March 5, 2013

Sinopsis My Daughter Seo Young Episode 47


Sinopsis My Daughter Seo Young Episode 47

Sinopsis My Daughter Seo Young Episode 47

Seo Young shock. Kakinya lemas, menyadari ayahnya adalah salah satu tamu yang menghadiri pernikahannya. Pegawai perusahaan itu menyadari wajah pucat Seo Young dan bertanya apakah Seo Young baik-baik saja.



Seo Young menyingkir ke tangga darurat untuk menenangkan diri. Tapi di tempat sesepi itu, ia malah tak tenang karena ia teringat akan pernikahan impian masa kecilnya. Impian menikah dengan ayahnya.


Ia mengeluarkan surat merah muda, undangan pernikahan yang dibuat oleh ayahnya.


Sebenarnya  undangan pernikahan yang asli bukanlah yang ia pegang sekarang. Sepulang kerja dari kantor, ayah mendapat kejutan karena Seo Young menunjukkan undangan pernikahannya dengan bangga. 


Di undangan itu ada gambar laki-laki dan perempuan, dengan nama pengantin wanita : Lee Seo Young dan pengantin pria : Lee Sam Jae.


Ayah memberitahu Seo Young kalau ia tak dapat menikahi Seo Young karena ia telah memilihkan pria yang tepat untuk putrinya itu tapi ia tak mau memberitahukan sekarang karena ia takut Seo Young akan meninggalkannya untuk menikahi pria itu.

Ha.. alasan yang bagus. Patut dicontoh, nih alasannya..


Seo Young masih tetap ingin menikah dengan ayah dan ayah pun berkata tugas ayah adalah menggandeng Seo Young dan berjalan bersama menuju altar dan sesampainya di altar, ia akan memberikan tangan Seo Young pada calon suami Seo Young. Ayah pun menggandeng tangan Seo Young dan mencontohkan, lengkap dengan mendendangkan mars pernikahan.


Si keras Seo Young kecewa karena ia tak bisa menikah dengan ayah, maka ayah pun memangku Seo Young dan berjanji kalau ia akan mengawasi Seo Young terus dan jika suami Seo Young memperlakukan Seo Young dengan tidak baik, ayah akan memarahi suami Seo Young.


Setelah Seo Young menemukan nama pengantin pria yang ia inginkan, Seo Tae Ji (Note: penyanyi terkenal jaman itu dan mantan suami Lee Ji-a), maka ayahpun menuliskan undangan pernikahan yang baru, dengan tulisan : Seo Young, putri kami yang paling cantik di seluruh dunia, akan melakukan pernikahan yang paling bahagia di seluruah dunia ini dengan Tuan Seo Tae Ji, pria paling tampan di seluruh dunia ini. Semoga anda bisa datang dan merayakannya bersama kami. Dari ayah Seo Young, Lee Sam Jae.


Seo Young termenung menatap tulisan ayahnya di undangan itu. Impian ayahnya untuk pernikahannya. Ia teringat betapa sedihnya saat ia melihat pernikahan Sang Woo hanya dari kejauhan. Dan perasaan ayahnya pastilah sama seperti dirinya saat itu, bahkan mungkin jauh.. jauh lebih besar daripadanya.


Seo Young menangis menyadari pernikahan impian ayahnya tak pernah terjadi. Ia tak pernah bisa melakukan pernikahan, dengan ayah yang menggandeng tangannya menuju altar.


Ayah buru-buru pulang dari bengkel setelah mendapat telepon dari Ho Jung yang mengatakan kalau laci rak TV rusak. Ayah pun pulang untuk memperbaiki laci itu. Saat sedang memperbaiki laci, terdengar bunyi bel, dan Ho Jung pun keluar untuk melihat siapa yang datang.


Tamu itu ternyata adalah Seo Young. Ho Jung sangat gembira melihat kakak iparnya. Tapi kegembiraannya surut saat melihat wajah Seo Young yang muram.


Ayah kaget melihat kedatangan Seo Young  dan bertanya mengapa Seo Young tiba-tiba datang?


“Mengapa ayah melakukan hal itu dulu jika ayah bisa melakukan hal ini? Ayah ternyata bisa melakukan cara hidup yang seperti ini. Jadi kenapa ayah dulu melakukan hal itu? Saat aku meminta ayah untuk sadar walau hanya sedikiit saja, kenapa ayah tak mau melakukannya?” tanya Seo Young menuntut jawaban ayahnya.


Ayah diam, terpana mendengar pertanyaan Seo Young yang tiba-tiba. Ho Jung yang sadar bukan tempatnya ada di ruangan ini, diam-diam beringsut masuk ke dalam kamar.


Seo Young duduk di hadapan ayahnya, “Semua ini tak akan pernah terjadi jika ayah melakukan hal ini pada saat aku dan ibu memohon pada ayah dulu. Kenapa ayah membuatku seperti ini? Kenapa ayah membuatku untuk melupakan semua saat-saat indah saat bersama ayah dulu? Tahukah ayah betapa sulitnya semua ini untukku?”


Ayah menunduk tak bisa menjawab. Namun ia mendongak saat mendengar suara Seo Young yang gemetar menahan tangis bertanya, “Mengapa ayah tak mengatakan apapun saat melihat pernikahanku? Bagaimana rasanya melihat pernikahanku?”


Ayah terkejut setengah mati mendengar pertanyaan itu. Di kamar Ho Jung juga terkejut mendengar kata-kata Seo Young.


