February 28, 2013

Sinopsis My Daughter Seo Young Episode 46

Sinopsis My Daughter Seo Young Episode 46

Sinopsis Sayangku Seo Young

Melihat pria kumal itu mendekatinya, Ho Jung semakin gemetar. Walau begitu, memberanikan diri menatap pria itu. Tapi ketika pria itu mengulurkan tangannya, Ho Jung tak tahan untuk berteriak dan lari terbirit-birit. Kabur.



Pria itu hanya diam. Tiba-tiba ada suara handphone berbunyi. Pria itu mengangkat tangan yang ternyata sedang memegang handphone dan menyapa si pemanggil.


Pemanggil yang adalah Sang Woo, panik mendengar suara pria dan bertanya siapa pria itu. Mendengar suara pria itu yang berkata, “Aku..” dan sambungan telepon mati, Sang Woo langsung panik dan keluar bioskop untuk mencari Ho Jung.


Sementara pria yang berkata, “Aku..” memandang handphone yang ia pegang yang sekarang mati (kehabisan baterai) dan bergumam seakan protes, “Aku hanya ingin mengatakan kalau aku memungut handphone ini.”


Gubrak! LOL. Antiklimkas banget, sih. Ternyata pria kumal itu pria baik-baik yang mengambil handphone Ho  Jung yang sepertinya terjatuh saat Ho Jung lari dari pria yang menawarinya barang. Duh.. kesian banget nih orang.. Disangka yang engga-engga.


Seo Young pulang dan kaget mendapati Ho Jung jongkok di depan pintu apartemennya seperti anak kucing yang kehilangan rumah. Saat ditanya alasan Ho Jung ke rumahnya, Ho Jung menjawab dengan muka memelas kalau ia tak tahu harus pergi kemana.


Aww.. sedihnya dan juga so sweet.., karena yang dipikirkan Ho Jung pertama kali adalah Seo Young dan bukannya sahabat-sahabatnya.


Seo Young membawa Ho Jung ke dalam apartemennya dan Ho Jung menceritakan apa yang ia dengar tadi di bioskop. Seo Young yang mengenal adiknya, mengatakan kalau Sang Woo tak mungkin menceritakan hal seperti itu pada temannya.


Tapi Ho Jung yakin kalau Sang Woo bisa mengatakan perasaannya dengan bebas karena Sang Woo tak tahu kalau ia mendengarkan percakapan teleponnya. Ia tahu kalau dirinya terlalu menunut.


Seo Young menyela kalau memang seharusnya seperti itu, wanita pasti ingin dicintai oleh suaminya dan tuntutan Ho Jung juga tak berlebihan.  Ho Jung pun akhirnya berkata jujur kalau pernikahan ini terjadi karena ia yang menyukai Sang Woo.


Sementara itu Sang Woo ke kantor polisi, meminta mereka untuk melakukan pencarian istrinya. Tapi polisi tak yakin kalau Ho Jung benar-benar kabur. Bahkan polisi itu berasumsi kalau pria yang mengangkat telepon itu adalah pacar gelapnya. Tentu saja Sang Woo meledak mendengarnya, “Istriku bukanlah wanita yang seperti itu!”


Seo Young terkejut mendengar penuturan Ho Jung yang ternyata diceritai oleh Sang Woo tentang kisah dirinya dan ayah. Ho Jung mengatakan tak ingin menghakimi mereka. Ia sangat menyukai ayah mertuanya. Menurut Ho Jung, ayah yang ia kenal selama ini sangatlah hemat dan penuh kasih sayang. Ia bahkan tak pernah membuatkan sarapan karena ayahlah yang membuat sarapan untuk mereka. Ia juga tak pernah dimarahi oleh mertuanya itu.


Tapi itu tak berarti ia tak memahami Seo Young. Jika bukan karena Seo Young, Sang Woo pasti tak dapat menyelesaikan kuliah kedokterannya. Ia memahami perasaan ayah tapi ia juga memahami perasaan  Seo Young, “Dan aku merasakan sakitnya ayah dan kakak.”

Jika ia berada di posisi Seo Young dan memiliki adik seperti Sang Woo, ia pasti tak akan menghidupinya, seperti Seo Young membiayai Sang Woo, “Mungkin aku sudah kabur dari rumah atau ingin mati saja mati.” 


Ho Jung menghentikan ucapannya dan kemudian sadar apa maksud perkataannya, “Astaga, kalau aku mengatakan seperti itu, aku kedengarannya menganggap ayah jahat, ya.”


Seo Young menatap haru pada adik iparnya yang polos dan ceplas-ceplos. Handphonenya berbunyi dan ternyata dari Sang Woo. Seo Young menatap Ho Jung, ragu. Ho Jung yang merasa Seo Young tak mau  menerima telepon di depannya, pura-pura ke toilet.


Sang Woo yang panik tak tahu harus kemana lagi harus mencari Ho Jung menelepon kakak kembarnya yang pengacara, untuk membantunya membuat laporan penculikan karena polisi tak mau membuatkan.


Seo Young bengong mendengar celotehan adiknya yang bertubi-tubi. Ia bertanya apa maksud adiknya itu, dan Sang Woo yang tak sabar langsung berkata, “Sudah kubilang tadi, kurasa ia diculik!”


LOL. Tak dapat menahan geli, Seo Young tersenyum lebar. Tapi Sang Woo yang tentu saja tak dapat mendengar senyum Seo Young, bertanya mengapa Seo Young tak menjawabnya?


Seo Young buru-buru berkata kalau ia akan segera kesana. Ia memanggil Ho Jung dan berkata kalau ia ada urusan dan harus pergi keluar, jadi ia akan mengantarkan Ho Jung. Ho Jung ragu dan bertanya apa tak lebih baik Seo Young menelepon Sang Woo agar Sang Woo tak khawatir?


Tentu saja tidak. Sambil tersenyum, Seo Young berkata, “Lupakan saja orang yang cerita ini itu pada temannya. Jangan pedulikan apakah ia khawatir atau tidak. Jika nanti Sang Woo bertanya mengapa kau membuatnya menunggu, katakana saja kalau ia berhak mendapatkannya!”


Heee…. Jahil juga si kakak. Ho Jung saja sampai bengong, tak tahu harus menjawab apa.


