang sulit. Siapa yang akan menduga kalau ayahmu akan memiliki anak kembar?”


Pada Sang Woo, Seo Young menceritakan kembali cerita Nyonya Bang. Saat Seo Young dan Sang Woo lahir, Seo Young yang lahir dengan kondisi badan lemah dan harus masuk incubator. Hal itu membuat ayah yang telah bekerja siang hari dan malamnya mengikuti kursus malam membuat furniture, tak menyelesaikan kursus malamnya dan mencari pekerjaan lagi di malam hari.


Sang Woo menyadari kalau mereka tak sepenuhnya mengenal ayah mereka. Seo Young pun heran, mengapa ayah tak pernah menceritakan hal ini pada mereka.

Sang Woo pun memberitahukan jawaban ayah, karena ia juga pernah menanyakan hal yang sama di malam sebelum keberangkatan mereka ke Jinan : Semua penjelasan itu adalah alasan belaka bagi orang tua yang gagal, “Saat menyadari kalau ayahpun juga tak mau memberi penjelasan atas semuanya, kurasa kau mendapat sifat keras kepalamu dari ayah.”


Seo Young menjawab kalau ibupun pernah mengatakan hal yang padanya dulu.


Ibu terkejut saat masuk ke dalam rumah melihat ruang keluarga sudah dihiasi oleh balon dan Sung Jae menyambutnya dengan nyanyian selamat datang. Ibu memuji putranya, namun Sung Jae mengatakan kalau semua ini adalah ide ayah.


Waahh.. ibu terkejut tapi tak dapat menutupi kebahagiaannya. Apalagi Sung Jae membawa kue tart dan lilin yang harus ditiup bersama.


Misi selesai dan Sung Jae pun melaporkan hal ini pada kakaknya. Woo Jae berterima kasih pada Sung Jae dan segera ke rumah sakit.


Di rumah sakit, Woo Jae bertemu dengan Mi Kyung yang memberitahukan kalau kondisi ayah Seo Young sudah stabil. Mi Kyung pun mengajaknya untuk bicara terlebih dulu.


Karena masalah orang tua mereka telah selesai, Mi Kyung meminta kakaknya untuk menceritakan pada orang tua mereka kalau ayah Seo Younglah yang menjadi penyelamatnya agar Woo Jae bisa kembali lagi bersama dengan Seo Young.


Tapi Woo Jae menekankan kalau ia telah berpisah.  Mi Kyung mencoba membujuk kakaknya kalau perpisahan itu bukan karena  tak saling menyukai, kan? Tapi Woo  Jae tetap keukuh dengan pendiriannya. Jika memang Seo Young berniat untuk kembali maka ia pun tak akan menolak, “Tapi kebersamaan kami yang sedang terjalin ini bukan karena aku berpikir untuk kembali padanya.”


Mi Kyung mencoba menunjukkan kemungkinan yang terburuk, yaitu jika Seo Young tak akan pernah kembali padanya selamanya. Apa yang akan Woo Jae lakukan?


“Aku harap hal itu tak akan terjadi. Tapi jika memang seperti itu, aku tak dapat berbuat apapun.”

“Oppa..”

“Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku dan Seo Young di masa yang akan datang. Tapi aku akan membiarkan segalanya. Yang terjadi, terjadilah. Hubungan dan perasaan seseorang tak dapat dipaksakan.”


Mi Kyung pernah mendengar hal ini dari Seon Woo, tapi ia tak menyangka kalau Woo Jae memang bermaksud seperti itu. Woo Jae berkata kalau ia dan Seo Young nanti memulai hubungan mereka lagi, ia ingin agar ayah Seo Young dapat menemui orang tua mereka dengan lebih percaya diri.


Mi Kyung terpana melihat niat Woo Jae itu. Woo Jae pun melanjutkan yang terpenting baginya sekarang adalah berdoa akan keselamatan penyelamat hidupnya.


Ho Jung dan Seo Young menunggui ayah, dan Ho Jung tersenyum melihat betapa tenangnya ayah tidur sekarang. Seo Young malah mulai khawatir dan bertanya sejak kapan ayah mulai tidur? Ho Jung mengatakan sebelum Seo Young datang. Seo Young melihat jamnya dan menatap ayah yang tertidur pulas.


Bertepatan dengan itu, mesin EKG mulai berbunyi. Angka yang tadi hanya menunjukkan 81 sekarang sudah melonjak ke 129. Seo Young panik mendengar bunyi itu.


Sang Woo yang sedang menangani pasien, mendengar pager-nya berbunyi.


Mi Kyung dan Woo Jae melihat Sang Woo berlari dan mereka pun berpandangan, mengkhawatirkan hal yang sama. Mereka pun segera bergegas ke arah yang sama dengan Sang Woo.