Ayah tergeragap, mencoba membantah kalau ia pernah mendatangi pernikahan Seo Young. Tapi ia tak bisa berkilah karena Seo Young mengatakan kalau ia melihat tulisan tangan ayah di buku tamu.


“Aku minta maaf, ayah. Aku benar-benar minta maaf,” Seo Young menangis tersedu-sedu, menunduk mengucapkan permintaam maafnya berkali-kali.


Melihat betapa tersiksanya Seo Young, ayah memarahi putrinya yang masih membuka-buka buku tamu itu yang hanya melukai perasaan Seo Young, “Aku tak akan pernah bisa seperti ini jika aku tak melihat dengan mata kepala sendiri pernikahanmu itu. Aku tak akan pernah menghentikan gaya  hidupku dulu, karena aku telah hidup dengan cara itu terlalu lama. Kenapa aku tak mengatakan apapun? Karena hal itu tak masalah. Aku mengerti.”


“Apanya yang tak masalah? Apanya yang ayah mengerti?” tanya Seo Young tak mengerti.

Ayah menjelaskan kalau ia pun dulu juga pernah mempunya pikiran seperti Seo Young. Saat itu ia sering bertanya, mengapa ia dilahirkan di sebuah keluarga yang miskin yang harus membuatnya menyokong orang tuanya setelah ia lulus SMA. 


Saat itu Ayah bahkan melepaskan impiannya untuk kuliah dan bekerja di bengkel furniture. Ia memang tak pernah menunjukkan perasaannya, “Tapi di dalam hati aku selalu mengutuk mereka dan bersikap tak baik pada mereka. Itulah yang terjadi jika kau menjadi anak dan berbeda jika kau menjadi orang tua. Kau tak bermaksud untuk melakukannya. Jadi tak masalah.”


Bukannya semakin tenang, air mata Seo Young semakin berlinang dan tersedu-sedu mendengar pengakuan ayahnya.


Begitu pula Sang Woo yang ditelepon Ho Jung. Ho Jung menceritakan apa yang terjadi di rumah dan kenyataan yang baru saja terkuak kalau ayah menyaksikan pernikahan Seo Young. Sang Woo menangis teringat di hari itu ayah berdandan rapih untuk menjadi tamu, yang ternyata adalah pernikahan ayahnya


Seo Young dan ayah sudah sama-sama tenang saat Seo Young akan pulang dan Seo Young berjanji akan datang mengunjungi ayah lagi.  Ayah berterima kasih karena Seo Young datang menemuinya dan memintanya untuk hidup berbahagia.


Ki Bum duduk sendiri, masih belum bisa membawa pulang istrinya. Dan ternyata percakapan mereka tak berhenti sampai situ saja. Ada kelanjutannya. 


Setelah mendengar tuduhan istrinya yang mengatakan kalau Ki Bum tak pernah memiliki ketulusan karena ia tega memperalat mantan menantunya, Seo Young, Ki Bum menjelaskan kalau ia meminta Seo Young karena ia lebih mempercayai kemampuan Seo Young.


Ji Sun terkejut mendengar penjelasan itu, yang memang sangat masuk akal karena ia juga sangat mengagumi kemampuan Seo Young. Tapi ia mencoba untuk bertahan dan seakan mengucap mantra, Ji Sun bergumam sendiri, “Aku tak akan tertipu.. aku tak akan tertipu..”


Hehe.. ketahanan Ji Sun ini tentu membuat Ki Bum stress dan frustasi. Ia hanya mondar-mandir tak tahu harus melakukan apa. Tapi ia kemudian melirik ke atas. Ke lantai dua.


Di lantai dua, Sung Jae sedang bersama kakaknya yang tidur-tiduran dengan kaki berbalut perban. Tapi kakaknya itu tak kesakitan atau lelah, malah senyum-senyum (aww.. the dimple!) tapi menolak menceritakan bagaimana Woo Jae muncul pertama kali di hadapan Seo Young saat itu. 


Woo Jae malah menyuruh Sung Jae yang penasaran untuk tak usah ingin tahu. Tapi senyum Woo Jae yang penuh angan-angan itu malah membuat Sung Jae penasaran.


Duh.. si hyung ini.. Coba sedikit berbaik hati sama dongsaengnya yang belum pernah pacaran ini, ya. Kalau tak ada Sung Jae, Woo Jae nggak akan pernah bisa ketemu dengan Seo Young, loh.


Yang mendatangi kamar Sung Jae tak hanya Woo Jae, tapi juga ayahnya. Bahkan ayahnya langsung menendang Woo Jae untuk keluar dari kamar walau disertai pertanyaan apakah kaki Woo Jae sudah agak baikan. Tentu saja pertanyaan yang penuh perhatian ini membuat Woo Jae kaget, tapi ia pun mengiyakan.


Sung Jae sudah menebak alasan kedatangan ayahnya. Dan seperti sikap ayahnya saat ia meminta bantuan atau uang pada ayahnya, begitu pula sikap Sung Jae saat ayah meminta bantuan padanya soal ibu. Hehe.. nggak setiap hari juga Sung Jae bisa jual mahal seperti ini.


Sementara itu benak Woo Jae yang masih dipenuhi oleh kejadian hari kemarin, heran dan bertanya-tanya mengapa Seo Young belum meneleponnya sampai saat ini.