Tapi ketidaktahuan Ho Jung berubah menjadi panik dan ketakutan saat Seo Young menurunkannya di depan kantor polisi. Seo Young menjelaskan kalau Sang Woo ada di dalam kantor polisi. Tapi Seo Young tak mau menjelaskan apa urusan Sang Woo di kantor polisi. Kalau Ho Jung masuk ke dalam dan menemui Sang Woo, maka ia akan tahu jawabannya.


Ho Jung langsung bergegas masuk ke dalam dan berseru kaget saat melihat Sang Woo yang duduk terpekur di kursi, “Apa yang terjadi? Apakah oppa ditangkap polisi?”


LOL. Gak sadar apa kalau ada yang khawatir setengah mampus. Sang Woo hanya dapat menatap Ho Jung, tak tahu reaksi apa yang harus dikeluarkan. Lega? Senang? Kaget? Marah?


Maka Sang Woo pun walk out meninggakan Ho Jung. Ho Jung buru-buru menyusulnya dan meminta maaf, menjelaskan kalau handphonenya hilang dan ia pergi ke tempat Seo Young. Tapi apa menurut Sang Woo, suaminya itu tak berlebihan melaporkannya pada polisi?


Sang Woo berbalik melotot pada Ho Jung. Ho Jung pun mengkeret dan mencoba meminta Sang Woo memahami tindakannya. Apa yang dibicarakan Sang Woo di telepon benar-benar membuatnya salah paham.


“Bagaimana mungkin kau bisa berpikiran seperti itu?” kali ini Sang Woo benar-benar meledak. “Hanya tanggung jawab? Memaksa diriku sendiri walaupun rasanya menyebalkan? Jika kau memang mendengarnya, mengapa kau tak bertanya? Apa kau tak punya mulut? Apa kau tak bisa bicara?”


Ho Jung membela diri kalau ia tak mungkin berani bertanya karena ia takut kalau yang ia dengar itu ternyata benar, kalau sebenarnya Sang Woo berusaha keras dan memaksa diri untuk pernikahan ini. Sang Woo benar-benar tak percaya istrinya bisa punya pikiran itu, “Siapa bilang kalau aku terpaksa?!”


Ho Jung memberanikan diri menatap Sang Woo dan kaget karena mata Sang Woo sudah berkaca-kaca, apalagi suara Sang Woo bergetar saat berkata, “Kau benar-benar.. kupikir sesuatu yang buruk telah terjadi padamu. Jantungku gemetar.. Aku selalu berpikir, ‘apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan jika tak menemukanmu? Apa yang harus kulakukan?’”


Ho Jung masih belum bisa percaya kalau Sang Woo benar-benar mencemaskannya, “Jadi.. ini semua.. tak terpaksa.. atau menjengkelkan? Kau benar-benar khawatir.. benar-benar khawatir?”


Sang Woo menatap Ho Jung putus asa dan tak dapat berkata-kata lagi. Ia menarik Ho Jung dan memeluknya. Ho Jung pun tersenyum lega dan membalas pelukan suaminya. Tapi kemudian terdengar suara Sang Woo mengancam, “Coba saja, kalau kau berani menghilang dari hadapanku lagi..”


Aww…


Dan pengacara merangkap cupid itu hanya tersenyum dari kejauhan, menatap bahagia pada sepasang suami istri itu.


Mi Kyung datang ke ruangan Kyung Ho dan terkejut saat Kyung Hoo memberikan kalung hati yang dulu pernah ia berikan pada dokter oppa-nya semasa SMA. Ada inisial KMK di belakang bandul itu. Berarti Gyung Ho memang dokter oppa itu. Tapi mengapa Gyung Ho selalu sadis padanya dan tak memberitahukan jati diri Gyung Ho sebenarnya saat ia datang pertama kali ke rumah sakit ini?


Gyung Ho pun menjawab, “Apa kau ingat apa yang kau katakan saat kau memberikan kalung itu? ‘Tunggulah aku. Aku akan menjadi doter bedah y ang menyelamatkan nyawa rang lain, dan saat itu aku akan menemuimu, Oppa,’” kata Gyung Hoo menirukan, “Kita bertemu lagi dan kau sudah menjadi dokter bedah. Aku bangga padamu. Tapi kau setiap hari hanya sibuk dan lebih mementingkan kehidupan cintamu daripada pasien. Jadi aku merasa tak perlu untuk memberitahukanmu.”


Mi Kyung terhenyak mendengar jawaban Gyung Ho yang lagi-lagi pedas, namun sangat jujur dan benar.


Ayah yang khawatir dengan Ho Jung menunggu kedatangan Sang Woo dan Ho Jung di luar. Saat mereka berdua turun, Sang Woo meminta ayah untuk memarahi Ho Jung. Tapi ayah tak mau karena ia takut kalau Ho Jung nanti lari lagi.


Hehehe.. kayaknya semua anggota Lee berpihak pada Ho Jung semua, nih.. Termasuk Sang Woo, yang menggenggam tangan Ho Jung untuk mengajaknya masuk ke dalam rumah. Aww….


Di kamar, Ho Jung yang sudah tertidur karena kelelahan, mengigau dalam tidurnya, “Kau memintaku untuk tak menghilang lagi, kan? Aku tak pernah akan hilang lagi.”


Sang Woo yang kebetulan baru masuk dan mendengar ucapan Ho Jung tersenyum, dan ia pun ikut membaringkan tubuh ke tempat tidur. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Kali ini, dengan lembut ia merengkuh Ho Jung yang sudah terlelap dan tersenyum bahagia penuh kelegaan.


Keesokan harinya Seo Yeong menceritakan kejadian kemarin malam pada Yeon Hee. Yeon Hee memuji Seo Young yang sekarang telah berubah banyak, bahkan sekarang menjadi makcomblang pada adiknya.


Seo Young berkata kalau yang ia lakukan ini sedikit banyak karena keegoisannya yang ingin mengurangi perasaan bersalahnya pada Sang Woo. Dulu ia merasa harga dirinya adalah segalanya padahal dengan begitu, ia malah melukai banyak orang, “Aku tak tahu kalau orang-orang yang kucintai melakukan hal itu demi diriku. Di luar sepengetahuanku, ternyata aku menerima banyak kasih sayang.”