Kyung Ho datang dan mendapat laporan kalau tekanan darah ayah tiba-tiba tak terkontrol dan antibiotik yang diberikan tak berfungsi. Kyung Ho segera memeriksa kondisi fisik ayah. Ayah pun mulai tersengal-sengal.


Dan Kyung Ho pun memutuskan, “Intubasi!”


Sang Woo tersentak mendengar kata itu. Kyung Ho membentak Sang Woo yang hanya diam mendengar perintahnya. Buru-buru Sang Woo berlari keluar dan berteriak ‘intubasi!’ kepada perawat jaga.


Mi Kyung menarik tempat tidur ayah untuk memberi ruang lebih luas bagi Kyung Ho melakukan tindakan selanjutnya.


Seo Young yang melihat kepanikan yang tiba-tiba terjadi di ruangan ini, bertanya pada Sang Woo apa yang terjadi? 


Sang Woo mencoba tenang saat menjelaskan kalau ayah mengalami kesulitan bernafas dan mereka sekarang akan memasukkan selang nafas ke dalam tenggorokan untuk memudahkan pernafasan ayah.


Kaki Seo Young lemas mendengarnya. Hampir saja ia jatuh jika Woo Jae tak segera menahannya. 


Ho Jung  terisak mendengar kata-kata suaminya, apalagi saat ia melihat tang besar yang dibawa kakaknya ke dalam mulut ayah yang dipaksa terbuka.


Dunia terasa melambat untuk ayah. Ayah membuka mata, sejenak menatap putra dan putrinya satu persatu. 


Ia menatap Seo Young yang khawatir dan tak dapat menghentikan air matanya yang berlinang. 


Dan ia juga menoleh pada Sang Woo yang memanggil namanya dengan cemas.


Sekali lagi ayah menatap Seo Young yang kali ini ia juga dapat melihat pria yang berada di sebelah putrinya itu, Woo Jae. Air matanya jatuh saat ia berbisik dalam hati, 

“Maafkan aku…”

Komentar :

Ucapan Nyonya Bang paling mengena di hati saya. “Ketika anak-anak akhirnya memiliki waktu untuk memikirkan orang tuanya, kebanyakan, pada saat itu orang tua mereka sudah tak ada lagi di dunia ini.”

Ketika seorang anak sudah keluar dari rumah, biasanya kos, bekerja ataupun berkeluarga, mungkin ada yang seperti saya : terlalu sibuk dengan urusan sendiri dan melupakan orang tua. Bukan melupakan karena marah, tapi lupa karena memang lupa, terlalu sibuk akan urusannya sendiri.

Jujur, saya pernah melakukannya. Dan setelah mendengar kata-kata Nyonya Bang membuat saya menelepon ibu hanya untuk bertanya, "Bagaimana kabarnya?"


Saya pernah membaca novel Korea terbitan Gramedia karangan Shin Kyung Sook yang berjudul, "Please Look After Mom" atau judul Indonesianya adalah  "Ibu Tercinta". Buku itu menceritakan seorang ibu yang hilang di Stasiun kereta saat ia pergi bersama dengan suaminya hendak mengunjungi anak mereka di Seoul. Berbagai cara dan usaha dilakukan untuk menemukan ibu mereka, tapi semuanya nihil.

Saat kehilangan ibunya itulah, mereka mulai mengerti perasaan ibunya, apa yang pernah dilakukan oleh ibu mereka yang sebelumnya tak pernah mereka ketahui. Sama seperti Nyonya Bang yang mengenal ayah lebih dari Seo Young dan Sang Woo sendiri, putri Ibu di novel itu akhirnya bertemu dengan seorang pemimpin panti asuhan yang menceritakan kalau Ibu ternyata adalah donatur tetap dan sering mengunjungi panti itu untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, mengurus anak-anak yatim.

Chi Hon, novelis, baru teringat ia memiliki buku yang dibelikan ibunya dengan hasil menjual anak anjing. Buku itu adalah salah satu buku yang membuatnya menjadi seperti ini. Dan betapa setelah bekerja, Chi Hon, putri Ibu jarang sekali menghubungi Ibu karena sibuk. Bahkan tak jarang Chi Hon marah-marah dan kesal pada ibunya yang mengkhawatirkannya karena sering pergi keluar negeri sendirian. 

Kasus yang dialami Chi Hon dan Seo Young memang berbeda. Tapi keduanya sama. Sama-sama tak memahami ibu dan ayah mereka, dan melupakan kasih sayang mereka.

Cinta anak sepanjang galah, cinta orang tua sepanjang masa. 

Ada dua hal yang tak bisa ditunda : Beramal dan Berbakti kepada Orang Tua. (Quote Anonim)

*Mendadak ingin menelepon Bapak Ibu di pagi hari ini...*

27 comments:

  1. Kisah yang mengharu-biru.,
    Untuk episode ini, benar-benar mengena di hati T_T

    ReplyDelete
  2. WARNING .. !!
    DILARANG MEMBACA SINOPSIS INI DI KANTOR ATAUPUN DITEMPAT YANG RAMAI ..