Sang Woo menemui Seo Young yang pulang ke apartemen. Bersama-sama mereka melihat kembali buku tamu yang ada tulisan tangan ayah mereka. Setelah dikejutkan kenyataan kalau ayahnya menyaksikan diam-diam pernikahan Seo Young, ia semakin terkejut saat Seo Young mengakui kalau kakaknya itu juga melihat pernikahannya.


Seo Young mengatakan kalau pada saat itulah ia menyadari betapa kejamnya perbuatan yang telah ia lakukan. Saat ia melihat pernikahan Sang Woo, hatinya sangat pedih hingga rasanya ia ingin mati saja karena sakit hatinya itu. Ia benar-benar menyesali semua perbuatannya, “Dan bagi ayah, pasti kepedihan dan luka hatinya jauh berkali-kali lipat daripadaku. Bukankah begitu?”


Sang Woo tak menjawab. Ia hanya dapat menguatkan Seo Young dengan menggenggam tangan kakaknya dan berkata kalau ayah mungkin merasakan penyesalan yang jauh lebih besar daripada Seo Young. 


Seo Young pun tahu itu, “Karena itulah ia tetap menyayangiku.”


Sesampainya di rumah, Sang Woo pulang dan ke kamar ayahnya. Di dalam kamar, Ayah masih terngiang-ngiang kata-kata Seo Young yang mengatakan kalau ia akan kembali lagi. Dan itu membuatnya bahagia. Namun kebahagiaan itu terputus walau disambung kembali oleh Sang Woo yang tiba-tiba datang dan langsung memeluknya.


Kebahagiaan ayah rupanya terus berlanjut hingga keesokan harinya. Karena pagi-pagi sekali, ayah sudah berangkat kerja dan meninggalkan sarapan untuk penganti baru itu. Lengkap dengan mangkuk yang berisi nasi yang dihiasi hati dari kacang kedelai.

Aww… ayah mulai romantis seperti Ho Jung!


Semua anggota Lee sudah memulai harinya. Sementara ayah mulai membuat alas kursi goyang sebelum jam kerja, Seo Young juga sudah bersiap untuk sarapan walau ia termenung seperti penuh pikiran. Dan anggota Lee yang lain? Akan berangkat ke kantor.


Tapi kali ini dengan menggandeng istrinya. Ahh.. betapa cepatnya perubahan itu. Mereka sepertinya harus berterima kasih pada pria kumal itu, deh.


Sang Woo baru ingat kalau ia sudah mendapat ijin cuti dan mengusulkan untuk mendaftarkan pernikahan mereka saat cuti. Dan ia juga ingin mengajak Ho Jung untuk mengunjungi makam ibunya di Jinan. Ho Jung mengangguk gembira dan mengusulkan agar mereka mengajak ayah dan Seo Young juga sehingga rekonsiliasi dapat segera terjadi.


Sang Woo menatap Ho Jung dengan penuh terima kasih. Tapi belum sempat ia berkata lagi, Seo Young menelepon untuk mengajak ayah dan mereka untuk makan bersama. Sang Woo pun memberitahukan ide Ho Jung dan Seo Young pun menerima tawaran itu dengan senang hati.


Dan setelah pembicaraan di telepon itu, Seo Young baru bisa sarapan dengan tenang.


Ho Jung melompat-lompat bahagia mendengar Seo Young mau bergabung dengan mereka ke Jinan. Sang Woo makin menatap istrinya dengan sayang dan berterima kasih pada Ho Jung. 


Ia pun mencium kening Ho Jung yang langsung terpaku mendapat ciuman itu. Sang Woo pun langsung berjalan pergi,


Namun Ho Jung yang tadi terpaku, setelah sadar langsung melompat-lompat dan tertawa bahagia. Hingga Sang Woo berbalik menoleh padanya.


Ho Jung langsung berdiri tegak, pura-pura cool dan melambaikan tangan dengan tenang walau senyum lebar masih tersungging di bibirnya. Sang Woo pun membalas lambaian tangan Ho Jung dengan melambaikan kedua tangannya. Senyum Ho Jung semakin lebar dan ia pun juga melambaikan tangan dengan kedua tangan ke atas.


Aww… sekarang mereka benar-benar pengantin baru, nih.


Seo Young menceritakan kejadian kemarin pada Yeon Hee. Yeon Hee senang mendengar kabar gembira itu. Tapi ia juga bertanya tentang kabar pria yang sering datang ke kantor mereka untuk minta kopi, Kang Woo Jae. Bagaimana kabarnya?


Seo Young benar-benar melupakan masalah kesehatan Woo Jae. Ia pun buru-buru menelepon Woo Jae yang ternyata mengatakan kalau ia masih ada di rumah karena kondisi kakinya semakin parah.


Tentu saja ucapan itu membuat Seo Young panik. Ia segera mengambil tasnya dan berkata pada Yeon Hee kalau ia akan segera ke rumah Woo Jae untuk membawanya ke rumah sakit.

Woo Jae sakit? Bukannya kemarin ia sudah senyum-senyum di kamar Sung Jae dan juga sudah bisa berjalan?


Ternyata ucapan tadi hanya akal-akalan Woo Jae saja. Karena yang dilihat pertama kali saat Seo Young keluar gedung adalah mantan suaminya yang tersenyum lebar dan berdiri di depan mobil, jelas-jelas menunggu Seo Young keluar dari gedung, “Tak mungkin! Apakah Lee Seo Young bergegas datang untuk menemuiku?”