Yeon Hee pun berganti topik dengan bertanya apakah Seo Young benar-benar akan memberikan uang dari ayah Woo Jae untuk membantu kasus Eun Ho. Seo Young yakin akan keputusannya. Karena ia tak dapat menerima maupun menolak uang itu. Maka ia memutuskan untuk memberi semacam bantuan pada anak yang tak mampu, menyalurkan uang dari perusahaan besar untuk Eun Ho.


Uang itu akan dipakai untuk menyelesaikan kasus Eun Ho. Seo Young menemui orang tua korban dan membujuk mereka untuk menyelesaikan kasus ini di luar pengadilan. Mulanya orang tua korban itu masih enggan. 


Seo Young pun memberitahu, jika kasus ini sampai ke pengadilan, apapun hasilnya, mereka tak akan dapat uang ganti rugi. Dan kenyataan kalau Eun Ho tumbuh seperti itu karena tak memiliki orang tua seperti mereka.


Eun Ho tak merasa bersyukur saat diberitahu Seo Young, usaha apa yang telah dilakukannya. Seo Young yang tahu kalau luka Eun Ho sama seperti dirinya dulu, menceritakan kalau ia dulu sama seperti Eun Ho. Dulu ia ingin mati jika memikirkan ayahnya. Tapi dia bertahan dan lama kelamaan ia mempunyai alasan lagi untuk hidup.


Seo Young meletakkan segepok uang yang pernah diberikan nenek Eun Ho padanya sebagai uang jasa. Dan ia pun memberitahu kalau neneknya sangat mengasihinya. Ayah Eun Ho bukanlah segalanya. Tak ada yang berubah jika Eun Ho meninggal. Lebih baik Eun Ho memikirkan nenek dan adiknya.


Mendengar hal itu, Eun Ho menangis dan mengakui kalau di hari itu sebenarnya ia ingin mati saja dengan mobil yang dibawanya. Karena ia jika ia tak bunuh diri, ia takut akan membunuh ayahnya saat itu juga.


Seo Young hanya menatap Eun Ho.


Saat akan kembali ke kantor, Seo Young melewati toko perlengkapan kegiatan outdoor. Dan ia melihat sepasang ayah anak yang keluar dari toko itu, lengkap dengan perlengkapan untuk mendaki gunung.


Betapa berubahnya Seo Young sekarang. Karena apa yang Seo Young lihat, itulah yang akan Seo Young lakukan. Yeon Hee kaget melihatnya datang ke kantor dengan memakai perlengkapan mendaki.  Sambil tersenyum ceria, Seo Young berkata kalau ia ingin mendaki gunung dari dulu.


Hmm.. kayaknya ada yang kangen, nih.. Gang Sun menghabiskan siangnya dengan lagi-lagi menonton home shopping yang menayangkan suaminya dan kepiting. Ji Sun pulang dengan membawa vacuum cleaner baru, membuat Gang Sun bertanya apakah temannya itu memang berniat untuk cerai dengan Ki Bum?


Tentu saja Ji Sun serius dan mengiyakan saat Gang Sun menyamakan rumah besarnya dengan penjara dengan Ki Bum sebagai kepala penjara dan anak-anaknya sebagai sipir. Bahkan Ji Sun pun menyamakan Gang Sun dengan suaminya, sama-sama kepala penjara, “Mungkin Min Suk juga sedang kabur dari penjaramu, ya?”


LOL. Gang Sun pun kesal, dan masuk kamar setelah tak bisa menjawab pertanyaan Ji Sun yang menyudutkan tentang keberadaan Min Suk.


Dan ucapan-ucapan Ji Sun itu sepertinya nempel di hati dan pikirannya, karena yang ia lakukan sekarang adalah melacak keberadaan suaminya. Pertama ia ke kantor Home Shopping dan mendapatkan nama agency yang memproduksi tayangan homeshopping suaminya itu.


Namun ia mengalami jalan buntu saat pergi ke agency itu. Pimpinan agency itu menolak untuk memberi tahu dimana suaminya sekarang, dengan alasan karena Min Suk melarang pemilik agency itu  memberitahukan dimana keberadaan Min Suk.


Bwahaha..


Dan si suami sekarang sedang menjalani audisi untuk menjadi mafia. Sutradara itu agak ragu untuk menjadikan Min Suk sebagai mafia karena menurut sutradara mukanya terlalu tampan untuk menjadi mafia. Sung Jae yang juga ikut audisi menyela kalau Min Suk sangat pas menjadi mafia karena akn lebih dramatis jika karakter jahat tak tampak jahat sama sekali.


Hasilnya? Min Suk diterima casting untuk pertama kalinya. Yay! Hore untuk Min Suk! Hore untuk Sung Jae!


Ji Sun membeli vacuum cleaner otomatis yang mirip robot untuk mempermudah pekerjaannya. Ha. Work smart, play hard sepertinya adalah motto hidup ibu satu ini. Saat ia sedang ‘melakukan’ pekerjaan rumahnya, Ji Sun mendapat telepon dari suaminya. Langsung dimatikan. Telepon kedua muncul. Hampir saja Ji Sun mematikan, tapi melihat nama si pesulap, ia mengurungkan niatnya.


Ternyata Ki Bum menelepon istrinya karena ia sudah ada di depan rumah. Jadi betapa gondoknya ia melihat mobil Ji Sun melenggang pergi meninggalkannya di depan.


Si pesulap menemui Ji Sun untuk meminta maaf atas perbuatan yang dilakukannya. Ji Sun pun memaafkan  karena ia terlibat dengan kasus ini, matanya telah terbuka akan kehidupan ini. Si pesulap itu melihat kedatangan suami Ji Sun dan berkata walau ia melakukan sulapan dan tipuan, ia tahu pasti kalau ramalan tentang Ji Sun benar. Masa depan Ji Sun memang akan sangat cerah.


Ki Bum mendatangi meja mereka dengan marah. Tapi si pesulap itu memang akan pergi. Namun sebelum pergi, ia memberitahu Ki Bum kalau Ki Bum adalah orang yang menyedihkan. 