    Hhha ..

    karena air mata bisa tiba tiba mengalir ..
    dan kalo diliat banyak orang bisa langsung jadi pusat perhatian ..
    hahha ..

    dan membuat malu karena salah tingkah ..
    hhe ..

    *pengalaman pribadi beberapa saat yang lalu*
    xixixi ..

    ditunggu 2 episode lagi mba dee ..

    .ndah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. samaaa... di angkot pulaaa :( ga kuat deh malu pulaa

      Delete
  3. untuk ada tissue disamping PC..
    Sumpah sedih banget .. masih nangis sampai sekarang ..
    Kalau kisah orang tua pasti selalu bikin mewek T.T

    ReplyDelete
  4. ampun dah gua air mata gk bisa berhenti

    ReplyDelete
  5. 2 episode lagi berakhir dah nih drama, tapi di kbs 2tv dah tamat, MDSY/akan aku selalu kenang dramanya T_T

    ReplyDelete
  6. nangis bacanya :(
    #untung kantor sepi

    ReplyDelete
  7. Sangat terbantu sekali dengan sinopsis ini, krn msih 4 epi lagi di KBSWorld, dah punya ampe tamat tapi kaga ngarti apa yg diomongin krn teksnya di doramax baru sampai ep 40 -huaaaaa nangis dipojokan-

    Semangat ya say buat ngelanjutin sd end

    ReplyDelete
  8. Kena bgt d hati... Sedh bgt rasny... Top d ni drama, tp sayng sy bcny di episd" trakhr g tau awlny gm, Sist buatn recpny dr awl dong biar nymbng gt... he...he... Gomawo y sist...^ ^

    bunga

    ReplyDelete
  9. aih, mbak dee co cwit bener, mvnya ep 1-10 ditempel di sidebar...
    tau aja yang lagi nunggu sinop 6-10

    ReplyDelete
  10. mau share pndpat mbak dee..saya bkn tipe penyuka drama melo, tapi drama ini kyknya pengecualian deh g tau knp drama ini bkin sy addict bgt alurnya g ngejelimet jd meskipun epsdenya pjg g ngbosenin buat diikuti n sy pikir scra kseluruhan semuanya pas ntah itu romancenya, melonya, n humornya jg ada jd intinya sy blm bosan nge-rerun ni drama waluapun mash ada yg tanpa subtitle dan msh setia menanti DVD nya di lapak2 terdekat...:) makasih utk mbak dee yg sdh ngenalin sy sm drama ini..:)

    ReplyDelete
  11. mbak dee, aku boleh kasih info ya sama yg lain. kalo yg mau nonton lengkap drama ini dari awal dg sub inggris, buka aja dramacrazy, ini link nya: http://www.dramacrazy.net/korean-drama/my-daughter-seo-young/

    ReplyDelete
  12. air mata mengalir sampai jauhh. . .

    ReplyDelete
  13. jd teringat ibu dan bapak dirmh, smg mrk berdua sll sht dan dlm lindungan-Nya sll..amin

    ReplyDelete
  14. Gak sabar nunggu episode 49-50..Kapan ya mba Dee....

    ReplyDelete
  15. Mba,kapan nih ep 49-50nya,ak ud ga sabar nunggunya,cepet dong,maaf ya,mba he..he..

    ReplyDelete
  16. Mba,kapan nih ep 49-50nya,ak ud ga sabar nunggunya,cepet dong,maaf ya,mba he..he..

    ReplyDelete
  17. mba kapan nih 49-50 ko belum ada maaf mba soalnya dah gk sabar

    ReplyDelete
  18. udah seminggu lebih masih gak ada kabar lanjutannya ya

    ReplyDelete
  19. huftttt mba dee kelamaannnn 49-50 nya

    fanny

    ReplyDelete
  20. mb dee....kelanjutannya mana???...
    penasaran nih ama endingnya???...
    makasih en sorry udah ngerepotin...
    ^_^

    ReplyDelete
  21. Mba dee,ak tiap hr bolk balk ke blognya tp blm ad jg ep 49-50,ak penasaran bgt,maaaf mba rd maksa abiss ak penasran bgt,ak suka bgt am nih drama bgs ceritanya,fighting mba...

    ReplyDelete
  22. udah lupa kali dia buat lanjutin sinopsisnya

    ReplyDelete
  23. apa yg dibilang nyonya bang bener-bener menusuk hati... jadi inget ibuku yg sdh ga ada.. semoga bisa menjaga dan merawat bapak, seperti mereka menjaga dan merawat kita, anak-anaknya, sejak kita masih kecil bahkan sampai sekarang kita sudah dewasa....

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...