Ha. Seo Young mulanya kaget karena bukankah tadi kata Woo Jae kakinya bertambah parah? Dan kekagetannya menjadi kekesalan saat Woo Jae menghampiri Seo Young dengan senyum lebarnya dan menebak kalau Seo Young akan pergi ke rumah untuk membawanya ke rumah sakit.

Tentu saja Seo Young langsung membantah pernyataan Woo Jae itu. Ia mau pergi bertemu dengan klien,kok.


Woo Jae tidak marah ataupun kesal seperti Seo Young. Ia, yang masih belum menghilangkan cengirannya, malah mempersilakan Seo Young untuk pergi menemui kliennya, karena ia akan naik ke kantor Seo Young untuk minum kopi bersama Yeon Hee.


Bwahahaa… Woo Jae keren banget! Bahkan Seo Young pun tak bisa berlama-lama kesal dan akhirnya tersenyum juga melihat ulah mantan suaminya ini.


Tapi coba tebak senyum siapa yang langsung hilang saat masuk ke dalam kantor Seo Young? Tentu saja Woo karena melihat Sung Tae yang datang untuk memberikan foto yang ia ambil saat ulang tahun dulu pada Seo Young.


Yeon Hee memperkenalkan Sung Tae sebagai teman SMA-nya dan Seo Young. Woo Jae pun menyunggingkan senyumnya lagi dan memperkenalkan diri. Sung Tae pun membalas perkenalan itu dan mengingatkan kalau mereka sudah pernah bertemu sebelumnya. Jawaban Woo Jae, “Oh? Benarkah?”


LOL. Ada yang mendadak lupaaa … Sung Tae bengong mendengar jawaban Woo Jae. Begitu pula Seo Young.


Walau ‘lupa’, rupanya Woo Jae tetap harus mendengar ucapan-ucapan Seo Young yang manis pada Sung Tae (lengkap dengan senyum lagi!) yang berterima kasih atas pemberian foto yang diambil tempo hari.


Woo Jae, yang mukanya keruh sekeruh kopi yang ia minum, menyela pembicaraan mereka dengan bertanya apakah Sung Tae sudah punya pacar? Sedang berkencan? Semua itu dijawab tidak oleh Sung Tae. Memang ada apa Woo Jae menanyakan hal ini?

Ternyata Woo Jae ingin mengenalkan seorang gadis jika Sung Tae masih single. Aww… baiknya. Ha. Kalau nggak ada udang di balik batu sih iya karena kata-kata Woo Jae yang sebenarnya bisa berarti: Aku akan mencarikan jodoh untukmu  atau Minggir, jangan dekati Seo Young-ku.


Sung Tae menolak dengan sopan karena ia sudah memiliki seseorang yang sudah ia sukai. Dan ia pun memandang Seo Young penuh arti.


Seo Young, yang merasa canggung karena ada pria menatapnya seperti itu di depan mantan suaminya, bertanya mengapa Sung Tae menatapnya.


Dengan nada menggoda Sung Tae pun menjawab, “Kenapa? Oh.. Wanita yang kusukai itu.. kan aku tak mengatakan kalau wanita itu adalah dirimu.”

Seo Young salah tingkah dan berkata kalau pandangannya tadi seperti mengarah padanya. Dan Sung Tae pun meneruskan, “Aku juga tak pernah mengatakan kalau wanita itu bukan dirimu.”


LOL, Seo Yeon semakin salah tingkah dan menoleh pada Woo Jae, sementara muka Woo Jae semakin keruh. Yeon Hee mencoba menjelaskan kalau Sung Tae sebenarnya sudah punya pacar. 

Tapi sebelum kalimatnya habis, Woo Jae sudah kesal dan bangkit berdiri. Sung Tae yang di atas angin pun mengantar kepergian Woo Jae dengan ucapan, “Sepertinya kita akan bertemu lagi besok.”


Bwahaha… Memang yang mau minum kopi di kantor Seo Young hanya Woo Jae saja?


Woo Jae hanya menjawab dengan nada menyindir, “Jadi kau akan datang lagi besok pagi.” Woo Jae pun keluar tanpa menoleh lagi pada Seo Young.


Seo Young hanya bisa melongo melihat mantan suaminya yang tumben tak sopan. Ia menyalahkan Sung Tae, mengapa Sung Tae tak memberitahu kalau sebenarnya temannya itu sudah punya pacar. Namun ia tak dapat memberi alasan yang tepat saat pertanyaan itu dikembalikan padanya: kenapa juga Seo Young tak memberitahu kenyataan itu pada Woo Jae langsung?


Haha.. Secara tak sadar Seo Young juga ingin membuat Woo Jae cemburu? Sebelum pergi Sung Tae meminta agar Seo Young menjelaskan kesalahpahaman ini saat Seo Young bertemu dengan Woo Jae lagi.


Saat sudah hanya berdua, Seo Young menyatakan kebingungannya melihat Woo Jae yang sedikit kesal tadi. Yeon Hee memberitahu kalau Woo Jae itu bukan hanya sedikit kesal, tapi marah sekali. Seo Young tak mengerti kenapa Woo Jae marah pada Sung Tae yang hanya teman biasa.

Yeon Hee meminta temannya itu agar bersikap lebih baik pada Woo Jae yang sekarang sedang cemburu, “Woo Jae baru saja terluka karena menyelamatkanmu, dan kemudian ia mengalami kejadian seperti hari ini. Tentu saja hal ini membuatnya marah.”