Sepeninggal pesulap itu, Ki Bum mengomel, memarahi istrinya yang masih tetap mau bertemu dengan orang yang pernah menipunya.


Ji Sun mengangkat alis mendengar nada Ki Bum dan bertanya apakah suaminya ini cemburu?  Suaminya berdecak seakan itu adalah tindakan konyol dan bertanya apa yang diminta Ji Sun agar tak bercerai selain saham, kartu kredit dan uang?

Tentu saja Ji Sun tak mau apapun kecuali jika Ki Bum bisa mencintainya. Ji Sun tahu kalau suaminya ini tak mencintainya, jadi ia bengong dan hanya bisa mengerjapkan mata saat suaminya membentak untuk bertanya bagaimana caranya?


Dengan nada lebih tenang, Ki Bum bertanya bagaiamana ia harus menunjukkan cinta itu. Dengan sedikit menggerutu Ki Bum mengakui kalau ia sekarang merasa kesepian dan hampa karena tak ada Ji Sun di sisinya.


Aww… so sweet.. Ji Sun lagi-lagi hanya bisa bengong dan mengerjapkan matanya lagi.


Seperti kata-katanya pada Yeon Hee, pada hari itu juga ia mendaki gunung. Sampai juga ia di puncak salah satu bukit. Saat beristirahat, ia mengambil bekal coklatnya.


Ia menoleh ke belakang, dan ia melihat dirinya 20 tahun yang lalu digandeng oleh ayahnya. Seo Young kecil menggerutu karena ia dipaksa untuk berjalan terus hingga ke puncak, dan ayahnya memasukkan sepotong coklat sebagai hadiah karena mereka sudah sampai separuh jalan.


Rupanya roklat itu adalah salah satu kenangan indah masa kecilnya. Mengingat kejadian itu, membuatnya teringat dengan kejadian di hari lain saat sekeluarga mendaki gunung lagi. Kali ini ayah telah menanam harta karun di tumpukan salju di dekat pohon.


Ada tiga kertas merah untuk Seo Young yang bertuliskan coklat, payung dan baju boneka. Untuk Sang Woo, ada tiga kertas biru yang bertuliskan lego, permen dan komik. Jika mereka dapat menemukan kertas-kertas itu, maka mereka akan dibelikan hadiah yang tertulis. Jika tidak, maka mereka harus makan sayur. Anak-anak itu pun langsung berlarian, mencari harta karun itu.


Alasan ayah mengadakan permainan berburu harta karun di pegunungan bukan di sekolah, karena untuk melatih fisik Seo Young yang lemah. Dan mendaki adalah olaharga yang bagus untuk melatih ketahanan dan kegigihan. Ibu memperhatikan kalau ayah terlalu menjaga Seo Young. Bagaimana dengan Sang Woo?


Ayah mengatakan kalau Seo Young sudah benar-benar menjaga adiknya. Dan mereka pun geli karena Seo Young benar-benar melakukan tugasnya sebagai noona pada Sang Woo yang hanya lahir 3 menit setelahnya. 


Dan saat Seo Young berseru karena telah menemukan ketiga kertas itu, ibu tersenyum karena yang sebelumnya Seo Young membenci kegiatan mendaki, sekarang malah menyukainya. Dengan nada bangga, ayah, “Tentu saja. Dia akan anakku.” 


Ayah pun berlari menuju Seo Young yang berlari ke arahnya dan mengangkat Seo Young dengan gembira.


Membandingkan ayah dan dia di masa kecilnya, dengan ayah dan dia beberapa tahun ini, membuat Seo Young menangis. Sikap dan perlakuannya pada ayah sangatlah berbeda. Sikap dan perlakuan ayah padanya tetap sama.


Di saat yang sama, ayah sedang tekun membuat proyek pribadinya. Kursi goyang


Menyadari kalau ia telah duduk di sana terlalu lama, ia pun turun lagi. Namun saat ia sendiri di bukit yang sepi itu, mengingatkannya pada dirinya saat kecil, yang ketakutan karena sendirian. 


Seo Young kecil berteriak memanggil ayah dan betapa senangnya ia melihat ayahnya langsung muncul. Ia ingin sampai ke puncak sendirian, tapi ia terlalu takut untuk sendiri. Jadi ia memohon pada ayah agar menjawab panggilannya saat ia berseru memanggil. Ayah pun mengiyakan.


Kenangan-kenangan masa kecil itu membuatnya sedih. Ia termenung lama, membuat dua orang laki-laki menghampirinya mengira Seo Young tersesat dan mengajaknya turun bersama. 


Seo Young menolak ajakan itu dengan alasan kalau ia sedang bersama seseorang. Menoleh kesana kemari dan menyadari tak ada siapapun di sekitar mereka, salah satu pria itu mendekati Seo Young dan bertanya, “Siapa?”


Seo Young pun berteriak, pura-pura memanggil, “Woo Jae-ssi! Woo Jae-ssi!”


“Ada apa? Aku di sini!” suara Woo Jae secara ajaib muncul dari balik pohon.


Seo Young kaget melihat Woo Jae yang berjalan hati-hati agar kakinya yang hanya memakai sepatu kerja tak terpeleset. Seo Young tak percaya melihat mantan suaminya itu ada di pegunungan sedingin ini, dengan memakai baju kerja, tanpa sehelai jaket atau peralatan mendaki. 


Dan kedua pria itu pun berlalu setelah melihat ternyata ucapan Seo Young benar. Woo Jae menghampiri dan bertanya apa yang telah dilakukan kedua orang itu. Seo Young tak menjawab hanya memandangi Woo Jae yang bertanya penuh perhatian padanya. 


Merasa ketahuan, Woo Jae pun langsung membela diri kalau ia sebenarnya tak berniat muncul di hadapan Seo Young sampai Seo Young memanggilnya (Note: janji Woo Jae di pertemuan terakhir mereka). Tapi ia tak punya pilihan lain karena Yeon Hee meneleponnya.


Aww.. ternyata Yeon Hee benar-benar mata-mata yang paten. Dan sahabat yang sangat baik. Setelah ditelepon oleh Yeon Hee yang mengkhawatirkan Seo Young, Woo Jae langsung pergi ke pegunungan dan masih sempat melihat Seo Young naik. Walau menyadari kalau ia tak memakai baju mendaki (yang pastinya membuat ia kedinginan), ia tetap naik juga.


Seo Young marah mengetahui kalau Woo Jae nekad naik walau dengan baju yang ada di badan, “Woo Jae-ssi. Apa kau sudah gila?”


Semula Woo Jae menunduk seperti anak nakal yang ketahuan, tapi kemudian mendongak dan senyumnya terkembang saat mendengar nada Seo Young, “Apa sekarang kau sedang mengkhawatirkanku?”


Ketahuan. Tapi Seo Young tak peduli dan malah menggerutu, “Bagaimana mungkin aku tak peduli?”

Woo Jae mengembalikan pernyataan Seo Young dengan memarahi Seo Young yang tanpa takut naik gunung sendirian di musim dingin seperti sekarang ini, “Apa yang akan terjadi kalau tadi tak ada aku?”


“Apanya yang tak ada dirimu?” Seo Young mulai emosi, “Kau sendiri tak memakai baju atau sepatu hiking!” Seo Young teringat kalau ia sempat duduk lama di atas bukit dan bertanya dimanakah Woo Jae saat itu?


Woo Jae tak menjawab malah menggerutu, “Apa hobimu itu adalah semedi di gunung? Bagaimana bisa kau tahan duduk seperti itu selama satu jam? Hampir saja aku mati kedinginan.” Woo Jae pun memasukkan tangannya ke saku dan menenggelamkan mukanya ke dalam syal, mencari kehangatan.


Sejam? Wow! Dan hobi Woo Jae pasti adalah mengawasi orang semedi di gunung, karena ia juga tahan berada di puncak dan berdiri selama satu jam.  


Seo Young hanya bisa menghela nafas frustasi. Karena mereka harus turun, Woo Jae mengusulkan agar ia turun dulu, dan menjadi pemandu Seo Young. Tanpa menunggu reaksi Seo Young, Woo Jae pun berjalan mendahului Seo Young.


“Setidaknya bawa ini..” Seo Young mengacungkan tongkatnya. Tapi sepersekian detik setelah Seo Young berkata seperti itu, Woo Jae tergelincir jatuh. Seo Young berteriak panik dan buru-buru menghampiri Woo Jae.


Menurut Woo Jae sih ia baik-baik saja. Tapi menurut badannya tidak. Telapak tangannya terluka dan kaki kanannya keseleo. 


Seo Young semakin frustasi melihat Woo Jae yang menganggap lukanya enteng, “Apa tadi kubilang? Aku tahu hal ini pasti akan terjadi!”


Ha. Semua suami pasti akan diam kalau istrinya (ehm.. mantan) sudah mulai melotot dan ngomel, antara panik, kesal, kasihan sekaligus marah. Apalagi saat Seo Young memeriksa luka di telapak tangan Woo Jae. Woo Jae hanya bisa mencoba tak membalas tatapan garang Seo Young padanya.


Seo Young memapah Woo Jae agar bisa menuruni pegunungan. Menurut Seo Young tentunya perjalanan ini sangatlah melelahkan dan sulit bagi Woo Jae  karena Woo Jae terlalu tinggi. Woo Jae pun mengiyakan dan tak percaya kalau ia yang sebesar ini dibantu oleh Seo Young yang sekecil itu.


“Aku tidak kecil!” bantah Seo Young kesal.


Woo Jae tertawa dan mengacak-acak rambut Seo Young. Seo Young hanya menatap Woo Jae, dan Woo Jae pun akhirnya sadar akan gerak refleknya dan tersipu.


Dengan kecepatan yang menyaingi langkah siput, akhirnya mereka bisa menuruni gunung. Woo Jae kasihan melihat Seo Young yang kelelahan. 


Reflek, ia mengeluarkan saputangan dan mengusap peluh di wajah Seo Young dan menenangkan Seo Young yang khawatir padanya.


Mulanya ia meminta Seo Young untuk mengantarkannya ke rumah sakit dengan menggunakan mobilnya. Tapi ia ingat kalau Seo Young tentu juga membawa mobil kemari, maka ia minta Seo Young untuk memanggilkan supir tembak saja. Tapi tentu saja Seo Young menolak, “Apa maksudmu aku harus memanggil sopir? Kata-katamu itu ngawur. Aku dapat mengambil mobilku nanti, jadi berikan kuncimu.”


Aww.. Seo Young benar-benar ‘teman’ yang baik.


Di mobil, Woo Jae memandangi Seo Young tanpa terucap satu kata pun. Seo Young bertanya mengapa Woo Jae hanya diam saja, tak berkata apapun. Woo Jae menjawab, “Karena kau mungkin tak akan menyukainya.”


“Kau sudah melakukan semua hal yang tak kusukai,” jawab Seo Young pendek.


Woo Jae tersenyum kecil dan berkata karena itu ia tak akan melakukannya lagi. Ia pun menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata.


Mengungkit kasus Direktur Ahn, Seo Young bertanya mengapa Woo Jae melepaskan orang itu, bahkan Woo Jae juga tak mematuhi perintah ayah dan malah membayar uang pengganti pada Direktur Ahn?

Woo Jae bercerita kalau dulu ia sering berbincang-bincang dengan ayah Seo Young dan salah satu pembicaraan mereka adalah alasan mengapa ayah dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja saat krisis moneter. Ayah mengatakan kalau ia sakit hati saat diberhentikan oleh perusahaan tanpa ucapan permintaan maaf. Woo Jae membenci Direktur Ahn, tapi ia kasihan pada para karyawan Direktur Ahn yang sudah bekerja selama 25 tahun, yang secara tak langsung bekerja untuk Winners.


Woo Jae menatap wanita di sisinya itu dan dengan lembut berkata, “Seo Young-ah.. Aku sangat mengagumimu.” Seo Young menoleh, dan Woo Jae pun melanjutkan, “Jika aku berada di posisimu, aku tak dapat bertahan dan mengatasi semua masalah itu. Aku menangis saat aku memikirkan kau yang harus melalui semua kesulitan itu.”


Mata Seo Young berkaca-kaca, namun ia masih memagari dirinya dan bertanya dingin, “Apa yang sudah kau tahu, hingga kau bisa menangis?”