Aww.. ternyata Seo Young punya dua sahabat yang baik, nih..


Sang Woo dan Ho Jung mendaftarkan pernikahannya. Sebelum memasukkan ke bagian administrasi, Sang Woo menawari istrinya untuk membuat foto kenang-kenangan. Ho Jung sok cool dengan mengatakan kalau ia tak mau pamer pada orang-orang kalau ia sudah tidak single lagi.


Sang Woo pun juga jual mahal dan mengatakan kalau ia akan langsung memberikan dokumen ini. Ho Jung yang sebenarnya ingin membuat kenang-kenangan, langsung menyetujui tawaran suaminya. 


Sang Woo tersenyum lebar dan melambaikan kertas itu, “Tiga detik. Kalau saja kau mau menunggu tiga detik, kau akan melihatku memohon padamu agar kita berfoto bersama.”

Ahhh.. Sang Woo!! Usil banget sama istri sendiri. Ho Jung menatap suaminya, kecewa.


Tak tega melihat wajah istrinya, Sang Woo menyerahkan surat nikah itu dan mengambil handphone Ho Jung. Dan mereka pun berfoto bersama.


Gang Sun masih mengkhawatirkan keberadaan suaminya sedangkan Ji Sun sedang menonton TV, menikmati saat-saat tanpa suaminya.  Satpam apartemen Gang Sun memberitahu kalau ada pria yang memintanya untuk melihat ke bawah lewat balkon rumah.


Gang Sun pun melongok lewat balkon, dan betapa terkejutnya ia melihat suara klakson mobil dan limousine putih datang tepat di bawah apartemennya.


Suaminya datang ala Richard Gere di Pretty Woman, lengkap dengan bunganya. Dan oh my! Rambutnya pun juga ternyata sama! Gang Sun kaget namun senang tak kuasa menahan haru melihat kejutan ini. Suaminya itu ternyata sangat romantis!


Ji Sun ikut melongok dan berkata, “Astaga! Kang Ki Bum pasti benar-benar gila!”

Hahh? Nggak salah? Kang Ki Bum?!


Gang Sun memperhatikan lebih teliti lagi dan kali ini ia melihat yang sebenarnya. Ternyata benar. Itu suami Ji Sun!


Benar-benar aww.. untuk Ki Bum namun juga puk-puk-puk untuk Gang Sun.


Ternyata ini adalah ajaran Sung Jae untuk ayahnya agar bisa melunakkan hati ibunya. Sung Jae pun menjadi supir limo dan juga music director. 


Karena setelah ayahnya mengangguk padanya, ia menyalakan musik dan Ki Bum pun mulai bernyanyi. Haha.. Ki Bum, suami yang sedingin es itu menyanyi untuk istrinya?


Ji Sun terpana, namun Gang Sun semakin sedih mendengar betapa romantisnya pasangan temannya itu. Ia masuk rumah dengan lesu.


Beberapa tetangga keluar untuk mendengarkan nyanyian Ki Bum. Entah lipsinc atau sebenarnya, tapi penampilan ayah membuat orang-orang terpesona. Sebagai penutup, Ki Bum mengacungkan bunga untuk Ji Sun.

Dan Ji Sun? Setelah tadi terpesona, ibu hanya melengos dan masuk ke dalam. Jual mahal.


Bwahahaha.. Muka ayah itu loh.. langsung patah hati. Nggak terbiasa ditolak, ya? Sung Jae menenangkan ayahnya, kan ia sudah bilang kalau untuk memenangkan hati ibu tak cukup hanya sekali mencoba. Ayah tak membantah ucapan anaknya, tapi sekarang ia merasa canggung sekarang.

LOL, ya iyalah.. Dengan gayung tak bersambut dan sekian banyak tetangga yang masih menatap ke arahnya, siapa juga yang tak merasa canggung?


Di rumah, Gang Sun menyuruh Ji Sun untuk kembali ke suaminya. Ia sangat iri pada Ji Sun yang memiliki segalanya, bahkan suaminya pun juga mencintainya. Sedangkan dia? Sekarang suaminya meninggalkannya.


Ji Sun mengatakan kalau dari dulu ia sebenarnya iri pada Gang Sun yang memiliki ayah yang baik dan suami yang sangat baik seperti Min Suk.


Diingatkan akan mendiang ayah dan Min Suk membuat Gang Sun pun menangis. Jika saja ayahnya masih hidup, ayahnya pasti dengan mudah menyeret suaminya untuk segera pulang. Gang Sun menangis, Ji Sun pun ikut menangis mengingat ibunya yang sejak kecil meninggalkannya.


Dan kedua ahjumma yang sudah cukup usia untuk menimang cucu itu menangis bersama seperti anak kecil. Heheh..


Sementara itu Kyung Ho mencoba membantu ibu tirinya untuk melacak jejak ayahnya. Ia mengirimkan SMS kalau ia sudah sampai ke Bali untuk menemui ayahnya. Min Suk yang mendapat SMS itu langsung menelepon putranya kalau ia sebenarnya tak berada di Bali.


Kyung Ho bertemu dengan Mi Kyung di tempat suster jaga, dan melihat kalau Mi Kyung sekarang bekerja dengan sungguh-sungguh. Saat mereka hanya berdua, Kyung Ho berkata kalau ia menarik kata-katanya yang terakhir itu.


Rekan sejawat Mi Kyung memberitahu Mi Kyung dan Sang Woo kalau ada pendaftaran beasiswa untuk belajar di Amerika. Informasi itu membuat keduanya tertarik.