“Kau memang bersalah karena saat itu tak menceritakan tentang  ayahmu. Tapi semua orang melakukan kesalahan dalam hidupnya. Jadi maafkanlah dirimu sendiri.”

Seo Young terdiam, namun perlahan menganggukkan kepala.


Woo Jae dibawa ke rumah sakit tempat Sang Woo dan Mi Kyung praktek. Untunglah. Menurut dokter jaga, cedera kaki Woo Jae tak terlalu parah. Tapi Seo Young meminta agar Woo Jae menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Tentu saja Woo Jae menolak, dan Sang Woo pun setuju kalau permintaan Seo Young terlalu berlebihan.


Hmm.. ada yang cerewet kayak istri nih, padahal kan sudah mantan, ya.


Woo Jae meminta adiknya untuk tak memberitahukan hal ini pada keluarga mereka. Mi Kyung pun menggerutu kalau ia sudah capek dan bosan menjaga berbagai rahasia. Sontak suasana hening, Woo Jae memandangi Seo Young yang menatap Mi Kyung dengan perasaan bersalah.


Woo Jae segera memecahkan suasana dengan menyuruh Seo Young pulang saja karena Seo Young pasti sudah lelah setelah mendaki gunung. Mi Kyung pun menenangkan Seo Young karena ia akan menjaga kakaknya.


Seo Young pun mengiyakan. Sang Woo menatap kakaknya, yang kata Woo Jae baru saja mendaki gunung, penuh arti.


Seo Young mengajak Mi Kyung untuk berbicara. Mi Kyung tahu apa yang akan Seo Young bicarakan. Sebelum Seo Young sempat meminta maaf, Mi Kyung mendahuluinya dengan berkata kalau semua itu adalah masa lalu. Pengalaman yang baru saja ia alami membuat ia memahami Seo Young. Dan ia meminta agar Seo Young tak menyalahkan diri sendiri, “Yang penting bagiku sekarang adalah menjadi dokter yang memikirkan pasiennya.”


Seo Young tertegun mendengar kata-kata Mi Kyung dan berkata kalau semua orang sepertinya jauh lebih dewasa daripada dirinya.


Sudah malam, Kyung Ho terkejut melihat ibu tirinya datang dengan lelah dan memintanya untuk ikut mencari ayahnya.


Seo Young pulang dan tanpa membuka baju sama sekali, langsung masuk ke tempat tidur yang belum ia rapihkan sama sekali. Dengan berbantalkan bantal tangan hadiah dari Woo Jae, ia pun memejamkan mata dan langsung terlelap.


Sang Woo menceritakan kejadian di rumah sakit tadi, dimana Seo Young memanggilnya dan Mi Kyung karena panik akan kondisi kaki Woo Jae yang ternyata tak begitu parah. Teringat akan kegiatan hiking yang dilakukan Seo Young, mengingatkannya tentang pengakuan ayah yang melihat Seo Young saat sedang mendaki.


Dan ia pun bertanya pada ayah, kapan tepatnya ayah melihat Seo Young? Menurut Sang Woo cukup mengherankan kalau ayah mendaki ke pegunungan yang jauh, padahal di dekat rumah mereka ada pegunungan yang bisa didaki (jika ayah memang ingin olah raga).


Ayah pun tergeragap menjawab pertanyaan itu. Ia pun mencoba mengalihkan perhatian dengan bertanya mengapa Seo Young juga harus melakukan olahraga hiking itu, padahal baru saja ia mendirikan kantor pengacara. Sang Woo menjelaskan karena butuh waktu setahun untuk kantor baru Seo Young berjalan normal seperti kantor pengacara lainnya. Saat ini adalah saat-saat yang sulit, tapi Sang Woo yakin kakaknya itu dapat melakukannya.


Rupanya kata-kata itu membuat ayah khawatir. Sendirian di dalam kamar, ia membuka sebuah kotak yang didalamnya ada sebuah amplop putih.


Keesokan harinya, Seo Young masuk kantor untuk menginterogasi. Tapi si mata-mata itu sudah tersenyum lebar dan mengangkat tangannya, mengakui kalau ia adalah spy itu.


Ternyata dulu Woo Jae, yang tak tahu dimana keberadaan Seo Young setelah Seo Young pergi dari rumah Kang, menemui Yeon Hee. Tapi di awal pertemuan, Yeon Hee langsung mengatakan kalau ia tak mau melakukan apa yang tak disukai Seo Young.


Namun kata-kata Woo Jae yang mengubah pendiriannya. Kata-kata Woo Jae yang mengatakan kalau Yeon Hee adalah teman terdekat Seo Young yang paling Seo Young percayai.


Yeon Hee merasa kalau sebagai teman dekat Seo Young, ia berhak melihat apa sebenarnya hati Seo Young. Seo Young bertanya apa yang ada di dalam hatinya. Yeon Hee pun menjawab, “Kau ingin mencintai, tapi kau bisa melakukannya.”

Yeon Hee pun menambahkan, setidaknya Woo Jae berhak mengetahui keberadaan Seo Young. Karena seperti yang diakui Seo Young, Woo Jae tak menceraikannya, tapi  Woo Jae memberikan perceraian itu, “Orang yang paling merasa sedih adalah Woo Jae.”


Lagi-lagi Seo Young harus mengakui kalau semua orang sepertinya jauh lebih dewasa daripada dirinya.


Tepat pada saat itu, ada yang mengetuk pintu. Seo Young kaget melihat tamu itu adalah ayahnya.


Kedatangan ayah kemari adalah untuk mengembalikan barang milik Seo Young. Ia mendengar kalau butuh biaya besar untuk mendirikan kantor pengacara. Karena ayah tak memiliki apa-apa, maka ia hanya bisa mengembalikan milik Seo Young. Dan ayah mengeluarkan amplop putih yang semalam ia ambil dari kotak kayu.


Amplop putih itu ternyata adalah amplop yang ditinggalkan Seo Young di pertemuan terakhirnya dengan ayahnya. Saat itu Seo Young mengaku mendapat beasiswa ke Amerika dan ia akan pergi untuk waktu yang amat sangat lama. Ayah menyiapkan makan siang yang lengkap, namun Seo Young yang masih sangat marah dan membenci ayahnya, hanya makan nasi sedikit dan segera pamit untuk pergi.