Seo Young tak dapat mengenyahkan pikiran tentang Woo Jae yang tampak kesal saat digodai oleh Sung Tae. Ia pun menelepon Woo Jae untuk mengajaknya makan malam. Tapi ternyata Woo Jae sudah memiliki acara lain, “Aku akan makan malam dengan Seon.. uhh.. klien kantor.”

Seo Young pun mengerti dan ia pun menutup telepon. Baru sebentar ia menaruh handphone, handphone itu berbunyi lagi. Ternyata dari Pengacara Go, mantan bosnya yang lama (pengacara teman Seon Woo), yang mengajaknya makan malam. Seo Young pun menyanggupi.


Dan lihat siapa yang duduk di belakang kursi Seo Young di restoran itu?


Seo Young mendengar suara yang akrab ditelinganya. Suara yang tadi pagi kedengaran kesal, namun sekarang terdengar riang dan bahkan tertawa-tawa. Dan ada suara wanita yang ikut tertawa?


Pengacara Go hanya mengawasi Seo Young yang terkejut bukan kepalang saat melihat Woo Jae tertawa lepas bersama Seon Woo.


Seo Young tak dapat mendengar apa yang kedua orang itu bicarakan. Tapi melihat mereka berdua saja membuatnya tak dapat berkonsentrasi karena perhatiannya terpusat pada dua orang itu. Semakin lama Seo Young semakin kesal, dan ia meraih gelas yang berisi air putihnya untuk menenangkan diri.


Namun ternyata yang Seo Young ambil adalah gelar champagne dan ia meneguknya habis. Pengacara Go berteriak (cukup keras) mengatakan kalau yang Seo Young minum sekali teguk itu adalah champagne. 


Seo Young hampir tersedak karenanya.


Woo Jae menoleh mendengar nama Seo Young dipanggil. Ia menoleh dan juga terkejut melihat mantan istrinya. Ia segera mengejar Seo Young yang pergi ke toilet dan bertanya apa yang sedang Seo Young lakukan di restoran ini.


Tanpa menatap Woo Jae, Seo Young menjawab ketus kalau ia datang karena diundang oleh pengacara Go. Woo Jae bingung dengan sikap Seo Young yang tak biasanya. Apakah ada yang membuat Seo Young kesal?


Bukannya menjawab Seo Young malah bertanya bukankah Woo Jae tadi mengatakan kalau ia akan makan malam dengan klien perusahaan? Woo Jae menjawab kalau ia sebenarnya memang ada rencana makan malam bersama Seon Woo, tapi ia menyebut Seon Woo sebagai klien karena ia tak ingin membuat Seo Young kesal.


“Kenapa juga aku harus merasa kesal? Tak masalah kok untukku,” Seo Young memasang wajah tak peduli.


Woo Jae tersenyum tipis dan menjelaskan dengan sabar kalau Seon Woo akan kembali ke Amerika dan 30 menit sebelum Seo Young datang, ia masih bersama dengan pengacara pengganti yang diperkenalkan oleh Seon Woo.


“Kenapa kau terus memberikan alasan, kan tadi sudah kubilang kalau itu tak menjadi masalah untukku?” tanya Seo Young tanpa melihat wajah Woo Jae.


Woo Jae terkekeh geli, membuat Seo Young bertanya pedas, “Kenapa tertawa?”

Woo Jae pun berdehem, menyembunyikan rasa gelinya dan balik bertanya, “Kenapa kau tadi minum champagne seperti minum air putih?”


“Karena aku merasa terganggu,” kata Seo Young.

LOL. Woo Jae hanya diam walau senyumnya masih muncul saat memandang Seo Young. Ia tetap mendengarkan lanjutan omelan mantan istrinya itu, “Sejak kapan kalian menjadi teman baik? Karena kau sangat ramah padanyalah yang membuat Seon Woo tak bisa melepaskanmu.”

Tanpa menunggu jawaban Woo Jae, Seo Young pun pergi masuk toilet.


Woo Jae? Senyum-senyum nggak karuan, bahagia mendengar ucapan Seo Young yang kedengaran galak itu.


Di toilet, Seo Young heran pada dirinya sendiri, “Kenapa juga aku melakukan hal itu?”


Ketika kembali ke mejanya, Seo Young heran melihat di atas meja telah tersaji hidangan yang baru dan Pengacara Go pun juga sudah menghilang. 


Seo Young celingak celinguk mencari Pengacara Go, tapi yang duduk di hadapannya malah Seon Woo. Ia kaget saat Seon Woo bertanya bagaimana perasaan Seo Young sekarang? Terkejut? Marah? Kesal? Frustasi?


“Ini adalah hadiah perpisahanku sebelum aku kembali ke Amerika. Dari sudut pandangku, aku ingin mengungkap sisi polos dan baiknya Lee Seo Young. Dan dari sudut pandangmu adalah kau bisa menyadari perasaan yang pernah ada di dalam hatimu. Salah satunya adalah cemburu, Itulah perasaan yang sedang kau rasakan saat ini pada Kang Woo Jae.”


Ha. Seo Young terpana, mendengar jawaban dari pertanyaannya di toilet dan jawaban itu diberikan oleh wanita yang pernah menjadi saingan terberatnya.   


Belum sempat Seo Young mencerna apa yang dikatakan Seon Woo tadi, ada SMS dari Pengacara Go yang memberitahukan kalau ia telah membayar makanan yang ada di hadapan Seo Young dan berharap agar mereka berdua menikmatinya.