Ayah menangis sedih karena ditinggalkan putrinya yang masih benci padanya, dan ia makan makanan yang seharusnya dimakan Seo Young. Tapi ia tak dapat menahan sedu sedannya. Ia pun terduduk lesu.


Saat itu ia melihat amplop yang ditinggalkan Seo Young di bawah meja. Ada uang sebanyak 5 juta won di dalamnya. Sepertinya uang 5 juta itu adalah uang dari Ki Bum sebagai bonus karena berhasil menaikkan nilai Sung Jae. Ayah semakin tersedu-sedu melihat Seo Young yang membencinya masih memberikan uang padanya.


Seo Young marah mengetahui ayah tak menggunakan uang itu untuk membayar hutang-hutangnya. Tetap menunduk, ayah mengatakan kalau ia hanya ingin mengembalikan apa yang pernah dipercayakan Seo Young padanya. Ia pun beranjak pergi.


Seo Young teringat ucapan Woo Jae yang mengatakan kalau ia berada di posisi Seo Young, pasti tak akan dapat bertahan menghadapi kesulitan yang ada di hadapannya. Seo Young pun bertanya pada ayah, apa saja yang ayah katakan pada Woo Jae?


Ayah diam tak berani menjawab. Tapi Seo Young yang sudah menebak jawaban ayah, meluap marahnya, “Kenapa ayah mengatakan hal-hal itu pada Woo Jae-ssi? Orang yang berhak untuk membenci, mengutuk, dan menjelek-jelekkan ayah hanyala Sang Woo, ibu dan aku.”


Ayah kaget dan akhirnya mendongak untuk melihat putrinya yang sudah berkaca-kaca, “Kenapa ayah memberitahukan orang lain? Kenapa ayah malah memberitahukan itu pada Woo Jae-ssi? Kenapa? Aku bisa gila karena ayah!”

Ayah kembali menunduk kali ini semakin dalam dan buru-buru minta maaf sebelum berlalu pergi.


Yeon Hee masuk menemui Seo Young dan bertanya mengapa Seo Young mengatakan hal yang berlawanan dengan hatinya. Tak dapat menahan air matanya, Seo Young mengatakan kalau ayahnya menceritakan keburukan diri sendiri pada Woo Jae. Yeon Hee tak mengerti maksud Seo Young.


“Woo Jae-ssi masih tetaplah menantunya. Apakah tak cukup dengan ayah memanggil Woo Jae dengan Wakil Direktur? Kau juga tahu masa lalu ayahku. Ia ternyata mengungkapkan semua masa lalunya yang memalukan. Aku benar-benar gila karena ayah.”


Seo Young membongkar barang-barangnya. Dan di dalam kotak terdapat amplop. Like father like daughter. Jika ayah menyimpan uang pemberian Seo Young, begitu pula Seo Young yang masih menyimpan amplop uang pemberian ayahnya di hari terakhir pertemuan mereka 3 tahun yang lalu.


Yeon Hee datang berkunjung dan membawa anggur untuk diminum bersama. Melihat Seo Young sedang beres-beres, ia pun ikut membantu. Salah satu buku yang ada adalah buku tamu pernikahan Seo Young dulu. Dengan acuh Seo Young mengatakan kalau sebagian tamu adalah tamu sewaan.


Yeon Hee membuka-buka buku tamu itu, dan tersenyum melihat ada tamu yang namanya mirip dengan nama ayah Seo Young. Lee Sam Jae. Seo Young tak acuh lagi, dan mendekat untuk melihat nama itu. 


Betapa terkejutnya melihat ejaan nama itu adalah nama ayahnya, begitu pula bentuk tulisannya. Seo Young teringat betapa gugupnya ayah saat ia bertanya kapan ayahnya mengetahui kalau ia menikah.


Sepeninggal Yeon Hee, Seo Young mengirimkan SMS pada Sekretaris Yoon untuk bertanya untuk meminta alamat perusahaan yang menyewa tamu-tamu palsu itu.


Betapa kagetnya ia saat ia bertanya pada pegawai perusahaan itu, karena ada nama dan foto ayahnya yang terdaftar sebagai tamu di pernikahannya tiga tahun yang lalu.


Lee Sam Jae hadir menjadi tamu di pesta pernikahan yang ia sembunyikan rapat-rapat.



Komentar :

Sebenci-benci Seo Young pada ayahnya dulu, Seo Young tetap tak ingin orang menghina ayahnya. Seperti yang ia katakan pada ayahnya, yang berhak membenci ayah hanyalah Sang Woo, ibu dan dirinya. Hanya mereka bertiga yang boleh tahu kejelekan ayahnya. Sebenci-bencinya Seo Young pada ayahnya, ia tetap tak ingin orang lain menghina ayahnya.

Episode ini benar-benar menunjukkan betapa dekat hubungan ayahnya dengan Seo Young. Saat saya menonton di KBSworld, saya heran mengapa terjemahan Indonesia untuk My Daughter Seo Young adalah Anak Emasku. Aneh bukan? Namun di episode ini, terjawab sudah.


Dari kecil, Seo Young memang anak emas ayah. Ayah sangat memperhatikan dan memuja Seo Young. Bahkan istrinya pun bisa merasakan betapa ayah sangat memperhatikan Seo Young. Bukannya ayah tak menyayangi Sang Woo, tapi kecintaan dan kebanggaan pada putrinya sangatlah besar.

Begitu pula dengan Seo Young. Sejak kecil Seo Young benar-benar sangat dekat dengan ayahnya. Bahkan sifat gigih dan bertahan tak pernah menyerah ternyata adalah didikan ayahnya.

Orang yang paling mencintai, akan merasa paling tersakiti jika orang yang tercinta melakukan kesalahan. Begitu pula Seo Young. Hubungannya yang dekat pada ayahnya, membuat ia juga memuja ayahnya. Ia menganggap ayah sebagai idolanya. 

Tapi kecintaannya itu berubah menjadi luar biasa benci, melihat ayahnya lagi dan lagi dan lagi tak dapat membuktikan kalau ayahnya bisa menjadi orang yang dikagumi dan dipanuti.


Dan sekarang kebenciannya itu berubah menjadi penyesalan yang amat dalam melihat ayahnya bisa berubah. Ia tentu menyesal, mengapa ia tak sabar menunggu ayahnya sadar dan berubah seperti sekarang? Seperti yang dikatakan Ho Jung, ayah yang ia kenal adalah ayah yang hemat dan pekerja keras.

Mengapa ia meninggalkan ayahnya dulu? 


Itu juga adalah pertanyaan saya. Namun saya tahu jawabannya, karena ayah pernah memberitahukan hal ini pada Sang Woo. 

Di saat Sang Woo bimbang, ketika mengetahui Mi Kyung adalah adik ipar Seo Young, Sang Woo akhirnya bertanya mengapa ayah baru berubah sekarang? Jika ayah bisa berubah dari dulu, Seo Young pasti tak akan pergi, dan ia pasti bisa menikahi Mi Kyung.

Saat itu ayah menjawab karena Seo Young. 


Ayah akhirnya menyadari betapa jalan yang dilalui Seo Young sangatlah berduri, dan hanya Seo Younglah yang bisa bertahan. Ayah yang mengajari Seo Young dari kecil untuk selalu gigih dan bertahan, dan sekarang ayah ingin meniru kegigihan Seo Young dalam bertahan. 

21 comments :

  1. mbaaa..aku addict banget sama blog ini...setiap hari bisa bolak-balik cek apa ada uppdate ;p
    aku suka bgt drama ini..makasih mbaa sinopnyaa..krn susah cari yg subtitle

    ReplyDelete
    Replies
    1. IDEM TOO!!!
      ADUH ADUH SUDAH TAK TERKATAKAN MBAK DEE BAGAIMANA DRAMA INI BISA BIKIN MENGHARU BIRU, DAGDIGDUGSER NUNGGU SETIAP KONFLIK SELESAI
      makasih banyak mbak dee buat sinopnya, buat komnetarnya, kayaknya dira bakal ngiktuin drama SW ini lagi hehe
      MDSY DAEBAK XD

      Delete
    2. IDEEEM JUGAAAA,,,,,,^_^

      Delete
  2. Drama ini sampe eps brp ya Dee? Terharu banget baca sinopsis eps 46 ini, hiiiiksss.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. 50...
      sabar ya, ni masih 46
      episode2 berikutnya bakal lebih menyesakkan dari ini
      maaf mbak dee, gak tahan nih
      ngeliat preview hari ini udah kadung ngais duluan T.T
      SPOILER "anak emas" preview ep 49 : http://www.tudou.com/programs/view/4SrvJV41e8Y/
      http://welcometohappysworld.blogspot.com/2013/03/kdrama-my-daughter-seo-young-episode-49.html

      Delete
  3. Sang woo ho jung sweet

    yaaa seoyoong memang luar biasa
    tapi si ayah y jauh luar biasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. OF COURSE!!!
      SEO YOUNG YANG SEKUAT BATU KARANG
      SANG WOO YANG CERDAS
      KEDUA ANAK YANG PATUH DAN PENYAYANG...
      WHAT A GREAT PARENTS :'(
      drama ini buat banyak orang ngeliat ke diri mereka sendiri, apa yang udah mereka lakuin terhadap orang tua dan kehidupan mereka
      di luar sana mungkin banyak keluarga seo young yang seperti itu-saling menjaga perasaan, saling mengerti
      aih mbak dee minta maaf banget hari ini komennya sensitif
      MDSY, kapan lagi ketemu drama kayak gini?

      Delete
  4. wah episode ini yangpaling ditunggu2,,, lom ada eng subnya pula,. ho jung snag woo couple.....lovely banget sih... smoga semakin berkembang nih hubungan mereka.... bukan maksud seo yung untuk memarahi ayahnnya, tetapi keputusan ayahnnya yang menceritakan masa lalunya membbuat seo yung semakin merasa bersalah terhadap ayahnnya.. dan itu membuat hubungan ayah-anak ini semakin kaku... (menuerut saya loh)... ep ini fav abissss,,,,, apalagi yg pas di gunung pas se young manggil woo jae... berharap banget bia nemuin cowok sebaik woo jae.. lol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aiih,bagus amat ep 46 ,apalg yg pas digunung so sweet bgt,woo jae baik bgt ad ga ya cowok ky gt disini he..he..(ngarep),ak ud bolak balik ke blognya mba dee akhirnya ad jg ep 46 ak nungguin bgt mba ga sabar pengen tau kelanjutannya,lanjutan ampe abis ya mba,kamsamida ya mba fighting...

      Delete
    2. kenapa seo young gak mau nyeritain alasannya berbohong ya emang gara2 ini
      gara2 dia gak mau ngumbar kesalahan ayahnya ke orang lain
      really!!! so sweet banget *di sii terus lama2 bisa nangis lagi

      Delete
  5. mba dee.. takjub dah ama ni drama.. di tunggu lanjutannya ya mba.. thank u....

    ReplyDelete
  6. mbk dtunggu klanjutanx,mga episode slnjtx bs kluar lbh cpt hehehehe mksh mbk dee..

    ReplyDelete
  7. akhirnya muncul juga eps 46, ud d'tungguin ampe jamuran hehehehe sop kalee pke jamurr hohoho
    thankzz kakak dee

    ReplyDelete
  8. Bolak balik ke blog ini tiap jam akhirnya sinopsis 46 nonggol juga thanks bgt dee aq cinta bgt ma drama ini episod 46 ini mang bgs bgt ratingnya juga paling tinggi dibanding Чªήğ lain ditunggu dee sinopsis episod selanjutnya FIGHTING

    ReplyDelete
  9. yg jd mi kyung it, ap ya jadi na yoon di protect the boss y?

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan :)
      yang di princess pro
      jenny si sahabat pengacara seo
      dia beda banget di sini...

      Delete
    2. waahh,benarkah?
      iya beda bgt
      mksh,,

      Delete
  10. nangis sumpehhhh ;(((( Huaaaaaaaaaaa

    ReplyDelete
  11. terharu bnget dh smpek nangis q bacax,tetap semangat mbk dee fighting ^^

    ReplyDelete
  12. terharu bnget dh smpek nangis q bacax,tetap semangat mbk dee fighting ^^

    ReplyDelete