Berdua? Seo Young melihat makanan di hadapannya, dan ia tak terkejut ketika Woo Jae duduk di hadapannya.


Tetap dengan senyumannnya, Woo Jae mengaku kalau ia tak tahu tentang semua kejadian malam ini. Seon Woo dan Pengacara Go yang merencanakannya. Ia bertanya apa yang akan mereka lakukan dengan semua ini? Seo Young menjawab kalau mereka akan makan makanan yang disajikan, karena dengan gajinya sekarang, ia tak mampu bayar di tempat semahal ini.


Sambil lalu, Woo Jae bertanya apakah pria tadi pagi itu hanya benar-benar teman lama saja? Seo Young pun menjawab sambil lalu, “Ia lebih seperti teman biasa daripada teman yang hampir kunikahi.”


Woo Jae tersenyum mendengar sindiran Seo Young, “Yang kau maksud Seon Woo? Whoaa.. Lidah Seo Young sekarang makin tajam.”


Seo Young juga tersenyum mendengar sindiran Woo Jae. Ia pun menjelaskan kalau Sung Tae sebenarnya sudah mempunyai pacar. Tentu saja Woo Jae tak percaya. Bagaimana mungkin pria yang sudah punya pacar masih merayakan ulang tahun wanita lain dan membuat foto seperti itu.

Seo Young menjelaskan kalau Sung Tae mungkin mendengar kisah hidupnya dari Yeon Hee dan Sung Tae mungkin ingin memberi sedikit kebahagiaan pada cinta pertamanya.


Woo Jae mendengus mendengar kata cinta pertama. Tapi ia bertanya mengapa Seo Young sekarang terbuka dan juga jujur. Seo Young menjawab kalau ia hanya ingin meminta maaf seperti yang Woo Jae inginkan.


Woo Jae teringat pada percakapan mereka terakhir dimana yang Woo Jae inginkan adalah Seo Young meminta maaf dengan caranya (terbuka) dan bukan dengan cara Seo Young (tertutup dan menarik diri).  Dan Woo Jae terpana dan bertanya apakah sekarang Seo Young sedang meminta maaf dengan caranya? Seo Young mengangguk yakin.


Senyum Woo Jae tak pernah sebahagia ini dan ia pun memuji Seo Young, “Kau benar-benar melakukan banyak kemajuan.”


Seo Young meminta agar Woo Jae tak datang ke kantor besok karena ia akan pergi ke suatu tempat seharian. Mulanya Woo Jae ingin bertanya, tapi ia memutuskan untuk tak banyak bertanya dan hanya berkata, “Oke.. aku mengerti.”


Aww.. Seo Young pun menyadari kalau Woo Jae juga melakukan kemajuan, tak memaksa Seo Young dan mengikuti kemauannya. Dan Seo Young pun perlahan tersenyum menatap Woo Jae yang masih memandanginya dengan penuh sayang.


Ayah tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya saat mendengar kalau Seo Young setuju untuk ikut dengan mereka ke Jinan, apalagi saat Ho Jung menambahkan kalau sebenarnya Seo Young lebih dulu  berinisiatif untuk mengajak mereka makan bersama.


Sang Woo menanyakan alasan ayah yang tak pernah menceritakan tentang masa mudanya dan apa yang sebenarnya ayah pikirkan. Jika saja ayah menceritakan hal itu, mungkin mereka dapat memahami ayah lebih baik. Tapi ayah mengatakan cerita itu tak ada gunanya. Orang tua yang gagal hanya bisa meminta maaf untuk semua kesalahannya.


Di rumah, Seo Young bersiap-siap untuk berangkat dan mencari sweater. Tak menemukan sweater di lemari, ia mencari sweater di koper yang pernah dibawakan Woo Jae dari rumahnya. Ternyata di dalamnya ada sweater yang baru ia lihat pertama kali. Di atas plastic pembungkus itu tertempel post it dari ibu yang mengatakan kalau sweater itu adalah hadiah ulang tahun darinya dan ia mendoakan Seo Young agar tetap berbahagia.


Seo Young yang hendak tidur, tersenyum memandangi foto mendiang ibunya. Mungkin untuk pertama kalinya ia merasa tenteram. 


Sementara ayah yang sudah tidur, tak dapat nyenyak karena merasakan nyeri di perutnya. O oh..


Keesokan paginya, walau masih merasa sakit, ayah ikut perjalanan ini dengan senang hati. Tapi perutnya tak dapat diajak kompromi. Saat di mobil ia menolak snack yang ditawarkan oleh Ho Jung. Hal ini membuat Sang Woo sedikit khawatir pada ayah. Tapi ayah menenangkan putranya dengan alasan kalau ia tak lapar. Ia juga meminta untuk berhenti di rest area karena ia sudah lama ayah tak pernah bepergian jauh.


Seo Young menyetir dan teringat saat ia menaburkan abu ibunya di sungai kota Jinan. Ia teringat janjinya pada ibunya saat itu kalau ia akan hidup dengan bahagia. Ia tersenyum kecil, menyadari kalau ia merasa sedikit kebahagiaan itu. Ho Jung menelepon, memberitahukannya kalau mereka akan berhenti sebentar di rest area.


Saat berhenti di rest area, ternyata ayah memuntahkan isi perutnya di toilet. Sebenarnya muntah adalah tanda-tanda normal kalau seseorang itu mabuk darat. Tapi benarkah ayah hanya mabuk darat?


Ho Jung mencoba mendekatkan Seo Young dan ayah mertuanya dengan meminta kerelaan Seo Young untuk membawa ayah di mobil Seo Young. Ia beralasan kalau ia ingin berduaan saja dengan Sang Woo. Tapi Seo Young yang pintar tahu maksud baik adik iparnya itu. Ia pun tersenyum dan mengiyakan permintaan Ho Jung.


Ayah membeli snack di sebuah kios makanan. Tapi setelah ia menerima belanjaannya, perutnya mulai sakit. Dan kali ini sakitnya benar-benar tak tertahankan. 


Ayah pun terjatuh di depan kios makanan itu.


Seo Young beres-beres dan membersihkan mobilnya. Mulanya ia ingin menempatkan ayah di kursi belakang (mungkin agar ayah dapat beristirahat). Tapi ia kemudian berubah pikiran dan memindahkan barang-barang yang ada di kursi depan ke belakang (agar ia dan ayah dapat bercakap-cakap).


Betapa terkejutnya Seo Young saat ia selesai berberes, ia mendengar teriakan Sang Woo dan Ho Jung yang memanggil ayahnya.


Ia segera berlari dan terkejut melihat ayahnya yang kesakitan menahan nyeri.


Note: 

Tiga episode lagi, drama ini tamat. Jadi, please.. jangan ada yang memberikan komentar spoiler di blog ini, ya. Jujur, saya belum menonton episode 48 – 50. Saya mencoba menjauhi spoiler dan hanya menonton episode yang akan saya recap saja.

Jadi jika ada yang memberikan komentar spoiler, dengan amat menyesal, akan saya masukkan ke dalam kotak spam. Hehe.. :)


22 comments :

  1. just one comment mbak dee (jangan di spam pliisss :D) ,, drama ini bagussss dari awal sampai ke akhir !

    ReplyDelete
  2. sukaaaaaaaa bgt sama drama ini lanjut mba :) semangatttt 2 ep lagi ....

    ReplyDelete
  3. setelah nnton drama ini sampai habis maka sy memutuskan next project sy slnjutny adalah.......jreng..jreng...mencari woo jae di khidupan nyata..wkwkwkwkwk.....wkwkwkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha siapa yang nolak?
      nyarinya tuh harus seberuntung seo young :)

      Delete
    2. baiklah..klo gitu sy bakal ganti profesi jd guru privat aja deh mana tau bs bnran ktmu cwok tipikal woo jae kyk nasibnya seo young :) #ngayal.com#

      Delete
    3. hehe.. asal jangan ketemunya sung jae doang, ya.. :) jadinya malah My Tutor Friend :)

      Delete
    4. di selidiki dulu dong mbak dee calon muridny ada ka2k cowok yg single n okeh g biar g slah sasaran :)

      Delete
  4. suka bangeeet sama drama ini... apalagi si sang wooo and ho junng.. cute.. ayo semangat mba dee...

    ReplyDelete
  5. tq yah udah nampilin sinopsis 47 seneng banget abisnya sih di kbs world masih episode 44

    ReplyDelete
  6. hahaha tenang aja gua juga gk mw nonton 48 mpe 50 sebenernya kalau saya mw nonton 48 49 40 udah selesai dari kemarin di kbs 2 tv tapi aku mw ikut kutu drama aja deh biar bisa agak nontonnya kowkowkowkowkowkow

    ReplyDelete
  7. mbak dee ada ost yg recommended g dari drama ini??

    ReplyDelete
    Replies
    1. mian, saya yang recomended
      like the first time by melody day :)

      Delete
    2. yupsssss lagunya enak , liriknya sesuai ,
      passs nanceppp di hati , ngena banget deh.

      Delete
    3. iya, sampe ngedownload semua ost yang dinyanyiin melody day...
      mulai CDDA, IMY, Thousandth Man ckckck

      Delete
  8. Seruu.. bolak balik ke sini cuma nunggu sinop ini doang.. Semangat Mbak..

    ReplyDelete
  9. Jadi nangis baca bagian awal sinop episode ini..

    ReplyDelete
  10. mbak deeeee,, g bakal bikin sinopnya That Winter The Wind Blows kah? keren bgt dramanya mbak,, dn sekarang saia ngeshipper ke SooYeong couple,, jujur aq penasaran sm komentar2 mbak dee di tiap episode nya,,, bukan cuma komentar, tp yg utama analisis tentang mslh yg mereka hadapi...

    ReplyDelete
  11. haduhh.. aku nggak sempat nonton. coba ke tempatnya hazuki di http://myls-koreanlover.blogspot.com/

    ReplyDelete
  12. Mba dee,ak bolak balik ke blognya mba nih kok blm ad lanjutannya ya,smoga aj dilanjutin am mba,maaf ya mba agak maksa abiz penasaran bgt soalnya di kbs br ep 45 td jd penasaran bgt deh jdnya...

    ReplyDelete
  13. aku suka bagian sang woo sama ho jung.
    "CINTA ITU BISA KARENA TERBIASA"

    Mheheheh...

    ReplyDelete
  14. admin sudah gk ngurus ni blog soalnya gk ada kelanjutan sinopsis my daughter seo young episde 48 49 50 parah nih admin , tolong dong admin capek nih pulang balik blog, kalau gk kami kasih dana deh buat kelancaran nih blog

    ReplyDelete